PDA

View Full Version : Misteri G30S PKI



Pages : [1] 2

BadOne
21-01-07, 04:18
Sudah hampir 2 bulan Soeharto dipaksa berhenti sebagai presiden oleh kekuatan mahasiswa dan rakyat.
Dengan demikian gagallah rencananya untuk terus menjadi Presiden sampai dengan 2003. Sementara itu 21/2 bulan lagi adalah hari genapnya 33 tahun meletusnya G30S.

Ki Oetomo Darmadi (Swadesi, No 1541/Th XXX/Juli 1998) mengemukakan,
"Sudah 33 tahun tragedi nasional, apa yang disebut G30S menjadi ganjalan sejarah. Sudah seyogianya di era reformasi sekarang misteri tersebut disingkap secara transparan, jujur terbuka".

"Mengapa, ini penting sebagai pelajaran sejarah, betapa dahsyatnya
akibat-akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa tersebut terhadap kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Antara lain bangsa ini terbelah menjadi dua: Orde Lama dan Orde Baru, dengan implikasi luas pada sektor kehidupan sosial, politik, ekonomi dan pertahanan keamanan. Terlebih-lebih jika ditilik dari hak dasar azasi manusia (HAM) hampir seluruh Deklarasi HAM PBB (10 Des 1948) dilanggar. Pancasila hanya dijadikan lips-service, dan hampir semua hak warga sipil yang termaktub dalam batang tubuh UUD 45 dinodai.
Terlalu banyak lembar catatan keganasan rezim Soeharto selama 32
tahun berkuasa, sehingga ada yang menjuluki 'drakula', pembunuh berdarah
dingin den sebagainya. Tidak mengherankan jika Indonesia ditempatkan sebagai pelanggar HAM terberat, sebab korban penubunuhan massal peristiwa G.30-S/PKI 1965 saja melampaui korban Perang Dunia II."

Sesungguhnya sudah lama dituntut supaya misteri G30S yang sesungguhnya
diungkap secara terbuka, jujur dan adil. Hanya saJa tuntutan semacam itu di
masa Soeharto berkuasa suatu yang mustahil bisa dilaksanakan. Sebab dengan membuka misterinya, akan terbuka lah bahwa G3OS yang sesungguhnya ialah G30S/Soeharto, bukan G30S/PKI.

HUBUNGAN SOEHARTO DENGAN G30S

Hubungan Soeharto, terutama dengan Kolonel Latief, seorang tokoh G3OS,
begitu akrab dan mesranya. Lepas dari persoalan apakah hubungan yang erat
itu karena Soeharto yang menjadi bagian atau pimpinan G30S yang tersembunyi, atau karena kelihaian Soeharto memanfaatkan tokoh-tokoh G30S untuk mencapai tujuannya menjadi orang pertama di Indonesia.

Hubungannya itu dapat diketahui, ketika pada 28 September 1965, Kolonel
Latief bersama isterinya berkunjung ke rumah Jenderal Soeharto di jalan H.
Agus Salim. Menurut Kolonel Latief (Kolonel Latief: "Pembelaan sidang
Mahmilti II Jawa Bagian Barat" 1978) maksud kunjungannya ialah guna
menanyakan adanya info Dewan Jenderal, sekaligus melaporkan kepada beliau.
"Oleh beliau justru memberitahukan kepada saya, bahwa sehari sebelum saya
datang, ada seorang bekas anak buahnya berasal dari Yogyakarta, bernama
Soebagiyo, memberitahukan tentang adanya info Dewan Jenderal AD yang akan mengadakan coup d'etat terhadap kekuasaan pemerintahan Presiden Soekarno. Tanggapan beliau akan diadakan penyelidikan".

Seterusnya Kolonel Latief mengemukakan bahwa 30 September 1965 (malam), ia berkunjung ke RSPAD untuk menjumpai Jenderal Soeharto, yang sedang menunggui putranya yang tersiram sup panas. Sambil menjenguk putrandanya itu, juga untuk melaporkan bahwa dini hari l Oktober l965 G30S akan melancarkan operasinya guna menggagalkan rencana kudeta yang hendak dijalankan Dewan Jenderal. Kunjungannya ke Jenderal Soeharto di RSPAD tersebut, adalah merupakan hasil kesepakatan dengan Kolonel Untung dan Brigjen Supardjo.

Seperti diketahui menurut Brigjen Supardjo (Tempo, 1 Oktober 1988) tanggal
16 September 1965 telah terbentuk gerakan tsb, di bawah pimpinan Letnan
Kolonel Untung. Kolonel Latief semula berkeberatan Letkol Untung menjadi
pimpinannya dan meminta supaya gerakan dipimpin seorang jenderal. Tetapi
karena Kamaruzzaman (Syam) memtahankan supaya tetap Untung, karena ia
pengawal presiden, maka akhirnya Letnan Kolonel Untung yang memimpinnya.

Kamaruzzaman ini menurut Wertheim (Wertheim: "Sejarah tahun 1965 yang
tersembunyi" dalam Suplemen Arah, No 1 th 1990) adalah "seorang double
agent". Yang dimaksud "double agent" Wertheim ialah agennya Aidit (dalam
Biro Khusus) dan agen Soeharto (yang diuntungkan oleh Peristiwa G30S).

Sesungguhnya G30S tak akan bisa melancarkan operasi militernya dini hari l
Oktober 1965 itu, sekiranya Jenderal Soeharto mencegahnya dan bukan
membiarkannya. Tampaknya karena Soeharto berkepentingan agar Men/Pangad A. Yani terbunuh, maka dengan diam-diam direstuinya operasi militer G30S yang hendak dilancarkan itu. Jika Soeharto tidak berkepentingan terbunuhnya A. Yani, tentu rencana operasi G30S itu akan dicegahnya, atau langsung saja Kolonel Latief ditangkapnya, atau rencana G30S itu dilaporkannya kepada atasannya, misalnya kepada Jenderal Nasution. Dengan demikian operasi G30S itu gagal.

Bagi Kolonel Latief dengan tidak ada pencegahan dari Jenderal Soeharto,
berarti Jenderal Soeharto merestuinya dan operasi G30S dini hari l Oktober
dilaksanakannya.

Soeharto merestui operasi G30S itu secara diam-diam, karena ia mengetahui
ada sebuah konsensus dalam TNI-AD bahwa bila Pangad berhalangan, otomatis Panglima Kostrad yang menjadi penggantinya. Dan Panglima Kostrad ketika itu adalah dirinya sendiri.

MALING BERTERIAK MALING

Paginya (pukul 6.30), dengan dalih ia mendapat informasi dari tetangganya,
Mashuri, bahwa Jendral A. Yani dan beberapa jenderal lain telah terbunuh,
Soeharto dengan Toyotanya, sendirian (tanpa pengawal) berahgkat ke Kostrad. Melalui Kebun Sirih, Merdeka Selatan. Soeharto sudah tahu benar siapa sasaran G30S.

Sejalan dengan laporan yang disampaikan Kolonel Latief kepada Jenderal
Soeharto di RSPAD malam itu, maka daerah, dimana markas Kostrad terletak,
tidak diawasi atau dijaga pasukan G30S. Yang dijaga hanya daerah lain saja
di Merdeka Selatan. Ini menjadi indikasi adanya saling pengertian antara
G30S dengan Panglima Kostrad. Jika tidak ada saling pengertian, tentu daerah
di mana Markas Kostrad berada juga akan dijaga pasukan G30S.

Menurut Yoga Sugama (Yoga Sugama: "Memori Jenderal Yoga" [hal: 148-153])
pada pagi 1 Oktober 1965 itu, dirinyalah yang pertama tiba di Kostrad.
Kepada Ali Murtopo, Yoga Sugama memastikan bahwa yang melancarkan gerakan penculikan dini hari tersebut, adalah anasir-anasir PKI. Ali Murtopo tidak begitu saja mau menerima keterangan Yoga Sugama tersebut.

Setelah ada siaran RRI pukul 7.20, yang mengatakan telah terbentuk Dewan
Revolusi yang diketuai Kolonel Untung, maka Yoga Sugama memperkuat
kesimpulannya di atas. Sebab Yoga Sugama kenal Untung sebagai salah seorang perwira TNI-AD yang berhaluan kiri. Untung pernah menjadi anak buahnya ketika RTP II bertugas menumpas PRRI di Sumatera Barat.

Jenderal Soeharto juga bertanya kepada Yoga Sugama, "Apa kira-kira Presiden
Soekarno terlibat dalam gerakan ini." Yoga Sugama dengan tegas menjawab
"Ya". Tuduhan Yoga Sugama bahwa dibelakang gerakan itu adalah anasir-anasir PKI dan Presiden Soekarno terlibat, tentu saja sangat membesarkan hati Soeharto. Karena dengan demikian rencananya untuk menghancurkan PKI dan menggulingkan Presiden Soekarno mendapat dukungan dari bawahannya.

Pada pukul jam 9.00 pagi itu Jenderal Soeharto (Tempo, 1 Oktober 1998)
memberikan briefing. Dengan tegas ia mengatakan: "Saya banyak mengenal
Untung sejak dulu. Dan Untung sendiri sejak 1945 merupakan anak didik tokoh
PKI Pak Alimin". Ini tentu bualan Soeharto saja. Sebab Pak Alimin baru
kembali ke Indonesia pertengahan tahun 1946. Bagaimana ia mendidik Untung
sejak tahun 1945, padahal ketika itu Pak Alimin masih berada di daratan
Tiongkok.

Tidak lah kebetulan Kamaruzzaman mempertahankan Kolonel Untung menjadi
pimpinan G30S. Sudah diperhitungkannya, bahwa suatu ketika nama Untung tsb akan dapat digunakan sebagai senjata oleh Soeharto untuk menghancurkan PKI. Kamaruzzaman memang seorang misterius. Secara formal dia adalah orangnya Aidit (dalam BC). Sedang sesungguhnya dia adalah di pihak lawannya Aidit, dia bertugas menghancurkan PKI dari dalam.

Untuk itu lah maka Kamaruzzaman, seperti dikatakan Manai Sophian (Manai
Sophiaan ("Kehormatan bagi yang berhak") membuat ketentuan bahwa persoalan yang akan disampaikan kepada Aidit, harus melalui dirinya. Banyak hal yang penting yang tak disampaikannya pada Aidit. Akibatnya setelah gerakan dimulai terjadilah kesimpangsiuran, penyimpangan yang merugikan Aidit/PKI.

Sesuai dengan rencananya, maka Soeharto (G.30-S pemberontakan PKI",
Sekneg, 1994, hal 146, 47) pada 1 Oktober tersebut tanpa sepengetahuan,
apalagi seizin Presiden/Pangti Soekarno mengangkat dirinya menjadi pimpinan TNI-AD. Padahal jabatan Panglima suatu angkatan, adalah jabatan politik. Itu
merupakan hak prerogatif Presiden untuk menentukan siapa orangnya.

Dikesampingkannya hak prerogatif Presiden/Pangti ABRI tersebut, diakui
Soeharto dalam 4 petunjuk kepada Presiden Soekarno yang harus disampaikan
oleh Kolonel KKO Bambang Widjanarko yang berkunjung ke Kostrad 1 Oktober
1965 itu. Kedatangan Bambang Widjanarko adalah untuk memanggil Jenderal
Pranoto Reksosamudro yang telah diangkat menjadi caretaker Menpangad
sementara oleh Presiden, untuk datang ke Halim menemui Presiden Soekarno.
Usaha Bambang Widjanarko untuk meminta Jenderal Pranoto Reksosamudro ke
Halim itu dihalangi Soeharto. Empat petunjuk tersebut ialah:

1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro dan Mayjen TNI Umar Wirahadikusumah tidak dapat menghadap Presiden Soekarno untuk tidak menambah korban. (Ini berarti Soeharto menuduh Presiden Soekarno lah yang bertanggungjawab atas penculikan sejumlah jenderal dini hari 1 Oktober tersebut. Sesuai dengan jawaban Yoga Sugama kepadanya tentang keterlibatan Presiden Soekarno dalam G30S. Karena Ketua Dewan Revolusi adalah Kolonel Untung, pasukan pengawal Presiden Soekarno)

2. Mayjen TNI Soeharto untuk sementara telah mengambil oper pimpinan TNI-AD berdasarkan perintah Tetap Men/Pangad. (Ini berarti perintah tetap Men/Pangad, maksudnya konsensus dalam TNI-AD lebih tinggi dari hak prerogatif presiden dalam menentukan siapa yang harus memangku jabatan panglima suatu angkatan).

3. Diharapkan agar perintah-perintah Presiden Soekarno selanjutnya disampaikan melalui Mayjen TNI Soeharto. (Ini berarti Mayien TNI Soeharto yang mengatur Presiden Soekarno untuk berbuat ini atau itu, meski pun dibungkus dengan kata-kata "diharapkan". Semestinya Presiden yang mengatur Mayjen Soeharto, bukan sebaliknya. Presiden adalah Panglima Tertinggi ABRI).

4. Mayjen TNI Soeharto memberi petunjuk kepada Kolonel KKO Bambang Widjanarko agar berusaha membawa Presiden Soekarno keluar dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah, karena pasukan yang berada di bawah komando Kostrad akan membersihkan pasukan-pasukan pendukung G3OS yang berada di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusumah sebelum tengah malam 1 Oktober 1965. (Ini berarti Soeharto "memerintahkan" Soekarno meninggalkan Pangkalan Udara HPK, karena Halim akan diserbu. Padahal sebelumnya Presiden Soekarno telah memerintahkan kepada Brigjen Supardjo supaya menghentikan operasi militer G30S dan jangan bergerak tanpa perintahnya. Tampaknya perintah lisan Presiden/Pangti Soekarno demikian, dianggap tidak berlaku bagi dirinya. Malahan situasi itu digunakannya untuk "memukul" pasukan G30S.

Empat petunjuk Mayjen Soeharto kepada Presiden Soekarno melalui Kolonel
KKO Bambang Widjanarko menunjukkan: dengan menggunakan G30S, Jenderal
Soeharto mulai l Oktober 1965 secara de facto menjadi penguasa di
Indonesia. Sebagai langkah awal untuk memegang kekuasaan de jure di Indonesia nantinya. Ya, maling berteriak maling. Dirinya yang kudeta, PKI yang dituduhnya melakukan pemberontakan.

===

Gimana pendapat loe tentang PKI? Kalau diliat sejarahnya, lebih banyak sisi hitam. Tapi cara lewat politiknya limuayan cemerlang. Gimana pendapat loe? Trus, gw denger, di bogor ada spanduk yang memuat PKI (palu arit). Mungkin ga kira2 PKI bangkit lagi?

Ada dua bagian, yaitu:

Bagian Pertama soal Peristiwa Madiun yang sudah pernah disidangkan di pengadilan Jakarta Pusat tahun 1956. D.N. Aidit sebagai Sekjen CC PKI dituntut karena dianggap mencemarkan nama baik Wakil Presiden Drs. Moh Hatta dengan tulisannya “ Tangan Hatta Berlumuran Darah” Namun karena D.N. Aidit minta agar Moh. Hatta diajukan sebagai saksi ternyata Pengadilan tidak bisa mengajukannya maka sidang diberhentikan dengan ketentuan tuntutan Hatta batal.

D.N. Aidit dalam pembelaanya telah diuraikan dengan jelas, tak terbantah , bahwa peristiwa Madiun September 1948 adalah bualan Hatta dalam melaksanakan usulan AS ( Marle Cockran ) di Konferensi Sarangan – Madiun agar diadakan pembasmian terhadap kaum merah ( Red Drive Proposal ) dalam rangka kapitulasi pada Belanda di Konferensi Meja Bundar (KMB) di tahun 1949 yang sangat merugikan Indonesia .

Baca brosur D.N. Aidit Menggugat.

Bagian kedua memuat deretan fakta yang tidak terbantah bahwa peristiwa September 1965 Soeharto dengan dukungan AS (CIA) adalah dalang sebenarnya, dalam kup terhadap Presiden Soekarno, pembunuhan Jendral A yani cs, membunuh 3 juta rakyat Indonesia , memenjarakan 2 juta orang yang tidak bersalah, menangkapi , menyiksa , memperkosa, perampasan terhadap kekayaan pribadi korban Orba 1965.



Semoga kutipan tulisan dapat menambah wawasan kita semua. Surya – Surabaya dan Waspada-Medan yang memuat tulisan peristiwa Madiun sudi memuat di harian-nya , kutipan tulisan tersebut diatas bila masih memegang teguh etika jurnalistik yaitu hak korban menjelaskan soalnya.


Terima kasih atas perhatian Bapak , Ibu dan saudara semua.
***
Ringkasan
FAKTA KEBENARAN KORBAN TRAGEDI 1965
1.INDONESIA JAMRUD KHATULISTIWA
Indonesia yang demikian luas dengan kekayaan alam yang melimpah merupakan sasaran yang sangat menarik bagi negara-negara maju untuk bisa memanfaatkan kekayaan Indonesia , disamping juga memiliki jumlah penduduk yang demikian banyak sehingga sangat potensial sebagai tenaga kerja yang murah baik dalam proses produksi maupun sebagai tenaga cadangan di waktu perang, disamping sebagai pasar yang potensial bagi hasil industri negara – negara maju. Karena kelemahan sendirilah akhirnya bangsa Indonesia menjadi jajahan bangsa lain ( Belanda, Jepang dan lainnya ).
2. INDONESIA DI TENGAH PERANG DINGIN
Setelah Perang Dunia II berakhir dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, terjadilah era perang dingin antara Blok Barat ( kapitalis) dan blok Timur (sosialis) yang sebenarnya berlanjut sampai saat ini (tahun 2005) dengan kadar yang berbeda – beda sesuai dengan perkembangan situasinya. Era perang dingin ini sampai mempengaruhi rakyat Indonesia , sehingga secara garis besar rakyat Indonesia juga terbelah menjadi dua, yaitu yang setuju dengan paham kapitalis (golongan kanan) dan yang setuju dengan paham sosiallis (golongan kiri).
Kondisi ini diketahui benar oleh negara-negara maju sehingga mereka berlomba-lomba menanamkan pengaruhnya di Indonesia , terutama negar-negara kapitalis sesuai dengan kepentingan negaranya masing-masing.
3. PERISTIWA MADIUN 1948 ( KONSPIRASI POLITIK KAUM KOLONIALIS/IMPERIAL IS MELIKUIDASI RI )
Pada tanggal 29 Januari 1948 Kabinet Hatta dibentuk dengan Programnya :
a. Melaksanakan hasil persetujuan Renville.
b. Mempercepat terbentuknya Negara Indonesia Serikat (berserikat dengan Belanda).
c. Reorganisasi dan Rasionalisasi Angkatan Perang RI ( RERA APRI ).
d. Pembangunan.
Pemerintahan Hatta inilah yang dinilai oleh kaum kiri sebagai pemerintahan yang paling tunduk dan akan menyerahkan kedaulatan RI kepada Belanda, sehingga timbul ketidak puasan yang luas terutama karena ada rencana dari Hatta untuk merasionalisasi TNI kemudian membentuk tentara Federal bekerjasama dengan Belanda.

* Mulai bulan Februari 1948 Kolonel A.H. Nasution bersama Divisi Siliwangi hijrah dari Jawa Barat menuju Yogyakarta sebagai pelaksanaan dari perjanjian Renville kemudian ditempatkan tersebar di wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, khususnya di daerah yang kekuatan kaum kirinya cukup kuat, seperti di Solo dan Madiun yang dimaksudkan untuk persiapan membersihkan kaum kiri tersebut. Pasukan siliwangi tersebut segera menjadi pasukan elite pemerintahan Hatta dengan kelengkapan tempur yang lebih baik sehingga timbul iri hati pada pasukan diluar Divisi Siliwangi.
* Pada bulan April 1948 terjadi demonstrasi terutama dari pelajar di Jawa Timur menentang RERA.
* Pada Bulan Mei 1948 di Solo tentara Divisi Panembahan Senopati melakukan demonstrasi menentang RERA.
* Pada tanggal 2 Juli 1948 komandan Divisi Panembahan Senopati , Kolonel Sutarto dibunuh oleh tembakan senjata api orang tak dikenal, kemudian diikuti dengan penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa orang kiri, antara lain Slamet Widjaya dan Pardjo, serta beberapa perwira dari Divisi Panembahan Senopati , antara lain Mayor Esmara Sugeng, Kapten Sutarto, Kapten Suradi, Kapten Supardi dan Kapten Mudjono, yang kesemuanya diduga kuat dilakukan oleh Divisi Siliwangi sebagai kepanjangan tangan pemerintahan Hatta. Walaupun kemudian pembunuh Kolonel Sutarto tertangkap, tetapi pemerintah tidak mengadilinya bahkan oleh Jaksa Agung ketika itu malahan dibebaskan dengan alasan tidak dapat dituntut secara hukum (yuridisch staatsrechtelijk) .
* Penculikan dan pembunuhan ini terus berlanjut terhadap orang-orang kiri maupun anggota Divisi Panembahan Senopati sehingga menimbulkan keresahan dan suasana saling curiga – mencurigai dan ketegangan yang tinggi.
* Pada tanggal 21 Juli 1948 diadakan pertemuan rahasia di Sarangan Jawa Timur antara Amirika Serikat yang diwakili oleh Gerard Hopkins (penasehat urusan politik luar negeri) dan Merle Cochran (Wakil AS di Komisi Jasa-jasa baik PBB) dengan lima orang Indonesia yaitu: Wakil Presiden Moh . Hatta , Natsir, Sukiman, R.S Sukamto (Kapolri) dan Mohammad Rum yang menghasilkan rencana kompromi berupa likuidasi bidang ekonomi, politik luar negeri, UUD 1945 dan juga Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) dibidang Angkatan Perang dengan menyingkirkan orang-orang (pasukan) yang di cap sebagai golongan kiri/merah dan terkenal dengan Red Drive Proposal atau usulan pembasmian kaum kiri.
* Pada tanggal 13 September 1948 terjadilah pertempuran antara Divisi Panembahan Senopati dibantu ALRI melawan Divisi Divisi Siliwangi yang diperkuat pasukan-pasukan lain yang didatangkan ke Solo oleh pemerintahan Hatta.
* Pada tanggal 15 September 1948 dilakukan gencatan senjata yang disaksikan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman, petinggi-petinggi militer RI dan juga Residen Sudiro. Devisi Panembahan Senopati mentaati gencatan senjata namun lawan terus melakukan aksi-aksi yang agresif dan destruktif.
* Sementara itu sebagian anggota Politbiro CC PKI yang tinggal di Yogyakarta memutuskan untuk berusaha keras agar pertempuran Solo dilokalisasikan dan mengutus Suripno untuk menyampaikan hal tersebut kepada Muso, Amir Syarifudin dan lainnya yang sedang berkeliling Jawa. Rombongan Muso mensetujui putusan tersebut. Jadi dalam hal ini kebijakan PKI sesuai atau sejalan dan menunjang kebijaksanaan Panglima Jendral Soedirman.
* Sementara itu penculikan-penculik an dan pembunuhan terhadap orang-orang dan personil militer golongan kiri semakin mengganas dengan puncaknya pada tanggal 16 September 1948 markas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di Jalan, Singosaren Solo diserbu dan diduduki oleh kaki tangan Hatta (Siliwangi) sehingga pertempuran Solo semakin menghebat.
* Aksi pembersihan orang-orang kiri ini tidak hanya terjadi di Solo, tetapi meluas ke Madiun dan derah lainnya, dan hasil RERA ini TNI yang tadinya berkekuatan 400.000 hanya tinggal 57.000. Sementara itu ancaman Belanda masih didepan mata terbukti kemudian dengan aksi agresi Militer Belanda II.

Madiun

* Oleh pemerintah Hatta didatangkanlah ke Madiun pasukan-pasukan Siliwangi yang langsung menduduki beberapa pabrik gula, mengadakan latihan-latihan militer serta menindas para buruh pabrik gula dengan membunuh seorang aggota Serikat Buruh Gula bernama Wiro Sudarmo serta melakukan pemukulan-pemukulan dan intimidasi terhadap para buruh. Penempatan pasukan ini tidak dilaporkan kepada komandan Terotorial Militer setempat sehingga menimbulkan ketegangan dan kemudian kesatuan militer setempat, yaitu Brigade 29 atas persetujuan KomandanTeritorial Militer setempat bergerak melucuti pasukan Siliwangi .
* Dalam keadaan panas, kacau dan tak terkendali itu karena Residen Madiun tidak ada ditempat dan Walikota sakit, maka pada tanggal 19 September 1948 Front Demokrasi Rakyat (FDR) mengambil prakarsa untuk mengangkat Walikota Madiun Supardi sebagai pejabat residen sementara dan pengangkatan ini telah disetujui oleh pembesar-pembesar sipil maupun militer dan dilaporkan kepemerintah pusat di Yogyakarta serta dimintakan petunjuk lebih lanjut. Peristiwa inilah yang mengawali apa yang disebut sebagai “ Peristiwa Madiun”.
* Pada tanggal 19 September 1948 malam hari, pemerintahan Hatta menuduh telah terjadi “ Pemberontakan PKI “ sehingga dikerahkanlah kekuatan bersenjata oleh Hatta untuk menumpas dan menimbulkan konflik horisontal dengan korban ribuan orang terbunuh, baik golongan kiri, tentara maupun rakyat golongan lain.
* Pada tanggal 14 Desember 1948, sebelas orang pemimpin dan anggota PKI dibunuh di Dukuh Ngalihan Kelurahan Halung Kabupaten Karanganyar Karisidenan Surakarta pada jam 23.30, yaitu: 1. Amir Syarifudin, 2. Suripto, 3. Maruto Darusman, 4, Sarjono, 5. Dokosuyono, 6 Oei Gee Hwaat, 7. Haryono, 8.Katamhadi, 9. Sukarni, 10. Ronomarsono, 11. D. Mangku. Sementara itu lebih kurang 36.000 aktifis revolusioner lainnya ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara dan sebagian dibunuh tanpa proses hukum, antara lain di penjara Magelang 31 anggota dan simpatisan PKI, di Kediri berpuluh-puluh orang termasuk Dr. Rustam, anggota Fraksi PKI dan BP KNPI , di Pati antara lain Dr. Wiroreno dan banyak lagi yang lainnya.
* Berdasarkan fakta pada saat ini Syarifudin menjadi Perdana Menteri dan memimpin pemerintahan, karena dikhianati dalam perjanjian Renville maka secara ksatria dan demokratis menyerahkan kembali mandat pemerintah kepada Presiden Soekarno, sehingga sangat naif menuduhnya bersama golongan kiri melakukan pemberontakan dan membentuk pemerintahan Soviet-Madiun.
* Amir Syarifudin bekas Perdana Menteri Republik Indonesia yang juga berada di kota itu (Madiun) telah membantah segala sesuatu yang disiarkan dari Yogyakarta pada masa itu. Penjelasannya melalui radio, “Undang – Undang Dasar kami adalah Undang –Undang Dasar Republik Indonesia , bendera kami adalah Merah Putih dan lagu kebangsaan tidak lain dari Indonesia Raya,” seperti disiarkan pada tanggal 20 September 1948 oleh Aneta, Kantor Berita Belanda di Indonesia .
* Bahwa kollaborasi antar pemerintahan Hatta dengan pihak kolonialis Belanda maupun imperialis Amirika Serikat dengan sekutu-sekutunya telah berhasil memecah belah persatuan dan kesatuan serta pembelokan jalanya revolusi Indonesia .
* Pada tanggal 19 Desember 1948 itu pula Belanda menyerbu dan menduduki Yogyakarta dengan perlengkapan perang bantuan Amirika, hal itu terjadi setelah politik Red Drive Proposal sukses dilaksanakan oleh pemerintah Hatta demi tercapainya persetujuan Roem-Royen yang merugikan RI yang dilanjutkan dengan terselenggaranya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dimulai pada tanggal 23 Agustus 1949 sampai 2 November 1949. dan kemudian lahirlah Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan konstitusi RIS-nya, dan hal yang sangat merugikan Indonesia antara lain Irian Barat masih ditangan Belanda dan hutang Hindia Belanda sebesar US Dollar 1,13 miliar menjadi tanggungan RI (hutang itu antara lain adalah biaya untuk memerangi RI), juga terjadi penurunan pangkat dalam APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) bila menjadi APRIS ( Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat ).
* Pada tahun 1954, meskipun sudah kedaluwarsa, Aidit dihadapkan pada pengadilan di Jakarta mengenai Peristiwa Madiun. Dalam hal ini PKI dituduh mengadakan Kudeta . Dasarnya adalah pidato Hatta yang menyatakan entah benar entah tidak bahwa PKI mendirikan negara soviet di Madiun dengan mengangkat Wakil Walikota Supardi jadi Residen sementara untuk mengisi kekosongan. Ini dianggap melanggar KUHP pada pasal 310 dan pasal 311. Dalam persidangan Aidit mintah agar Moh. Hatta tampil sebagai saksi. Jaksa menyatakan keberatan atas pembuktian yang akan diajukan oleh Aidit, maka jaksa harus mencabut tuduhan pasal-pasal tersebut di atas.Pada akhirnya keberatan jaksa dan tuduhan terhadap Aidit melanggar pasal 310 dan pasal 311 KUHP cicabut. Karenanya Aidit tak dapat dituntut dan bebas tanpa syarat.

Kesimpulan dari Peristiwa Madiun

1. Pihak imperialis kolonialis pimpinan Amirika Serikat dalam menerapkan politik pembersihan kaum kiri (Red Drive Proposal) di Indonesia sebagai bagian makro politiknya untuk membendung komunisme, telah membersihkan orang-orang kiri ( komunis ) dari salah satu syarat mutlak pengakuan negara Republik Indonesia oleh dunia internasional (pihak Barat).
2. Pemerintah Hatta menerima dan melaksanakan tawaran tersebut antara lain dengan membuat program Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) di lingkungan Angkatan Perang yang kemudian menimbulkan gelombang penolakan yang luas.
3. Untuk meredam penolakan tersebut dilakukan upaya-upaya yang sistematis, antara lain dengan melakukan teror berupa pembunuhan, penculikan, penahanan dan intimidasi lainnya, terutama kepada kaum kiri, yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Solo.
4. Peristiwa Madiun sama sekali bukanlah pemberontakan PKI , apalagi fitnah bahwa PKI telah mendirikan Negara Negara Soviet Madiun, tetapi merupakan rekayasa jahat pemerintahan Hatta guna mendapatkan momentum (kondisi dan Situasi) yang tepat untuk digunakan sebagai dalih (dasar) untuk menyingkirkan (membasmi) golongan kiri dari pemerintahan maupun Angkutan Perang yang kemudian mendapat perlawanan dari rakyat yang konsekuen anti kolonialis / imperialis.

4. GEJOLAK DALAM PENOLAKAN RERA dan KMB
Gejolak sebagai akibat penolak RERA dan KMB ini terjadi dimana-mana antara lain.

1. Peristiwa Batalyon 426 di Kudus tahun 1950 karena menolak dilucuti dan diberlakukan RERA, batalyon ini serbu dan melarikan diri ke barat,sebagian bergabung dengan DI/TII di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

2. Peristiwa Merbabu Merapi Complex (MMC), terjadi di daerah Semarang , Solo, Magelang dan Yogyakarta, yaitu pejuang – pejuang revolusi yang menolak RERA dan KMB.
3. Peristiwa Barisan Sakit Hati di Cirebon (BSH), yaitu para pejuang revolusi yang menolak RERA dan KMB.
4. Peristiwa APRA ( Angkatan Perang Ratu Adil ) dipimpin Westerling, yaitu para bekas KNIL yang tidak puas kepada pemerintah RIS.
5. Pergolakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Gejolak –gejolak yang terjadi ini membuktikan keberhasilan politik pecah belah (devide et empera) kaum kolonialis Belanda dengan sekutunya kaum imperialis Amirika dan antek – anteknya.

5. MEMPERTAHANKAN NKRI , PANCASILA DAN UUD 1945

1. Republik Indonesia Serikat ( RIS )

RIS hanya bertahan beberapa bulan dan akhirnya bubar kembali menjadi NKRI, ini karena pemimpin dan rakyat Indonesia telah sadar akan politik pecah belah dari pihak nekolim dan antek-anteknya yang akan tetap mempertahankan pengaruhnya di Indonesia , terbukti antara lain dengan adanya pemberontakan Republik Maluku Selatan ( RMS ) dan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Westerling.

2. Pemberontakan – pemberontakan

Disamping itu pihak kolombia dan antek- anteknya tidak henti – hentinya menggoyang Indonesia dengan adanya pemberontakan PRRI dan PERMESTA yang secara aktif dibantu oleh Amirika Serikat juga membantu DI/TII di Aceh serta mendalangi percobaan pembunuhan Presiden Soekarno ( Antara lain peristiwa Cikini , peristiwa Cimanggis , peristiwa Makasar, penembakan Idul Adha, peristiwa Raja Mandala, dan lain-lainnya) .

3. Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Pada sidang sidang di konstitusi telah terbukti bahwa kaum nasionalis sejati , yaitu telah terbukti bahwa kaum Nasionalis sejati, yaitu PKI dan PNI adalah mati-matian mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara dan NKRI sebagai satu-satunya pilihan, sehingga Konstituante menemui jalan buntu sampai keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dimana didektif kembali ke UUD 1945 dengan PKI dan PNI menjadi pendukung setianya. Karena golongan lain menghendaki dasar negara yang bukan Pancasila.

4. Pendukung Setia Bung Karno

PKI dan PNI merupakan pendukung setia politik Bung Karno, Dukungan ini terwujud antara lain di dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Manipol – USDEK, perebutan Irian Barat, penganyangan Malaysia . Kecuali itu keluarnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH) tahun 1960 didukung sepenuhnya oleh PKI dan PNI, namun di lain pihak banyak yang tidak senang Bung Karno intim dengan PKI terutama golongan Kanan dan neokolonialis termasuk Amirika Serikat yang ingin meluaskan pengaruhnya di Indonesia dengan menjanjikan bantuan namun ditolak oleh Bung Karno. Dengan kata – katanya yang terkenal GO TO HELL WITH YOUR AID.

5. Bung Karno Dijadikan Presiden Seumur Hidup

Melihat besarnya kekuatan PKI yang tumbuh pesat menjadi partai terkuat maka pihak nekolim khawatir bila pemilu digelar PKI akan menang mutlak dan otomatis presidennya juga dari orang PKI. Oleh karena itu pihak Angkatan Darat melalui Jendral A.H. Nasution dengan mengajak Suwiryo ( Ketua PNI waktu itu) mengusulkan agar Bung Karno di jadikan presiden seumur hidup, agar tidak perlu dilakukan pemilu, sehingga dengan demikian tertutuplah kesempatan bagi orang PKI menjadi Presiden, dan ini adalah sebuah akal licik dari Angkatan Darat (hal ini juga diakui sendiri oleh Brigjen Suhardiman).

6. Pembubaran Partai Masyumi dan PSI

Presiden Soekarno membubarkan partai Masyumi dan PSI karena antara lain banyak pimpinannya terlibat dalam pemberontakan DI/TII maupun PRRI ,PERMESTA. Banyak kalangan partai tersebut menuduh bahwa ini adalah karena politik PKI, sehingga menambah ketegangan dan rasa permusuhan secara horizontal antara lain dengan timbulnya peristiwa Kanigora di Kediri , di Jawa Tengah dan ditempat –tempat lainnya.

6. KUB & KEJAHATAN BESAR KEMANUSIAAN JENDRAL SUHARTO

1. Prolog
1. Skenario Pihak Nekolim

Dari awal memang pihak Amirika Serikat dan sekutu – sekutunya telah menyiapkan dan melaksanakan beberapa sekenario untuk menguasai Indonesia antara lain dengan :

1. Mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia tetapi Indonesia harus membasmi komunis lebih dulu dan akan menyadarkan aliasi dengan Barat (Peristiwa Madiun – KMB dan RIS).
2. Menghasut beberapa daerah untuk berontak agar RI lemah (PRRI, PEMERSTA, RMS DAN DI/TII) dan menjadi boneka AS.
3. Mendukung perjuangan memasukkan Irian Barat ke Indonesia dengan imbalan agar AS bisa menguasai bahan baku di Indonesia, tetapi gagal karena ditolak Bung Karno.

1. Usaha menggulingkan Pemerintahan Soekarno

Pemerintahan Soekarno yang semakin ke “kiri” dinilai banyak merugikan kepentingan blok Barat (nekolim) sehingga diambil langkah untuk menggulingkannya dengan berbagai cara, antara lain :

* Tetap memberikan Bantuan bagi Angkatan Darat Indonesia untuk mendukung peranan anti komunis dan membentuk jaringan kerja intelejen guna usaha untuk menggulingkan Soekarno.
* Penyiaran desas – desus dan penyesatan informasi, antara lain dari koran Malaysia seolah-olah PKI akan menggulingkan Jendral A.H. Nasution ( KSAD) dengan cara menyusupkan orang ke Angkatan Darat dan lain – lain yang menambah panas dan ganasnya perpolitikan di Indonesia .

2. Isu Dewan Jendral

Pada awalnya isu Dewan Jendral yang akan mengambil olih kekuasaan itu diangap isu fitnah dari PKI, tetapi dalam kenyataan yang terjadi Jendral Soeharto telah merekayasa dan mengambil alih kekuasan dari Presiden Soekarno, mengganti semua pejabat dari tingkat Menteri, Gubernur, Bupati sampai Lurah dengan orang-orang Angkatan Darat yang setia kepadanya, sedangkan pejabat-pejabat yang tidak loyal kepada Soeharto dicopot bahkan ditangkap, dimasukkan kedalam penjara, disiksa dan dibunuh untuk menegakkan dan melanggengkan kekuasaannya.
Sebenarnya ada hasil rekaman rapat Dewan Jendral oleh bekas Mayor Rudhito dan pengakuan Brigjen Sukendro, namun isu kesaksian tersebut tidak pernah dipersoalkan lagi.

3. Isu Dokumen Gilchrist

Bersamaan dengan adanya isu Dewan Jendral maka muncul dokumen Gilchrist yang menyebutkan adanya” Our Local Army Friends” yang seolah-olah memperkuat isu Dewan Jendral. Tetapi ternyata kemudian bahwa isu Dewan Jendral dan dokumen Gilchrist merupakan jebakan bagi kekuatan revolusioner agar memuluskan Jendral Soeharto ke jenjang Kepala Negara ( Presiden).

2. Kondisi Politik Dalam Negeri

Situasi panas di bibang politik menjalar ke seluruh roda kehidupan bangsa Indonesia , termasuk suasana curiga-mencurigai, rivalitas yang berlebihan, saling tuduh dan lain – lain, namun yang paling menonjol adanya.:

1. Isu Angkatan ke –5 dan Senjata dari RRC

Pada kunjungan Menlu Subandrio ke RRC , PM Chou En Lei menjajikan untuk mempersenjatai 40 batalion tentara secara lengkap , penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya G 30 S . Pada awal tahun 1965 Bung Karno mempunyai ide tentang angkatan ke –5 yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Tetapi kalangan Militer (AD) tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa curiga-mencurigai karena pihak militer menuduh itu ulahnya PKI. Hal ini memang direkayasa oleh CIA melalui pemberitaan di Koran Bangkok yang mengutip berita dari koran Hongkong.

2. Isu Sakitnya Bung Karno

Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G 30 S telah beredar isu sakit parahnya Bung Karno. Hal ini meningkatkan kasak kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila Bung Karno meningggal dunia.
Menurut Subandrio , Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya Sakit ringan saja, jadi tidak ada alasan sakitnya bung Karno digunakan PKI untuk mengambil alih kekuasaan.

3. Isu masalah Tanah dan Bagi Hasil (Aksi Sepihak)

Pada tahun 1960 keluarlah Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang – Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH) yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari Panitiya Agraria yang dibentuk pada tahun 1948. Panitiya Agraria yang menghasilkan UUPA terdiri dari wakil pemerintah dan wakil berbagai ormas tani yang menceriminkan 10 kekuatan partai politik pada masa itu. Walaupun UU – nya sudah ada namun pelaksanaan di daerah tidak jalan sehingga menimbulkan gesekan antara para petani penggarap dengan pihak pemilik tanah yang takut terkena UUPA, melibatkan sebagian massa pengikutnya dengan melibatkan sebagian massa pengikutnya dengan melibatkan backing aparat keamanan.
Peristiwa yang menonjol dalam rangka ini antara lain peristiwa Bandar Betsi di Sumatera Utara, peristiwa du Klaten dan peristiwa di Ketaon, Banyudono, Boyolali, yang memakan korban seorang pemuda tani bernama Jumeri yang disebut sebagai’ aksi sepihak ‘ dan kemudian digunakan dalih oleh militer untuk membersihkannya.

3. Persiapan Pihak Jendral Soeharto

1. Dengan latar belakang yang kurang terpuji karena telah melakukan berbagai pelanggaran, antara

Lain :

1. Terlibat sebagai pelaku dalam Peristiwa Kudeta tahun 1946, tetapi begitu pelaku kudeta ditindak dengan cepat dan lihainya segera turut serta menangkapi para pelaku lainnya, sehingga tampaknya seolah-olah dia sebagai pahlawan penyelamat.
2. Terlibat sebagai dalang berbagai penjualan inventaris AD dan penyelundupan ekspor gula sewaktu menjabat Panglima Diponegoro berpangkat kolonel, dibantu oleh Letkol Munadi, Mayor Yog Sugama dan Mayor Sudjono Humardani. Untuk menindaknya Mabes AD membentuk tim dipimpin Mayjen Suprapto, dengan anggota S. Parman, MT Haryono dan Sutoyo. Sebenarnya Nasution menghendaki agar Soeharto cs diseret ke pengadilan militer, tetapi karena dibela Gatot Subroto maka presiden Soekarno memeti-eskan perkara ini, tetapi Nasution tetap mencopot Soeharto sebagai Panglima Diponegoro dan mengirimnya belajar ke Seskoad, di sanalah Soeharto bertemu dan bergaul dengan Brigadir Jendral Suwarno yang merupakan agen CIA dan telah berhasil menciptakan Seskoad menjadi pemikir dan produsen perwira-perwira calon pucuk pimpinan AD maupun pemimpin – pemimpin pemerintahan di kemudian hari.
3. Dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia pada bulan Mei 1964 dibentuk Komando Mandala Siaga (Kolaga) yang dipimpin oleh Men. Pangau Laksdya Omar Dani sebagai wakilnya Brigjen Achmad Wiranata Kusuma. Achmad kemudian digantikan oleh Mayjen Soeharto yang juga merangkap sebagai Pang Kostrad. Terjadi friksi antara Omar Dani dengan Soeharto, bahkan Soeharto menyatakan kepada Presiden Soekarno bahwa Omar Dani tidak cocok sebagai Panglima Kolaga. Soeharto sebagai Wakil Pang Kolaga juga melakukan sabotase berupa penyelundupan dan menghambat pingiriman pasukan ke Malaysia terutama dilakukan melalui Kemal Idris. Disamping itu juga melakukan penghianatan dengan cara mengirim pasukan yang tidak siap (Diponegoro) dan memberitahukan kepada Inggris pasukan – pasukan diselundupkan ke Malaysia sehingga pasukan-pasukan itu dengan mudah ditangkap atau dihancurkan. Hal ini semua tentu sepengetahuan pimpinan AD, tetapi pimpinan AD tidak berbuat apa-apa karena ,memang mengikuti skenario dekolim. Dari 546 terasa ditahan Malaysia hanya 21 dari AD.

2. Menggalang Letkol Untung, Kolonel Latief dan Brigjen Suparjo untuk membahas rencana Dewan Jendral yang akan menggulingkan Bung Karno. Dan Soeharto menjajikan tambahan pasukan, yang kemudian ternyata adalah Yon 454 dan Yon 530.

3. Soeharto memberi perintah dengan telegram No. T.220/9 pada tanggal 15 September

1965 dan mengulangi lagi dengan radiogram No. T.239/9 pada tanggal 21 September
1965 kepada Yon 5.30 Brawijaya. Jawa Timur dan Yogya dan Yon 454 Banteng Raider Diponegora Jawa Tengah untuk datang ke Jakarta dengan kelengkapan tempur penuh. Ketika datang ke Kostrad diterima oleh Soeharto dan juga dilakukan inspeksi pasukan pada tangal 29 September 1965. Sedangkan Yon 328 Siliwangi datang dengan tanpa peluru. Tanggal 30 September 1965, jam 17.00 WIB , Yon 454 diperintahkan ke Lubang Buaya untuk bergabung dengan pasukan – pasukan yang lainnya guna melakukan gerakan pada malam harinya.

4. Merekrut Yoga Sugama tanpa produser yang benar untuk ditarik ke Kostrad dari posnya di luar negeri ( Yugoslavia ). Begitu pengumuman RRI tentang adanya G 30 S, maka segera Yoga Sugama menyatakan bahwa PKI telah berontak dan memerintahkan agar gudang-gudang senjata di buka untuk melawan PKI. Dari mana ia tahu bahwa memang bukan mereka sendiri yang merencanakan dan merekayasa, karena Yoga Sugama adalah anak buah setia Soeharto sejak di Diponegoro (Jawa Tengah)
5. Melakukan kontak rahasia dengan Malaysia dan CIA. Disamping melakukan penyelundupan dan melakukan sabotase berupa menghambat gerakan militer ke Malaysia, Soeharto juga melakukan kontak-kontak dengan Malaysia , Inggris maupun AS (CIA), tugas ini sebagian besar pelaku lapangannya adalah Ali Murtopo dengan tujuan untuk mematangkan pelaksanaanya rencana gerakannya. Ini juga terbukti dengan cepatnya pihak Soeharto melakukan perdamaian dengan Malaysia setelah mendapat surat Pemerintah 11 Maret 1966.
6. Pengendalian dan Pemanfaatan Syam Kamaruzaman. Soeharto telah lama mengenal Syam di yogyakarta awal revolusi 1945. Pada tanggal 31 Desember 1947 Syam Kamaruzaman bersama lima orang dari kelompok Pathuk masuk ke Jakarta. Aktifitas mereka di Jakarta termasuk Syam mendirikan Serikat Buruh terutama Serikat Buruh Transport. Syam Kamaruzaman ikut serta mendirikan Serikat Buruh Pelayaran dan Pelabuhan serta menjadi salah seorang pengurus. Pada tahun 1951 ikut serta membantu DN. Aidit keluar dari kapal dan pelabuhan sewaktu Aidit datang kembali dari luar Jakarta . Sejak itu dia mempunyai hubungan dengan DN.Aidit. Pada tahun 1964 Syam diangkat sebagai ketua Biro Khusus yaitu jaringan PKI tetapi diluar struktur resmi PKI dengan tugas menyampaikan informasi ke Aidit selaku ketua CC PKI, membina anggota ABRI dan melaksanakan tugas-tugas lain yang tidak diketahui oleh pimpinan formal PKI. Ini adalah merupakan penyimpangan dari kebiasaan Partai Komunis Indonesia . Kedekatan Syam ini dimanfaatkan dan dikendalikan sepenuhnya oleh CIA dan Soeharto. Informasi menyesatkan telah dimasukkan ke PKI. Kondisi ini yang mungkin oleh Bung Karno dikatakan sebagai “ keblingernya Pimpinan PKI”.

4. Kondisi pertentangan Internal Angkatan Darat

Sebenarnya telah lama terjadi pertentangan antara faksi-faksi di kalangan internal AD yaitu sejak reorganisasi dan rasionalisasi Angkatan Perang Indonesia dalam pemerintahan Hatta. Pertentangan itu terutama antara profesionalisme model Barat yang dibumbui oleh pembelajaran politik sebagai bagian dari keikusertaanya dalam kekuasaan negara, dengan semangat revolusioner warisan revolusi 1945 yang masih kental dikalangan perwira menengah AD.
Pada tahun 1965 telah terpecah dalam dua kubu, yaitu kubunya Jendral achmad Yani yang loyal kepada Presiden Soekarno dan kubunya Jendral A.H. Nasution – Soeharto yang tidak mendukung kebijaksanaan Presiden Soekarno tentang persatuan nasional terutama tentang Nasakom dan Penggayangan Malaysia.
Dengan lihainya Soeharto bertindak seolah-olah loyal terhadap kepemimpinan Nasution maupun Yani dan sekaligus pendukung Soekarno, namun dilain pihak Soeharto merangkul kelompok perwira yang ingin menyelamatkan Bung Karno, dan kemudian kelompok tersebut diorganisasi dan dimanfaatkan untuk menghancurkan kelompok Yani maupun Nasution , menghancurkan PKI yang kemudian merebut kekuasaan.

5. Kondisi Pihak PKI

Sebenarnyalah pihak PKI tidak melakukan persiapan apa-apa, persiapan PKI hanyalah memenuhi himbauan Presiden Soekarno guna mengirim tenaga dengan komposisi yang mencerminkan Nasakom untuk dididik sebagai sukarelawan menganyang Malaysia, tetapi pada saat G 30 S meletus latihan sedang dicutikan oleh Komodor Udara Dewanto sebagai penanggung jawab akhir latihan sukarelawan, jadi memang tidak untuk melakukan gerakan.
Aidit hanya menyuruh beberapa orang ke daerah untuk memonitor situasi dan menunggu perintah lebih lanjut yang ternyata tidak pernah diberikannya. Dalam surat Aidit kepada Bung Karno, Aidit menyatakan bahwa PKI tidak terlibat dalam G 30 S adalah murni gerakan militer (AD) karena adanya salah urus diantara militer sendiri.
Adapun keterlibatan Syam dalam G 30 S tidak bisa dipandang mewakili PKI, karena disamping dia seorang intel AD agen CIA, juga tidak mendapat mandat dari CC PKI, justru keterlibatan Syam dalam G 30 S bertujuan untuk memberi kesempatan legalitas bagi Jendral Soeharto guna menghancurkan gerakan, juga menghancurkan PKI serta Bung Karno.

2. Pelaksanaan G 30 S

1. Fakta-rakta sebelum terjadinya G 30 S

1. Pada bulan April 1962 ketika Presiden Kenedy bertemu dengan PM Inggris Harold McMillan keduanya sepakat tentang kehendak untuk melekuidasi Soekarno pada saatnya yang tepat, untuk itu dinas intelejen (CIA dan M16) bekerjasama saling isi – mengisi untuk merealisasikannya.

2. Dalam bulan Desember 1964 seorang Duta Besar Pakistan di Eropa melaporkan kepada Menlu Zulfikar Ali Bhuto tentang hasil percakapannya dengan seorang perwira intelejen Belanda yang bertugas di NATO yang menginformasikan sejumlah dinas intelejen Barat sedang menyusun suatu skenario akan terjadi kudeta militer yang terlalu dini yang dirancang untuk gagal, dengan begitu terbukalah secara legal bagi AD Indonesia untuk menghancurkan kaum komunis dan menjadikan Bung Karno sebagai tawanan Angkatan Darat. Indonesia akan jatuh kepangkuan Barat laksana sebuah apel busuk.
3. Hal senadapun telah dilaporkan oleh wartawan Der Spiegel bernama Godian Troeller bahwa akan terjadi perebutan kekuasaan oleh militer dalam waktu dekat.
4. Dalam bulan April 1965 Elsworth Bunker utusan khusus Presiden AS Jhonson menghabiskan waktu 15 hari di Indonesia guna melakukan evaluasi. AS paling tidak menghadapi enam pilihan untuk membuat perhitungan terhadap Indonesia dan Presiden Soekarno seperti ditulis oleh David Johnson :

1. Tidak campur tangan dengan kemungkinan Indonesia jatuh ketangan Komunis.

2. Mencoba berbuat sesuatu agar Soekarno mengubah politiknya yang kian ke kiri tetapi tidak ada hasilnya .
3. Singkirkan Soekarno dengan akibat yang tidak dapat diduga.
4. Dukung AD untuk mengambil alih kekuasaan yang telah bertahun-tahun dilaksanakan tetapi belum berhasil.
5. Usahakan provokasi PKI untuk melakukan aksi yang akan membuahkan legitimasi untuk pembasmian selanjutnya bergerak untuk menghadapi Soekarno.
6. Sebagai varian no 5, jika PKI tidak melakukan sendiri maka alternatifnya ini perlu dilengkapi dengan segala macam rekayasa untuk mendiskriditkan PKI hingga terjadi situasi untuk membasmi PKI dan Soekarno sekaligus. Pilihan terakhir inilah yang kemudian diambil.
5. Kira –kira seminggu sebelum meletus G 30 S seluruh tenaga ahli perusahaan Westinghouse (AS) ditarik dari proyek PLTU Tanjung Perak Surabaya tanpa alasan yang jelas dan digantikan dengan tenaga dari Jepang, karena pemerintah AS telah mengetahui akan terjadinya G 30 S.
6. Pada tanggal 23 April 1965 Dubes AS di Jakarta , Jones membuat laporan rahasia kepada Wakil Menlu AS Urusan Timur Jauh William Burdy yang juga tokoh CIA tentang rancangan kudeta di Indonesia yang disampaikan secara pribadi dan langsung kepadanya. Kemudian dalam telegram No 1879 tangal 24 Mei 1965 dari Bangkok Jones melaporkan bahwa rencana tersebut tertunda karena para penggerak tidak dapat bekerja lebih cepat lagi. Jadi rencana kudeta terhadap Bung Karno itu memang ada dan dikendalikan oleh pihak nekolim.
7. Pada tanggal 30 September 1965 malam Aidit diculik oleh militer yang berseragam Cakrabirawa dan tidak dikenalnya dengan dalih dipanggil ke Istana, namun ternyata dibawa ke Halim dan diisolasi di rumah Serda Suwardi, hanya bisa berhubungan dengan Central Komando I di Penas melalui kurir yaitu Syam Kamaruzaman sendiri, sehingga praktis dia tidak bisa apa-apa semuanya tergantung Syam intel AD dan CIA yang berhasil menyusup ke tubuh PKI untuk menghancurkan PKI.
8. Tidak ada anggota PKI yang berada dalam pasukan G 30 S, melainkan hanya Syam Kamaruzaman sendiri.
9. Tanggal 30 September 1965 malam kira-kira jam 22.00 Kolonel Latief telah melaporkan tentang rencana G 30 S kepada Jendral Soeharto di Rumah Sakit Gatot Subroto.

2. Fakta –fakta Dalam Pelaksanaan Gerakan

1. Pasukan yang digunakan dalam G 30 S didatangkan ke Jakarta dan bergerak ke Lubang Buaya atas perintah Kostrad.

2. Naskah pengumuman pertama tentang G 30 S disiapkan oleh Syam dan ditandatangani oleh Untung dan Brigjen Suparjo yang menyatakan penyelamatan Presiden Soekarno dari kudeta Dewan Jendral.
3. Naskah pengumuman kedua dan naskah –naskah lain dibuat oleh Syam namun tidak diteken oleh Untung meski namanya disebutkan, jadi tidak sah dan nama Letkol Untung telah dicatut oleh Syam. Justru pengumuman kedua ini yang isinya bertentangan 180 derajat dengan pengumuman pertama, yaitu mendemisionerkan kabinet Dwikora, kekuasaan berpindah kepada Dewan Revolusi, kenaikan pangkat bagi pelaksanaan gerakan. Isi pengumuman ini sungguh telah memojokkan G 30 S dan kemudian digunakan alasan untuk menghancurkannya.
4. Pembunuhan para Jendral tahanan G 30 S baik di Jakarta maupun Yogyakarta dilakukan sendiri oleh pasukan yang terlibat G 30 S.
5. Tidak ada penyiksaan , pencukilan mata, maupun penyiletan kemaluan Jendral oleh Gerwani maupun angggota Pemuda Rakyat, ini sesuai dengan Visum et Repertum dari tim dokter yang mengautopsi (bedah mayat) para Jendral yaitu tim dokter yang diketahui oleh Brigjen TNI Dr. Rubiono Kertapati dengan visum et repertum nomor 103, 104, 105, 106, 107, 108 109 ( untuk tujuh korban) yang menyatakan tidak ada bekas penyiksaan dalam tubuh korban seperti penyiksaan, pencukilan mata dan sebagainya. Hal itu dinyatkan oleh Presiden Soekarno dalam pidato pada HUT LKBN Antara tanggal 12 Desember 1965 dan pembukaan Konferensi Gubernur Seluruh Indonesia tanggal 13 Desember 1965.
6. Pada saat gerakan yaitu tanggal 30 September 1965 maupun 1 Oktober 1965, Lubang Buaya menjadi tempat latihan sukarelawan pengganyangan Malaysia ini sedang kosong karena Sukwan dicutikan oleh Komandan Udara Dewanto.
7. D.N. Aidit diambil dari tempat isolasinya di rumah Sersan Suwandi di Halim selanjutnya dipaksa oleh Syam untuk terbang ke Yogyakarta untuk akhirnya jatuh dalam kekuasaan agen intel AD tamatan sekolah intel AD di Bogor bernama Sriharto Harjominangun yang telah menyusup dalam Biro Khusus PKI . Awal November 1965 Aidit ditangkap dan dieksekusi oleh Kolonel Yasir Hadibroto atas perintah Soeharto.
8. Baik pada saat gerakan tanggal 1 Oktober 1965 maupun sesudahnya tidak ada satupun dari pemerintahan, baik pemerintahan Pusat, pemerintahan Daerah Tingkat II maupun sampai Tingkat Kelurahan yang dipaksa turun oleh orang PKI untuk diganti dengan orang-orangnya.
9. Tidak ada gerakan massa PKI dimanapun yang dikerahkan guna mendukung atau membantu G 30 S.
10. Pada tanggal 1 Oktober 1965 malam hari, RRI diambil alih oleh Pasukan RPKAD (Kostrad) tanpa terjadi tembak-menembak ( damai ) dan pasukan yang tadinya kembali kepada induk kesatuan yang memerintahkannya.
11. Jadi memang G 30 S ini dirancang oleh Arsiteknya yang Mayjen TNI Soeharto untuk membunuh saingan – saingannya, untuk kemudian gagal, sehingga momentum tersebut dapat dipakai dalih untuk menghancurkan PKI dan menggusur Bung Karno.
12. Pada tanggal 2 Oktober 1965 Soeharto didampingi oleh Yoga Sugama dan anggota kelompok bayangannya mendatangi Bung Karno memberikan kuasa kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan. Surat kuasa tersebut merupakan surat kuasa pertama yang mengawali kemenangan Soeharto dan cikal bakal terbentuknya Kopkamtib (kemudian berubah menjadi Bakorstanas) , yang merupakan alat palu godam rezim Soeharto untuk melibas siapa saja yang menentang kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto.

3. Epilog

Fakta – fakta setelah Terjadinya Gerakan

1. Fakta – fakta Kejahatan yang dilakukan oleh Jendral Soeharto

1. Jendral Soeharto mengangkat dirinya sendiri sebagai pimpinan tertinggi Angkatan Darat.

2. Jendral Soeharto membangkang perintah dengan cara pada waktu Jendral Amir Mahmud dan Jendral Pranoto Reksosamodro telah dihalangi ketika dipanggil menghadap Presiden Soekarno ke Bogor dalam situasi genting dan sangat menentukan.
3. Melakukan pembredelan mass media sehingga yang bisa terbit hanyalah harian Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata yang merupakan corong mereka guna menciptakan opini luas dan memonopoli kebenaran versi Soeharto.
4. Melakukan penangkapan, penahanan, penyiksaan, perampasan hak asasi manusia, melakukan pembunuhan terhadap Aidit, Lukman dan Nyoto yang berstatus Menteri sehingga perbuatan tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai makar terhadap pemerintahan yang sah guna melaksanakan ambisinya menggusur Bung Karno sebagai Presiden RI. Dengan cara tersebut sebagai KUDETA MERANGKAK.
5. Menyalah-gunakan Surat Perintah 11 Maret 1966 justru untuk menggulingkan Bung Karno dengan menangkapi para menteri pembantu Bung Karno, memenjarakan dan bahkan ada yang dibunuhnya.
6. Membubarkan PKI, yang mana Bung Karno sendiri walaupun ditahan sampai mati tidak pernah mau membubarkan PKI.
7. Mengganti secara paksa para anggota DPR dan MPR yang tidak sejalan dengan politiknya untuk diganti dengan orang-orangnya guna melicinkan jalan menuju penggantian Presiden dari Bung Karno kepadanya dan membuat produk-produk hukum guna mendukung kekuasaannya, diantaranya TAP MPRS No.25 Tahun 1966 tentang PKI sebagai organisasi terlarang diseluruh wilayah Negara RI dan larangan menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme- Leninisme dan TAP MPRS No. 33 tahun 1976 tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan Soekarno.
8. Melakukan pembantaian massal terhadap para tahanan yang telah ditahan dengan dalih pembersihan G 30 S dan anggota PKI, dimana lebih dari 3.000.000 (tiga juta)orang dibunuh tanpa proses pengadilan dan ini merupakan pembantaian manusia terbesar di dunia di luar perang dan sepanjang sejarah manusia berada di muka bumi.
9. Menerbitkan aturan tidak bersih lingkungan untuk merampas hak asasi manusia keturunan anggota PKI untuk menduduki posisi tertentu dalam pemerintahan, misalnya menjadi TNI, POLRI dan Pegawai Negeri Sipil maupun pegawai BUMN.
10. Menghasut dan merekrut massa untuk dijadikaan atau dipengaruhi sebagai pelaku pembantaian massal terhadap orang-orang PKI.
11. Memalsukan sejarah seolah – olah dalam G 30 S adalah PKI jadi kedua –duanya adalah satu dalam melakukan gerakan, padahal keduanya adalah berbeda sama sekali.
12. Melakukan penangkapan dan penahanan secara semena-mena tanpa proses hukum serta membuangnya di Pulau Buru, Nusakambangan, Plantungan dan lain-lain tanpa fasilitas kemanusiaan yang cukup sehingga banyak yang meninggal dunia.

2. Fakta – fakta Kejadian Lainnya

PKI dalam hal lain

1. Tidak ada gerakan massa PKI untuk mendukung G 30 S.
2. Tidak ada penggantian satupun dari kepala pemerintahan mulai Kepala Desa (Lurah), Camat,Bupati/ Walikota, Gubernur maupun Presiden oleh orang PKI.
3. PKI tidak menguasai gedung-gedung pemerintahan maupun proyek-proyek vital.
4. PKI tidak mengangkat senjata untuk melawan atau pun melakukan perlawanan bawah tanah sebagai persiapan untuk memberontak.

Jadi tidak ada suatu indikasi maupun bukti bahwa PKI melakukan pemberontakan dan makar terhadap pemerintah yang sah baik ditingkat pusat maupun daerah.
7. KESIMPULAN

1. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1. Peristiwa 1965 adalah merupakan kudeta (Makar) yang dilakukan oleh Jendral Soeharto dengan disponsori secara aktif oleh Amirika Serikat, Inggris, Australia, pengikut-pengikutny a dengan diikuti peristiwa pelanggaran HAM berat berupa penangkapan, penahanan, penyiksaan, pembunuhan ( penghilangan paksa ) dan mendiskriminasikan mereka termasuk keturunannya.

2. Bahwa Jendral A. Yani cs dibunuh atas rekayasa dan skenario Jendral Soeharto, guna melancarkan jalan upaya kudetanya.
3. Bahwa untuk menguasai dan membentuk pendapat umum, Jendral Soeharto mulai pada tanggal 2 Oktober sampai tanggal 10 Oktober 1965 melakukan pembredelan ( larangan terbit) tanpa hak kepada semua surat kabar kecuali harian Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata yang digunakan sebagai corong propaganda mereka dan telah melansir dan membesar-besarkan berita bohong serta fitnah yang keji seolah-olah telah terjadi penyiksaan, penyiletan kemaluan jendral – jendral yang diculik ke lubang buaya, dicungkil matanya sambil melakukan pesta seks yang disebut “Pesta Harum Bunga” oleh Pemuda Rakyat dan Gerwani.
4. Akibat fitnah dan bohong ini telah menyulut rasa antipati dan histeria massa untuk menghukum orang – orang yang dicurigai sebagai PKI, dan dipakai landasan memfitnah bahwa orang PKI itu a-moral, atheis, kafir, dan lain-lainnya yang jelek, sehingga perlakuan apa saja diaanggap halal dan boleh diterapkan semuanya.
5. Bahwa Bung Karno telah ditahan dan mengalami penyiksaan fisik dan psikisnya sampai beliau meninggal dunia.
6. Bahwa PKI sebagai kekuatan politik besar yang menang secara demokratis telah secara sistematis dihancurkan oleh kekuatan militer Angkatan Darat atas perintah Soeharto.
7. Bahwa untuk melanggengkan kekuasaannya Jendral Soeharto dan kroni-kroninya telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan yang cacat hukum antara lain: Tap MPRS No 25 tahun 1966, Tap MPRS No. 33 tahun 1967, tentang Aturan Bersih Diri , Bersih Lingkungan serta aturan-aturan lain yang diskriminatif dan nyata-nyata tidak sejalan dengan norma – norma agama, norma UUD 1945 maupun norma-norma dalam Pancasila serta bertentangan dengan norma-norma yang berlaku universal di seluruh dunia.
8. Secara singkat dan tegas dapat dikatakan bahwa Jendral Soeharto telah melakukan kejahatan sebagai berikut :
* Melakukan Makar (kudeta) terhadap pemerintahan yang sah.
* Melakukan pelanggaran HAM berat.
* Melakukan kebohongan publik.
* Melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
* Melakukan penyimpangan atas makna Surat Perintah 11 Maret 1966.

Semua kejahatan diatas harus diadili dan dihukum setimpal dan korbannya harus direhabilitasi, diberika kompensasi maupun restitusi, baik baik menyangkut harkat dan martabatnya maupun


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind. net/
http://geocities. com/lembaga_ sastrapembebasan /

MimiHitam
21-01-07, 05:25
pki gak mungkin muncul lagi, soalnya dilarang. trus ada lagi, pki dulu difitnah pak harto biar dia jadi presiden... jadi pki dibantai semua bla2 tonton aja editorialnya metro tv

Tyr
29-01-07, 01:44
sistem pki itu komunis dan komunis itu kata gw sucks, bayangin aja lu mau dibungkam harus nurut 100% atau mati ambil contoh USSR dulu aja lu ga terima putusan pemerintah lu didatengin KGB dan lu tinggal sejarah , lalu lu harus sama kaya dengan yg lain semua harus disamain ih najis deh kalo kalo itu usaha lu sendiri masa harus dikasih ke yg laen emang lu ga ada privasi, intinya gw ga suka sistem komunis .

[Z]piritbreaker
29-01-07, 08:09
sistem pki itu komunis dan komunis itu kata gw sucks, bayangin aja lu mau dibungkam harus nurut 100% atau mati ambil contoh USSR dulu aja lu ga terima putusan pemerintah lu didatengin KGB dan lu tinggal sejarah , lalu lu harus sama kaya dengan yg lain semua harus disamain ih najis deh kalo kalo itu usaha lu sendiri masa harus dikasih ke yg laen emang lu ga ada privasi, intinya gw ga suka sistem komunis .

Idem bro~~

Pokoknya segala yang berbau komunis menurut gw suckz. Kenapa?? Ya karna itu tadi diatas ::showoff::

Suka gak suka harus sama?? Emank mao loe digituin?? Hare gene getooww lhoohhh ::ajeb2::

-LichKing-
02-02-07, 02:35
benci PKI? tentu saja..... semua hutang2 indonesia bermula sejak awal pki muncul padaal sebelumnnya ga ada hutang2 negara tuh.... gara2 mr. harto naik aja jadi presiden utang2 negara mulai timbul.... pki juga komunis wa ga suka hal2 berbau komunis....

AcanthaZ
02-02-07, 12:00
NO PKI please...............
PKI itu mengutamakan Negara di atas segala2nya..... bagus juga sih pendapat itu.... tp masa PKI tidak percaya TUHAN... NO NO NO

MaxBenny
02-02-07, 13:53
PKI suck !!!
ngga menghargai prinsip orang lain, kalo berbeda pendapat = dibunuh !!!
PKI = ::fyou::

heavyskillz
03-02-07, 00:34
gW gK seTuJu ma PKI ::angryfire::

TaPi gK uSaH maRaH2" n amPe ngeHuJaT sOeHarTo . . .

gW gK maKsuD BeLaiN dYa oRanG ::rolling::

eManG dYa PunYa baNyaK saLaH ma IndOnesIa n nGeRuK HaRta BangSa !

TaPi gK seMuA yG dYa LaKuiN saLaH kaN . . .

n LaGeePuLa dYa JuGa ManusIa !

PoKoKnya seLaEn NGadiLin dYa KiTa JuGa meSti MiKiRaN baNgSa yG kiAn n NiaN teRpuRuk iNi!!!

HIDUP LAH INDONESIA !!!
::ole3::

BadOne
03-02-07, 21:48
Truss, menurut loe kenapa di kurikulum pembelajara berubah yang awalnya G 30 SPKI Jadi, G 30 S? Menurut loe siapa dalang g 30 s tersebut?

heavyskillz
03-02-07, 22:38
kLo teNtaNg peRubaHaN kuRiKuLum daRi G30 SPKI jaDi G30 S iTu KaN uDaH jeLaS. SeJaK ZaMaN pReSiDeN guSdUr (kLo gK saLaH) paRa keLuaRga PKI uDaH diKeMbaLiKaN sTaTuS meReKa. sOaLnYa paS reZiM sOeHaRto keLuaRga paRa penGiKUT PKI iTu diBeRi HuKUmaN PoLiTiK aRtiNya gK boLe maSuK ke daLaM peMeRinTaHan n gK daPeT keBeBaSaN kaYaK oRang noRmaL seRtA diJauHi oLeH maSyaRaKaT spY gaK diCuRiGai oLeH PeMeRinTaH. N aDa JuGa VeRsi" LaEn seLaEn PKI yG jaDi daLanG G30september.

Tyr
08-02-07, 20:29
jadi simpulannya itu
PKI->komunis
komunis->sucks
sucks->buat kalangan ga mampu dan sotoy
jadi bila kita lihat dari logika nya menurut hukum interferensi Hypothetical sylogysm
PKI->buat kalangan ga mampu dan sotoy

-diperesmas-
08-02-07, 20:40
PKI dan segalam kegiatan berbau komunis sangat dilarang..

Komunis tidak percaya adanya Tuhan sedangkan kita negara Ketuhanan, so, sangat bertolak belakang dengan Dasar negara.

dulu ada yang bilang PKI itu didalangi oleh CIA udnutk menjatuhkan Soekarno.

Zaman dahulu Soekarno sangat di hormati dan ditakuti oleh Amerika karena Nasionalisnya.

But zaman masih ada komunis dulu, negara kita termasuk negara kuat lho.

Contoh, Angkatan Udara kita dahulu peringakat 4 di dunia lho....lah sekarang..?? AU aja pesawat yg paling bagus cuma F-16 ama Sukhoi

Trademaks
08-02-07, 23:50
Kalau peristiwa G30S dan munculnya pemerintah Suharto sesudahnya, dibayangkan sebagai suatu pertentangan antara rezim Sukarno yang menaungi partai komunis, dengan pemerintah baru yang dimotori oleh Angkatan Darat. Pada waktu itu masyarakat Indonesia dan internasional menganggap bahwa korban-korban yang jatuh sebagian besar oleh emosi masyarakat yang melawan kegiatan orang-orang komunis, orang-orang PKI yang opresif, yang keras.

Akan tetapi pandangan sejarah yang lahir sesudahnya dan sekarang, mempertanyakan juga apakah memang demikian hitam-putihnya ????, mungkin juga suatu unsur yang ada dibelakang pembunuhan itu untuk motif-motif politik...

IsabeL
26-07-07, 02:18
PKI terlarang bgt... klo masalah mkin / ga nya bangkit, semua nya bisa aja terjadi yg penting kita musti waspada sama yg namanya PKI.

kairi-chan
26-07-07, 14:49
klo gw ngomong sebenernya pki itu bukanlah sebuah ideologi ,tetapi agama sesat yang tidak dapat hidup berdampingan dengan agama lainnya ,masa gara-gara kita lahir di negara itu ,kita diharuskan melupakan pencipta dan pemelihara kita

ekspresi
27-07-07, 07:36
klo gw ngomong sebenernya pki itu bukanlah sebuah ideologi ,tetapi agama sesat yang tidak dapat hidup berdampingan dengan agama lainnya ,masa gara-gara kita lahir di negara itu ,kita diharuskan melupakan pencipta dan pemelihara kita

PKI Bukan Agama
Pki ada lah partai dgn ideologi Komunis
Dalam G 30 S Pki dalang utamanya adalah Suharto yg di motori oleh CIA.
Reason: PKI saat itu Partai kesayangan bung karno, salah satu dari 3 partai besar,apa kata PKI 80% di aminin sama Bung karno, buat apa dia harus Kudeta?
DN aidit dihukum mati tanpa di adili.Soebandrio dihukum 38 Tahun Tanpa diadil.Peristiwa Supersemar.

Yah liat" Alasan di atas aja kita bisa berpikir siapa dalang G 30 S PKI

kairi-chan
27-07-07, 14:33
PKI Bukan Agama
Pki ada lah partai dgn ideologi Komunis
Dalam G 30 S Pki dalang utamanya adalah Suharto yg di motori oleh CIA.
Reason: PKI saat itu Partai kesayangan bung karno, salah satu dari 3 partai besar,apa kata PKI 80% di aminin sama Bung karno, buat apa dia harus Kudeta?
DN aidit dihukum mati tanpa di adili.Soebandrio dihukum 38 Tahun Tanpa diadil.Peristiwa Supersemar.

Yah liat" Alasan di atas aja kita bisa berpikir siapa dalang G 30 S PKI

Haha..gw salah nulis "pki" sebenernya mau nulis "komunis"
btw , bukannya soekarno punya agama ,tapi kok dia dukung komunis?

ichu
28-07-07, 15:11
tapi menurut gw ga selamanya komunis itu jelek lho... di cina itu klau ga salah komunis kan?tp koq negaranya bisa maju...

kairi-chan
28-07-07, 20:03
tapi menurut gw ga selamanya komunis itu jelek lho... di cina itu klau ga salah komunis kan?tp koq negaranya bisa maju...

Menurut gw karena negara cina memiliki SDA dan SDM yang cukup baik ,komunis mereka pun tidak separah Korut ,agama diijinkan oleh pemerintah ,dan kapitalisme juga kental di negara itu seperti di hongkong ,politik mereka pun tidak sekaku Korut

ekspresi
28-07-07, 21:08
Komunis itu bukan tidak percaya agama ideologi yg tidak percaya agama itu atheis, memang sich atheis itu ajaran dari komunis masih masuk sub dari komunis tapi gak smua komunis itu atheis seperti tidak smua sosialis itu komunis kan,krn komunis juga merupakan sub dari sosialis.

ekspresi
29-07-07, 12:19
sory doble post

ok om pendapat lo begitu, memang sich sosialis demokrat kalau kita liat sekilas lebih baik daripada sistem demokrasi tapi jgn di liat dari 1 sistem aja om.
dgn sistem sosialis swasta tidak akan bisa maju,pihak swasta hanya akan mandek sampe situ aja krn kekuasaan negara yg mutlak, coba liat di negara sosialis ada sebuah perusahaan swasta dalam negeri yg besar?
hanya mengingatkan om semua hal itu punya 2 sisi.
ga ada hal yg sepenuhnya baik,begitu pula g ada yg sepenuhnya buruk. org bunuh aja bisa dibenarkan kalau kita lagi membela negara.

MimiHitam
29-07-07, 12:22
soekarno kan dulu mau gabungin islam ,demokrasi ama komunis...

lagian komunis yg ga bener cuma anti agama doang

1 brp buat xyzax karena pake kata kasar

ekspresi
29-07-07, 12:37
gw juga dah brp dia


Btw Mi ga smua penganut Komunis anti agama mi komunis kan bagian dari paham sosialis sedangkan dalam komunis sendiri ada ideologi yg namanya atheis, kan atheis doank yg ga percaya Tuhan.
Bukti ni tau soebandrio? mentri luarnegri anggota PKI yg dipenjara suharto 38 tahun tanpa sidang, dia agamanya islam salat juga jalan kok dia.

kairi-chan
29-07-07, 17:12
Komunis bukannya juga mengataskan negara di atas segala hal?

ekspresi
31-07-07, 21:11
betul

Bagi penganut paham komunis Negara adalah segala"nya bagi urusan duniawi,tapi sekali lagi ga semua penganut komunis ga percaya Tuhan.
bahkan banyak org penganut ideologi lain yg tidak percaya tuhan seperti di USA.

ichu
03-08-07, 14:19
ya berarti komunis ga selamanya jelek kan?asik2 gw bener gg

raspatih
03-08-07, 16:24
dulu sebelum kerusuhan mei, yang kita ketahui mengenai komunis, adalah mereka yang menggenapi ideologinya dengan segala cara. tapi stelah kerusuhan mei, ada fakta baru bahwa partai komunis tersebut merupakan kambing hitam dari mantan presiden kita. terlepas dari benar / salahnya, yang harus dilakukan sekarang ini adalah pembenahan. hal-hal yang udah lalu biarlah terkubur menjadi sejarah kelam bangsa indonesia. sekarang ini kita harus berpikir positif utk menjadi negara maju utk kesejahteraan bersama. jangan lagi terpecah-belah akibat perbedaan pendapat mengenai apa yang dulu telah terjadi. toh.. kita tdk bisa turn back time.

ini menurut gua, cara yg benar utk berdiskusi :)

-offtopic-

ekspresi
03-08-07, 17:28
ya berarti komunis ga selamanya jelek kan?asik2 gw bener gg

dunia ini siapa sich yg menentukan suatu hal itu buruk? ya manusia sendirikan, buruk dan baik itu relatif jadi belom tentu hal yg menurut kita buruk itu sebenarnya buruk.yah pokoknya seperti yg sering gw bilang smua hal di dunia ini memiliki dua sisi.

iya nda::argue::

CaneS
05-08-07, 15:20
komunis tidak sama dengan atheis...
swt dhe...
Ideologi komunis adalah mementingkan kepentingan negara di atas kepentingan-kepentingan lainnya...
Lo boleh aja punya agama...tapi itu urusan elo...Bukan buat disebar ato dibagi ke orang laen...
Komunis khan turunan dari Sosialis Marx...
Coba baca2 lagi...

AcanthaZ
05-08-07, 16:49
yah Komunis kan Anti Agama bos....
negara di atas segala-galanya...
mending Liberal, bebas segalanya tapi bertanggung jawab...
Demokrasi bagus, tapi blum 100% di terapkan di negara kita, baru 70%, sisanya itu yg mau Bebas seenaknya dan lain-lain...
Komunis seh bagus banget pahamnya, tapi tanpa Hukum Agama percuma^^

sate_kucing
26-11-07, 08:06
Ada dua bagian, yaitu:

Bagian Pertama soal Peristiwa Madiun yang sudah pernah disidangkan di pengadilan Jakarta Pusat tahun 1956. D.N. Aidit sebagai Sekjen CC PKI dituntut karena dianggap mencemarkan nama baik Wakil Presiden Drs. Moh Hatta dengan tulisannya “ Tangan Hatta Berlumuran Darah” Namun karena D.N. Aidit minta agar Moh. Hatta diajukan sebagai saksi ternyata Pengadilan tidak bisa mengajukannya maka sidang diberhentikan dengan ketentuan tuntutan Hatta batal.

D.N. Aidit dalam pembelaanya telah diuraikan dengan jelas, tak terbantah , bahwa peristiwa Madiun September 1948 adalah bualan Hatta dalam melaksanakan usulan AS ( Marle Cockran ) di Konferensi Sarangan – Madiun agar diadakan pembasmian terhadap kaum merah ( Red Drive Proposal ) dalam rangka kapitulasi pada Belanda di Konferensi Meja Bundar (KMB) di tahun 1949 yang sangat merugikan Indonesia .

Baca brosur D.N. Aidit Menggugat.

Bagian kedua memuat deretan fakta yang tidak terbantah bahwa peristiwa September 1965 Soeharto dengan dukungan AS (CIA) adalah dalang sebenarnya, dalam kup terhadap Presiden Soekarno, pembunuhan Jendral A yani cs, membunuh 3 juta rakyat Indonesia , memenjarakan 2 juta orang yang tidak bersalah, menangkapi , menyiksa , memperkosa, perampasan terhadap kekayaan pribadi korban Orba 1965.



Semoga kutipan tulisan dapat menambah wawasan kita semua. Surya – Surabaya dan Waspada-Medan yang memuat tulisan peristiwa Madiun sudi memuat di harian-nya , kutipan tulisan tersebut diatas bila masih memegang teguh etika jurnalistik yaitu hak korban menjelaskan soalnya.


Terima kasih atas perhatian Bapak , Ibu dan saudara semua.
***
Ringkasan
FAKTA KEBENARAN KORBAN TRAGEDI 1965
1.INDONESIA JAMRUD KHATULISTIWA
Indonesia yang demikian luas dengan kekayaan alam yang melimpah merupakan sasaran yang sangat menarik bagi negara-negara maju untuk bisa memanfaatkan kekayaan Indonesia , disamping juga memiliki jumlah penduduk yang demikian banyak sehingga sangat potensial sebagai tenaga kerja yang murah baik dalam proses produksi maupun sebagai tenaga cadangan di waktu perang, disamping sebagai pasar yang potensial bagi hasil industri negara – negara maju. Karena kelemahan sendirilah akhirnya bangsa Indonesia menjadi jajahan bangsa lain ( Belanda, Jepang dan lainnya ).
2. INDONESIA DI TENGAH PERANG DINGIN
Setelah Perang Dunia II berakhir dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, terjadilah era perang dingin antara Blok Barat ( kapitalis) dan blok Timur (sosialis) yang sebenarnya berlanjut sampai saat ini (tahun 2005) dengan kadar yang berbeda – beda sesuai dengan perkembangan situasinya. Era perang dingin ini sampai mempengaruhi rakyat Indonesia , sehingga secara garis besar rakyat Indonesia juga terbelah menjadi dua, yaitu yang setuju dengan paham kapitalis (golongan kanan) dan yang setuju dengan paham sosiallis (golongan kiri).
Kondisi ini diketahui benar oleh negara-negara maju sehingga mereka berlomba-lomba menanamkan pengaruhnya di Indonesia , terutama negar-negara kapitalis sesuai dengan kepentingan negaranya masing-masing.
3. PERISTIWA MADIUN 1948 ( KONSPIRASI POLITIK KAUM KOLONIALIS/IMPERIAL IS MELIKUIDASI RI )
Pada tanggal 29 Januari 1948 Kabinet Hatta dibentuk dengan Programnya :
a. Melaksanakan hasil persetujuan Renville.
b. Mempercepat terbentuknya Negara Indonesia Serikat (berserikat dengan Belanda).
c. Reorganisasi dan Rasionalisasi Angkatan Perang RI ( RERA APRI ).
d. Pembangunan.
Pemerintahan Hatta inilah yang dinilai oleh kaum kiri sebagai pemerintahan yang paling tunduk dan akan menyerahkan kedaulatan RI kepada Belanda, sehingga timbul ketidak puasan yang luas terutama karena ada rencana dari Hatta untuk merasionalisasi TNI kemudian membentuk tentara Federal bekerjasama dengan Belanda.

* Mulai bulan Februari 1948 Kolonel A.H. Nasution bersama Divisi Siliwangi hijrah dari Jawa Barat menuju Yogyakarta sebagai pelaksanaan dari perjanjian Renville kemudian ditempatkan tersebar di wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, khususnya di daerah yang kekuatan kaum kirinya cukup kuat, seperti di Solo dan Madiun yang dimaksudkan untuk persiapan membersihkan kaum kiri tersebut. Pasukan siliwangi tersebut segera menjadi pasukan elite pemerintahan Hatta dengan kelengkapan tempur yang lebih baik sehingga timbul iri hati pada pasukan diluar Divisi Siliwangi.
* Pada bulan April 1948 terjadi demonstrasi terutama dari pelajar di Jawa Timur menentang RERA.
* Pada Bulan Mei 1948 di Solo tentara Divisi Panembahan Senopati melakukan demonstrasi menentang RERA.
* Pada tanggal 2 Juli 1948 komandan Divisi Panembahan Senopati , Kolonel Sutarto dibunuh oleh tembakan senjata api orang tak dikenal, kemudian diikuti dengan penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa orang kiri, antara lain Slamet Widjaya dan Pardjo, serta beberapa perwira dari Divisi Panembahan Senopati , antara lain Mayor Esmara Sugeng, Kapten Sutarto, Kapten Suradi, Kapten Supardi dan Kapten Mudjono, yang kesemuanya diduga kuat dilakukan oleh Divisi Siliwangi sebagai kepanjangan tangan pemerintahan Hatta. Walaupun kemudian pembunuh Kolonel Sutarto tertangkap, tetapi pemerintah tidak mengadilinya bahkan oleh Jaksa Agung ketika itu malahan dibebaskan dengan alasan tidak dapat dituntut secara hukum (yuridisch staatsrechtelijk) .
* Penculikan dan pembunuhan ini terus berlanjut terhadap orang-orang kiri maupun anggota Divisi Panembahan Senopati sehingga menimbulkan keresahan dan suasana saling curiga – mencurigai dan ketegangan yang tinggi.
* Pada tanggal 21 Juli 1948 diadakan pertemuan rahasia di Sarangan Jawa Timur antara Amirika Serikat yang diwakili oleh Gerard Hopkins (penasehat urusan politik luar negeri) dan Merle Cochran (Wakil AS di Komisi Jasa-jasa baik PBB) dengan lima orang Indonesia yaitu: Wakil Presiden Moh . Hatta , Natsir, Sukiman, R.S Sukamto (Kapolri) dan Mohammad Rum yang menghasilkan rencana kompromi berupa likuidasi bidang ekonomi, politik luar negeri, UUD 1945 dan juga Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) dibidang Angkatan Perang dengan menyingkirkan orang-orang (pasukan) yang di cap sebagai golongan kiri/merah dan terkenal dengan Red Drive Proposal atau usulan pembasmian kaum kiri.
* Pada tanggal 13 September 1948 terjadilah pertempuran antara Divisi Panembahan Senopati dibantu ALRI melawan Divisi Divisi Siliwangi yang diperkuat pasukan-pasukan lain yang didatangkan ke Solo oleh pemerintahan Hatta.
* Pada tanggal 15 September 1948 dilakukan gencatan senjata yang disaksikan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman, petinggi-petinggi militer RI dan juga Residen Sudiro. Devisi Panembahan Senopati mentaati gencatan senjata namun lawan terus melakukan aksi-aksi yang agresif dan destruktif.
* Sementara itu sebagian anggota Politbiro CC PKI yang tinggal di Yogyakarta memutuskan untuk berusaha keras agar pertempuran Solo dilokalisasikan dan mengutus Suripno untuk menyampaikan hal tersebut kepada Muso, Amir Syarifudin dan lainnya yang sedang berkeliling Jawa. Rombongan Muso mensetujui putusan tersebut. Jadi dalam hal ini kebijakan PKI sesuai atau sejalan dan menunjang kebijaksanaan Panglima Jendral Soedirman.
* Sementara itu penculikan-penculik an dan pembunuhan terhadap orang-orang dan personil militer golongan kiri semakin mengganas dengan puncaknya pada tanggal 16 September 1948 markas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di Jalan, Singosaren Solo diserbu dan diduduki oleh kaki tangan Hatta (Siliwangi) sehingga pertempuran Solo semakin menghebat.
* Aksi pembersihan orang-orang kiri ini tidak hanya terjadi di Solo, tetapi meluas ke Madiun dan derah lainnya, dan hasil RERA ini TNI yang tadinya berkekuatan 400.000 hanya tinggal 57.000. Sementara itu ancaman Belanda masih didepan mata terbukti kemudian dengan aksi agresi Militer Belanda II.

Madiun

* Oleh pemerintah Hatta didatangkanlah ke Madiun pasukan-pasukan Siliwangi yang langsung menduduki beberapa pabrik gula, mengadakan latihan-latihan militer serta menindas para buruh pabrik gula dengan membunuh seorang aggota Serikat Buruh Gula bernama Wiro Sudarmo serta melakukan pemukulan-pemukulan dan intimidasi terhadap para buruh. Penempatan pasukan ini tidak dilaporkan kepada komandan Terotorial Militer setempat sehingga menimbulkan ketegangan dan kemudian kesatuan militer setempat, yaitu Brigade 29 atas persetujuan KomandanTeritorial Militer setempat bergerak melucuti pasukan Siliwangi .
* Dalam keadaan panas, kacau dan tak terkendali itu karena Residen Madiun tidak ada ditempat dan Walikota sakit, maka pada tanggal 19 September 1948 Front Demokrasi Rakyat (FDR) mengambil prakarsa untuk mengangkat Walikota Madiun Supardi sebagai pejabat residen sementara dan pengangkatan ini telah disetujui oleh pembesar-pembesar sipil maupun militer dan dilaporkan kepemerintah pusat di Yogyakarta serta dimintakan petunjuk lebih lanjut. Peristiwa inilah yang mengawali apa yang disebut sebagai “ Peristiwa Madiun”.
* Pada tanggal 19 September 1948 malam hari, pemerintahan Hatta menuduh telah terjadi “ Pemberontakan PKI “ sehingga dikerahkanlah kekuatan bersenjata oleh Hatta untuk menumpas dan menimbulkan konflik horisontal dengan korban ribuan orang terbunuh, baik golongan kiri, tentara maupun rakyat golongan lain.
* Pada tanggal 14 Desember 1948, sebelas orang pemimpin dan anggota PKI dibunuh di Dukuh Ngalihan Kelurahan Halung Kabupaten Karanganyar Karisidenan Surakarta pada jam 23.30, yaitu: 1. Amir Syarifudin, 2. Suripto, 3. Maruto Darusman, 4, Sarjono, 5. Dokosuyono, 6 Oei Gee Hwaat, 7. Haryono, 8.Katamhadi, 9. Sukarni, 10. Ronomarsono, 11. D. Mangku. Sementara itu lebih kurang 36.000 aktifis revolusioner lainnya ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara dan sebagian dibunuh tanpa proses hukum, antara lain di penjara Magelang 31 anggota dan simpatisan PKI, di Kediri berpuluh-puluh orang termasuk Dr. Rustam, anggota Fraksi PKI dan BP KNPI , di Pati antara lain Dr. Wiroreno dan banyak lagi yang lainnya.
* Berdasarkan fakta pada saat ini Syarifudin menjadi Perdana Menteri dan memimpin pemerintahan, karena dikhianati dalam perjanjian Renville maka secara ksatria dan demokratis menyerahkan kembali mandat pemerintah kepada Presiden Soekarno, sehingga sangat naif menuduhnya bersama golongan kiri melakukan pemberontakan dan membentuk pemerintahan Soviet-Madiun.
* Amir Syarifudin bekas Perdana Menteri Republik Indonesia yang juga berada di kota itu (Madiun) telah membantah segala sesuatu yang disiarkan dari Yogyakarta pada masa itu. Penjelasannya melalui radio, “Undang – Undang Dasar kami adalah Undang –Undang Dasar Republik Indonesia , bendera kami adalah Merah Putih dan lagu kebangsaan tidak lain dari Indonesia Raya,” seperti disiarkan pada tanggal 20 September 1948 oleh Aneta, Kantor Berita Belanda di Indonesia .
* Bahwa kollaborasi antar pemerintahan Hatta dengan pihak kolonialis Belanda maupun imperialis Amirika Serikat dengan sekutu-sekutunya telah berhasil memecah belah persatuan dan kesatuan serta pembelokan jalanya revolusi Indonesia .
* Pada tanggal 19 Desember 1948 itu pula Belanda menyerbu dan menduduki Yogyakarta dengan perlengkapan perang bantuan Amirika, hal itu terjadi setelah politik Red Drive Proposal sukses dilaksanakan oleh pemerintah Hatta demi tercapainya persetujuan Roem-Royen yang merugikan RI yang dilanjutkan dengan terselenggaranya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dimulai pada tanggal 23 Agustus 1949 sampai 2 November 1949. dan kemudian lahirlah Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan konstitusi RIS-nya, dan hal yang sangat merugikan Indonesia antara lain Irian Barat masih ditangan Belanda dan hutang Hindia Belanda sebesar US Dollar 1,13 miliar menjadi tanggungan RI (hutang itu antara lain adalah biaya untuk memerangi RI), juga terjadi penurunan pangkat dalam APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) bila menjadi APRIS ( Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat ).
* Pada tahun 1954, meskipun sudah kedaluwarsa, Aidit dihadapkan pada pengadilan di Jakarta mengenai Peristiwa Madiun. Dalam hal ini PKI dituduh mengadakan Kudeta . Dasarnya adalah pidato Hatta yang menyatakan entah benar entah tidak bahwa PKI mendirikan negara soviet di Madiun dengan mengangkat Wakil Walikota Supardi jadi Residen sementara untuk mengisi kekosongan. Ini dianggap melanggar KUHP pada pasal 310 dan pasal 311. Dalam persidangan Aidit mintah agar Moh. Hatta tampil sebagai saksi. Jaksa menyatakan keberatan atas pembuktian yang akan diajukan oleh Aidit, maka jaksa harus mencabut tuduhan pasal-pasal tersebut di atas.Pada akhirnya keberatan jaksa dan tuduhan terhadap Aidit melanggar pasal 310 dan pasal 311 KUHP cicabut. Karenanya Aidit tak dapat dituntut dan bebas tanpa syarat.

Kesimpulan dari Peristiwa Madiun

1. Pihak imperialis kolonialis pimpinan Amirika Serikat dalam menerapkan politik pembersihan kaum kiri (Red Drive Proposal) di Indonesia sebagai bagian makro politiknya untuk membendung komunisme, telah membersihkan orang-orang kiri ( komunis ) dari salah satu syarat mutlak pengakuan negara Republik Indonesia oleh dunia internasional (pihak Barat).
2. Pemerintah Hatta menerima dan melaksanakan tawaran tersebut antara lain dengan membuat program Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) di lingkungan Angkatan Perang yang kemudian menimbulkan gelombang penolakan yang luas.
3. Untuk meredam penolakan tersebut dilakukan upaya-upaya yang sistematis, antara lain dengan melakukan teror berupa pembunuhan, penculikan, penahanan dan intimidasi lainnya, terutama kepada kaum kiri, yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Solo.
4. Peristiwa Madiun sama sekali bukanlah pemberontakan PKI , apalagi fitnah bahwa PKI telah mendirikan Negara Negara Soviet Madiun, tetapi merupakan rekayasa jahat pemerintahan Hatta guna mendapatkan momentum (kondisi dan Situasi) yang tepat untuk digunakan sebagai dalih (dasar) untuk menyingkirkan (membasmi) golongan kiri dari pemerintahan maupun Angkutan Perang yang kemudian mendapat perlawanan dari rakyat yang konsekuen anti kolonialis / imperialis.

4. GEJOLAK DALAM PENOLAKAN RERA dan KMB
Gejolak sebagai akibat penolak RERA dan KMB ini terjadi dimana-mana antara lain.

1. Peristiwa Batalyon 426 di Kudus tahun 1950 karena menolak dilucuti dan diberlakukan RERA, batalyon ini serbu dan melarikan diri ke barat,sebagian bergabung dengan DI/TII di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

2. Peristiwa Merbabu Merapi Complex (MMC), terjadi di daerah Semarang , Solo, Magelang dan Yogyakarta, yaitu pejuang – pejuang revolusi yang menolak RERA dan KMB.
3. Peristiwa Barisan Sakit Hati di Cirebon (BSH), yaitu para pejuang revolusi yang menolak RERA dan KMB.
4. Peristiwa APRA ( Angkatan Perang Ratu Adil ) dipimpin Westerling, yaitu para bekas KNIL yang tidak puas kepada pemerintah RIS.
5. Pergolakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Gejolak –gejolak yang terjadi ini membuktikan keberhasilan politik pecah belah (devide et empera) kaum kolonialis Belanda dengan sekutunya kaum imperialis Amirika dan antek – anteknya.

5. MEMPERTAHANKAN NKRI , PANCASILA DAN UUD 1945

1. Republik Indonesia Serikat ( RIS )

RIS hanya bertahan beberapa bulan dan akhirnya bubar kembali menjadi NKRI, ini karena pemimpin dan rakyat Indonesia telah sadar akan politik pecah belah dari pihak nekolim dan antek-anteknya yang akan tetap mempertahankan pengaruhnya di Indonesia , terbukti antara lain dengan adanya pemberontakan Republik Maluku Selatan ( RMS ) dan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Westerling.

2. Pemberontakan – pemberontakan

Disamping itu pihak kolombia dan antek- anteknya tidak henti – hentinya menggoyang Indonesia dengan adanya pemberontakan PRRI dan PERMESTA yang secara aktif dibantu oleh Amirika Serikat juga membantu DI/TII di Aceh serta mendalangi percobaan pembunuhan Presiden Soekarno ( Antara lain peristiwa Cikini , peristiwa Cimanggis , peristiwa Makasar, penembakan Idul Adha, peristiwa Raja Mandala, dan lain-lainnya) .

3. Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Pada sidang sidang di konstitusi telah terbukti bahwa kaum nasionalis sejati , yaitu telah terbukti bahwa kaum Nasionalis sejati, yaitu PKI dan PNI adalah mati-matian mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara dan NKRI sebagai satu-satunya pilihan, sehingga Konstituante menemui jalan buntu sampai keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dimana didektif kembali ke UUD 1945 dengan PKI dan PNI menjadi pendukung setianya. Karena golongan lain menghendaki dasar negara yang bukan Pancasila.

4. Pendukung Setia Bung Karno

PKI dan PNI merupakan pendukung setia politik Bung Karno, Dukungan ini terwujud antara lain di dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Manipol – USDEK, perebutan Irian Barat, penganyangan Malaysia . Kecuali itu keluarnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH) tahun 1960 didukung sepenuhnya oleh PKI dan PNI, namun di lain pihak banyak yang tidak senang Bung Karno intim dengan PKI terutama golongan Kanan dan neokolonialis termasuk Amirika Serikat yang ingin meluaskan pengaruhnya di Indonesia dengan menjanjikan bantuan namun ditolak oleh Bung Karno. Dengan kata – katanya yang terkenal GO TO HELL WITH YOUR AID.

5. Bung Karno Dijadikan Presiden Seumur Hidup

Melihat besarnya kekuatan PKI yang tumbuh pesat menjadi partai terkuat maka pihak nekolim khawatir bila pemilu digelar PKI akan menang mutlak dan otomatis presidennya juga dari orang PKI. Oleh karena itu pihak Angkatan Darat melalui Jendral A.H. Nasution dengan mengajak Suwiryo ( Ketua PNI waktu itu) mengusulkan agar Bung Karno di jadikan presiden seumur hidup, agar tidak perlu dilakukan pemilu, sehingga dengan demikian tertutuplah kesempatan bagi orang PKI menjadi Presiden, dan ini adalah sebuah akal licik dari Angkatan Darat (hal ini juga diakui sendiri oleh Brigjen Suhardiman).

6. Pembubaran Partai Masyumi dan PSI

Presiden Soekarno membubarkan partai Masyumi dan PSI karena antara lain banyak pimpinannya terlibat dalam pemberontakan DI/TII maupun PRRI ,PERMESTA. Banyak kalangan partai tersebut menuduh bahwa ini adalah karena politik PKI, sehingga menambah ketegangan dan rasa permusuhan secara horizontal antara lain dengan timbulnya peristiwa Kanigora di Kediri , di Jawa Tengah dan ditempat –tempat lainnya.

6. KUB & KEJAHATAN BESAR KEMANUSIAAN JENDRAL SUHARTO

1. Prolog
1. Skenario Pihak Nekolim

Dari awal memang pihak Amirika Serikat dan sekutu – sekutunya telah menyiapkan dan melaksanakan beberapa sekenario untuk menguasai Indonesia antara lain dengan :

1. Mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia tetapi Indonesia harus membasmi komunis lebih dulu dan akan menyadarkan aliasi dengan Barat (Peristiwa Madiun – KMB dan RIS).
2. Menghasut beberapa daerah untuk berontak agar RI lemah (PRRI, PEMERSTA, RMS DAN DI/TII) dan menjadi boneka AS.
3. Mendukung perjuangan memasukkan Irian Barat ke Indonesia dengan imbalan agar AS bisa menguasai bahan baku di Indonesia, tetapi gagal karena ditolak Bung Karno.

1. Usaha menggulingkan Pemerintahan Soekarno

Pemerintahan Soekarno yang semakin ke “kiri” dinilai banyak merugikan kepentingan blok Barat (nekolim) sehingga diambil langkah untuk menggulingkannya dengan berbagai cara, antara lain :

* Tetap memberikan Bantuan bagi Angkatan Darat Indonesia untuk mendukung peranan anti komunis dan membentuk jaringan kerja intelejen guna usaha untuk menggulingkan Soekarno.
* Penyiaran desas – desus dan penyesatan informasi, antara lain dari koran Malaysia seolah-olah PKI akan menggulingkan Jendral A.H. Nasution ( KSAD) dengan cara menyusupkan orang ke Angkatan Darat dan lain – lain yang menambah panas dan ganasnya perpolitikan di Indonesia .

2. Isu Dewan Jendral

Pada awalnya isu Dewan Jendral yang akan mengambil olih kekuasaan itu diangap isu fitnah dari PKI, tetapi dalam kenyataan yang terjadi Jendral Soeharto telah merekayasa dan mengambil alih kekuasan dari Presiden Soekarno, mengganti semua pejabat dari tingkat Menteri, Gubernur, Bupati sampai Lurah dengan orang-orang Angkatan Darat yang setia kepadanya, sedangkan pejabat-pejabat yang tidak loyal kepada Soeharto dicopot bahkan ditangkap, dimasukkan kedalam penjara, disiksa dan dibunuh untuk menegakkan dan melanggengkan kekuasaannya.
Sebenarnya ada hasil rekaman rapat Dewan Jendral oleh bekas Mayor Rudhito dan pengakuan Brigjen Sukendro, namun isu kesaksian tersebut tidak pernah dipersoalkan lagi.

3. Isu Dokumen Gilchrist

Bersamaan dengan adanya isu Dewan Jendral maka muncul dokumen Gilchrist yang menyebutkan adanya” Our Local Army Friends” yang seolah-olah memperkuat isu Dewan Jendral. Tetapi ternyata kemudian bahwa isu Dewan Jendral dan dokumen Gilchrist merupakan jebakan bagi kekuatan revolusioner agar memuluskan Jendral Soeharto ke jenjang Kepala Negara ( Presiden).

2. Kondisi Politik Dalam Negeri

Situasi panas di bibang politik menjalar ke seluruh roda kehidupan bangsa Indonesia , termasuk suasana curiga-mencurigai, rivalitas yang berlebihan, saling tuduh dan lain – lain, namun yang paling menonjol adanya.:

1. Isu Angkatan ke –5 dan Senjata dari RRC

Pada kunjungan Menlu Subandrio ke RRC , PM Chou En Lei menjajikan untuk mempersenjatai 40 batalion tentara secara lengkap , penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya G 30 S . Pada awal tahun 1965 Bung Karno mempunyai ide tentang angkatan ke –5 yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Tetapi kalangan Militer (AD) tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa curiga-mencurigai karena pihak militer menuduh itu ulahnya PKI. Hal ini memang direkayasa oleh CIA melalui pemberitaan di Koran Bangkok yang mengutip berita dari koran Hongkong.

2. Isu Sakitnya Bung Karno

Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G 30 S telah beredar isu sakit parahnya Bung Karno. Hal ini meningkatkan kasak kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila Bung Karno meningggal dunia.
Menurut Subandrio , Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya Sakit ringan saja, jadi tidak ada alasan sakitnya bung Karno digunakan PKI untuk mengambil alih kekuasaan.

3. Isu masalah Tanah dan Bagi Hasil (Aksi Sepihak)

Pada tahun 1960 keluarlah Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang – Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH) yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari Panitiya Agraria yang dibentuk pada tahun 1948. Panitiya Agraria yang menghasilkan UUPA terdiri dari wakil pemerintah dan wakil berbagai ormas tani yang menceriminkan 10 kekuatan partai politik pada masa itu. Walaupun UU – nya sudah ada namun pelaksanaan di daerah tidak jalan sehingga menimbulkan gesekan antara para petani penggarap dengan pihak pemilik tanah yang takut terkena UUPA, melibatkan sebagian massa pengikutnya dengan melibatkan sebagian massa pengikutnya dengan melibatkan backing aparat keamanan.
Peristiwa yang menonjol dalam rangka ini antara lain peristiwa Bandar Betsi di Sumatera Utara, peristiwa du Klaten dan peristiwa di Ketaon, Banyudono, Boyolali, yang memakan korban seorang pemuda tani bernama Jumeri yang disebut sebagai’ aksi sepihak ‘ dan kemudian digunakan dalih oleh militer untuk membersihkannya.

3. Persiapan Pihak Jendral Soeharto

1. Dengan latar belakang yang kurang terpuji karena telah melakukan berbagai pelanggaran, antara

Lain :

1. Terlibat sebagai pelaku dalam Peristiwa Kudeta tahun 1946, tetapi begitu pelaku kudeta ditindak dengan cepat dan lihainya segera turut serta menangkapi para pelaku lainnya, sehingga tampaknya seolah-olah dia sebagai pahlawan penyelamat.
2. Terlibat sebagai dalang berbagai penjualan inventaris AD dan penyelundupan ekspor gula sewaktu menjabat Panglima Diponegoro berpangkat kolonel, dibantu oleh Letkol Munadi, Mayor Yog Sugama dan Mayor Sudjono Humardani. Untuk menindaknya Mabes AD membentuk tim dipimpin Mayjen Suprapto, dengan anggota S. Parman, MT Haryono dan Sutoyo. Sebenarnya Nasution menghendaki agar Soeharto cs diseret ke pengadilan militer, tetapi karena dibela Gatot Subroto maka presiden Soekarno memeti-eskan perkara ini, tetapi Nasution tetap mencopot Soeharto sebagai Panglima Diponegoro dan mengirimnya belajar ke Seskoad, di sanalah Soeharto bertemu dan bergaul dengan Brigadir Jendral Suwarno yang merupakan agen CIA dan telah berhasil menciptakan Seskoad menjadi pemikir dan produsen perwira-perwira calon pucuk pimpinan AD maupun pemimpin – pemimpin pemerintahan di kemudian hari.
3. Dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia pada bulan Mei 1964 dibentuk Komando Mandala Siaga (Kolaga) yang dipimpin oleh Men. Pangau Laksdya Omar Dani sebagai wakilnya Brigjen Achmad Wiranata Kusuma. Achmad kemudian digantikan oleh Mayjen Soeharto yang juga merangkap sebagai Pang Kostrad. Terjadi friksi antara Omar Dani dengan Soeharto, bahkan Soeharto menyatakan kepada Presiden Soekarno bahwa Omar Dani tidak cocok sebagai Panglima Kolaga. Soeharto sebagai Wakil Pang Kolaga juga melakukan sabotase berupa penyelundupan dan menghambat pingiriman pasukan ke Malaysia terutama dilakukan melalui Kemal Idris. Disamping itu juga melakukan penghianatan dengan cara mengirim pasukan yang tidak siap (Diponegoro) dan memberitahukan kepada Inggris pasukan – pasukan diselundupkan ke Malaysia sehingga pasukan-pasukan itu dengan mudah ditangkap atau dihancurkan. Hal ini semua tentu sepengetahuan pimpinan AD, tetapi pimpinan AD tidak berbuat apa-apa karena ,memang mengikuti skenario dekolim. Dari 546 terasa ditahan Malaysia hanya 21 dari AD.

2. Menggalang Letkol Untung, Kolonel Latief dan Brigjen Suparjo untuk membahas rencana Dewan Jendral yang akan menggulingkan Bung Karno. Dan Soeharto menjajikan tambahan pasukan, yang kemudian ternyata adalah Yon 454 dan Yon 530.

3. Soeharto memberi perintah dengan telegram No. T.220/9 pada tanggal 15 September

1965 dan mengulangi lagi dengan radiogram No. T.239/9 pada tanggal 21 September
1965 kepada Yon 5.30 Brawijaya. Jawa Timur dan Yogya dan Yon 454 Banteng Raider Diponegora Jawa Tengah untuk datang ke Jakarta dengan kelengkapan tempur penuh. Ketika datang ke Kostrad diterima oleh Soeharto dan juga dilakukan inspeksi pasukan pada tangal 29 September 1965. Sedangkan Yon 328 Siliwangi datang dengan tanpa peluru. Tanggal 30 September 1965, jam 17.00 WIB , Yon 454 diperintahkan ke Lubang Buaya untuk bergabung dengan pasukan – pasukan yang lainnya guna melakukan gerakan pada malam harinya.

4. Merekrut Yoga Sugama tanpa produser yang benar untuk ditarik ke Kostrad dari posnya di luar negeri ( Yugoslavia ). Begitu pengumuman RRI tentang adanya G 30 S, maka segera Yoga Sugama menyatakan bahwa PKI telah berontak dan memerintahkan agar gudang-gudang senjata di buka untuk melawan PKI. Dari mana ia tahu bahwa memang bukan mereka sendiri yang merencanakan dan merekayasa, karena Yoga Sugama adalah anak buah setia Soeharto sejak di Diponegoro (Jawa Tengah)
5. Melakukan kontak rahasia dengan Malaysia dan CIA. Disamping melakukan penyelundupan dan melakukan sabotase berupa menghambat gerakan militer ke Malaysia, Soeharto juga melakukan kontak-kontak dengan Malaysia , Inggris maupun AS (CIA), tugas ini sebagian besar pelaku lapangannya adalah Ali Murtopo dengan tujuan untuk mematangkan pelaksanaanya rencana gerakannya. Ini juga terbukti dengan cepatnya pihak Soeharto melakukan perdamaian dengan Malaysia setelah mendapat surat Pemerintah 11 Maret 1966.
6. Pengendalian dan Pemanfaatan Syam Kamaruzaman. Soeharto telah lama mengenal Syam di yogyakarta awal revolusi 1945. Pada tanggal 31 Desember 1947 Syam Kamaruzaman bersama lima orang dari kelompok Pathuk masuk ke Jakarta. Aktifitas mereka di Jakarta termasuk Syam mendirikan Serikat Buruh terutama Serikat Buruh Transport. Syam Kamaruzaman ikut serta mendirikan Serikat Buruh Pelayaran dan Pelabuhan serta menjadi salah seorang pengurus. Pada tahun 1951 ikut serta membantu DN. Aidit keluar dari kapal dan pelabuhan sewaktu Aidit datang kembali dari luar Jakarta . Sejak itu dia mempunyai hubungan dengan DN.Aidit. Pada tahun 1964 Syam diangkat sebagai ketua Biro Khusus yaitu jaringan PKI tetapi diluar struktur resmi PKI dengan tugas menyampaikan informasi ke Aidit selaku ketua CC PKI, membina anggota ABRI dan melaksanakan tugas-tugas lain yang tidak diketahui oleh pimpinan formal PKI. Ini adalah merupakan penyimpangan dari kebiasaan Partai Komunis Indonesia . Kedekatan Syam ini dimanfaatkan dan dikendalikan sepenuhnya oleh CIA dan Soeharto. Informasi menyesatkan telah dimasukkan ke PKI. Kondisi ini yang mungkin oleh Bung Karno dikatakan sebagai “ keblingernya Pimpinan PKI”.

4. Kondisi pertentangan Internal Angkatan Darat

Sebenarnya telah lama terjadi pertentangan antara faksi-faksi di kalangan internal AD yaitu sejak reorganisasi dan rasionalisasi Angkatan Perang Indonesia dalam pemerintahan Hatta. Pertentangan itu terutama antara profesionalisme model Barat yang dibumbui oleh pembelajaran politik sebagai bagian dari keikusertaanya dalam kekuasaan negara, dengan semangat revolusioner warisan revolusi 1945 yang masih kental dikalangan perwira menengah AD.
Pada tahun 1965 telah terpecah dalam dua kubu, yaitu kubunya Jendral achmad Yani yang loyal kepada Presiden Soekarno dan kubunya Jendral A.H. Nasution – Soeharto yang tidak mendukung kebijaksanaan Presiden Soekarno tentang persatuan nasional terutama tentang Nasakom dan Penggayangan Malaysia.
Dengan lihainya Soeharto bertindak seolah-olah loyal terhadap kepemimpinan Nasution maupun Yani dan sekaligus pendukung Soekarno, namun dilain pihak Soeharto merangkul kelompok perwira yang ingin menyelamatkan Bung Karno, dan kemudian kelompok tersebut diorganisasi dan dimanfaatkan untuk menghancurkan kelompok Yani maupun Nasution , menghancurkan PKI yang kemudian merebut kekuasaan.

5. Kondisi Pihak PKI

Sebenarnyalah pihak PKI tidak melakukan persiapan apa-apa, persiapan PKI hanyalah memenuhi himbauan Presiden Soekarno guna mengirim tenaga dengan komposisi yang mencerminkan Nasakom untuk dididik sebagai sukarelawan menganyang Malaysia, tetapi pada saat G 30 S meletus latihan sedang dicutikan oleh Komodor Udara Dewanto sebagai penanggung jawab akhir latihan sukarelawan, jadi memang tidak untuk melakukan gerakan.
Aidit hanya menyuruh beberapa orang ke daerah untuk memonitor situasi dan menunggu perintah lebih lanjut yang ternyata tidak pernah diberikannya. Dalam surat Aidit kepada Bung Karno, Aidit menyatakan bahwa PKI tidak terlibat dalam G 30 S adalah murni gerakan militer (AD) karena adanya salah urus diantara militer sendiri.
Adapun keterlibatan Syam dalam G 30 S tidak bisa dipandang mewakili PKI, karena disamping dia seorang intel AD agen CIA, juga tidak mendapat mandat dari CC PKI, justru keterlibatan Syam dalam G 30 S bertujuan untuk memberi kesempatan legalitas bagi Jendral Soeharto guna menghancurkan gerakan, juga menghancurkan PKI serta Bung Karno.

2. Pelaksanaan G 30 S

1. Fakta-rakta sebelum terjadinya G 30 S

1. Pada bulan April 1962 ketika Presiden Kenedy bertemu dengan PM Inggris Harold McMillan keduanya sepakat tentang kehendak untuk melekuidasi Soekarno pada saatnya yang tepat, untuk itu dinas intelejen (CIA dan M16) bekerjasama saling isi – mengisi untuk merealisasikannya.

2. Dalam bulan Desember 1964 seorang Duta Besar Pakistan di Eropa melaporkan kepada Menlu Zulfikar Ali Bhuto tentang hasil percakapannya dengan seorang perwira intelejen Belanda yang bertugas di NATO yang menginformasikan sejumlah dinas intelejen Barat sedang menyusun suatu skenario akan terjadi kudeta militer yang terlalu dini yang dirancang untuk gagal, dengan begitu terbukalah secara legal bagi AD Indonesia untuk menghancurkan kaum komunis dan menjadikan Bung Karno sebagai tawanan Angkatan Darat. Indonesia akan jatuh kepangkuan Barat laksana sebuah apel busuk.
3. Hal senadapun telah dilaporkan oleh wartawan Der Spiegel bernama Godian Troeller bahwa akan terjadi perebutan kekuasaan oleh militer dalam waktu dekat.
4. Dalam bulan April 1965 Elsworth Bunker utusan khusus Presiden AS Jhonson menghabiskan waktu 15 hari di Indonesia guna melakukan evaluasi. AS paling tidak menghadapi enam pilihan untuk membuat perhitungan terhadap Indonesia dan Presiden Soekarno seperti ditulis oleh David Johnson :

1. Tidak campur tangan dengan kemungkinan Indonesia jatuh ketangan Komunis.

2. Mencoba berbuat sesuatu agar Soekarno mengubah politiknya yang kian ke kiri tetapi tidak ada hasilnya .
3. Singkirkan Soekarno dengan akibat yang tidak dapat diduga.
4. Dukung AD untuk mengambil alih kekuasaan yang telah bertahun-tahun dilaksanakan tetapi belum berhasil.
5. Usahakan provokasi PKI untuk melakukan aksi yang akan membuahkan legitimasi untuk pembasmian selanjutnya bergerak untuk menghadapi Soekarno.
6. Sebagai varian no 5, jika PKI tidak melakukan sendiri maka alternatifnya ini perlu dilengkapi dengan segala macam rekayasa untuk mendiskriditkan PKI hingga terjadi situasi untuk membasmi PKI dan Soekarno sekaligus. Pilihan terakhir inilah yang kemudian diambil.
5. Kira –kira seminggu sebelum meletus G 30 S seluruh tenaga ahli perusahaan Westinghouse (AS) ditarik dari proyek PLTU Tanjung Perak Surabaya tanpa alasan yang jelas dan digantikan dengan tenaga dari Jepang, karena pemerintah AS telah mengetahui akan terjadinya G 30 S.
6. Pada tanggal 23 April 1965 Dubes AS di Jakarta , Jones membuat laporan rahasia kepada Wakil Menlu AS Urusan Timur Jauh William Burdy yang juga tokoh CIA tentang rancangan kudeta di Indonesia yang disampaikan secara pribadi dan langsung kepadanya. Kemudian dalam telegram No 1879 tangal 24 Mei 1965 dari Bangkok Jones melaporkan bahwa rencana tersebut tertunda karena para penggerak tidak dapat bekerja lebih cepat lagi. Jadi rencana kudeta terhadap Bung Karno itu memang ada dan dikendalikan oleh pihak nekolim.
7. Pada tanggal 30 September 1965 malam Aidit diculik oleh militer yang berseragam Cakrabirawa dan tidak dikenalnya dengan dalih dipanggil ke Istana, namun ternyata dibawa ke Halim dan diisolasi di rumah Serda Suwardi, hanya bisa berhubungan dengan Central Komando I di Penas melalui kurir yaitu Syam Kamaruzaman sendiri, sehingga praktis dia tidak bisa apa-apa semuanya tergantung Syam intel AD dan CIA yang berhasil menyusup ke tubuh PKI untuk menghancurkan PKI.
8. Tidak ada anggota PKI yang berada dalam pasukan G 30 S, melainkan hanya Syam Kamaruzaman sendiri.
9. Tanggal 30 September 1965 malam kira-kira jam 22.00 Kolonel Latief telah melaporkan tentang rencana G 30 S kepada Jendral Soeharto di Rumah Sakit Gatot Subroto.

2. Fakta –fakta Dalam Pelaksanaan Gerakan

1. Pasukan yang digunakan dalam G 30 S didatangkan ke Jakarta dan bergerak ke Lubang Buaya atas perintah Kostrad.

2. Naskah pengumuman pertama tentang G 30 S disiapkan oleh Syam dan ditandatangani oleh Untung dan Brigjen Suparjo yang menyatakan penyelamatan Presiden Soekarno dari kudeta Dewan Jendral.
3. Naskah pengumuman kedua dan naskah –naskah lain dibuat oleh Syam namun tidak diteken oleh Untung meski namanya disebutkan, jadi tidak sah dan nama Letkol Untung telah dicatut oleh Syam. Justru pengumuman kedua ini yang isinya bertentangan 180 derajat dengan pengumuman pertama, yaitu mendemisionerkan kabinet Dwikora, kekuasaan berpindah kepada Dewan Revolusi, kenaikan pangkat bagi pelaksanaan gerakan. Isi pengumuman ini sungguh telah memojokkan G 30 S dan kemudian digunakan alasan untuk menghancurkannya.
4. Pembunuhan para Jendral tahanan G 30 S baik di Jakarta maupun Yogyakarta dilakukan sendiri oleh pasukan yang terlibat G 30 S.
5. Tidak ada penyiksaan , pencukilan mata, maupun penyiletan kemaluan Jendral oleh Gerwani maupun angggota Pemuda Rakyat, ini sesuai dengan Visum et Repertum dari tim dokter yang mengautopsi (bedah mayat) para Jendral yaitu tim dokter yang diketahui oleh Brigjen TNI Dr. Rubiono Kertapati dengan visum et repertum nomor 103, 104, 105, 106, 107, 108 109 ( untuk tujuh korban) yang menyatakan tidak ada bekas penyiksaan dalam tubuh korban seperti penyiksaan, pencukilan mata dan sebagainya. Hal itu dinyatkan oleh Presiden Soekarno dalam pidato pada HUT LKBN Antara tanggal 12 Desember 1965 dan pembukaan Konferensi Gubernur Seluruh Indonesia tanggal 13 Desember 1965.
6. Pada saat gerakan yaitu tanggal 30 September 1965 maupun 1 Oktober 1965, Lubang Buaya menjadi tempat latihan sukarelawan pengganyangan Malaysia ini sedang kosong karena Sukwan dicutikan oleh Komandan Udara Dewanto.
7. D.N. Aidit diambil dari tempat isolasinya di rumah Sersan Suwandi di Halim selanjutnya dipaksa oleh Syam untuk terbang ke Yogyakarta untuk akhirnya jatuh dalam kekuasaan agen intel AD tamatan sekolah intel AD di Bogor bernama Sriharto Harjominangun yang telah menyusup dalam Biro Khusus PKI . Awal November 1965 Aidit ditangkap dan dieksekusi oleh Kolonel Yasir Hadibroto atas perintah Soeharto.
8. Baik pada saat gerakan tanggal 1 Oktober 1965 maupun sesudahnya tidak ada satupun dari pemerintahan, baik pemerintahan Pusat, pemerintahan Daerah Tingkat II maupun sampai Tingkat Kelurahan yang dipaksa turun oleh orang PKI untuk diganti dengan orang-orangnya.
9. Tidak ada gerakan massa PKI dimanapun yang dikerahkan guna mendukung atau membantu G 30 S.
10. Pada tanggal 1 Oktober 1965 malam hari, RRI diambil alih oleh Pasukan RPKAD (Kostrad) tanpa terjadi tembak-menembak ( damai ) dan pasukan yang tadinya kembali kepada induk kesatuan yang memerintahkannya.
11. Jadi memang G 30 S ini dirancang oleh Arsiteknya yang Mayjen TNI Soeharto untuk membunuh saingan – saingannya, untuk kemudian gagal, sehingga momentum tersebut dapat dipakai dalih untuk menghancurkan PKI dan menggusur Bung Karno.
12. Pada tanggal 2 Oktober 1965 Soeharto didampingi oleh Yoga Sugama dan anggota kelompok bayangannya mendatangi Bung Karno memberikan kuasa kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan. Surat kuasa tersebut merupakan surat kuasa pertama yang mengawali kemenangan Soeharto dan cikal bakal terbentuknya Kopkamtib (kemudian berubah menjadi Bakorstanas) , yang merupakan alat palu godam rezim Soeharto untuk melibas siapa saja yang menentang kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto.

3. Epilog

Fakta – fakta setelah Terjadinya Gerakan

1. Fakta – fakta Kejahatan yang dilakukan oleh Jendral Soeharto

1. Jendral Soeharto mengangkat dirinya sendiri sebagai pimpinan tertinggi Angkatan Darat.

2. Jendral Soeharto membangkang perintah dengan cara pada waktu Jendral Amir Mahmud dan Jendral Pranoto Reksosamodro telah dihalangi ketika dipanggil menghadap Presiden Soekarno ke Bogor dalam situasi genting dan sangat menentukan.
3. Melakukan pembredelan mass media sehingga yang bisa terbit hanyalah harian Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata yang merupakan corong mereka guna menciptakan opini luas dan memonopoli kebenaran versi Soeharto.
4. Melakukan penangkapan, penahanan, penyiksaan, perampasan hak asasi manusia, melakukan pembunuhan terhadap Aidit, Lukman dan Nyoto yang berstatus Menteri sehingga perbuatan tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai makar terhadap pemerintahan yang sah guna melaksanakan ambisinya menggusur Bung Karno sebagai Presiden RI. Dengan cara tersebut sebagai KUDETA MERANGKAK.
5. Menyalah-gunakan Surat Perintah 11 Maret 1966 justru untuk menggulingkan Bung Karno dengan menangkapi para menteri pembantu Bung Karno, memenjarakan dan bahkan ada yang dibunuhnya.
6. Membubarkan PKI, yang mana Bung Karno sendiri walaupun ditahan sampai mati tidak pernah mau membubarkan PKI.
7. Mengganti secara paksa para anggota DPR dan MPR yang tidak sejalan dengan politiknya untuk diganti dengan orang-orangnya guna melicinkan jalan menuju penggantian Presiden dari Bung Karno kepadanya dan membuat produk-produk hukum guna mendukung kekuasaannya, diantaranya TAP MPRS No.25 Tahun 1966 tentang PKI sebagai organisasi terlarang diseluruh wilayah Negara RI dan larangan menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme- Leninisme dan TAP MPRS No. 33 tahun 1976 tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan Soekarno.
8. Melakukan pembantaian massal terhadap para tahanan yang telah ditahan dengan dalih pembersihan G 30 S dan anggota PKI, dimana lebih dari 3.000.000 (tiga juta)orang dibunuh tanpa proses pengadilan dan ini merupakan pembantaian manusia terbesar di dunia di luar perang dan sepanjang sejarah manusia berada di muka bumi.
9. Menerbitkan aturan tidak bersih lingkungan untuk merampas hak asasi manusia keturunan anggota PKI untuk menduduki posisi tertentu dalam pemerintahan, misalnya menjadi TNI, POLRI dan Pegawai Negeri Sipil maupun pegawai BUMN.
10. Menghasut dan merekrut massa untuk dijadikaan atau dipengaruhi sebagai pelaku pembantaian massal terhadap orang-orang PKI.
11. Memalsukan sejarah seolah – olah dalam G 30 S adalah PKI jadi kedua –duanya adalah satu dalam melakukan gerakan, padahal keduanya adalah berbeda sama sekali.
12. Melakukan penangkapan dan penahanan secara semena-mena tanpa proses hukum serta membuangnya di Pulau Buru, Nusakambangan, Plantungan dan lain-lain tanpa fasilitas kemanusiaan yang cukup sehingga banyak yang meninggal dunia.

2. Fakta – fakta Kejadian Lainnya

PKI dalam hal lain

1. Tidak ada gerakan massa PKI untuk mendukung G 30 S.
2. Tidak ada penggantian satupun dari kepala pemerintahan mulai Kepala Desa (Lurah), Camat,Bupati/ Walikota, Gubernur maupun Presiden oleh orang PKI.
3. PKI tidak menguasai gedung-gedung pemerintahan maupun proyek-proyek vital.
4. PKI tidak mengangkat senjata untuk melawan atau pun melakukan perlawanan bawah tanah sebagai persiapan untuk memberontak.

Jadi tidak ada suatu indikasi maupun bukti bahwa PKI melakukan pemberontakan dan makar terhadap pemerintah yang sah baik ditingkat pusat maupun daerah.
7. KESIMPULAN

1. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1. Peristiwa 1965 adalah merupakan kudeta (Makar) yang dilakukan oleh Jendral Soeharto dengan disponsori secara aktif oleh Amirika Serikat, Inggris, Australia, pengikut-pengikutny a dengan diikuti peristiwa pelanggaran HAM berat berupa penangkapan, penahanan, penyiksaan, pembunuhan ( penghilangan paksa ) dan mendiskriminasikan mereka termasuk keturunannya.

2. Bahwa Jendral A. Yani cs dibunuh atas rekayasa dan skenario Jendral Soeharto, guna melancarkan jalan upaya kudetanya.
3. Bahwa untuk menguasai dan membentuk pendapat umum, Jendral Soeharto mulai pada tanggal 2 Oktober sampai tanggal 10 Oktober 1965 melakukan pembredelan ( larangan terbit) tanpa hak kepada semua surat kabar kecuali harian Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata yang digunakan sebagai corong propaganda mereka dan telah melansir dan membesar-besarkan berita bohong serta fitnah yang keji seolah-olah telah terjadi penyiksaan, penyiletan kemaluan jendral – jendral yang diculik ke lubang buaya, dicungkil matanya sambil melakukan pesta seks yang disebut “Pesta Harum Bunga” oleh Pemuda Rakyat dan Gerwani.
4. Akibat fitnah dan bohong ini telah menyulut rasa antipati dan histeria massa untuk menghukum orang – orang yang dicurigai sebagai PKI, dan dipakai landasan memfitnah bahwa orang PKI itu a-moral, atheis, kafir, dan lain-lainnya yang jelek, sehingga perlakuan apa saja diaanggap halal dan boleh diterapkan semuanya.
5. Bahwa Bung Karno telah ditahan dan mengalami penyiksaan fisik dan psikisnya sampai beliau meninggal dunia.
6. Bahwa PKI sebagai kekuatan politik besar yang menang secara demokratis telah secara sistematis dihancurkan oleh kekuatan militer Angkatan Darat atas perintah Soeharto.
7. Bahwa untuk melanggengkan kekuasaannya Jendral Soeharto dan kroni-kroninya telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan yang cacat hukum antara lain: Tap MPRS No 25 tahun 1966, Tap MPRS No. 33 tahun 1967, tentang Aturan Bersih Diri , Bersih Lingkungan serta aturan-aturan lain yang diskriminatif dan nyata-nyata tidak sejalan dengan norma – norma agama, norma UUD 1945 maupun norma-norma dalam Pancasila serta bertentangan dengan norma-norma yang berlaku universal di seluruh dunia.
8. Secara singkat dan tegas dapat dikatakan bahwa Jendral Soeharto telah melakukan kejahatan sebagai berikut :
* Melakukan Makar (kudeta) terhadap pemerintahan yang sah.
* Melakukan pelanggaran HAM berat.
* Melakukan kebohongan publik.
* Melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
* Melakukan penyimpangan atas makna Surat Perintah 11 Maret 1966.

Semua kejahatan diatas harus diadili dan dihukum setimpal dan korbannya harus direhabilitasi, diberika kompensasi maupun restitusi, baik baik menyangkut harkat dan martabatnya maupun


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind. net/
http://geocities. com/lembaga_ sastrapembebasan /

acing_2
28-11-07, 01:13
TQ Info Ya Jadi Mengingat Masa Dolo And Sejarah Dolo Biar Anak" Sekolah Yg Skr Bisa Tau Sejarah Indonesia Dulu :)

AnakTetanggaSebelah
28-11-07, 20:05
tambah ilmu lagi gw !!! thx buat threader nya !!!

DarkSoul
29-11-07, 12:01
ini yang dipaparkan menurut salah satu kader pki ya?, sedangkan menurut pendapat soeharto lain lg..entah yg mana 1 yg benar, kita tidak bisa memastikan, karena melihat pergolakan yang terjadi waktu itu, setiap pihak berusaha untuk saling menjatuhkan, kecuali golongan yg netral waktu itu, yg masih memegang prinsip pancasila dan keutuhan NKRI., yaitu korban dari tragedi tsb, rombongan A.Yani Cs.

jadi untuk thread ini, no comment, sampai aad bukti sejarah otentik yang mendukung pernyataan tersebut diatas.

akabane
01-12-07, 03:23
FIuhh Gila Mantap dah jadi Bingung gw mana yang bener sejarahnya T_T

AnakTetanggaSebelah
01-12-07, 03:26
orang hebat mana tu isa nemuin cerita ini ???
pasti kutu buku ni orang ^^

NoMe
01-12-07, 12:26
wew
nice thread
banyak sejarah yg blom gwa tau

CrL-bLaCk-
01-12-07, 12:48
Asli ini berbeda banget dengan buku sejarah yang pernah aku pelajari. Kalau begini akan sulid untuk menentukan versi cerita mana yang sebenarnya terjadi di Indonesia waktu itu.

MimiHitam
01-12-07, 23:27
memang pada zaman Suharto, banyak sejarah yang dimanipulasi dan disembunyikan, jika dibandingin sumber wikipedia dan buku pelajaran tentang konflik papua barat ato 6 30 s, isinya beda

MimiHitam
02-12-07, 09:56
G 30 S/ PKI – Menggugat Sejarah
Akhir2 ini ada sebuah gejala yang cukup mengkhawatirkan yang terjadi di Indonesia. Setelah menikmati masa2 reformasi yang penuh dengan keterbukaan dan demokrasi, kini kekuatan2 lama ( baca Suharto dan antek2 nya ) sedikit demi sedikit mulai membangun kekuatan dan kembali berkuasa.

Pada era keemasan Reformasi yaitu pada era kepemimpinan Gus Dur yang singkat ( circa 2 tahun ), kaum2 minoritas mendapatkan perhatian yang selama ini mereka damba-dambakan. Kaum pemeluk Kong Hu Cu misalnya, kini bisa menikmati kemudahan memiliki KTP, dokumen2 bahkan menikah secara resmi. Papua juga diberi keleluasaan terhadap identitas diri mereka. Dan yang paling penting ialah diadakannya proses rekonsiliasi nasional terhadap peristiwa sejarah Tragedi 30 September 1965.

Gus Dur sebagai tokoh NU yang pada waktu itu menjadi garda depan dalam pembantaian masal alias genocide massa PKI pada tahun 1965, meminta maaf atas dosa-dosa NU dan umat Islam terhadap peristiwa itu. Sembari juga menyerukan proses rehabilitasi hak-hak terhadap para tapol / napol PKI dan keturunannya, yang selama ini bagai hidup enggan mati pun segan, hidup bak dalam neraka.

Para KG-ers terutama dari etnis Cina mungkin selama ini merasakan betapa berat hidup sebagai kaum minoritas yang ditepikan dalam kehidupan sosial, politik dan budaya, tapi itu tidak seberapa dengan derita para massa PKI dan keturunannya. Stigma keturunan PKI lebih hebat dari stigma apapun yang ada di dunia ini.

Dengan stigma ini KTP anda akan ditandai, sehingga kegiatan anda akan bisa dimonitor kapan saja. Anda tidak boleh sekolah disekolah negeri, universitas negeri, jadi pegawai negeri, guru, wartawan atau apapun yang berhubungan dengan publik. Bahkan jadi dalang dan penulis buku pun gak boleh.

Jika etnis Cina mendapat kemudahan dalam hal ekonomi, maka tidak demikian dengan keturunan PKI ini. Mereka dibatasi garakannya bahkan dalam kegiatan ekonomi. Mereka tidak boleh mendirikan perusahaan berskala besar ataupun pabrik yang beromset besar. Tindakan ini adalah sebagai sebuah bentuk penghilangan generasi secara sistematis dan perlahan-lahan alias genocida terukur.

Tragedi 30 September 1965 adalah sebuah peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia dan bahkan di dunia. Korban yang jatuh mencapai 3 juta jiwa, menjadikan genocida kedua yang terbesar setelah genocida kaum Yahudi oleh NAZI. Dosa2 yang kita tanggung sebegitu besarnya sehingga pantaslah kita menjadi negara yang penuh masalah.

Pada era orde baru, tragedi ini ditutup rapat2 agar kebenarannya tidak terendus dunia. Para peneliti asing yang meneliti satu persatu di persona non grata, sementara nyaris tidak ada satu pun peneliti lokal yang berani melakukan kajian historis yang valid. Namun demikian keruntuhan orde baru menjadi kesempatan bagi kita semua untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.

Terinspirasi oleh tulisan Dr. Asvi Warman Adam seorang peneliti LIPI bidang sejarah pada sebuah surat kabar nasional, maka wa buka tret ini dengan maksud dan harapan semoga kita semua bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Semoga dengan ini kita bisa membasuh dosa kita yang selama ini telah menjadi kutukan terhadap nasib bangsa kita.

MimiHitam
02-12-07, 09:59
Letkol Untung bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan September 1965 adalah salah satu lulusan terbaik Akmil. Pada masa pendidikan ia bersaing dengan Benny Moerdani, perwira muda yang sangat menonjol dalam lingkup RPKAD (kelak Benny Moerdani menjadi tokoh legendaris dalam Misteri Tragedi Tanjung Priok). Mereka berdua sama-sama bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat dan Untung merupakan salah satu anak buah Soeharto yang dipercaya menjadi Panglima Mandala.

Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan Batalyon 545/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II. Kelak dalam peristiwa G 30 S ini, Banteng Raiders akan berhadapan dengan pasukan elite RPKAD dibawah komando Sarwo Edhie Wibowo.

Setelah G 30 S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G 30 S. Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung.

Setelah melalui sidang Mahmilub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1969, 4 thn setelah G 30 S mengobarkan pemberontakannya.

Bagi Soeharto, Untung bukanlah orang lain. Hubungan keduanya cukup erat apalagi dulunya Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh Soeharto beserta Ny. Tien Soeharto. Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen beberapa bulan sebelum G 30 S meletus. Kedatangan Komandan pada resepsi pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak, yang tidak jamak adalah tampak ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan tersebut mengingat jarak Jakarta - Kebumen bukanlah jarak yang dekat belum lagi ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit.

Kembali, suatu misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang, apakah hubungan Soeharto dengan Untung dan kaitannya dengan peristiwa September 1965 ?

MimiHitam
02-12-07, 10:00
Menyusul terjadinya tragedi September 1965, Latief sempat menjadi buronan beberapa saat. Bersama Untung dan Kapt. Inf. Suradi, mereka melarikan diri ke arah selatan sampai di desa Cipayung, Pasar Rebo, Jakarta. Setelah kelar menamam semua senjatanya di desa Kebon Nanas, Bogor. Latief pada keesokan harinya berusaha menemui Presiden Soekarno melalui Brigjen Soepardjo namun usaha tersebut menemui kegagalan. Karena usaha untuk bertemu gagal, maka Latief bersembunyi di daerah Pejompongan dan setelah dua malam bersembunyi, akhirnya ia tertangkap oleh sepasukan tentara yang menggeledah daerah tersebut. Dengan luka pada kaki kirinya dia masuk penjara sebagai tapol dan mengalami persidangan berkali - kali.

Semula Latief mendapat hukuman mati kemudian Mahkamah Militer Agung pada tahun 1982 mengganti vonisnya menjadi vonis seumur hidup. Setahun kemudian pada tahun 1983, Latief resmi menjadi narapidana politik di LP Cipinang. Latief lalu mengajukan permohonan hukuman seumur hidup diubah menjadi hukuman terbatas. Soeharto melalui salah satu keppresnya akhirnya menambah hukuman Latief selama lima tahun sampai dengan 18 Januari 1988 tapi setelah masa itu lewat, Latief tak kunjung dibebaskan.

Pada 17 Agustus 1994, Omar Dhani mantan Menpangau, Dr. Soebandrio mantan Menlu dan Ketua BPI serta Brigjen Pol. Sutarto serta Kol. Latief mengajukan grasi pada Presiden Soeharto. Semua mendapat grasi kecuali Kol. Latief. Akhirnya pada era pemerintahan Habibie lah baru Latief mendapatkan grasinya.

MimiHitam
02-12-07, 10:00
Eks Sersan Mayor Boengkoes adalah salah satu pelaku langsung dari Tragedi September 1965. Dia dibebaskan dari LP Cipinang pada tanggal 25 Maret 1999.

Sebagai Komandan Peleton Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang berada di bawah Kol. Untung, dia mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah atasannya yaitu Lettu Dul Arief.

Ia diperintahkan untuk 'mengambil' Mayjen MT. Haryono, hidup atau mati. Sebelum dilakukan pengambilan tersebut, dia diberi penjelasan oleh atasannya tersebut bahwa ada sekelompok jenderal yang menamakan dirinya "Dewan Jenderal" yang bertujuan meng-coup Presiden Soekarno.

Ketika ditanya apakah Boengkoes mengerti dengan yang dimaksud "Dewan Jenderal", dia menjawab dalam masa G 30 S tersebut ada dua kubu yang tampaknya lagi berkonflik dalam kemiliteran terutama di Angkatan Darat. Yaitu apa yang disebut sebagai "Dewan Jenderal" dan "Dewan Revolusi".

"Dewan Jenderal" adalah yang berniat melakukan coup pada Presiden Soekarno sedangkan "Dewan Revolusi" adalah yang berniat menyelamatkan Presiden Soekarno. Menurut Boengkoes ada ketidaserasian dalam Angkatan Darat tidak hanya menyangkut Soekarno.

Sekitar pukul setengah tiga dini hari semua unsur pasukan yang bertugas untuk melakukan penangkapan dikumpulkan dan diberi briefing akhir. Pasukan dibagi dalam tujuh sasaran dengan dalam tiap titik sasaran terdiri atas satu peleton pasukan. Waktu 'pengambilan' sangat singkat, antara 15 - 20 menit dan tidak dihitung dengan waktu berangkat. Dan sebelum pukul 06.00 harus sudah dibawa ke semua tujuh orang Jenderal tersebut.

Waktu itu Serma Boengkoes mendapat sasaran Mayjen MT. Haryono. Sebelum penangkapan, Serma Boengkoes melakukan observasi dulu. Yang dia ingat adalah waktu itu pintu menghadap ke selatan. Setelah Boengkoes mengetuk pintu dan meminta ijin untuk kedua kalinya, pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Waktu itu keadaan gelap sekali karena oleh pemilik rumah semua lampu dimatikan.

Dalam hati Boengkoes timbul pertentangan antara melanjutkan atau tidak tetapi sebagai seorang tentara dia teringat akan perintah komandannya yang harus dituruti. Akhirnya didobraknyalah pintu tersebut dan ketika itu Boengkoes terkejut karena melihat kelebatan bayangan putih dan secara reflek dia menarik pelatuk dan terjadilah penembakan itu. Gugurlah satu bunga bangsa .. Mayjen MT. Haryono. Menurut pengakuan Boengkoes pada saat dia melakukan penembakan, dia tidak mengetahui bahwa yang ditembaknya adalah Mayjen MT. Haryono.

Pukul 05.30 pagi tanggal 01 Oktober, Boengkoes dan pasukannya sudah tiba di tempat semula. Baru ketima matahari sudah panas dilakukanlah eksekusi terhadap para jenderal yang masih hidup. dan itupun dilakukan dnegan sopan dengan dipapahnya para jenderal sampai bibir sumur dan baru kemudian ditembak.

MimiHitam
02-12-07, 10:00
Menurut pengakuan Boengkoes tidaklah benar kalau ada pesta dan nyanyi-nyanyi seperti yang ditampakkan pada film G 30 S tersebut. Suasana saat itu benar-benar sepi. Boengkoes mengatakan bahwa pada saat itu hanya terdengar tiga suara (yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telinganya jika mengingat kejadian tersebut), yaitu suara desiran angin di pepohonan, suara tangis bayi dan suara ayam berkokok **iiih .. gue kok merinding yaa .. ** . Semua orang yang ada disitu terdiam dan tentara pun seperti robot bahkan air putih pun terasa pahit.

Boengkoes mengatakan bahwa dia benar-benar merasakan penyesalan yang terdalam dan hatinya hancur begitu mengetahui semuanya .. . Bahkan ketika keluar dari penjara pun terbersit banyak pertanyaan apakah nanti ia mampu hidup layak dan wajar di tengah-tengah masyarakat.

Sebagaimana disebut tadi, menurut pengakuan Boengkoes, waktu penembakan atau eksekusi para jenderal adalah jam setengah sembilan pagi.

Malam hari pada tanggal 01 Oktober pasukan Boengkoes dipindah ke suatu tempat, entah ke mana. Yang jelas mereka melintasi lapangan udara. Tanggal 02 Oktober, Boengkoes pulang ke Asrama. Setelah diterima oleh Kepala Asrama, kemudian Boengkoes dibawa ke suatu tempat yang ternyata adalah LP. Cipinang.

MimiHitam
02-12-07, 10:01
Sekarang kita bicarakan tentang Sjam Kamaruzzaman, tokoh Peristiwa September 1965 yang paling misterius.

Nama aslinya adalah Sjamsul Qamar Mubaidah. Dia adalah tokoh kunci G 30 S dan orang nomor satu di Biro Khusus PKI yang bertugas membina simpatisan PKI dari kalangan ABRI dan pegawai negeri sipil. Sjam kelahiran Tuban, Jawa Timur, 30 April 1924. Pendidikannya hanya sampai kelas tiga Land & Tunbow School dan Suikerschool, Surabaya. Karena Jepang keburu masuk ke Indonesia, maka Sjam tidak menamatkan sekolahnya. Pada tahun 1943 dia masuk sekolah dagang di Yogyakarta tapi itu pun hanya sampai kelas 2.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Sjam ikut berjuang memanggul senjata dalam pertempuran di Magelang tahun 1945 - 1946, Ambarawa dan Front Mranggen, Semarang. Dia sempat memimpin kompi laskar di Front Semarang Barat. Sekembalinya dari Front tersebut, ia menjadi anggota Pemuda Tani dan menjadi pemimpin Laskar Tani di Yogyakarta.

Tahun 1947, menjelang Agresi Militer Belanda I (Clash I), ia membentuk Serikat Buruh Mobil, sebuah organisasi buruh yang beraliran kiri. Pada akhir 1947, ketika SBKP (Serikat Buruh Kapa dan Pelabuhan) didirikan, Sjam juga menjadi pimpinan, bahkan kemudia menjadi ketua. Ia banyak mempelajari teori Marxis pada periode tersebut.

Tahun 1950, dia menajdi Wakil Ketua SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) Jakarta Raya. Tahun 1951 sampai 1957. dia menjadi staf anggota Dewan Nasional SOBSI. Dan barulah semenjak tahun 1957, dia menjadi pembantu pribadi DN. Aidit. Mulai tahun 1960, Sjam ditetapkan menjadi anggota Departemen Organisasi PKI. Empat tahun setelah itu, dia memperkenalkan bentuk pengorganisasian anggota-anggota PKI yang berasal dari ABRI. Lahirlah apa yang disebut Biro Khusus Sentral pada tahun 1964.

Sjam mengaku bahwa dia ditugaskan oleh Aidit untuk memimpin biro khusus tersebut. Suatu biro yang menangani pekerjaan khusus yaitu pekerjaan yang tidak dapa dilakukan melalui aparat-aparat terbuka yang lain, terutama di bidang militer dan bidang lainnya yang harus dikerjakan secara klandestin atau bawah tanah.

MimiHitam
02-12-07, 10:01
Ketika mulai dekat dengan Aidit, Sjam menjalin hubungan dengan anggota ABRI. Channel nya dia sangatlah mengagumkan. Ia pernah menjadi informan Moedigdo, seorang komisari polisi. Kelak salah satu anak Mudigdo diperistri oleh Aidit. Sjam juga disebut-sebut pernah menjadi intelnya Kolonel Soewarto, direktur seskoad pad tahun 1958. Melalui cabang-cabang di daerah, Sjam berhasil mengadakan kontak-kontak tetap dengan kira-kira 250 perwira di Jawa Tengah, 200 di Jawa Timur, 80 sampai 100 di Jawa Barat, 40 hingga 50 di Jakarta, 30 - 40 di Sumatera Utara, 30 di Sumatra Barat dan 30 di Bali.

Sjam ibarat hantu yang bisa menyusup kemana saja ia mau. Sehingga banyak orang yang yakin bahwa sesungguhnya Ia adalah agen ganda. Dia bukan cuma bekerja untuk PKI, tetapi juga bertugas sebagai spionase untuk kepentingan-kepentingan lain. Ada lagi yang meyakini bahwa Sjam adalah agen rahasia ganda untuk KGB dan CIA. Lalu ada juga yang bilang bahwa Sjam itu adalah orang sipil yang menjadi informan tentara.

Sjam dianggap sebagai tokoh terpenting dalam peristiwa september 1965 ini yang membuat bukan saja PKI, tetapi juga kekuatan-kekuatan politik nasionalis, runtuh dalam beberapa hari seperti layaknya rumah kertas.

Setelah G 30 S meletus dan kemudian gagal (atau didesain untuk gagal), Sjam pun menghilang.

MimiHitam
02-12-07, 10:02
Menurut Mayjen Tahir, perwira pelaksana Team Pemeriksa Pusat, Sjam ditangkap di daerah Jawa Barat sekitar akhir tahun 1965 atau awal 1966.

Banyak orang sepakat bahwa sesungguhnya Sjam adalah tokoh kunci dalam peristiwa September 1965 tersebut. Tetapi sejauh manakah peranan yang dia mainkan ?

Saat Bung Karno jatuh sakit, Sjam dipanggil Aidit ke rumahnya tanggal 12 Agustus 1965 dan dalam pertemuan itu, Aidit mengemukakan suatu hal yaitu " seriusnya sakit Presiden dan adanya kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan segera apabila beliau meninggal"

Kemudian Aidit meminta Sjam untuk "meninjau kekuatan kita" dan "mempersiapkan suatu gerakan". Atas dasar instruksi tersebut maka Sjam dan rekan-rekannya dari Biro Khusus yakni Pono dan Walujo membicarakan kemungkinan ikut serta dalam "suatu gerakan", dan memutuskan untuk mendekati Kolonel Latief, Komandan Brigade Infantri I Kodam Jaya, Letkol Untung, komandan salah satu dari tiga batalyon pasukan pengawal istana Cakrabirawa di Jakarta dan Soejono dari AU, komandan pertahanan pangkalan Halim. Petunjuk inilah yang menunjukkan bahwa Sjam adalah inisiator dari gerakan yang kemudian gagal.

Di sisi lain ada yang meragukan bahwa inisiatif itu datangnya dari Sjam. Keterangan Untung dalalm sidang pengadilannya mengatakan bahwa semua gerakan itu adalah idenya dan Kolonel Latief dan bukan ide Sjam.

Sementara itu, eksekusi terhadap para jenderal, juga bukan atas inisiatif Sjam. Gathut Soekresno yang dihadapkan sebagai saksi atas perkara Untung pada tahun 1966, memberi petunjuk bahwa Doel Latief lebih berperan, kendati sebetulnya Mayor Udara Soejono adalah yang bertanggung jawab terhadap nasib para jenderal tersebut.

MimiHitam
02-12-07, 10:02
Di pengadilan, Sjam memang divonis mati. Akan tetapi, banyak mantan tahanan politik penghuni RTM (Rumah Tahanan Militer) Budi Mulia, Jakarta Pusat, meragukan apakah Sjam betul-betul dieksekusi.

Dari para mantan tapol penghuni RTM Budi Mulia, lebih banyak yang percaya, Sjam dilepas. Ia ganti identitas dan hidup sebagaimana orang biasa, atau bahkan sudah kabur ke luar negeri. Semua itu tidak lepas dari jasanya terhadap pemerintahan Orde Baru dibawah Jenderal Soeharto.

Beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Sjam adalah agen ganda, memang didasarkan pada logika yang dapat diterima. Dugaan itu sesuai dengan karakteristik Sjam yang cukup cerdas dan penuh perhitungan, akan tetapi misterius. Dia tidak banyak omong. Karakteristik tokoh ini ditampakkan oleh ciri-ciri fisiknya; berkulit gelap, berambut keriting, tinggi 170 cm, sering memakai baju drill, dan ada codetan di pipi dekat mata kanannya.

John Lumeng Kewas, Ketua Presidium GMNI tahun 1957 - 1965 dan juga wakil sekjen PNI menceritakan percakapannya yang pernah terjadi dengan Sjam bahwa dia menanyakan kepada Sjam kenapa PKI melakukan pemberontakan pada 30 September 1965. Dia dengan hati-hati mengatakan, "Bung John perlu tahu, bahwa memang PKI berniat mengkup Bung Karno". Ketika John menanyakan alasannya, kembali Sjam menjawab "Bung Karno memimpin revolusi itu secara plin-plan"

Perlakuan istimewa petugas LP terhadap Sjam juga diakui oleh banyak orang. Sjam bisa lebih leluasa berada di luar sel dan tampak akrab berbincang-bincang dengan petugas.

Eks Kolonel Latief mengatakan bahwa sekitar tahun 1990 Sjam Kamaruzzaman pun masih ditahan di Cipinang. Sementara hal itu bertentangan dengan cerita seorang mantan pejabat di lingkungan Depkeh RI bahwa Sjam dilepaskan pada malam hari di bulan September 1986 atas seizin Soeharto.

Demikianlah sekelumit tentang misteri orang paling misterius dalam pemberontakan September 1965 .. Sjam Kamaruzzaman ..

MimiHitam
02-12-07, 10:03
Brigjen Soepardjo berasal dari Divisi Siliwangi,yang kemudian dipertautkan dengan Mayjen Soeharto pada satu garis komando. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Panglima Komando Mandala Siaga (KOLAGA), bulan Agustus 1965 Mayjen Soeharto disebut-sebut mengunjungi Kalimantan dan bertemu dengan Soepardjo.

Menjelang 30 September, Brigjen Soepardjo terbang dari Kalimatan khusus ke Jakarta untuk ikut serta dalam gerakan bulan September 1965 tersebut. Dia yang melaporkan penangkapan jenderal-jenderal kepada Soekarno. Dia juga yang mendapat perintah Soekarno untuk menghentikan gerakan dan menghindari pertumpahan darah.

Tengah hari 1 Oktober 1965, Brigjen Soepardjo membawa amanat itu pulang ke Cenko II yang bertempat di rumah Sersan Udara Anis Suyatno, kompleks Lubang Buaya. Perintah itu didiskusikan oleh para pimpinan pelaksana gerakan September 1965.

Brigjen Soepardjo dan pasukan Diponegoro, terlibat pertempuran bersenjata melawan pasukan RPKAD yang menyerang mereka. Bersama Sjam dan Pono, Brigjen Soepardjo menyelamatkan diri ke rumah Pono di Kramat Pulo, Jakarta. Kemudian mereka menemui Sudisman di markas darurat CC PKI.

Setelah tertangkap, Brigjen Soepardjo langsung diamankan ke RTM untuk kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati. Berbeda dengan Sjam yang ditempatkan di ruang VIP dalam tahanan militer, eks Brigjen Soepardjo berbaur dengan tapol lainnya. Seorang mantan tapol yang biliknya berdekatan dengan Soepardjo memberikan kesaksian, ketika esoknya akan dihukum mati, malamnya Soepardjo sempat mengumandangkan adzan. Kumandang adzan itu sempat membuat hati para sebagian penghuni penjara yang mendengarkan tersentuh dan merinding ...

Dalam memoarnya, sebagaimana pernah gue ceritain, Oei Tjoe Tat menuliskan perihal kematian Soepardjo. Sebelum eksekusi, Soepardjo dengan sangat gentle ambil bagian dalam "perjamuan terakhir" yang dihadiri oleh keluarganya dan petugas militer. Pada waktu makan bersama pada perjamuan tersebut, Soepardjo memohon pada petugas penjara agar diperbolehkan berpidato. Salah satu isinya: "Kalau saya malam nanti menemui ajal saya, ajal saudara-saudara tak diketahui kapan. Itu perbedaan saya dari kalian." Kemudian ia minta diperkenankan menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Tiga hari sebelum eksekusi, familinya datang membesuk. Supardjo memberikan kenang-kenangan berupa sepasang sepatu buat istrinya. Makanannya yang terakhir sebelum dieksekusi, dibagikan kepada orang lain.

MimiHitam
02-12-07, 10:03
Oei Tjoe Tat mendikotomikan karakter Supardjo dengan sosok Sjam. Dua tokoh utama gerakan September 1965 - yang satu Sjam, sipil, orang pertama Biro Khusus yang kabarnya perancang dan pelaksana; yang lain Jenderal Supardjo, ujung tombak militernya - menampakkan sikap yang berbeda ketika harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Jenderal Pardjo selama dalam tahanan di RTM mendapat simpati, baik dari para petugas maupun dari para tahanan karena sikapnya. Ia tidak mau diutamakan lebih dari yang lain, hanya karena ia seorang Jenderal. Bila menerima kiriman makanan, ia selalu membagi-bagikan kepada para tapol lain yang melintas di depan selnya. Oei Tjoe Tat melukiskannya dengan kata-kata: "Sangat mengesankan, jantan, benar-benar bermutu jenderal, namun tetap sopan, ramah terhadap siapa pun".

Menurut penggambaran Oei Tjoe Tat, Supardjo merupakan orang yang loyal terhadap Presiden. Tapi mengapa Supardjo ikut serta dalam gerakan September 1965 yang mendemisionerkan kabinet dan tidak mencantumkan nama Soekarno dalam daftar 45 orang anggota Dewan Revolusi? Memang, ada kemungkinan, Supardjo dijerumuskan (entah oleh siapa), sehingga ambil bagian dalam gerakan tersebut.

Satu kemungkinan, yang menjerumuskan Supardjo dalam hal itu adalah Sjam. Kemungkinan lain sebagaimana dituturkan oleh Siregar, "Supardjo sekalipun kemudian dibunuh juga oleh Soeharto menyusul hancurnya Gerakan 30 September 1965, tadinya bukan tidak mungkin adalah juga anggota dari kubu Soeharto. Perekrutan atas Supardjo mungkin sekali ketika ia menjadi Wakil Panglima KOSTRAD dan ketika kampanye Ganyang Malaysia dimana Soepardjo menjadi Panglima Komando Tempur Kalimantan dibawah KOLAGA yang dikepala-staffi oleh Soeharto"

MimiHitam
02-12-07, 10:03
Akhir petualangan Lettu Doel Arif pun tak jelas. Sebagai komandan Pasukan Pasopati yang menjadi operator G 30 S, ia adalah tokoh kunci. Ia bertanggung jawab terhadap operasi penculikan jenderal-jenderal pimpinan AD. Tapi Doel Arief, yang ditangani langsung oleh Ali Moertopo, hilang bak ditelan bumi. Bentuk hukuman apa yang diberikan Ali Moertopo bagi Doel Arief? Mungkin saja ia langsung di-dor, seperti halnya DN. Aidit oleh Kolonel Yasir Hadibroto. Atau, bukan tidak mungkin, ketidakjelasan Doel Arief lebih mirip dengan misteri tentang Sjam Kamaruzzaman.

Kalau dilihat secara holistik **dengan asumsi bahwa G 30 S betul-betul merupakan skenario kudeta** peran Doel Arief tidak begitu penting. Setidaknya, ia hanyalah pion yang dimainkan para elit diatasnya. Perannya hanya sebagai pelaksana untuk menculik para jenderal. Namun kalau diasumsikan bhw G 30 S merupakan skenario jenial untuk menabrakkan PKI dan AD guna memunculkan konstelasi politik baru di Indonesia, maka Lettu Doel Arief adalah key person, seperti halnya Sjam.

MimiHitam
02-12-07, 10:03
Dalam sebuah operasi intelijen, antara operator dan pengguna (desainer gerakan), tak ada struktur komando langsung. Yang ada hanyalah pivot atau penghubung secara tidak langsung, yang biasanya dimainkan oleh beberapa aktor kunci. Kalau Sjam dianggap sebagai desainer G 30 S, dan Untung adalah pelaksana - maka tesis yang muncul adalah; Doel Arief sebagai pivot. Dalam istilah intelijen, ia adalah faktor cut - disadari atau tidak disadari oleh Doel Arief sendiri. Kalau operasi intelijen, ternyata gagal, faktor cut memang harus di-cut artinya di dor! agar tidak meninggalkan jejak.

Berdasarkan atas asumsi diatas, dapat disusun rekonstruksi sebagai berikut. Sjam mendisain gerakan yang dirancang untuk dilakukan Untung. Namun, ada pihak ketiga yang memanfaatkan Lettu Doel Arief untuk mengacaukan gerakan. Cara kerjanya mirip dengan virus komputer yang dirancang untuk mengacaukan program/sistem. Kalau semula tidak ada perintah bunuh terhadap para jenderal, tetapi oleh Doel Arief (selaku komandan Pasukan Pasopati), diberikan instruksi "tangkap hidup atau mati". Akhirnya gerakan menjadi kacau balau.

MimiHitam
02-12-07, 10:04
Betulkah eks Lettu Doel Arief merupakan faktor cut yang dimanfaatkan oleh pihak ketiga ? lalu, siapakah pihak ketiga itu ? Soeharto-kah ?

Sulit untuk menyimpulkan. Perkembangan yang terjadi sungguh-sungguh rumit. Lettu Doel Arief bergabung bersama Pelda Djahurub dalam operasi di rumah Nasution. Tetapi ternyata operasi itu gagal. Nasution lolos. Bahkan Pierre Tendean dan Karel Sasuit Tubun (pengawal di rumah Leimena) menjadi korban. Operasi penculikan di rumah Nasution itu sendiri sama sekali tidak elegan. Sebab dari awal sudah memancing keributan; yang berarti membuka kemungkinan untuk gagal.

Menurut keterangan yang diperoleh dari pengadilan Gathut Soekresn, sebetulnya diperoleh petunjuk tentang Doel Arief. Ketika ditanya Hakim apa tindakan yang diambil Gathut (selalu petugas pengamanan basis di Halim, di bawah komando Mayor Soedjono) setelah jenderal-jenderal itu dibawa ke Lubang Buaya, Gathut menjawab:
"Doel Arief memaksa meminta saya supaya dibereskan saja. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, kemudian saya menulis surat kepada Mas Jono (maksudnya, Mayor Udara Soedjono), yang disampaikan per kurir yang bunyinya ialah bagaimana mengenai para jenderal yang sudah ada di Lubang Buaya, terutama yang masih hidup. Oleh karena waktu itu kami dalam keadaan gugup, maka kami suruhkan kurir untuk membawa surat sampai kedua kali untuk minta keputusan Mas Jono, yang pada waktu itu berada di PENAS (gedung penas). Lagipula oleh karena Saudara Doel Arief waktu itu mengulangi lagi permintaannya, memaksa-maksa dan membentak-bentak, maka kami jawab kami belum mengerti bagaimana saya harus perbuat, karena ketentuan harus datang dari Mas Jono.
....."

MimiHitam
02-12-07, 10:04
... Kemudian ada orang datang membawa balasan yang ditulis di balik surat kami, yang mana maksudnya supaya para jenderal itu diselesaikan, dibereskan artinya ditembak mati.

... Kemudian karena saya sendiri tidak mempunyai niat semacam itu, maka hal itu tidak dapat kami lakukan sendiri, maka kami perintahkan kepada Serma Marsudi, anak buah langsung dari Mayor Soejono, untuk melaksanakan perintah itu."

Analisis yang lain: Sjam-lah yang merupakan faktor cut. Berdasarkan pengakuan Kolonel Latief, bahwa ada hal-hal yang diluar perencanaan, tak sulit diduga bahwa Sjam memainkan kartu penting. Menurut Latief, sebenernya dalam perundingan, tidak ada rencana pembunuhan terhadap para jenderal.

MimiHitam
02-12-07, 10:04
"Mula-mula kita sepakati para jenderal itu dihadapkan kepada Presiden / Panglima Tertinggi Bung Karno di Istana. Pelaksanaannya oleh Resimen Cakrabirawa yang dikomandoi Letkol Untung. Komando pelaksananya Letnan Doel Arief. Tanpa sepengetahuan Brigjen Supardjo dan saya sendiri, Sdr. Sjam ikut Letkol Untung. Kami baru tahu setelah selesai pelaksanaan atas laporan Letnan Doel Arief. Saya dan Brigjen Supardjo kaget. "Kenapa sampai mati?" tanya Pak Pardjo. Letnan Doel Arief menjawab bahwa Sjam menginstruksikan bahwa bila mengalami kesulitan menghadapi para jenderal, diambil saja hidup atau mati. Mereka melaksanakan perintah Sjam karena tahu bahwa Sjam duduk dalam pimpinan intel Cakrabirawa."

MimiHitam
02-12-07, 10:04
Kesaksian Keluarga Korban

Penculikan dan pembunuhan para jenderal tentu saja amat membekas di benak keluarganya. Khususnya mereka yang langsung menyaksikan segerombolan tentara, dengan perilaku kasar, menggelandang ayah atau suami mereka. Apalagi bagi keluarga jenderal yang ditembak di rumah sendiri.

Peristiwa tragis itu dialami oleh Untung Mufreni Achmad Yani, anak ketujuh dari delapan bersaudara putra Letjen A. Yani. Ketika itu usianya masih 11 tahun. Dialah yang terbangun malam itu, dan menyaksikan ayahnya ditembak. Adiknya, Eddy, saat itu berusia 7 tahun, membangunkan ayahnya karena diminta oleh salah seorang anggota Pasukan Cakrabirawa.

"Karena ada ribut-ribut saya terbangun. Di rumah itu kan ada semacam bar. Saya disitu saja. Waktu itu terjadi perselisihan atau pertengkaran. Tapi, Bapak itu sepertinya disuruh cepat-cepat menghadap Presiden. Bapak mau ganti baju dulu. Waktu itu Ia pakai piyama agak biru. Tentara itu bilang, tidak usah karena harus segera. Bapak memukul salah seorang Cakrabirawa. "Kamu prajurit tahu apa," kata Bapak yang lalu membalikkan badan menutup pintu kamar. Waktu itulah Bapak ditembak."

"Lalu jenazah Bapak diseret keluar, kami mencoba mengejar dari belakang. Waktu sampai di pintu belakang, ada satu Cakrabirawa yang menghadap ke arah kami. Dia mencegah dan mengancam kami, kalau sampai keluar akan ditembak . Kami tidak jadi keluar. Akhirnya, kami cuma menangis. Kami akhirnya hanya mengintip dari jendela. Jenazah Bapak diseret - seret sampai depan. Sesudah itu kami tidak tahu lagi. Mau coba telpon, kabelnya diputus."

Tak berapa lama kemudian Ibu datang dengan beberapa pengawal pribadi Bapak. Begitu Ibu masuk dan melihat darah bekas seretan, Ibu menangis . Masuklah Ibu ke dalam, dekat meja makan dan melihat darah disitu. Lalu beliau ambil baju Bapak yang terakhir malam itu dipakai. Darah itu dipel dengan baju itu, lalu baju itu dilap ke muka Ibu . Baju itu lalu dibungkus, Ibu bawa baju itu kemana-mana, tidur pun dibawa.

MimiHitam
02-12-07, 10:04
Rianto Nurhadi, anak ke 3 dari lima bersaudara putra Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono, saat itu baru berusia sembilan tahun. Ia tahu benar bahwa bapaknya ditembak oleh pasukan Cakrabirawa yang dipimpin Boengkoes.

"Malam itu ayah, ibu dan adik saya (berumur 5 tahun) tidur bertiga. Di kamar tengah, saya dan adik saya. Saya tidur di kasur bagian atas (tempat tidur bertingkat). Jadi saya melihat peristiwa itu. Ketika Ibu membangunkan adik dalam keadaan panik kemudian lari ke kamar depan tempat dua kakak saya yang lain tidur, kemudian Ibu mengunci kamar depan sehingga hubungan dengan kamar tengah terkunci, saya tertinggal di kasur atas."

"Saya terbangun karena banyak reruntuhan tembok yang jatuh ke badan saya. Rupanya mereka juga menembak dari samping. Saya lihat diatas dan ditembok samping saya banyak bekas tembakan."

"Saya langsung turun kebawah dengan kaget dan lari ke kamar ayah saya. Disitu saya melihat Ayah saya masih hidup sementara pintu sudah maulai ditembaki. Dia menyuruh saya untuk berlari lagi ke kamar sebelah dan saya menurutinya."

"Cuma kejadian ditembaknya aya saya tidak melihat. Yang saya lihat, pintu ditembaki karena saya keburu lari menuruti perintah ayah. Rasanya saat itu ayah belum kena peluru karena orang-orang masih menembaki dari luar kamar."

"Keadaan kamar waktu itu sangat gelap karena lampu dimatikan. Mereka menembak membabi buta, mereka membakar koran dan korannya ditaruh dibawah kasur. Jadi rumah kami pun hampir terbakar karena kasur ayah pun sudah terbakar."

"Ibu syok. Kami ingat sekali, setelah kejadian tersebut, kami anak-anaknya merubung ibu yang saat itu sedang mengepel darah ayah saya dan dimasukkan ke ember sambil menangis . Mulai dari kamar ayah, beliau terus mengepel sampai ke pintu luar. Kami mengikuti beliau sambil menangis .

MimiHitam
02-12-07, 10:04
Pierre Tendean
Nyonya Mitzi F. Tendean, pada tahun 1966-1967 mencari tahu apa yang terjadi pada adiknya, Lettu Pierre Andreas Tendean, ajudan Jenderal Nasution, yang pada tanggal 30 September 1965 diculik oleh Pasukan Cakrabirawa karena dikira Jenderal Nasution.

Nyonya Mitzi mengumpulkan berbagai dokumentasi pers, foto, tulisan arsip proses verbal para pelaku di markas CPM di Gambir. Dia juga mengikuti semua persidangan mahkamah militer dan mahkamah militer luar biasa., serta melakukan wawancara singkat dengan 14 anggota Gerwani yang dianggap terlibat penganiayaan seksual terhadap adiknya.

"Usaha saya mengumpulkan fakta seputar kematian adik saya berawal dari ketidakpuasan saya pribadi. Saya sangat tidak percaya terhadap segala cerita penganiayaan di Lubang Buaya, 30 September 1965. Saya pikir itu hanya laporan wartawan."

"Ketika saya bertemu dengan Dokter Roebiono Kertapati, Kepala Tim Pemeriksa Mayat Pahlawan Revolusi, saya mendesak dia menceritakan kondisi mayat adik saya yang sebenernya. Dokter itu tidak bersedia. Alasannya, ia terikat sumpah. "Hanya dua orang yang berhak mengetahui hasil visum, Presiden Soekarno dan Mayor Jenderal Soeharto," kata Roebiono. Roebiono cuma menyimpulkan, perlakuan terhadap para korban, termasuk Pierre, "melebihi binatang".

Mendengar itu, saya semakin tergerak untuk mencari tahu sendiri.

MimiHitam
02-12-07, 10:05
"saya meminta izin ke Direktur Zeni Angkatan Darat Mayor Jenderal Deni Kadarsan (almarhum), untuk melihat lokasi di Lubang Buaya. Tanggal 2 Januari 1966, kami dikawal melewati jalan Pondok Gede. Waktu itu, situasi sangat mencekam, tidak diketahui siapa kawan, siapa lawan. Saya, Ibu Nasution dan Pak Deni Kadarsan datang ke Lubang Buaya, melihat sumur berkedalaman 12 meter dan berdiameter 75 sentimeter itu. Disampingnya ada pohon durian. Kemudian ada rumah yang persis berada di samping sumur. Itu rumah seorang guru yang istrinya anggota Gerwani. Saya menemui istrinya ketika berkunjung ke Penjara Bukit Duri. Rumah yang ada disampingnya sudah agak reot, yang dibelakangnya ada kolam kecil. Daerahnya sangat rindang, banyak pohon karet dan durian.

"Hal yang sangat membuat saya dan keluarga kami sakit hati; di Lubang Buaya sudah jelas ketahuan bahwa Pierre bukan Jenderal Nasution. Tapi, dia tetap disiksa dan dibunuh."

"Tim Cakrabirawa yang datang ke rumah Pak Nas di Jalan Teuku Umar adalah Pelda Djahurub. Sampai sekarang, orang itu belum tertangkap. Demikian juga Letnan Doel Arief. Dari pengakuan mereka yang tertangkap dan diajukan ke persidangan, fakta soal Pierre sudah jelas."

"Pierre ditangkap, lalu dimasukkan ke satu ruang yang disebut dalam pengakuan mereka ruang piket, disatukan dengan tiga jenderal yang masih hidup -- yakni Jenderal Sutojo, Jenderal Parman dan Jenderal Prapto. Mereka berempat mengalami penyiksaan yang sungguh berat. Bahkan, harus menyaksikan dulu penyiksaan yang lain."

"Dari kesaksian mereka di persidangan terungkap, mereka semua berkumpul di Gedung Penas sebelum korban-korban dieksekusi. Gedung itu kan masih berada di kompleks Halim juga. Yang ada di gedung itu Doel Arief, Gathut Sukresno dan Soejono."

"Mayor Udara Gathut Sukresno sebagai penganiaya adik saya pada persidangan militer menyatakan sudah meragukan identitas Pierre. Dia bilang, Pierre yang masih muda sudah jelas bukan Jenderal Nasution. Tapi, karena sudah terlalu berat penyiksaannya, terutama soal luka menganga di kepalanya, ia sudah tidak mampu bertahan."

"Gatot menyatakan Pierre sudah diserahkan ke kelompok Gerwani, yang katanya sudah diberi obat perangsang dan memang dilatih untuk melakukan penganiayaan seksual. Merek datang tidak mendadak dan sudah dilatih cukup lama. Malah, ada yang sudah lebih enam bulan (di Lubang Buaya)."

"Saya menemui Pak Harto dan akhirnya mendapatkan izin khusus masuk Rumah Tahanan Khusus Salemba dan Bukit Duri dengan surat kuasa dari Penguasa Pelaksana Daerah Jakarta Raya dan sekitarnya. Surat itu mulai berlaku 6 April 1967 sampai Juni 1967. Ada catatan di surat itu, saya harus didampingi petugas teperda (team pemeriksa daerah)."

"Dua hari berturut-turut, saya datang ke Bukit Duri. Satu per satu, saya tanyai 14 anggota Gerwani itu berdasarkan data, proses verbal yang saya pinjam dari markas besar Polisi Militer."

Berikut cuplikan dari delapan lembar kertas catatan hasil pertemuan Mitzi dengan para anggota Gerwani yang dipenjara di Bukit Duri ...

MimiHitam
02-12-07, 10:05
1. Atikah 'Djamilah'
di dalam PV disebutkan datang ke Lubang Buaya pada 28 September hingga 02 Oktober 1965. Ia anggota Pemuda Rakyat Tanjung Priok, dengan pelatih Soejono. Ketika ditemui, Jamilah, yang menurut teman-temannya memimpin kelompok kecil Gerwani yang menganiaya Pierre, tak mau bicara dan menyatakan 'tak tahu' berkali-kali. Sorot matanya tajam dan menusuk tak dapat saya lupakan. Sosok Djamilah bertubuh tegap, kulit sawo matang, wajah tipe Arab, hidung mancung.

2. Eni bint Madah
Adalah wanita tuna susila. Menurut PV, ia tertangkap di Tangerang pada 30 Oktober 1965. Dia tiba di Lubang Buaya pada 30 September 1965 pukul 22.00. Keesokan paginya, ia diperintahkan menari-nari setengah telanjang mengelilingi ruang piket sambil bernyanyi dan melukai tawanan. Dia mengetahui di dalam sumur sudah ada dua orang. Ia mengaku ikut memasukkan Sutoyo, Soeprapto, Parman dan Pierre. Sebelumnya, bersama Isah dan Tati ia menari-nari mengelilingi Pierre. Dia melihat dengan mata kepala sendiri penganiayaan, pemotongan alat vital Pierre oleh Jamilah. Eni mengaku juga disuruh mengiris-iris Jenderal Parman, Pierre dan Soeprapto. Djamilah mencungkil mata Parman, Tati menusuk punggungnya. Semua korban diperlakukan begitu dalam keadaan masih hidup.

MimiHitam
02-12-07, 10:05
3. Darsijem mengaku tiba di Lubang Buaya pada pagi hari tanggal 30 September 1965. Keesokan harinya, ia ikut melakukan penganiayaan dan penembakan terhadap Soeprapto. Pada saat itu ia melihat dua orang yang lain sudah mati. Darsijem mengaku melihat korban yang berjaket coklat (Pierre) ditembak oleh Cakra, AURI dan Pemuda Rakyat. Sesudah mati, Pierre diseret orang berbaju hijau ke dalam sumur. Menurut Darsijem, Djamilah adalah pemimpin penganiayaan itu.

4. Henni mengaku anak buah Sukiman, anggota Pemuda Rakyat. Ia melihat dua tawanan datang. Dua berpakaian daster (kimono) dan sarung, satu celana pendek, satu lagi hanya memakai sarung. Yang cuma memakai sarung diiris-iris. Henni turut mengiris-iris tangannya dan memberi air jeruk nipis. Henni menusuk perut Soeprapto hingga ususnya terburai keluar. Djamilah lalu menembak Soeprapto. Bersama dua orang kawannya, Henni mengaku mencongkel mata dua tawanan, lalu membungkus bola mata tawanan yang memakai kimono dengan daun pisang. Henni melihat, ketika dimasukkan ke dalam sumur, tawanan yang mengenakan kimono dipotong tangannya hingga batas pundak, yang mengenakan sarung dipotong kakinya sampai paha.

5. Endah datang ke Lubang Buaya pada tanggal 30 September 1965 pagi. Tanggal 01 Oktober, ia melihat Pierre, Parman dan Soeprapto dibawa ke lokasi. Semua dikawal pasukan Cakrabirawa. Soeprapto dibawa ke balai pengobatan, ditanyai oleh Cakrabirawa. Ia mendengar bunyi pertanyaannya: "mengapa Bapak, seorang jenderal, tak memikirkan rakyat ? beras mahal dan rakyat kelaparan, apa tindakan Bapak ? Dia mendengar Soeprapto menjawab: 'Saya juga memikirkan, tapi bagaimana ?' kemudian terdengar Soeprapto dipukuli beramai-ramai dengan popor senapan. Ini semua terjadi di dekat sebuah lubang kecil.

MimiHitam
02-12-07, 10:05
6. Saijah, umur sekitar 16 tahun, mengaku bekerja di dapur. Lalu, ia dipanggil oleh orang-orang berbaju loreng, katanya disuruh melihat jenazah-jenazah. Ia sempat mengaku mengiris-iris Soeprapto. Tapi, kemudian buru-buru berkata tak tahu dan tak melihat apa-apa. Catatan: kesannya memutarbalikkan kata-kata, penuh kepura-puraan. Perlu diperiksa ulang.

7. Ani mengaku melihat truk datang pada pagi hari tanggal 01 Oktober 1065, menurunkan seorang berpakaian daster, seorang berpakaian sarung, dengan mata tertutup dan tangan terikat kain merah. Seorang lagi berpakaian hitam (maksudnya mungkin coklat) dengan tangan terikat. Kemudian, pada pukul 06.00 pagi, ia melihat tawanan yang mengenakan daster ditembak dibelakang rumah. Dia mendengar seorang wanita (Aisah atau Djamilah) berkata 'ini darah kabir' lalu melihat muka tawanan yang mengenakan sarung penuh dengan darah

8. Tarju pada sekitar pukul 07.00 tanggal 01 Oktober 1965 melihat tawanan yang mengenakan daster. Tangannya terikat di belakang. Juga, ia melihat tawanan yang mengenakan pakaian coklat. Cuma, yang terlihat bagian badan atasnya saja karena dikerumuni orang banyak, ditendang-tendang orang berbaret hijau berbaju loreng. Tarju juga melihat Soeprapto dalam kondisi berdarah-darah mukanya. Ia melihat Djamilah yang tangannya berlumuran darah berkata 'inilah darah kabir'. Dan seorang laki-laki berkata, 'orang-orang yang sudah mati ini adalah orang-orang kabir' ...

kabir = kapitalis birokrat

MimiHitam
02-12-07, 10:06
9. Sariningsih alias Ny. Hardjono istri seorang guru penghuni rumah di sebelah sumur Lubang Buaya. Suaminya, Hardjono, anggota Pemuda Rakyat. Sariningsih mengatakan, di Lubang Buaya telah dilakukan tujuh kali pelatihan oleh anggota-anggota AURI. Ia sendiri ikut dalam Angkatan ke 5. Menurut Sariningsih, pasukan Cakrabirawa datang ke Lubang Buaya pada tanggal 30 September 1965 pkl. 14.00. Pagi hari 1 Oktober 1965, ia mengaku melihat tawanan berbaju putih yang tangannya terikat ditanyai oleh Iman dan Kasman. Di rumah mertuanya, Sariningsih juga melihat tawanan yang berbaju coklat dengan tangan terikat dan muka berlumuran darah. Disitu, ia juga melihat seorang tawanan yang telah mati dan dipotong kemaluannya (Sutoyo), seorang tawanan yang berbaju hijau yang telah dicongkel matanya. Ia takut melihatnya. Catatan banyak hal-hal yang tidak mau dikatakan. Sukar berpikir.

10. Soekarni janda tanpa anak berusia 42 tahun, anggota Gerwani. Pernah mendapat latihan di Cipete, Jakarta, antara lain bongkar pasang senjata, tapi belum pernah menembak. Pada 30 September 1965 diajak kawan-kawan ke Lubang Buaya untuk arak-arakan. Sampai di Lubang Buaya, ia mendapat tugas di dapur. Ia tidur di kemah. Subuh tanggal 01 Oktober 1965, ia sama sekali tidak mengetahui suasana. Ia pergi ke sungai, mendengar letusan senjata, lalu pergi bersembunyi ke dapur. Ketika suara letusan semakin kerap terdengar, ia pergi kemah dan tak keluar hingga tanggal 02 Oktober. Catatan : pandai memutar balikkan fakta. Amat disangsikan keterangannya mengenai latihannya di Cipete.

MimiHitam
02-12-07, 10:06
11. Tjitjih binti Hadimi, anggota Gerwani , seorang buruh pabrik tepung. Bersama kawan-kawannya pergi ke Lubang Buaya karena ada panggilan dari Ketua RK yang juga anggota Pemuda Rakyat bahwa akan ditempatkan dan diadakan sukarelawan di Lubang Buaya. Pada 1 Oktober 1965 pagi-pagi, ia melihat seorang mengenakan sarung sudah menjadi jenazah. Ia tidak melihat kejadian-kejadian lain karena bertugas di dapur. Ia mengaku takut mendengar suara tembakan. Ia merasa menyesal memilih Gerwani.

12. Marsijem, suaminya pensiunan veteran. Tanggal 29 September 1965 dipanggil Sulami ke DPP Gerwani untuk menjalani tugas atas permintaan AURI. Bersama sepuluh orang lain, pukul 19.00 diangkut dengan truk ke Lubang Buaya. Diturunkan di kebun karet. Disana, ia melihat banyak orang berseragam hijau. Oleh Sulami, mereka dibawa ke sebuah rumah gedek, diserahkan ke seorang wanita bagian penjahitan. Setelah itu, Sulami meninggalkan mereka.

Mereka disuruh menjahit hingga pukul 22.00. Jahitan-jahitan itu merupakan bendera-bendera kecil merah-putih. Tanggal 30 September, mereka bangun pagi 07.00 dan melihat tentara berbaju loreng, baret merah, menyandang senjata. Marsijem mengaku hanya melanjutkan pekerjaan menjahit bendera, ia selesai sekitar 100 buah.

Tanggal 01 Oktober pagi, Marsijem dibangunkan oleh wanita Pemuda Rakyat berseragam hijau. Wanita itu berkata,"Bangun, bangun, Pak Prapto sudah kepegang." Marsijem lalu keluar, melihat Soeprapto yang berbaju piyama duduk di kursi di ruang P3K dan dijaga 5 orang berbaju hijau. Tangannya diikat ke depan dengan kain. Marsijem lalu meninggalkan ruangan itu, kembali ke tempat menjahit. Dari situ, ia mendengar orang-orang (laki-laki dan wanita) bernyanyi-nyanyi. Setelah itu, ia mendengar tiga kali tembakan dan melihat jenazah diangkut dengan tandu melewati tempatnya. Oleh Pemuda Rakyat dikatakan, itu adalah Soeprapto. Setengah jam kemudian, ada lagi jenazah diangkut melewati tempat Marsijem. Orang-orang mengatakan itu adalah Parman. Yang mengangkutnya adalah orang-orang berbaju loreng. Pada pukul 11.00, mereka diantar ke Jakarta dengan truk.

13. Wasirah istri Sumadi, seorang guru SD dan juga kerja di NV Mantrusi. Ia tak mau bicara, cuma mengatakan pemeriksaan pertama terlalu berat. Ia terpaksa mengaku dalam proses verbal karena takut.

MimiHitam
02-12-07, 10:06
14. Dedeh, 26 tahun, bekerja di PKD Djaja. Pada 30 September disuruh berkumpul di DPP Gerwani. Kira-kira pukul 16.00 - 17.00 diangkut ke Lubang Buaya. Disana diterima seorang kapten AURI, lalu diangkut ke tempat menjahit oleh Ibu Hardjo, pimpinan bagian jahitan. Ia kebagian tugas menjahit bendera. Pada 1 Oktober, Dedeh bangun pada pukul 06.30, mendengar cerita dari Eni dan para PR bahwa Jenderal Yani sudah dibunuh dirumahnya. Di sekitarnya terlihat Cakrabirawa berbaret merah dan PR berbaju loreng. Ia juga mendengar dari mereka bahwa ada jenderal-jenderal lain ditembak disitu. Dedeh menanyakan, mengapa jenderal-jenderal itu dibunuh. Dijawab oleh para Cakra: 'para jenderal itu tidak memperhatikan bawahannya, dia hanya mementingkan diri sendiri.' Dari orang-orang di sekitarnya, Dedeh mendengar jenderal-jenderal itu dimasukkan dalam sumur.

MimiHitam
02-12-07, 10:07
Beberapa jam setelah pengangkatan jenazah para korban dari sumur Lubang Buaya, Mayjen Soeharto membentuk tim otopsi. Tim ini merupakan gabungan Tim Kedokteran ABRI dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Selain Arif Budianto (FKUI), yang waktu itu dokter termuda di dalam tim, anggota lain antara lain Prof. Soetomo Tjokronegoro (FKUI), Brigadir Jenderal Prof. Roebiono Kertapati (Direktur RSPAD dan patolog), dr. Frans Pattiasina (patolog dari RSPAD) dan dr. Ferry Liauw Yan Siang (FKUI). Dari nama tersebut diatas, tinggal Arif dan Ferry yang masih hidup.

Menurut Prof. Dr. Arif Budianto (dulu bernama Liem Joe Thay), hasil otopsi ternyata tidak seperti yang diberitakan mass media. Orang yang dulunya lebih dikenal sebagai itu adalah dokter ahli forensik yang merupakan anggota tim yang menangani tujuh jenazah pahlawan itu.

inilah penuturan prof. arif ...

Hari itu 4 Oktober 1965, sekitar pukul 20.00 datang satu truk dengan lebih dari 20 tentara ke rumah saya, di kawasan kampung angus, gelondongan, glodok, kota. waktu mereka datang, ibu saya kaget setengah mati. ibu pikir saya dijemput karena terlibat gerakan komunis. waktu itu kan sedang gencarnya pembersihan.

tidak tahunya, tentara itu membawa surat dari prof. soetomo tjokronegoro. dalam surat itu disebutkan saya diminta datang ke rspad gatot subroto untuk membantu beliau memeriksa mayat tujuh pahlawan yang terbunuh pada 30 september.

jadilah, setelah saya berpakaian, saya berangkat dengan truk itu ke rspad. waktu itu suasana jakarta sangat mencekam. jam malam juga masih berlaku dan di beberapa tempat ada pos penjagaan. kami diharuskan berhenti dan pengantar-pengantar saya menyebut satu kata sandi. dan, setiap berhenti di satu pos, baik yang menjemput saya maupun yang di pos, siap-siap mengokang bren-gun nya.

saya waktu itu takut sekali. itu truk tentara yang pakai terpal; dan saat itu saya duduk di depan. untunglah, semuanya berjalan dengan lancar dan kami sampai dengan selamat di rspad gatot subroto. saya masih ingat pasukan yang menjemput saya bukan rpkad [resimen para komando angkatan darat], tapi pasukan kostrad [komando cadangan strategis angkatan darat].

ketika saya sampai di kamar otopsi rspad, disana sudah ada profesor saya, soetomo dan senior saya yang lain dari forensik fkui, dr. ferry liauw yan siang. kelulusan saya dan dr. ferry cuma beda lima bulan. saya ditunjuk dr. soetomo untuk membantu dia karena memang dia kami inilah yang paling senior. saya malah paling muda diantara mereka. dr. ferry lulus lima bulan lebih dulu dari saya. saya lulus dari fkui tahun 1957 dan setelah itu langsung mengambil spesialis forensik.

di kamar otopsi, saya melihat, secara umu, kondisi mayat memang sudah membusuk. memang tidak berulat, tapi kulit arinya sudah ngelotok. tidak juga terlalu kembung, tapi sedikit berlendir dan kulitnya kekuningan. semua mayat masih berpakaian lengkap seperti yang dipakai terakhir. itu sebabnya tim kami mendata benda-benda yang melekat di tubuh mayat.

saya memeriksa mayat pertama mulai dari giginya. diantara dua gigi serinya, juga gigi taringnya, ada gigi kecil dan aneh. itu kelainan, namanya mesio dentist. saya melihat keanehan itu. lalu, saya tanyakan ke dokter angkatan darat, dokter giginya, adakah yang punya gigi begitu. dia langsung bilang, 'oh. ini jenderal yani!'

ketika memeriksa mayat jenderal yani ada satu hal yang saya paling ingat. bola matanya sudah copot dan mencelat keluar. itu terjadi karena, ketika dimasukan ke sumur, kepalanya lebih dulu. di dasar sumur itu ada air, jadi kepalanya terendam disana.

saya juga masih bisa mengenali pakaian jenderal yani. dia mengenakan pakaian piyama loreng-loreng biru-putih-biru. kemeja piyamanya penuh pecahan kaca. dia kan ditembak di depan pintu kaca rumahnya. itu sebabnya sisa pecahan kacanya masih berhamburan kemana-mana. selain mayat ahmad yani, saya memeriksa jenazah m.t. haryono.

MimiHitam
02-12-07, 10:07
kami bekerja sepanjang malam itu sampai dini hari. di ruang otopsi itu digunakan dua buah meja otopsi. kami tanyakan waktu itu, apakah mayat para jenderal akan diotopsi lengkap atau tidak. para jenderal yang hadir, termasuk pak harto, bilang tidak usah.

tentang pak harto, sewaktu kami sedang sibuk-sibuknya melakukan otopsi, beliau juga datang. ada beberapa jenderal yang masuk ke ruangan otopsi saat itu. pak harto tidak bicara apa-apa ketika itu; dan saya juga tidak sempat memperhatikan karena saya sedang sibuk bekerja. yang saya ingat, saya sedikit mengangkat kepala mayat yang sedang saya periksa dan baru sadar pak harto ada diruangan. dia mengenakan battle dress (pakaian tempur). kabarnya, rspad dari malam sampai pagi dijaga ketat pasukan kostrad. tapi, kepada kami tidak ada tekanan apa pun, khususnya kepada saya. itu sebabnya saya berani bicara seperti itu kepada rekan-rekan yang lain.

di luar, kami sudah mendengar berita yang menyeramkan soal kondisi penis korban. karena itu, kami melakukan pemeriksaan yang lebih teliti lagi tentang hal ini.

tapi, apa yang kami temukan malah kondom di kantung salah satu korban yang bukan jenderal. ada juga korban yang ditemukan tidak disunat. kami periksa penis-penis para korban dengan teliti. jangankan terpotong, bahkan luka iris saja juga sama sekali tidak ada. kami periksa benar itu, dan saya berani berkata itu benar. itu faktanya.

MimiHitam
02-12-07, 10:08
satu lagi, soal mata yang dicongkel. memang kondisi mayat ada yang bola matanya copot, bahkan ada yang sudah kotal-katil. tapi, itu karena sudah lebih tiga hari terendam, bukan karena dicongkel paksa. saya sampai periksa dengan seksama tepi matanya dan tulang-tulang sekitar kelopak mata, apakah ada tulang yang tergores. ternyata tidak ditemukan.

ketika saya dan prof. roebiono sedang memeriksa salah satu mayat, saya melihat di dadanya ada peluru yang kelihatan ngumpet agak di permukaan kulit. prof roebiono lalu bilang 'itu ambil saja, nantu gue tutupin!' dia tutupin saya sama badannya, lalu saya ambil peluru itu sambil sedikit mencungkil. lalu, saya serahkan ke prof roebiono. entahlah, sekarang peluru itu ada di mana. saya juga lupa dari tubuh siapa peluru itu saya ambil.

kalau dikatakan sama sekali tida ada penyiksaan itu juga tidak betul. mayat-mayat itu ditembaki berkali-kali. pergelangan mayat haryono malah jelas sekali hancur karena bebatan perekat yang direkat kuat-kuat dan diikat sejak dari lubang buaya. saya tak percaya, mayat yang dijatuhkan ke sumur bisa hancur pergelangan tangannya dan telapak tangan seperti itu. kepala mayat jenderal soetojo pecah. itu juga kami tidak bisa bilang karena penyiksaan, karena kami tak ada disana. tapi, yang jelas itu luka tembak. seluruh korban memang ada, namun, karena kondisi mayatnya sendiri sudah busuk, kami tak bisa bedakan lagi apakah kondisi mayat sesudah mati atau sebelum mati.

MimiHitam
02-12-07, 10:08
seperti dikatakan tadi, kami sampai was-was setelah selesai memeriksa mayat karena kami tidak menemukan penis yang dipotong; sehingga waktu membuat tulisan visum, semua anggota fim forensik ini ketakutan. bagaimana ini dilakukan ? sementara itu, diluar sudah berkembang sangat santer cerita-cerita yang tidak benar dan terlalu dilebih-lebihkan soal kondisi mayat perwira.

saya sebagai yang termuda di kelompok tim forensik cukup tahu diri. saya bicara paling akhir, setelah senior-senior saya. waktu itu, saya bilang, ini adalah tugas negara. bolehlah kami anggap negara adalah wakil dari yang maha kuasa. karena itu, kebenaranNyalah yang harus dikemukakan. kalau sampai itu yang dipersalahkan, biarlah kami yang tujuh orang ini masuk penjara. tapi, saya yakin itu tak mungkin terjadi. kenapa ? karena, saya yakin itu tak mungkin terjadi. kenapa ? karena, kami melakukan yang benar. hal yang benar itu memang tak pernah terungkap di surat kabar di sini, tapi di koran-koran amerika pernah diungkapkan kebeneran ini.

buat saya, selama melakukan otopsi, saya belum mendengar pemberitaan yang luaran itu. saya murni bekerja objektif. objektifitas saya seratus persen. cuma, saya tidak tahu anggota yang lain. saya baru tahu berita-berita itu waktu selesai tugas di dini hari tanggal 05 oktober, kami duduk di ruangan besar di rspad membicarakan hasil tadi.

setelah selesai diperiksa, semua mayat itu dimasukkan ke dalam peti dan dibawa ke markas besar angkatan darat yagn di jalan veteran. mula-mula saya dibawa ke kostrad dulu, yang berada di depan gambir. upacara berlangsung di markas besar angkatan darat. setelah itu saya pulang. jadi, saya melakukan otopsi dari malam 4 oktober sampai pagi 5 oktober 1965.

MimiHitam
02-12-07, 10:08
Kalau benar bahwa hasil otopsi para jenasah tidak menunjukkan bekas-bekas penyiksaan seperti pemotongan penis, barangkali ada semacam propaganda media massa untuk mempengaruhi persepsi publik. Dengan demikian muncul sebuah thesis tentang peran media massa terhadap keberhasilan Mayjen Soeharto menyapu G 30 S, PKI, dan (akhirnya) membersihkan lawan-lawan politiknya.

Target pertama propaganda media massa adalah RRI (Radio Republik) yang waktu itu menjadi sarana komunikasi monologal yang primer. Sepanjang hari Jumat, 1 Oktober, RRI beberapa kali menyiarkan pengumuman dari Untung CS yang masing-masing cuma berselang beberapa jam. Pukul 07.00 ada siaran tentagn tindakan yang diambil terhadap Dewan Jenderal. Kemudian Pukul 09.00 ada siaran lagi tentang pembentukan Dewan Revolusi. Pukul 13.00 muncul berita dari Brigjen Sabur bahwa Presiden Soekarno dalam keadaan selamat. Tiga-empat jam kemudian, muncul lagi berita tentang keputusan kenaikan pangkat militer yang turut serta dalam G 30 S. Dan setelah maghrib, ketika RRI sudah dikuasai RPKAD, gantian Soeharto "mengudara" untuk menenangkan masyarakat sembari mengabarkan bahwa dirinya mengambil alih komando AD.

Pemberitaan sepotong-sepotong - mirip breaking news itu - sebetulnya cukup questionable. Mengapa Untung dan Dewan Revolusinya tidak mengumumkan terlaksananya operasi G 30 S, pengumuman Dewan Revolusi, pemberitaan bahwa Presiden Soekarno dalam keadaan aman - tidak dalam satu paket berita ? Bisa saja, pemberitaan yang sepotong-sepotong itu memang untuk membuat masyarakat bingung, dan terpaku di depan radio masing-masing untuk mendengarkan perkembangan situasi berikutnya. Dengan demikian, kelompok putsch dapat melancarkan skenario yang telah dipersiapkan.

Hari-hari berikutnya, tampak jelas media massa cetak di tanah air berada dalam genggaman Soeharto. Berita-berita penganiayaan para jenderal di Lubang Buaya, tentu saja merupakan konsumsi pers yang paling disukai. Hot News semacam itu, apalagi dikemas seiring dengan opini publik yang terbentuk mirip dengan bola salju, pasti akan membuat koran mana pun menjadi best-seller.

Kalau benar institusi pers telah menjadi alat propaganda, apa keuntungan yang diharapkan oleh Mayjen Soeharto dan kawan-kawan ? Tentu, pers dimaksudkan sebagai pembentuk opini publik. Kalau sudah tercipta, berarti tinggal mendesak Presiden Soekarno untuk membubarkan PKI. Ketika Bung Karno terjebak dalam ambiguitas atau sikap yang mendua, Mayjen Soeharto tidak segan-segan mengambil inisiatif sendiri - misalnya tampak pada sikap penolakannya terhadap pengangkatan Soekarno atas Mayjen Pranoto sebagai pimpinan AD; serta "provokasi" terhadap sidang kabinet 11 Maret 1966 yang melahirkan Supersemar.

MimiHitam
02-12-07, 10:08
BUNG KARNO TERLIBAT ?
Tidak sedikit orang menduga, Bung Karno terlibat G 30 S. Alasannya, dia ada di Halim Perdanakusuma - hanya beberapa ratus meter dari sarang pemberontakan - pada sepanjang hari 01 Oktober 1965. Argumen yang menuding keterlibatan Bung Karno dalam peristiwa G 30 S memang cukup lemah. Bagaimana mungkin dia terlibat coup d'etat atas kekuatannya sendiri ?

Sebetulnya, lemahnya tuduhan keterlibatan ini bukan terletak pada "siapa yang diuntungkan". Sebab, kalau G 30 S berhasil (dan tidak dihujat rakyat), Presiden Soekarno mendapat keuntungan berupa kontrol penuh atas AD dan perubahan konstelasi politik yang memperkuat kedudukannya.

Kelemahan tuduhan ini adalah: kalau memang Bung Karno terlibat, mengapa dia tidak memberi dukungan kepada G 30 S - misalnya dengan kesediaan namanya dicantumkan dalam Dewan Revolusi ?

Kesimpulan sementara: Soekarno tidak mengetahui gerakan ini, tetapi berusaha melindungi PKI (sebagai institusi) dengan maksud agar tidak terjadi pertumpahan darah diantara sesama unsur pembentuk NASAKOM, obsesi politiknya ...

MimiHitam
02-12-07, 10:09
Soekarno tidak memiliki alibi. Dia memang ada di Halim pada hari yang naas itu, bersama para pimpinan kup. Sikap dan pernyataan-pernyataan Soekarno sendiri yang bertentangan dengan pendapat umum ketika itu (yang menuding PKI sebagai pelaku utama G 30 S), ikut memperkuat asumsi keterlibatan Bung Karno.

Malam 1 Oktober 1965, Soekarno menginap di tempat kediaman Dewi. Pagi harinya ia dibangunkan dan diberitahu penembakan yang terjadi pada malam itu. Ia hendak menuju istana, tetapi setelah mendengar adanya "pasukan liar" di Medan Merdeka, ia mengubah tujuah ke rumah istrinya yang keempat, Haryati. Dari sanalah kemudian ia bertolak menuju Halim. Tiba di Halim pukul 09.00 pagi dan berjumpa dengan tokoh-tokoh lain, termasuk pimpinan PKI DN. Aidit, Men/Pangau Omar Dhani, Dan Brigif I/Jaya Kolonel A. Latief dan Pangkopur Kalimantan Brigjen Soepardjo.

Patut diingat, Supardjo telah meninggalkan tugasnya tanpa izin selama beberapa hari. Dia adalah Komandan Pasukan Tempur ke - 4 Tentara Strategis AD yang secara struktural berada dibawah KOSTRAD pimpinan Mayjen Soeharto. Pagi-pagi sekali tanggal 01 Oktober 1965, Supardjo mencari Presiden di Istana Merdeka, tetapi karena tidak berhasil menemui Presiden, ia kemudian terbang dengan helikopter ke Halim.

MimiHitam
02-12-07, 10:09
Pada perjumpaan pertama dengan Presiden Soekarno di Halim, Brigjen Supardjo melapor mengenai kejadian-kejadian semalam. Setelah menerima laporan itu, Presiden menepuk-nepuk punggung Supardjo.

Sepanjang hari yang bersejarah itu, Presiden Soekarno berunding dengan Brigjen Supardjo, Waperdam II Leimena, dan Men/Pangau Omar Dhani. Anehnya, Aidit menghindari ambil bagian dalam tiap pembicaraan meja bundar dengan pemimpin-pemimpin kup dan penasihat-penasihat yang lain, tetapi berbicara dengan mereka secara pribadi.

Berdasarkan laporan Supardjo, Presiden Soekarno mencoba memperkirakan arah perkembangan hari itu. Dari Leimena, penasihat yang loyalitasnya tidak diragukan, dia mencoba mengukur reaksi-reaksi yang mungkin timbul akibat kehadirannya di Halim dan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Petang harinya Presiden Soekarno mengambil tindakan berupa pengeluaran Perintah Harian yang menyatakan, Ia mengambil alih kepemimpinan AD ditangannya sendiri. Lalu dia mengangkat Mayjen Pranoto sebagai penanggung jawab semua urusan administrasi harian AD. Di petang yang sama, Mayjen Soeharto menawarkan kepemimpinan AD kepada Nasution, tetapi ditolak oleh Nasution.

Perintah Harian Soekarno tidak digubris Mayjen Soeharto. Melalui corong RRI, yang direbut pasukan RPKAD dari tangan gerombolan Untung, Mayjen Soeharto mengumumkan pengambilalihan komando AD ditangannya.

Isu penggempuran Halim oleh pasukan KOSTRAD membuat situasi Halim mencekam. Malam hari, pada pukul 22.00, Soekarno berangkat ke Istana Bogor atas saran pembantu setianya , J. Leimena. Sebelumnya, ia menolak rekomendasi Omar Dhani untuk terbang ke Madiun. Supardjo terbang ke Madiun. Aidit sendiri kemudian terbang ke Yogyakarta, sampai ia tertangkap tentara di Boyolali pada bulan November 1965 dan akhirnya ditembak mati.

Sejak 01 Oktober 1965, kontrol sudah lepas dari tangan Presiden Soekarno. Secara de facto, rejim Soekarno sudah berakhir. Tanggal 03 Oktober 1965, setelah beberapa kali mengirim ajudan untuk mengambil Mayjen Pranoto gunda diberi mandat sebagai pimpinan AD, akhirnya Soekarno menyerah. Ia memberikan juga mandat itu kepada Soeharto.

Presiden Soekarno semakin lemah manakala pada tanggal 14 Oktober 1965, ia "terpaksa" mengangkat Soeharto sebagai Panglima Tertinggi. Dua hari kemudian, jabatannya disahkan. Setelah itu, nama Pranoto hilang dari pentas. Kelak, ia dijebloskan ke tahanan militer (tahun 1966) dan baru pada tahun 1981 dibebaskan .

MimiHitam
02-12-07, 10:09
Presiden Soekarno: "Aku Memang Lagi Memikirkan Pembubaran PKI"
Bagaimana sesungguhnya sikap Bung Karno terhadap Gerakan September 1965 ? mari kita simak pidatonya pada Sidang Kabinet tanggal 06 Oktober 1965 sebagaimana dicatat oleh Oei Tjoe Tat :

"Jangan ragu-ragu dan khawatir saya dalam pengaruh Dewan Revolusi. Saya tidak akan tunduk padanya. Ben je gek dat ik mijn kabinet laat demisioneren(1). Geharewar(2) ini supaya ditenangkan dulu, baru kemudian diadakan politieke oplossing(3). Saya tetap akan menjalankan revolusi met julie(4), dengan kabinet ini. [i]Mijn chief concern, is het behoud van de Republiek en de Revolutie(5). Saya minta agar para Menteri berpikir seperti Presiden ... "

"Veroordeel de wreedheid(6), tetapi Revolusi harus diselamatkan ... dan koreksi pun telah dilakukan. Misalnya, pelatih-pelatih AURI sudah ditangkapi ... "


1. Gila kalau aku membiarkan kabinetku didemisionerkan.
2. Hingar-bingar
3. Pemecahan Politik
4. Dengan kalian
5. Kepentingan utama saya adalah kelangsungan Republik dan Revolusi
6. Adililah kekejaman

MimiHitam
02-12-07, 10:09
Di Istana Bogor sebulan kemudian, tepatnya tanggal 06 November 1965, dalam Sidang Paripurna Kabinet ke II setelah G 30 S, Presiden juga melontarkan ucapan sebagai berikut :

Ben je bedonderd dat ik mijn kabinet laat demisioneren(1). Aku tahu, setelah menganalisa, siapa sesungguhnya yang berkaok-kaok, mendeak-desak aku agar mendepak Soebandrio, yang tidak bersih dari penunggangan! Jangan ikut membakar-bakar, jangan turut latah berkaok-kaok ... Semua orang ada cacatnya. Walau bagaimana pun saya akan tetap pertahankan Soebandrio sebagai Waperdam I di Kabinet. Ia Menlu-ku yang paling gigih menghadapi Nekolim! ...

Musuh terbesar bagi Nekolim: RRT di Utara, Indonesia di Asia Tenggara. Indonesia dan Soekarno-nya is the greatest and dangerous spot in Southeast Asia(2), maka taktik mereka: Pisahkan Tiongkok dari Indonesia, yang sekarang sudah benar-benar mulai jadi kenyataan! JOnes, Dubes Amerika Serikat di Jakarta, telah memberi 150 juta rupiah untuk memperkembangkan the free world ideology(3). Ada surat penyerahan dan surat tanda terima di tangan saya. Pecunia non olet, geld stinkt niet(4). Jangan masuk perangkap Nekolim. Anders kunnen wij onze Revolutie wel oprollen(5).

Catatan:
1. Brengsek, masa kubiarkan kabinetku didemisionerkan
2. tempat terbesar dan berbahaya di Asia Tenggara
3. ideologi dunia bebas
4. uang tidak berbau
5. kalau tidak, gulung tikarlah Revolusi kita

MimiHitam
02-12-07, 10:09
Ucapan diatas merupakan konstruksi prolog G 30 S menurut versi Bung Karno; bahwa gerakan itu merupakan konsspirasi yang tidak lepas dari manuver Nekolim. Kecurigaan tentang campur tangannya pihak asing -- CIA maupun Kedubes Inggris yang tidak suka Indonesia menentang kemerdekaan Malaysia -- saat itu memang terjadi perbincangan sehari-hari.

Setelah menguraikan bahaya Nekolim, Bung Karno meneruskan ucapannya tentang G 30 S pada Sidang Paripurna Kabinet tanggal 06 November 1965 di Bogor:

"Supaya ada ketenangan, proloog bisa dipelajari dengan tenang. Kejadiannya sendiri pada 30 September itu memang bukan hanya persoalan Angkatan Darat saja sehingga beberapa jenderal terbunuh -- terutama persoalan politik. Maka harus ditinjau dari sudut politik, dari Revolusi. Harus juga dipelajari secara tenang . Epiloog yang tegen mijn wens ini, tegen mijn wens in(1), bakar - membakar dan bunuh-membunuh, jelas menunjukkan adanya penunggangan.


"Saya perintahkan kepada semua untuk tidak memanaskan keadaan. Partai-partai yagn turut membakar akan dibubarkan. De Revolutie is at stake(2). Aku memang lagi memikirkan pembubaran Partai Komunis Indonesia. Ketetapan hati saya: als jullie mij nog lusten, behoud mij! Zo niet, gooi mij eruit(3). Jangan ikut-ikutan membakar umpama katanya penis dipotong-potong dengan 100 silet."

Catatan :
1. menentang kehendakku
2. Revolusi sedang dipertaruhkan
3. kalau kalian masih menyukai saya, pertahankan saya, kalau tidak, lempar saja saya keluar

MimiHitam
02-12-07, 10:09
Soekarno prihatin sekali dengan situasi pasca G 30 S, ketika terjadi saling bunuh diantara sesama bangsa Indonesia. Soekarno memandang, pembantaian terhadap orang-orang komunis yang dilakukan di seluruh negeri, merupakan sesuatu yang "merusak hasil kerjanya selama duapuluh tahun".

Kita memang harus melihat sikap Soekarno sebagai sikap seorang negarawan, founding father, yang berobsesi membangun Indonesia yang plural -- bahkan pluralitas ideologi yang digambarkannya dalam konsep (yang kini jadi utopis), yakni NASAKOM. Keprihatinan Soekarno terhadap aksi pembantaian orang-orang komunis, tampaknya dilandaskan pada aspek persatuan bangsa.

Bulan November 1965, Presiden Soekarno membentuk Factfinding Comission (Komisi Pencari Fakta) untuk menertibkan, membersihkan dan menyelesaikan oknum-oknum sipil yang tersangkut G 30 S. Panitia Presidium -- juga disebut sebagai Panitia III Menteri -- ini beranggotakan Oei Tjoe Tat dari Partindo, Brigjen. Pol. Moedjoko (secara politis dekat dengan Waperdam III Chairul Saleh) dan H. Aminnudin Aziz (seorang tokoh Nadhlatul Ulama). Namun akhirnya Panitia itu gagal total. Sementara situasi politik semakin panas. Demonstrasi terus terjadi. Universitas Res Publica (sekarang menjadi Universitas Trisakti) didemonstrasi, ditembaki an dibakar massa.

Soekarno tidak sanggup lagi mempertahankan kekuasaan. Perlahan tapi pasti, dia dilolosi oleh kekuatan baru, yakni aliansi antara AD, mahasiswa, serta masyarakat yang tidak sepaham dengan PKI maupun aliran kiri pada umumnya.

MimiHitam
02-12-07, 10:10
Ratna Sari Dewi, istri ketiga Bung Karno, bertutur bahwa beberapa hari sebelum 30 September 1965, Presiden Soekarno memanggil Jenderal Yani. Bung Karno bertanya, "Saya mendapat informasi tentang Dewan Jenderal yang mau bikin kudeta pada 05 Oktober. Apakah kau tahu?" Jenderal Yani menjawab: "Saya tahu. Mereka sudah ada di tangan saya. Bapak enggak usah khawatir." Bung Karno percaya Yani. Tetapi nyatanya, Jenderal Yani menjadi salah satu korban penculikan G 30 S.

Ketangkasan Mayjen Soeharto meredam aksi G 30 S memancing kecurigaan Dewi. Katanya, "Sepertinya, Soeharto sudah tahu semua, seakan telah direncanakan ... Bagaimana dia bisa memecahkan masalah yang terjadi pada malam 30 September dan segera bertindak. Begitu Cepat. Kalau belum tahu rencana G 30 S, ia tak mungkin bisa melakukannya."

Bagaimana dengan Soekarno ?, apakah dia mengetahui gerakan tersebut ? Menurut Ratna Sari Dewi, "Bapak tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. ... Tanggal 01 Oktober, Bapak masih ada di Jakarta dan saya bisa mengunjungi dia di Halim. Jadi hari itu, Bapak tidak kirim surat. Ini surat tanggal 2 yang dikirim dari Sitana Bogor. Isinya, dia baik-baik saja, sedang sibuk menghadiri petemuan dengan para petinggi militer guna menyelesaikan konflik militer. Bapak membantah keterlibatan PKI dan hanya menyebut konflik dua kelompok militer."

Memang, tanggal 02 Oktober itu Bung Karno mengirimkan surat kepada istri yang konon paling dicintainya itu. Begitulah kebiasaan Bung Karno bila dia tidak sempat berkunjung ke Wisma Yaso, tempat kediaman Ratna Sari Dewi. Aktifitas Bung Karno dalam hari-hari pertama setelah G 30 S meletus, memang tidak banyak. Mobilitasnya sangat terbatas. Pada tanggal 1 pagi di Halim, sorenya ke Istana Bogor, dan tinggal disana untuk beberapa hari sambil memantau situasi.

Esoknya, tanggal 3 Oktober, Dewi kembali mendapat surat dari suaminya. Isinya secara detail :

MimiHitam
02-12-07, 10:10
"Dewi sayangku, saya senang menerima dua pucuk suratmu. Saya senang kamu mendengar perkataanku dan terima kasih kamu menaruh perhatian. Pranoto agak lemah, tapi hanya dia di Mabes Angkatan Darat yang bisa berhubungan dengan pihak kiri dan kanan. Saya menunjuk dia sebagai care-taker Panglima AD untuk menangani urusan sehari-hari AD. Komando AD tetap ada di tangan saya. Segera sesuatunya tentang kembali, saya akan menunjuk Komandan AD definitif. Saya tidak tahu dimana Yani atau apa yang sesungguhnya terjadi dengannya. Segera sesuatunya aman, saya akan kembali ke Jakarta. Saya tetap memikirkanmu. Kamu tahu betapa cintaku kepadamu.

1000 cium,
Soekarno

Dari surat tertanggal 03 Oktober 1965 yang dikirim dari Istana Bogor, diketahui banyak hal penting. Pertama, Soekarno menghendaki AD dipegang orang yang netral, tidak condong ke kanan atau kiri. Keinginan seperti ini sangat logis, apalagi mengingat jiwa nasionalisme Soekarno yang amat orientasi pada persatuan.

Kedua, Soekarno belum mengetahui nasib Yani dan jenderal-jenderal lain yang diculik Gerombolan 30 September. Apa yang tertulis dalam surat Soekarno ini, barangkali agak kontradiktif dengan dugaan Ulf Sundhaussen bahwa pada tanggal 03 Oktober, Soekarno sudah mengutus salah seorang perwira Cakrabirawa untuk mengambil jenasah para jenderal.

Sebuah surat tertanggal 05 Oktober dikirimkan lagi kepada Dewi. Isinya antara lain :

"Sayangku, Dewi. Hari ini pemakaman enam jenderal dan satu ajudan jenderal. ... Soebandrio dan Leimena tidak mengikutiku .

"Sayangku, Dewi.
Hari ini pemakamaan enam jenderal dan satu ajudan jenderal. ... Soebandrio dan Leimena tidak mengikutiku menghadiri upacara pemakaman karena alasan keamanan. Mereka mengatakan tak ada seorang pun yang yakin apa yang terjadi pada suasana upacara yang emosional begitu. Sayangku, perasaanmu benar: ...... adalah seorang mata-mata. Namanya tertulis didalam daftar orang-orang yang kita curigai. Saya memanggil enam jenderal yang lain untuk berbicara dengan mereka setelah upacara pemakaman itu: Moersid, Sutardio, Ashari, Dirgo dan Adjie dari Bandung. Mereka adalah jenderal-jenderal yang berpengaruh di Angkatan Darat. Untuk jenderal-jenderal yang terbunuh, kita tunggu hasil investigasi rahasia kita: apakah mereka benar-benar akan melakukan kudeta terhadap saya atau tidak ? Informasi bertentangan satu sama lain. Benar, mereka semua 'communistophobie'. Tentang Mr. P., saya akan menceritakan kepadamu nanti. Saya tidak dibawah pengaruh seorang pun. Jangan khawatir tentang itu. Begitu kondisi mereda, saya akan pindah ke Jakarta. Saya sangat rindu kamu, istriku. Oh, cintaku, aku cinta kamu. "

Oh, 1000 cium,
Soekarno

Ada yang janggal dari surat ini. Yakni pernyataan Bung Karno sendiri bahwa dia menghadiri acara pemakaman para jenderal yang terbunuh. Menurut banyak sumber, Bung Karno tidak hadir dalam acara tersebut. Sejumlah analis memperkirakan, ketidakhadiran Presiden dalam acara pemakaman para jenderal Pahlawan Revolusi (yang memungkinkan pidato Nasution menjadi headline yang abadi) bernuansa politis. Tindakan itu mencerminkan pandangannya, bahwa G 30 S adalah persoalan intern tentara, khususnya AD.

Pernyataan lain dari isi surat Bung Karno kepada Dewi adalah soal Mister P. Siapakah dia ? Betulkan dia mata-mata ? agaknya, hanya Bung Karno dan Dewi sendiri yang tahu tentang hal ini.

MimiHitam
02-12-07, 10:10
Tanggal 08 Oktober, kembali Soekarno berkirim surat. Isinya antara lain:
"Dewi sayangku, jangan salah sangka terhadap saya. Saya tersenyum pada Sidang Kabinet untuk menunjukkan kepada dunia bahwa saya aman dan bisa menguasai keadaan. (Kamu tahu pers Nekolim mengatakan saya jatuh atau hampir jatuh). Juga untuk memberi rakyat keyakinan dan kekuatan. Tahukah kamu bahwa saya menyatakan jenderal-jenderal yang terbunuh itu Pahlawan Revolusi dan saya menaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi ? Tahukah kamu bahwa saya memutuskan untuk memakamkan Irma Suryani (anak perempuan Nasution) di Taman Pahlawan ? Hanya lantaran keluarga Nasution memutuskan pemakaman putrinya di Kebayoran. Saya tidak tahu tentang Nyonya Martono. Mengapa kamu begitu marah padaku ? Itu membuatku sedih dan terpisah. Tenanglah, sayang. Saya segera ke Jakarta kembali. Saya akan berbicara denganmu. Tenanglah, Dewi. Jangan membuat aku terpisah. Aku cinta kamu."

1000 cium,
Soekarno

Seandainya surat-surat Soekarno itu sungguh-sungguh otentik, bisa saja semua itu menjadi bahan kajian sejarah yang sangat penting. Dalam surat-surat yang bersifat pribadi, biasanya tercurah banyak hal tanpa kamuflase. Otentisitas sejarah sebetulnya bisa didapatkan dari sana, tentu seandainya pemilik dokumen pribadi itu tidak berkeberatan surat-surat pribadi itu diuji otentisitasnya.

Betapa pun pengakuan Dewi Soekarno tentang suaminya di hari-hari beraksinya G 30 S, memberikan nuansa yang lain.

MimiHitam
02-12-07, 10:10
AH Nasution : "Saya Membenarkan Tindakan Jenderal Soeharto"
Setelah Latief dan Boengkoes dibebaskan dari status tahanan politik oleh rejim Habibie, Jenderal (Purn) Nasution merasa perlu memberi komentar resmi. Hal ini erat kaitannya dengan niatan Latief dan Boengkoes untuk "meluruskan sejarah". Berikut ini keterang resmi Nasution yang disampaikan Bakrie Tianlaen yang didampingi Husni Thamrin tanggal 26 April 1999.

"Akhir-akhir ini diberbagai mass media, baik cetak maupun elektronik, memuat berbagai wawancara dari beberapa tokoh yang dulunya terlibat G 30 S / PKI dari sudut pandang mereka. Dari pembicaraan mereka, seolah-olah tidak merasa bersalah atas tindakan mereka di masa lalu. Yang sangat memprihatinkan adalah hasil wawancara itu dilansir begitu saja tanpa berusaha untuk mempelajari terlebih dulu apa yang pernah dilakukan oleh mereka. Dengan pemberitaan tidak mendasar itu, bagi orang awam atau generasi yang tidak mengalami itu dapat membawa dampak bagi pola pikir mereka, bahkan bila kurang waspada dapat terbawa dalam alur pola pikiran yang seharusnya perlu dijauhi."

"Mereka seakan-akan tidak merasa bersalah, bahwa mereka melakukan pembunuhan terhada para Jenderal AD yang dimasukkan dalam sumur Lubang Buaya (dikawasan Halim). Saya membaca dalam salah satu surat kabar Ibu Kota, bahwa mereka telah membentuk Yayasan Korban 1965 - 1966, untuk melakukan penelitian atas korban peristiwa 1965. Bahkan, katanya akan menuntut Jenderal Soeharto."

"Di saat Dr. Soebandrio dan Omar Dhani dibebaskan dari tahanan atas pertanyaan wartawan, saya jelaskan bahwa sudah sepantasnya mereka dikeluarkan, karena mereka telah menjalani hukuman selama 30 tahun lebih, atas apa yang telah mereka perbuat sebelumnya."

"Jenderal Soeharto memang lengser dari kekuasaan karena reformasi. Itu harus diterima sebagai konsekuensi atas kepemimpinannya selama ini, karena sejak awal Orde Baru ia terlalu mempercayai orang-orang yang suka 'menggunting dalam lipatan' dan menjauhi mereka yang sesungguhnya berniat baik untuk bangsa dan negara ini. Saya termasuk orang yang diadu domba dengan Jenderal Soeharto. Dulu pun Bung Karno dikelilingi oleh durno-durno yang memanfaatkan posisi Presiden dan akhirnya bermuara kepada peristiwa 30 September."

"Betapa pun perbedaan saya dengan kepemimpinan Jenderal Soeharto, tetapi saya tidak bisa memvonis apa yang pernah dilakukan Jenderal Soeharto itu semuanya salah."

"Sebagai contoh, saya membenarkan tindakan Jenderal Soeharto untuk membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966. Dari tindakan itu ia disalahkan oleh Presiden Soekarno, karena SP 11 Maret itu menurut Bung Karno adalah teknis keamanan, bukan untuk tindakan politik membubarkan PKI. Dari tindakan itu muncul ketegangan antara AD dan pimpinan angkatan lain, karena Presiden memanggil Wakil Perdana Menteri ke Bogor bersama pimpinan angkatan tersebut. Kepala BPI Subandrio memberikan informasi kepada AL, AU dan AK bahwa AD akan menyerang Istana dan Halim. Rencana operasi Pangau jatuh ke tangan Kostrad, sehingga menyebabkan kecurigaan diantara sesama angkatan. Atas permintaan KOSTRAD, maka saya mengundang para panglima angkatan ke rumah saya tanggal 14 malam pada jam 02.00 dini hari untuk menjernihkan persoalan. Sementara pasukan masing-masing angkatan bergerak pada posisi-posisi strategis."

"Setelah saya mengetahui duduk persoalannya, maka saya jelaskan bahwa bila ingin aman, maka PKI harus dibubarkan dan apa yang dilakukan Jenderal Soeharto itu saya benarkan. Setelah terjadi saling pengertian antara sesama angkatan pada jam 04.00 dan sebelum pulang, saya pesankan agar semua pasukan harus ditarik dari tempat-tempat strategis pada pagi harinya. Dan ternyata mereka melakukan apa yang saya minta."

MimiHitam
02-12-07, 10:11
"Dalam penyelesaian krisis pada tanggal 14 Maret malam itu, memang untuk sementara AD tidak kami libatkan, tetapi secara pribadi saya berhubungan dengan beberapa pimpinan teras AURI. Ipar saya, Suhirman, memanggil Marsekal Rusmin Nuryadin (Deputi Panglima AU) untuk berbicara dengan saya secara terpisah. Meskipun saya telah dipecat dari semua jabatan pemerintahan dan ABRI, tetapi saya memberanikan diri memanggil mereka sebagai senior mereka, demi menghindari tabrakan antar angkatan waktu itu. Saya memanggil Rusmin Nuryadin dan bukan Pangau Sri Mulyono Herlambang, mengingat kedudukannya pada tanggal 30 September 1965 sebagai Deputi Operasi Men/Pangau Omar Dhani."

"Memang selama pemutaran film G 30 S / PKI, saya mendapat banyak keluhan dari senior-senior AURI mengenai hal itu. Saya pun mendorong untuk pelurusan atas peristiwa-peristiwa sejarah di masa itu. Tapi, tidak berarti menyalahkan sesuatu yang sesungguhnya terjadi. Saya berpendapat bahwa AURI secara organ memang tidak terlibat, tetapi oknum-oknum pimpinan AURI waktu itu sangat berperan."

MimiHitam
02-12-07, 10:11
Kegiatan-kegiatan perjuangan PKI biasanya dilakukan secara bertahap, tahap pertama :
1. Membentuk kader-kader dan pimpinan partai.
2. Setelah memperoleh posisi penting dari partai maka mulailah melakukan penetrasi-penetrasi terhadap badan-badan pemerintahan, ABRI, pers, pendidikan, orsospol/ormas serta lembaga-lembaga lain yang bersifat strategis.
3. Memobilisasi gerakan-gerakan (mahasiswa, pemuda, tani, buruh dan sebagainya). Biasanya berkedok bekerja sama didalam berbagai bentuk.

Setelah menguasai daerah-daerah yang dianggap basis strategis, maka meningkat pada jenjang yang kedua yaitu mengadakan perlawanan kecil-kecilan/sporadis. Pernah kita alami dengan peristiwa Jengkol, Indramayu, Kanigoro, Bandar Betsy dll. Sekarang, massa menyerang koramil, polsek, kodim, polres dan instansi-instansi pemerintah untuk menjatuhkan wibawa TNI dan pemerintah. Setelah tahap ke dua ini berhasil dimatangkan, maka beralih pada tahap ketiga yang dianggap menentukan yaitu dengan memberikan pukulan yang menentukan (pemberontakan).

Tentang Pemberontakan Madiun (Madiun Affair). Pada tanggal 18 September 1948, timbul pemberontakan PKI Madiun. Poros perjuangannya sama dengan pemberontakan 1965, yaitu menguasai militer sebagai landasan untuk merebut kekuasaan politik.

"Saya masih ingat, menjelang maghrib Menteri Ali Sastroamidjojo dan Residen Sudiro datang ke rumah saya untuk menyampaikan pesan bahwa presiden memanggil saya. Berhubung Pak Dirman masih berada di Magelang, maka saya menghadap presiden didampingi Menteri Koordinator Keamanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Presiden dengan singkat memerintahkan saya untuk membuat konsep tindakan sebagai keputusan presiden."

"Pidato presiden tahun 1948 berbeda dengan pidato presiden tahun 1965. Pada malam hari tanggal 19 September 1948, dalam pidatonya Presiden mengatakan : "Kemarin pagi PKI Muso mengadakan kup, mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun dan mendirikan satu pemerintahan Soviet dibawah pimpinan Muso. Perampasan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh pemerintahan RI." Saya masih ingat Presiden menyerukan kepada rakyat, "Ikut Soekarno-Hatta atau PKI-Muso." Berbeda dengan pidato presiden pada tahun 1965, beliau masih membela keberadaan PKI pada saat-saat kritis itu.

MimiHitam
02-12-07, 10:11
Kesaksian Herman Sarens Sudiro ...
Semakin banyak kesaksian orang-orang yang dekat dengan Soeharto - dan sempat menikmati kekuasaan bersamanya -- juga mulai bermunculan.

Meskipun pada awalnya mereka berbeda dalam melihat pemain utama G 30 S, pada dasarnya di akhir cerita nanti tepat akan diambil kesimpulan yang sama, yakni bahwasanya Soeharto terlibat bahkan menjadi pemain penting dalam tragedi berdarah itu. Salah satunya adalah pengakuan dari Brigjen (purn) Herman Sarens Sudiro.

Herman, yang saat meletusnya G 30 S berpangkat letkol adalah pembantu utama Letjen Ahmad Yani, Menpang yang merangkap sebagai Kas KOSTI. Jabatannya sendiri adalah Asisten Kastaf KOTI. Dengan posisi demikian tentunya layak didengarkan," Say tahu banyak soal G 30 S PKI, yang lain banyak yang ngarang," katanya ketika diwawancarai

menurut Herman, pelaku utama G-30-S adalah PKI. Target awalnya adalah membunuh Presiden Soekarno. Ini akan dilakukan saat upacara peringatan Hari Angkatan Bersenjata, 5 Oktober 1965. "PKI maunya seperti pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat. Ketika pasukan berparade, Soekarno ditembak di Panggung Kehormatan," katanya.

Yang bertugas memberondong presiden adalah pasukan Batalyon 530 Brawijaya dan Batalyon 454 Diponegoro. Kedua batalyon ini memang secara khusus diundang oleh Pangkostrad untuk mengikuti upacara. Anggota pasukan diperintahkan untuk mengisi peluru secara penuh semua senjata yang dibawanya, seperti hendak bertempur di garis depan.

MimiHitam
02-12-07, 10:11
Hubungan Soeharto - Sjam Kamaruzzaman
Soal kedekatan Soeharto dengan anggota Biro khusus PKI - yang merancang penculikan jenderal - sebetulnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Soeharto tidak saja dekat dengan Kol. Latief, tetapi juga dengan Kol. Untung dan Sjam Kamaruzzaman, Ketua Biro Khusus.

Hubungan itu mulai terjalin sejak mereka bersama-sama sebagai anggota Kelompok Patuk Yogyakarta. "Soeharto memang PKI," kata Soebandrio, Waperdam I yang juga merangkap sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen. Herman yang mengaku mengikuti perjalanan Soeharto juga membenarkan pendapat Soebandrio.

Banyak yang percaya Soeharto mempunyai hubungan khusus dengan Sjam. Sayangnya, hal ini sulit dikonfirmasi. Sjam keburu lenyap setelah diadili oleh Mahkamah Militer 1979. "Anehnya, Ketua Biro Khusus PKI itu, yang dituduh sebagai orang paling bertanggung jawab G-30-S, kok bisa dilepas dan lenyap begitu saja," kata tokoh PNI, Manai Sophian.

Yang lebih aneh lagi, pada forum pengadilan itu Sjam mengaku-aku sebagai komunis sejati. Ia juga tidak pernah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh hakim, jaksa dan pembelanya. "Ia berpura-pura tuli," kata seseorang yang menyaksikan jalannya pengadilan di Bandung. Sjam memang dikenal sebagai agen ganda yang dapat digunakan oleh siapa pun.

MimiHitam
02-12-07, 10:11
Penyusunan Mozaik ...
Bisa dikatakan bahwa tahun 1965 merupakan puncak krisis politik di Indonesia. Tahun ini diawali dengan hancurnya BPS (Barisan Pendukung Soekarno) sebuah barisan yang sebetulnya bercorak oposisi terhadap Soekarno tetapi menggunakan kamuflase politik .. (salah satu anggota BPS yang sampai sekarang masih hidup adalah Ibu Sudjinah, beliau pernah ditahan lama sekali oleh rezim Orde Baru, sekarang beliau mengajar bahasa Inggris private dan juga sedang mempersiapkan memoarnya untuk diterbitkan).

Keputusan Presiden Soekarno untuk keluar dari PBB juga merupakan salah satu pemicu dari keributan-keributan yang kemudian terjadi di tahun 1965. Dengan keluarnya Indonesia dari PBB, otomatis perselisihan antara Soekarno dan "Nekolim" semakin meruncing tajam. Keluarnya RI dari PBB menyebabkan timbulnya spekulasi bahwa kita akan semakin dekat dengan "Kawan di Utara" yang dalam hal ini adalah RRT. Bahkan terdengar sas-sus bahwa kemungkinan Indonesia akan mendapat senjata nuklir dari pemerintah RRT yang pada masa itu dipimpin oleh PM Chou En Lai.

Situasi Indonesia sangatlah buruk, dengan turunnya ekspor dan besarnya pinjaman untuk keperluan tentara, mendongkrak utang luar negeri jadi US$ 2,4 miliar. Tapi yang paling berpengaruh terhadap gejolak politik dalam negeri kondisi kesehatan Bung Karno. Ia menolak anjuran tim dokter dari Wina, Austria, agar penyakit ginjalnya dioperasi. Keengganannya itu disebabkan nasihat seorang dukun yang meramalkan bahwa ia akan mati oleh pisau !. Kemudian ia berkonsultasi dengan para dokter-dokter dari Cina dan memilih cara pengobatan secara akunpunktur. Sempat dalam salah satu pidatonya di bulan Januari 1965, Bung Karno mengejek "desas-desus Nekolim" yang mengeluarkan rumors tentang sakitnya.

MimiHitam
02-12-07, 10:11
Faktanya, gangguan kesehatan Bung Karno tidak dapat disembunyikan lagi. dalam suatu pertemuan umum tanggal 05 Agustus 1965, ia diserang sakit yang kemudian timbullah desas-desus kuat bahwa ia sedang dalam keadaan gawat.

Kecemasan perebutan kekuasaan pun akhirnya timbul. Hal lain terjadi adalah ketika pada tanggal 30 September 1965, siang hari (beberapa jam sebelum penculikan para jenderal-jenderal TNI AD), ditengah-tengah pidatonya, Presiden Soekarno terpaksa berhenti. Rupanya disebabkan oleh kurang enak badan. Beberapa menit kemudia, ia melanjutkan pidatonya.

Dan kemudian terjadilah peristiwa tragis itu. Sekelompok orang menyusun sebuah rencana - yang masih spekulatif apakah berada dalam sebuah skenario besar atau bukan - yang rentetannya sangat panjang. Dini hari 1 Oktober 65, enam jenderal dan satu perwira pertama AD menjadi korban kelompok tersebut. Peristiwa ini dengan cepat merubah peta politik Indonesia. Pilar kekuasaan Presiden Soekarno, yakni golongan kiri (baik yang komunis maupun nasionalis) sama - sama hancur. Ayunan pendulum politik bergeser pada AD. Terbunuhnya jenderal-jenderal loyalis terhadap Soekarno, semakin memperburuk posisi dan kondisi sang "Founding Father" tersebut.

Kendati sangat menyadari bahwa PKI berada di sisi yang tidak menguntungkan dan demikian juga dengan AURI, Presiden Soekarno tetap memainkan kartunya (yang benar-benar sudah sangat lemah) untuk mempertahankan kekuasaan. Dia tinggal memiliki beberapa jenderal AD yang masih dapat dipercaya, serta segelintir politisi yang loyal. Namun seberapa jauh ia mampu bertahan ? ...

MimiHitam
02-12-07, 10:12
Berbagai Versi tentang Sebuah Tragedi
Tragedi 30 September telah terjadi lebih dari 30 tahun. Banyak fakta objektif yang bersifat mutlak dan tidak bisa dipungkiri; antara lain keterlibatan PKI; ambiguitas Soekarno; intrik dalam tubuh militer (khususnya AD); serta kedekatan hubungan personal antara pelaku utama G 30 S dengan Mayjen Soeharto, Pangkostrad / Pangkopkamtib.

G 30 S juga tidak dapat diabaikan begitu saja, mengingat bahwa peristiwa tersebut menjadi triggering factor bagi operasi paling efektif pembasmian suatu ideologi di sebuah negara. Stigmatisasi yang diterapkan Soeharto terhadap mereka yang tidak terlibat langsung dengan komunisme -- misalnya melarang anak-anak eks tapol untuk menjadi pegawai negeri -- juga merupakan cara yang efektif untuk menutup kemungkinan bangkitnya komunisme di negeri ini.

Telah banyak penelitian, kajian ataupun literatur yang mengkaji collapse-nya komunisme di Indonesia, baik yang ditulis oleh pakar dari luar negeri maupun dalam negeri. Berbagai versi tentang G 30 S pun muncul. Setidaknya, ada enam teori yang ada dalam penulisan mengenai peristiwa tersebut, masing-masing adalah sebagai berikut :
a. Pelaku Utama G 30 S adalah PKI dan Biro Khusus
Dengan memperalat unsur ABRI, tokoh-tokoh Biro Khusus PKI merencanakan putsch ini sejak lama. Tujuannya untuk merebut kekuasaan dan menciptakan masyarakat komunis di Indonesia. Tentu saja, pemerintah Orba adalah pihak yang pertama kali menyetujui teori pertama ini. Buku Putih Pengkhianatan G 30 S / PKI yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara (1994) merupakan penjelasan secara lengkap atas peristiwa paling tragis itu. Sejarawan Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh adalah penulis domestik pertama yang menulis versi ini, bukunya berjudul Percobaan Kup Gerakan 30 September di Indonesia, terbitan Jakarta, 1968. Penulis luar negeri yang dikategorikan masuk dalam versi ini adalah Arnold Brackman, penulis buku The Communist Collapse in Indonesia, terbitan New York tahun 1969.

b. G 30 S adalah Persoalan Internal AD
Versi kedua beranggapan bahwa G 30 S adalah persoalan internal AD yang didalangi sebuah kelompok terbatas. Persiapan gerakan dilakukan secara teliti oleh kelompok tersebut, dengan cara menyusupi PKI. Versi kedua ini ditulis oleh MR. Siregar (Tragedi Manusia dan Kemanusiaan, Kasus Indonesia: Sebuah Holokaus yang Diterima sesudah Perang Dunia Kedua - terbit pertama kali tahun 1993 di Amsterdam). The 30 September Movement karya Coen Holtsappel juga termasuk dalam versi kedua ini. Demikian pula Cornell Paper (A Preliminary Analysis of the October 1, 1965: Coup in Indonesia) karya Ben Anderson dkk, yang diterbitkan di Ithaca, 1971. Whose Plot ? New Light on the 1965 Events karya WF. Wertheim juga mengacu pada versi yang memojokkan ABRI, khususnya Angkatan Darat ini. Buku karya Wimandjaja K. Litohoe, Primadosa, juga mengarah pada sintesis bahwa G 30 S merupakan kudeta yang dirancang oleh sekelompok orang AD dibawah pimpinan Soeharto.

c. G 30 S Digerakkan oleh CIA

Versi ketiga beranggapan bahwa pelaku utama atau dalang G 30 S adalah CIA (pemerintah AS). CIA bekerjasama dengan sebuah klik AD untuk memprovokasi PKI, dengan tujuan akhir menggulingkan Soekarno. Artikel Peter Dale Scott ("US and the Overthrow of Soekarno, 1965 -1967) dan tulisan Geoffrey Robinson (Some Arguments Concerning US Influence and Complicity in the Indonesia Coup of October 1, 1965) adalah analisis yang mengangsumsikan bahwa CIA adalah dalang utama G 30 S. Kepentingan AS sangat jelas, yakni jangan sampai Indonesia menjadi basis komunisme. Pada awal dekade 1960an, mereka mencemaskan Teori Domino, bahwa komunisme di Indo-China (Vietnam-Kamboja) bisa bersambung dengan komunisme di Indonesia, kemudian menciptakan poros Jakarta - Pyongyang - Beijing yang sangat ditakuti AS.

d. Bertemunya Kepentingan Inggris dan AS
Versi ini pada intinya mensinyalir bahwa G 30 S adalah "pertemuan" antara rencana Inggris dan AS. Inggris berkeinginan agar sikap konfrontatif Soekarno terhadap Malaysia bisa diakhiri dengan penggulingan kekuasaan, sedangkan AS menginginkan Indonesia terbebas dari komunisme. Greg Poulgrain, penuilis buku The Genesis of Confrontation: Malaysia, Brunai and Indonesia, 1945 - 1965, percaya pada asumsi bahwa G 30 S adalah buah pertemuan kepentingan Inggris dan AS.

MimiHitam
02-12-07, 10:12
Pramoedya Ananta Toer:
G30S tak lain metamorphosis
politik anti-Konfrontasi Inggris
http://www.geocities.com/ticoalu2/G30S.html

Kutipan:
[...]

Sudah sejak semula saya menduga, G30S tak lain sebuah mitos, yang sebenarnya tak lain dari metamorphosis anti- Konfrontasi pihak Inggris dan sekutunya, baik di luar mau pun di dalam Indonesia. Dan mengapa terjadi Konfrontasi? Dalam hal ini saya sependapat dengan A.M. Azahari (wawancara, 1996) bahwa Indonesia, di sini berarti Soekarno, terjebak oleh provokasi Inggris, dengan menggunakan ketegaran anti kolonialisme-imperialisme- kapitalisme Soekarno untuk menyingkirkan Soekarno sendiri.

Dan Inggris sendiri sudah berpengalaman memprovokasi Indonesia. Pertama tentu saja pertempuran Surabaya yang kemudian melahirkan Hari Pahlawan. Kedua dalam memprovokasi para pemuda di Sumatra Timur dengan berhasil melikwidasi para bangsawan wilayah tersebut. Apa yang kelak dinamai "revolusi sosial", yang salah seorang kurbannya adalah penyair Amir Hamzah, ini sasarannya jelas: menghapus pengaruh Indonesia lewat para bangsawan Sumatra Timur dari koloni Inggris di Malaya, Singapura dan Kalimantan Utara, sebagaimana disebutkan juga oleh Greg Poulgrain.

[..]

MimiHitam
02-12-07, 10:12
Faktor Malaysia

Negara Federasi Malaysia
yang baru terbentuk pada tanggal 16
September 1963 adalah salah satu faktor
penting dalam insiden ini [1] . Konfrontasi
Indonesia-Malaysia merupakan salah satu penyebab kedekatan
Presiden Soekarno dengan PKI, menjelaskan motivasi para tentara
yang menggabungkan diri dalam gerakan G30S/Gestok (Gerakan Satu Oktober), dan juga pada
akhirnya menyebabkan PKI melakukan penculikan petinggi Angkatan
Darat.


Gerakan 30 September | Sejak demonstrasi
anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di
mana para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto
Soekarno, membawa lambang negara
Garuda Pancasila ke hadapan
Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat
itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap
Malaysia pun meledak. |
Gerakan 30 September


Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang
menginjak-injak lambang negara
Indonesia [1] dan ingin melakukan balas dendam dengan
melancarkan gerakan yang terkenal dengan sebutan "Ganyang Malaysia" kepada negara
Federasi Malaysia yang telah
sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia. Perintah Soekarno
kepada Angkatan Darat untuk meng"ganyang Malaysia"
ditanggapi dengan dingin oleh para jenderal pada saat itu. Di satu
pihak Letjen Ahmad Yani tidak ingin
melawan Malaysia yang dibantu oleh Inggris dengan anggapan bahwa
tentara Indonesia pada saat itu tidak memadai untuk peperangan
dengan skala tersebut, sedangkan di pihak lain Kepala Staf TNI Angkatan
Darat A.H. Nasution setuju
dengan usulan Soekarno karena ia mengkhawatirkan isu Malaysia ini
akan ditunggangi oleh PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan
politik di Indonesia.

Posisi Angkatan Darat pada saat itu serba salah karena di satu
pihak mereka tidak yakin mereka dapat mengalahkan Inggris, dan di
lain pihak mereka akan menghadapi Soekarno yang mengamuk jika
mereka tidak berperang. Akhirnya para pemimpin Angkatan Darat
memilih untuk berperang setengah hati di Kalimantan. Tak heran, Brigadir Jenderal
Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi
tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari
belakang [2] . Hal ini juga dapat dilihat dari kegagalan operasi
gerilya di Malaysia, padahal tentara Indonesia sebenarnya sangat
mahir dalam peperangan gerilya.

Mengetahui bahwa tentara Indonesia tidak mendukungnya, Soekarno
merasa kecewa dan berbalik mencari dukungan PKI untuk melampiaskan
amarahnya kepada Malaysia. Soekarno, seperti yang ditulis di
autobiografinya, mengakui bahwa ia
adalah seorang yang memiliki harga diri yang sangat tinggi, dan
tidak ada yang dapat dilakukan untuk merubah keinginannya
meng"ganyang Malaysia".


Gerakan 30 September | Soekarno adalah seorang
individualis. Manusia jang tjongkak dengan suara-batin yang
menjala-njala, manusia jang mengakui bahwa ia mentjintai dirinja
sendiri tidak mungkin mendjadi satelit jang melekat pada bangsa
lain. Soekarno tidak mungkin menghambakan diri pada dominasi
kekuasaan manapun djuga. Dia tidak mungkin menjadi boneka. |
Gerakan 30 September


Di pihak PKI, mereka menjadi pendukung terbesar gerakan
"ganyang Malaysia" yang mereka anggap sebagai antek
Inggris, antek nekolim. PKI juga
memanfaatkan kesempatan itu untuk keuntungan mereka sendiri, jadi
motif PKI untuk mendukung kebijakan Soekarno tidak sepenuhnya
idealis.

Pada saat PKI memperoleh angin segar, justru para
penentangnyalah yang menghadapi keadaan yang buruk; mereka melihat
posisi PKI yang semakin menguat sebagai suatu ancaman, ditambah
hubungan internasional PKI dengan Partai Komunis sedunia, khususnya dengan
adanya poros Jakarta-Beijing-Moskow-Pyongyang-Phnom
Penh. Soekarno juga mengetahui hal ini, namun ia memutuskan
untuk mendiamkannya karena ia masih ingin meminjam kekuatan PKI
untuk konfrontasi yang sedang berlangsung, karena posisi Indonesia
yang melemah di lingkungan internasional sejak keluarnya Indonesia
dari PBB (20 Januari 1965).

Dari sebuah dokumen rahasia badan intelejen Amerika Serikat
(CIA) yang baru dibuka yang bertanggalkan
13 Januari 1965
menyebutkan sebuah percakapan santai Soekarno dengan para pemimpin
sayap kanan bahwa ia masih membutuhkan dukungan PKI untuk
menghadapi Malaysia dan oleh karena itu ia tidak bisa menindak
tegas mereka. Namun ia juga menegaskan bahwa suatu waktu
"giliran PKI akan tiba. "Soekarno berkata, "Kamu
bisa menjadi teman atau musuh saya. Itu terserah kamu. ... Untukku,
Malaysia itu musuh nomor satu. Suatu saat saya akan membereskan
PKI, tetapi tidak sekarang." [1]

Dari pihak Angkatan Darat, perpecahan internal yang terjadi
mulai mencuat ketika banyak tentara yang kebanyakan dari Divisi Diponegoro yang kesal serta
kecewa kepada sikap petinggi Angkatan Darat yang takut kepada
Malaysia, berperang hanya dengan setengah hati, dan berkhianat
terhadap misi yang diberikan Soekarno. Mereka memutuskan untuk
berhubungan dengan orang-orang dari PKI untuk membersihkan tubuh
Angkatan Darat dari para jenderal ini.

Faktor Amerika Serikat

Amerika Serikat pada waktu itu sedang terlibat dalam perang Vietnam dan berusaha sekuat tenaga
agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunisme. Peranan badan intelejen Amerika
Serikat (CIA) pada peristiwa ini sebatas
memberikan 50 juta rupiah (uang saat itu) kepada Adam Malik dan walkie-talkie serta obat-obatan kepada
tentara Indonesia. Politisi Amerika pada bulan-bulan yang
menentukan ini dihadapkan pada masalah yang membingungkan karena
mereka merasa ditarik oleh Sukarno ke dalam konfrontasi
Indonesia-Malaysia ini.

Salah satu pandangan mengatakan bahwa peranan Amerika Serikat
dalam hal ini tidak besar, hal ini dapat dilihat dari telegram Duta
Besar Green ke Washington pada tanggal 8
Agustus 1965 yang mengeluhkan bahwa
usahanya untuk melawan propaganda anti-Amerika di Indonesia tidak
memberikan hasil bahkan tidak berguna sama sekali. Dalam telegram
kepada Presiden Johnson tanggal 6
Oktober, agen CIA menyatakan ketidakpercayaan kepada tindakan
PKI yang dirasa tidak masuk akal karena situasi politis Indonesia
yang sangat menguntungkan mereka, dan hingga akhir Oktober masih
terjadi kebingungan atas pembantaian di Jawa Tengah, Jawa
Timur, dan Bali dilakukan oleh PKI atau
NU/PNI.

Pandangan lain, terutama dari kalangan korban dari insiden ini,
menyebutkan bahwa Amerika menjadi aktor di balik layar dan setelah
dekrit Supersemar Amerika memberikan daftar nama-nama anggota PKI
kepada militer untuk dibunuh. Namun hingga saat ini kedua pandangan
tersebut tidak memiliki banyak bukti-bukti fisik.

MimiHitam
02-12-07, 10:13
HARI - HARI TERAKHIR PARA PELAKU ...
Seusai menyematkan Bintang Sakti kepada Mayor Infantri Benny Moerdani dan Letnan Kolonel Untung Syamsuri, sebagai penghargaan atas keberanian mereka yang luar biasa dalam merebut kembali Irian Barat, Bung Karno berucap,"Bunga Mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya, dengan sendirinya harum semerbak itu tersebar di sekelilingnya ... "

Meskipun tidak secara langsung, kata-kata pujian BK itu agaknya disampaikan untuk Benny dan Untung. Mereka memang pantas atas pujian itu karena keduanya adalah "mawar" perwira muda angkatan darat saat itu (1963).

Mayor Benny adalah perwira para komando yang sangat menonjol dari RPKAD. Sementara itu, Letkol Untung adalah Komandan Batalyon 454 / Banteng Raiders, sebuah batalyon yang kualitas dan tingkat legendanya setingkat Yonif Linud 330 ./ Kujang I dan Yonif Linud 328 / Kujang II. Batalyon yang berbasis di Srondol (Semarang) ini, setelah peristiwa G 30 S, kode angkanya dirubah menjadi 401, sebagai upaya menghapus jejak kelam dalam peristiwa 65 tersebut.

Setelah menunjukkan prestasi cemerlang di Irian Barat, kedua orang tersebut dipanggil oleh BK, untuk diminta sebagai pengawal BK, dalam resimen Tjakrabirawa, yang baru akan dibentuk. Namun Benny, dengan keberanian luar biasa, sanggup menolak permintaan BK. Sebaliknya, Untung menerima hingga menjadi Komandan Batalyon I / Men Tjakra.

Namun siapa yang dapat meramalkan nasib manusia. Dari perjalanan waktu, kita dapat menyaksikan nasib keduanya berada di persimpangan. Karier Benny dapat mengalir terus, lancar hingga menjadi orang nomor satu di ABRI pada tahun 1983 sedangkan nasib Untung sangatlah mengenaskan, sama sekali tidak sesuai dengan namanya. Kariernya berujung tragis karena keterlibatannya dalam G 30 S. Terhentinya hidup Untung seperti Blessing in disguise bagi karier Benny.

Setelah melalui sidang kilat dalam Mahmilub, Untung akhirnya dieksekusi pada tahun 199 di Cimahi, Bandung. Setelah peristiwa G 30 S, Untung sempat menghilang beberapa bulan.. Ia secara tidak sengaja tertangkap oleh dua orang anggota Armed di daerah Brebes. Awalnya ia tidak mengaku bahwa dia adalah Untung dan anggota Armed yang menangkap juga tidak tahu bahwa orang yang ditangkap adalah Untung. Namun karena melihat kepanikan Untung, dalam bus yang ditumpanginya dalam pelarian, justru mengundang kecurigaan. Setelah diperiksa di markas CPM Tegal, baru ketahuan orang itu adalah Untung.

MimiHitam
02-12-07, 10:13
Was the US
government alerted
to September 11
attack?
A four-part series
Pelajaran-Pelajaran Dari Kudeta 1965 Indonesia
By Terri Cavanagh

BAB PERTAMA
Latar Belakang Sejarah
Pada Bulan Oktober 1965 kaum buruh internasional mengalami salah satu kekalahan yang terbesar dalam period setelah Perang Dunia Kedua.

Sebanyak satu juta buruh dan petani dibantai dalam kudeta militer yang diatur oleh CIA dan dipimpin oleh Jenderal Suharto. Kudeta militer ini dilakukan untuk menyingkirkan rejim burjuis Sukarno yang sedang goyah, menindas pergerakan massa di Indonesia dan mendirikan rejim militer yang brutal.

Mantan-mantan diplomat Amerika Serikat and pejabat CIA, termasuk bekas duta besar AS untuk Indonesia dan Australia, Marshall Green, tahun ini telah mengakui bekerja sama dengan tukang-tukang jagal Suharto dalam pembunuhan ratusan ribu buruh dan petani yang dicurigai sebagai pendukung Partai Komunis Indonesia. Mereka memberikan secara perorangan nama-nama dari ribuan anggota PKI dari arsip-arsip CIA, untuk daftar-daftar bantaian angkatan bersenjata.

Menurut Howard Federspeil, seorang ahli soal Indonesia yang sedang bekerja untuk Departemen Luar Negeri AS pada waktu kampanye anti-komunis itu: "Tak seorang pun perduli, asal saja mereka itu komunis, kalau mereka dijagal."

Kudeta itu merupakan hasil dari sebuah operasi panjang CIA, dengan bantuan agen-agen Dinas Intelijen Rahasia Australia (ASIS), untuk melatih dan membangun angkatan bersenjata Indonesia dalam persiapan untuk sebuah rejim militer yang akan menindas aspirasi revolusioner rakyat Indonesia.

Pada waktu kudeta militer itu, PKI merupakan partai Stalinis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Cina dan Uni Sovyet. Anggotanya berjumlah sekitar 3.5 juta; ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3.5 juta anggota dan pergerakan petani BTI yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita, organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.

Selama perjuangan kemerdekaan melawan Belanda di tahun empatpuluhan dan sepanjang tahun limapuluhan dan enampuluhan ratusan ribu orang buruh yang sadar akan kelasnya menjadi anggota PKI, mengira PKI masih mewakili tradisi-tradisi sosialis revolusioner Revolusi Bolshevik 1917.

Namun pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan puluhan ribu dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali.

Pembunuhan-pembunuhan itu sangatlah tersebar-luas, sampai sungai-sungai menjadi penuh dengan mayat-mayat para pekerja dan petani. Sewaktu regu-regu pembantai militer yang didukung CIA mencakupi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji mereka, majalah "Time" memberitakan:

MimiHitam
02-12-07, 10:13
Permata Asia'

Kudeta berdarah di Indonesia merupakan hasil dari niat imperialisme AS untuk mendapatkan kontrol mutlak atas kekayaan alam dan sumber-sumber strategis dari kepulauan yang sering dinamakan 'Permata Asia'itu.

Pentingnya Indonesia bagi imperialisme AS ditegaskan oleh presiden AS Eisenhower di tahun 1953, waktu ia mengatakan kepada konperensi gubernur negara-negara bagian bahwa pembiayaan oleh AS untuk perang kolonial pemerintah Perancis di Vietnam adalah sangat imperatif dan merupakan "jalan termurah" untuk tetap mengontrol Indonesia.

Eisenhower menerangkan:"Sekarang marilah kita anggap kita kehilangan Indocina. Bila Indocina hilang, beberapa hal akan langsung terjadi. Tanjung Malaka, sebidang tanah terakhir yang bertahan di sana, akan menjadi sulit untuk dipertahankan. Timah dan tungsten yang sangat kita hargai dari daerah itu akan berhenti datang, dan seluruh India akan terkepung.

"Birma tidak akan berada di posisi yang dapat dipertahankan. Semua posisi di sekitar sana akan menjadi sangat tak menyenangkan buat Amerika Serikat, karena pada akhirnya jika kita kehilangan semua itu, bagaimanakah dunia bebas akan mempertahankan kerajaan Indonesia yang kaya?

"Jadi, entah dimana, ini harus diberhentikan dan harus diberhentikan sekarang, dan inilah yang kita usahakan.

"Jadi, bila AS memutuskan untuk menyumbang 400 juta dolar untuk membantu perang di Indocina, kita bukannya menyuarakan program bantuan gratis. Kita memilih jalan termurah untuk mencegah terjadinya sesuatu yang akan berarti sangat buruk buat Amerika Serikat, keamanan, kekuatan dan kemampuan kita untuk mendapatkan barang-barang tertentu yang kita butuhkan dari kekayaan-kekayaan wilayah Indonesia dan Asia Tenggara."

Indonesia telah diperkirakan sebagai negara terkaya nomor lima di dunia di bidang sumber-sumber alam. Selain sebagai produser minyak yang nomor lima terbesar, Indonesia mempunyai cadangan-cadangan timah, bauksit, batubara, emas, perak, berlian, mangan, fosfat, nikel, tembaga, karet, kopi, minyak kelapa sawit, tembakau, gula, kelapa, rempah-rempah, kayu dan kina yang sangat besar.

Pada tahun 1939, yang pada waktu itu masih dipanggil East Indies Belanda memasok lebih dari separuh konsumsi total bahan mentah yang penting bagi Amerika Serikat. Kekuasaan atas daerah penting ini merupakan masalah penting dalam perang AS-Jepang di Pasifik. Dalam masa setelah perang kelas penguasa AS bertekad bulat untuk tidak kehilangan kekayaan-kekayaan negara ini ke tangan rakyat Indonesia.

Setelah kekalahan Perancis di Vietnam di tahun 1954, AS menjadi khawatir bahwa perjuangan rakyat Vietnam akan menyulut pergolakan revolusioner di seluruh daerah Asia Tenggara, mengancam kontrol mereka atas Indonesia.

Di tahun 1965, sebelum kudeta di Indonesia, Richard Nixon, yang segera akan menjadi presiden AS, menyerukan untuk pengeboman saturasi untuk melindungi "potensi mineral besar" Indonesia. Dua tahun setelah itu, dia menyatakan bahwa Indonesia merupakan "hadiah terbesar Asia Tenggara".

Setelah kudeta 1965, kegunaan diktatur Suharto untuk kepentingan imperialisme AS telah tergarisbawahi dalam laporan Departemen Luar Negeri AS ke Konggres di tahun 1975, yang menyebut Indonesia sebagai "lokasi yang paling berwenang secara strategis di dunia":

"Mempunyai populasi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara.
"Merupakan penyuplai utama bahan-bahan mentah di daerah itu.
"Kemakmuran ekonomi Jepang yang terus berkembang, sangatlah tergantung pada minyak bumi dan bahan-bahan mentah lain yang dipasok oleh Indonesia.
"Investasi Amerika yang sudah ada di Indonesia sangatlah kokoh dan hubungan dagang kita sedang berkembang cepat.
"Indonesia mungkin secara meningkat akan menjadi penyedia yang penting untuk keperluan energi AS.
"Indonesia adalah anggota OPEC, tetapi itu mengambil sikap yang moderat dalam langkah-langkahnya, dan tidak ikut serta dalam embargo minyak bumi.
"Kepulauan Indonesia terletak pada jalur-jalur laut yang strategis dan pemerintah Indonesia memainkan peranan yang vital dalam perundingan-perundingan hukum kelautan, yang sangatlah penting untuk keamanan dan kepentingan komersiil kita."

MimiHitam
02-12-07, 10:14
Perampasan Kolonial Selama Berabad-Abad

Kolonial Belanda menjajah Indonesia tanpa ampun selama 350 tahun, merampok kekayaan alamnya, membuka perkebunan-perkebunan besar dan memeras rakyatnya secara kejam.

Pada tahun 1940 hanya ada satu dokter untuk setiap 60,000 orang (dibandingkan dengan India, di mana rasionya adalah 1:6,000) dan 2,400 lulusan Sekolah Menengah Atas. Pada akhir Perang Dunia Kedua, 93 persen dari populasi Indonesia masih buta-huruf.

Pada permulaan abad Kesembilan Belas, perkembangan kaum burjuis Inggris makin menantang dominasi Belanda atas daerah ini. Di tahun 1800 East Indies Company milik Belanda menjadi bangkrut dan Inggris mengambil-alih daerah kekuasaannya antara tahun 1811 dan 1816. Di tahun 1824, Treaty of London (Perjanjian London) membagi daerah ini antara keduanya: Inggris mendapat kontrol atas tanjung Malaka dan Belanda tetap menguasai kepulauan Indonesia.

Permulaan abad Keduapuluh, imperialisme Amerika yang baru sedang berkembang mulai menjadi tantangan untuk kekuatan kolonial Eropa, terutama setelah pendudukan Filipina oleh Amerika Serikat di tahun 1898.

Amerika Serikat sedang terlibat dalam perang dagang dengan Belanda atas minyak bumi dan karet. Perusahaan minyak Standard mulai memperebutkan monopoli atas daerah-daerah pertambangan minyak di Indonesia oleh Royal Dutch company. Di tahun 1907, Royal Dutch dan Shell bergabung untuk menandingi kompetisi dari AS. Mengambil keuntungan dari situasi Perang Dunia Pertama, Standard Oil mulai mengebor minyak di Jawa Tengah, dan dalam tahun yang sama perusahaan-perusahaan AS mulai menguasai perkebunan-perkebunan karet. Goodyear Tyre and Rubber membuka perkebunan-perkebunan mereka dan US Rubber membuka perkebunan-perkebunan karet di bawah satu pemilikan yang terbesar di dunia.

Strategi AS di daerah ini sewaktu itu dapat diringkas oleh Senator William Beveridge:

"Filipina adalah milik kita selamanya...dan lewat Filipina adalah pasaran Cina yang tak terbatas. Kita tidak akan mundur dari keduanya. Kita tidak akan meninggalkan tanggung-jawab kita di kepulauan itu. Kita tidak akan meninggalkan tanggung-jawab kita di Asia Timur. Kita tidak akan meninggalkan bagian kita di dalam misi bangsa kita, kepercayaan Tuhan, untuk perdaban di dunia ini...kita akan maju berkarya...dengan rasa terima kasih... dan rasa syukur kepada Tuhan kita yang Maha Besar karena Dia telah memilih kita sebagai orang-orang terpilihNya, dan selanjutnya memimpin dalam regenerasi dunia...Perdagangan terbesar kita mulai sekarang harus dengan Asia. Laut Pasifik itu adalah laut kita... dan Pasifik adalah laut perdagangan masa depan. Kekuatan yang memiliki Pasifik, adalah kekuatan yang menguasai dunia. Dan dengan Filipina, kekuatan itu adalah dan akan selalu menjadi Republik Amerika."

Berkembangnya imperialisme Jepang dan ekspansinya ke Korea, Manchuria dan Cina menimbulkan pertentangan dengan imperialisme Amerika atas penguasaan daerah-daerah itu, yang meningkat dan meletus dalam Perang Pasifik dalam Perang Dunia Kedua. Keinginan kaum burjuis Jepang untuk merebut kekuasaan AS, Perancis dan Belanda membawa pentingnya Indonesia, sebagai gerbang ke Laut India dari Asia Tenggara dan sumber kekayaan alam, ke dalam fokus.

MimiHitam
02-12-07, 10:14
Di tahun 1942 para kolonialis Belanda menyerahkan kekuasaan atas Indonesia ke Jepang, daripada membiarkan rakyat Indonesia berjuang untuk kemerdekaan. Semua kekuatan imperialis mempunyai alasan baik untuk menakuti rakyat Indonesia yang tertindas.

Sejauh tahun 1914 wakil-wakil terbaik dari kelas buruh Indonesia telah mengambil ajaran Marxisme ketika Assosiasi Sosial Demokrat Indies (Indies Social Democratic Association) dibentuk dengan inisiatip seorang komunis Belanda Hendrik Sneevliet. Di tahun 1921 itu berubah menjadi Partai Komunis Indonesia sebagai tanggapan kepada Revolusi Bolshevik di Rusia.

PKI mendapatkan kewenangan besar di antara rakyat dengan memimpin perjuangan melawan kolonialisme Belanda, termasuk pergerakan-pergerakan besar yang pertama di Jawa dan Sumatra di tahun 1926 dan 1927.

Ketika rakyat Cina sedang bergerak dalam Revolusi Cina yang kedua di tahun 1926-27, para pekerja dan petani Indonesia juga bergerak dalam sebuah pemberontakan, yang dipimpin PKI. Bagaimanapun juga, kewenangan kolonial Belanda berhasil memadamkan pemberontakan-pemberontakan itu. Mereka menangkap 13,000 orang tertuduh, memenjarakan 4,500 dan mengasingkan 1,308 ke dalam kamp konsentrasi di Irian Barat. PKI dilarang.


Perjuangan Pembebasan Nasional Dikhianati

Pada akhir Perang Dunia Kedua rakyat-rakyat tertindas di Indonesia, India, Sri Lanka, Cina dan di seluruh Asia Tenggara dan dunia maju bergerak dalam perjuangan-perjuangan revolusioner untuk membebaskan diri dari imperialisme.

Pada saat yang sama, kelas buruh di Eropa dan negara-negara kapitalis mengadakan perjuangan-perjuangan yang menggoncangkan. Itu hanya dapat dipadamkan melalui perkhianatan birokrasi Sovyet yang dipimpin oleh Stalin dan partai-partai Stalinis di seluruh dunia. Pengkhianatan pekerja-pekerja Perancis, Itali dan Yunani yang terutama, dan pendirian rejim-rejim yang dikendalikan secara birokratis di Eropa Timur memperbolehkan imperialisme untuk memantapkan diri.

Di tahun 1930an, munculnya sebuah kasta berhak istimewa dalam Uni-Sovyet, yang mengambil kekuasaan politis dari kaum proletar Sovyet, telah menghancurkan partai-partai Komunis. Dari partai-partai Internasional revolusioner, mereka berubah menjadi organisasi-organisasi kontra-revolusioner, yang menekan perjuangan-perjuangan mandiri kelas buruh.

Di negara-negara kolonial, partai-partai Stalinis ini, termasuk PKI, secara sistematis mengebawahkan kepentingan rakyat ke kelas burjuis-nasional yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Gandhi di India dan Sukarno di Indonesia yang berusaha mencari penyelesaian dengan kekuatan-kekuatan kolonial untuk mempertahankan kekuasaan kapitalis.

Perjanjian-perjanjian setelah Perang Dunia Kedua tidak menghasilkan pembebasan nasional yang sejati dari imperialisme, tetapi membebankan kepada rakyat agen-agen baru kekuasaan imperialis. Ini adalah kasusnya di Indonesia di mana kelas burjuis nasional, dipimpin Sukarno, mengadakan perjanjian-perjanjian reaksioner dengan Belanda.

MimiHitam
02-12-07, 10:15
Sukarno, putra seorang guru sekolah Jawa yang berasal dari keluarga aristokratis, adalah lulusan arsitek, bagian dari lapisan sosial tipis kaum petit-burjuis yang berpendidikan. Dia adalah ketua Partai Nasional Indonesia saat itu dibentuk di tahun 1927 dan mengalami penjara dan pengasingan di tangan Belanda karena dia mengajarkan kemerdekaan nasional.

Dalam Perang Dunia Kedua Sukarno dan kelas burjuis nasional bekerja sama dengan pasukan pendudukan Jepang dengan harapan mendapatkan semacam kemerdekaan nasional. Dalam hari-hari terakhir perang itu Sukarno, dengan dukungan separuh-hati Jepang, mendeklarasikan Republik Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Arahan pemimpin-pemimpin kelas burjuis nasional ini bukanlah untuk memimpin sebuah gerakan proletar melawan imperialisme, tetapi untuk mendirikan sebuah administrasi dan memperkuat posisi mereka dalam tawar-menawar dengan Belanda, yang tidak mempunyai tentara di daerah itu.

Tetapi reaksi Belanda adalah mengadakan perang yang kejam untuk menekan rejim yang baru ini. Mereka memerintahkan Indonesia untuk tetap di bawah perintah tentara Jepang sampai tentara Inggris dapat mencapai sana. Inggris dan Jepang kemudian menggunakan tentara-tentara Jepang untuk menekan perjuangan bertekad para pekerja, pemuda dan petani Indonesia. Dengan begitu, semua kekuatan-kekuatan imperialis bergabung melawan rakyat Indonesia.

Ketika perlawanan bersenjata meletus di seluruh Indonesia terhadap tentara Belanda, Sukarno, dengan dukungan dari kepemimpinan PKI, menjalankan sebuah politik kompromi dengan Belanda dan menandatangani Perjanjian Linggarjati di bulan Maret 1947. Belanda mengenali secara formal kekuasaan Indonesia atas Jawa, Madura dan Sumatra dan setuju untuk mengundurkan tentara mereka. Tetapi kenyataannya, Belanda hanya menggunakan ini sebagai kesempatan untuk mengambil napas dan memperkuat dan mempersiapkan diri untuk sebuah serangan yang kebrutalannya tak tertandingi di bulan Juli dan Agustus 1947.

Selama waktu ini, ratusan ribu buruh dan petani menjadi anggota atau mendukung PKI karena mereka kehilangan kepercayaan terhadap para pemimpin burjuis dan karena mereka memandang PKI sebagai partai revolusioner. Mereka juga terilhami oleh kemajuan-kemajuan Partai Komunis Cina Mao Tse Tung dalam perangnya melawan Chiang Kai-Shek. Dalam perang melawan Belanda, buruh dan petani menduduki tanah dan bangunan-bangunan berulang-ulang dan serikat-serikat buruh massa dibentuk.

Untuk menanggulangi perkembangan ini, pemerintahan Republik Sukarno, yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin yang saat itu masih Perdana Menteri (juga seorang anggota PKI rahasia), menandatangani Perjanjian Renville di bulan Januari 1948 (dipanggil itu karena ditandatangani di atas USS Renville). Perjanjian ini memberi Belanda kekuasaan atas separuh pabrik-pabrik gula di Jawa, 75 percent dari karet Indonesia, 65percent perkebunan kopi, 95 percent perkebunan teh dan minyak bumi di Sumatra. Tambahan pula, penyelesaian yang diimposisi oleh AS ini menyebutkan penarikan mundur pasukan-pasukan gerilya dari daerah-daerah yang dikuasai Belanda dan menciptakan kondisi untuk pembubaran "unit-unit rakyat bersenjata" yang dipimpin oleh PKI, dan untuk pembentukan "Angkatan Bersenjata Nasional Indonesia" yang dipimpin oleh Sukarno dan jendral-jendralnya.

Di tahun 1948 aksi-aksi pemogokan menentang pemerintah Republik, yang sekarang dipimpin oleh Wakil Presiden sayap-kanan Hatta sebagai Perdana Menteri, dan menuntut sebuah pemerintahan berparlemen. Aksi-aksi ini dipadamkan oleh Sukarno yang mengimbau untuk penciptaan "kesatuan nasional".

Pada saat yang sama, pemimpin PKI Musso yang sebelumnya diasingkan, kembali dari Uni-Sovyet dan beberapa pemimpin-pemimpin penting Partai Sosialis Indonesia dan Partai Buruh Indonesia menyatakan bahwa mereka adalah anggota-anggota rahasia PKI selama bertahun-tahun. Pernyataan ini menunjukkan basis dukungan untuk PKI yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan oleh kekuatan-kekuatan imperialis.

Di bulan Juli 1948 pemimpin-pemimpin burjuis, termasuk Sukarno dan Hatta mengadakan pertemuan rahasia dengan wakil-wakil AS di Sarangan di mana AS menuntut, sebagai bayaran bantuan ke pemerintah, pengadaan pemburuan anggota-anggota PKI dalam angkatan bersenjata dan pegawai-pegawai pemerintah. Hatta, yang juga masih Menteri Pertahanan, diberi $10 juta untuk melakukan "pemburuan merah"

MimiHitam
02-12-07, 10:15
Dua bulan setelah itu, dalam sebuah percobaan untuk menghancurkan PKI, Peristiwa Madiun dilakukan di Jawa. Beberapa perwira angkatan bersenjata, anggota-anggota PKI, dibunuh dan yang lainnya menghilang, setelah mereka menentang rencana-rencana untuk membubarkan kesatuan-kesatuan gerilya angkatan bersenjata yang berada di garis depan perang melawan Belanda.

Pembunuhan-pembunuhan ini menimbulkan pemberontakan di Madiun yang ditekan secara berdarah oleh rejim Sukarno. Perdana Menteri Hatta menyatakan hukum darurat. Ribuan anggota PKI dibunuh, 36,000 dipenjara dan pemimpin PKI Musso dan 11 pemimpin penting yang lainnya dihukum mati.

Konsul-Jendral AS Livergood menelegram atasannya di AS mengatakan bahwa dia telah memberitahu Hatta bahwa "krisis ini memberikan pemerintahan Republik kesempatan untuk menunjukkan tekadnya untuk menekan komunisme."

Terbesarkan hatinya karena pogrom anti-komunis itu, Belanda menjalankan serangan militer baru di Desember 1948, menangkap Sukarno. Tetapi perlawanan yang meluas memaksa Belanda untuk menyerah dalam waktu enam bulan.

Meskipun begitu, konperensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag membebankan pengkhianatan-pengkhianatan baru atas rakyat Indonesia, melibatkan konsesi-konsesi yang lebih besar dari kelas burjuis Indonesia.

Pemerintah Sukarno setuju untuk mengambil alih hutang-hutang koloni dan menjamin perlindungan untuk modal milik Belanda. Belanda mendapat Irian Barat dan Republik Indonesia tetap harus bekerja sama dengan imperialis Belanda dalam Netherlands-Indonesian Union. Pemerintah Sukarno tetap mempertahankan hukum-hukum kolonial. Angkatan bersenjata baru didirikan dengan menggabungkan tentara-tentara Belanda yang berasal dari Indonesia ke dalam "Angkatan Bersenjata Nasional". Dalam kata lain aparatus dan hukum-hukum kolonial lama dipertahankan dibalik aling-aling pemerintahan parlemen di republik yang baru.

Kepemimpinan PKI mendukung pengkhianatan perjuangan pembebasan nasional itu dan berusaha untuk membatasi kelas buruh dan petani ke dalam perjuangan-perjuangan yang damai dan "demokratis". Ini adalah terusan dari posisi PKI selama Perang Dunia Kedua ketika kepemimpinan PKI (dengan Partai Komunis Belanda) mengikuti arahan Stalin untuk bekerja sama dengan imperialis Belanda melawan Jepang dan menyerukan untuk sebuah "Indonesia merdeka dalam Persemakmuran Belanda". Ini tetap menjadi politik PKI meskipun selama perjuangan setelah Perang Dunia Kedua melawan Belanda.

Untuk rakyat Indonesia, kepalsuan "kemerdekaan" di bawah dominasi imperialisme Belanda, Amerika dan dunia yang berlangsung makin menjadi jelas. Hasil-hasil alam, industri-industri penting, perkebunan-perkebunan dan kekuatan keuangan tetap dipegang oleh perusahaan-perusahaan asing.

Contohnya, 70 percent lalu-lintas laut antar kepulauan masih dipegang oleh perusahaan Belanda KPM dan salah satu bank Belanda terbesar, Nederlandche Handel Maatschappij, memegang 70 percent dari semua transaksi keuangan Indonesia.

Menurut perhitungan pemerintah Indonesia, di pertengahan tahun 1950an, modal Belanda di Indonesia berharga sekitar $US 1 milyar. Pemerintah Sukarno mengatakan bahwa meskipun jika mereka ingin menasionalisasikan kemilikan Belanda, mereka tidak mempunyai cukup uang untuk menggantikan kerugian bekas penguasa-penguasa kolonial itu. Dan untuk menasionalisasikan tanpa ganti-rugi adalah komunisme.

Ketidakpercayaan rakyat tercermin di pemilihan umum 1955 ketika jumlah kursi yang dipegang PKI meningkat dari 17 ke 39.

Dalam waktu dua tahun pergerakan rakyat akan meletus dalam penyitaan pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan, bank-bank, toko-toko dan kapal-kapal milik Belanda, Amerika dan Inggris.

MimiHitam
02-12-07, 10:15
BAB KEDUA
Para Stalinis Mengkhianati Pergerakan Massa
Pada bulan Desember 1957 dominasi imperialisme atas ekonomi Indonesia tergoncang oleh pergerakan massa kaum buruh dan petani. Pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan, bank-bank dan kapal-kapal laut banyak yang dirampas dan diduduki.

Rejim burjuis Sukarno bisa bertahan hanya karena pemimpin-pemimpin Stalinis Partai Komunis Indonesia (PKI) menyabot pergerakan massa itu, dengan menegaskan bahwa para buruh dan petani harus menyerahkan semua yang sudah mereka sita kepada pasukan-pasukan angkatan bersenjata yang dikirim oleh Sukarno, dengan dukungan AS, untuk mengontrol situasi itu.

Kabar di New York Times tanggal 8 Desember 1957 memberi gambaran tentang keluasan dan kekuatan pergerakan itu: "Pergerakan pekerja-pekerja di Jakarta, sejauh kita dapat menentukan, terjadi tanpa ijin pemerintah, dan berlawanan dengan kata-kata Perdana Menteri Djuanda, Kepala angkatan bersenjata Jendral Abdul Haris Nasution dan pejabat-pejabat pemerintah yang lainnya, yang mengatakan bahwa pergerakan itu tidak dapat diterima dan orang-orang yang terlibat akan dihukum berat...

"Ketiga bank milik Belanda di sini, the Netherlands Trading Society, the Escompto dan the Netherlands Commercial Bank, diambil-alih oleh delegasi-delegasi pergerakan itu. Mereka membacakan proklamasi di depan kawan-kawan seperjuangan yang penuh semangat dan kemudian di depan para administrator-administrator dari Belanda, mengatakan bahwa atas nama Asosiasi Pekerja Indonesia mereka merampas bank-bank ini dan mulai saat itu akan menjadi milik Republik Indonesia."

Surat kabar Belanda "Volksrant" mengabarkan dengan nada khawatir pada tanggal 11 Desember 1957:"Di Jakarta para Komunis terus mengibarkan bendera-bendera merah di atas perusahaan-perusahaan milik Belanda...Hari ini kantor pusat Philips dan Societe D'Assurances Nillmij di Jakarta diduduki oleh orang-orang Indonesia di bawah pimpinan perserikatan buruh Komunis."

Pergerakan ini tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Menurut "New York Herald-Tribune" tanggal 16 Desember:"Pekerja-pekerja di bawah SOBSI, perserikatan buruh sentral yang didominasi oleh para Komunis, merampas toko-toko roti Belanda dan bank-bank di Borneo (Kalimantan)." Koran "New York Times" pada hari yang sama mengabarkan bahwa di Palembang, ibukota Sumatra Selatan, "pasukan-pasukan keamanan menahan sejumlah pekerja, anggota serikat buruh yang dikontrol oleh para Komunis, karena mereka bertindak tanpa ijin menyita tiga perusahaan Belanda. Tigapuluh tujuh bendera merah yang mereka naikkan di depan rumah-rumah pegawai-pegawai Belanda perusahaan-perusahaan tersebut telah disita."

Surat-surat kabar kapitalis yang lain mengabarkan "situasi anarki di Bali" dan menurut pemilik perkebunan Belanda yang sedang melarikan diri, di Aceh dan Deli, di pantai selatan Sumatra, pergerakan rakyat bukan hanya ditujukan ke perusahaan-perusahaan Belanda, tetapi juga ke perusahaan-perusahaan Inggris dan Amerika. Kabar-kabar serupa juga datang dari Sumatra Utara, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya.

Ada juga kabar-kabar bahwa pergerakan-pergerakan ini menimbulkan perlawanan di Papua New Guinea (Irian Timur) yang diduduki oleh Australia. Di Karema, duapuluh orang terluka ketika orang-orang pribumi melawan anggota-anggota pasukan keamanan setelah seorang jururawat pribumi mengatakan bahwa dia merasa dihina.

MimiHitam
02-12-07, 10:16
Dari buku yg judulnya: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa..kejadian 30 September bisa disimpulkan sbb:

Pada waktu itu, pihak intelijen Indonesia menangkap kabar bahwa Amerika dan Inggris akan "menyerang" Indonesia. Mereka tdk suka dgn arah revolusi Sukarno yg katanya "kekiri-kirian". Mereka merencanakan akan melakukan c'oup de etat melalui "our friends in the military".

Untung yg pd saat itu menjabat sbg salah satu komandan cakrabirawa menangkap gelagat jelek utk menggulingkan bung Karno dan berinisiatif utk mengambil tindakan sendiri. Ia mendasari tindakannya pd kabar adanya "Dewan Jendral" yg merencanakan kudeta pd hari jadi Abri (5 Oktober). Dewan Jendral ini jg merencanakan mengganti kabinet Dwikora-nya Sukarno yg dgn demikian jg mengubah haluan revolusi Sukarno.

Untung memutuskan utk melakukan gerakan menangkap para tersangka pd tgl 30 September. Pd saat itu Presiden sdg menghadiri suatu pertemuan di Istana. Gerakan yg terburu2 ini menyebabkan Untung lupa akan beberapa hal:

1. Dia bertindak diluar jalur wewenang Cakrabirawa. Cakrabirawa hanya mengawal presiden di dalam Istana. Walaupun dia mengambil tanggung jawab sbg pribadi, dia tetap menggunakan pasukan Cakrabirawa

2. Dia TIDAK meng-konsultasikan hal ini kpd Presiden.

3. Dia TIDAK bisa mengeluarkan surat penangkapan didepan para Jendral.

Segera setelah Presiden mendengar ttg gerakan ini, beliau langsung memerintahkan gencatan senjata antara Untung-tentara dan membentuk Mahmilub, yg dipatuhi oleh Untung. Gebrakan Suharto , menurut buku ini, sebenarnya dilakukan SETELAH gencatan senjata berlaku.

MimiHitam
02-12-07, 10:17
Sebuah Catatan Kecil

Beberapa waktu yang lalu saya sempat bertemu dengan putri dari salah seorang Jendral korban G 30 S / PKI. Ketika sedang berbincang-bincang dengan beliau, terlintas satu pertanyaan mengenai bagaimana perasaan beliau atas terjadinya peristiwa tersebut.

"Maaf tante, kalau boleh saya mau bertanya sedikit mengenai kejadian pada tahun 65"

"Apa yang mau kamu tanyakan ?"

"Bagaimana perasaan tante mengenai atas apa yang telah terjadi saat itu ? adakah perasaan dendam, marah, sedih dan lainnya ?"

"Kalau ditanya perasaan saya mengenai yang terjadi pada malam itu, hanya ada satu hal saja : SEDIH. Ayah saya diculik dan kembali hanya nama saja. Mengenai dendam, saya tidak punya dendam pada siapa-siapa, saya tidak menyalahkan pada siapa-siapa. Mungkin ini jalan-Nya dan saya terimakan hal itu."

Saat itu saya hanya terdiam, kemudian memandang photo keluarga yang ada di ruang tv. Pikiran saya melayang membayangkan kejadian malam itu karena saat saya berbincang-bincang dengan beliau, saya sedang berada dirumah tempat kejadian itu terjadi.

Demikian sebuah catatan kecil, obrolan saya dengan ibu Nani Sutoyo, putri Jenderal Anumerta Sutoyo Siswomihardjo.