PDA

View Full Version : Problema TKI serta Kekerasan yang terjadi didalamnya.



DyeN
03-07-07, 10:32
Kasus TKI di luar negeri selalu menjadi *** waktu bagi bangsa tercinta ini yang sewaktu-waktu dapat saja meledak.

Terbetik berita bahwa 40 Ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terancam dideportasi oleh Pemerintah Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi sejak 1 Juni lalu hingga hari-hari ini melakukan razia terhadap para TKI yang bekerja di negeri tersebut tanpa dilengkapi dengan dokumen resmi.

Bahkan tercatat lebih dari seribu kasus kekerasan menimpa tenaga kerja Indonesia yang mencari nafkah di Malaysia. Sejumlah TKI memilih minggat karena tidak kuat dengan perlakuan tak manusiawi sang majikan. Bahkan yang lebih miris lagi mereka tak diberi upah sepeser pun oleh majikan selama kerja.

Tragedi Ceriyati menambah panjang deretan derita yang dialami para tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Belum lekang kepedihan luka fisik akibat penganiayaan oleh majikannya di Malaysia, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Brebes, Jawa Tengah itu, harus mendapati kenyataan pahit bahwa majikan wanita yang kerap menganiayanya dibebaskan. Pembebasan oleh Polisi Malaysia itu tentu terasa menyesakkan.

Dengan kondisi seperti sekarang, pengiriman TKI ke luar negeri, tak ada bedanya dengan perdagangan budak. Realitas yang ada menunjukkan bahwa TKI yang dikirim ke luar negeri, tidak didukung dengan perangkat perlindungan yang cukup memadai.

Akibatnya di sana mereka banyak yang tidak dibayar, dipukuli, disiksa, dan diperkosa.

Terulangnya kasus kekerasan fisik yang dialami TKI, membuktikan pemerintah kita tidak memberi perlindungan hukum yang memadai. Lalu dimanakah wujud penanganan serius pemerintah ?

Bukankah ini menjadi tugas pemerintah menjamin warganya diperlakukan secara adil dan manusiawi di mana pun berada dan apa pun profesi mereka ?Jika Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mendapat perlindungan hukum yang memadai saat dipermalukan di Australia, hal yang sama seharusnya juga diberlakukan kepada sesama anak bangsa.

MimiHitam
03-07-07, 13:17
tki udah dilarang dikirim ke malaysia..

ama pemerintah keknya ga peduli ama tki, filipina klo ada pekerja luar negerinya disiksa lgsng protes besar2an, indo kaga...

jadinya arusnya ada jaminan perlindungannya...

doubledoank
03-07-07, 14:45
Kenapa nga buka lapangan kerja di negara kita sendiri aja, masa pemerintah nga sanggup?
TKI tuh sampe mau ke luar negeri jadi pembantu karena di rumah sendiri nganggur dan nga ada pendapatan.... udah gitu pemerintah bukannya memikirkan solusi, malah membiarkan mereka jadi TKI keluar begitu saja, begitu kena kasus TKI di perlakukan semena mena baru kalang kabut...... :(

Trademaks
03-07-07, 15:47
Kenapa nga buka lapangan kerja di negara kita sendiri aja, masa pemerintah nga sanggup?
TKI tuh sampe mau ke luar negeri jadi pembantu karena di rumah sendiri nganggur dan nga ada pendapatan.... udah gitu pemerintah bukannya memikirkan solusi, malah membiarkan mereka jadi TKI keluar begitu saja, begitu kena kasus TKI di perlakukan semena mena baru kalang kabut...... :(

Hal seperti diatas memang sempat terpikir oleh saya. Tapi lihat dari segi keuntungan buat negara. TKI selama ini dianggap sebagai penghasil devisa, sehingga lebih baik tetap bekerja di luar negeri daripada kalau pulang malah menimbulkan masalah. Jika setiap orang dari 500.000 TKI di negeri jiran itu mengirimkan Rp 0,25 juta setiap bulan kepada keluarganya di Indonesia, maka devisa yang masuk adalah sebesar Rp 125 miliar per bulan atau Rp 1,5 triliun per tahun. Suatu jumlah yang tidak sedikit.

Hanya , ketika mereka kesulitan, mereka diabaikan.:nosweat:
Mereka hanya diperhatikan ketika memberikan sumbangan devisa. Mungkinkah saat ini mereka dipandang sebagai faktor produksi saja, bukan sebagai rakyat yang harus diperhatikan ?Seriuskah pemerintah dalam penanganannya ?::angel_not::



Wa sticky yah,biar banyak yang berkomentar ^.^!

DyeN
03-07-07, 21:32
Sangatlah tidak serius !
Di berbagai negara, seperti Malaysia, Arab Saudi, Hongkong, dan Singapura, kisah TKI atau TKW yang diperlakukan tidak adil, dieksploitasi secara seksual, dan dilanggar hak-haknya nyaris terulang setiap tahun.

Yang memprihatinkan, kendati bekerja sebagai TKI/TKW terbukti menyimpan sejumlah risiko buruk, ternyata, dari waktu ke waktu jumlah penduduk desa yang mencoba mengadu nasib dengan bekerja di luar negeri bukannya surut, bahkan cenderung terus bertambah.

Di tengah kondisi lapangan kerja yang masih langka dan angka pengangguran yang terus meningkat.
Apakah ini harus diakui memang tidak banyak pilihan yang tersisa bagi penduduk miskin di pedesaan ? Terlepas dari risiko yang bakal dihadapi, bagi penduduk miskin, mengadu nasib dengan mencari kerja di negeri jiran sebagai TKI/TKW sesungguhnya adalah jalan keluar dari tekanan kemiskinan dan ancaman pengangguran ?

tangan_setan5
04-07-07, 13:21
itu trgantung prusahaan

kalo perusahannya enggak bagus and asala2in kirim TKI itu bisa fatal
paman gw da 2 orang yang jadi bos tki ,, ada yang kirim ke malay,arab,taiwan
and alhasil ga ada yang kena kasus
knapa?
karena perusahaan itu mementingakan keselamatan bukan Uang,,
banyak perusahaan yang Mementingkan uang,, sbnrna TKi itu di kirim Ke luar ngri tu di pungut biaya tapi tidak banyak.. kira2 stau gw 100~500 ribu(Trgantung perusahaan).. tapi banyak yang mntanya jutaan
itu dia prusahaan yang bodo amat
yang pnting "Uang"

MimiHitam
05-07-07, 10:05
kl gw bilang sih larang kirim tki ke luar negeri aja, terus bikin sarana lapangan kerja yang banyak di Indonesia

Trademaks
05-07-07, 17:48
ketidaksiapan TKI untuk bekerja di luar negeri ? Bisa dikatakan sebagai awal dari banyaknya permasalahan yang muncul. Kalau melihat hal seperti itu, siapa yang harus disalahkan ? Pemerintah atau PJTKI ?

doubledoank
06-07-07, 18:40
Kebanyakan TKI yang pergi keluar negeri rata2 cuma jadi pembantu(Maid), ini membuktikan kalau TKI Indonesia bukan cuma tidak siap kerja tapi juga nga punya Skill untuk mendapatkan pekerjaan yang lain...

Lagian para TKI, terutama para TKW, mungkin cuma lulus SMU dan jangan heran kalau ada yang belom, dan dengan keadaan mereka yang seadanya, cuma bisa mengadu nasib ke negeri lain dan pekerjaan yang paling simple yang bisa dilakukan adalah mengurus pekerjaan rumah tangga....

Andai Para TKI dibekali training dulu sebelum di kirim keluar negeri, dan seharusnya para perusahaan yang mengirim TKI ke luar negeri bisa mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan training yang para TKI jalani....

Misal di negara tetangga memerlukan tenaga kerja untuk bekerja di perkebunan, maka sebelum para TKI di kirim ke sana ,diberi pelatihan dulu, sehingga begitu mereka tiba mereka sudah siap kerja....

Tapi mungkinkah? lagipula berapa macam pelatihan yang harus disediakan? ini urusan Pemerintah atau Perusahaan yang mengirim TKI?

ekspresi
07-07-07, 01:45
sekedar info TKI indonesia plg besar mendapat Gaji di Korea selatan penghasilan mreka disana bisa mencapai 8-12juta perbulan tapi kendala terberat di sana adalah Iklim dan faktor religius umat penganut Tauhid akan susah menjalankan ibadah disana.

SUMBER: Warta Kota 29 Juni 2007

Trademaks
07-07-07, 01:59
Harus diakui memang semenjak krisis ekonomi, jumlah TKI yang bekerja di luar negeri terus meningkat. Namun, meningkatnya jumlah ini tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas perlindungan. Akibatnya, dari tahun ke tahun, deretan TKI yang jadi korban kekerasan semakin panjang.

Langkah perbaikan dalam hal kebijakan perlindungan ?
Keputusan menteri sebagai satu-satunya regulasi menyangkut TKI ternyata lebih banyak bicara soal penempatan dan pemasaran TKI daripada soal perlindungan. Namun, yang mengkhawatirkan banyak pihak adalah Undang - Undang Perlindungan yang dibuat pemerintah itu tak lebih dari substansi keputusan menteri yang berpihak pada PJTKI dan majikan.

Bahkan rencana pemerintah untuk menambah kerjasama bilateral penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) dengan sejumlah negara dinilai tidak berpihak pada buruh migran. Dikarenakan kebijakan itu cenderung menganggap buruh migran sebagai komoditi bukan dari sudut pandang hak asasi manusia.

Jika terus seperti ini, haruskah diakui bahwa pemerintah dalam menempatkan tenaga kerja mengabaikan hak asasi buruh?


Sedikit gambaran singkat mengenai kebijakan serta prosedur penempatan TKI diluar negri :
Kebijakan penempatan TKI : http://www.tki.or.id/aturan/reformasi_tkln_files/frame.htm
Prosedur bekerja diluar negri : http://www.tki.or.id/aturan/atur_prosedur_files/frame.htm

ekspresi
07-07-07, 02:03
duh gw baca majalah forum skr kan ASuransi TKI sedang di permalsahkan coba dunk trade cariin berita yg versi webnya klo yg versi majalah/koran/TV/buku dah kenyang gw.

doubledoank
07-07-07, 03:33
sekedar info TKI indonesia plg besar mendapat Gaji di Korea selatan penghasilan mreka disana bisa mencapai 8-12juta perbulan tapi kendala terberat di sana adalah Iklim dan faktor religius umat penganut Tauhid akan susah menjalankan ibadah disana.

SUMBER: Warta Kota 29 Juni 2007

8-12 juta perbulan, ini jadi tenaga kerja apaan? kalau cuma maid/pembantu rumah tangga gw mau ke sono deh pasti bisa dapat lebih......::Jumpy::

EchanterZ
11-07-07, 13:39
emang nyata kok.... gaji total tkw / tki kita di korea selatan kisaran gitu... ya yg jelas bukan maid/pembantu.... kerjanya jadi buruh pabrik/industri besar, seperti elektronik, otomotif, sampai tekstil...

klo soal perlindungan para tki/tkw kita sih... yg gwe liad blon ada uu resmi tentang itu... ya gmn tidak... udah sering liad berita... klo ada masalah sama tki/tkw yg paling duluan di cari pasti kedubes kita di negara" itu untuk dimintai perlindungan.. lagian pemerintah blon punya rancangan uu tentang perlindungan tenaga kerja kita di luar negeri... atau perjanjian kesepakatan bersama antar negara yg di kirimi tenaga kerja kita.... jadi ya orang" di luar sono dengan enaknya semena-mena, toh tenaga kerja kita cuma numpang cari makan di negara orang... secara tidak langsung harus nurut n patuh kenapa hukum di negara tsb... dan secara tidak lansgung para tenaga kerja kita berada di paling bawah dimana hukum masingh" negara...

gwe harap pemerintah bisa segera mengambil tindakan yg lebih nyata dalam kepengurusan tenaga kerja kita yg ada di luar sana... bukan sekedar nyari uang buat biaya hidup di negara sendiri.. tapi secara tidak langsung bantu pemerintah untuk penghasilan devisa negara....

Trademaks
16-07-07, 03:17
Bagaimana u melihat kebijakan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia dalam menaikkan gaji TKI ( selengkapnya.. http://www.waspada.co.id/berita/nasional/artikel.php?article_id=95353 ) ?

Veronica
17-07-07, 18:14
Kebanyakan TKI yang pergi keluar negeri rata2 cuma jadi pembantu(Maid), ini membuktikan kalau TKI Indonesia bukan cuma tidak siap kerja tapi juga nga punya Skill untuk mendapatkan pekerjaan yang lain...

Lagian para TKI, terutama para TKW, mungkin cuma lulus SMU dan jangan heran kalau ada yang belom, dan dengan keadaan mereka yang seadanya, cuma bisa mengadu nasib ke negeri lain dan pekerjaan yang paling simple yang bisa dilakukan adalah mengurus pekerjaan rumah tangga....

Andai Para TKI dibekali training dulu sebelum di kirim keluar negeri, dan seharusnya para perusahaan yang mengirim TKI ke luar negeri bisa mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan training yang para TKI jalani....

Misal di negara tetangga memerlukan tenaga kerja untuk bekerja di perkebunan, maka sebelum para TKI di kirim ke sana ,diberi pelatihan dulu, sehingga begitu mereka tiba mereka sudah siap kerja....

Tapi mungkinkah? lagipula berapa macam pelatihan yang harus disediakan? ini urusan Pemerintah atau Perusahaan yang mengirim TKI?

Hahahaahaha Om pemikiran u kayaknya terlalu NAif de
Kerja di perkebunan??lebih baik negara tetangga Mengambil dari Rakyatnya sendiri daripada TKI or TKW

Ga punya SKill untuk mendapatkan pekerjaan LAIn??
wew Gmana MAu dapat pendidikan yang layak makan aja susah

Lagian GAji jadi TKI tuh besar OM,,,Biasanya yang uda jadi TKI klo diajak KErja Jadi MAID di Indonesia suka BElahgu minta Upah seperti yang dibayar di Luar negeri :p

Trademaks
20-07-07, 17:17
Membicarakan masalah TKI memang tidak akan pernah habis-habisnya. Silih berganti kejadian dan peristiwa tentang nasib TKI di luar negeri telah diberitakan secara luas di media massa. Sebut saja, mulai dari kasus penganiayaan TKI, pemulangan secara paksa (oleh Pemerintah Malaysia), bahkan sampai pada ancaman hukuman mati atas TKI seperti yang terjadi di Arab Saudi.

Menurut u, sejauh mana seh kompleksitas permasalahan TKI yang terjadi sekarang ini?

IsabeL
24-07-07, 16:57
masalah TKI bisa diselesaikan Klo pengiriman TKI itu sendiri dihentikan...

Trademaks
28-07-07, 23:26
Semua orang tahu, bahwa proses yang harus dilalui untuk mengurus paspor Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sangatlah sulit dan berliku. Selain dihadapkan pada birokrasi yang ribet, mengurus paspor TKI juga berhadapan dengan para calo.

Banyak TKI yang tidak mendapat pengakuan di negara tempatnya bekerja, karena dokumen yang disertakan untuk mengisi aplikasi mereka saat membuat paspor tidak sesuai dengan apa yang diinginkan pemerintah setempat.

Bagaimana u melihat kenyataan yang ada, mungkinkah proses pengurusan dan paspor TKI masih tetap rumit ?

XyzaX
29-07-07, 10:09
mobikin lapangan kerja di sini buat ngasi kerjaan tki2 itu? emang lo kira tki itu punya skill apaan? kerjaan apa yg mereka bisa kerjain?

tki indonesia mayoritas itu ya PRT & KULI..
nasib mereka emang kasian, tapi ga terlepas dari kebodohan mereka dan ketidakseriusan pemerintah dalam ngebenahin birokrasi yg celahnya dimana2..

jadi, sampai pemerintah ga niat buat bantu tki, jgn harap tki dihargai..

bikin lahan biar bekerja disini aja? ngimpi kali yeeee..

MimiHitam
29-07-07, 10:33
ga ngimpi kali ye kali.. jadi penjaga toko emang perlu keterampilan? latian dikit juga bisa, dagang bisa.. jadi penjait juga dilatih bisa... ga arus kuli ato PRT lha

Trademaks
04-08-07, 03:01
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Markas Besar Polri dan Departemen Luar Negeri, Kamis (2/8), akhirnya sepakat membentuk satuan tugas terpadu untuk menangani tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Kesepakatan tersebut dicapai Mabes Polri bersama Depnakertrans dan Deplu dalam rapat hari ini di Jakarta.

Pertemuan itu dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Makbul Patmanegara bersama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno dan jajaran departemen terkait. Satgas tersebut dibentuk menyusul berbagai kasus yang dialami TKI akhir-akhir ini.

Menakertrans berharap Satgas tersebut mampu menangani masalah para TKI di luar negeri dengan cepat. Menurut Menakertrans, tim tersebut akan segera bekerja dalam waktu dekat. Selama ini, Deplu mencatat sudah 432 kasus TKI di luar negeri yang mendapat perlindungan KBRI di negaranya bekerja.

Bagaimana u menilai keberadaan satgas ini?


referensi : http://www.metrotvnews.com/

Trademaks
09-08-07, 00:00
Kasus penganiayaan yang dialami Rumiati, TKW (tenaga kerja wanita) asal Banyumas, Jawa Tengah, di Malaysia berakhir damai. Kemarin wanita 23 tahun tersebut sepakat mencabut laporan terhadap majikannya, Kim Yiem, setelah mendapat kompensasi uang Rp 70 juta.

Upaya damai Rumiati dan majikannya tersebut sebenarnya sudah dimulai pekan lalu. Saat itu, suami Kim, Yong Sow Wei, menawarkan pembayaran gaji Rumiati selama setahun sebagai kompensasi mencabut laporan penganiayaan. Nilainya mencapai RM 5.400 (sekitar Rp 13.500.000). Sebab, tiap bulan, Rumiati digaji RM 450 (sekitar Rp 1.125.000). Namun, tawaran itu ditolak.

Kemarin Kim kembali menemui Rumiati di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Dia kembali datang membawa misi perdamaian agar korban penganiayaan tersebut mencabut laporannya di kantor polisi.

Selama perundingan, Rumiati didampingi Kepala Satgas Pelayanan dan Perlindungan WNI KBRI Tatang B. Razak. "Kami hanya mendampingi Rumiati. Keputusannya ada di tangan dia. Apakah memilih jalur hukum atau berdamai," kata Tatang.

Dalam pertemuan itu, Rumiati akhirnya memastikan ingin berdamai. Alasannya, selama ini penanganan hukum kasus yang menimpa WNI di Malaysia selalu memakan waktu cukup lama. Misalnya, kasus Nirmala Bonat yang tak kunjung selesai meski sudah ditangani selama tiga tahun.

Selain itu, Rumiati tak ingin bertahan lebih lama di Malaysia. Dia mengaku sudah trauma mengais rezeki di negeri orang dan memilih ke tanah kelahirannya di Banyumas, Jawa Tengah.

Setelah sempat alot, akhirnya Rumiati dan mantan majikannya sepakat kompensasi yang diberikan RM 20 ribu (sekitar Rp 50 juta). Plus uang asuransi Rp 20 juta sehingga total uang yang diterima Rumiati dari mantan majikannya tersebut Rp 70 juta.

"Kedua belah pihak sudah sepakat. Dalam waktu dekat, Rumiati akan kembali ke tanah air setelah dua bulan bekerja di Malaysia. Kami akan terus memantau Rumiati hingga meninggalkan Malaysia," terang Tatang.

Seperti diberitakan, selama dua bulan, Rumiati dianiaya sang majikan, Kim Yiem. Dia mengaku kerap dipukul dengan rotan, dihantam dengan batu, dan tubuhnya diinjak oleh ibu tiga anak tersebut. Akibatnya, tubuh Rumiati -mulai kaki hingga kepala- mengalami luka cukup serius.

Bukan hanya dianiaya, gaji PRT nahas tersebut juga tidak pernah dibayarkan. Akibatnya, Senin (30/7) lalu, Rumiati kabur dari rumah majikan di Jalan Desa Bahagia Nomor 42 Kuala Lumpur.

Dia melaporkan kasus itu ke kantor polisi setempat. Setelah menerima laporan tersebut, polisi langsung menangkap Kim. Sementara Rumiati dibawa ke penampungan Kantor KBRI di Kuala Lumpur. Sehari setelah ditahan, Kim dikeluarkan dari tahanan dengan status ikat jamin (penangguhan). Sejak itu, majikan Rumiati tersebut mengajak berdamai.


Pengiriman TKI ke Saudi Dihentikan

Reaksi Tewasnya Dua TKW
JAKARTA - Pemerintah Indonesia menghentikan sementara pengiriman tenaga kerja ke Arab Saudi. Penghentian itu merupakan protes atas lemahnya perlindungan kepada buruh migran sehingga dua TKW asal Indonesia dianiaya sampai tewas oleh sembilan anggota keluarga majikannya di Riyadh, Sabtu lalu.

"Sudah ada permintaan dari KJRI Jeddah agar kita menghentikan dulu pengiriman TKI ke Arab Saudi. Dalam waktu dekat akan kita hentikan sambil menunggu perkembangan kasus itu," ujar Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) Jumhur Hidayat di Jakarta kemarin.

Selain mengajukan protes keras, BNP2TKI berencana melobi otoritas penempatan tenaga kerja asing Arab Saudi untuk memperberat syarat calon majikan yang boleh menggunakan tenaga kerja asal Indonesia. Selain berpendidikan minimal sarjana, keluarga calon majikan harus berpenghasilan minimal 120 ribu real atau sekitar Rp 85 juta per bulan.

Jumhur mengungkapkan, berdasar informasi yang diterima lembaganya, dua jenazah TKW yang meninggal telah teridentifikasi dan segera dipulangkan ke Indonesia. Sementara, dua TKW lain yang luka-luka telah diamankan dan kini menjalani perawatan di RS Aflaj di Riyadh.

"Empat TKW yang disiksa hingga luka dan meninggal itu berasal dari Karawang, Serang, dan Jember. Yang luka bernama Romini Surthi, 30, dan Tari Bibitarfin, 27. Sementara, identitas dua TKW yang meninggal belum kami ketahui," jelasnya.

Berdasar informasi yang diterima BNP2TKI, kedua korban tewas karena benturan yang sangat keras di kepala. Pelaku utama penganiayaan yang masih berusia 17 tahun menuduh mereka kerasukan ***** dan melakukan guna-guna kepadanya.

BNP2TKI, menurut Jumhur, terus berkoordinasi dengan KBRI di Riyadh untuk memantau perkembangan kasus itu. Meski demikian, dia memastikan sembilan anggota keluarga majikan keempat korban tersebut telah ditangkap dan tengah menunggu proses hukum.

Jumhur juga memastikan para pembunuh dua TKW itu akan mendapatkan hukuman pancung sesuai dengan ketentuan hukum positif di Arab Saudi. Namun, bila mereka mendapatkan ampunan dari keluarga korban, para majikan wajib membayar denda sekitar Rp 500 juta per korban meninggal.

TKW yang meninggal di Arab Saudi itu menyebabkan LSM Migrant Care mendesak pemerintah untuk memperbarui perjanjian bilateral penempatan buruh migran Indonesia di negara teluk tersebut.

"Indonesia harus menuntut Arab Saudi sebagai anggota Dewan Hak Asasi Manusia PBB bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi terhadap buruh migran Indonesia," ujar Direktur Migrant Care Anis Hidayah.

Migrant Care juga berencana membawa dan mempersoalkan kasus kekerasan terhadap buruh migran Indonesia di Arab Saudi itu dalam Sidang Sesi Ke-71 Komisi Penghapusan Diskriminasi Rasial (United Nations Committee on the Elimination of Racial Discrimination) PBB di Jenewa, 8-14 Agustus mendatang.

"Migrant Care juga akan mendesak UN Special Rapporteur on the Human Rights of Migrants untuk segera melakukan investigasi meluasnya kasus kekerasan buruh migran Indonesia di Arab Saudi."


referensi : http://www.indopos.co.id/

AcanthaZ
10-08-07, 19:52
TKI kasihan cari dollar, tapi harga diri mereka semua Hilang...
Harusnya PEmerintah ikut menjaga Agen2 TKI agar tidak sembrono cari tempat untuk cari Dollar di Luar Negeri...

Trademaks
13-08-07, 22:34
PONOROGO - Akibat ulah salah seorang oknum pegawai Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Ponorogo, puluhan Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) dan Calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Pasalnya, oknum yang diketahui bernama Subowo tersebut telah menerima setoran dari puluhan CTKI dan CTKW untuk berangkat ke Korea Selatan. Namun, hingga hari yang dijanjikan mereka tidak kunjung berangkat lantaran uang yang disetor dibawa lari oleh oknum tersebut.

Menurut Haritandi (24), CTKI asal Desa Tajek, Kecamatan Siman, dia mengaku sudah menyetor uang senilai Rp42 juta kepada oknum tersebut dengan janji akan segera diberangkatkan ke Korsel.

"Tapi setelah saya tunggu selama tiga bulan ternyata janji itu bohong belaka. Malah Subowo juga menghilang dari jajaran Disnakertrans Ponorogo," ujarnya, Senin (13/8/2007).

Ia berharap polisi segera menangkap oknum tersebut dan diproses hukum. Ia juga meminta pihak Disnakertrans Ponorogo mau bertanggung jawab dan mengembalikan uang yang terlanjur disetor.

Pengakuan serupa juga diuangkapkan Supriyadi (26), CTKI asal Desa Sumoroto, Kecamatan Ponorogo. Menurut dia, cara yang dilakukan oleh oknum itu dalam mengelabui CTKI dan CTKW adalah dengan cara mendatangi rumah-rumah CTKI dan CTKW setelah mereka terdaftar di Disnakertrans.

"Ia berjanji akan mempercepat proses pemberangkatan dengan meminta uang setoran tertentu. Saya juga telah menyetor Rp25 juta. Tapi hingga waktu yang ditentukan, kami juga belum berangkat," ujar Supriyadi.

Ketua Komisi DPRD Kabupaten Ponorogo, Sutiyas Hadi Riyanto, saat dikonfirmasi perihal ini mendesak agar pihak Disnakertrans Ponorogo mau bertanggung jawab atas ulah yang diperbuat salah satu pegawainya tersebut.

"Disnakertrans Ponorogo harus turut terlibat dan bertanggung jawab atas kasus penipuan yang melibatkan orang dalam disnakertrans tersebut. Sebab, staf Disnakertrans yang seharusnya mensosialisasikan kemudahan dan proses serta cara pemberangkatan justru mengelabuhi para calon TKI," ujarnya.


referensi : http://www.okezone.com/


Tanggapan ?

doubledoank
15-08-07, 03:45
bukan cuma sekali ini aja terjadi kasus penipuan berkedok agen tenaga kerja...... dan nampaknya semakin parah saja kejadian yang dialami oleh para calon TKI dan TKI yang telah bekerja di luar negeri... entah disiksa atau di bunuh.... ...

Trademaks
15-08-07, 13:36
Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Darah Metro Jakarta Raya meringkus empat orang anggota sindikat pengirim Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal. Keempat tersangka adalah Rita, Ahmad Subowo, Hendra S. Sugilar dan Samacha alias Maya. Maya adalah pimpinan sindikat tersebut. Sejak Februari 2006 keempat tersangka telah memberangkatkan 1.103 TKI ke Syria, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Jordania, dan Turki.

Tertangkapnya sindikat ini bermula saat Rita, Subowo, dan Hendra berencana memberangkatkan 20 TKI ke Malaysia. Namun, pemberangkatan itu berhasil digagalkan. Menurut Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Sigit Sudarmanto, secara umum modus operasi para tersangka adalah dengan cara memalsukan dokumen, seperti Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga dan akte kelahiran untuk membuat paspor.

Berdasarkan pengakuan para tersangka, mereka telah bekerja sama dengan sejumlah agen yang berada di negara tujuan. Setiap TKI yang dikirim dihargai oleh agen sebesar US$ 1.100 atau setara dengan Rp 10,3 juta per kepala. Dengan dikirimnya 1.103 TKI ke luar negeri, sindikat ini mendapatkan keuntungan sebesar Rp 11,4 miliar.

Setelah pesanan diterima, sindikat ini kemudian bergerilya ke daerah-daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, bahkan hingga ke Sulawesi untuk mencari calon TKI yang bersedia diberangkatkan. Pengiriman TKI ilegal ini diperkirakan merugikan negara sebesar Rp 600 juta.

Para tersangka kini ditahan di Polda Metro Jaya. Para tersangka akan dikenakan undang-undang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan undang-undang tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dengan ancaman hukuman 16 tahun penjara.


referensi : http://www.metrotvnews.com/

ekspresi
16-08-07, 19:33
Jakarta - Keluarga TKW korban penganiayaan menyegel gedung Kedutaan Besar Arab Saudi. Didampingi aktivis Migrant Care, mereka menuntut pelaku penganiayaan dihukum seberat-beratnya.

Mereka tiba di Kedubes Arab Saudi di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur sekitar pukul 17.15 WIB, Kamis (16/8/2007). Begitu sampai, mereka langsung membentangkan spanduk berukuran 2x3 meter.

Spanduk bertuliskan "62 tahun Indonesia merdeka, PRT migran masih tetap tersiksa" dan "Saudi Arabia the killing field for Indonesian woman migrant worker". Spanduk itu juga memuat 4 foto TKW yang menjadi korban kekerasan.

Beberapa kertas putih bertuliskan "DISEGEL" juga ditempelkan di sejumlah tembok dan pagar kedutaan.

Selain itu, mereka juga membawa 3 karpet berukuran besar untuk tahlilan yang akan digelar pukul 19.00 WIB. Rencananya doa bersama itu akan dihadiri oleh Nurul Arifin dan Rieke Diah Pitaloka.

Aksi itu tampak dijaga oleh sekitar 30 personel polisi dari wilayah Jakarta Timur.

ekspresi
17-08-07, 02:50
Kualalumpur (ANTARA News) - Polisi Malaysia menahan satu orang setelah di rumahnya ditemukan mayat pramuwisma asal Indonesia dengan luka lebam di bagian leher dan badannya.

Korban bernama Kunasir (24 tahun) diyakini dianiaya sebelum meninggal, kata kepala kepolisian distrik, Zainal Rashid.

Majikan korban menyatakan dia dan istrinya menemukan mayat pramuwisma tersebut setelah pulang kerja pada Selasa malam, kata Zainal sebagaimana dikutip koran "Star" hari Kamis.

Polisi menggolongkan perkara tersebut sebagai pembunuhan dan sedang mencari istri laki-laki tersebut, yang hilang sejak peristiwa itu terjadi.

Data resmi menunjukkan bahwa hingga pertengahan 2006, sekitar 30 persen dari 1,84 juta pekerja asing, yang terdaftar di Malaysia, bekerja sebagai pramuwisma.

Jumlah terbesar pramuwisma berasal dari Indonesia, disusul Filipina dengan 20 ribu pekerja.

Koran setempat sering melaporkan bahwa pramuwisma asal Indonesia, yang gajinya sedikit-sedikitnya 450 ringgit (sekitar Rp1,2 juta), menjadi korban kekerasan majikan mereka, demikian DPA.(*)

AcanthaZ
17-08-07, 15:31
argh...
TKI jgn hanya di kirim ke Malaysia dan Arab gitu kek...
mending kerja sama dengan Perusahaan Korea Selatan, Australia, USA... hanya 1 atau 2 orang yg tersakiti di 3 negara itu... lagian negara itu butuh banyak tenaga murah loh.... gaji 800 dollar = 6.4juta di indonesia kan?
gaji 15dolar/hour loh^^

Trademaks
18-08-07, 02:42
Banyak berita menyebutkan bahwa jumlah kasus penganiayaan terhadap TKW di Arab Saudi tertinggi di seluruh negara penempatan TKI.

Sepanjang Januari-Juni 2007 saja tercatat 118 kasus. 20 kali lipat lebih tinggi bila dibandingkan kasus serupa di Malaysia yang hanya 6 kasus.

Terkait tingginya angka penganiayaan dan pelecehan seksual ini, langkah terbaik seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah ? Pemutusan hubungan kerja, mungkinkah itu jalan yang terbaik ?

ekspresi
19-08-07, 04:11
Gaji TKI terbesar di Korsel

Tapi knp jarang TKI ke korsel? gw pernah baca di koran mana lupa , Tki indonesia jrg yg mau ke koresel krn perbedaan Iklim dan Budaya yg sangat Berbeda.

Trademaks
19-08-07, 21:49
Pemerintah RI dituntut tegas membela dan melindungi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri agar tidak terjadi lagi tindak kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan majikan.

Staf Ahli Rektor Universitas Jambi, Winarno SH MH mengutarakan di Jambi, Minggu, tidak bisa lagi main-main negara harus bersikap tegas dalam membela dan melindungi warganya yang bekerja di luar negeri.

Ia menilai selama ini negara belum bersikap tegas dalam melindungi para TKI, bahkan terkesan tidak serius dan saling menyalahkan atau mencari kembing hitam.

Penganiayan dan tindak kekerasan yang menimpa para TKI di luar negeri merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang memerlukan perhatian serius bagi negera RI.

Ketegasan dan komitmen pemerintah dalam menjamin keselamatan dan keamanan para TKI yang mengadu nasib di luar negeri iselama ini hanya sebatas pembahasan namun belum disertai tindakan.

Ramainya TKI mengadu nasib di luar negeri itu juga disebabkan keterbatasan lapangan kerja di dalam negeri yang belum mampu disediakan oleh pemerintah atau negara.
Besarnya jumlah TKI bekerja di luar negeri juga dampak dari belum mampunya pemerintah menjamin kesejahteraan rakyat terutama ketersediaan lapangan kerja.

Pemerintah belum berhasil menciptakan kesejahteraan di dalam negeri sehingga terjadi mobilitas sumber daya manusia ke luar negeri, dan itu tidak diiringi sikap pemerintah untuk memperhatikan dan melindungnya warganya yang bekerja di negara orang tersebut.

Seharusnya pemerintah memperhatikan dan melindungi TKI itu, karena inisiatif mereka bekerja di luar negeri sudah mengurangi beban negara dalam mengurangi angka pengangguran.


referensi : http://www.republika.co.id/

MimiHitam
24-08-07, 19:16
24/08/2007 18:48 WIB
Keluarga TKI Korban Penyiksaan di Arab Ngadu ke Gus Dur
Andi Saputra - detikcom

Jakarta - Nasib TKI yang dianiaya majikannya di Arab Saudi belum jelas. Berbagai cara dilakukan keluarga korban untuk mengetahui nasib mereka.

Demonstrasi yang dilakukan keluarga korban ke Kedubes Arab Saudi tidak mendapat tanggapan. Mereka pun lantas mengadu ke Wapres Republik Mimpi Jarwo Kuat. Tak berhenti sampai di situ, keluarga korban kemudian mengadu ke mantan Presiden Gus Dur.

Seluruh keluarga korban mengaku tidak akan memberikan maaf kepada si penganiaya. Mereka meminta para pelaku dihukum seberat-beratnya.

Seperti yang disampaikan suami Tari binti Tarsim, Deden Eka Sunandar. Dia masih bingung memikirkan nasib istrinya sekarang. Maklum, Tari dikabarkan 'diculik' polisi Arab Saudi.

"Saya minta agar kasus itu cepat selesai, sehingga dia (Tari) cepat kembali ke Indonesia," curhat Deden.

Pengaduan juga dilakukan Caromi yang merupakan kakak kandung TKI naas lainnya, Rumini. "Saya ingin adik saya cepat dipulangkan, apapun keadaannya," kata dia dengan mata merah.

Menanggapi aduan-aduan ini, mantan orang nomor satu RI ini mengaku kesulitan menyelesaikan kasus tersebut. Hal itu dikarenakan Indonesia tidak berani meminta Arab Saudi bersikap tegas terhadap pelaku.

Selain itu pandangan masyarakat Arab yang memandang rendah masyarakat Indonesia yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga. "Mereka (TKW) selalu dicekoki bahwa masyarakat Arab paling bagus, lalu Islam yang paling benar. Akses lewat pendekatan ulama pun susah," cetus Gus Dur.

Keluarga korban yang didampingi artis Rieke Diah Pitaloka dan beberapa LSM yang peduli masalah TKI dan perempuan menuntut Deplu memanggil Dubes Indonesia di Arab Saudi. Dubes RI diminta bertanggung jawab secara penuh untuk menuntaskan kasus tersebut.

"Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) dan Depnakertrans RI harus mengusut dan menindak tegas Perusahaan Jasa TKI (PJTKI) yang memberangkatkan TKW tersebut," kata Rieke.

4 TKI yang mengalami nasib naas di Negeri Gurun itu adalah Siti Tarwiyah, Susmiyati, Ruminih, dan Tari. Mereka bekerja di tempat yang sama dengan majikan yang sama pula. Akibat penyiksaan dari majikannya, Siti Tarwiyah dan Susmiyati tewas. Sedangkan Ruminih dna Tari harus mendapat perawatan intensif di RS. Namun saat di RS, Tari 'diculik' polisi Arab Saudi. (nvt/sss)
http://www.detiknews.com/indexfr.php...462/idkanal/10

MimiHitam
24-08-07, 19:21
Mayoritas Gaji TKI di Malaysia tidak Dibayar Majikan


Mereka merasakan betapa pahitnya menjadi TKI di Malaysia, terlebih yang jadi TKW dengan status pembantu/babu. Yang jadi bahan renungan: ini yang sontoloyo siapa? Masyarakat kita yang sengaja mengizinkan dan meng'karya'kan wanita-wanita itu ke Luar Negeri, karena kaum Lelakinya sudah tak punya harga diri lagi shg melepas mereka kesana karena memberi makan kaum wanitapun tak sanggup? Atau Pemerintah yang asal berprinsip mendapat devisa dari keringat mereka?

Tanjungpinang-RoL-- Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Johor, Malaysia, dalam sehari bisa menerima sekitar lima laporan dari TKI yang tidak menerima gaji dari majikannya.

"Mayoritas yang mengadu kepada KJRI itu TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Ada yang sudah 14 tahun bekerja, tapi belum terima gaji," kata Didik Trimardjono Konsul RI di Johor, Malaysia, kepada ANTARA di Tanjungpinang, Kamis.

Menurut Didik, permasalahan itu telah lama terjadi. Kebanyakan TKI illegal yang mengalami nasib sial itu (tak menerima gaji -red).

Namun dalam menyelesaikan masalah TKI, KJRI tidak melihat apakah TKI itu legal atau illegal. Setiap TKI pasti dibantu KJRI. Proses pengambilan hak TKI dari majikan nakal selalu mengalami kesulitan karena para TKI tidak memiliki "job order". Sebaliknya, jika TKI memiliki 'job order', proses pengembalian hak para TKI lebih mudah, dan tidak memakan waktu lama.

"Ada banyak majikan nakal yang enggan membayar gaji TKI. Mungkin karena majikan itu beranggapan kalau TKI illegal tidak mendapat perlindungan hukum dari KJRI," ungkapnya. Ia mengatakan, KJRI bekerja sama dengan aparat kepolisian Malaysia untuk menagih gaji TKI yang belum dibayar para majikan nakal.

Polisi Malaysia yang berada di barisan terdepan dalam menagih gaji TKI. Kalau tidak dibayar juga, majikan dimasukan penjara.

"Sejak tahun 2005 kami bentuk tim buru sergap untuk menagih gaji para TKI. Lumayan, hingga sekarang uang yang berhasil kami selamatkan sebesar Rp8 miliar lebih," ucap Didik.

Didik menyarankan kepada WNI yang tertarik bekerja di Malaysia agar melalui jalur resmi, karena itu lebih menguntungkan dan tidak beresiko.

"Banyak juga TKI resmi yang berhasil. Mereka bisa kerja dengan tenang dan menikmati hasil kerjanya," katanya. TKI yang bekerja di Malaysia secara illegal pasti akan menyesal dikemudian hari. Sebab mereka akan ditangkap, dikurung, diperas dan disebat pakai rotan.

"Jangan terjebak dengan tipu daya para calo yang memberangkatkan tanpa administrasi yang lengkap," himbaunya

http://www.republika.co.id/online_de...4332&kat_id=23

Trademaks
27-08-07, 12:59
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno berencana akan bertemu pemerintah Arab Saudi, guna membahas kasus penyiksaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terjadi belakangan ini.

Hal tersebut diungkapkan Erman seusai acara pembukaan Rakornas Depnakertrans oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Depnakertrans, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (27/8/2007).

"kita sudah proses, lusa kita agendakan bertemu dengan kalangan Arab," kata Erman.

Dia menjelaskan, penyiksaan yang dilakukan majikan kepada duta devisa ini, bukan merupakan solusi pemecahan. Baginya, hukum harus ditegakkan sebagai langkah konkret kedua belah pihak.

“Harus ada penegakan hukum dan outputnya adalah keadilan," ujarnya kepada wartawan.

Sebelumnya, empat TKI yang mengalami nasib naas di Negeri Gurun itu yakni Siti Tarwiyah, Susmiyati, Ruminih, dan Tari. Mereka bekerja di tempat yang sama dengan majikan yang sama pula. Akibat penyiksaan dari majikannya, Siti Tarwiyah dan Susmiyati tewas. Sedangkan Ruminih dan Tari harus mendapat perawatan intensif di RS.


referensi : http://www.okezone.com/

MimiHitam
27-08-07, 14:59
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno berencana akan bertemu pemerintah Arab Saudi, guna membahas kasus penyiksaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terjadi belakangan ini.

Hal tersebut diungkapkan Erman seusai acara pembukaan Rakornas Depnakertrans oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantor Depnakertrans, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (27/8/2007).

"kita sudah proses, lusa kita agendakan bertemu dengan kalangan Arab," kata Erman.

Dia menjelaskan, penyiksaan yang dilakukan majikan kepada duta devisa ini, bukan merupakan solusi pemecahan. Baginya, hukum harus ditegakkan sebagai langkah konkret kedua belah pihak.

“Harus ada penegakan hukum dan outputnya adalah keadilan," ujarnya kepada wartawan.

Sebelumnya, empat TKI yang mengalami nasib naas di Negeri Gurun itu yakni Siti Tarwiyah, Susmiyati, Ruminih, dan Tari. Mereka bekerja di tempat yang sama dengan majikan yang sama pula. Akibat penyiksaan dari majikannya, Siti Tarwiyah dan Susmiyati tewas. Sedangkan Ruminih dan Tari harus mendapat perawatan intensif di RS.


referensi : http://www.okezone.com/

nah bagus.. akhienya diproses juga, Arab mesti tanggung jawab, ga bisa cuma ngomong takdir..

Trademaks
28-08-07, 11:16
Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Jumhur Hidayat, menyatakan pemerintah terus berupaya memperbaiki mekanisme penempatan TKI ke Malaysia agar mereka, selain terlindungi hak-haknya, juga diperlakukan sebagai insan bermartabat.

Di dalam negeri, perbaikan dilakukan dengan menangkap pelaku perdagangan manusia (trafficking in person), menyediakan layanan satu atap, memeringkat perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) dan menindak PJTKI yang melanggar ketentuan, katanya di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Senin.

Kepala BNP2TKI bersama Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru Renvyannis Gazali dan rombongan dari KBRI Kuala Lumpur serta beberapa pejabat departemen terkait; dengan satu kapal feri dari pelabuhan Pasir Gudang, Johor, mendampingi 71 TKI yang diusir dari beberapa negara bagian Semenanjung Malaysia setelah selesai menjalani hukuman.

Perbaikan mekanisme penempatan TKI, kata Kepala BNP2TKI, akan dilakukan pula dengan pemerintah negara tujuan, antara lain agar aparat di sana tidak lagi berkata-kata kasar kepada para TKI di era orang sekarang mencari kemartabatan.

Mengenai TKI yang diusir, ia mengatakan pemerintah akan mendata ulang dan melengkapi dokumen TKI yang berniat kembali bekerja di Malaysia untuk memenuhi lowongan/permintaan perusahaan/majikan (job order).

Di seluruh negara bagian Semenanjung Malaysia sejak Januari hingga 26 Agustus 2007, 21 ribu TKI bermasalah telah diusir seusai menjalani masa hukuman, sementara puluhan ribu lainnya masih menunggu selesai masa hukuman.

Mereka yang diusir umumnya tertangkap polisi dan petugas sipil Malaysia ketika tidak dapat menunjukkan kartu ijin kerja, fotokopi paspor atau memang kosong (tanpa dokumen perjalanan sama sekali).

Di atas kapal menuju Tanjungpinang, rombongan Kepala BNP2TKI menerima pengaduan dari delapan TKI, di antaranya Rafiq, asal Gresik, Jawa Timur, yang tetap ditangkap dan dipenjara meski sedang mengurus perpanjangan permit (ijin) kerja melalui mandornya.

Rafiq mengatakan, bersama tujuh kawannya ditangkap petugas sipil di tempat bekerja sebagai buruh bangunan di Subang Jaya Kuala Lumpur, 4 Agustus 2007 dan sebelum dipulangkan melalui Tanjungpinang, dikurung 22 hari di "Camp" Lenggeng, Negeri Sembilan.

"Saya kecewa karena mandor yang juga sesama perantau dari Indonesia tak bertanggung jawab padahal sudah menerima biaya perpanjangan izin kerja," kata Rafiq yang berencana kembali ke Malaysia setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan dan merayakan Idul Fitri di Gresik.

Di antara 71 TKI dan TKW yang diusir itu, terdapat dua orang yang dihukum dengan sabetan rotan di bagian bokong, di antaranya Ibrahim Abdulmuis.

"Rasanya perih selama seminggu. Kulit robek dan berdarah," kata Ibrahim, 28, asal Nanggroe Aceh Darussalam, yang ditangkap Polisi Diraja Malaysia di Shah Alam, 27 Mei 2007 dan diganjar hakim pengadilan dengan hukuman sabetan rotan satu kali selain pemenjaraan.

Ibrahim mengaku kini pulang hanya dengan satu pasang pakaian yang melekat dan satu cadangan.

Pemuda itu masuk ke Malaysia dan sempat bekerja di pabrik pengemasan IDS, tanpa dokumen resmi kecuali kartu korban tsunami Aceh yang ia pinjam dari teman.

Ibrahim bersama 19 kawannya dari Aceh masuk ke Semenanjung Malaysia, setelah gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004, melalui pelabuhan Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau dengan naik feri ke pelabuhan Klang di Kuala Lumpur.

"Saya tak tahu nasib teman-teman," kata Ibrahim yang akan pulang kampung, sebelum kembali ke Malaysia secara resmi.

Sebelum ke Tanjungpinang, di penampungan TKW di kompleks kantor KJRI Johor Bahru, Kepala BNP2TKI menjumpai Darmini, 33 tahun, pembantu rumah tangga asal Cilacap, Jawa Tengah, yang menunggu keputusan pengadilan atas kasusnya yang selama 14 tahun tujuh bulan, majikannya di Taman Sentosa tidak pernah membayar gaji.

Darmini sudah lebih dari setahun berada di penampungan yang hari itu dihuni 38 TKW.

Lamanya proses pengadilan, kata Pejabat Fungsi konsuler KJRI Johor Bahru Wita Purnamasari, telah membuat banyak TKW kembali ke tanah air sebelum mendapatkan hak-haknya melalui putusan hakim.

Di Batam, perwakilan Indonesia di Kuching, Penang, Kuala Lumpur dan Johor Bahru, Selasa pekan ini berkumpul di Batam untuk mengikuti rakor koordinasi teknis guna membuat ketentuan perlakuan dan tanggung jawab bagi perlindungan TKI di Malaysia secara lebih beradab.

"Bila ternyata tidak dapat lagi dicapai perbaikan, saya dengan Menlu dan Menakertrans telah mendiskusikan untuk membuat perbaikan mekanisme tersebut," kata Jumhur.

Pada Minggu (26/8) di ladang sawit Rengam, Johor, Kepala BNP2TKI bersama Setia Usaha Agung (Sekretaris Jenderal) Persatuan Pekerja Perkebunan Nasional (National Union of Plantation Workers/NUPW) Semenanjung Malaysia Dato G Sankaran, mendeklarasikan kerja sama perlindungan bagi TKI dalam menghadapi perusahaan/pengusaha/majikan.


referensi : http://www.antara.co.id/

pawz
30-08-07, 11:40
Harusnya Indo belajar seperti Filipina... diamana pemerintah menghargai dan meilindungi para TKI.

MimiHitam
02-09-07, 08:41
Soal paspor TKI
RI siap batalkan kesepakatan dengan Malaysia Kuala Lumpur (Espos) - Mennakertrans Erman Suparno akan berjuang untuk membatalkan kesepakatannya dengan Pemerintah Malaysia soal paspor TKI boleh dipegang oleh majikan, karena kesepakatan itu banyak merugikan TKI.
”Dalam pertemuan dengan Pemerintah Malaysia pada September 2007 nanti saya akan perjuangkan agar kesepakatan itu dibatalkan karena banyak merugikan TKI dan melanggar konvensi ILO dan melanggar HAM,” katanya di sela-sela mendampingi Wapres Jusuf Kalla ke Kuala Lumpur, Sabtu (1/9).
”Saya terima banyak laporan mengenai pemerasan terhadap TKI oleh oknum polisi dan Rela akibat paspor tidak dipegang oleh pekerja. Artinya, sudah ada masa di mana majikan Malaysia pegang paspor pekerja maka saatnya diberikan kesempatan paspor itu dipegang oleh pekerja,” katanya.
Erman menambahkan, biarlah nanti majikan Malaysia menciptakan iklim pekerja agar mereka betah dan tidak melarikan diri.
Indonesia dan Malaysia sepakat untuk pekerja informal dan unskill, paspor pekerja wajib dipegang majikan. Kesepakatan ini menuai protes ILO (International Labour Organization) dan juga PBB karena paspor itu merupakan hak penuh dipegang oleh pekerja.
Aktivis Migrant Care Malaysia, Alex Ong, menambahkan organisasinya telah memprotes kesepakatan itu, bahkan juga memprotes peraturan imigrasi Malaysia yang melarang pekerja asing kimpoi.
”Persoalan jodoh itu kan di tangan Tuhan. Bisa nikah dengan siapa saja di mana saja. Sebagai negara religius, Malaysia tidak seharusnya membuat larangan menikah bagi pekerja asing,” katanya.
Terpisah, pengamat politik dari Universitas Nasional, TB Massa, meminta pemerintah mengevaluasi kebijakannya lagi, terutama terkait TKI di Malaysia. Menurut Massa, hal itu perlu dilakukan untuk menunjukkan kepada negeri jiran tersebut bahwa RI punya posisi kuat.
”Dari kejadian ini harusnya pemerintah mengevaluasi lagi kebijakan-kebijakannya bahwa posisi kita juga kuat. Pemerintah harus berani mengeluarkan kebijakan dan meningkatkan kualitas TKI,” tegas Massa dalam diskusi Kerikil Tajam Hubungan RI-Malaysia yang digelar Trijaya FM di Restoran Warung Daun, Jl Monginsidi, Jakarta, Sabtu (1/9).
Sementara itu, Ketua umum PP Muhammadiyah Din Samsudin mengatakan hubungan Indonesia dan Malaysia harus didasari oleh sikap saling menghargai dan menghormati.
“Jangan warga negara Indonesia dipukuli, dikejar-kejar, dipenjarakan hanya karena tidak membawa paspor ketika jalan-jalan di Malaysia,” kata Din ketika melantik pengurus Muhammadiyah cabang Kuala Lumpur.
Menurut dia, umat Islam di dunia berharap kebangkitan Islam dimulai di Indonesia dan Malaysia. Jika Indonesia dan Malaysia berperang maka pupuslah sudah harapan itu. Oleh karena itu, kata Din, hubungan baik kedua negara yang serumpun ini bagaimana pun caranya harus dipertahankan. “Jangan sampai rusak tetapi dasarnya harus saling menghargai dan menghormati,” tegasnya.
Di Pekalongan, Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Badawi atas nama masyarakatnya telah meminta maaf kepada rakyat Indonesia, karena itu permintaan maaf tersebut wajib diterima.
”Bagi kita, pemerintah dan masyarakat Indonesia sebagai umat beragama kalau orang sudah meminta maaf wajib kita terima,” kata Wapres.
Lebih lanjut Wapres mengatakan, sebelum ini masyarakat Indonesia mendesak adanya permintaan maaf dari Menlu Malaysia, namun sekarang justru permintaan maaf itu langsung datang dari PM Malaysia.
”Ini jauh lebih tinggi. Jadi artinya pemerintah menganggap kejadian ini (penganiayaan Donald) sebagai suatu kejadian yang sama sekali tidak diharapkan, ” kata Wapres.
Wapres juga mengatakan bahwa PM Abdullah menyampaikan salam kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan seluruh masyarakat Indonesia. Wapres juga mengaku telah berbicara dengan Wakil PM Datuk Nadjid.
Sementara mengenai kasus penganiayaannya, Wapres menyerahkan kepada korban Donald jika akan melakukan penuntutan secara perdata. Sedangkan untuk kasus pidananya, Wapres telah menginstruksikan KBRI untuk segera menunjuk tim pengacaranya.
Menurut Wapres apa yang terjadi yakni kasus penganiayaan terhadap Donald K tersebut bukan merupakan kesalahan bangsa, tetapi merupakan kesalahan oknum polisi.
”Ini kalau di Indonesia sering kita sebut, kesalahan oknum polisi, tentu bukan kesalahan seluruh bangsa Malaysia, tapi tentu hukum memang harus tetap jalan,” kata Wapres.
Pemerintah Malaysia, menurut Kalla, juga telah mengakui insiden itu merupakan kesalahan aparatnya. ”Pemerintah Malaysia menganggap ini suatu kejadian yang sama sekali tidak diharapkan. Mereka mengaku polisi yang salah,” kata Kalla. - Ant/dtc

Trademaks
03-09-07, 19:20
Seorang wanita Malaysia dituduh membunuh pembantu rumahtangga (PRT) seorang wanita Indonesia, demikian menurut pengacaranya Kamis (30/8), sementara seorang pejabat menyatakan PRT itu tewas akibat penganiayaan berat dari majikan.
Pengadilan menuduh Cheng Pei Ee membunuh PRT itu, yang tubuhnya ditemukan di kamarnya pebuh dengan bekas-bekas penyiksaan. Dia ditemukan telah menjadi mayat di kamarnya awal bulan ini, demikian menurut pengacara Gooi Soon Seng. Jika terbukti bersalah, Cheng dapat menghadapi hukuman mati.

Suami Cheng, Goo Eng Keng, yang memanggil ambulan setelah penemuan mayat PRT itu, dituduh menghilangkan barang bukti, namun telah dibebaskan dengan jaminan 9.000 ringgit (kira-kira Rp.24,5 juta), kata Gooi. Kepala polisi lokal Zainal Rashid Abu Bakar mengatakan PRT berusia 24 tahun itu meninggal dunia akibat pendarahan pada bagian dalam tubuhnya, namun dia menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Tatang Razak, seorang pejabat KBRI Kuala Lumpur mengatakan PRT itu, yang disebut namanya Kunarsih telah mengalami penganiayaan. Dia telah mulai bekerja di rumahtangga pasangan itu di Kuala Lumpur empat bulan lalu. Para pejabat Indonesia dan Malaysia telah menyatakan kutukannya atas pembunuhan itu, dan mengatakan tindakan itu menimbulkan dampak buruk bagi para majikan Malaysia.

Malaysia amat bergantung pada bantuan tenaga kerja kasar asing, terutama warga Indonesia, untuk menangani pekerjaan-pekerjaan kasar, termasuk konstruksi dan perkebunan. Kira-kira 300.000 PRT Indonesia saat ini masih bekerja di Malaysia.
Para pejabat mengatakan perlakuan buruk terhadap para pembantu rumahtangga itu belum sampai meluas. Namun kira-kira 1.200 PRT Indonesia melarikan dirinya dari para majiikan mereka setiap bulannya. Alasan bagi pelarian itu selalu saja masalah gaji, penganiayaan dan ketidakpuasan dengan jam kerja yang terlalu panjang. PRT itu juga mengeluhkan tentang kurangnya kebebasan mereka dan alasan lain. Razak mengatakan dia berharap kasus lain menyangkut penganiayaan PRT akan segera diproses.

Dia mengatakan 15 PRT saat ini menginap di KBRI, menunggu peradilan majikannya. Salah satu dari mereka adalah yang majikannya telah dituduh melakukan penganiayaan berat bagi PRTnya yang mengakibatkan sang pembantu tersebut mengalami cedera parah. Dia telah menghuni penampungan sementara KBRI itu selama tiga tahun, sementara peradilan atas majikannya itu berlangsung lamban, katanya.


referensi : http://www.waspada.co.id/


Lagi, TKI Disiksa di Negeri Jiran

http://static.liputan6.com/200709/070903btki.jpg

TKI asal Palembang yang disiksa majikan di Malaysia.


Palembang - Nasib tenaga kerja Indonesia di Malaysia kian tragis. Seperti yang menimpa Maryati, baru-baru ini. Tenaga kerja wanita asal Palembang, Sumatra Selatan, ini kabur dari Negeri Jiran karena tak tahan atas perlakuan majikannya. Maryati mengaku kepalanya kerap dipukul dan tubuhnya dicambuk dengan rotan.

Namun penderitaan Maryati tak berlangsung lama. Polisi Diraja Malaysia mau mengambilkan paspornya dari sang majikannya. Maryati pun bisa pulang ke Tanah Air. Nahasnya, saat tiba di Palembang, pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) PT Rahmat Mandiri Jakarta yang memberangkatkan Maryati tidak mau bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Sementara di Mataram, Nusatenggara Barat, sekitar 200 mantan TKI menggelar aksi antikekerasan. Dalam aksinya, massa mengadukan sejumlah tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang pernah dialaminya. Mereka menuntut agar segera dibuat peraturan mengenai perlindungan TKI.

Tuntutan ini dapat dimaklumi. Pasalnya, tidak satu pun pengaduan yang direspons dinas atau badan terkait masalah TKI. Kalangan anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Lombok Barat mengaku memahami nasib TKI. Mereka menandatangani pernyataan kesediaan untuk menindaklanjuti tuntutan para buruh migran itu.


referensi : http://www.liputan6.com/

MimiHitam
08-09-07, 20:05
Seorang wanita Malaysia dituduh membunuh pembantu rumahtangga (PRT) seorang wanita Indonesia, demikian menurut pengacaranya Kamis (30/8), sementara seorang pejabat menyatakan PRT itu tewas akibat penganiayaan berat dari majikan.
Pengadilan menuduh Cheng Pei Ee membunuh PRT itu, yang tubuhnya ditemukan di kamarnya pebuh dengan bekas-bekas penyiksaan. Dia ditemukan telah menjadi mayat di kamarnya awal bulan ini, demikian menurut pengacara Gooi Soon Seng. Jika terbukti bersalah, Cheng dapat menghadapi hukuman mati.

Suami Cheng, Goo Eng Keng, yang memanggil ambulan setelah penemuan mayat PRT itu, dituduh menghilangkan barang bukti, namun telah dibebaskan dengan jaminan 9.000 ringgit (kira-kira Rp.24,5 juta), kata Gooi. Kepala polisi lokal Zainal Rashid Abu Bakar mengatakan PRT berusia 24 tahun itu meninggal dunia akibat pendarahan pada bagian dalam tubuhnya, namun dia menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Tatang Razak, seorang pejabat KBRI Kuala Lumpur mengatakan PRT itu, yang disebut namanya Kunarsih telah mengalami penganiayaan. Dia telah mulai bekerja di rumahtangga pasangan itu di Kuala Lumpur empat bulan lalu. Para pejabat Indonesia dan Malaysia telah menyatakan kutukannya atas pembunuhan itu, dan mengatakan tindakan itu menimbulkan dampak buruk bagi para majikan Malaysia.

Malaysia amat bergantung pada bantuan tenaga kerja kasar asing, terutama warga Indonesia, untuk menangani pekerjaan-pekerjaan kasar, termasuk konstruksi dan perkebunan. Kira-kira 300.000 PRT Indonesia saat ini masih bekerja di Malaysia.
Para pejabat mengatakan perlakuan buruk terhadap para pembantu rumahtangga itu belum sampai meluas. Namun kira-kira 1.200 PRT Indonesia melarikan dirinya dari para majiikan mereka setiap bulannya. Alasan bagi pelarian itu selalu saja masalah gaji, penganiayaan dan ketidakpuasan dengan jam kerja yang terlalu panjang. PRT itu juga mengeluhkan tentang kurangnya kebebasan mereka dan alasan lain. Razak mengatakan dia berharap kasus lain menyangkut penganiayaan PRT akan segera diproses.

Dia mengatakan 15 PRT saat ini menginap di KBRI, menunggu peradilan majikannya. Salah satu dari mereka adalah yang majikannya telah dituduh melakukan penganiayaan berat bagi PRTnya yang mengakibatkan sang pembantu tersebut mengalami cedera parah. Dia telah menghuni penampungan sementara KBRI itu selama tiga tahun, sementara peradilan atas majikannya itu berlangsung lamban, katanya.


referensi : http://www.waspada.co.id/


Lagi, TKI Disiksa di Negeri Jiran

http://static.liputan6.com/200709/070903btki.jpg

TKI asal Palembang yang disiksa majikan di Malaysia.


Palembang - Nasib tenaga kerja Indonesia di Malaysia kian tragis. Seperti yang menimpa Maryati, baru-baru ini. Tenaga kerja wanita asal Palembang, Sumatra Selatan, ini kabur dari Negeri Jiran karena tak tahan atas perlakuan majikannya. Maryati mengaku kepalanya kerap dipukul dan tubuhnya dicambuk dengan rotan.

Namun penderitaan Maryati tak berlangsung lama. Polisi Diraja Malaysia mau mengambilkan paspornya dari sang majikannya. Maryati pun bisa pulang ke Tanah Air. Nahasnya, saat tiba di Palembang, pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) PT Rahmat Mandiri Jakarta yang memberangkatkan Maryati tidak mau bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Sementara di Mataram, Nusatenggara Barat, sekitar 200 mantan TKI menggelar aksi antikekerasan. Dalam aksinya, massa mengadukan sejumlah tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang pernah dialaminya. Mereka menuntut agar segera dibuat peraturan mengenai perlindungan TKI.

Tuntutan ini dapat dimaklumi. Pasalnya, tidak satu pun pengaduan yang direspons dinas atau badan terkait masalah TKI. Kalangan anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Lombok Barat mengaku memahami nasib TKI. Mereka menandatangani pernyataan kesediaan untuk menindaklanjuti tuntutan para buruh migran itu.


referensi : http://www.liputan6.com/

coba lihat video di youtube tentang liputan TKI di *********, gua aja hampir nangis ngeliatnye... gua kasian ama negara ini digituin...

seharusnya Indonesia setegas Filipina, 1 orang tenaga kerjanya disiksa, pemerintahnya langsung beraksi..

tapi kalo kita, cuih, pemerintahnya aja peduli diri ndiri, peduli perut ndiri yg makin ndut...

giliran Sutiyoso pas dulu di Australia merasa terhina, dalam sedetik langsung ada nota protes...

MimiHitam
10-09-07, 16:01
Metrotvnews.com, Malang: Penderitaan tenaga kerja Indonesia (TKI) seakan tidak ada hentinya. Kali ini kabar buruk datang dari Sutini, tenaga kerja wanita (TKW) dari Dusun Sumbersari, Desa Sidorjo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Wanita ini baru terbebas dan pulang ke Tanah Air setelah diisolasi selama 11 tahun oleh majikannya di Arab Saudi. Sutini kini sudah berkumpul dengan keluarga di Malang.

Selama 11 tahun bekerja di Al-jouf Sekaka, Arab Saudi, Sutini tidak diperbolehkan pulang oleh majikannya, Edharnar Ruwaili. Jangankan pulang, menerima telepon dari keluarga pun tidak diperbolehkan. Setiap ingin kembali pulang ke Tanah Air, majikannya selalu meminta Sutini menambah waktu setahun lagi.

Keinginan pulang Sutini akhirnya bisa terkabul setelah pihak keluarga melaporkan peristiwa penyekapan Sutini pada pemerintah Indonesia. Menurut ayah Sutini, Tukitno, Sutini berangkat ke Arab Saudi pada 1996 melalui perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) PT Avida Aviaduta. PJTKI ini berjanji akan mengusut kasus Sutini. Namun, hingga saat ini belum ada hasil.(DEN)

MimiHitam
10-09-07, 20:09
Pembantu asal Indonesia dianiaya pejabat KBRI di Kuala Lumpur
Dipetik dari : Utusan Malaysia, Edisi 4 Julai 2007

Amah Indonesia dianiaya pegawai kedutaan sendiri?

Oleh RAMLI ABDUL KARIM

KUALA LUMPUR 4 Julai – Jika selama ini kes-kes penganiayaan pembantu rumah warga Indonesia melibatkan majikan Malaysia tetapi lain pula dialami seorang mangsa yang mendakwa dianiaya pegawai kedutaan republik itu sendiri.

Kejadian "harapkan pagar, pagar makan padi" ini berlaku kepada Parida, 28, yang berasal dari Desa Mojosing, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah dari 2005 hingga April lalu.

Pengarah Indonesian Sociology Research, Khairudin Harahap memberitahu Utusan Malaysia di sini hari ini beliau kesal atas kejadian yang disifatkannya sebagai sangat memalukan itu.

Mangsa mendakwa, dalam tempoh itu dia dijadikan pembantu rumah dengan keringatnya diperah sesuka hati tanpa dibayar gaji oleh 2 pegawai Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.

Paling menyedihkan, dia mendakwa tidak dibayar gaji untuk tempoh 7 bulan melibatkan wang RM 2,800 oleh seorang pegawai kanan KBRI bertugas di bahagian yang bertanggungjawab ke atas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Mangsa mula bekerja di rumah pegawai tersebut di Ampang sejak 8 Januari 2006 iaitu tidak lama selepas 'ditipu' seorang pegawai KBRI yang sebelum ini langsung tidak membayar gajinya setelah mengerah keringat selama 6 bulan.

Parida mendakwa segala penganiayaan ke atas dirinya itu ketika membuat aduan kepada organisasi bebas mengkaji permasalahan rakyat Indonesia di Malaysia, Indonesian Sociology Research Sdn. Bhd. di sini, pukul 10.30 pagi ini.

Sementara itu, Setiausaha Pertama Penerangan dan PerhubunganAwam KBRI, Eka A. Suripto ketika dihubungi menegaskan, pihaknya belum menerima sebarang laporan berkaitan kes tersebut.

Bagaimanapun, kata beliau, pihaknya akan menjalankan siasatan sekiranya pihak kedutaan menerima laporan rasmi dari wanita berkenaan.

Menurutnya, ekoran sikap yang tidak bertanggungjawab kedua-dua pegawai KBRI itu, Parida kini terpaksa bersembunyi daripada pihak berkuasa Malaysia berikutan visa pekerja yang sudah tamat tempoh sejak memasuki negara ini pada tahun 2005.

Jelas beliau, Parida diserahkan kepada KBRI pada 2005 oleh seorang majikan warga Malaysia yang tidak selesa menggunakan khidmat pembantu rumah itu selepas 6 bulan menggajikan wanita tersebut secara sah.

Ketika di KBRI untuk proses penghantaran pulang, Parida diambil seorang pegawai kedutaan bekerja dengannya sebagai pembantu rumah tetapi tidak dibayar gaji selama 6 bulan menyebabkannya lari semula ke kedutaan dan berkeras mahu pulang ke Indonesia.

"Malangnya, Parida berdepan situasi sama apabila pada 8 Januari 2006 seorang pegawai lebih kanan di KBRI mengambilnya sebagai pembantu rumah tetapi tidak juga dibayar gaji selama 6 bulan menyebabkannya lari April lalu", katanya.

Menurut Khairudin Harahap, kejadian itu sangat memalukan kerana selama ini pemerintah dan rakyat Indonesia begitu prejudis dan memarahi majikan-majikan di Malaysia kerana beberapa kes penganiayaan terhadap pembantu rumah.

"Kini lain pula berlaku, pegawai kedutaan sendiri tindas TKI di Malaysia," katanya.

Sehubungan itu, beliau mendesak supaya pemerintah Indonesia mengambil tindakan tegas keatas kedua-dua pegawai KBRI itu jika mereka terbukti bersalah.

Dalam pada itu, kata Khairudin Harahap, beliau tidak pasti di mana lokasi sebenar Parida sekarang tetapi diberitahu dia sedang bersembunyi dengan rakan-rakannya di sebuah daerah di Selangor.

"Pihak kami akan cuba bantu Parida setakat mana yang boleh dan dibenarkan oleh undang-undang termasuk menunaikan hasratnya untuk pulang ke tanahair secara sah," katanya.

===========================================

komentar gua cuma satu.. 4L! LO (*********) LAGI LO LAGI!

Trademaks
13-09-07, 18:32
^^

diatas , sangat tidak pantas tindakan diatas..




Tulungagung (ANTARA News)- Setelah dinyatakan lolos dari hukuman mati oleh Pengadilan Tinggi Johor Bahru, Malaysia, Maryana (27), warga Dusun Babatan RT 03/RW I, Desa/Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jatim, mengaku kapok menjadi TKI.

"Bagaimanapun juga susahnya hidup di kampung halaman akan saya jalani. Peristiwa itu telah menjadikan saya kapok sebagai TKI," katanya beberapa saat setelah tiba di rumahnya di Dusun Babatan, Kamis.

Ia berusaha melupakan peristiwa yang terjadi di rumah majikannya, Lee Pon Cong, di Johor Bahru, Malaysia pada 26 Agustus 1999 lalu.

Akibat dituduh melakukan pembunuhan terhadap anak majikannya, Lee Kang Lee (3), Maryana harus mendekam di penjara Kajang, Malaysia selama delapan tahun.

"Saya bersyukur pengadilan di sana meringankan putusan hukuman mati. Karena itu saya akan tetap berusaha menghabiskan waktu di desa," katanya menuturkan.

Dalam kasus itu dia dituntut hukuman mati, namun oleh pengadilan setempat hanya divonis 12 tahun penjara. Kemudian gadis lulusan SMP Negeri 1 Gondang itu mendapatkan remisi empat tahun, sehingga pada tahun ke delapan masa hukuman, dia dinyatakan bebas dan diijinkan pulang ke Indonesia.

Saat tiba di kampung halamannya, Maryana disambut bagaikan pahlawan yang baru pulang dari medan pertempuran.

Tak ketinggalan kedua orangtuanya, Mariaji (50) dan Supiyah (48) mengharu-biru menyambut anak sulungnya yang baru saja bebas dari hukuman itu.

"Syukur kita masih bisa bertemu lagi. Coba kalau sejak dulu menuruti nasehat orangtua, mungkin kamu tidak seperti ini," kata Mariaji.

Sejak lulus dari SMP Negeri 1 Gondang, Maryana nekat mengadu nasib sebagai TKI ke Malaysia meski usianya baru 15 tahun. Maryana mengaku mendapatkan paspor, setelah memalsukan usianya menjadi 18 tahun pada 1999.

Dia menjadi pendatang gelap di negeri jiran setelah menempuh perjalanan darat dari Tulungagung-Jakarta. Kemudian dilanjutkan perjalanan laut ke Tanjung Pinang.

Sementara Bupati Tulungagung Heru Tjahjono mengungkapkan rasa bersyukur karena warganya bebas dari hukuman mati di Malaysia dan kini sampai di rumah dengan selamat.

"Kami berharap agar hal ini tidak terjadi lagi pada TKI asal Tulungagung," katanya melalui Kepala Dinas Infokom Kabupaten Tulungagung, Achmad Pitoyo, di rumah Maryana.


referensi : http://www.antara.co.id/

MimiHitam
14-09-07, 07:57
^^

diatas , sangat tidak pantas tindakan diatas..




Tulungagung (ANTARA News)- Setelah dinyatakan lolos dari hukuman mati oleh Pengadilan Tinggi Johor Bahru, Malaysia, Maryana (27), warga Dusun Babatan RT 03/RW I, Desa/Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jatim, mengaku kapok menjadi TKI.

"Bagaimanapun juga susahnya hidup di kampung halaman akan saya jalani. Peristiwa itu telah menjadikan saya kapok sebagai TKI," katanya beberapa saat setelah tiba di rumahnya di Dusun Babatan, Kamis.

Ia berusaha melupakan peristiwa yang terjadi di rumah majikannya, Lee Pon Cong, di Johor Bahru, Malaysia pada 26 Agustus 1999 lalu.

Akibat dituduh melakukan pembunuhan terhadap anak majikannya, Lee Kang Lee (3), Maryana harus mendekam di penjara Kajang, Malaysia selama delapan tahun.

"Saya bersyukur pengadilan di sana meringankan putusan hukuman mati. Karena itu saya akan tetap berusaha menghabiskan waktu di desa," katanya menuturkan.

Dalam kasus itu dia dituntut hukuman mati, namun oleh pengadilan setempat hanya divonis 12 tahun penjara. Kemudian gadis lulusan SMP Negeri 1 Gondang itu mendapatkan remisi empat tahun, sehingga pada tahun ke delapan masa hukuman, dia dinyatakan bebas dan diijinkan pulang ke Indonesia.

Saat tiba di kampung halamannya, Maryana disambut bagaikan pahlawan yang baru pulang dari medan pertempuran.

Tak ketinggalan kedua orangtuanya, Mariaji (50) dan Supiyah (48) mengharu-biru menyambut anak sulungnya yang baru saja bebas dari hukuman itu.

"Syukur kita masih bisa bertemu lagi. Coba kalau sejak dulu menuruti nasehat orangtua, mungkin kamu tidak seperti ini," kata Mariaji.

Sejak lulus dari SMP Negeri 1 Gondang, Maryana nekat mengadu nasib sebagai TKI ke Malaysia meski usianya baru 15 tahun. Maryana mengaku mendapatkan paspor, setelah memalsukan usianya menjadi 18 tahun pada 1999.

Dia menjadi pendatang gelap di negeri jiran setelah menempuh perjalanan darat dari Tulungagung-Jakarta. Kemudian dilanjutkan perjalanan laut ke Tanjung Pinang.

Sementara Bupati Tulungagung Heru Tjahjono mengungkapkan rasa bersyukur karena warganya bebas dari hukuman mati di Malaysia dan kini sampai di rumah dengan selamat.

"Kami berharap agar hal ini tidak terjadi lagi pada TKI asal Tulungagung," katanya melalui Kepala Dinas Infokom Kabupaten Tulungagung, Achmad Pitoyo, di rumah Maryana.


referensi : http://www.antara.co.id/

pegawai kbri nya orang ********* ato indonesia ya, zzz.. disiksa pegawai kbri cape deh

Trademaks
14-09-07, 22:51
Keidiri - Nurdiana, 32, seorang TKW asal Kabupaten Kediri, Jatim, disekap majikannya di Arab Saudi selama lima tahun. Sejak keberangkatan ke Arab Saudi 5 Maret 2003 lalu, warga Dusun Bulurejo, RT 02/03, Desa Damarwulan, Kec Kepung, Kab Kediri, ini dilarang pulang ke Tanah Air oleh majikannya dengan alasan yang tidak jelas.

Padahal, kontrak kerjanya telah habis sejak 2005 lalu. ”Setiap kali berkirim surat dia selalu menangis ingin pulang. Majikannya selalu melarang tanpa alasan,” ujar Samsul Huda, 33, suami Nurdiana. Dia menjelaskan, keberangkatan Nurdiana untuk menjadi pembantu melalui PJTKI Andromeda Graha yang beralamat di Jalan Dr Cipta No 202 Bedali, Lawang, Malang, atas persetujuan seluruh keluarga.

Saat itu Nurdiana tergiur bujukan Sidik, petugas lapangan yang berjanji akan mempekerjakannya di Arab Saudi bersama beberapa rekan korban. Karenanya dia rela meninggalkan dua anaknya, Mohammad Najib, 10, dan Erna Nurcahyani, 7 tahun. Nurdiana pun menandatangani kontrak kerja selama dua tahun untuk bekerja sebagai pembantu di kediaman Hamid Al Baiawi, yang beralamat di Tabuk, Arab Saudi.

”Pada tahun pertama, dia sempat mengirimkan uang dua kali sebesar Rp4 juta dan Rp7 juta. Katanya itu gaji yang diterima selama setahun,” jelas Samsul Huda. Namun menginjak tahun kedua hingga sekarang, korban sama sekali tidak menerima gaji lagi. Ironisnya, ketika masa kontraknya selesai pada 2005, dia dilarang pulang ke Tanah Air dengan alasan tidak jelas.

Sejak itu pula majikannya tidak lagi memberikan gaji. Padahal, uang itu sangat diperlukan untuk biaya hidup dua anak dan orang tua Nurdiana. Kekhawatiran keluarga makin menjadi ketika pada kontak terakhir korban, 16 September 2005 lalu, Nurdiana mengeluhkan dia tak juga boleh pulang. Karena stres, dia sempat mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadinya agar menarik iba sang majikan.

Namun semua itu sia-sia karena korban tetap tidak dilarang pulang. Samsul berharap Pemkab Kediri bersedia membantu memfasilitasi keinginan untuk memulangkan adiknya dengan PJTKI dan Pemerintah Arab Saudi. ”Apalagi, sebentar lagi Lebaran, saat biasanya seluruh keluarga berkumpul.”

Kabag Humas Pemkab Kediri Sigit Raharjo membenarkan keluhan keluarga Nurdiana ini. Karena itu, dia berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja melacak jalur keberangkatan Nurdiana ke Saudi. ”Kami akan mencoba berkoordinasi dengan Disnaker untuk mencari solusinya. Mudah-mudahan bisa segera dipulangkan,” ujar Sigit singkat.


referensi : http://www.seputar-indonesia.com/

MimiHitam
15-09-07, 18:22
gilaaaaaaaaa ga arab ga ********* sama aja

Trademaks
15-09-07, 21:44
JAKARTA - Cahyati Ponco Wibowo (53), kepala Sekolah Yayasan Kartika di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, ditangkap polisi karena telah mengirim 63 TWK ilegal.

Cahyati ditangkap dalam sebuah penggerebekan di salah satu perusahaan penyalur TKW, PT Akbar Insan Prima di Komplek Cengkareng Indah Blok C no 9 Rt04/14 Kapuk, Jakarta Barat, Sabtu (15/9/2007).

Selain Cahyati, polisi menangkap Hendra dan Bowo, dua orang calo yang telah membuat paspor palsu untuk memberangkatkan TWK tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Metro Jaya Kombes Pol Sigit Sudarmanto menjelaskan, terbongkarnya kasus ini bermula dari tertangkapnya Cahyati seorang Kepala Sekolah karena diduga telah menyalurkan TKW ilegal ke Malaysia.

Dalam aksinya, perempuan ini dibantu oleh dua orang calo yang bertugas membuat dokumen palsu mulai dari KK, KTP bahkan paspor yang digunakan para TKW ke Malaysia.

Setiap pembuatan satu paspor palsu, Hendra dan Bowo memperoleh keuntungan Rp550.000 perorang.

"Dalam penggerebekan tersebut, kami menemukan 10 TKW yang akan dikirim ke Malaysia," ujarnya.

Kepada polisi, Cahyati mengaku aksi pengiriman TKW illegal ini sudah dilakukan sejak 2003 lalu. Selama itu menurut dia, PT Akbar Insan Prima yang diketahui perusahaan fiktif telah menyalurkan sebanyak 63 TKW yang telah dikirim ke Malaysia.

Umumnya, 63 TKW itu berasal dari berbagai daerah seperti Indramayu, Bogor, Sukabumi, Subang dan sebagainya.

"Dari hasil kejahatannya, Cahyati mengaku sudah meraup keuntungan ratusan juta rupiah," tandasnya.

Kasat Sumber Daya Lingkungan (Sumdaling) Ditkrimsus Polda Metro Jaya AKBP Bahagia Dachi menambahkan, beberapa TKW yang berhasil digagalkan mengaku untuk menjadi TKW ke Malaysia mereka mengaku tidak dipunggut biaya sepeserpun.

Perusahaan menurut mereka, hanya memotong 5 bulan gaji selama mereka bekerja di sana sebagai pembantu rumah tangga. "Jadi gaji mereka selama lima bulan, wajib disetorkan kepada perusahaan," katanya.

Sejauh ini, lanjut dia, polisi masih melakukan penyelidikan adanya keterlibatan petugas imigrasi dalam kasus tersebut. Sebab diketahui, Hendra dan Bowo secara mudah mendapatkan paspor untuk para TKW yang akan berangkat ke Malaysia apalagi dokumen yang mereka gunakan palsu. "Penyelidikan selanjutnya mengarah ke imingrasi," cutusnya.


referensi : http://www.okezone.com/

MimiHitam
16-09-07, 06:44
swt kepala sekolah.... zzz emang mesti diberantas juga calo2 tki

Trademaks
18-09-07, 00:16
Lagi Penyiksaan di Saudi
JAKARTA - Penyiksaan kembali diderita tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia. Belum selesai kasus penyiksaan terhadap empat TKW Indonesia awal Agustus lalu, terungkap lagi kasus sejenis di Arab Saudi dengan kondisi korban lebih mengenaskan. Tangan dan kakinya harus diamputasi karena membusuk setelah disiksa majikannya.

Berdasar informasi yang disampaikan Dr Nora Al Jumaih, anggota Komite Monitoring National Society for Human Rights (lembaga semacam Komnas HAM Arab Saudi), korban yang namanya dirahasiakan itu saat ini dirawat di RS Riyadh Medical Complex. Kondisinya kritis.

Menurut Nora, TKW tersebut mengalami penyiksaan selama hampir satu bulan. Korban disiksa majikannya dengan dijemur di terik matahari. "Tidak hanya itu, korban juga dipukuli dengan potongan besi yang mengakibatkan giginya lepas. Bibirnya juga sobek," ungkap Nora kepada Gulf News.

TKW tersebut, menurut Nora, kini terus dipantau Komnas HAM Arab Saudi. Tidak hanya itu, komnas tersebut juga mendesak pemerintah Arab Saudi untuk menjatuhkan hukuman maksimum kepada majikan kejamnya.

"Sangat sulit mendapatkan kesepakatan hukum atas kasus seperti ini. Korban tidak bisa mendapatkan perlindungan hukum dari suatu lembaga atas hak-hak mereka," jelasnya. Komnas HAM Arab Saudi, menurut Nora, siap menjadi penghubung kasus tersebut dengan pemerintah Arab Saudi.

Kabar terbaru penyiksaan TKW itu juga disampaikan LSM Migrant Care. LSM yang aktif melakukan advokasi terhadap buruh migran itu meminta pemerintah Indonesia untuk segera mencari tahu informasi TKW tersebut. "KBRI harus segera meminta informasi kepada RS mengenai nama dan asal korban supaya pihak keluarga dapat segera dihubungi," ujar Anis Hidayah, direktur eksekutif Migrant Care, kemarin.

Menurut Anis, pemerintah Indonesia seharusnya segera menindaklanjuti korban yang kini berada di RS Riyadh tersebut. Apalagi empat korban sebelumnya, yakni (almh) Siti Tarwiyah, (almh) Susmiyati, Ruminih, dan Tari juga berada di Riyadh.

"KBRI kabarnya telah mendapatkan akses untuk menemui korban. Sebaiknya, korban yang baru ini segera ditindaklanjuti," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Perlindungan WNI Departemen Luar Negeri (Deplu) Teguh Wardoyo kemarin mengaku sudah mendengar berita tentang penyiksaan seorang TKW di Arab Saudi. "Tadi pagi saya sudah mendengar kabar disiksanya kembali TKW kita. Tapi, berita resmi dari KBRI Riyadh belum ada," katanya.

Mendengar kembali terjadinya pelanggaran HAM terhadap TKW, Teguh mengaku geram. Dia pun menyesalkan lambatnya laporan dari polisi Arab Saudi tentang kejadian tersebut ke kantor kedutaan Indonesia di sana. "Seharusnya, sesuai dengan Konvensi Wina, menyangkut setiap warga negara asing yang disiksa atau dibunuh, pemerintah setempat harus segera melaporkan kepada kantor kedutaan warga asing itu," bebernya.

Tidak hanya lambatnya laporan resmi ke pemerintah Indonesia yang disesalkan oleh mantan atase konsuler Indonesia di Washington DC itu. Mengambangnya proses-proses hukum terhadap majikan yang menyiksa TKW juga disesalkannya. "Akses konsuler ke Tari dan Ruminih (dua TKW yang disiksa majikannya Agustus lalu, Red) juga baru diberikan kepada KBRI Riyadh pekan lalu," ujarnya dengan nada kecewa. Dia meminta, jika kabar yang mengungkapkan ada seorang TKW lagi yang disiksa oleh majikannya, pemerintah ingin agar pemerintah Arab Saudi mau peduli.

Saat beberapa pihak di Indonesia mengaku mendapatkan informasi tentang terjadinya penganiayaan lagi atas TKW Indonesia, Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Abdurrahman Muhammad Al Amin Al Hayat malah mengaku belum mendengar kabar penyiksaan terhadap seorang TKW di Riyadh itu. "Saya juga belum mendengar berita itu dari pemerintah pusat," katanya di Jakarta kemarin.

Ketika ditanya tentang lambatnya laporan kepolisian Arab, Abdurrahman mengaku tidak tahu. "Biasanya, polisi masih berusaha menyelidiki kasus serta tersangkanya, baru kemudian menghubungi pihak kedutaan," tambahnya. Hal tersebut dikatakannya membutuhkan waktu identifikasi jenazah yang tidak lama lagi dipulangkan.


referensi : http://www.indopos.co.id/

MimiHitam
18-09-07, 19:53
bosen gua liat berita tki disiksa....

MimiHitam
21-09-07, 15:12
Penyebab Kematian TKW Asal Malang di Hongkong Belum Jelas
Malang (ANTARA News) - Penyebab kematian Mistiari (35), TKW asal jalan Mayor Damar RT 21 RW 11 Desa Bokor, Kecamatan Turen, Malang, Jatim, hingga kini belum diketahui lantaran hasil visum dari Kepolisian Hongkong belum juga diterima Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang, Bambang Sugeng, Kamis, mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, TKW asal Turen itu meninggal karena jatuh dari lantai 20 apartemen majikannya di 21 Hiu Wong Street, Hongkong pada 10 September 2007.

"Dengan belum adanya hasil visum dari kepolisian Hongkong, kepastian penyebab utama meninggalnya Mistiari belum jelas. Berdasarkan informasiyang diperoleh Disnaker saat ini hasil visum masih dalam pemerikasaan lebih lanjut oleh kepolisian Hongkong," katanya.

Menurut dia, dengan adanya hasil visum maka bisa diketahui secara pasti penyebab kematian TKW tersebut, apakah murni kecelakaan kerja maupun bunuh diri. Selain itu, dengan adanya visum dan data pendukung dari kepolisian Hongkong maka status ketenagakerjaan dari TKW bisa diketahui secara pasti.

"Biasanya, hasil visum masuk ke Disnaker antara tujuh hingga sepuluh hari pascakejadian. Namun hingga saat ini, kami belum menerima. Untuk status TKW harus diperjelas. Apakah dia legal atau ilegal. Pasalnya, banyak TKW yang tidak mengurus kembali ijinnya setelah kontrak dari PJTKI habis," katanya menjelaskan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, TKW asal Turen itu menjadi TKI di Hongkong sejak tahun 2006 lalu dan diberangkatkan dengan menggunakan jasa pengiriman tenaga kerja PT. Asri Cipta Tenaga Karya Singosari, Kabupaten Malang.

Mistiari meninggalkan suami, Mahmud (39) dan dua oranga putra, yaitu Wahyu (16) dan Erik Setiawan (9) saat ini masih duduk di kelas III Sekolah Dasar di Desa Bokor, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Sementara pihak PJTKI PT. Asri Cipta Tenaga Karya Singosari, Bambang mengatakan, pihaknya membantu biaya pemulangan TKW dari Hongkong sampai ke rumah duka. Selain itu, pihaknya telah memberikan satunan duka pada keluarga korban yang diterima langsung oleh pihak keluarga.

Menurut dia, pertama kali Mistiari berangkat ke HOngkong mengunakan jasa perusahaannya. Namun setelah masa kontrak berakhir, dia berangkat kembali ke Hongkong.

"Sebetulnya dia sudah lepas kontrak, namun PT masih membantu mengurus administrasinya, karena kita masih berhubungan baik," katanya menambahkan.(*)

MimiHitam
21-09-07, 20:48
Digampar 7 Polisi Arab Saudi, 2 TKI Tewas
Ari Saputra - detikcom

Jakarta - Tujuh polisi Arab Saudi tega menyiksa para tenaga kerja Indonesia (TKI), Tarwiyah (31), Susmiyati (26), Tari (27), dan Ruminih (24). Akibatnya, Tarwiyah dan Susmiyati tewas setelah mendapat perawatan dokter. Sementara Tari dan Ruminih harus mendekam di penjara selama lima bulan dengan ratusan hukuman cambuk mendera.

Kejadian itu terjadi 31 Agustus 2007 silam. Namun, berita ini baru sampai di pihak keluarga seminggu lalu. Itu pun setelah Karimah, teman satu sel Tari dan Ruminih, tiba di tanah air dan menceritakan semuanya.

"Saya ketemu Tari dan Ruminih di sel tahanan Malaz, Riyadh. Kondisinya sangat kasihan. Tari masih agak lumayan. Tapi Ruminih hingga saat ini penuh bekas penyiksaan," kenang Karimah yang menceritakan kesaksiannya di Kantor Migrant Care, Jl Pulo Asem, Jakarta, Jumat (21/9/2007).

Dalam pertemuan sesama tahanan itu, Karimah mendapat kucuran kisah sedih. Keempat pembantu itu, dalam kesaksian Karimah, dituduh akan menyihir anak majikan Muhammad Abdullah Al Ghaffur dan Al Mazeed. Kemudian dua majikan
itu melaporkan kepada polisi setempat.

Nah, ditangan polisi itulah, keempatnya disiksa. Tarwiyah dan Susmiyati dicambuk. Lalu, giliran Tari dan Ruminih yang kena siksa. "Itu hanya gara-gara dituduh melakukan sihir. Buktinya berupa serbuk tembok (debu), mereka disiksa," kenang Karimah sambil meneteskan airmatanya.

Namun, pihak KBRI yang menangani persoalan TKI kurang proaktif. Bahkan, menurut Koordinator Migrant Care Anis Hidayah, pihak KBRI berusaha menutup-nutupi peristiwa itu.

"Setelah kami mendengar kabar, kami langsung kontak pihak KBRI di Riyadh. Mereka katakan, Tari dan Ruminih dalam lindungan lembaga perlindungan saksi. Nyatanya, keduanya ditahan, disel dan disiksa," papar Anis di tempat serupa.

Kini keempat keluarga itu masih meminta kejelasan nasib keempat pembantu itu. Suami Tarwiyah, Hamid meminta jenazah istrinya diantar ke kampung di Ngawi Jawa Timur. Begitu pun dengan suami Tari, Deden Eka Sunandar yang
berharap istrinya dapat berkumpul didesanya, di Cimalaya, Karawang.

"Sudah ratusan TKI disiksa dan mati. Ini yang kesekian kalinya. Pemerintah harusnya merespons," ucap Anis sedikit geram. (Ari/asy)

Link : http://www.detiknews.com/indexfr.php...017/idkanal/10

MimiHitam
21-09-07, 20:59
Wartawati Indonesia Diperkosa TKI di Malaysia

Kuala Lumpur, (Analisa)

Seorang wartawati Sempadan News berusia 34 tahun yang beredar di Nunukan, Kalimantan Timur diperkosa tenaga kerja Indonesia (TKI) ketika sedang melakukan liputan investigasi mengenai nasib TKI yang hidup di kongsi-kongsi (bedeng) Malaysia.

"Memang benar dia adalah seorang wartawati Indonesia dan benar diperkosa oleh seorang TKI bernama Rahman (40), asal Sulawesi Selatan," kata Setyo Wasisto SH, seorang polisi di KBRI Kuala Lumpur, Rabu (19/9).

"Kami sudah mendatangi polisi di Kuala Kangsar, Perak, untuk mengecek berita yang disiarkan harian Malaysia," katanya. Harian Utusan Malaysia, Rabu (19/9), menurunkan berita bahwa seorang wartawati Indonesia diperkosa oleh TKI sebagai buruh bangunan di Liman Kati, Kuala Kangsar.

Selain diperkosa, wartawati itu juga dipukuli oleh pelaku hingga babak belur dan mengalami trauma. Rencananya, korban akan membuat laporan investigasi mengenai penyiksaaan dan penderitaan TKI di Malaysia, tapi ternyata malah menjadi korban.

Berdasarkan cerita korban, pelaku dan korban sudah saling mengenal sebelumnya. Pelaku semula berniat membantu korban menemukan nara sumber bagi tulisan investasi, tapi ternyata malah memperkosanya.

"Polisi Malaysia telah menangkap pelaku, Senin malam, dan kini sedang dalam tahap penyidikan," kata Setyo. (Ant)http://analisadaily.com/0-5.htm

MimiHitam
21-09-07, 21:23
Penyebab Kematian TKW Asal Malang di Hongkong Belum Jelas
Malang (ANTARA News) - Penyebab kematian Mistiari (35), TKW asal jalan Mayor Damar RT 21 RW 11 Desa Bokor, Kecamatan Turen, Malang, Jatim, hingga kini belum diketahui lantaran hasil visum dari Kepolisian Hongkong belum juga diterima Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang, Bambang Sugeng, Kamis, mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, TKW asal Turen itu meninggal karena jatuh dari lantai 20 apartemen majikannya di 21 Hiu Wong Street, Hongkong pada 10 September 2007.

"Dengan belum adanya hasil visum dari kepolisian Hongkong, kepastian penyebab utama meninggalnya Mistiari belum jelas. Berdasarkan informasiyang diperoleh Disnaker saat ini hasil visum masih dalam pemerikasaan lebih lanjut oleh kepolisian Hongkong," katanya.

Menurut dia, dengan adanya hasil visum maka bisa diketahui secara pasti penyebab kematian TKW tersebut, apakah murni kecelakaan kerja maupun bunuh diri. Selain itu, dengan adanya visum dan data pendukung dari kepolisian Hongkong maka status ketenagakerjaan dari TKW bisa diketahui secara pasti.

"Biasanya, hasil visum masuk ke Disnaker antara tujuh hingga sepuluh hari pascakejadian. Namun hingga saat ini, kami belum menerima. Untuk status TKW harus diperjelas. Apakah dia legal atau ilegal. Pasalnya, banyak TKW yang tidak mengurus kembali ijinnya setelah kontrak dari PJTKI habis," katanya menjelaskan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, TKW asal Turen itu menjadi TKI di Hongkong sejak tahun 2006 lalu dan diberangkatkan dengan menggunakan jasa pengiriman tenaga kerja PT. Asri Cipta Tenaga Karya Singosari, Kabupaten Malang.

Mistiari meninggalkan suami, Mahmud (39) dan dua oranga putra, yaitu Wahyu (16) dan Erik Setiawan (9) saat ini masih duduk di kelas III Sekolah Dasar di Desa Bokor, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Sementara pihak PJTKI PT. Asri Cipta Tenaga Karya Singosari, Bambang mengatakan, pihaknya membantu biaya pemulangan TKW dari Hongkong sampai ke rumah duka. Selain itu, pihaknya telah memberikan satunan duka pada keluarga korban yang diterima langsung oleh pihak keluarga.

Menurut dia, pertama kali Mistiari berangkat ke HOngkong mengunakan jasa perusahaannya. Namun setelah masa kontrak berakhir, dia berangkat kembali ke Hongkong.

"Sebetulnya dia sudah lepas kontrak, namun PT masih membantu mengurus administrasinya, karena kita masih berhubungan baik," katanya menambahkan.(*)

Trademaks
28-09-07, 02:54
Johor Bahru (ANTARA News) - Seorang tenaga kerja wanita (TKI) Indonesia mengaku telah diperkosa secara bergiliran oleh 12 lelaki Malaysia di dua lokasi terpisah di Muar, Johor Bahru, pada awal September 2007.

"Betul itu TKW Indonesia. Karena perkosaannya dilakukan di Johor Bahru, kami minta KJRI menangani kasus ini," kata Kepala Satgas Perlindungan dan Pelayanan KBRI Kuala Lumpur, Tatang B Razak, di Johor Bahru, Kamis.

Ceritanya, TKW itu pernah menjadi pembantu tapi kemudian melarikan diri sehingga ia menjadi pendatang ilegal. Bersama pacarnya, TKW berusia 22 tahun sedang berjalan-jalan sekitar jam 10 malam di daerah Petaling Jaya, Selangor, 8 September 2007.

"Secara tiba-tiba ada dua laki-laki yang mengaku sebagai aparat penegak hukum menanyakan identitas atau dokumen perjalanan. TKW itu tidak bisa menunjukkan karena memang ia melarikan diri majikan. Paspor ditahan majikan," kata Tatang. Bersama temannya, TKW itu dibawa pergi.

Teman laki-lakinya tak lama kemudian dibebaskan oleh dua laki-laki yang mengaku aparat penegak hukum sedangkan TKW Indonesia dibawa ke sebuah hotel di Jalan Bentayan, Muar, Johor. Kedua laki-laki itu kemudian memanggil tujuh kawan lainnya.

Berdasarkan laporan Harian Metro, Selasa, TKW itu kemudian diperkosa secara bergiliran oleh sembilan orang di hotel tersebut. Setelah diperkosa, TKW itu kemudian diserahkan ke tiga laki-laki lain, termasuk seorang pelajar kelas 4 SD.

Oleh ketiga laki-laki ini, TKW itu dibawa ke sebuah rumah di jalan Sungai Abong, Muar dan diperkosa lagi secara bergiliran. Setelah itu, TKW itu dibawa ke sebuah rumah kosong di Sungai Balang, Muar.

Korban berhasil melarikan diri dari rumah kosong pada 10 September 2007, jam 3 pagi dan diselamatkan oleh masyarakat setempat dengan membawanya ke halte bus dan menaiki sebuah bus kembali ke Selangor.

Pada 12 September 2007, korban melaporkan kepada polisi. Oleh polisi, korban dibawa ke lokasi kejadian untuk penyidikan dan dibawa ke rumah sakit Pakar Sultanah Fatimah untuk mendapatkan perawatan.

Polisi Malaysia telah menahan sembilan pelaku pemerkosaan, termasuk seorang pelajar, sedangkan tiga lainnya masih buron.


referensi : http://www.antara.co.id/

MimiHitam
30-09-07, 19:00
Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah melalui Departemen Luar Negeri telah mendesak aparat penegak hukum Arab Saudi agar menjatuhkan hukuman berat terhadap majikan yang telah menganiaya dua tenaga kerja Indonesia (TKI) hingga meninggal dunia. Hal tersebut diungkapkan Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Deplu Teguh Wardoyo kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (29/9).

Kedua TKI yang tewas akibat penganiayaan majikan tersebut adalah Siti Tarwiyah binti Slamet Dimyati dan Susmiyati binti Mad. Siti Tarwiyah bekerja pada majikan bernama Yahya Madjid al Syagatsrah di kawasan Almamlukah, sekitar 350 kilometer dari Ryadh, Arab Saudi, sejak pertengahan Oktober 2006. Sedangkan Susmiyati bekerja pada majikan bernama Mubarak Hamad al Syagain. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga sejak awal Januari 2007.

Khusus Siti Tarwiyah, selama sembilan bulan bekerja, hubungan komunikasi dengan majikan maupun keluarganya di Indonesia berjalan lancar. Bahkan korban pernah mengirim uang sebesar Rp 5,7 juta. Namun, sejak tiga bulan terakhir, komunikasi keluarga dengan korban terputus tanpa alasan jelas. Dan pada 8 Agustus 2007, keluarga mendapat kabar Siti Tarwiyah meninggal akibat disiksa majikan.(DEN)

Trademaks
01-10-07, 00:02
Dibayar Berapa pun, Tak Ada Maaf bagi Majikan
Setelah hampir dua bulan lamanya ditahan di Arab Saudi, jenazah Susmiyati dan Siti Tarwiyah akhirnya dipulangkan ke Indonesia kemarin. Namun, dua TKW lain, Ruminih dan Tari, masih dipenjara akibat tuduhan pidana yang malah diputarbalikkan.

Jenazah kedua TKW korban penyiksaan tujuh majikan Arab Saudi 2 Agustus lalu tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 16.00 WIB dengan menggunakan pesawat Saudi Arabian Airlines SV 822. Kedatangan jenazah itu disambut keluarga korban bersama aktivis Migrant Care. Sambutan haru dan tangis tampak saat peti jenazah berisi dua korban diturunkan dari pesawat.

Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah, kedua korban tersebut layak diapresiasi tinggi karena mereka adalah pahlawan devisa. "Tidak bisa dipungkiri, kontribusi mereka tidak sedikit bagi negara," ujarnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Hamid, suami Siti Tarwiyah, yang juga turut dalam rombongan penjemput tetap menegaskan tidak akan memaafkan penyiksaan majikan kepada almarhum istrinya tersebut. "Walaupun dibayar berapa pun, kata-kata saya akan tetap seperti itu," tegasnya saat dihubungi kemarin.

Selanjutnya, jenazah Siti Tarwiyah dibawa pukul 17.10 WIB dengan peasawat Garuda GA 226 tujuan Bandara Adi Sumarmo, Solo, untuk kemudian dibawa ke rumah duka di Dusun Jumok, Macanan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur. Jenazah Susmiyati yang berasal dari Desa Purworejo, Kecamatan Tayu, Pati, Jawa Tengah, diberangkatkan pada pukul 18.25 dengan Garuda GA 244 menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang.

Di terminal 2 D kedatangan luar negeri Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, keluarga Siti Tarwiyah dan Susmiyati mendapatkan santunan masing-masing Rp 65 juta. Menurut Ketua BNP2TKI Jumhur Hidayat, rinciannya adalah Rp 40 juta dari pihak asuransi, Rp 5 juta biaya pemakaman, Rp 5 juta bantuan dari Menakertrans Erman Soeparno, Rp 10 juta dari PJTKI yang memberangkatkan, dan Rp 5 juta dari BNP2TKI. "Sisa gaji Siti Tarwiyah yang diberikan keluarga majikannya 3.320 real (sekitar Rp 8,3 juta) dan jumlah yang sama juga diberikan kepada keluarga Susmiyati," bebernya.

Kendati jenazah korban telah dipulangkan dan keluarga korban sudah mendapatkan hak-hak korban, pemerintah Indonesia masih memiliki PR besar atas status Ruminih dan Tari, dua TKW korban penyiksaan yang masih hidup. Menurut Anis, keduanya kini tidak jelas kapan bisa dipulangkan. Ini Sebab, status mereka tidak lagi dalam perlindungan saksi, namun menjadi tahanan di Detention Center Al Malaj, Riyadh, akibat tuduhan sihir yang didengungkan majikan mereka dipidanakan.

"Tuduhan lama itu malah dikembalikan kepada mereka. Akibatnya, mereka kini menjadi tersangka," ujar Anis. Tuduhan tersebut, lanjut Anis, kembali dibuka akibat sulitnya akses KBRI untuk melobi pemerintah Arab Saudi. Sikap tak kooperatif itu ditengarai akibat sikap para keluarga TKW yang tidak ingin memaafkan penyiksaan yang dilakukan tujuh majikan yang salah satu di antaranya adalah pengawal militer Kerajaan Arab Saudi. "Ada indikasi untuk ke situ," ujarnya.

Lantas, apa sikap KBRI di Arab Saudi saat ini? Usaha KBRI, menurut Anis, baru sebatas memberikan kuasa hukum kepada Ruminih dan Tari. "Mau tidak mau, KBRI harus tunduk kepada hukum yang berlaku di sana (Arab Saudi)," ujarnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Atase Ketenagakerjaan KBRI Riyadh Sukamto membantah jika dikatakan hanya sebatas memastikan akses konsuler kepada Ruminih dan Tari. "Kami sudah meminta pemerintah Arab Saudi untuk mengizinkan yang bersangkutan menunggu proses ivestigasi di KBRI hingga proses investigasi selesai," ujarnya, yang juga ikut mendampingi kepulangan jenazah Siti Tarwiyah dan Susmiyati.

KBRI Riyadh, sambung dia, telah tiga kali mengirimkan nota diplomatik ke Kementerian Luar Negeri Arab Saudi untuk meminta pemindahan Tari dan Ruminih ke KBRI. Tapi, permintaan itu ditolak.


referensi : http://www.indopos.co.id/

MimiHitam
02-10-07, 20:27
Oknum Polisi Malaysia Diduga Ikut Jadi Pemerkosa TKW di Johor

Kuala Lumpur (ANTARA News) - Oknum polisi Malaysia diduga kuat merupakan salah satu dari 12 pelaku yang memperkosa RS, 21 tahun WNI asal Lampung, di Muar Johor, padahal korban saat itu sedang ada di rumah bersama suami dan sedang hamil 2,5 bulan.

Hal itu dikemukakan oleh Konsul KJRI Johor Bahru, Didik Trimardjono dan staf polisi KBRI Kuala Lumpur, Elisa Selasa.

Menurut Didik, salah satu pelakunya adalah seorang oknum polisi Malaysia setelah mewawancarai salah satu dari 10 pelaku yang sudah ditahan kepolisian Muar Johor Bahru.

"Saya telah mewawancarai satu dari mereka dan menurut pengakuan mereka memang salah satu pelakunya adalah seorang polisi Malaysia," katanya.

Sementara itu, menurut Elisa, berdasarkan pengakuan seorang polisi Malaysia yang menangani kasus ini memang ada oknum polisi yang terlibat. Kemungkinan yang mendatangi rumah korban dan mengaku sebagai polisi.

"Jika memang seorang polisi maka kami meminta agar mereka pelaku pemerkosaan RS itu dihukum seberat-beratnya karena telah melakukan pemerkosaan, perampokan, dan penculikan. Mereka harus dikenakan pasal berlapis-lapis," katanya.

"Kami juga minta agar pengajuan mereka ke pengadilan harus dilakukan secepatnya dan jangan diulur-ulur waktunya," tambah Didik.

"RS", wanita asal Lampung diperkosa secara brutal oleh 12 warga Malaysia secara bergantian di dua lokasi terpisah. Ketika diperkosa ia ternyata sedang hamil 2,5 bulan, dan polisi Malaysia telah menahan 10 dari 12 orang yang diduga kuat pelaku pemerkosaan.

Korban yang berusia 21 tahun sejak Sabtu (29/9) dalam perlindungan KJRI Johor Bahru setelah beberapa hari berada di kantor polisi Muar Johor untuk penyidikan.

Oleh polisi, korban juga sudah dibawa ke RS Tun Fatimah, Muar Johor.

Polisi masih mengejar dua pelaku pemerkosaan. Dari 12 pelaku pemerkosaan, sembilan di antaranya warga Malaysia keturunan India dan sisanya Melayu. Dalam kasus ini, polisi bekerja dengan baik.

RS pada Desember 2006 bekerja sebagai pembantu warga Malaysia etnis **** di Klang, Selangor. Karena tidak tahan bekerja, tiga bulan kemudian ia melarikan diri dari rumah majikan lantas ditolong oleh seorang lelaki berkewarganegaraan Indonesia, pekerja buruh bangunan asal Gresik, Jawa Timur bernama Muhamad Mujib.

Belakangan diketahui keduanya melangsungkan pernikahan secara agama di Malaysia.

Pada 7 September 2007 malam, tempat mereka tinggal mereka 20th Folra Damansara, Petaling Jaya, Selangor telah didatangi dua orang etnis India yang mengaku sebagai polisi. Barang-barang, uang, handphone dan paspor milik mereka berdua dirampas.

Menurut pengakuan Mujib, ia sempat menanyakan kartu identitas polisi tersebut, namun jawaban yang diterima justru berupa pukulan yang bertubi-tubi hingga babak-belur. Puas melakukan pemukulan dan perampasan mereka berdua membawa RS untuk dibawa ke balai polis.

Kedua lelaki India itu membawa RS dengan mobil sedan ke arah kota Muar, Johor dan langsung check-in di hotel River View. Di hotel tersebut kedua lelaki India tersebut dengan paksa dan menodongkan pistol melampiaskan nafsu bejatnya.

Setelah puas dengan tindakannya, dua lelaki India tersebut memanggil tujuh kawan lainnya dan secara bergiliran sampai pukul empat pagi RS menjadi pelampiasan nafsu bejat sembilan Warga Negara Malaysia keturunan India tersebut.

Belum selesai penderitaan RS, keesokan harinya tanggal 8 September 2007, lelaki India tersebut mengatakan bahwa temannya orang Melayu akan mengantar RS ke rumahnya di Damansara, Selangor. Namun kenyataanya, RS telah dijual ke tiga lelaki melayu tersebut sebesar 400 ringgit dan dibawa ke sebuah gudang kosong untuk kembali diperkosa.

Dengan kondisi yang teramat sakit, karena telah diperkosa sebanyak 12 orang Malaysia secara tidak manusiawi dan tanpa ada rasa belas kasihan sedikitpun, RS dengan tertatih-tatih berhasil berhasil melarikan diri dan ditolong oleh seseorang lalu diantar di terminal bis Muar, untuk kembali ke rumahnya di Damansara, Selangor.

Setelah sampai di Damansara, RS menceritakan musibah yang menimpa dirinya kepada suaminya dan beberapa kawannya melaporkan kejadian tersebut ke Balai Polis Damansara, Petaling Jaya, Selangor.

RS dikirm ke Malaysia oleh PJTKI "PT Sentosa Karya Aditama", Kompleks Jakapermai, Jln. Cendana XIV No. 7 Bekasi, Jawa Barat. (*)

MimiHitam
04-10-07, 14:43
Majikan Malaysia Antar Mudik TKW ke Brebes

Bandung (ANTARA News) - Ponida (34) tenaga kerja wanita (TKW) asal Brebes, Jawa Tengah bernasib mujur, dan patut bersyukur, pasalnya Haji Shaleh majikannya asal Petaling Jaya, Malaysia rela mengantar mudik bersama istrinya NY Shaleh hingga kampung halaman Ponida.

Saat singgah di Bandara Husein Sastranagara, Rabu, Haji Shaleh menuturkan bahwa dirinya bersama istri sangat senang mengantar Ponida pulang mudik ke Indonesia.

"Kami berdua mau mengantar pulang Ponida, karena kami juga ingin mengakrabi keluarga Ponida yang ada di Brebes sekalian silaturrahmi menjelang Hari Raya," ujar Haji Shaleh.

Dikatakan, dirinya merasa was-was kalau Ponida pulang sendirian karena pekerjanya itu membawa barang banyak untuk keluarga serta anaknya di Brebes.

Menurut Haji Shaleh, Ponida bekerja sangat baik, rajin, dan cakap dalam menyelesaikan semua pekerjaan sehingga diharapkannya setelah cuti Hari Raya, Ponida bisa kembali bekerja ditempat tinggalnya.

Selain untuk bersilaturrahmi dengan keluarga Ponida di Brebes, menurut Haji Shaleh, dirinya ingin berjalan-jalan sejenak untuk menikmati keindahan alam, dan berbelanja berbagai keperluannya di Indonesia.

http://img168.imageshack.us/img168/2193/k20zc9.jpg

Ponida yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) itu, mengaku sangat betah tinggal dan bekerja bersama majikannya itu.

"Dua tahun saya bekerja di Petaling Jaya sangat senang juga betah karena majikan serta keluarga majikan tempat saya bekerja sangat baik, namun ada pula seorang tetangga majikannya yang kurang bersikap simpati terhadap TKW," ucapnya.

Dikatakannya, Haji Shaleh memberi banyak tunjangan serta gaji yang lebih terhadapnya. Majikannya itu pun membelikan berbagai pakaian untuk suami serta seorang anaknya yang berada di Brebes. "Setelah cuti dua bulan pasti saya akan kembali ke majikan saya itu," katanya dengan tersenyum
http://www.antara.co.id/arc/2007/10/4/majikan-malaysia-antar-mudik-tkw-ke-brebes/

Trademaks
06-10-07, 20:37
CIANJUR (SINDO) – Siti Nurjamilah, 27, seorang TKW asal Kampung Lemburtengah RT 06/01 Desa Salamnunggal, Kec Cibeber, Kab Cianjur, yang bekerja di Kuwait, selama enam tahun tak menerima gaji.

Untuk ongkos pulang ke Indonesia pun dia hanya diberi uang oleh majikannya yang bernama Naif Said Dhafiri sebesar Rp1,8 juta. Fakta ini terbongkar setelah Siti tiba di Tanah Air. Pihak keluarga mengaku, selama ini gaji bulanan Siti tak pernah dikirim.Siti memang tak pernah mempersoalkan gaji karena majikannya selalu memberikan bukti pengiriman uang kepada keluarganya di Cianjur. ”Saya tidak pernah sekalipun memegang uang gaji.

Menurut majikan saya, uang gaji setiap bulannya dikirimkan kepada keluarga saya di Cianjur,” ungkap Siti. Majikannya selalu menunjukkan bukti pengiriman melalui jasa Western Union dengan nomor resi 6834109387. Begitu juga saat ingin pulang ke Tanah Air setelah enam tahun bekerja, dia tanpa kesulitan diizinkan pulang dan dibekali ongkos sebesar Rp1,8 juta. Namun, betapa kagetnya saat dia konfirmasi keluarganya soal gaji bulanan yang mestinya dia terima.Ternyata,gajinya tak pernah dikirimkan. ”Saat tiba di rumah dan menanyakan kiriman uang gaji, ternyata keluarga saya tidak pernah diterima,” ungkapnya.

Karena penasaran, dia mengecek ke Kantor Pos dan Giro di Cianjur.Dari keterangan petugas, ternyata resi yang selama ini selalu majikan saya perlihatkan itu ternyata kosong. Siti mengaku berangkat ke Kuwait melalui PJTKI PT Nur Afi Ilman Jaya yang beralamat di Kampung Melayu Kecil III No 29 Kel Tebet, Jakarta Selatan. ”Pada 8 Agustus 2001, saya akhirnya berangkat ke Kuwait dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Nama majikan saya Jalil,”ujarnya. Di tempat tersebut, Siti hanya bekerja selama dua bulan dan hanya mendapatkan gaji sebesar 80 dinar.

Pada saat Siti bermaksud keluar kerja dari Jalil, agensi yang berada di Kuwait menggeledah dan merampas uang gajinya. ”Ternyata setelah uang gaji saya diambil, agensi tersebut mempekerjakan kembali saya kepada majikan baru yang bernama Naif Zaid Dhafiri,”tutur Siti. Kuasa hukum Siti, Gingin Yonagie,berjanji akan meminta pertanggungjawaban pihak PJTKI yang memberangkatkan kliennya. ”Mereka tidak boleh lepas tanggung jawab begitu saja karena klien saya bukan TKI ilegal. Beliau resmi diberangkatkan ke Kuwait oleh perusahaan mereka,”tegas Gingin.


referensi : http://www.seputar-indonesia.com/

Niell
11-10-07, 02:54
sangat memprihatinkan.

mereka kayak gak dianggap seperti manusia aja.

jauh jauh bekerja,

berangkat hidup - pulang tinggal nama.

hanya demi menafkahi kloarga na..
semua nya hanya demi uang..

MimiHitam
11-10-07, 07:10
sangat memprihatinkan.

mereka kayak gak dianggap seperti manusia aja.

jauh jauh bekerja,

berangkat hidup - pulang tinggal nama.

hanya demi menafkahi kloarga na..
semua nya hanya demi uang..

makana pemerintah mesti hentiin aliran TKI ke negara12 rawan peanggaran ham..

MimiHitam
11-10-07, 07:11
Malaysia Cari Pembantu ke Negeri Lain
TEMPO Interaktif, Putrajaya: Karena kebutuhan akan pembantu rumah tangga terus naik dan kesulitan mendapat pembantu asal Indonesia, Malaysia bermaksud untuk menyewa pembantu dari India, Nepal, Laos dan Vietnam.

Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak mengatakan bahwa perekrutan dari empat negara itu akan dilakukan setelah nota kesepahaman ditandatangani dengan negara bersangkutan.

Saat ini ada 317.537 pembantu asing di Negeri Jiran itu dan mereka semua berasal dari Indonesia, Filipina, Thailand, Sri Lanka dan Kamboja.

source:http://www.tempointeraktif.com/

Trademaks
16-10-07, 18:51
JAKARTA (SINDO) – Wakil Ketua Komisi IX DPR Burzah Zarnubi menolak keras usulan penghentian pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia.

Alasannya, pemerintah belum bisa menciptakan lapangan kerja bagi para TKI tersebut. Untuk itu, dia meminta pemerintah harus lebih mengutamakan diplomasi terlebih dahulu. Perlakuan buruk yang dialami TKI di Malaysia merupakan bukti diplomasi RI terhadap Malaysia masih sangat lemah.

“Selama ini diplomasi kita itu tidak pernah memperjuangkan nasib TKI yang teraniaya,” kata Burzah kepada SINDO di Jakarta,kemarin. Buktinya, lanjut dia, belum terlihat adanya sikap tegas, baik dari Menteri Luar Negeri, Kedutaan Besar RI, maupun utusan diplomat Indonesia yang benar-benar memperjuangkan TKI.

Misalnya, menuntut pemerintah Malaysia memproses hukum para pelaku penganiaya TKI. Akibatnya, kata dia, lambat laun menimbulkan kesan bahwa Indonesia tidak memiliki harga diri di mata negara lain.“Kapan ada majikan di Arab Saudi atau di Malaysia yang pernah dihukum karena menganiaya atau memperkosa TKI kita.

Tidak pernah ada itu,”tegasnya Burzah juga menilai, banyaknya warga Indonesia yang memilih bekerja di Malaysia karena pemerintah tidak menjamin rakyatnya memperoleh pekerjaan di dalam negeri. Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno pada Sabtu (13/10) lalu mengatakan siap menghentikan pengiriman TKI ke Malaysia asakan kebijakan itu muncul atas keputusan politik antara Pemerintah dan DPR.

Berbeda dengan Direktur Eksekutif Migran Care Anis Hidayah. Dia mengapresiasi pernyataan Erman. “Sudah seharusnya pemerintah menunjukkan sikap tegas dan berani terhadap Malaysia,” kata Anis. Menurut dia,penghentian itu mampu meningkatkan posisi tawar politik pihak Indonesia di mata pemerintah negeri jiran agar lebih menghargai TKI.


referensi : http://www.seputar-indonesia.com/

MimiHitam
16-10-07, 20:35
TKI Sragen Tewas di Malaysia Saat Idul Fitri Cetak E-mail
SRAGEN - Satu lagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Sragen Jawa Tengah dikabarkan tewas di Malaysia, Sabtu (13/10) lalu. TKI yang tewas adalah Subari (35) warga Dusun Ngledok Desa Wonotolo, Gondang Sragen.

Hingga kini, belum diperoleh keterangan pasti penyebab kematiannya. Dugaan sementara, korban tewas setelah menderita sakit perut. Sementara, diperkirakan jenazah korban akan sampai di rumah duka di Sragen pada Selasa (16/10/2007) ini.

Menurut salah satu kerabat korban, Susilowati mengatakan, dari kabar yang diperoleh pihak keluarga saat Salat Idul Fitri Subari sempat mengeluh sakit perut. Namun, pada sore harinya mendadak korban meninggal.

"Hanya saja, pihak keluarga belum mengetahui secara pasti penyebab kematiannya" terang Susilowati.

Dari keterangan yang diperoleh, setelah diterbangkan dari Malaysia menuju Jakarta, jenazahnya akan tiba di Sragen pada hari rabu ini. "Selama di Malaysia, Subari sudah beberapa kali pulang lantaran isterinya tinggal di Sragen," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Transmigrasi (Disnakertrans) Pemkab Sragen, Arief Zaenal mengatakan, pihaknya masih mengumpulkan informasi tentang penyebab kematiannya.

"Kami juga sedang melacak riwayat perjalanan korban dari Indonesia ke Malaysia," kata Arief Zaenal.

Alasannya, ada dugaan Subari merupakan TKI ilegal yang berangkat ke Malaysia tanpa PJTKI. Selain itu dari informasi yang diperoleh pihaknya, Subari yang berangkat ke negeri Jiran sejak 10 tahun lalu ini diduga berangkat menggunakan visa wisata.

Jika nanti memang terbukti menjadi TKI illegal, kemungkinan besar keluarganya sendiri yang mengurus. Dalam hal ini, semua biaya penerbangan dan pemakaman menjadi tanggungan keluarga.

"Sementara, jika Subari adalah TKI legal, maka semua biaya yang timbul atas kematiannya menjadi tanggungjawab PJTKI yang menyalurkannya," terang Arief. (ary wahyu Wibowo/sindo/uky)

pwuiceg
18-10-07, 20:19
gw heran kok malah bingung mikirin TKI yg jelas2 ga pernah diperhatikan ama pemerintah qta. Gini, gw pikir pemerintah qta ini sudah tidak punya wibawa. Gw ambil contoh kasus ambalat, yg dulu rame2nya sekarang ga terdengar kabarnya padahal kan PM Malaysia jelas2 masih mengakui ambalat sebagai wilayah malaysia.
Kedua masalah GAM.
kalian pasti smua tau kalo GAM itu pemberontak dimata pemerintah qta, akan tetapi kenapa kok pemerintah qta ini sampai mau berunding dengan GAM sampai2 sekarang aceh udah punya hukum sendiri. Padahal negara qta punya aturan hukum yaitu tidak boleh ada hukum lain d dalam hukum yg telah ditetapkan pemerintah. Dan negara qta adalah negara kesatuan yg berarti juga semua aturan atau hukumnya adalah SATU....kalo suatu daerah punya aturan hukum sendiri bukankah itu sudah merupakan sebuah negara?? (dengan mengingat negara qta adalah negara kesatuan bukannya negara federasi)..Nah lo kalo itu gimana??

Trademaks
19-10-07, 15:18
Mampu Kirimi Keluarga Rp 6 Juta Per Bulan
Lebaran juga dinikmati para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mengadu nasib di Korea Selatan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos RIDLWAN HABIB pulang ke tanah air bersama para pahlawan devisa dari Negeri Ginseng itu.
----

WAJAH Hartono, warga Kepanjen, Malang, hari itu tampak berseri-seri. Dengan disertai tujuh TKI lainnya, pria 24 tahun itu sedang menunggu boarding ke pesawat di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan, untuk perjalanan "mudik" ke tanah air.

Mereka terlihat saling bercanda. Dandanan mereka juga gaul. Rambut dipanjangkan dan pakaian kasual ala anak muda Korea. "Tahun ini yang mudik lebih banyak dibanding tahun sebelum-belumnya," kata Hartono yang akan terbang dengan Korean Air itu.

Alumnus STM ini cukup beruntung. Pada 2004 dia mencoba melamar melalui sebuah perusahaan penyedia jasa tenaga kerja di Surabaya. "Saya masuk Korea Selatan pada September 2004, jadi sudah tiga tahun lebih sebulan," katanya.

Di Korsel, Hartono tinggal di mess karyawan. Lokasinya di Gwang Jin Gu, Seoul. Dia tinggal bersama rekan-rekan kerjanya yang rata-rata dari Asia. "Kebanyakan dari Malaysia, India, Bangladesh," kata pria yang bertugas di bidang perawatan mesin generator kapal itu.

Bagaimana rasanya kerja di Korsel ? "Alhamdulillah saya bisa menolong dan membahagiakan orang tua saya," jawabnya lalu tersenyum.

Tiga tahun membanting tulang di Negeri Ginseng, Hartono kini sudah punya modal untuk menyunting gadis pilihannya, Sulastri, yang fotonya dipandangi tiap malam sebelum tidur. "Saya menabung tiap bulan Mas," katanya malu-malu.

"Dia teman SMP saya, tetangga desa," tambahnya sambil menunjukkan foto seorang wanita berambut panjang yang tersimpan di dompet. Tahun depan, akhir Januari Hartono akan menikahi Sulastri.

Lain Hartono, lain pula Aris Jatmiko. Pria sulung tiga bersaudara itu menjadi tumpuan utama keluarganya di Trucuk, Bojonegoro, Jawa Timur. "Saya buru-buru pulang karena adik bungsu saya mau dilamar orang. Sebenarnya saya ingin pulang awal tahun (2008) sekalian mengurus dokumen perpanjangan kontrak, " ujar pria lajang itu.

Setiap bulan Aris mengaku selalu mengirim kabar dan uang ke kampung halaman. Aris merantau ke Ansan, Korsel, sejak empat tahun lalu. Dia bekerja di pabrik daur ulang. Tiap bulan, Aris mengaku bisa menabung hingga 600.000 won (sekitar Rp 6 juta). "Alhamdulillah Mas bisa mencukupi," katanya.

Di Korea, Aris aktif menjalin komunikasi dengan rekan-rekan sesama TKI yang bekerja di sana. "Bulan puasa lalu kami juga mengadakan buka puasa bersama," katanya.

Di Korsel ada komunitas dakwah Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI). Lembaga yang beralamat di Guro-gu, Guro-dong 458-10, Seoul. "Bulan lalu kami mengundang AA Gym dalam tabligh akbar di Taegu dan Ansan," katanya.

IKMI yang berdiri sejak Agustus 1997 itu juga aktif memfasilitasi TKI yang ingin dibantu dalam pengurusan dokumen-dokumen imigrasi di Korea. "Hubungan dengan KBRI Seoul sangat harmonis," tambahnya.

Aris menjelaskan, IKMI juga memfasilitasi TKI yang akan menikah di Korea. "Biasanya diadakan tiap hari Ahad di Musola Guro," katanya. Salah satu syaratnya, selain dokumen pengurusan surat nikah dari Indonesia, juga ada surat pernyataan menerima wali hakim bagi pihak mempelai perempuan.

Selain masalah pernikahan, para TKI juga saling berkirim kabar jika ada yang terkena musibah. "Bulan lalu ada juga yang meninggal dunia karena sakit, kami bantu mengurus pemakamannya," katanya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan (BNP2) TKI Jumhur Hidayat menjelaskan, hingga menjelang akhir semester pertama tahun ini Indonesia mampu menempatkan 1.132 orang TKI di Korea Selatan (Korsel). Angka itu masih jauh dari kuota yang diberikan negara itu, yakni 9.000 TKI untuk dipekerjakan di sektor formal (pabrik).

"Jika mampu menenuhi 9.000, tahun depan kita berpeluang mendapatkan alokasi 14.000 orang," kata Jumhur.

Korea, kata dia, membuka peluang bagi tenaga kerja asing sebesar 89.000 orang. Sebesar 40.000 dialokasikan untuk Tiongkok a dan sisanya diperebutkan enam negara, antara lain Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam dan Banglades.

Sebagai Kepala BNP2TKI, Jumhur menyatakan akan berjuang keras untuk mencapai target tersebut. Hanya, dia mengakui untuk mencapainya perlu kerja keras. Tahun lalu, sebelum BNP2 TKI terbentuk, Depnakertrans juga gagal menempatkan sekitar 3.000 TKI ke Korsel arena tidak ada program promosi pasar kerja ke sana.

Untuk melakukan percepatan program penempatan TKI ke negeri ginseng itu, BNP2TKI membentuk Komite Penanganan TKI Korea yang beranggotakan 30 orang. Mereka terdiri atas unsur pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.


referensi : http://www.indopos.co.id/

MimiHitam
19-10-07, 15:28
moga2 korsel tidk seperti ********* dan arab...

CrL-bLaCk-
19-10-07, 17:10
Kematian TKI Karena Pukulan
Sumber : ANTARA News

Kematian Redi Martin (19), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Cilacap, Jawa Tengah berdasarkan hasil autopsi tanggal 8 Oktober 2007 di Rumahsakit Sultanah Aminah, Johor Baru Malaysia, disebabkan pukulan benda tumpul.

"Korban meninggal tanggal 5 Oktober setelah dikeroyok warga sipil bukan penganiayaan oleh aparat keamanan," kata Direktur PT Tenaga Sejahtera Wirasta (TSW) Sulardi kepada ANTARA News, Kamis.

PT TSW merupakan Perusahaan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang memberangkatkan korban sebagai TKI resmi di Malaysia sebelum dinyatakan sebagai tenaga ilegal.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, Redi Martin berangkat ke Malaysia tahun 2005 melalui PT TSW untuk bekerja pada taman bunga di Johor Baru, namun sekitar tahun 2006 dia kabur dan bekerja di perkebunan sawit.

"Korban berangkat ke Malaysia secara resmi namun pulangnya secara ilegal karena kabur dari tempat pertama dia bekerja," kata Sulardi.

Dia mengatakan, korban dikeroyok warga sipil lantaran dituduh mencuri telepon genggam milik seorang wanita Melayu.

Setelah dilakukan pemeriksaan, kata dia, ternyata di jaket korban ditemukan telepon yang dimaksud.

"Suami wanita itu segera memukul korban namun dilawan dan perempuan Melayu tersebut meneriakinya sebagai pencuri hingga akhirnya massa datang dan memukulinya," kata dia yang datang ke Malaysia untuk mengurus proses pemulangan jenazah.

Menurut dia, korban meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit dan kejadian itu oleh warga setempat langsung dilaporkan kepada Polisi Diraja Malaysia.

Ia mengatakan, polisi yang mendengar laporan tersebut langsung menangkap tiga orang yang diduga sebagai pelaku penganiayaan yang mengakibatkan kematian.

"Bahkan salah satu dari mereka telah menjalani proses peradilan di Mahkamah Malaysia dan dituntut hukuman 20 tahun," katanya.

MimiHitam
20-10-07, 16:23
http://www.liputan6.com/daerah/?id=149426

20/10/2007 06:44 Kasus TKI
Dituduh Mencuri HP, TKI Dianiaya Hingga Tewas

Liputan6.com, Cilacap: Satu lagi tenaga kerja Indonesia yang bekerja Malaysia kembali menemui nasib nahas. Redi Marten, TKI asal Kecamatan Adipala, Cilacap, Jawa Tengah tewas dianiaya sejumlah warga Malaysia karena dituduh mencuri telepon genggam.

Kedatangan jenazah Redi Marten di rumahnya disambut isak tangis anggota keluarga dan kerabat. Tangis histeris makin menjadi saat pihak keluarga membuka peti jenazah korban untuk memastikan kebenaran jasad Redi Marten.

Kasus ini menambah panjang daftar TKI yang tewas di negeri jiran Malaysia. Sebelumnya, TKI asal Ponorogo, Jawa Timur tewas setelah mandi di sebuah kolam yang tidak jauh dari tempatnya bekerja

CrL-bLaCk-
20-10-07, 21:15
Waduh ternyata banyak banget yah TKI yang mati di negeri jiran. Apa pemerintah tidak melakukan usaha untuk mengusut dah mencegah jatuh korban yang lebih banyak lagi? Kan kalo begini terus kita bisa dianggap terlalu lembek sehingga dapat diinjak-injak martabat kita sebagai bangsa yang berdaulat oleh negara lain.

MimiHitam
23-10-07, 14:58
TKI Asal NTT dipaksakan Konsumsi Larutan Kimia di Malaysia
Selasa, 23 Oktober 2007 | 13:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Penyiksaan secara keji kembali dialami Fiktoria Usnaat, 27 tahun, warga Desa Bokon, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, salah satu Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia sejak 31 Maret 2006 lalu.

Fiktoria disiksa oleh majikannya dengan cara diseterika, disiram dengan zat kimia (larutan pemutih pakaian) dan dipaksakan mengkonsumsi limbah cucian pakaian, kaos kaki dan air sabun. Setelah puas menyiksa, sang majikan mengirim kembali Fiktoria ke kampung halamannya tanpa memberikan gaji maupun hak lainnya.

Kasus kekerasan terhadap TKI ini baru terungkap pada saat Fiktoria tiba kembali dikampung halamannya dan menceriterakan perlakuan keji sang majikan kepada ayah kandungnya, Martinus Usnaat (50), Senin lalu. Martinus yang tidak menerima perlakuan terhadap anaknya langsung mencari wartawan dan meminta menyebarluaskan kasus kasus penganiayaan tersebut dengan harapan pelaku penganiayaan, perusahaan yang terlibat dalam pengiriman anaknya ke Malaysia ikut bertanggungjawab atas masa depan anaknya yang sampai saat ini masih mengalami trauma dan menjalani perawatan medis karena sebagian besar luka bekas
penganiayaan belum sembuh.

Fiktoria, yang dihubungi wartawan di Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara, Selasa (23/10) mengatakan, dirinya direkrut PT. Kurnia Bina Rizki November 2005 tetapi baru mulai bekerja di Malaysia pada Maret 2006 karena masih mengikuti pelatihan bahasa Melayu dan ketrampilan menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta selama lima bulan.

"Setibanya di Malaysia, saya bekerja dengan seorang majikan selama empat bulan. Tetapi saya dipecat karena tanpa sengaja membuang obat majikan ke tempat sampah ketika membersihkan rumah. Saya dianiaya beberapa kali dengan cara dipukul. Beberapa hari kemudian saya dijemput oleh agency tenaga kerja bernama Mr. Calvin dan saya di jual kepada seorang pria. Saya tidak tahu nama pria itu. Selama enam bulan bekerja, saya tidak menerima gaji karena diambil oleh Mr. Calvin. Saya kemudian dijual lagi ke seorang majikan laki-laki yang juga namanya saya tidak kenal," kisahnya.

Menurut Fiktoria, selama bekerja dengan majikan yang baru, setiap hari ia mendapat perlakuan kasar dan tak manusiawai. Kadang-kadang tidak mendapat jatah makanan. Kalaupun ada, itu makanan basi. Fiktoria sendiri tidak tahu apa kesalahannya.

"Sekitar minggu kedua September 2007, saya dipanggil majikan dan dipaksakan mengkonsumsi air limbah cucian pakaian dan air rendaman kaos kaki. Saya berusaha menolak. Tetapi majikan saya mencampur zat kimia (Larutan pemutih pakaian, red) dengan sabun curah kemudian menyiram punggung, wajah dan belakang. Rasanya seperti hangus terbakar karena sebagian kulit saya melepuh. Saya juga dipaksakan untuk meminum sisa larutan kimia tersebut. Leher saya terasa panas mendidih dan dada saya rasanya hangus," katanya.

Setelah menderita hampir satu bulan, pada Rabu (17/10) baru-baru, majikannya mengirim pulang Fiktoria ke Indonesia menggunakan pesawat Air Asia Flight dengan nomor penerbangan AK.900 route Kualalumpur-Denpasar. "Saya menginap sehari di Denpasar dan melanjutkan perjalanan ke Kupang, pekan lalu dengan pesawat Merpati," katanya.

Kepala Cabang PT. Kurnia Bina Rizki, John Salomon yang dihubungi di Kupang, mengakui Fiktoria merupakan salah satu TKI yang dikirim perusahaannya ke Malaysia pada Maret 2006 lalu.

"Kami sementara melakukan investigasi penyebab penganiayaan yang dilakukan majikan kepada Fiktoria. Perusahaan sudah mengirim seorang staf ke Malaysia dan akan melaporkan kasus ini ke KBRI di Kualalumpur untuk diproses secara hukum. Kalau benar gaji dan hak Fiktoria selama bekerja di Malaysia tidak dibayar majikan maka perusahaan akan membayar secara utuh, termasuk klaim asuransi dan biaya peratawan," kata John. jems de fortuna

MimiHitam
25-10-07, 14:21
Parlemen Malaysia Usulkan Larangan Pekerja Asing

Kuala Lumpur (ANTARA News)- Para anggota parlemen menyerukan kembali larangan para pekerja imigran karena dikuatirkan para pekerja asing itu akan bersaing bagi pekerjaan dengan buruh lokal, kata laporan suratkabar-suratkabar, Kamis.

Beberapa anggota parlemen dari Koalisi Nasional yang memerintah mengutarakan tentang perlunya satu kajian terbaru mengenai kebutuhan akan buruh asing di negara itu, dan menambahkan banyak majikan kini lebih ingin mengambil para pekerja imigran karena upah mereka lebih murah ketimbang para pekerja lokal.

Anggota parlemen Shaari Hassan mengatakan satu kajian perlu dilakukan untuk melihat apakah pekerjaan tertentu masih dibutuhkan pelayanan para pekerja asing atau dapat dilakukan oleh para pekerja lokal.

"Saya juga mengusulkan agar rekruitmen para pekerja asing untuk sementara dibekukan sambil menunggu selesainya studi itu," katanya yang dikutip kantor berita Bernama.

Seorang anggota parlemen lain, Mohammad Shahrum Osman, mengatakan hukum yang lebih keras harus diberlakukan terhadap para imigran ilegal.

"Kita perlu menerapkan hukuman yang lebih berat terhadap imigran yang masuk secara tidak sah. Barangkali, dengan dua atau tiga cambuk rotan, mereka tidak akan berani masuk kembali ke negara ini secara ilegal.

"Tidak perlu memenjarakan mereka karena kita harus memberi mereka makan dan biaya-biaya lainnya," katanya.

Belum lama ini, pemerintah memberlakukan larangan sementara terhadap para imigran Bangladesh, menyusul serangkaian keluhan oleh para pekerja bahwa mereka dianiaya oleh majikan dan ditipu oleh agen-agen.

Malaysia sangat mengandalkan pada para buruh asing bagi pekerjaan kasar, tetapi secara reguler mendeportasi imigran gelap yang dituduh terlibat tindak kejahatan dan masalah-masalah sosial, demikian DPA.(*)

MimiHitam
29-10-07, 19:32
27/10/2007 19:45 WIB
Diperkosa Majikan, TKI Sukabumi Melahirkan Bayi Arab
Rosdiana Dewi - detikcom
Jakarta - Niat Ati Lestari (25) bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, untuk membantu ekonomi keluarganya harus berakhir tragis. 2 Tahun menjadi TKI, tak sepeser pun gaji yang diterima. Malah dia pulang dengan perut membuncit akibat diperkosa majikannya.

Ati berangkat ke Abu Dhabi pada 9 September 2005. Lazimnya tujuan para TKI yang mengadu nasib ke luar negeri, warga kampung Banen RT 19 RW 07 Desa Buniwangi, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi itu ingin membantu orangtuanya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.

Oleh PT Pundi Putra Indotama, PJTKI yang mengirimnya, Ati diserahkan kepada majikannya yang bernama Kholid Muhammad Yusuf Halfani.

Awalnya, sang majikan memperlakukan Ati dengan baik. Namun, pada suatu malam, kira-kira di akhir 2006, sang majikan memperkosa Ati. Meski hanya sekali, ternyata tindakan sang majikan membuahkan janin dalam rahim Ati. 19 Bulan Ati bekerja di rumah Kholid.

Ati baru sadar ketika perutnya semakin bertambah besar. Akhirnya, saat usia kandungannya menginjak 6 bulan, dia memutuskan kabur. Tujuannya hanya satu, menyelamatkan diri ke KBRI Abu Dhabi.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat di raih. Bak jatuh tertimpa tangga, dalam pelariannya Ati bertemu sopir taksi warga Arab. Ati yang dalam keadaan kalut itu, menerima ajakan sang sopir.

Bukannya diselamatkan, Ati dibawa ke sebuah tempat. Sopir tersebut menjual Ati kepada seseorang dan dia diperkosa lagi. Sehari kemudian, Ati berhasil kabur. lagi-lagi dia ingin ke KBRI.

Sayangnya, Ati yang tidak tahu jalan, menerima ajakan sopir taksi lain. Kejadian serupa terulang. Kali ini, sopir bejat tersebut membawa Ati ke sebuah hotel dan menjualnya kepada 4 pria Arab. Ati pun sempat 'digilir'.

Setelah dua hari dipaksa meladeni 4 pria, Ati berhasil kabur dari hotel. Tujuannya masih sama, ingin berlindung ke KBRI. Untungnya, di kali ketiga usahanya, Ati ditolong seorang sopir taksi asal Pakistan yang kemudian mengantarkannya ke KBRI.

Ati yang bingung dan depresi sempat menjalani perawatan selama beberapa hari. Setelah pulih, oleh KBRI Ati dicarikan majikan baru. Namun dia hanya bekerja beberapa pekan. karena kehamilannya yang semakin besar Ati memutuskan ke Indonesia.

Ati tiba di Jakarta pada 22 September 2007 lalu. Tak sepeser pun uang hasil keringatnya selama di Abu Dhabi yang dibawa pulang. Kondisinya pun tak lebih baik. Depresi masih menderanya.

Sabtu (27/10/2007), Ati akhirnya melahirkan di Rumah Sakit Samsuddin Kota Sukabumi. Hanya bibinya yang menunggui. Ibunya, Nuryana (45) tak sanggup mendampingi putrinya, karena masih sakit akibat sempat mengalami stroke ketika tahu nasib Ati.

Pengamatan detikcom, bayi laki-laki yang dilahirkan Ati berambut ikal dengan kulit agak gelap. Ketika menuturkan kisahnya, Ati masih tampak lemah.

Dengan wajah ditutupi kerudung hitam, Ati mengaku tak punya biaya untuk membayar biaya persalinan. "Saya nggak punya uang untuk bayar biaya melahirkan sebesar Rp 1,6 juta," tuturnya.

Dia mengaku, sudah menghubungi PJTKI yang mengirimkannya. Namun belum ada jawaban atas tuntutan gajinya selama 19 bulan yang belum dibayarkan majikan. "Kata mereka saya kabur jadi saya dibilang TKI ilegal," lirihnya.

Khawatir biaya perawatan usai melahirkan semakin membengkak, Ati memilih pulang pada Sabtu sore. Pihak rumah sakit memberi keringanan dengan memperbolehkan Ati mencicil biaya tersebut. "Biar dirawat bidan saja di rumah," pungkas Ati. (bal/bal)
http://www.detiknews.com/indexfr.php...646/idkanal/10

sungguh ironis pahlawan devisa kita malah hamilin orang arab

MimiHitam
30-10-07, 20:00
Memakan bangsa sendiri…
Nasib malang buruh migran perempuan di Arab Saudi


“Mas disini mah biasa...driver punya peliharaan TKW nyampe 20 orang" kata driver asal Indonesia yang bekerja di Arab Saudi. Perilaku ini baru sebagian yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dengan tega menjerumuskan para buruh migran perempuan padahal sama-sama berasal dari Indonesia.

Para buruh migran Indonesia yang bekerja di Arab Saudi umumnya yang perempuan menjadi pembantu rumah tangga (housekeeper), sedangkan yang pria menjadi sopir (driver). Namun maraknya perlakuan buruk yang menimpa buruh migran Indonesia terutama perempuan ketika harus mencari upaya meminta pertolongan malah berbuntut dengan masuk ke kandang macan !

Para buruh migran perempuan yang mendapat perlakuan buruk majikannya biasanya kabur tanpa sempat membawa dokumen. Tatanan hukum dan budaya di Arab Saudi tidaklah seperti di Indonesia. Bagi masyarakat di sana, seorang perempuan ketika terlihat berjalan sendirian di jalanan umum, walau pun dengan identitas tapi tidak jelas tujuan bisa di tangkap polisi. Apa lagi yang tidak beridentitas. Sehingga mencari perlindungan terdekat dan mudah merupakan solusi praktis bagi buruh migran perempuan yang kabur dari majikan.

Dalam keadaan kalut inilah, para buruh migran perempuan sering kali meminta bantuan perlindungan dari buruh migran Indonesia yang pria. Tapi sayangnya, para buruh migran pria dan umumnya bekerja sebagai driver ini sering kali mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Para buruh migran pria ini ketika menampung “pelarian” buruh migran perempuan acapkali memperkosa. Dalih yang di ucapkan para buruh migran pria ini biasanya dilakukan suka sama suka. Ironis sekaligus menyayat hati melihat perilaku para buruh migran pria yang mempunyai tingkah laku seksual biadab ini. Sesama perantauan di negeri asing ternyata tidak menumbuhkan rasa persaudaraan, justru nafsu binatang lah yang menyeruak.

Tidak cukup dengan memperkosa atau memaksa berbuat *****, setelah puas, para buruh migran perempuan ini kemudian di jual kepada majikan baru oleh para penampungnya ini. Untuk setiap buruh migran perempuan yang di jual, para buruh migran pria ini akan mendapat imbalan 100-200 real (250rb - 500rb) dari majikan baru. Mereka ini tidak peduli apakah majikan baru bersikap baik atau tidak, yang penting dapat uang dari hasil menjual saudara sebangsanya sendiri !

Fenomena ini luput dari pengamatan banyak pihak, terlebih lagi pemerintah. Perilaku sesama anak bangsa yang malah memakan saudaranya sendiri tidak pernah di ekspos secara terbuka. Hal ini menjadi duri di dalam daging, ketika banyak pihak yang sangat peduli untuk membuat nasib buruh migran Indonesia lebih baik, ternyata di hadapkan pada kenyataan bahwa ada sebagian orang-orang Indonesia yang bekerja di Arab Saudi ternyata menjadikan para buruh migran perempuan sebagai budak seks dan budak belian.

Pemerintah harus segera mengakhiri lingkaran ***** ini. Upaya yang dapat segera dilakukan adalah menangkap dan mendeportasi orang-orang Indonesia yang menjadikan para buruh migran perempuan sebagai budak seks dan budak belian. Hukum mereka dengan seberat-beratnya. Kejahatan yang dilakukan para oknum ini sangat tidak termaafkan karena telah menodai ibu pertiwi.(btl)


source:
http://www.iwork-id.org/index.php?ac...ail&id_news=46

CrL-bLaCk-
02-11-07, 18:11
Ulah Pengacara Nakal, Pengadilan Malaysia Tunda Kasus TKW
Sumber : ANTARA News

Indah Wijayanti, 22 Thn, TKW asal Lampung Utara, terpaksa mendekam satu tahun di penjara sambil menunggu keputusan pengadilan Malaysia yang menunda sidangnya sekitar satu tahun hanya karena pengacara tidak hadir.

"Indah telah menjadi korban. Ia harus menunggu keputusan pengadilan di dalam penjara sekitar satu tahun karena hakim pengadilan Shah Alam menunda sidang pada bulan September 2008 hanya akibat ulah pengacara sukarela Malaysia yang tidak hadir dalam pengadilan," kata Rizaldi, staf KBRI Kuala Lumpur, Jumat.

Indah salah memilih pengacara. Ketika ia ditahan polisi karena tuduhan membunuh majikan perempuannya, pengacara Shaun KS Tan langsung mendatangi dan menawarkan jasanya. Setelah Indah menunjuk dia sebagai pengacara, kasusnya ditelantarkan. Akibat tidak hadir, hakim marah dan menunda hingga tahun depan.

"Hal ini sering terjadi pada pekerja Indonesia. Hakim Malaysia tampaknya kurang memperhatikan apakah terdakwa atau korban ini orang asing atau bukan. Jika proses pengadilan memakan waktu lama akan menderitalah pekerja kita. Sudah tidak boleh bekerja dan mendapatkan nafkah harus menunggu sidang pengadilan yang lama, seperti yang dialami juga oleh Nirmala Bonat," kata Rizaldi.

Padahal Indah ini sudah mengakui bahwa ia telah membunuh majikan perempuan karena sakit hati sering dimarahi. Pengadilan Malaysia seharusnya memproses keputusan dengan cepat tapi karena ulah pengacara sukarela ini nakal dan hanya cari popularitas saja.

Indah bekerja kepada majikan Malaysia keturunan ****. Pada suatu hari di bulan Juli 2007, ia terpaksa membunuh majikan perempuan akibat akumulasi kemarahan dan kekesalannya. Majikan dibunuh ketika sedang membaca koran dengan sebilah pisau.

"Kami akan menggantikan pengacara Indah dengan pengacara KBRI. Tapi untuk mencabut pengacara awal harus persetujuan indah. Semula pengacara itu tidak minta uang karena sukarela tapi belakangan minta dibayar 100.000 ringgit karena tahu perusahaan asuransi akan membiaya honor pengacara," katanya.

Indah bekerja secara legal di Malaysia. Ia dikirim oleh PT Triganda Swajaya di Jakarta Barat sehingga dilindungi oleh perusahaan asuransi.

Link : http://www.antara.co.id/arc/2007/11/2/ulah-pengacara-nakal-pengadilan-malaysia-tunda-kasus-tkw/

Waduh pengacaranya parah banget tuh, pertama sukarela. Eh denger ada biaya dari perusahaan asuransi langsung minta bayaran, setelah itu malah ga hadir dalam sidang lagi, bener-bener kasian devisa negara kita disana.

CrL-bLaCk-
04-11-07, 10:47
Pemerintah Bangun Embarkasi TKI di Dumai
Sumber : Rudi Kurniawansyah - Media Indonesia Online

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) akan membangun embarkasi atau terminal keberangkatan bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dengan tujuan Malaysia di Kota Dumai, Provinsi Riau. Rencana pembangunan embarkasi tersebut akan dimulai tahun 2008 dengan menggunakan dana APBN.

“Walikota Dumai telah menghadap saya untuk menyampaikan persetujuannya mengenai rencana pembangunan embarkasi bagi TKI tujuan Malaysia di Dumai. Apabila konsepnya sudah siap, pada APBN 2008 sudah bisa dimasukkan anggarannya,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Eman Suparno usai menghadiri pembukaan Munas II Pergerakan Perempuan Kebangkitan Bangsa (PPKB) di Hotel Ibis Pekanbaru, Sabtu 3/11).

Erman menjelaskan embarkasi yang dibangun di kota Dumai merupakan embarkasi pertama di Indonesia yang memiliki konsep pelayanan one stop service. Terminal keberangkatan resmi bagi TKI itu, rencananya akan mempunyai berbagai macam jenis pelayanan dan kemudahan tersendiri dalam pengurusan berbagai dokumen kerja.

Disana, lanjutnya, TKI dapat menyelesaikan segala sesuatu terkait perizinan dan dokumen resmi lainnya di embarkasi tersebut. Diharapkan konsep pelayanan ini dapat menjadi landasan dalam pembangunan embarkasi di Indonesia.

“Embarkasi ini akan memiliki one roof service, mulai dari pengurusan paspor, visa kerja dan dokumen lain. Pokoknya, semua yang diperlukan TKI bisa langsung diurus dan diselesaikan ditempat itu juga,” jelas Erman.

Berdasarkan data Depnakertrans, saat ini Indonesia memiliki tiga bandara yang ditetapkan sebagai embarkasi TKI. Ketiganya adalah Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Adi Sumarmo Solo. Selain itu ada dua pelabuhan yakni Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak yang ditetapkan sebagai embarkasi TKI melalui jalur laut.

Link : http://www.mediaindonesia.com/

Semoga dengan begini TKI ilegal akan segera berkurang dan pertanggungjawaban nasib TKI nantinya akan semakin jelas.

CrL-bLaCk-
08-11-07, 01:28
Dua TKI Bekerja di Irak Tiba di Tanah Air
Sumber : Media Indonesia Online

Dua orang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang selama ini bekerja di Kurdistan, Irak telah tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (7/11) sekitar pukul 16.05 WIB, setelah berhasil diselamatkan oleh LSM Migrant Care.

Dua TKI itu, Ellly Anita dan Darmiati Jaba terbang dari daerah konflik di Irak menggunakan pesawat Emirates, nomor penerbangan EK-345 ETA dalam kondisi yang nampak lemah setelah mengakui mendapatkan tekanan selama bekerja di Irak.

"Awalnya saya kerja di Dubai, karena mendapatkan ancaman dari majikan, saya melarikan diri dan mendapatkan kerja di daerah Mosul, Kurdistan, Irak," kata Elly Anita, dengan logat Jawanya yang masih kental itu.

Menurut Anita, sebelum berangkat ke Dubai, dirinya sudah mendapat masalah mulai dari adanya perbedaan antara nomor visa dengan nomor paspor yang dibawa, sehingga perjalanan wanita asal Dusun Tirtoasri, Desa Andongsari, Ambulu, Jember, Jatim itu menjadi terhambat.

Dia menyatakan, selama bekerja di Dubai, majikannya selalu mengancam akan memperkosa bahkan sampai dipukuli lebih dari 10 kali dalam sehari.

Ia pernah nekad mencoba bunuh diri dengan cara terjun dari lantai dua tempatnya bekerja, namun petugas keamanan berhasil mencegahnya.

Hingga akhirnya, dia dapat melarikan diri dari tempat kerjanya dan tidur di jalanan selama tiga hari, sebelum mendapatkan pekerjaan baru di Irak melalui agen perusahaan penyaluran tenaga kerja Nashwan Labour Agency.

Selama di Irak, wanita yang pernah bekerja di Hong Kong, Malaysia, dan Bahrain itu sempat merasakan ketakutan yang luar biasa.

Pasalnya sering terjadi kontak senjata dan ledakan *** yang tidak jauh dari tempat kerjanya.

Menurut Anita, saat ini terdapat sekitar 50-an TKI termasuk Anita dan Darmiati, yang bekerja di daerah yang sedang bergejolak tersebut, namun hingga saat ini belum diketahui kondisi dan nasibnya.

Selain terperangkap di wilayah konflik bersenjata, dirinya pun mendapatkan perlakuan kasar dari majikan tempat bekerja di Irak.

Darmiati juga mengaku, sebelum meninggalkan Irak, sempat pula mendapatkan perlakuan kasar dari majikannya yang bernama Mahmud Abdul Jabar Mustofa.

Link : http://www.mediaindonesia.com/

Sampai kapan TKI kita akan hidup dan bekerja dengan ketakutan dan derita di luar sana. Semoga pemerintah terus memperhatikan keadaan TKI kita.

Trademaks
08-11-07, 16:35
Pintu masuk TKI (tenaga kerja Indonesia) yang bekerja di Sabah dan wilayah Malaysia bukan lagi bocor tapi sudah jebol di Tawau, Sabah karena mudahnya ribuan WNI, sebagian besar dari Sulawesi, NTT, dan NTB, masuk ke Tawau.

"Menurut data penyeberangan feri di Tawau tahun 2005 ada sekitar 1.000 orang masuk ke Tawau dan sekitar 300 orang kembali ke Nunukan, Kalimantan Timur. Kemana sekitar 700 orang per hari itu menghilang. Ini berarti pertahanan Indonesia bukan lagi bocor tapi sudah jebol," kata Didik Eko, staf KJRI Kota Kinabalu, Sabah, Rabu (7/11).

Bersama dengan Atase Tenaga Kerja KBRI Kuala Lumpur Teguh H Cahyono, ia meninjau pelabuhan penyeberangan kapal feri antara Tawau dan Nunukan. Ada sekitar sembilan kapal yang melayani rute penyeberangan tersebut setiap hari.

Akibat jebolnya pintu TKI dari Indonesia di Tawau, menyebabkan gaji TKI di perkebunan kelapa sawit di Sabah dan Sarawak tidak mengalami peningkatan sejak dekade 1980 hingga kini karena terlalu banyak pasar TKI dan terlalu mudahnya TKI masuk ke Tawau.

"Indonesia memang sudah melarang TKI ke luar negeri bila tidak melalui perusahaan tenaga kerja melalui UU No 39 tahun 2004 mengenai penempatan dan perlindungan TKI ke LN, agar gaji dan kondisi kerja TKI dapat terlindungi dan terkontrol. Bila ada kecelakaan kerja akan dapat asuransi, tapi Malaysia mengizinkan WNI masuk dengan visa on arrival baru diuruskan izin kerjanya di Malaysia," ujar Teguh.

Indonesia harus meminta kerajaan Malaysia untuk tidak mengeluarkan izin kerja kepada WNI di Malaysia. TKI yang ingin bekerja di Malaysia harus sudah memiliki izin kerja dan kontrak kerja sebelum ke Malaysia.

Masyarakat dan pers Malaysia sering meributkan pekerja asing terutama Indonesia, padahal Indonesia sudah mengatur agar TKI itu berangkat ke Malaysia sudah ada izin kerja dan kontrak kerja, tapi kerajaan Malaysia malah melonggarkannya, tambah Didik.

"Jadi masyarakat dan pers Malaysia jangan sembarangan menuduh TKI merampas kesempatan kerja di Malaysia karena kerajaan mereka sendiri membuat berbagai kelonggaran terhadap masuknya TKI. Selain itu, jangan hanya menuduh TKI mencari makan di Malaysia, tapi para pengusaha dan kerajaan Malaysia juga cari makan dengan masuknya TKI," paparnya.

"TKI kita belum kerja saja dan dapat gaji, kerajaan Malaysia sudah terima levi (pajak izin kerja). TKI bekerja satu tahun belum tentu dapat mengembalikan uang untuk biaya transportasi ke Malaysia tapi kerajaan Malaysia sudah dapat pemasukan," ujar Teguh.


referensi : http://www.gatra.com/artikel.php?id=109332


kalau sudah begini,siapa yang sepatutnya disalahkan ?

CrL-bLaCk-
08-11-07, 19:02
Penipu Calon TKI Ditangkap
Sumber : ANTARA News

Julius Hendro (36), tersangka penipu belasan calon tenaga kerja ke luar negeri, ditangkap pihak Ditreskrim Polda Bali dalam suatu penyergapan.

Petugas yang telah cukup lama memburu Julius, pada awal pekan ini menemukan pria asal Pati, Jawa Tengah itu datang ke tempat tinggalnya di Jalan A Yani Denpasar, sehingga langsung dilakukan penyergapan dan penangkapan.

Wadirreskrim Polda Bali AKBP Erwin C Rusmana di Denpasar, Kamis mengatakan, tersangka Julius tidak melakukan perlawanan saat polisi datang menyergap dan menangkapnya.

Penangkapan atas Julius dilakukan setelah petugas mendapat laporan bahwa orang yang mengaku penyalur tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri itu telah melakukan penipuan, ucapnya.

Aksi penipuan tersebut diawali dengan dilakukannya pemasangan iklan pada sebuah media massa di Bali, menyebutkan bahwa sebuah perusahaan penyalur TKI menerima calan naker yang ingin bekerja di Korea Selatan (Korsel).

Mendapat informasi tersebut, sedikitnya 13 orang calon naker datang ke tempat pendaftaran yang ditunjuk, dan di tempat itu bertemu dengan Julius.

Kepada para calon naker, Julius minta masing-masing menyediakan uang Rp38 juta untuk pengurusan surat-surat termasuk biaya visa dan transportasi sampai ke tempat tujuan di Korsel.

Dimintai uang sebanyak itu, 13 calon naker yang mendaftar mengaku tidak keberatan, dan pada 5 Juni lalu mereka diajak oleh Julius ke Bangkok, Thailand.

Tiba di kota tersebut, ke-13 calon naker diajak untuk menginap di sebuah hotel berbintang, namun keesokan harinya Julius tiba-tiba menghilang sambil menitipkan sebuah map kepada salah seorang korban.

Wadirreskrim mengatakan, map yang diserahkan Julius tersebut ternyata isinya tiket pesawat untuk pulang ke Bali, berikut surat-surat lain milik para korban.

Merasa kena tipu, dengan tiket tersebut ke-13 korban pulang dari Bangkok ke Bali, setelah tiga hari sempat menjadi "turis dadakan" di ibukota Thailand itu.

AKBP Erwin mengatakan, pihaknya yang mendapat laporan, akhirnya berhasil meringkus tersangka Julius yang tiba-tiba nongol ke tempat tinggalnya di Denpasar, setelah cukup lama menghilang.

Untuk pengusutan lebih lanjut, tersangka yang telah cukup lama menetap di Denpasar itu kini ditahan pihak Ditreskrim Polda Bali.

Link : http://www.antara.co.id/arc/2007/11/8/penipu-calon-tki-ditangkap/

Penipu-penipu yang seperti ini harus segera diberantas. Kasian para calon TKI itu, mereka kan mo jadi TKI karena butuh duit. Eh malah ditipu..

MimiHitam
08-11-07, 20:28
sapa suruh jadi TKI :p ngapain ke malaysia atao arab, disana malah disiksa

CrL-bLaCk-
16-11-07, 18:35
Terjebak Konflik
Pemerintah Kesulitan Pulangkan TKW di Irak
Sumber : Muhammad Hasits - Okezone

Pemerintah mengaku kesulitan pulangkan tenaga kerja wanita (TKW) yang masih terjebak di wilayah konflik di Irak. Menurut juru bicara Deplu Kristiarto Legowo saat ini TKW yang masih berada di Irak berjumlah 20 orang.

"Kita masih upayakan pemulangannya dengan cara melakukan koordinasi yang erat dengan berbagai pihak melalui International Organization of Imigration (IOM)," jelas Kristiarto di Gedung Deplu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat (16/11/2007).

Kesulitan pemulangan, menurut Kristiarto disebabkan situasi konflik yang membatasi ruang gerak untuk mendapatkan akses kepada para TKW itu.

Saat ini, meski Deplu sudah tidak memiliki Kedubes di Bagdhad dan pejabat diplomatik lainnya, Deplu dapat mengandalkan staf lokal di Irak untuk menjalin hubungan dengan pihak terkait di Irak. Selain itu, Deplu juga meminta bantuan kedubes AS di Jakarta dan Amman.

"Tapi yang lebih penting kita lakukan adalah memanfaatkan keberadaan IOM, karena mereka punya ruang gerak yang lebih leluasa," terang dia.

Beberapa pekan lalu, pemerintah Indonesia melalui bantuan IOM berhasil memulangkan dua TKI dari Kurdistan masing-masing Rodiah dan Eli Anita.

Link : http://news.okezone.com/index.php/news/detail/2007/11/16/1/61426

Semoga TKI yang berada di daerah konflik dapat kembali pulang dengan selamat di Indonesia.

CrL-bLaCk-
16-11-07, 18:39
TKI Ilegal Dipulangkan, Oknum Dinas Transmigrasi Terlibat
Sumber : Banda Harunddin Tanjung - Okezone

Setelah menginap di kantor polisi selama satu hari akhirnya Kamis (15/11/) siang, sebanyak 15 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) akan di lepaskan. Sebab, menurut pihak kepolisiaan mereka itu memiliki paspor.

"Sore ini ada 15 TKI yang kita bebaskan karena mereka ada paspor dan dokumen lainya. Mereka akan berangkat sendiri ke Malaysia. Sedangkan sisanya besok. Kita sudah tetapkan satu tersangka yaitu Iwan," terang Kapolsek AKP Kota Pekanbaru AKP Darimi kepada okezone, Jumat (16/11/2007).

Sedangkan, untuk ke 38 TKI Ilegal lainnya dikembalikan besok ke kampung halaman mereka masing-masing. Untuk memulangkan 38 TKI Ilegal itu polisi akan bekerja sama dengan Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau. Sedangkan, saat ini polisi telah menetapkan satu tersangka.

Darimi menambahkan, Iwan ini telah lama berbisnis penyaluran TKI. Dia inilah yang menampung 53 TKI tersebut. Iwan juga terlibat dalam kasus pemalsuan data TKI yang akan diberangkatkan ke Malaysia.

Bahkan untuk memuluskan perbuatanya, Iwan itu bekerja sama dengan seorang oknum Dinas Tranmigrasi Pekanbaru yang saat ini telah di tetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

"Iwan ini sudah berbisnis menyalurkan TKI selama 2 tahun. Dia bekerja sama dengan YT oknum transmigrasi untuk buat dokumen palsu. Sementara itu kita juga menetapkan 3 tekong yang memberangkatkan para TKI ini menjadi DPO," kata Darimi. Selain itu menetapkan tersangkanya, polisi juga mengamankan barang bukti ratusan lembar surat palsu seperti KTP, Akta, Kartu Keluarga dan surat-surat palsu lainya di rumah Iwan.

Link : http://news.okezone.com/index.php/news/detail/2007/11/15/1/61265

CrL-bLaCk-
18-11-07, 13:44
Lagi, TKW Jadi Korban Penganiayaan
Sumber : okezone.com

Kisah pilu seorang tenaga kerja wanita (TKW) kembali terulang. Kali ini dialami oleh Dedah binti Sadi (37). TKW asal Kampung Palasari RT17/07, Desa Sukamaju, Kec Caringin, Kab Sukabumi ini harus menjalani siksaan dari keluarga majikannya di Amman, Yordania. Penderitaannya berakhir setelah Dedah berhasil kabur dan pulang ke kampung halamannya, Kamis lalu (15/11).

Saat ditemui di kediamannya, Dedah menuturkan, tindak kekerasan yang dilakukan oleh keluarga majikannya itu terjadi selama empat bulan berturut-turut. Perlakukan kasar ini harus diterimanya meski hanya karena hal sepele atau tanpa alasan jelas sekalipun. Bahkan Dedah nyaris tidak dapat pulang ke kampung halaman, setelah seluruh dokumen pribadinya dihancurkan oleh sang majikan.

"Seluruh tubuh saya menjadi sasaran amukan keluarga majikan. Selain digigit dan disundut, beberapa bagian tubuh saya juga ditusuk-tusuk dengan menggunakan garpu," lirih Dedah, Minggu (18/11/2007).

Wanita yang telah tiga kali bekerja sebagai TKW ini mengaku, dirinya pernah mengalami kondisi kritis setelah majikannya berusaha membunuh dengan cara mencekik lehernya.

Dedah menuturkan, kisah pilu ini berawal ketika dirinya memutuskan untuk kembali bekerja sebagai TKW dengan menggunakan jasa PT Bagus Bersaudara. Pada 13 Mei 2007, oleh perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia yang beralamat di Pondok Gede, Bekasi ini, Dedah berangkatkan ke Yordania sebagai pembantu rumah tangga pada keluarga Fatani. "Sebelumnya saya selalu bekerja sebagai TKW di Arab Saudi," kata Dedah.

Pada bulan pertama bekerja, keluarga Fatani masih memperlihatkan perlakuan baik layaknya seorang majikan terhadap pembantunya. Namun memasuki bulan ketiga, sikap serta perlakuan keluarga Fatani tiba-tiba berubah kasar.

"Fatani maupun isterinya selalu menyiksa saya setiap hari dengan alasan pekerjaan saya tidak memuaskan. Bahkan saya sering menjadi pelampiasan emosi keduanya jika ada permasalahan lain yang tidak ada kaitannya dengan saya," papar Dedah.

Salah satu permasalahan yang nyaris membunuhnya, kata Dedah, adalah ketika dirinya menerima telepon dari Daryono, suaminya yang bekerja sebagai tukang cuci kendaraan di Bendungan hilir, Jakarta. Kedua majikannya tak segan-segan menyiksa dan berusaha mencekik saya.

"Seolah-olah saya ini bukan manusia. Mereka sepertinya jijik dan ingin membunuh saya. Terakhir kali, isteri majikan saya merobek seluruh dokumen pribadi," lirihnya.

Tak tahan diperlakukan kasar, Dedah akhirnya berusaha untuk meninggalkan tempat tinggal majikannya dan melaporkannya kepada pihak kepolisian setempat. Namun hal tersebut, urung dilakukan mengingat Dedah tidak memiliki biaya untuk kepulangannya ke tanah air. Dalam kondisi terbatas, Dedah akhirnya nekat meminta perlindungan dan bantuan salah satu tetangga majikannya.

"Beruntung, saya dibantu oleh tetangga majikan. Mereka memberi saya uang sebanyak 250 dinar. Dengan uang itu saya bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga serta suami," ujarnya.

Meski telah sampai di kampung halamannya, tidak serta merta penderitaan Dedah berakhir. Sebagian besar harta benda hasil keringatnya bekerja sebagai TKW, amblas dibawa kabur kawanan pencuri yang menyatroni rumahnya sepakan sebelum Dedah pulang.

Kini, Dedah berharap agar pihak kepolisian maupun pemerintah Indonesia dapat membantu menyelesaikan permasalahannya dengan keluarga Fatani, terutama terkait dengan upah yang yang belum seluruhnya terbayarkan oleh keluarga Fatani.

Link : http://news.okezone.com/index.php/news/detail/2007/11/18/1/61780

Benar-benar memperhatikan keadaan TKI dan TKW kita di luar sana..

CrL-bLaCk-
20-11-07, 13:51
TKW Meninggal di Malaysia
Jenazah Mugenah Diotopsi di RSU Abdul Moeloek
Sumber : okezone.com

Rumah Sakit Umum (RSU) Abdul Moeloek Bandar Lampung, rencananya akan melakukan otopsi terhadap jenazah Mugenah (18), tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Candirejo, Lampung Tengah yang meninggal di Malaysia, Selasa (20/11/2007) ini. Otopsi itu merupakan permintaan keluarga yang masih ragu bila Mugenah meninggal akibat bunuh diri.

Jenazah Mugenah sendiri baru tiba di Lampung pada Senin, 19 November malam. Seperti informasi yang diterima keluarga, Mugenah meninggal pada 2 November. Sedangkan, pihak keluarga baru mendapat kabar dari Malaysia pada 9 November.

Tri Basuki (30), kakak kandung korban mengatakan, keluarga meminta dilakukan visum atau otopsi atas mayat adiknya untuk memastikan apakah Mugenah bunuh diri atau dibunuh. Dia tidak percaya dengan bukti hasil visum dari Malaysia yang menyebutkan Mugenah bunuh diri.

"Meskipun pendiam, adiknya saya termasuk penurut dan taat terhadap syariat agama. Kami meminta Mugenah divisum ulang di RSU Abdul Moeloek," kata Tri.

Dia mengaku, korban terakhir menghubunginya pada pekan kedua sebelum Idul Fitri lalu. Bahkan, dia menyatakan bila awal 2008 akan kembali ke Lampung. "Saya diberitahu PJTKI yang mengurus keberangkatan Mugenah ke Malaysia," tegas Tri.

Mugenah sendiri sudah bekerja menjadi TKW di malaysia selama 2,7 tahun. Selama satu tahun menjadi pembantu rumah tangga dan tahun kedua bekerja di pabrik pengolahan udang.

"Yang jelas, dia meninggalnya saat bekerja di perusahaan tersebut. Saat saya tanya apakah betah bekerja di situ, Mugenah menyatakan lelah, namun tetap dilaksanakan," kata Tri.

Link : http://www.okezone.com/

MimiHitam
23-11-07, 15:01
http://www.detiknews.com/indexfr.php...173/idkanal/10

Perempuan Asal Bandung Meninggal Misterius di Arab Saudi
Erna Mardiana - detikcom

Bandung - Yanti Binti Uto (28), TKW asal Kampung Ciputih RT 2 RW 5 Desa Karamatmulya Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung meninggal secara misterius di Arab Saudi. Tidak diketahui jelas penyebab kematiannya. Keluarga hanya diberi kabar jika Yanti bunuh diri pada April lalu di Kota Abha, Jeddah, Arab Saudi.

Menurut Kakek Yanti, Danu Saripudin, Kamis lalu (15/11/2007), rumahnya kedatangan perwakilan dari desa, Deplu, serta utusan dari PJTKI yang memberangkatkan Yanti, PT Binhasan Maju Sejahtera.

"Pak Suseno dari Deplu bilang kalau Yanti meninggal di Arab Saudi. Katanya bunuh diri. Mereka bertanya apakah jenazahnya mau dimakamkan di sana atau dibawa ke tanah air," ujar Danu saat ditemui wartawan di kediamannya, Kp Ciputih RT 2 RW 5 Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (20/11/2007). Saat ini, kata Danu, jenazah Yanti masih berada di RS di Jeddah.

Saat ditanya bagaimana kronologi kematian Yanti, Danu mengaku pihak Deplu tidak bisa menjawab. "Mereka hanya bilang meninggal April lalu. Kami sekeluarga syok. Kenapa setelah 7 bulan meninggal baru dikasih tahu," kata Danu.Merasa curiga dan tidak puas atas keterangan dari pihak Deplu dan PJTKI, kata Danu, pihak keluarga meminta hasil visum jenazah Yanti.

Untuk pengurusan jenazah, lanjut dia, pihak keluarga memutuskan untuk menguburkannya di tanah air. "Prosesnya katanya bisa sampai tiga bulan," kata dia.

Berdasarkan dokumen dari PT Binhasan Maju Sejahtera, Yanti berangkat ke Arab Saudi pada tanggal 19 Mei 2006. Dia sempat tinggal di tempat penampungan selama 18 hari.

_____________
memang bangsa kita ditakdirkan jadi budak arab

MimiHitam
24-11-07, 16:47
Dianiaya Majikan, Seorang TKW Terancam Lumpuh

PANDEGLANG--MEDIA: Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Pandeglang, Banten, terancam Lumpuh kaki kanannya akibat dianiaya oleh majikannya di Arab Saudi.

Korban bernama Ruminih, 25, kini terbaring di rumahnya di Desa Karangsari, Kecamatan Angsana, Pandeglang, karena sekujur tubuhnya serta kepalanya mengalami luka-luka akibat hantaman benda tumpul serta disetrum dan disetrika. Bahkan kaki bagian kanan sulit untuk digerakkan seperti semula.

"Saya sudah tak tahan lagi menahan siksaan majikan, terlebih setelah anaknya sering sakit-sakitan. Setiap hari mendapat pukulan bahkan disetrum pada bagian kepala," kata Ruminih, di Pandeglang, Sabtu.

Ia mengatakan, selama empat bulan bekerja pada majikannya yang bernama Hamad Mubarok Alsa Gosira,Arab Saudi, dengan melalui PJTKI PT Amri Margatama, Jakarta, setiap melakukan kesalahan ia mendapatkan pukulan dan tendangan oleh suami, isteri, dan dua anaknya.

"Saya juga pernah berkali-kali disetrum dan disetrika pada bagian kepala dan tangan," katanya.

Sementara itu, kakak korban, Sarumi, 30, mengatakan, kekejaman yang menimpa adiknya itu karena dituduh memiliki ilmu sihir setelah anggota keluarga majikan sakit mendadak.

Pada saat itu, majikan menemukan potongan rambut korban yang ditanam di belakang rumah. Penemuan rambut itulah awal petaka bagi Ruminih akibat kesadisan majikan itu.

Namun, beruntung korban bisa diselamatkan awal Oktober 2007 oleh KBRI di Arab Saudi, setelah diketahui adanya laporan penyiksaan yang menimpa TKW Indonesia.

Ironisnya, kata dia, kasus tuduhan ilmu sihir itu diperkarakan ke pengadilan setempat oleh majikannya. Oleh karena itu, pihaknya akan menuntut gugatan balik atas penganiayaan yang dialami adiknya itu.

"Saya sekeluarga tidak menerima penyiksaan dan meminta KBRI untuk menuntaskan persoalan ini," ujarnya. (Ant/OL-06)

http://terkini.com/2007/11/24/dianiaya-majikan-seorang-tkw-terancam-lumpuh.html

ga abis2 penderitaan TKI kita