Results 1 to 4 of 4
http://idgs.in/337274
  1. #1
    vin_nto's Avatar
    Join Date
    Aug 2010
    Posts
    2,275
    Points
    2,264.10
    Thanks: 0 / 118 / 81

    Default [NEWS]UP DATE MERAPI MELETUS

    Laporan peristiwa dan kejadian tentang merapi





    bagi yg mempunyai info tentang update an terbaru tentang merapi silahkan di posting disini
    Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
    Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
    Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu

    Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
    Kota Roma tidak dibangun dalam sehari.


  2. #2
    vin_nto's Avatar
    Join Date
    Aug 2010
    Posts
    2,275
    Points
    2,264.10
    Thanks: 0 / 118 / 81

    Default

    Spoiler untuk 6 NOVEMBER 2010 :

    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 02:01 WIB :

    Sabtu Pukul 01.20 Merapi Menyembur Lagi

    YOGYAKARTA- Gunung Merapi belum tenang. Baru saja Sabtu (6/11) pukul 01.20 menyemburkan awan panas dan lava pijar secara beruntun.

    Erupsi tingkat sedang ini diawali semburan lava pijar kecil dan kemunculan titik api diam sejak pukul 00.00. Luncuran lava pijar dan awan panas mengarah ke selatan dan ke barat daya ke hulu Kali Senowo.

    Dua truk polisi dikawal 50 personel Polda DIY saat ini bergerak ke arah Kaliurang guna mengevakuasi warga yang masih bertahan di perkampungan wilayah Cangkringan.

    Semburan Merapi itu bisa disaksikan dari gerbang kampus UII Jalan kaliurang Km 15 yang juga berjarak sekitar 15 kilometeter dari Merapi. Luncuran juga mengarah ke Kali Kuning di selatan.

    Kawasan puncak saat ini diselimuti awan tebal dan kabut. Luncuran awan panas terjadi berkali-kali, bisa disaksikan juga dari arah Deles di Klaten

    Bahkan luncuran beberapa detik lalu terlihat sangat besar mengarah ke selatan dan tenggara. Puncak kadang kelihatan, diselingi kabut dan awan. Arah angin sulit diperkirakan, tapi cenderung ke timur


    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 01:33 WIB :

    Aduh... Gemuruh Merapi Masih Terdengar Jarak 20 Kilometer

    Gemuruh dan dentuman dari puncak Merapi masih terdengar pada jarak 20 kilometer. Aktivitas Merapi berupa kegempaan, gemuruh, awan panas, lava pijar dan guguran masih berlangsung hingga Sabtu (6/11) pukul 01.00.

    Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta mencatat, gemuruh Gunung Merapi masih terdengar pada jarak 20 kilometer hingga Sabtu dinihari ini.

    Berdasarkan laporan dari petugas pos pengamatan Merapi, mulai pukul 19.00-24.00 WIB menjelaskan, puncak Merapi masih tertutup kabut. Namun suara gemuruh masih bisa terdengar dari jarak 20 kilometer.

    Erupsi Gunung Merapi masih dan sedang terjadi dengan intensitas yang tinggi. Rentetan awan panas masih terus berlangsung sejak malam hingga tengah malam ini. Berdasarkan pengamatan kegempaan awan panas, tremor, dan guguran masih terjadi berentetan.

    Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 5 November 2010 pukul 19:00 WIB sampai dengan pukul 24:00 WIB menunjukkan aktivitas Gunung Merapi sangat tinggi ditandai adanya awan panas beruntun. Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4).

    Jarak aman letusan Gunung Merapi masih belum berubah. BPPTK terhitung tanggal 5 November 2010 Pukul 01:00 WIB, wilayah yang aman bagi para pengungsi di luar radius 20 km dari puncak Gunung Merapi.



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 01:48 WIB :

    Awas! Pagi ini Banjir Lahar Ancam Sekitar Merapi


    Banjir lahar panas dan dingin mengancam warga sekitar Merapi menyusul hujan deras di puncak. Banjir itu diprediksi bakal menyusuri sungai atau kali Woro, Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Sat, Lamat, Senowo, Trising dan Apu yang mengarah ke Sleman Klaten.

    Sungai tersebut berhulu dari puncak Gunung Merapi bakal banjir lahar karena tingginya intensitas hujan di sekitar Gunung Merapi

    Menurut laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta malam ini, sabtu (6/11/2010) ancaman bahaya Gunung Merapi dapat berupa awan panas dan lahar.

    Sehubungan masih tingginya aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan status masih ditetapkan pada level Awas, maka BPPTK merekomendasikan agar dilakukan penyelidikan abu Gunung Merapi yang dapat berpotensi mengganggu jalur penerbangan dari dan ke Lapangan Udara Internasional Adisucipto di Yogyakarta.

    Kemudian, disarankan tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awan panas dan lahar) yang berhulu di Gunung Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Baratlaut dalam jarak 20 km dari puncak Gunung Merapi.

    Selanjutnya BPPTK menginstruksikan segera memindahkan para pengungsi ke tempat yang aman di luar radius 20 km dari puncak Gunung Merapi. Masyarakat di sekitar Merapi agar senantiasa mengikuti arahan dari pemda setempat dalam upaya penyelamatan diri dari ancaman bahaya erupsi Gunung Merapi.

    Untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kawasan awan panas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi senantiasa berkoordinasi dengan pemda setempat.

    Terakhir masyarakat diminta tidak panik dan terpengaruh dengan isu yang beredar mengatasnamakan instansi tertentu mengenai aktivitas Gunung Merapi dan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat yang selalu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 02:46 WIB :

    Ada 2.500 Warga di Ketunggeng Magelang Belum Dievakuasi

    Walau sudah dikerahkan banyak tim evakusi baik dari TNI, Polri maupun SAR dan sukarelawan tapi masih ada sekitar 2.000 warga yang belum dievakuasi.

    Mereka hingga Sabtu (6/11) dinihari masih berada di Dukun Ketunggeng Magelang karena tak ada kendaraan untuk mengangkutnya. Demikian dilaporkan twitter dari Magelang Jawa Tengah.

    Selain itu, kondisi pengungsi di Prambanan tepatnya di desa Tlogo juga belum dapat jatah makan malam. Ada sekitar 2.000 warga memadati kantor desa Tlogo yang hingga kini belum diizinkan kembali ke tempat tinggal mereka.

    Dari berbagai tempat pos pengungsian, melaporkan masih kekurangan nasi bungkus karena jumlah pengungsi membludak.


    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 03:21 WIB :

    Sabtu Pukul 03.00 Merapi Luncurkan Lava Lebih Jauh dan Melebar

    YOGYAKARTA- Sabtu (6/11) pukul 03.00 gunung Merapi kembali meluncurkan lava pijar dengan jangkauan lebih jauh dan melebar. Diperkirakan lava ini menyembur vertikal sehingga efeknya belum dirasakan di sekitar Merapi.

    Belum diketahui efek dari semburan lava pijar yang berulang-ulang sejak pukul 01.00 tadi karena kondisi di puncak Merapi terselimuti oleh kabut atau abu tebal.

    Walau begitu, masih ada saja kendaraan yang mencoba naik ke arah Merapi melalui jalan Kaliurang.

    Karena kondisi gunung Merapi yang masih meleleh dan meluncurkan awan pijar, polisi melarang keras semua kendaraan yang berusaha naik ke arah Merapi melalui jalan Kaliurang.

    Memang sudah berulang kali diinformasikan akan aktivitas Merapi tapi masih ada saja beberapa kendaraan yang akan nekat naik ke arah Merapi.

    Di depan kampus UII jalan Kaliurang Km 14 beberapa polisi menutup akses jalan dari Jogyakarta ke arah Merapi demi keamanan dan sesuai perintah pemda setempat sehubungan dengan kondisi Merapi yang belum tenang.

    Wartawan Tribun Jogja, Danardono yang berada di lokasi tersebut melaporkan, masih ada beberapa kendaraan yang nekat mau melihat lebih dekat ke arah Merapi. Walau sempat bersitegang sesaat, tapi polisi berhasil mengembalikan mereka ke arah Yogyakarta.

    Puncak Merapi terselimuti kabut tebal yang diperkirakan hujan karena tidak tampak dari radius 14 kilometer. Biasanya aktivitas di puncak Merapi kelihatan dengan jelas jika tidak tertutup kabut. Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 04:34 WIB :

    Warga di Radius 20 Km Dilarang Beraktivitas!!!

    Ini rekomendasi resmi Badan Geologi terkait gunung Merapi yang masih tinggi aktivitas vulkanik. Dan hingga Sabtu (6/11) gunung Merapi masih ditetapkan pada level Awas. Oleh karena itu Badan Geologi merekomendasikan sebagai berikut:

    1. Agar dilakukan penyelidikan abu gunungapi yang dapat berpotensi mengganggu jalur penerbangan dari dan ke Lapangan Udara Internasional Adisucipto di Yogyakarta.
    2. Tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awanpanas dan lahar) yang berhulu di Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Baratlaut dalam jarak 20 km dari puncak G. Merapi meliputi, K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K.Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu. Adapun daerah yang direkomendasikan untuk dievakuasi adalah sebagai berikut :
      1. Wilayah Kabupaten Sleman:
        1) Glagaharjo (semua dusun)
        2) Kepuharjo (semua dusun)
        3) Umbulharjo (semua dusun)
        4) Hargobinangun (Kaliurang Timur, Kaliurang Barat, Boyong, Ngipikasri, Banteng, Sumberan, Sambi)
        5) Pakembinangun (Sambi, Padokan, Duwetsari)
        6) Purwobinangun (semua dusun)
        7) Girikerto (Ngandong, Nganggring, Keloposawit, Kemiri Kebo, Sukorejo, Pancal).
        8) Wonokerto (Tunggularum, Gondoarum, Sempu, Balerante)

      2. Wilayah Kabupaten Magelang:
        1) Kaliurang (semua dusun)
        2) Kemiren (semua dusun)
        3) Kamongan (semua dusun)
        4) Nglumut (semua dusun)
        5) Ngablak (semua dusun)
        6) Ngargosoka (semua dusun)
        7) Srumbung (Ngepos, Cabe Kidul, Cabe Lor)
        8) Mranggen (Kalisari, Salamsari, Grogolsari, Mranggensari, Rejosari)
        9) Tegalrandu (Pule, Jengkol, Tegalrandu, Losari, Ngelo)
        10) Keningar (semua Dusun)
        11) Ngargomulyo (semua dusun)
        12) Kalibening (semua dusun)
        13) Sumber (semua dusun)
        14) Krinjing (semua dusun)
        15) Mangunsoko (semua dusun)
        16) Paten (semua dusun)
        17) Sengi (semua dusun)

      3. Wilayah Kabupaten Boyolali:
        1) Tlogolele (semua dusun)
        2) Jrakah (semua dusun)
        3) Klakah (semua dusun)

      4. Wilayah Kabupaten Klaten:
        1) Tegalmulyo (semua dusun)
        2) Sidorejo (semua dusun)
        3) Balerante (semua dusun)
        4) Kendalsari (semua dusun).


    3. Masyarakat di sekitar Merapi agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten setempat dalam upaya penyelamatan diri dari ancaman bahaya erupsi Merapi.

    4. Untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kawasan landaan awan panas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi senantiasa berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat.

    5. Masyarakat diminta tidak panik dan terpengaruh dengan isu yang beredar mengatasnamakan instansi tertentu mengenai aktivitas G. Merapi dan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat yang selalu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 05:25 WIB :

    Awan Tebal Setinggi Gunung di atas Merapi

    YOGYAKARTA- Tampak awan tebal membubung tinggi hingga sama tinggi dengan gunung Merapi itu sendiri. Pemandangan ini tampak Sabtu (6/11) pukul 05.00 sesaat setelah luncuran awan pijar dan suara dentuman yang terdengar hingga radius 15 kilometer.

    Walau begitu, kondisi itu sudah lebih baik karena beberapa menit sebelumnya signal ponsel putus-putus terganggu oleh aktivitas Merapi.

    Jalan Kaliurang pagi ini masih sepi hanya beberapa kendaraan yang melintas turun dari arah Merapi. Mobil mobil itu adalah tim evakuasi.

    Beberapa Brimob dan polantas tetap menutup akses jalan dari Yogyakarta menuju Merapi.

    Baru saja ada tiga orang yang memaksa naik ke Merapi dengan alasan akan memberi pakan ternak dan melihat kondisi di dusunnya.

    Polisi yang berjaga melarang warga yang naik sepeda motor itu tapi terus ngotot dan mengatakan bahwa keperluannya sangat mendesak tak bisa ditunda.

    Karena terus ngotot dan bersikeras, akhirnya tiga warga itu berhasil menerobos jalan Kaliurang untuk naik ke dusun mereka yang berada di radius berbahaya.

    Hingga pagi ini debu abu masih mengotori jalan Kaliurang walau sudah ada hujan yang membawa abu itu menjadi lumpur.



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 05:46 WIB :

    Inilah 5 Keputusan Presiden Terkait Merapi

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan lima keputusan terkait penanganan letusan Gunung Merapi. Berikut lima keputusan Presiden yang disampaikan di Kantor Presiden, Jumat (5/11/2010)

    1. Kendali operasi tanggap darurat mulai hari ini satu komando berada di tangan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif, dibantu Gubenur DI Yogyakarta, Gubernur Jawa Tengah, Pangdam IV Diponegoro dan Kapolda Jateng serta Kapolda DIY.

    2. Unsur Pemerintah Pusat diajukan dipimpin Menko Kesra, untuk memastikan bantuan dari pemerintah pusat bisa lebih cepat, tepat dan terkoordiansi lebih baik.

    3. TNI saat ini telah melakukan persiapan, akan dikerahkan satu brigade penanggulangan bencana, dipimpin Brigadir Jenderal.
      Brigade ini terdiri dari batalyon kesehatan, batalyon semi tempur untuk konstruksi, batalyon infantri, batalyon marinir, batalyon perbekalan dan angkutan.
      Brigade TNI tersebut bertugas membangun fasilitas rumah sakit lapangan, disamping mengaktifkan fasilitas semua rumah sakit yang ada di daerah itu, serta membangun dapur-dapur umum. Birgade juga memobilisasi angkutan untuk mobilitas masyarakat ke satu tempat ke tempat lain. Koordinasi berada di bawah Kepala BNPB.

    4. Polri, dikerahkan dan menugaskan satuan tugas penanggulangan bencana, untuk mengatur lalulitas. dan pengamanan kepada masyarakat. Satgas ini juga dibawah Kepala BNPB.

    5. 5. Presiden menugaskan Menko Kesra dibantu Gubernur DIY dan Gubernur Jateng serta para bupati daerah bersangkutan untuk membeli ternak para penduduk dengan harga pantas. Karena selama ini penduduk dinilai merasa berat meninggalkan rumahnya karena terbebani ternak mereka. Dan kalaupun ada yang membeli dengan harga murah.



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 06:40 WIB :

    Sabtu Pagi Tim Evakuasi Naik ke Merapi lagi

    YOGYAKARTA- Sabtu (6/11) pagi ini tim SAR yang terdiri dari TNI, Polri dan sukarelawan kembali ke atas Merapi untuk melakukan evakuasi tahap II. Langkah ini diambil setelah beberapa saat menyaksikan aktivitas Merapi relatif gejolaknya cenderung menuju tenang.

    Wartawan Tribun Jogja, Danardono melaporkan, beberapa mobil ambulan naik ke Merapi melintasi jalan Kaliurang. Mereka melakukan penyisiran untuk evakuasi tahap kedua.

    Selain berusaha mencari korban selamat secepatnya, rombongan Tim SAR dan TNI/Polri itu juga menyisir korban yang belum ditemukan. Korban yang belum ditemukan belum diketahui secara detail.

    Pagi ini pemandangan puncak Merapi masih tampak asap tebal membubung tinggi vertikal. Namun suara gemuruh dan dentuman mulai berkurang. Namun demikian warga masih dilarang untuk mendekat karena dikhawatirkan terjadi letusan Merapi mendadak lagi.

    Dirilis Badan Geologi, letusan Merapi 5 November kemarin, kolom letusan mencapai 9 kilometer dari puncak Merapi. Jika ditambah dengan tinggi merapi 3 kilometer maka ketinggian semburan panas dan material vulkanik itu mencapai 12 kilometer atau 36.000 kaki dari permukaan air laut. Dan hal itu berbahaya bagi penerbangan karena rata rata ketinggian pesawat sekitar 30 ribu kaki.

    Hingga pagi ini hujan abu dalam relatif yang tebal dan tipis sudah mencapai Bogor, Ciamis, dan daerah lain di Jawa Barat.


    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 07:17 WIB :

    Awas! Radang Paru Ancam Pengungsi Merapi

    JAKARTA - Letusan gunung berapi akan menyebabkan terlontarnya berbagai polutan yang terdiri dari debu, gas, atau pasir. Apabila zat-zat polutan sampai memasuki paru dan tinggal di sana, mereka bisa menimbulkan berbagai penyakit.

    Penyakit yang muncul mulai yang ringan seperti batuk, hingga yang berat, seperti sesak napas atau pneumonia (radang paru). Siapa saja yang paling rawan pada gangguan ini?

    Menurut penjelasan dr. Mukhtar Ihsan Sp.P, spesialis penyakit paru dari RS Persahabatan Jakarta, ada tiga kelompok orang yang paling rentan terkena gangguan pernapasan akibat polutan dari letusan gunung berapi. Mereka adalah kelompok bayi dan anak balita, orang lanjut usia, serta orang yang sudah menderita penyakit kronis, seperti asma, diabetes, atau penyakit paru obstruktif.

    "Pada anak-anak dan lansia, biasanya sistem pertahanan tubuhnya lebih rendah sehingga gampang terkena penyakit," kata dr. Mukhtar. Sementara itu, orang yang sudah menderita penyakit biasanya polutan dari letusan gunung akan menyebabkan kekambuhan penyakitnya.

    Menurut Tri Yunis, ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia (Kompas, 29/10/10), gas-gas berbahaya yang berasal dari letusan gunung berapi juga bisa menyebabkan gejala mual, muntah, dan pusing.

    Terlalu banyak mengisap karbon dioksida menyebabkan seseorang kekurangan oksigen dan berujung kematian. Demikian juga gas karbon monoksida yang bisa menyebabkan keracunan pada sistem saraf dan jantung.

    "Pernapasan yang sehat memang mampu menyaring materi debu. Namun, terlalu lama terpapar menimbulkan dampak kronis ke saluran pernapasan dan penyakit seperti pneumonia," ujar Tri Yunis.

    Tingkat keparahan penyakit, menurut dr. Mukhtar, sangat bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang serta ada tidaknya riwayat penyakit yang diderita. "Makin cepat diobati gejalanya, makin bisa dicegah perburukan penyakitnya. Karena itu segera menghubungi dokter jika sudah muncul gangguan pernapasan," katanya.

    nb:kompas



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 08:05 WIB :

    Jalan Kaliurang Km 25 Ditutup

    SLEMAN - Kembali aktif nya aktivitas Gunung Merapi yang disertai oleh suara bergemuruh membuat petugas melakukan tindakan preventif. Aparat Kepolisian dari Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan penutupan sepanjang Jalan Kaliurang (Jakal).

    Penutupan ini tepatnya dilakukan di pertigaan km 25. Penutupan jalan yang dilakukan tersebut ditujukan untuk meminimalisirkan jumlah korban dan hal yang tak diinginkan terjadi.

    "Sejak pagi dinihari kita blokir jakal km25 ini mas , lihat dan dengar saja kalo merapi sudah bergemuiruh dan mengeluarkan cendawan besar," jelas Aiiptu Diman dari brimob Polda DI Yogya yang ditemui Tribunnews dilokasi persimpangan tersebut.

    Dari pantauan juga terlihat sejumlah warga yang dihalau. Mereka mencoba masuk dan terlihat terlibat argumentasi dengan petugas karena mencoba memaksa masuk arah dalam.

    Saar Tribunnes juga mencoba masuk dengan mengguna jalur lain terlihatt suasana desa Pakem, HargoBinangun hingga Kalikuning terlihat sangat sepi yang dikanan dan kirinya dipenuhi debu-debu vulkanik dan hanya beberapa penduduk dan warga.

    Sementara itu dari kejauhan terlihat cendawan dari merapi membumbung tinggi berwarna kecoklatan



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 08:22 WIB :

    Letusan Merapi Itu Tanda SayangNya

    JAKARTA - Merapi masih menunjukkan keperkasaannya. Dude Herlino memandang bencana ini bukanlah bentuk murka Tuhan, sebaliknya justru tanda kasih sayangNYA.

    Selebriti ini mengaku bahwa pastilah ia sedih, dan berharap agar seluruh rangkaian bencana di tanah air segera berakhir.

    "Semoga bencana ini akan segera berakhir. Ini bukan murka Allah, ini adalah kasih sayang Allah dalam bentuk lain," katanya saat ditemui di Marios Place, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/11/2010) petang.

    Ia juga berkeyakinan jika seluruh korban tewas yang berjatuhan ini, dapat diberikan predikat 'mati syahid' alias meninggal secara mulia dalam suatu tugas.

    "Dan mudah-mudahan semua yang meninggal itu (mati) syahid. Insya Allah," tambah Dude yang baru saja rambutnya dibotak akibat tuntutan akting dalam suatu film.

    Dude juga mengaku bahwa daerah Jogjakarta dan sekitarnya, bukanlah daerah yang asing bagi dirinya. Bahkan cukup familiar, karena dahulu sempat syuting.

    "Sangat (kenal), waktu saya syuting di daerah Kediri, teman saya di Jogjakarta dan ia kirim foto di Malioboro full dengan abu. Dan hotel saya di Malioboro. Saya bayangkan kalau adegan saya masih banyak disana ini tidak akan selesai. Ada rasa syukur ada rasa prihatin," katanya menceritakan bahwa baru-baru ini ia juga ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menyelesaiakan rangkaian film barunya, dimana ia berduet dengan Asmirandah.

    Ia juga bingung entah harus bersyukur atau harus prihatin. Karena tiga hari setelah ia menyelesaikan rangkaian syuting di Jogjakarta, ia langsung bertolak kembali ke Jakarta. Dan erupsi kembali pun terjadi, dan dampaknya tidak main-main.

    Kabarnya bahkan abu vulkanik dari gunung Merapi sudah sampai wilayah Jawa Barat, sebut saja Bandung, Puncak, dan Bogor.

    "Setiap detik dalam hidup ini Allah sudah atur sebenarnya dan bayangkan saja tiga hari setelah kita pindah dari Jogja, langsung meletus dan kita denger kabar itu langsung shock semua," jelasnya.

    Dude pun kembali menegaskan,"Kalau kita masih di Jogja mungkin film ini nggak akan pernah tayang tahun ini mungkin kita harus tunggu, karena kontinuitifnya nggak akan bisa diubah," ucapnya.

    Oleh karena itu saat syuting di daerah Jogja, ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan lemarin. Ia sudah keliling menuju keraton Jogjakarta, masjid Kauman, masjid Gede, gedung agung, dan Parangtritis.

    Pria yang ditemui sedang menggunakan kupluk berwarna abu-abu ini menjelaskan bahwa ia pada dasarnya ingin sekali mengunjungi Jogjakarta, untuk mengunjungi korban bencana.

    "Sangat Ingin sekali saya kesana. Dalam rangkaian promo film saya ada kota Jogjakarta. Ada berkunjung juga ke UGM. Mungkin nanti, saya akan melihat langsing bagaimana keadaan disana," katanya menutup pembicaraan.



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 09:09 WIB :

    Penumpang Kereta Api Membludak


    JAKARTA - Terganggunya jadwal penerbangan dari dan menuju Yogyakarta akibat meletusnya Gunung Merapi berefek kepada ramainya penumpang di stasiun kereta api. Suasana di stasiun Gambir Jakarta terlihat ramai pada Sabtu(6/11/2010) ini.

    Berdasarkan pemantauan Tribunnews.com, ada dua kereta api yang diberangkatkan menuju arah Yogyakarta. Keduanya adalah KA Taksaka yang berangkat pada pukul 08.00 WIB dan KA Argo Dwi Pangga pada pukul 08.30 WIB.

    Kondisi emplasemen stasiun Gambir yang berada di lantai 3 terlihat ramai dipenuhi para pengguna jasa kereta api yang hendak bepergian menuju Yogyakarta.

    Menurut Ardhan salah satu penumpang KA Taksaka mengaku hampir semua tempat penduduk terisi penuh. Beruntung dirinya melakukan pemesanan dua hari sebelum keberangkatan sehingga bisa mendapatkan kursi.

    "Full mas tempat duduk, nggak ada yang kosong," ujarnya.

    Ardhan salah satu penumpang yang hendak menuju Magelang tersebut menduga, banyaknya penumpang yang bepergian dikarenakan belum normalnya jadwal penerbangan menuju dan dari Yogyakarta lantaran efek meletusnya Gunung Merapi.

    "Kayanya gara-gara Merapi neh jadi penuh," tandasnya.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 09:28 WIB :

    Cendawan Merapi di Pagi Hari

    YOGYA - Cendawan besar- untuk kesekian kalinya gunung merapi mengeluarakan asap, Sabtu (6/11/2010). Kepulannya membumbung tinggi membentuk cendawa besar diatasnya.

    Sejak dini hari hingga pagi ini suara gemuruh masih terdengar. Lava pijar terus menggema dan meleleh ke bawah gunung merapi. Foto diambil dari Sabo Kalikuning,Kabupaten Sleman



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 09:49 WIB :

    Kota Yogyakarta Mulai Normal


    YOGYAKARTA - Suasana Yogyakarta berangsur-angsur mulai normal. Debu vulkanik yang sempat menyelimuti kota tersebut kemarin akibat letusan Merapi telah mengendap karena guyuran hujan semalam. Warga juga sudah memulai aktivitasnya seperti biasa.

    Di alun-alun Selatan dan Utara misalnya. Tampak warga setempat sedang berolah raga. Warung-warung makanan juga mulai dibuka pemiliknya. Transaksi penjual dan pembeli di pasar Ngasem juga mulai ramai.

    Anak-anak remaja berseragam sekolah sibuk menggalang dana di sekitar Kali Code.
    Kendati demikian, sejumlah warga masih menggunakan masker.

    "Kondisinya lebih membaik dari kemarin. Debunya mulai hilang," kata Keke Ayu Wulandari, siswa Muhammadiyah 7 Yogyakarta, Sabtu, (06/11/2010), saat ditemui di jalan Sudirman.

    Sementara itu, di sisi kanan dan kiri jembatan Gondol Ayu atau dikenal dengan nama Jembatan Kali Code tampak ramai. Sejumlah warga melihat-lihat keadaan kali yang sejak letusan dahsyat Gunung Merapi dialiri lahar dingin.

    Namun, saat ini permukaan Kali Code menjadi dangkal karena pasir yang meluncur dari merapi. Sejumlah warga pun tidak membuang kesempatan untuk mengeruk pasir itu. Mereka pun mencemplungkan diri ke kali. Sebab, pasir itu dinilai subur untuk tanaman.

    Sebelumnya tersiar kabar di tengah masyarakat bahwa Kali Code akan meluap sampai membanjiri permukiman warga yang berada di sekitar Kampung Code. Tadi malam warga kampung tersebut mengungsi diminta mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Seperti di SMP Negeri VIII Yogyakarta dan pasar Terban.



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 09:54 WIB :

    Hujan Abu Tebal Guyur Selo Boyolali


    YOGYAKARTA - Hujan abu berintensitas sangat tebal mengguyur kawasan Selo, Boyolali di lereng utara Merapi sepanjang Sabtu (6/11/2010) dinihari hingga pagi ini. Dari radio komunikasi terpantau guyuran abu juga melebar hingga Kota Solo.

    Gunung Merapi hingga pukul 09.30 WIB ini masih menyemburkan material vulkanik secara vertikal. Dari Kota Yogya dan sekitarnya, bubungan asap tebal pekat hitam membubung sangat tinggi. Puncak gunung tidak terihat karena diselimuti awan tebal.

    Setelah meletus dahsyat Jumat (5/11/2010) dinihari, Merapi kembali memuntahkan awan panas pada Jumat siang, dan berlanjut hingga Sabtu dinihari. Semburan besar pertama terpantau pukul 01.20, dan berlanjut dengan letusan-letusan berikutnya hingga pagi tadi.



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 10:10 WIB :

    Pengungsi Merapi Bertambah Menjadi 198.488 Jiwa


    Data dari Pusdalops Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pengungsi akibat letusan Gunung Merapi sampai Sabtu (6/11/2010), pagi ini tercatat 198.488 jiwa.

    Dilaporkan juga 114 orang meninggal dunia dan 218 orang luka-luka semuanya berasal dari Kabupaten Sleman, Magelang, Klaten dan Boyolali.

    Saat ini aktivitas Gunung Merapi masih sangat tinggi, hal ini ditunjukkan dengan adanya awan panas secara beruntun. Status aktivitasnya masih tetap pada tingkat "awas" (level 4). Daerah rawan letusan ditetapkan dalam radius 20 km dari puncak Gunung Merapi.

    Lokasi pengungsian yang sebelumnya berada dalam radius 15 km, saat ini telah dipindahkan ke lokasi aman.

    Seiring dengan meningkatnya jumlah pengungsi, kebutuhan logistik pun menjadi bertambah untuk beberapa tempat pengungsian yang baru. Karena itu pendistribusian supply logistik dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya masih terus dilakukan, hingga kebutuhan tercukupi.

    BNPB pun menghimbau kepada pengungsi dan masyarakat agar tetap waspada, mengingat semakin bertambahnya material erupsi di alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Merapi dan tingginya intensitas hujan, sehingga berpotensi terjadi banjir lahar.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 10:33 WIB :

    Saluran Mampet Pengungsi Kelabakan


    YOGYAKARTA - Air menggenangi sebagian lokasi pengungsian di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu (6/11/2010) pagi ini.

    "Saluran air mampet karena tersumbat sampah," kata Mulyadi (38), petugas yang dikirim Dinas PU untuk mengatasi masalah ini.

    Akibat mampetnya saluran air ini, warga pengungsi merasakan hawa dingin dan lembab semalaman. Siti Khasanah, warga Sorasan, Minomartani, Ngemplak dan beberapa warga lain yang kebagian jatah di dekat genangan pun mengeluh.

    Jumlah pengungsi di lokasi ini diperkirakan mencapai 24.000 orang berdasar data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah hingga pukul 02.00 WIB. Kedatangan warga yang menyusul mengungsi ke lokasi ini diduga masih akan terjadi.

    Petugas dari Dinas Kebersihan sepanjang pagi hingga jelang siang ini juga terus mengumpulkan sampah yang mulai menumpuk. "Kita siaga tiap hari, dan ada atau tidak kunjungan pejabat, lokasi pengungsi mesti diusahakan bersih," kata Riyanto, pekerja dinas PUPP Sleman.

    Pagi dan siang ini, Paguyuban Istri Rimbawan Perum Perhutani KBM SAR Bojonegoro Jateng mendatangkan badut-badut penghibur ke lokasi pengungsian Stadion Maguwo. Usaha ini diharapkan bisa mengurangi tingkat stres pada anak-anak.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 10:38 WIB :

    Laris Manis Harga Masker Jadi Rp 3000


    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Semenjak diguyur hujan abu Merapi, sejumlah masyarakat turut berhati-hati dalam menjalani aktivitas.

    Menangkal gangguan pada pernapasan saat menghirup udara di ruang terbuka, masker kini kian laris manis. Bahkan, masker yang semula dijual Rp 1000, ternyata mengalami kenaikan menjadi Rp 3000. Lonjakan harga masker ini dialami sejumlah warga di Tasikmalaya.

    "Kemarin pagi Rp 1000 satu masker. Sekarang Rp 3.000," jelas salah seorang Ibu rumah tangga, Juwita kepada tribunnews.com, Sabtu (6/11/2010).

    Juwita menyebut, sejumlah warga membeli masker dalam jumlah banyak. "Minimal satu kotak masker," ungkapnya.

    Kendati harga masker melonjak, pantauan Tribun, belum banyak masyarakat di Tasikmalaya yang menggunakan masker. Padahal, hujan abu Merapi masih tampak terlihat.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 10:46 WIB :

    Kasihan..Warga Mengais Sembako Busuk di Barak Pengungsian


    YOGYA - Sembilan bahan pokok (sembako) di barak pengungsian Hargobinangun membusuk menyusul kosongnya lokasi ini. Evakuasi para pengungsi bersama relawan dan petugas dari yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Gunung merapi secara mendadak pada Rabu (4/11/2010) malam tak sekaligus memboyong bahan makanan untuk pengungsi.

    Dari pantauan Tribunnews dilokasi. Terlihat beberapa tenda yang digunakan sebagai dapur umum dan tenda kesehatan diepnuhi tumpukan debu vulkanologi diatap dan diseluruh pekarangan posko pengungsian yang bercampur dengan air.

    Selain itu kondisi didalam ruangan pengungsian yang terdapat didalam kelas sekolah menengah pertama tersebut carut marut menandakan evakuasi yang dilakukan rabu malam hingga kamis dini hari tersebut menandakan evakuasi yang dilakukan terbilang cepat.

    Sementara itu juga terlihat sejumlah tumpukan bahan sembako berupa sayur mayur, pisang, mie, kecap bawang, telor dan lainnya terlihat sudah mulai membusuk di dalam tenda.

    Kondisi tersebut diperparah masih adanya warga dan para pengungsi mangalami krisis makanan dimana ada dari beberapa warga sekitar yang mencoba mengais makanan dan bahan sayur lainnya yang masih bisa dimanfaatkan untuk dijadikan makanan.

    "Ojo foto aku mas, aku ngak curi makanan, hanya sayang saja jika tidak dimanfaatkan saya," jelas salah satu warga yang menemukan mie instan, tempe,pisang,bawang, serta kecap yang terselimuti debu vulkanik.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 11:00 WIB :

    Jumlah Korban Tewas 76 Orang


    YOGYAKARTA - Hingga pagi ini jumlah korban tewas akibat terjangan awan panas yang dimuntahkan Gunung Merapi, (04/11/2010), lalu, tercatat sebanyak 76 orang. Sembilan korban baru tadi pagi dievakuasi ke RS DR. Sardjito. Dari 76 korban, 11 di antaranya sudah berhasil teridentifikasi.

    Sedangkan, pagi ini, juga tercatat 111 orang mengalami luka-luka tengah di rawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS DR. Sardjoto. 37 orang dipindahkan ke Instalasi Rawat Inap I. Sembilan orang dirawat di Bangsal Luka Bakar. Tiga orang dirawat di instalasi rawat intensif anak (PICU). Dan sisanya dirawat di Instalasi Gawat Darurat.

    Berikut 11 korban tewas yang berhasil diidentifikasi:

    1. Ansori, 26, Purwosari, puring Kebumen
    2. Septiani Nur Rahma Putri, 20, Bronggang, argomulyo, Cangkringan
    3. Ny Suroto Banar, Cangkringa.
    4. Edi Hantoro, 28, Bronggang
    5. Ponco Kardi, 59, Bronggang.
    6. Surono, 30, Cangkringan
    7. Faif Adi Saputra, 16-20 tahun, Plumbon
    8. Yeni Fatimaf Eka Sari, 20, Bronggang
    9. Ruslani, 29, Bronggang
    10. Prawiro Misih, Guglon, Wukirsari
    11. Srono Paino, 70, Guglon, Wukirsari.

    Berikut, sembilan orang yang dirawat di bangsal luka bakar RS DR. Sardjito:

    1. Bilal, 52, sesak panas, (35%)
    2. Sudarjo, 61,
    3. Rahmat, 25,
    4. Kadafi, 12,
    5. Sri Lesatari, 42,
    6. Endah Triutami, 16,
    7. Sudikaryo, 73,
    8. Supartinem, 55.
    9. Moh. Ikron

    Berikut 3 anak-anak yang dirawat di bangsal PICU:

    1. Wanda Novita Putri, 7,
    2. Fega, 21,
    3. Mr. X

    Sementara itu, sampai pukul 08.00 WIB, sebanyak 62 jenazah masih terus dilakukan upaya identifikasi oleh tim medis Instalasi kedokteran Forensik RS DR. Sardjito yang dinantu Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda DIY.



    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 11:10 WIB :

    Warga Kali Code Bersihkan Lumpur Lahar Dingin


    YOGYAKARTA - Warga di sepanjang bantaran Kali Code Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010) pagi bekerja keras membersihkan lumpur pasir dan abu yang menyumbat saluran air. Sumbatan terjadi menyusul luapan sungai akibat banjir lahar dingin kiriman dari lereng Merapi.

    Terpantau endapan lahar dan lumpur di aliran Kali Code bilangan Tegalpanggung, Danurejan RT 55 RW 12 mencapai ketebalan 1,5 meter. "Itung-itung olahraga," kata Joni, warga setempat. Ia mencangkuli endapan bersama dua teman lainnya.

    Keringat bercucuran di wajah ketiga pemuda Tegalpanggung yang semalam juga ikut meronda mengawasi aliran Kali Code. Pantauan Tribun dari malam hingga pagi tadi, sempat terjadi kenaikan drastis debit, namun air yang datang bergulung-gulung tak sampai meluap ke permukiman.

    "Sempat ada dua kali dentuman dan papan reklame di jembatan Kewek sampai bergetar," kata Yanto, warga yang semalam berjaga di pos ronda. Dentuman itu terdengar pukul 02.30 WIB, diduga benturan batu-batu besar yang menggelontor dari hulu.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 11:41 WIB :

    Korban Tewas Jadi 81 Orang


    YOGYAKARTA - Jumlah korban akibat sapuan awan panas yang dimuntahkan Gunung Merapi, (05/11/2010), lalu terus bertambah. Hingga kini jumlah korban tewas menjadi 81 orang yang kini berada di Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) RS DR. Sardjito, Yogyakarta.

    "Hingga pukul 11.00 WIB, Jumlah korban Merapi yang ada sekarang 81 jenazah," kata Suseno, Kepala Unit Disaster Victim Identivication, Sabtu, (06/11/2010), di RS DR. Sardjito, Yogyakarta.

    Dengan rincian, dari 81 jenazah, ada 43 orang berjenis kelamin laki-laki dan 38 berjenis kelamin perempuan.

    "70 di diantaranya orang dewasa, dan 11 anak-anak. Dari 70 orang dewasa ada 36 orang tercatat berjenis kelamin laki-laki dan 34 lainnya perempuan. Sedangkan 11 korban anak-anak ada 7 laki-laki dan 4 perempuan," terangnya.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 11:45 WIB :

    Inilah Kondisi Terakhir Barak Pengungsi Hargobinangun


    YOGYA - Barak pengungsian Hargobinangun sudah tiga hari ini kosong. Evakuasi para pengungsi bersama relawan dan petugas dari yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Gunung merapi secara mendadak pada Rabu (4/11/2010) malam tak sekaligus memboyong bahan makanan untuk pengungsi.

    Dari pantauan Tribunnews dilokasi. Terlihat beberapa tenda yang digunakan sebagai dapur umum dan tenda kesehatan diepnuhi tumpukan debu vulkanologi diatap dan diseluruh pekarangan posko pengungsian yang bercampur dengan air.

    Sembilan bahan pokok (sembako) di tenda pun membusuk. Ditemui ada warga yang mendatangi tenda itu untuk mengais sisa sembako di sana.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 12:02 WIB :

    Alhamdulillah...Nenek 60 Tahun Ini Selamat



    SLEMAN - Petugas menemukan korban meninggal sebanyak 7 orang di Desa Argomulyo dalam satu rumah. Juga ditemukan 2 orang perempuan tua yang selamat. Keduanya langsung dievakuasi ke lokasi pengungsian ke GOR Marguwoharjo.

    Petugas melakukan yang terdiri dari Brimob Polda DIY dan kompi 403/WP bersama tim relawan dari Tagana menggunakan dua truk untuk evakuasi. PMI dan organisasi kemanusiaan lainnya melakukan pemeriksaan sekaligus evakuasi dikawasan desa Argomulyo dan Desa Wukirsari, Cangkringan Sleman.
    Rombongan yang berjumlah sekitar puluhan orang tersebut yang dibagi dalam beberapa tim tersebut mulai melakukan penyisiran sejak Sabtu (6/11/20100, dini hari hingga siang ini. .

    "Saat ini baru 9 yang kita temukan dimana 7 diantara sudah meninggal dan langsung kita evakuasi. Juga ditemukan 2 orang nenek berusia (60) dan an berhasil kita temukan dalam keadaan sehat dan langsung kita evakuasi ke tempat aman," jelas Brigadir Kasiyat anggota brimob polda DIYogyakarta.

    Sementara itu menurut Kapten Wisnu Joko dari TNI AD kompi 402/WP mengatakan bahwa saat ini pihaknya bersama tim lainnya masih menunggu adanya informasi dan perubahan cuaca serta arah angin yang kiranya bisa memungkinkan melakukan pemeriksaan dan evakuasi jika ditemukan korban yang masih selamat mapun meninggal dunia.

    "Sementara kita standby setelah sebelumnya sudah menemukan sebnyak 16 korban meninggal di dusun Gadingan, kecamatan Ngemplak, kabupaten Sleman," jelas Kapten Wisnu joko dengan kondisi penuhi debu dan lumpur disekujur sergam lorengnya.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 12:23 WIB :

    Merapi Telah Muntahkan Material 100 Juta Meter Kubik


    JAKARTA - BPPTK menyebutkan, pada letusan Jumat (5/11/2010) telah membentuk kawah berdiameter 400 meter dengan muntahan material sebanyak 100 juta meter kubik. Daerah aman masih pada radius 20 Km dan aktivitas Merapi masih fluktuatif tetapi tetap di level awas.

    Menurut Dr Sukhyar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Merapi masih mengancam. Hingga Sabtu (6/11/2010), intensitas letusan masih terjadi. Sukhyar menyatakan, intensitas letusan Merapi masih besar.

    "Sampai sekarang letusan belum berhenti. Asap turun hingga 5 km dari puncak," ujarnya di kantor BPPTK.

    Menurutnya, awan panas masih akan berpotensi turun hingga 2 km. "Hari ini, arah angin ke Barat laut dan Utara, jadi mungkin ke arah Solo dan Klaten," terangnya.

    Kelakuan Merapi kali ini berubah. Pada letusannya kali ini Merapi cenderung fluktuatif. "Ritme Merapi naik turun. Sulit katakan kapan akan berhenti. Sekarang hanya bisa lihat data dan kecenderungannya," papar Sukhyar.

    Letusan kali ini, tambahnya, sangat berbeda dari letusan-letusan sebelumnya, khususnya letusan periodik. "Dari sejarah, Merapi itu meletus sekitar 120 jam," tuturnya.

    Sukhyar mengatakan endapan awan panas di Kali Boyong berketebalan sekitar 10 meter dan berjarak sekitar 10-12 meter. Pihaknya mengimbau warga untuk tidak berada di bantaran sungai karena ditakutkan gas beracun masih melekat di endapan gas beracun.

    "Aliran air sungai beserta endapan tadi mengalir hingga Kali Code. Sedangkan arah angin bergerak dari barat laut ke tenggara," katanya.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 12:28 WIB :

    Relawan Dipaksa Turun


    SLEMAN- Polisi menutup seluruh jalur menuju Gunung Merapi. Sejumlah relawan atau warga yg berusaha mnerobos barikade, dipaksa turun.

    Kapolsek Pakem AKP Harijanto mengatakan tindakan ini dilakukan sebagai evakuasi paksa dan pengamanan dari aksi penjarahan. "Tanpa kecuali semua warga harus turun. Ini demi keamanan bersama," tegasnya, Sabtu (6/11/2010).

    Penutupan di 8 titik akses menuju Merapi mulai simpang 3 Pamungkas di Jalan Kaliurang km 14. Sejak ditetapkan zona bahaya pada 20 kilometer dari puncak merapi.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 12:33 WIB :

    SBY Lihat Wedhus Gembel dari SPBU Magelang


    MAGELANG - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan, setelah meninggalkan Akademi Militer, Magelang tempat menginap, pada Sabtu (6/11/2010) pagi, langsung berangkat menuju Yogjakarta.

    Dalam perjalanan tiba-tiba saja SBY memerintahkan rangkaian kendaraan untuk berhenti di SPBU Pertamina, Candi Mas, Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

    Di SPBU tersebut, bukan untuk mengisi bahan bakar melainkan SBY yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono ingin menyaksikan kepulan asap vulkanik puncak Gunung Merapi atau ingin melihat wedhus gembel.

    Wedhus gembel terlihat membumbung tinggi dan terlihat jelas dari Magelang. Bau abu dan belerang tercium kuat, bahkan dengan masker terpasang sekalipun.

    Presiden SBY kemudian memanggil Pangdam IV Diponegoro yang menyertai rombongan untuk melihat kepulan tersebut. "Nanti di Purworejo di-update lagi," ujarnya.

    Tak lama setelah itu Presiden dn rombongan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Perjalanan ke Yogyakarta ini menempuh jalur Magelang-Purworejo-Yogya karena debu relatif lebih tipis dibanding jalur langsung Magelang-Yogya melalui Jembatan Krasak dan Sleman.

    Kendati begitu, kepulan abu yang berterbangan terkena roda mobil cukup menghalangi pandangan. Iring-iringan rombongan Presiden pun tak bisa melaju kencang.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 12:44 WIB :

    Satu Polisi Tewas Disambar Wedhus Gembel


    YOGYAKARTA - Di antara 81 korban tewas akibat sapuan awan panas Gunung Merapi, Jumat (5/11/2010), dini hari lalu, yang terdata di RS DR Sardjito, Yogyakarta, seorang di antaranya diketahui sebagai aparat Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

    Nama korban tersebut adalah Bripda Ruslani. Korban tercatat sebagai anggota Unit Reskrim Polsek Cangkringan, Sleman. Saat kejadian, semua anggota Polsek dikerahkan untuk membantu evakuasi, termasuk Ruslani.

    Namun, karena anak dan istrinya berada di Bronggang, Kelurahan Argomolyo, Ruslani langsung bergegas ke sana untuk mengevakuasi keluarganya itu. Seperti diketahui, Dusun Bronggang merupakan lokasi terparah terkena dampak sapuan awan panas yang dimuntahkan Merapi. Korban tewas berasal dari dusun tersebut.

    "Kemungkinan, saat terkadi letusan, dia ke rumah kontrakannya di Bronggang. Anak dan istrinya kan tinggal di sana. Dia ke sana untuk mengevakuasi keluarganya," kata Kanit Reskrim Aiptu Dwi, dari Polsek Cangkringan, saat dihubungi Tribunnews, Sabtu, (06/11/2010), siang.

    Sayangnya, saat Bripka Ruslani berupaya mengevakuasi keluarganya itu, awan panas yang dimuntahkan Gunung Merapi langsung menyapu dusun Bronggang. Ruslani tewas. Sementara, istrinya diketahui menjadi korban luka-luka. Kini dirawat di RS Bethesda.

    "Sedangkan anaknya dinyatakan hilang. Kita sudah mencari ke rumah sakit, tapi anaknya belum ditemukan," kata Aiptu Dwi.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 12:45 WIB :

    Dimana Keluarga Kami?


    YOGYA - Posko orang hilang Disaster Victim Identification (DVI) DIY di RS Sardjito, sabtu siang terus didatangi warga yg melaporkan kehilangan anggota keluarganya.

    Warsono, warga Babarsari, datang melaporkan dua orang keluarganya, Juminten (40) dan Aldi Setiawan (11), keduanya warga Dusun Guling Desa Argomulyo, Cangkringan, sleman yang hilang sejak jumat kemarin.

    Ia berharap laporan tersebut ditindaklanjuti petugas. Dikatakan anggota DVI, dr Syamsu Tatang, jumlah laporan hingga Sabtu siang lbh dari 135 orang hilang.

    "Silahkan lapor bagi warga yang kehilangan," katanya. Data yang diberikan antaralain identitas diri, foto, pakaian dan perhiasan yang dipakai, dan data gigi geligi.

    Sejumlah anggota korban yang meninggal juga telah berkerumun di unit kedokteran forensik kedokteran untuk mengambil jenazah yg sudah didentifikasi.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 12:58 WIB :

    Bandara Adisucipto Banjir Antrean Penukaran Tiket


    YOGYAKARTA -Antrean penukaran tiket di bandara Adisucipto pada sebuah maskapai penerbangan mencapai 10 meter.

    Kondisi ini diakibatkan banyaknya calon penumpang yang ingin menukarkan di bandara ini. Meski sudah ada imbauan dari pihak bandara agar menghidari loket penukaran di Adi sucipto, melalui pengeras suara oleh petugas informasi

    Panjangnya antrean penukaran tiket sebuah maskapai,membuat calon penumpang mengeluh karena untuk mencapai dua meter dibutuhkan waktu sampai 1,5jam.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 13:10 WIB :

    Pak Gareng Hibur Anak-anak Pengungsi Merapi



    YOGYA - "ADA badut, ada badut," teriak anak-anak dengan riang di Pusat Kebudayaan Koenadi Hardjosoemantri, UGM, Sabtu (6/11/2010).

    Dengan make up yg masih menempel di wajah serta kostum kuning dengan pantat serta perut yang mnyembul, Pak Gareng (48) datang menghibur anak-anak di pengungsian. Dia sudah terbiasa dengan tugas untuk menghibur anak-anak trauma korban bencana dan sudah melakoni profesinya selama 5 tahun.

    "Saya ini sudah biasa untuk menghibur anak-anak korban pengungsian," tegas pria dari Bojonegoro tersebut.

    Badut edukasi merupakan ciri khas yang diusungnya selain ia juga menambahkan sulap di setiap aksinya. Dia selalu memberikan semangat dan mengingatkan kepada anak-anak korban pengungsi untuk selalu belajar dimanapun mereka serta dalam keadaan apapun.

    Para pengungsi berharap selalu mendapat penghiburan dan perlengkapan dasar. "Saya cuma butuh ketenangan hidup dan air untuk mandi," ujar Fikri (12), pelajar kelas 7 di SMP 2 Pakem. Dia merupakan warga Pakem Tegal, kecamatan Pakem. Evakuasi yang dlakukan sacara mendadak pada Jumat (5/11/2010) membuatnya kaget dan susah.

    Dia merasa seperti orang hilang karena di pengungsian tidak ada orang yang dikenal. Para pengungsi bercampur aduk dari berbagai dusun dan desa.

    Di pengungsian ini ia hanya memiliki 1 teman saja yang berasal dari Pakem Tegal. Untuk melampiaskam kebosanan di pengungsian ia dan temannya hanya bisa berjalan-jalan di sekitaran UGM.

    Fikri juga menuturkan bahwa ia juga tidak bisa belajar karena bukunya semua ditinggal di rumahnya. "Saya sangat merindukan suasana Desa Pakem Tegal, tempat saya bermain dan bertemu teman-teman," katanya




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 13:13 WIB :

    PT KAI Sediakan Gerbong Logistik Merapi Gratis



    JAKARTA - Bagi Anda yang hendak memberikan barang bantuan untuk korban letusan gunung Merapi di Yogyakarta dan sekitarnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan posko bantuan pengangkutan barang secara gratis di stasiun Pasarsenen, mulai Sabtu (6/11/2010), hari ini.

    Gerbong gratis ini disiapkan PT KAI untuk memudahkan distribusi bantuan barang kepada korban letusan gunung Merapi. Selanjutnya, bantuan barang yang telah terkumpul akan diangkut dengan tiga kereta api dari stasiun Pasar Senen.

    Ketiga kereta api tersebut, yakni KA Senja Utama Yogyakarta tujuan Yogyakarta berangkat pukul 19.30 WIB, KA Senja Utama Solo tujuan Solo berangkat pukul 20.00 WIB dan KA Fajar Utama Solo tujuan Solo berangkat pukul 06.45 WIB. Masing–masing kereta akan menggandeng satu gerbong KA barang.

    Menurut Manager Humas PT KAI Daerah Operasi I Jakarta, Mateta Rijalulhaq, kegiatan ini adalah bentuk kepedulian dari PT KAI terhadap para korban gunung Merapi di Yogyakarta dan sekitarnya. “Kami yakin, saat ini angkutan kereta api sangat dibutuhkan untuk mengangkut bantuan dengan jumlah besar dan cepat. Karena angkutan udara saat ini mengalami gangguan cuaca dan angkutan darat lainnya mengalami gangguan kemacetan di jalan raya.” ujar Mateta dalam siaran Pers PT KAI Daops I Jakarta.

    Lebih lanjut Mateta mengatakan, angkutan gratis hanya diperuntukan bagi barangnya saja. Sedangkan untuk relawan yang ingin ke lokasi bencana, tetap diharuskan membeli tiket.

    Setibanya di Yogyakarta, bantuan barang tersebut akan dikumpulkan pada posko bencana alam di stasiun Yogyakarta. Selanjutnya akan disalurkan kepada para korban yang membutuhkan.

    Mateta mempersilakan berbagai instansi baik pemerintah, swasta maupun lembaga swadaya masyarakat memanfaatkan layanan pengiriman barang gratis itu yang akan dilaksanakan mulai Sabtu ini.

    Bagi Relawan yang ingin mengirimkan bantuannya dapat datang langsung ke posko bencana yang berada distasiun Pasarsenen. Petugas akan mendata asal bantuan, jumlah dan nama pengirim bantuan.

    “Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan gerbong barang ini untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan di tempat pengungsian” ujar Mateta.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 13:18 WIB :

    Sriwijaya Air Prediksi Bandara Ditutup Sampai Senin



    YOGYA - Meskipun pihak bandara sampai saat ini belum mengumumkan kapan bandara Adisucipto akan kembali dibuka, pihak sriwijaya air melalui Station Manager Hamad Prayitno sudah memprediksikan penutupan bandara ini sampai hari senin pekan depan.

    "Penerbangan kami melalui Bandara Adisucipto, sampai hari senin (8/11) sudah dibatalkan. Sementara penerbangan sore dengan tujuan Balikpapan pada hari itu, belum kami batalkan," terangnya kepada Tribunnews, sabtu (6/11/2010).

    Menurutnya, bagi penumpang yang akan membatalkan penerbangannya akan dilayani dengan baik dan cepat karena pihaknya sudah mempersiapkan semuanya.

    Pelayanan ini diberikan kepada penumpang yang akan me-refund, me-reschedule atau me-reroad tiketnya. "Untuk penumpang yang akan me-reroad ke bandara Ahmad Yani, Semarang, kami tidak memberikan pelayanan transportasi ke sana. Bagi penumpang yang kami re-road ke Solo kemarin, kami memberikan pelayanan transportasi," ungkapnya





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 13:26 WIB :

    Anak Almarhum Brigadir Ruslani Belum Ditemukan



    YOGYA - Jenazah Brigadir Ruslani (28), anggota Reskrim Polsek Cangkringan yang tewas saat evakuasi di Dusun Gronggang, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, dijemput keluarga di instalsi forensik RS Sardjito, Sabtu (6/11/2010) siang.

    Kakak kandung korban, Susworo (30), warga Ketuaren RT 2, RW 3, Kecamatan Tegal Selatan Tegal, mengatakan jenazah akan dibawa dan dimakamkan di tempat kelahirannya, Minggu besok.

    "Adik saya tewas saat evakuasi Jumat dinihari," katanya. Korban meninggalkan seorang istri, Sri Tunjung Artati, yang saat ini dirawat di RS Betesdha karena luka bakar 65 persen.

    Sedangkan anaknya, Rifkia Maharani (1,5), dilaporkan hilang.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 13:40 WIB :

    Jenazah yang Teridentifikasi Bisa Diambil



    YOGYA - Jenazah korban letusan Merapi yang sudah berhasil diidentifikasi bisa langsung diambil pihak keluarga.

    "Jenazah korban Merapi yg sudah teridentifikasi sudah bisa dibawa pulang," kata Dokter Suseno, anggota Disaster Victim Identification (DVI), Sabtu (6/11/2010) siang di ruang instalasi forensik RS Sardjito.

    Hingga saat ini, sudah tiga jenazah yang diambil keluarga, yakni Brigadir Ruslani (28), anggota Polsek Cangkringan yg dibawa ke kampung halamannya di Tegal. Selain itu Ponco Kadi (59) dan Edi Hantoro (28), keduanya warga Bronggang.

    "Bagi yang kehilangan anggota keluarganya bisa datang ke sini untuk melapor. Jenazah yang sudah dikenali bisa dibawa pulang," kata Suseno.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 14:15 WIB :

    Kakaknya Tewas dan Sang Ibu Tak Tahu Dimana


    YOGYA - SUASANA di sekitar depan pintu masuk ruang Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) RS DR Sardjito dipenuhi kerumunan orang. Beberapa keluarga jenazah korban sapuan awan panas Gunung Merapi yang berhasil teridentifikasi mulai berdatangan untuk membawa pulang. Keluarga korban tampak diselimuti duka mendalam.

    Sejumlah mobil ambulans disiapkan untuk membawa jenazah tersebut. Satu mobil ambulan itu sengaja diparkir tepat di mulut pintu. Hal itu dilakukan supaya memudahkan petugas memindahkan jenazah ke ambulan. Isak tangis keluarga mulai pecah.

    Suci Ratna Sari, (19), mahasiswi tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Air matanya membasahi pipinya yang sebagian tertutup masker untuk menutupi mulut dan hidungya dari debu vulkanik. Suci kelihatan syok dan belum bisa diajak bicara. Seorang keluarga mencoba menenangkannya dengan memeluk Suci yang lemas itu dengan erat.

    Suci selamat dari sapuan awan panas yang menerjang rumahnya di dusun Bronggang, Argomulyo, Cangkringan. Namun tidak dengan kakaknya, Yeni Fatimah Eka Sari (20) yang tewas. Kini jenazahnya berada di ruang IFK RS DR Sardjito.

    "Ibunya Suci hilang. Ayah dan adiknya masih dirawat di RS Bhayangkara karena luka bakar. Dia satu-satu yang selamat dari kejadian itu karena ada yang narik dia ke luar dusun saat evakuasi," kata seorang pria yang mengaku keluarga Ratna, Sabtu, (06/11/2010), di depan ruang IFK RS DR Sardjito.

    Padahal, dua hari lalu Suci juga datang ke rumah sakit ini untuk berobat. Dia mengalami kecelakaan sepeda motor. "Dia sempat dirawat. Tetapi langsung pulang dan menjalani rawat jalan," ujar kerabatnya itu.

    Tak disangka-sangka Suci kembali ke rumah sakit tersebut dengan kondisi berbeda, dia menjemput jenazah kakaknya yang tewas karena sapuan awan panas gunung Merapi. "Mudah-mudahan, Suci nggak akan menjemput jenazah keluarganya lagi," harap kerabatnya itu.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 14:24 WIB :

    Terbentuk Kawah 400 Meter di Puncak Merapi



    SLEMAN - Kawah berdiameter sekitar 400 meter terbentuk di puncak Gunung Merapi saat ini, setelah terjadi erupsi terus menerus sejak Rabu siang (3/11/2010).

    Dari lubang ini pula letusan material vulkanik membentuk kolom dengan ketinggian sekitar 5 kilometer. "Kawah ini memiliki bukaan ke arah selatan atau hulu sungai Gendol," papar Subandriyo, Kepala BPPTK, Badan Geologi, Kementerian ESDM di Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

    Menurut Subandriyo kawah sebesar ini lebih luas dibanding kawah yang terbentuk setelah tanggal 26 Oktober 2010. Ketika itu diameter kawah diperkirakan mencapai 200 meter. Merupakan ciri letusan Merapi, setelah ada kawah terbentuk kubah lava. Namun kubah lava dihancurkan saat letusan baru.

    Berdasarkan catatan sejarah letusan Merapi, kawah dengan diameter 400 meter ini hampir menyamai dengan kawah yang terbentuk pada letusan 1872.

    "Pada letusan 1872 terbentuk kawah seluas 480 meter kali 650 meter," ujar Subandriyo membandingkan.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 14:33 WIB :

    Anak Saya Tewas Masih Menggendong Bayinya



    DI depan ruang Instalasi Forensik Joko Kelono (40) warga Dusun Bakalan Desa Argomulyo Cangkringan di dampingi Hartanto (23) berusaha mencari sanak keluarganya. Anaknya bernama Lilik Dewi Andaryati (24), menantunya Triyono (29) serta cucunya Adit (3) dilaporkan tewas dalam tragedi erupsi merapi Jumat lalu.

    "Saya ditelepon saudara yang di Jambi, mereka liat cucu saya di evakuasi malam itu juga oleh petugas dari tivi. Mereka telepon saya," terang Joko.

    Anak menantu dan cucunya tinggal di dusun yang berbeda dengan Joko, yakni di Dusun Guling Argomulyo. Menurut keterangan saudaranya setelah erupsi hebat merapi pada Kamis malam mereka bertiga dengan empat saudaranya menggunakan mobik pick up hendak menyelamatkan diri.

    "Ditengah jalan, di daerah Bakalan katanya bannya meletus. Anak,menantu dan cucu saya yang naik di depan kepanasan, terus turun lari ke utara," ungkapnya.

    Namun naas, mereka bertiga terkena awan panas dan ditemukan oleh penumpang yang selamat dalam keadaan tewas. "Katanya Lili tewas masih menggendong anaknya. Suaminya juga meninggal dan ditemukan tiga meter dari mereka," tuturnya dengan berkaca-kaca.

    Mereka bertiga tewas karena hendak lari setelah ban mobil yang ditumpangi meletus."Kakak, ipar, sama mertua anak saya yang tetap di mobil selamat. Hanya luka bakar. Mereka yang menemukan anak saya tewas," kata Joko.

    Hingga siang, Joko belum melihat daftar keluarganya yang tewas tersebut di papan nama korban yang telah berhasil di identifikasi. Dia juga sempat diajak petugas untuk masuk memeriksa jenazah di ruang penyimpanan jenazah. "Tapi tadi belum ketemu, dan saya disuruh bersabar. Memang kata petugas kemarin ada wanita yang ditemukan tewas dengan posisi menggendong anaknya," ucapnya lirih.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 14:36 WIB :

    Tim Evakuasi Kembali Dikejar Awan Panas


    YOGYA - Tim evakuasi kembali dikejar awan panas ketika mencoba melakukan evakuasi di kawasan hutan bambu di Desa Glagah Harjo Sleman. Tak ayal, mereka pun lari tunggang langgang.

    Wartawan Tribunnews.com dan Tribun Jogja yang ikut bersama tim melaporkan, awalnya tim evakuasi mendengar kalau masih ada sekitar 7 atau 8 korban yang masih belum terevakuasi. Namun, sayang sat didatangi korban yang dimaksud tidak ditemui. Kawasan hutan bambu di perbatasan antara Sleman dan Klaten ini sepi. Kondisinya bagikan desa mati.

    Belum sempat mereka turun, lahar panas sudah mengejar. Saking paniknya, petugas lari dan seorang petugas evakuasi Tagana tercebur ke lahar dingin dipenuhi debu vulkanik

    Seperti diketahui, sejak Sabtu (6/11/2010) pagi ini tim SAR yang terdiri dari TNI, Polri dan sukarelawan kembali ke atas Merapi untuk melakukan evakuasi tahap II. Langkah ini diambil setelah beberapa saat menyaksikan aktivitas Merapi relatif gejolaknya cenderung aman.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 14:44 WIB :

    Kilatan Api Setinggi 3 Kilometer di Puncak Merapi



    Asap awan panas yang diikuti kilatan api setinggi 3000 meter terpantau dari pos pengamatan Gunung Merapi ke arah Barat, Utara, hingga Timur, Sabtu (6/10/2010).

    Hal tersebut terungkap dalam laporan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono Sabtu (6/11/2010) siang ini.

    Dalam laporan disebutkan pada pukul 11.51 WIB, asap awan panas yang diikuti kilatan api setinggi 3000 meter ke arah Barat, Utara, hingga Timur.

    Selain itu dilaporkan bahwa mulai pukul 10.00 WIB, terjadi hujan pasir di Selo Kabupaten Boyolali, sedangkan di lereng Gunung Merapi terjadi hujan abu intensitas tinggi.

    Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 6 November 2010 dari pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB menunjukkan aktivitas Gunung Merapi sangat tinggi.

    Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya Gunung Merapi dapat berupa awan panas dan lahar. Wilayah yang aman bagi para pengungsi adalah di luar radius 20 km dari puncak Gunung Merapi.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 14:52 WIB :

    Letusan Merapi Tunjukkan Indonesia Itu Kaya


    JAKARTA - Memang tidak semua orang menganggap bahwa insiden Merapi yang terang-terangan sudah memakan ratusan korban itu sebagai insiden dan bencana yang merugikan. Dengan kacamata lain, dapat dikatakan bahwa insiden Merapi menunjukkan sisi positif yang lain.

    Yaitu bahwa bumi kita Indonesia adalah bagian belahan bumi yang sangat kaya dengan sumber daya mineral. Hal ini ditegaskan oleh Arie Untung.

    "Sebenarnya dengan masih adanya vulkanik yang aktif, berarti mineral bumi indonesia tuh masih kaya," katanya kepada Tribunnews via BBM (BlackBerry Messenger), Sabtu (6/11/2010) siang.

    Namun, bukan berarti Arie tidak prihatin. Baginya insiden Merapi ini, tetaplah bencana yang turut membuatnya miris dan prihatin.

    "Untungnya keluarga ibu di Klaten dan Cawas, alhamdulillah nggak apa-apa. Cuma kasihan dari zaman gempa sampai Merapi mereka lari-larian terus," papar Arie lagi.

    Jogjakarta bukanlah kota yang asing dalam kehidupan Arie. Karena ibundanya adalah orang Solo, dan keluarganya tersebar di Solo, Klaten, Jogjakarta, dan Semarang.

    "Jadi semuanya dalam keadaan prihatin," papar Arie lagi.

    Baginya letusan Merapi yang kembali 'meledak' pada Jumat (5/11/2010) kemarin adalah murni kejadian bencana alam.

    "Memang ini kejadian alam, cuma sayang sepertinya orang Indonesia memang sepertinya agak kurang bersahabat dengan alam," katanya.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 14:56 WIB :

    Baru 11 Jenazah Korban Merapi Yang Teridentifikasi


    YOGYA - Jenazah tewas yang dibawa ke RSU Dr Sardjito hingga Sabtu (6/11/2010) 14.00 WIB masih banyak yang belum teridentifikasi. Dari 81 jenazah,jumlah teridentifikasi baru 11 jenazah yang teridentifikasi.

    "Lainnya masih direkonsiliasi oleh tim dokter forensik,"jelas drg Suseno seorang anggota Disaster Victim Identification (DVI) kepada Tribunnews.

    Selepas dzuhur,jenazah Yeni Eni Fatimah Ekasari (26) telah diambil oleh pihak keluarga. Sebelumnya tiga jenazah lainnya juga telah dibawa pulang pihak keluarga. Masing-masing Edi Hantoro (28), Ponco Kardi (59), Ruslani (29) keempatnya merupakan warga Bronggang Argomulyo Cangkringan.

    Pos pelaporan orang hilang di RS Sardjito juga terus mengalami penambahan jumlah. Hingga pukul 14.00 WIB jumlah orang hilang sebanyak 142 orang. Mayoritas adalah dari wilayah desa di kecamatan Cangkringan.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 14:59 WIB :

    MCK Stadion Maguwo Memprihatinkan



    YOGYA - Pengungsi Merapi di kawasan Stadion Maguwoharjo mendapat masalah baru. Tak tersedianya sarana MCK yg memadai memicu keresahan bagi pengungsi.

    Marmi (36), asal Umbulharjo, Cangkringan, Sabtu (6/11/2010) menceritakan betapa repotnya jika ingin menggunakan sarana MCK pada pagi dan sore hari.

    "Repot sekali, bahkan tidak sedikit yang memanfaatkan sungai sebelah stadion," katanya. Jumlah MCK di stadion itu memang tidak sebanding dengan jumlah pngungsi.

    Lantai dasar yang menjadi titik konsentrasi pengungsi, hanya mempunyai delapan blok toilet, masing-masing ada 6 kamar mandi. Total MCK tentu sangat tak sebanding dengan jumlah pengungsi yang mencapai 12.660 orang.

    Semakin diperparah bau tidak sedap dan sampah yang menyumbat saluran air. Lantai depan toliet jadi becek.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 15:05 WIB :

    Sri Pakualam Tinjau Barak Pengungsi di GOR Pangukan



    YOGYAKARTA - Wakil Gubernur DIY Sri Pakualam meninjau barak pengungsi Youth Center, Mlati, Sleman, Sabtu (6/11/2010) siang. Sri Pakualam tiba sekitar pukul 12.30 wib, sebelumnya meninjau barak pengungsi di GOR Pangukan, Sleman.

    Menurut Staf Ahli Gubernur, Bayudono, ketersediaan logistik, makanan, dan fasilitas MCK sudah cukup bagus. Mewakili Sri Pakualam yang enggan dimintai ketrangan, Bayudono menambahkan yang perlu ditingkatkan hanya kesadaran para pengungsi untuk menjaga kebersihan.

    "Ya memang dimaklumi kebiasaan mereka hidup di sawah kan biasa buang apa saja sekenanya. Sebaiknya para relawan memberikan sosialisasi menjaga kebersihan," terangnya.

    Selain itui koordinasi pengambilan dan pembagian makanan serta logistik juga perlu diatur lebih baik. "Kalau semua teratur kan enak. Jadi nggak ada saling berebut lagi," kata Bayudono.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 15:13 WIB :

    Tenang... Dokter Bedah Plastik Tangani Korban Luka Bakar



    YOGYA - Tujuh dari 111 pasien luka bakar semburan awan panas Merapi, Jumat (5/11/2010) lalu sudah diizinkan pulang hari ini. Sedangkan sisanya 104 orang lagi masih dirawat di bangsal luka bakar ruang Perawatan Intensif Care Unit (PICU) dan IGD RS Dr Sardjito Yogyakarta.

    Sembilan orang yang masih dirawat di bangsal luka bakar, Bilal (52), Sudarjo (61), Rahmat (25), Kadafi (12), Sri Lestari (42), Endah Tri Utami (16), Sudikaryo (37), Supartinem (55) dan Muh Ikron. Sedangkan tiga korban kritis di bangsal PICU adalah Wanda Novita Putri (7), Fega (21), dan seorang laki-laki yang belum dikenali identitasnya.

    Kabag Humas RS Sardjito, Trisno Heru Nugroho mengatakan para korban luka bakar ditangani dokter spesialis bedah plastik.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 15:13 WIB :

    Radius Bahaya Masih 20 Kilometer


    YOGYAKARTA - Meski intensitas letusan masih tinggi dan frekuensi luncuran awan panas sepanjang Sabtu (6/11/2010) mulai dinihari hingga siang ini, radius bahaya yang ditetapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap 20 kilometer.

    Warga diminta untuk berada di luar radius itu demi keamanan. Hal ini disampaikan Kepala PVMBG Dr Surono dalam keterangan tertulisnya Sabtu siang ini.

    "Hasil pemantauan instrumental dan visual pada 6 November 2010 pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB aktivitas Merapi sangat tinggi," kata Surono.

    Selain bahaya awan panas, potensi besar lain saat ini adalah banjir lahar dingin. "Wilayah yang aman bagi para pengungsi adalah di luar radius 20 kilometer dari puncak Merapi," katanya. Laporan terakhir yang diperoleh PVMBG, hujan pasir terjadi di Selo, Boyolali, Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB.

    Sedang sekitar pukul 11.51 WIB meluncur asap awan panas secara vertikal diikuti kilatan api setinggi 3.000 meter dengan kecenderungan arah ke barat, utara, dan timur.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 15:26 WIB :

    Polisi Larang Warga Masuk Kampung



    SLEMAN - Polisi melarang warga masuk wilayah perkampungan di kawasan bahaya Merapi. Bagi yg berkepentingan diberikan kesempatan dengan durasi waktu yang dibatasi.

    "Warga yang ingin pulang kampung tidak boleh berlama-lama. Seperlunya saja. Kalau perlu kami antar biar cepat," kata Pengendali Pos Arus Masuk Kampung, Ipda Pol Bambang Prawignyo, Sabtu (6/11/2010), di Simpang Empat Kampung Balong, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik.

    Pantauan Tribunnews, lalu lintas radius 20 kilometer dari puncak Merapi dijaga ketat polisi. Warga yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

    Bahkan, banyak pengguna jalan yang membatalkan perjalanan dan kembali ke bawah, atau ke arah Yogyakarta.

    Abu vulkanik masih tebal mengotori semua perkampungan di kawasan lereng Merapi. Tidak ada aktivitas orang karena hampir semuanya mengungsi.

    Hanya terlihat beberapa orang yg masih bertahan. Praktis, perkampungan di lereng Merapi seperti kampung mati.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 15:34 WIB :

    Warga Cangkringan Telah Dievakuasi Total



    SLEMAN - Letusan Merapi yang dimulai pada 26 Oktober lalu mengakibatkan 73.704 orang harus mengungsi. Dari puluhan ribu pengungsi tersebut, warga Cangkringan dan Pakem yang paling banyak.

    Cangkringan menempati urutan pertama jumlah warganya yang diungsikan. Menurut data di Posko Utama di Stadion Maguwo, sebanyak 29.800 pengungsi berasal dari Kecamatan Cangkringan.

    Jumlah tersebut merupakan total keseluruhan warga Cangkringan. Sedang jumlah kedua terbesar ditempati pengungsi asal Kecamatan Pakem yaitu sebanyak 23. 451 atau 70 persen dari total jumlah penduduk. Sisanya berasal dari berbagai daerah di wilayah lereng Merapi.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 15:55 WIB :

    Awas! Awan Panas Besar Meluncur ke Kali Woro



    YOGYA - Semburan awan panas dan guguran material terjadi lagi cukup besar dari puncak Merapi, Sabtu (6/11/2010) pukul 15.15 WIB. Luncuran mengarah ke tenggara menuju hulu Kali Woro, di sisi wilayah Balerante, Kemalang, Klaten.

    Pengamatan visual ini disampaikan Indriarto, Pengendali Operasi SAR Kabupaten Klaten Sabtu pukul 15.30 WIB dari Posko Keputran, Kemalang, Klaten.

    Belum ada perkiraan jarak luncur, besaran material yang dimuntahkan karena puncak gunung hanya teramati samar-samar.

    "Awan cukup tebal di puncak, dan kita hanya lihat samar-samar warna kemerahan. Guguran juga terdengar kuat," kata Indit ketika dihubungi Tribunnews.com Sabtu (6/11/2010) sore ini.

    Intensitas letusan Merapi memang tercatat masih tinggi dan frekuensi luncuran awan panas sepanjang Sabtu (6/11/2010) mulai dinihari hingga siang ini juga hampir tanpa putus. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan radius bahaya tetap 20 kilometer.

    Warga diminta untuk berada di luar radius itu demi keamanan. Hal ini disampaikan Kepala PVMBG Dr Surono dalam keterangan tertulisnya Sabtu siang ini.

    "Hasil pemantauan instrumental dan visual pada 6 November 2010 pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB aktivitas Merapi sangat tinggi," kata Surono.

    Selain bahaya awan panas, potensi besar lain saat ini adalah banjir lahar dingin. "Wilayah yang aman bagi para pengungsi adalah di luar radius 20 kilometer dari puncak Merapi," katanya. Laporan terakhir yang diperoleh PVMBG, hujan pasir terjadi di Selo, Boyolali, Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB.

    Sedang sekitar pukul 11.51 WIB meluncur asap awan panas secara vertikal diikuti
    kilatan api setinggi 3.000 meter dengan kecenderungan arah ke barat, utara, dan timur.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 15:59 WIB :

    Ngungsi Kok Malah Disapu Wedhus Gembel



    YOGYA - Malang betul nasib Mulyono (29) warga Dusun Ndeles Kalasan, Ngemplak, Sleman. Setelah dusunnya dinyatakan sebagai daerah rawan bencana letusan Gunung Merapi, ia mengungsikan istri dan dua anaknya ke rumah kerabatnya di Bronggang, Cangkringan, Sleman.

    Ia sendiri memutuskan tetap tinggal di Ndeles Kalasan untuk menjaga keamanan rumahnya itu. Namun. Dusun Bronggang malah luluh lantak disapu awan panas, Jumat (6/11/2010) dini hari.

    "Karena Dusun Ndeles Kalasan sudah dinyatakan sebagai daerah rawan bencana oleh petugas, saya langsung mengungsikan istri dan dua anak saya ke Bronggang," ujar Mulyono, Sabtu, (06/11/2010), yang kelihatan bingung saat ditemui di depan ruang IFK RS DR Sardjito, Yogyakarta.

    Ternyata ia mengungsikan keluarganya itu ke tempat yang salah. Bronggang luluh lantak disapu awan panas yang dimuntahkan Gunung Merapi, Jumat, (05/11/2010), lalu. Puluhan warga dusun itu ditemukan tewas terpanggang. Mulyono Khawatir dengan keadaan keluarganya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. "Saya ungsikan kok malah begini," sesalnya.

    "Begitu saya nge-cek ke Bronggang, saya lihat rumah kerabat saya itu sudah habis terbakar. Istri, anak-anak, dan kerabat saya juga sudah tidak ada di sana," terangnya.

    Karena itu, Mulyono mencari keluarganya itu ke ke sejumlah tempat pengungsian. Satu diantaranya di stadion Maguwoharjo, tempat pengungsi yang berasal dari tiga kecamatan itu. Namun, sudah tiga posko yang didatanginya, keluarganya itu belum kunjung ditemukan.

    "Saya sudah mencari-cari ke tiga tempat pengungsian. Tapi mereka juga tidak ada. Terus saya cari di sini (RS DR Sardjito). Mudah-mudahan di sini mereka tidak ada," harapnya. Selain istri dan anaknya, Mulyono juga mencari mertua dan empat saudara iparnya.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 16:01 WIB :

    Dosen, Dokter dan Apoteker Bangun Posko Kesehatan



    YOGYAKARTA - Dua posko kesehatan didirikan di barak pengungsian Youth Center, Mlati, Sleman. Posko tersebut merupakan gabungan Fakultas Kedokteran UGM, Ikatan Dokter Anak Indonesia DIY, dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI)

    Posko kedua adalah dri LSM Medical Emergency Response Comittee (MER-C). Posko kesehatan Fakultas Kedokteran (FK) UGM didirikan mulai Sabtu (6/11/2010) pagi, sedang MER-C sudah ada sejak Jumat.

    Menurut Wikan,Koordinator Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang dtemui Sabtu (6/11/2010) siang, masalah kesehatan mayoritas berupa infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan batuk ringan, serta sakit mata.

    "Mayoritas sampai saat ini anak-anak dan balita. Tapi ada juga orang tua yang mengalami batuk ringan,"ungkapnya.

    Posko ini juga membagikan majalah anak-anak dengan tujuan mereka bisa tetap ceria di tengah bencana.

    Begitu pula dengan posko kesehatan MER-C. Di posko ini ada 8 personel yang terbagi atas 6 tenaga medis, baik dokter dan apoteker, serta tenaga nonmedis.

    "Sampai saat ini, sudah 163 orang yang kami tangani, rata-rata anak-anak yang mengalami gejala ISPA. Ada juga orang dewasa yang mengalami hipertensi. Mungkin karena trauma atau sedikit syok," terang Mia, tenaga medis MER-C.

    Posko ini juga melakukan pendekatan pada pengungsi, seperti sharing dan bercanda untuk mengurangi trauma.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 16:17 WIB :

    Merapi Sudah Merenggut 134 Korban Jiwa



    JAKARTA - Sampai pukul 14.30 WIB, Sabtu (6/11/2010), korban meninggal akibat letusan gunung Merapi sudah mencapai 134 orang.

    Hal tersebut diungkapkan staf khusus presiden Andi Arief dalam twitternya. Menurutnya berdasarkan laporan dari tim staf khusus presiden M Syakir Anwar dan Wisnu korban total 134 orang.

    "Update data korban sampai saat ini pukul 14.30, korban meninggal total 134 orang dgn rincian DIY 122 orang dan Jateng 12 orang," kata Andi Arif dalam twitternya.

    Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual dari BPPTK pada 6 November 2010 dari pukul 06:00 WIB sampai dengan pukul 12:00 WIB menunjukkan aktivitas Gunung Merapi sangat tinggi.

    Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya Gunung Merapi dapat berupa awanpanas dan lahar. Wilayah yang aman bagi para pengungsi adalah di luar radius 20 km dari puncak Gunung Merapi.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 16:37 WIB :

    30 Persen Pengungsi di Stadion Maguwoharjo Alami Ispa



    SLEMAN - Sekitar 30 persan pengungsi yang berada di Stadion Maguwoharjo, Sleman mengalami gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Akibat kondisi ini pengungsi mengalami keluhan batuk, pilek, radang tenggorokan, mengi, hingga sesak nafas.

    “Kasus ISPA adalah gangguan kesehatan yang paling banyak ditemui. Angkanya sekitar 30 persen, namun masih dalam kategori ringan,” jelas dokter Doddy, koordinator tim kesehatan bagian selatan stadion, Sabtu (6/11/2010).

    Menurut Doddy, diare yang biasanya banyak di alami di daerah pengungsian justru jarang ditemui. Diperingkat kedua justru adalah penyakit maag (gastritis) sebesar 20 persen, sakit kepala 15 persen, kemudian sisanya adalah hipertensi (tekanan darah tinggi).

    “Selama ini penanganan yang kita lakukan adalah dengan memberikan obat-obatan. Jika pengungsi diagnosis menderita penyakit yang sekiranya tidak sembuh, maka akan dikirim ke rumah sakit rujukan,” tambah Doddy yang merupakan relawan dari BSM (Bulan Sabit Merah) ini.

    Ditempat yang dia koordinir, Doddy mengaku, jumlah persediaan obat masih sangat mencukupi. Obat-obatan seperti obat sakit kepala, batuk, pilek, obat nyeri, dan lain-lain masih tersedia dalam jumlah yang melimpah. “Stok obat-obatan masih sangat cukup untuk beberapa hari kedepan. Ditempat ini ada sejumlah tim dokter, perawat, apoteker, dan psikologis yang siap membantu pengungsi jika mengalami masalah kesehatan.

    Doddy mengaku, setiap hari jumlah pengungsi yang datang untuk berobat sekitar 370 orang. Meski cukup banyak, namun tim yang dipimpinnya mengaku tak kuwalahan untuk memberikan pelayanan. “Tim masih sangat kondusif dan terkendali untuk melayani pengungsi,” ungkapnya.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 16:44 WIB :

    Pengungsi Kekurangan Celana Dalam



    YOGYAKARTA - Bantuan alat salat maupun pakain dalam bagi pengungsi masih terbatas di lokasi pengungsian Stadion Maguwoharjo, Sleman. Bantuan yang menumpuk adalah logistik makanan serta pakaian bekas.

    "Bantuan dari tadi siang banyak yang sampai tapi kami belum menemukan perlengkapan salat. Semuanya berupa pakaian bekas," ujar seorang petugas.

    Banyak warga memadati Pos Logistik yang dijaga petugas TNI dan Satpol PP. Warga menyodorkan kertas berisi daftar kebutuhan.

    Terlihat ibu-ibu dan remaja putri berebut celana dalam yang dibagikan. Kondisi pengungsian yang padat dan serba terbatas membuat sering terjadi rebutan barang pembagian.

    Selain alat salat, warga juga membutuhkan alas tidur. "Buat anak dan simbah (nenek). Simbah sudah berusia 125 tahun, masak tidur nggak pakai kasur," ujar Paiman, warga Boyong.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 16:49 WIB :

    Pasokan Daging dan Sayuran Tersendat


    YOGYA - Letusan Gunung Merapi yang melumpuhkan tiga kecamatan di Kabupaten Sleman, berdampak pada pasokan sayur dan daging di Pasar Induk Kota Jogja. “Sebagian besar pasokan sayur di sini dari Cangkringan,” kata Nanang, pedagang sayur di Pasar Bringharjo, Sabtu (6/11/2010).

    Dijelaskan, sejak beberapa desa di Kecamatan Cangkringan lumpuh disapu awan panas, pasokan sayur dari kawasan itu terhenti. Sedangkan pasokan dari Wonosobo tersendat. “Truk pengangkut harus melewati Magelang. Banyak sopir yang tidak berani,” kata Nanang.

    Kalaupun ada pasokan, lanjutnya, pukul 08.00 WIB dipastikan sudah habis. Seperti tadi pagi, Nanang hanya menjual bawang merah dan cabe kriting. Beberapa jenis sayuran, seperti sawi, wortel, kubis dan sebagainya sejak pukul 08.00 WIB habis terjual.

    Seretnya pasokan sayuran itu membuat berbagai komoditas mengalami kenaikan harga. Cabe rawit yang sebelum letusan Merapai hanya Rp 16 ribu/kilogram, saat ini sudah menembus Rp 20 ribu.

    Tak hanya di pasar tradisional. Beberpa swalayan juga kekurangan pasokan sayur, seperti yang dialami enam gerai Superindo yang ada di kota ini. ”Kami biasa mendapat pasokan sayuran dari Cangkringan, Kaliurang dan sekitarnya. Semenjak bencana merapi, banyak sayuran yang gagal panen. Kalau pun ada kualitasnya jelek,” ujar Widiyanto, supervisior Superindo, Jl Sultan Agung, Sabtu (6/11/2010).

    Selain tersendatnya pasokan sayuran, pasokan daging ayam juga berkurang. Selama ini, pasar tradisional dan swalayan di Kota Gudeg ini mendapat pasokan dari kawasan Cangkringan yang kini hampir semua wilayahnya luluh lantak.

    Harti, penjual ayam di Los 5 Pasar Bringharjo mengaku, sejak kemarin banyak pedagang soto dan warung makan yang biasaya menghidangkan ayam sebagai menu utamanya, tak lagi berjualan. ”Mereka (pedagang makanan, red) kecewa, karena tidak bisa membeli daging ayam untuk dijual,” kata Harti.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 16:53 WIB :

    Tolak Mengungsi karena Sapi



    SLEMAN - Meski berada kurang dari 25 km dari puncak Merapi, sejumlah warga tetap bertahan di rumahnya. Mereka bersikeras bertahan meski berisiko terkena awan panas.

    "Saya punya dua ekor sapi yang harus diberi makan," kata Wiyono (73), warga Ngaglik, Sabtu (6/11/2010)

    Dia mengatakan anak dan cucunya telah mengungsi. Wiyono menolak mengungsi karena harus menjaga dan merawat sapinya.

    Begitu pula dikatakan Pardi (63). Ia mengaku pasrah saja jika datang awan panas atau hujan abu. Dia lebih memilih mencari rumput buat ternaknya daripada mengungsi.

    Pihak kepolisian melarang warga hilir mudik di area yang dinyatakan berbahaya. Apabila warga ingin mengevakuasi sanak keluarga, hanya diberi waktu sekitar satu jam. Itupun dengan pengawasan polisi.

    "Langkah itu perlu dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban," ujar Tikno, petugas di perbatasan simpang empat Balong, Dunuharjo, Ngaglik.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 16:54 WIB :

    Siswa Korban Merapi Diizinkan Bolos



    YOGJA – Sejak abu vulkanik Merapi masuk ke Kota Yogya, Dinas Pendidikan Propinsi DIY mengizinkan siswa membolos dari Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). ”Namun jika cuaca membaik, hari ini merupakan hari terakhir libur”, tegas Baskara Aji Kepala Bagian Perencanaan Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi DIY, Sabtu (6/11/2010)

    Diakui Baskara, penghentian sementara KBM ini mengakibatkan mundurnya beberapa agenda pendidikan. ”Walau merugikan bagi program pendidikan pemprov, namun kita memprioritaskan kesehatan anak”, tambahnya.

    Pantauan di beberapa sekolah menunjukkan, sebagian besar siswa memang memilih membolos. Seperti di SLTP Negeri 1 Yogyakarta yang pada pagi hari hanya terlihat beberapa siswa yang masuk sekolah.

    ”Tidak ada istilah meliburkan, tapi sekolah memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di rumah karena sebagian besar orang tua khawatir akan cuaca yang belum kondusif,” kata Wakil Kepala Urusan Siswa SLTP Negeri 1, Ahmad Dadi, pagi tadi.

    Kesempatan bolos yang diberikan sekolah ini, ternyata dimanfaatkan siswa untuk ikut membantu pengungsi. Seperti yang dilakukan siswa SMA Bopkri 1 Yogyakarta. Mereka menggalang dana untuk membantu korban letusan.

    ”Dari dana tersebut akan dibelikan barang kebutuhan pengungsi,” kata Harya (17) siswa kelas XI sekolah tersebut, saat menggalang bantuan di jalan depan sekolahnya, siang ini.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 17:06 WIB :

    Sultan Perintahkan Keruk Kali Code



    YOGYAKARTA - Gubernur DIY Sri Sultan HB X memerintahkan pengerukan Kali Code untuk mencegah meluapnya air bercampur lahar dingin Merapi ke rumah warga.

    Pengerukan telah dimulai hari Sabtu (6/11/2010). Sultan mengharapkan partisipasi warga pinggiran Kali Code untuk membantu sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dalam dua hari.

    "Pengerukan ini bertujuan untuk menambah daya tampung sungai sehingga air tidak meluap," kata Sultan.

    Menyinggung masalah warga di bantaran Kali Code yg sudah mengungsi, Sri Sultan mempersilakan untuk menggunakan pagelaran dan alun-alun Kraton sebagai tempat pengungsian.

    "Namun kalau pengungsi sudah merasa aman dan nyaman di sana (di lokasi pengungsian di Jogja Studi Center) ya sudah. Paling penting adalahl bagaimana menyelamatkan warga sebanyak-banyaknya," tambah Sultan.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 17:11 WIB :

    Warga Kali Code Keluhkan Sumur Tercemar



    YOGYA - Warga yang bermukim di bantaran Kali Code, Gondokusuman, Yogyakarta mengeluh air bersih yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tercemar. Air tercemar Akibat tercampur dengan material abu vulkanik akibat letusan Merapi, Jumat dini hari.

    Daryoni, warga Kali Code ini mengeluh air sumur yang biasanya bersih tercampur dengan material abu vulkanik, sehingga tidak bisa dipakai untuk minum, mandi dan memasak. “Terpaksa saya minta tetangga untuk air bersih,” ujar Daryoni kepada Tribun Jogja, Sabtu (6/11/2010).

    Ia mengatakan pada saat letusan Merapi terjadi, luapan lahar dingin tumpah di Kali Code, bahkan membawa material pasir dan abu vulkanik. Bahkan, lanjutnya banyak juga batu-batu besar yang juga hanyut sampai ke Kali Code.

    “Tadi pagi warga juga sudah mulai membersihkan halaman rumahnya dari abu vulkanik,” katanya.

    Ditambahkan Harni, setelah erupsi Merapi terjadi lagi, pada saat kejadian Jumat pagi, aliran sungai di Kali code meluap sampai setinggi dengkul. Tapi untungnya, warga sudah banyak yang mengungsi, sehingga tidak ada korban jiwa, maupun rumah yang hanyut.

    “Warga sudah pada mengungsi, tapi paginya mereka sudah kembali untuk menengok rumahnya,” ujar dia.

    Samidi, warga RT 01/01, Kalicode mengatakan air sungai Kali Code meluap dan menyebabkan banyak yang meninggalkan rumahnya dan pindah ke rumah saudaranya. Mereka takut, terjangan banjir akan menghanyutkan rumahnya. “Tapi untung tidak ada korban jiwa,” katanya.

    Samidi mengatakan sumurnya belum tercemar air bersih, karena dia menggunakan sumber air PAM. Namun, sejak siang hari tadi, akibat terjangan lahar dingin, air di Kalicode warnanya berubah jadi kecoklatan bahkan kehijauan. “Warga mulai khawatir, takut akan mencemari air bersih di sumur,” ujarnya.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 17:25 WIB :

    21 BTS Telkomsel di Sekitar Merapi Terganggu



    Bencana meletusnya Gunung Merapi telah mengakibatkan terganggunya jaringan Telkomsel di sekitar wilayah Merapi. Sebanyak 21 Base Transceiver Station (BTS) di 16 site yang meng-cover hingga radius 20 kilometer dari pusat terjadinya bencana tidak berfungsi dengan normal.

    Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, penyebab gangguan yang terbesar adalah terputusnya pasokan catudaya dan link transmisi.

    Tidak berfungsinya 21 BTS di sekitar Merapi mengakibatkan terganggunya layanan komunikasi di beberapa wilayah, antara lain: Glagaharjo, Candi Purwobinangun, Srumbung, Bangunkerto, Sariharjo, dan Palagan.

    "Saat ini kami sedang menunggu keputusan otoritas setempat untuk memperbolehkan kami memasuki wilayah seluruh BTS tersebut yang hingga kini masih berstatus Awas," kata Sarwoto dalam keterangan resmi Telkomsel yang diterima di Jakarta.

    Dijelaskan, Telkomsel juga telah mengevakuasi 192 karyawan GraPARI Yogyakarta dan keluarganya yang berada di sekitar lokasi bencana ke lokasi pengungsian yang lebih aman di Semarang. Dengan dievakuasinya seluruh karyawan tersebut, saat ini GraPARI Yogyakarta tidak beroperasi untuk melayani pelanggan.

    Untuk membantu kelancaran serta kenyamanan lalu lintas komunikasi, Telkomsel menggratiskan layanan SMS ke semua operator. Layanan SMS gratis ini berlaku hingga 30 November 2010 bagi seluruh pelanggan kartuHALO, simPATI, dan Kartu As yang sedang berada di wilayah bencana tersebut.

    "Telkomsel berharap gratis layanan SMS ini dapat dimanfaatkan seluruh pihak, terutama pelanggan Telkomsel yang masih bisa memanfaatkan layanan komunikasi di sekitar wilayah bencana, untuk berkoordinasi selama masa tanggap darurat paska bencana," kata Sarwoto.




    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 17:41 WIB :

    Pengungsi Jateng Capai 150 Ribu Orang



    Berdasarkan laporan dari Humas Pemeritah Provinsi Jawa Tengah, pengungsi di Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten mencapai 150 ribu orang, Sabtu (6/11/2010).

    Perincian pengungsian tersebut diantaranya di Magelang 62 ribu orang, Boyolali lebih dari 35 ribu dan Klaten 18 ribu orang. Dengan kondisi ini telah dibuka posko baru untuk menampung pengungsi termasuk Posko di Bakorwil II yang menampung 900 orang.

    Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, minta agar para pengungsi jangan panik dan tetap tenang. Kepada masyarakat Gubernur mengucapkan terima kasih yang telah mengirimkan bantuan dan terus mengajak masyarakat lainnya untuk makin ‘gumregah’ untuk peduli kepada pengungsi /korban merapi.

    "Bantuan dapat disalurkan via posko Provinsi dan Kabupaten agar lebih tepat sasaran, manfaat dan koordinir sesuai kebutuhan," kata Bibit seperti yang dikutif dari situs pemerintah Jawa tengah.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 17:49 WIB :

    Luapan Kali Code Hanyutkan Satu Rumah



    YOGYAKARTA - Sungai Code kembali meluap dengan intensitas tinggi, sore (6/11/2010) ini. Banjir yang membawa lahar dingin Merapi naik hingga ke rumah warga. Semalam satu rumah milik warga, Subarjo hanyut terseret arus hingga tak bisa ditempati lagi.

    Selain rumah Subarjo, hujan yang terus-menerus datang juga menghanyutkan fasilitas umum yakni belik (kamar mandi umum) yang terletak di sisi utara bantaran sungai bawah Jembatan Gondolayu itu.

    "Di atas memang masih ada kamar mandi lagi, tapi ya harus antri. Banjir lahar menghawatirkan, untungnya sumur umum yang ada di atas bantaran masih aman,"kata ketua RT 01/RW01 Kampung Tegal Code, Darsam.

    Darsam membenarkan bahwa ada satu rumah warga yang hanyut. Oleh karena itu ia mengimbau agar warganya lebih waspada.

    Sementara itu, warga telah diungsikan ke Jogja Study Center (JSC) yang berjarak sekitar 500 meter dari kampung tersebut.

    Namun meski semalam seluruh warga telah diungsikan, sore tadi masih ada sejumlah warga yang kembali ke rumah, untuk menyelamatkan benda berharga, dan sebagian lain memilih menempati posko darurat di kampung tersebut.

    Tim Tagana (taruna Tanggap Bencana) DIY yang ada di lokasi berupaya menyisir warga yang masih nekat dan enggan pindah. Total ada 60 KK, 175 warga yang harus pindah sementara.Namun di posko yang ada di JSC, hanya terlihat puluhan warga yang mengungsi.

    "Banjir deras begini tapi masih ada seluruh warga harus mengungsi, kami akan terus bujuk warga yang ngeyel dan turun ke bantaran lagi,"kata anggota Tagana DIY, Priyo Susanto.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 17:56 WIB :

    Desa Kepuharjo Terkubur Material Merapi



    SLEMAN - Letusan Merapi telah mengubur Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Delapan dusun di desa paling dekat dengan puncak Merapi itu jadi lautan pasir.

    Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto, Sabtu (6/11/2010) mengatakan, desanya sudah tidak mungkin bisa dihuni lagi.

    Sebanyak 902 kepala keluarga yang tinggal di desa tersebut harus mendapat tempat tinggal baru. "Desa kami sudah tidak bisa dihuni. Saya sudah cek ke lokasi. Yang saya lihat hanya material Merapi," katanya.

    Desa Kepuharjo, berada di sisi timur Desa Umbulharjo. Di Desa Kepuharjo terdapat delapan dusun, yakni dusun Kaliadem, Jambu, Petung, Kopeng, Batur, Pagergunung, Kepuh, Manggong.

    "Dari delapan dusun itu yang tersisa tinggal sebagian dusun Pagerjurang," kisahnya.

    Sampai sekarang dusun-dusun tersebut blm bisa dijamah karena material Merapi masih panas.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 19:30 WIB :

    13 Ribu Warga Code Siap Mengungsi



    YOGYA – Sebanyak 13.018 jiwa yang bermukim di bantaran Kali Code siap diungsikan. Warga yang tersebar di 14 kelurahan (delapan Kecamatan) ini terancam luapan lahar dingin yang mengalir di Kali Code.

    Mengantisipasi ancaman ini Pemkot Jogja mendirikan Posko khusus yang dipusatkan di Kantor Kecamatan Danurejan. Asisten II Pemkot Jogja, Sardjono SH ditunjuk sebagai Koordinatornya.

    "Hujan di atas Merapi menimbulkan kerawanan bagi 13 ribu warga Yogya yang ada di bantaran Code. Ini terkait dengan ancaman banjir lahar dingin yang melintas di sungai yang membelah Kota Yogya ini," kata Sardjono, Sabtu (5/11/2010).

    Ancaman banjir lahar dingin tersebut semakin terbuka setelah Kali Code dipenuhi endapan material dari merapi akibat hujan beberapa hari terakhir. "Saat ini endapannya sudah sangat tebal. Apabila hujan lebat seperti kemarin, saya pastikan Code akan meluap dan mengancam warga di sekitarnya," kata Walikota Herry Zudianto.

    Menurut Sardjono, pihaknya kini telah menyiapkan 94 lokasi pengungsian yang tersebar di sepanjang Kali Code. "Tempat pengungsian yang disediakan adalah bangunan yang representatif untuk mereka. Kami akan manfaatkan gedung sekolah, balai RW, gedung olahraga, masjid dan lainya yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan kampong warga," kata Sardjono.

    Sementara itu, Posko juga sudah membangun jaringan dengan warga yang ada di bantaran Code. Kalau debit air di hulu Kali Code meningkat dan dinilai membahayakan, pihaknya dengan mudah memerintahkan warga untuk segera.

    "Besok pagi, PNS di Kota dan Pemprov akan melakukan kerja bakti bersama warga untuk mengurangi endapan pasir di Code," imbuh Sardjono.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 20:12 WIB :

    Tiga Mobil Nyungsep Terpeleset Lumpur Merapi



    YOGYA – Debu vulkanik Merapi yang menyebar hingga berbagai kota di sekitar Yogjakarta dan menutup sejumlah ruas jalan, membuat tiga mobil nyungsep, Sabtu (6/11/2010). Tumpukan debu yang tersiram air hujan, memang membuat jalanan menjadi licin.

    Di Ngepos, Kecamatan Tempel, Sleman mobil Toyota Avanza milik Pegadaian nyemplung di saluran air depan rumah warga. Mobil itu terlihat slip saat mengerem, karena jalanan cukup licin setelah debu tersiram air hujan yang tidak terlalu deras.

    Beruntung, dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa. Hanya saja, bagian depan mobil itu terlihat ringsek, sedangkan pagar rumah warga juga ambruk.

    Sebuah Mitsubishi L300 juga menabrak pembatas jalan hingga ban belakang lepas. Pun yang terjadi di Kota Muntilan, mobil Suzuki Carry Pick-up nyaris terguling setelah rodanya slip akibat jalanan licin.





    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 20:46 WIB :

    Terlihat Endapan Awan Panas Sepanjang 4 KM



    SLEMAN - Berdasarkan pengamatan visual dari posko pengamatan hingga petang ini terlihat endapan awan panas sepanjang 4 kilometer dari puncak Gunung Merapi, Sabtu (6/11/2010)

    Endapan awan panas tersebut menuju arah ke Kali Senowo dan terlihat juga kolom dengan tinggi mencapai 4 kilometer. Saat ini di Krasak dan Muntilan ketebalan abu dan pasir mencapai 4 sentimeter.

    Hasi pengamatan hingga sore ini dari pukul 12.00-18.00 WIB, erupsi Gunung Merapi masih dan sedang terjadi dengan intensitas yang tinggi. Rentetan awan panas masih terus berlangsung sepanjang pagi hingga petang ini.

    Dari sejak letusan dini hari tadi hingga berita ini diturunkan, kondisi merapi masih belum menunjukan penurunan aktivitas yang signifikan. hal ini terlihat dari tremor, guguran, dan awan panas terus terjadi secara berentetan.

    Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 6 November 2010 dari pukul 12.00 WIB sampai dengan pukul 18:00 WIB menunjukkan aktivitas Gunung Merapi sangat tinggi.

    Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya Gunung Merapi dapat berupa awan panas dan lahar. Wilayah yang aman bagi para pengungsi adalah di luar radius 20 km dari puncak Gunung Merapi.






    Spoiler untuk Sabtu, 6 November 2010 21:26 WIB :

    Waspada! Potensi Lahar Dingin Masih Mengancam



    Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono mengatakan para kepala daerah mesti waspada mengantisipasi akan adanya ancaman bencana lahar dingin Merapi.

    "Pemerintah daerah harus siap-siap antisipasi atas bencana lahar dingin," ujarnya. Hal tersebut, lanjut Surono cukup beralasan, sebab curah hujan di sekitar kawasan Merapi sangat tinggi.

    Setidaknya, menurut pria yang akrab disapa Mbah Rono itu, berdasarkan koordinasi dengan pihak BMKG, tercatat setiap 6 jam sekali curah hujan tinggi.

    "Potensi bencana lahar dingin tinggi, karena curah hujan juga cukup tinggi, menurut BMKG tiap 6 jam sekali curah hujan itu muncul," tandasnya.

    Sebelumnya dilaporkan aliran lahar dingin Gunung Merapi sudah mengaliri Kali Code yang lokasinya berada tepat di pusat kota Yogyakarta. Warga yang menghuni sekitar kawasan Kali Code pun dihimbau untuk segera mengungsi karena lahar dingin cukup berbahaya disebabkan mengandung material vulkanik.









    Spoiler untuk 7 NOVEMBER 2010 :

    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 00:03 WIB :

    Malam Ini Merapi Semburkan Lava Pijar



    YOGYA - Lava pijar meluncur beruntun dari puncak merapi ke arah selatan, barat dan tenggara, Sabtu (6/11/2010) sejak pukul 23.00 WIB. Sampai pukul 00.00 WIB ini semburan lava itu masih berlangsung.

    Dari Jalan Kaliurang Km 10 atau sekitar 25 kilometer dari Merapi, luncuran lava itu terlihat cukup jelas. Saat ini cuaca cukup cerah di puncak Merapi sehingga luncuran lava pijar itu bisa dilihat jelas. Merapi memang sudah menunjukkan kenaikan aktiviasnya sejak pukul 20.00.

    Dari catatan sinyal seismograf sejak pukul 20.00 WIB Merapi memang menunjukan aktivitas yang menanjak.
    Dari kawasan bantaran Kali Boyong terdengar gemuruh dari lereng. Belum diketahui persis gemuruh itu disebabkan guguran atau luncuran awan panas.

    Padahal, sebelumnya sekitar pukul 19.00 WIB Merapi belum menunjukkan peningkatan aktivitas.




    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 03:31 WIB :

    Pukul 03.00 Dini Hari Perut Merapi Kembali Bergetar


    Sekitar pukul 03.00 kembali terpantau Merapi masuk krisis lagi. Getaran kuat dan gemuruh dari dalam perut gunung terasa kuat di arah tenggara.

    Dari Wonosari Klaten di jarak 40 kilometer sangat terasa, begitu juga dari Kalasan di sektor selatan. Sinyal telemetri seismograf berdenging meliuk-liuk mengindikasikan gerakan magma dari dalam.

    Selain itu, di wilayah Muntilan dan sepanjang jalan ke Borobudur sangat menyedihkan. Pepohonan kiri kanan jalan bertumbangan. Amukan Merapi ke sektor barat sungguh dahsyat. Saat itu menunjukkan pukul Pukul 02.45 di sekitar Borobudur.




    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 09:52 WIB :

    Gawat! Merapi Tewaskan 232 Orang dan Setengah Juta Pengungsi


    Berdasarkan data terakhir yang dilansir oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban bencana letusan Gunung Merapi berjumlah 232 orang, yang tersebar di lima kabupaten.

    Tercatat jumlah korban meninggal terdapat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan jumlah 232 orang. Terdiri dari Yogyakarta 116 orang, Sleman, sebanyak 104 orang, Klaten 2 orang, Boyolali 3 orang, dan Magelang 7 orang.

    Sementara data terakhir korban luka yang tengah menjalani rawat inap di rumah sakit-rumah sakit, tercatat sebanyak 723 orang, dan rawat jalan sebanyak 6.474 orang.

    BNPB juga mencatat, hingga hari ini, jumlah pengungsi sebanyak 561.328 jiwa, dimana mereka membutuhkan bantuan berupa minyak tanah, pakaian dalam pria, wanita, dan pakaian anak-anak, tikar, alas tidur dan bantal, selimut, pakaian dewasa, kerudung atau jilbab, alas sholat.

    Tidak itu saja, para pengungsi juga butuh pembalut wanita, pampers, minyak kayu putih, obat tetes mata, masker, bahan makanan, sayur mayur, tirai plastik dengan ketinggian lima meter, perlengakapan sekolah dan aalat tulis, dan mainan anak-anak untuk pengungsi yang berada di wilayah Sleman, MPASI dan APD untuk korban di wilayah Kabupaten Klaten, alat komunikasi HT, APD untuk evakuasi di Boyolali, alat komunikasi HT, alat perlindungan diri, medical kit, fieldbed di Kabupaten Magelang.

    Pengungsi sendiri, tersebar di beberapa titik. Berikut titik pengungsian korban meletusnya Gunung Merapi. Sleman: Kecamatan Ngemplak: Glagaharjo, Candirejo, Pondok Wonolelo.

    Kecamatan Berbah: Tegaltirto, Jogotirto, Kalitirto, Sendangtirto. Kecamatan Kalasan: Ds. Purwomartoni, Ds. Tirtomartani, Ds. Selomartani, Kantor Camat Kalasan. Keamatan Sleman: Ds. Caturharjo, GOR Tridadi, Masjid Agung, BD Trimulyo, UPT Dinas PUP.

    Kecamatan Melati: Youth Center, Kronggahan. Kecamatan Godean, Kecamatan Prambanan, Kecamatan Seyegan.

    Kecamatan Gamping: RS PKU, Trihanggo, Menjing Lor, Pasehan Lor, Demakijo. Kecamatan Depok: UPN, Universitas Sanata Dharma, UNY, SD Gambiran, Taman Kuliner, Stadion Maguwoharjo, Gelanggang UGM, STIE YKPN, SMA Stela Duce, Seminari Banteng Jakal, Taman Kuliner Terminal Condong Catur, Sumberadi Mlati Sleman, Bogem, UPN, Condong Catur, Youth Centre Sleman.

    BNPB juga mencatat, di wilayah Sleman sudah sebanyak 300 rumah rata dengan tanah akibat bencana meletusnya Gunung Merapi per tanggal 26 Oktober 2010 kemarin.




    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 11:13 WIB :

    Magelang seperti Kota Mati



    MAGELANG juga menjadi daerah terkena bencana meletusnya Gunung Merapi sejak 26 Oktober hingga 6 November 2010. Selain sudah ada 7 korban meninggal dan ribuan pengungsi di Magelang, abu vulkanik juga merusak ratusan hektar di dearah yang berada di sisi barat gunung Merapi ini.

    Saat letusan dahsyat 4-5 November, suara gemuruh juga terdengar oleh warga Magelang yang berjarak sekitar 30 km dari puncak Merapi. Maka tak heran keesokan harinya kota ini pun nyaris lumpuh.

    Sekolah, mal, pasar dan kegiatan ekonomi seperti libur. Jalanan lengang karena abu tebal dan diguyur hujan menjadi lumpur.

    Penampungan pengungsi di Ketunggeng yang berjarak 15 km pun diungsikan lagi ke bawah. Bisa dibayangkan betapa paniknya setelah satu hari penat tidak istirahat karena berlari mengungsi. Tapi begitu di barak pengungsian dipindah lagi karena posisi yang ditetapkan belum cukup aman dari jangkauan letusan.

    Seperti yang terjadi di MTS Darussalam di Punduhsari Tempuran Magelang. Sekolah ini jadi tempat pengungsian sehingga muridnya diliburkan.

    Minggu (7/11) ini angkuta mulai aktif melintas di jalan walau masih jarang. Pohon pohon tumbang sebagian belum dibereskan masih menutupi jalanan.

    Alvi dan tetangga di kampung Karangsari, Tanggulreja kecamatan Tempuran Magelang mengaku sudah mengalami Merapi meletus tiga kali. Dan letusan tahun 2010 ini dirasakan paling dahsyat.




    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 12:24 WIB :

    Hari Ini Korban Merapi Dimakamkan Massal


    YOGYAKARTA - Menurut rencana, 88 korban tewas akibat sapuan awan panas yang dimuntahkan Gunung Merapi, Jumat (5/11) lalu, akan dimakamkan secara massal di tempat pemakam umum (TPU) Seyegan, Godean, Minggu, (7/11/2010) pukul 13.00 WIB.

    Hal itu dikatakan oleh Kepala Humas RS DR. Sardjito, Heru Nugroho. Jenazah korban untuk sementara akan diserahkan secara resmi oleh pihak rumah sakit kepada Pemerintah Kabupaten Sleman. Rencananya, jenazah akan dimakamkan secara berkelompok, sesuai dengan dusun tempat ditemukannya jenazah tersebut.

    Pemakaman massal harus dilakukan karena kondisi jenazah sudah menimbulkan bau. Sebagian besar jenazah juga sulit untuk teridentifikasi. "Ada 50 jenazah yang belum teridentifikasi. Rata-rata yang tewas berasal dari Bronggang," ujarnya.

    Selain itu, tujuh jenazah baru yang dievakuasi ke RS DR Sardjito hari ini, juga langsung dimakamkan di TPU Seyegan, Godean, karena kondisinya sudah rusak dan sulit teridentifikasi.

    Sementara itu, jumlah jenazah yang sudah dijemput keluarganya hingga saat ini berjumlah 9 orang. Sedangkan 31 jenazah yang berhasil teridentifikasi tinggal menunggu keluarganya.




    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 13:04 WIB :

    Pengamen Terminal Purabaya Sumbang Rp 8,084 Juta


    SURABAYA - Kegiatan penggalangan dana bantuan untuk korban bencana alam, digelar dibeberapa tempat. Diawali oleh para pengamen Terminal Purabaya yang tergabung dalam Organisasi Seniman Purabaya (OSIP), Jumat (5/11) lalu.

    Mereka mengamen sepanjang hari dari bus ke bus hingga di ruang tunggu penumpang. Hasilnya, menurut Jonat alias Edi, pengurus OSIP, pihaknya berhasil mengumpulkan dana Rp 8,084 juta. "Uang itu akan kami setorkan ke PMI untuk diteruskan ke korban bencana Merapi," ujar Jonet.

    Sementara itu, Sabtu (6/11) pagi, pukul 10.00 WIB, 130 siswa dan guru SMP Darul Ulum, Manukan Kulon, menggelar Salat Ghaib mendoakan korban banjir bandang Wasior, gempa dan tsunami Mentawai, serta letusan Gunung Merapi di Jogjakarta.

    "Kegiatan ini bentuk kepedulian dan keprihatinan anak-anak dan guru, terhadap korban bencana alam," ujar Kepala Sekolah SMP Darul Ulum, Ida Fitryah.

    Selain Salat Ghaib dan doa bersama, para siswa juga menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan bencana alam di Indonesia. Dalam teatrikal itu, sebagian siswa yang mengikuti proses belajar mengajar, langsung histeris ketika merasakan gempa.

    Usai menggelar Salat Ghaib dan doa bersama serta teatrikal, mereka mengumpulkan dana dari siswa dan guru SMP, MI serta TK Darul Ulum yang berada satu komplek. Tak ketinggalan juga para pengguna jalan dan masyarakat sekitar sekolah.

    Sementara itu, sekitar 20 pesulap, akan tampil selama 24 jam, mulai Minggu (7/11/2010) pukul 00.00 WIB hingga Senin (8/11) pukul 00.00 WIB. Mereka akan tampil di jalanan dengan keliling Kota Surabaya, mulai dari Taman Bungkul.

    "Di beberapa titik, saya dan teman-teman akan menampilkan atraksi sulap. Titiknya tentu di titik area publik yang banyak penontonnya," jelas Gangga Anindita, pesulap.




    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 16:57 WIB :

    Korban Tewas Merapi Bertambah Jadi 135 Orang


    Terhitung hingga pukul 12.00 WIB jumlah korban meninggal akibat letusan Gunung Merapi mencapai 135 orang.

    Jumlah tersebut sesuai dengan data yang tertulis di Kantor Pusat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (7/11/2010).

    Korban meninggal terbagi dalam beberapa wilayah yakni 123 di Sleman, dua orang di Klaten. selain itu, korban meninggal di Boyolali ada tiga orang, dan tujuh 7 orang meninggal di Magelang.

    Sementara untuk korban yang mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit berjumlah 441 pasien. Dari Sleman berjumlah 147 pasien, Klaten berjumlah 64 pasien, Boyolali 66 pasien dan warga dari Magelang sebanyak 129 pasien.

    Sebelumnya, perkembangan terkini dari BNPB terhitung pada tanggal 7 November 2010, pukul 07.00 pagi tadi mencatat jumlah korban meninggal sebanyak 116 jiwa yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sekitarnya.




    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 17:03 WIB :

    Lava Pijar Merapi Masih ke Tiga Sektor


    Gunung Merapi terus meluncurkan guguran lava pijar dan awan panas ke tiga sisi lereng hingga Minggu (7/11/2010) pukul 16.15 WIB. Dari pengamatan visual yang diinformasikan melalui jaringan radio komunikasi, guguran lava pijar Merapi mengarah ke selatan dan tenggara serta barat daya.

    Kekuatannya sedang. Guguran menimbulkan suara gemuruh. Angin di atas bertiup ke timur laut. Laporan radiokom dari pantauan visual pos-pos warga di radius jangkauan pandang sisi selatan dan tenggara.

    Sebelumnya, sekitar pukul 15.00 terpantau secara visual, terjadi semburan material vulkanik secara vertikal. Indikasi kuatnya energi Merapi yang masih tersimpan terdeteksi dari denging sinyal telemetri seismograf yang bisa dimonitor

    Sedangkan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap menetapkan radius bahaya letusan Merapi masih 20 kilometer dari uncak Merapi.




    Spoiler untuk Minggu, 7 November 2010 18:15 WIB :

    Biadab! Logistik Pengungsi Dicuri lalu Dijual ke Penadah


    YOGYA - Ada saja orang jahat dan berperilaku tidak terpuji di tengah-tengah kesusahan belasan ribu korban letusan Merapi di Stadion Maguwoharjo.

    Kurangnya relawan yang menjaga logistik yang membeludak membuat barang-barang berharga kerap lenyap dicuri.

    Koordinator Loistik Posko Maguwoharjo Ian mengakui hal tersebut. "Mereka mengaku pengungsi, minta barang, terus dibawa. Tapi kenyataannya malah dibawa ke mobil, diserahkan ke pengepul yang sudah siap menampung barang tersebut," kata Ian.

    "Kami terima laporan barang-barang bantuan dijual ke penadah," imbuhnya. "Kita kekurangan orang untuk menjaga logistik. Hanya ada 150 orang, untuk melayani hampir 20 ribu pengungsi di tempat ini," kata Ian.

    Last edited by vin_nto; 07-11-10 at 18:46.
    Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
    Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
    Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu

    Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
    Kota Roma tidak dibangun dalam sehari.


  3. #3
    vin_nto's Avatar
    Join Date
    Aug 2010
    Posts
    2,275
    Points
    2,264.10
    Thanks: 0 / 118 / 81

    Default

    Spoiler untuk gambar-gambar keadaan yogyakarta pasca erupsi merapi :


    Spoiler untuk Jumat (5/11/2010). :


    Material batu di hulu kali code tampak melompat hingga ke atas jembatan,



    Spoiler untuk Jumat (5/11) dinihari :


    Tim evakuasi menyusuri perkampungan dan hutan di sekitar Merapi setelah erupsi dahsyat



    Spoiler untuk Jumat (5/11) pagi :


    Tim Evakuasi berlari menghindari sapuan awan panas ketika sedang evakuasi warga



    Spoiler untuk Kamis (4/11/2010) pagi :


    Letusan Gunung Merapi bak cendawan yang membubung tinggi ke angkasa.



    Spoiler untuk Kamis (4/11/2010). :


    ANTRE MAKAN - Sejumlah pengungsi antri untuk mendapat jatah makan di barak pengungsian Dompol, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Untuk setiap kali makan dapur umum PMI menyiapkan sebanyak kurang lebih 2.000 porsi makanan untuk pengungsi di barak tersebut



    Spoiler untuk Jumat (5/11/2010). :


    Kondisi gunung Merapi hari Jumat sesaat sebelum letusan dahsyat di tengah malam






    Spoiler untuk kumpulan foto foto pasca erupsi merapi :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Spoiler untuk :

    Last edited by vin_nto; 07-11-10 at 19:41.
    Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
    Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
    Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu

    Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
    Kota Roma tidak dibangun dalam sehari.


  4. The Following 2 Users Say Thank You to vin_nto For This Useful Post:
  5. #4
    vin_nto's Avatar
    Join Date
    Aug 2010
    Posts
    2,275
    Points
    2,264.10
    Thanks: 0 / 118 / 81

    Default

    #up date per tanggal 7 november 2010
    Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
    Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
    Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu

    Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
    Kota Roma tidak dibangun dalam sehari.


Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •