Page 3 of 28 FirstFirst 123456713 ... LastLast
Results 31 to 45 of 417
http://idgs.in/730445
  1. #31

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 30
    betina genit ini apa lagi yang dicari kecuali sari kejantanan Sin‐tong? Hayo
    kalian menyangkal, hendak kulihat apakah kalian begitu tak tahu malu untuk
    menyangkal!" Orang yang kata‐katanya amat menusuk ini adalah seorang
    kakek yang beberapa tahun lebih tua daripada Tee‐tok, bahkan menyebut
    Tee‐tok sebagai bekas sutenya karena memang demikian. Dia bertubuh tinggi
    kurus dan mukanya seperti tengkorak mengerikan, di ketiaknya terselip
    sebatang tongkat panjang dan gerak‐geriknya ketika bicara seperti seekor
    ****** tidak mau diam, bahkan kadang‐kadang menggaruk‐garuk kepala
    atau pantatnya, matanya liar memandang ke kanan‐kiri. Inilah dia tokoh
    hebat yang berjuluk Thian‐tok (Racun Langit), bekas suheng Tee‐tok yang
    memiliki kepandaian khas. Selain lihai dalam hal racun sesuai dengan nama
    dan julukannya, juga dia adalah seorang pemuja Kauw Cee Thian atau Cee
    Thian Thaiseng, Si Raja ****** itu, yaitu sebatang tongkat yang dia beri
    nama Kim‐kauw‐pang seperti tongkat Si Raja ******. Juga dia telah
    menciptakan ilmu silat tangan kosong yang meniru gerak‐gerik seekor
    ****** yang diberinya nama Sin‐kauw‐kun(Ilmu Silat ****** Sakti). Seperti
    juga Tee‐tok, dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, dan tidak ada
    yang tahu lagi nama aslinya, yaitu Bhong Sek Bin. "Hemmm, setelah ada aku
    disini jangan harap segala macam iblis dapat berbuat sesuka hati sendiri!"
    kata orang ke tiga, suaranya kasar dan keras, pandang matanya seperti ujung
    pedang menusuk. Orang ini bernama Ciang Ham julukannya Thian‐he Te‐it,
    Sedunia Nomor satu! Usianya kurang lebih 50 tahun, dan dia adalah ketua
    dari Perkumpulan Kang‐jiu‐pang (Perkumpulan Lengan Baja) yang
    didirikannya di Secuan. Di tangan kirinya tampak sebatang senjata tombak
    gagang panjang, dan selain terkenal sebagai seorang ahli bermain tombak,
    dia pun terkenal sebagai seorang ahli bermain tombak, dia pun terkenal
    memiliki lengan sekuat baja! Pakaiannya ringkas seperti biasa dipakai oleh
    seorang ahli silat dan setiap gerak‐geriknya menunjukkan bahwa dia telah
    mempunyai kepandaian silat yang sudah mendarah daging di tubuhnya.
    Orang ke empat adalah seorang berpakaian sastrawan, sikapnya halus,
    usianya 50 tahun tapi masih tampak tampan, tubuhnya sedang dan dia sudah
    menjura ke arah kedua orang datuk golongan hitam itu. Di pinggangnya
    terselip sebatang mauwpit alat tulis pena panjang. "Kami berlima dengan
    tujuan yang sama datang ke tempat ini, tidak sangka bertemu dengan dua
    orang tokoh terkenal seperti Ji‐wi (Anda berdua), Pat‐jiu Kai‐ong dan Kiammo
    Cai‐li, terutama sekali kepada Cai‐li, terimalah hormatku." Pat‐jiu Kai‐ong
    sudah segera dapat mengenal siapa orang ini, akan tetapi Kiam‐mo Cai‐li
    tidak mengenalnya. Hati wanita ini yang tadinya panas mendengar kata‐kata
    menentang dari tiga orang pertama, merasa seperti dielus‐elus oleh sikap
    dan kata‐kata orang berpakaian sastrawan yang tampan ini. Maka dia pun
    membalas penghormatannya dan dengan lirikan mata memikat dan senyum
    simpul manis sekali dia bertanya, "Harap maafkan, kana tetapi siapakah
    saudara yang manis budi dan yang tentu memiliki ilmu kepandaian bun dan
    bu(Sastra dan silat) yang tinggi ini?" Laki‐laki itu tersenyum dan menjawab
    halus, "Saya yang rendah dinamakan orang Gin‐siauw Siucai (Pelajar

  2. Hot Ad
  3. #32

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 31
    Bersuling Perak), seorang yang suka bersunyi di Beng‐san." Kiam‐mo Cai‐li
    kembali menjura, tersenyum dan berkata, "Aihhh, sudah lama sekali saya
    telah mendengar nama besar Cin‐siauw Siucai, sebagai seorang ahli silat
    tinggi, terutama sekali sebagai seorang peniup suling yang mahir dan sudah
    lama pula mendengar akan keindahan tamasya alam di Beng‐san. Mudahmudahan
    saja saya akan berumur panjang untuk mengunjungi Beng‐san yang
    indah, menjadi tamu Gin‐siauw Siucai yang ramah dan sopan, tidak seperti
    kebanyakan pria yang kasar tak tahu sopan santun!" Ucapan terkhir ini jelas
    ditujukannya kepada tiga orang tokoh pertama yang kasar‐kasar tadi. Orang
    ke lima dari rombongan itu adalah seorang tosu berusia enam puluh tahun
    lebih, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat, tangan kiri memegang
    sebuah hudtim (Kebutan Pendeta) dan tangan kanan memegang sebuah
    kipas yang tiada hentinya digoyang‐goyang menipasi lehernya seolah‐olah
    dia kepanasan, padahal hawa di Hutan Seribu Bunga itu sejuk! Kini dia
    membuka mulut dan terdengarlah suaranya yang merdu menyanyikan sajak
    dalam kitab To‐tek‐kheng, kitab utama dari kaum tosu (Pemeluk Agama To)!
    Amat sempurna, namun tampak tak sempurna, tampak tidak lengkap,
    sungguhpun kegunaannya tiada kurang Terisi penuh, namun tampaknya
    meluap tumpah, tampaknya kosong, sungguhpun tak pernah kehabisan Yang
    paling lurus, kelihatan bengkok, yang paling cerdas, kelihatan bodoh, yang
    paling fasih, kelihatan gagu. Api panas dapat mengatasi dingin, air sejuk
    dapat mengatasi panas, Sang Budiman, murni dan tenang dapat memberkati
    dunia!" "Huah‐ha‐ha‐ha! Anda tentulah lam‐hai Seng‐jin (Manusia Sakti Laut
    Selatan), bukan? Sajak‐sajak To‐tekkheng agaknya telah menjadi semacam
    cap Anda, ha‐ha‐ha!" kata Pat‐jiu Kai‐ong sambil tertawa mengejek. Tosu itu
    berkata , "Siancai! Pat‐jiu Kai‐ong bermata tajam, dapat mengenal seorang
    tosu miskin dan bodoh." "Ah, jangan merendah, Totiang," kata Kiam‐mo Caili,
    "Siapa orangnya yang tidak tahu bahwa biarpun Anda seorang yang
    berpakaian tosu dan kelihatan miskin, namun memiliki sebuah istana dan
    menjadi majikan dari Pulau Kura‐kura. Ini namanya menggunakan pakaian
    butut untuk menutupi pakaian indah di sebelah dalamnya." "Siancai! Pujian
    kosong...!" Tosu itu berkata dan mukanya menjadi merah. Tee‐tok Siangkoan
    Houw mngeluarkan suara menggereng tidak sabar. "Apa apaan semua
    kepura‐puraan yang menjemukan ini? Patjiu Kai‐ong dan Kiam‐mo Cai‐li,
    ketika kami berlima datang tadi, kami melihat kalian sedang memperebutkan
    Sin‐tong dan tentu sebelas orang dusun ini kalian berdua yang
    membunuhnya!" "Tee‐tok, urusan itu adalah urusan kami sendiri. Perlu apa
    kau mencampuri?" Pat‐jiu Kai‐ong menjawab dengan senyum dan suara
    halus seperti kebiasaannya namun jelas bahwa dia merasa tak senang.
    "Bukan urusanku, memang! Akan tetapi ketahuilah, kami berlima
    mempunyai maksud yang sama, yaitu masing‐masing menghendaki agar Sintong
    menjadi muridnya. Biarpun kami saling bertentangan dan berebutan,
    namun kami memperebutkan Sin‐tong untuk menjadi murid kami atau
    seorang di antara kami. Sedangkan kalian berdua, mempunyai niat buruk!"
    kata pula Tee‐tok yang terkenal sebagai orang yang tidak pernah menyimpan

  4. #33

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 32
    perasaan dan mengeluarkannya semua tanpa tedeng aling‐aling lagi melalui
    suaranya yang nyaring. "Tee‐tok, jangan sombong kau! Mengenai
    kepentingan masing‐masing memperebutkan Sin‐tong, adalah urusan pribadi
    yang tak perlu diketahui orang lain. Yang jelas, kita bertujuh masing‐masing
    hendak memiliki Sin‐tong, Untuk kepentingan pribadi masing‐masing tentu
    saja sekarang bagaimana baiknya? Apakah kalian ini lima orang yang
    mengaku sebagai tokoh‐tokoh sakti dan gagah dari dunia kang‐ouw hendak
    mengandalkan banyak orang mengeroyok kami berdua. Aku, Kiam‐mo Cai‐li
    sama sekali tidak takut biarpun aku seorang kalian keroyok berlima, akan
    tetapi betapa curang dan hinanya perbuatan itu. Terutama sekali Gin‐siauw
    Siucai, tentu tidak begitu rendah untuk melakukan pengeroyokan!" kata
    Kiammo Cai‐li yang cerdik. "Perempuan sombong kau, Kiam‐mo Cai‐li!" Teetok
    membentak marah dan melangkah maju. "Siapa sudi mengeroyokmu?
    Aku sendiri pun cukup untuk mengenyahkan seorang iblis betina seperti
    engkau dari muka bumi!" "Tee‐tok, buktikan omonganmu!" Kiam‐mo Cai‐li
    membentak dan dia pun melangkah maju. "Eh‐eh, nanti dulu! Apa hanya
    kalian berdua saja yang menghendaki Sin‐tong? Kami pun tidak mau
    ketinggalan!" kata Pat‐jiu Kai‐ong mencela. "Benar sekali! Perebutan ini tidak
    boleh dimonopoli oleh dua orang saja! Aku pun tidak takut menghadapi siapa
    pun untuk memperoleh Sin‐tong!" Thian‐te Te‐it Ciang Ham membentak
    menggoyang tombak panjangnya melintang di depan dada. "Siancai,
    siancai...!" Lam‐hai Seng‐jin melangkah maju, menggoyang kebutannya.
    "Harap Cuwi(Anda Sekalian) suka bersabar dan tidak turun tangan secara
    kacau saling serang. Semua harus diatur seadilnya dan sebaiknya. Kita
    bukanlah sekumpulan bocah yang biasanya hanya saling baku hantam
    memperebutkan sesuatu. Sudah jelas bahwa kita bertujuan sama, yaitu ingin
    memperoleh Sin‐tong. Akan tetapi kita lupa bahwa hal ini sepenuhnya
    terserah kepada pemilihan Sin‐tong sendiri. Maka marilah kita berjanji. Kita
    bertanya kepada Sin‐tong, kepada siapa ia hendak ikut dan kalau dia sudah
    menjatuhkan pilihannya, tidak seorangpun boleh melarang atau
    mencampuri, Bagaimana?" "Hemm, tidak buruk keputusan itu. Aku setuju!"
    kata Tee‐tok. "Aku pun setuju!" kata Thian‐tok dan yang lain pun tidak
    mempunyai alasan untuk tidak menyetujui keputusan yang memang adil ini,
    kemudian melanjutkan dengan kata‐kata sengaja dibikin keras agar
    terdengar oleh Sin‐tong. "Tentu saja harus jujur tidak membohongi Sin‐tong
    akan maksud hati sebenarnya. Misalnya yang mau mengambil murid, yang
    hendak menghisap darahnya atau hendak memperkosa dan menghisap sari
    kejantanannya juga harus berterus terang!" Tentu saja dua orang tokoh
    golongan hitam itu mendongkol sekali dan ingin menyerang Thian‐tok yang
    licik itu. "Isi hati orang siapa yang tahu? Boleh saja kau bilang hendak
    mengambil murid, akan tetapi siapa tahu kalau kau menghendaki
    nyawanya?" Kiam‐mo Cai‐li mengejek Thian‐tok. "Kau...! Majulah, rasakan
    Kim‐kauw‐pang pusakaku ini!" "Boleh! Siapa takut?" Wanita itu balas
    membentak. "Siancai...!" Lam‐hai Seng‐jin mencela dan melangkah maju.
    "Apakah kalian benar‐benar hendak menjadi kanak‐kanak? Katanya tadi

  5. #34

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 33
    sudah setuju, nah marilah kita mendengar sendiri siapa yang menjadi pilihan
    Sin‐tong." Tujuh orang itu lalu menghampiri Sin‐tong yang masih duduk
    bersila seperti sebuah arca, hatinya penuh kengerian menyaksikan tingkah
    laku tujuh orang itu. "Sin‐tong yang baik. Lihatlah, kau satu‐satunya wanita di
    antara kami bertujuh. Lihatlah aku, seorang wanita yang hidup kesepian dan
    merana karena tidak mempunyai anak, kau mendengar bahwa engkau pun
    sebatangkara, tidak mempunyai ayah bunda lagi. Marilah anakku, marilah
    ikut dengan aku, aku akan menjadi pengganti ibumu yang mencintaimu
    dengan seluruh jiwaku. Mari hidup sebagai seorang Pangeran di istanaku, di
    Rawa Bangkai, dan engkau akan menjadi seorang terhormat dan mulia.
    Marilah Sin‐tong, Anakku!" Sin Liong mengangkat muka memandang sejenak
    wajah wanita itu, kemudian dia menunduk dan tidak menjawab, juga tidak
    bergerak, hatinya makin sakit karena dia dengan jelas dapat melihat
    kepalsuan di balik bujuk‐rayu manis itu, apalagi kalau dia mengingat betapa
    wanita ini dengan tersenyum‐senyum dapat begitu saja membunuh jiwa
    enam orang dusun yang tidak berdosa! Dia merasa ngeri dan tidak dapat
    menjawab. "Sin‐tong, aku adalah ketua dari Pat‐jiu Kai‐pang di Pegunungan
    Hong‐san. Sebagai seorang ketua perkumpulan pengemis, tentu saja aku
    kasihan sekali melihat engkau seorang anak yang hidup sebatangkara. Kau
    ikutlah bersamaku, Sin‐tong, dan kelak engaku akan menjadi raja Pengemis.
    Bukankah kau suka sekali menolong orang? Orang yang paling perlu ditolong
    olehmu adalah golongan pengemis yang hidup sengsara, kau ikutlah dengan
    aku, dan Pat‐jiu Kai‐ong akan menjadikan engkau seorang yang paling gagah
    di dunia ini!" Kembali Sin‐tong memandang wajah itu dan diam‐diam
    bergidik. Orang yang dapat membunuh lima orang dusun sambil tertawatawa
    seperti kakek ini sekarang menawarkan kepadanya untuk menjadi raja
    pengemis! Dia tidak menjawab juga, hanya kembali menundukkan mukanya.
    "Anak ajaib, anak baik, Sin‐tong, dengarlah aku. Aku adalah Gin‐siauw Siucai,
    seorang sastrawan yang mengasingkan diri dan menjadi pertapa di Beng‐san.
    Selama hidupku aku tidak pernah melakukan perbuatan jahat dan selama
    puluhan tahun aku tekun menghimpun ilmu silat, ilmu sastra dan ilmu
    meniup suling. Aku ingin sekali mengangkat engkau sebagai muridku, Sintong."
    "Ha‐ha‐ha, kau turut aku saja, Sin‐tong. Biarpun aku seorang yang
    kasar, namun hatiku lemah menghadapi anak‐anak. Aku sendiri memiliki
    seorang anak perempuan sebaya denganmu. Biarlah kau menjadi
    saudaranya, kau menjadi muridku dan kau takkan kecewa menjadi murid
    Tee‐tok. Pilihlah aku menjadi gurumu, Sin‐tong." "Tidak, aku saja! Aku Bhong
    Sek Bin, namaku tidak pernah kukatakan kepada siapapun dan sekarang
    kukatakan di depanmu, tanda bahwa aku percaya dan suka sekali kepadamu.
    Akulah keturunan dari Dewa Sakti Cee Thian Thai‐seng, akulah yang
    mewarisi ilmu Kim‐kauw‐pang. Kau jadilah murid Thian‐tok dan kelak kau
    akan merajai dunia kang‐ouw, Sin‐tong." "Lebih baik menjadi muridku. Aku
    Thian‐he Te‐it Ciang Ham, di kolong dunia nomor satu dan ketua dari Kangjiu‐
    pang di Secuan. Menjadi muridku berarti menjadi calon manusia
    terpandai di kolong langit!" "Siancai...siancai..! Kaudengarlah mereka semua

  6. #35

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 34
    itu, Sin‐tong. Semua hendak mengajarkan ilmu silat dan memamerkan
    kekayaan duniawi, tidak seorangpun yang hendak mengajarkan kebatinan
    kepadamu. Akan tetapi pinto (aku) ingin sekali mengambil murid kepadamu,
    hendak pinto jadikan engkau seorang calon Guru Besar Kebatinan. Kau
    berbakat untuk itu, siapa tahu, kelak engkau akan memiliki kebijaksanaan
    besar seperti Nabi Lo‐cu sendiri, dan engkau menjadi seorang nabi baru. Kau
    jadilah murid Lam‐hai Sengjin, Sin‐tong!" Hening sejenak. Semua mata
    ditujukan kepada bocah yang masih duduk bersila seperti arca dan yang
    tidak pernah menjawab kecuali mengangkat muka sebentar memandang
    orang yang membujuknya. Kemudian terdengar suaranya, halus menggetar
    dan penuh duka. "Terima kasih kepada Cuwi Locianpwe. Akan tetapi saya
    tidak dapat ikut siapapun juga di antara Cuwi karena di balik semua kebaikan
    Cuwi terdapat kekerasan dan nafsu membunuh sesama manusia. Tidak, saya
    tidak akan turut siapapun, saya lebih senang tinggal disini, di tempat sunyi
    ini. Harap Cuwi sekalian tinggalkan saya, saya akan mengubur mayat‐mayat
    yang patut dikasihani ini." "Wah, kepala batu! Kalau begitu, aku akan
    memaksamu!" kata Tee‐tok yang berwatak berangasan dan kasar. "Eh, nanti
    dulu! Siapa pun tidak boleh mengganggunya!" bentak Thian‐tok.
    "Siancai...sabar dulu semua! Jelas bahwa bocah ajaib ini tidak mau memilih
    seorang diantara kita secara sukarela. Karena itu, tentu kita semua ingin
    merampasnya secara kekerasan. Maka harus diatur sebaik dan seadil
    mungkin. Kita bukan kanak‐kanak, kita adalah orang‐orang yang telah
    menghimpun banyak ilmu, maka sebaiknya kalau kita sekarang masingmasing
    mengeluarkan ilmu dan mengadu ilmu. Siapa yang keluar sebagai
    pemenang, tentu saja berhak meimiliki Sin‐tong," kata Lam‐hai Seng‐jin yang
    lebih sabar daripada yang lain. "Mana bisa diatur begitu?" bantah Pat‐jiu kaiong
    yang khawatir kalau‐kalau lima orang itu akan mengeroyok dia dan
    Kiam‐mo Cai‐li. "Lebih baik seorang lawan seorang, yang kalah masuk kotak
    dan yang menang harus menghadapi yang lain setelah beristirahat. Begitu
    baru adil!" "Tidak!" bantah Kiam‐mo Cai‐li, wanita yang cerdik ini dapat
    melihat kesempatan yang menguntungkannya kalau terjadi pertandingan
    bersama seperti yang diusulkan Lam‐hai Seng‐jin. Dalam pertempuran
    seperti itu, siapa cerdik tentu akan keluar sebagai pemenang. "Kalau
    diadakan satu lawan satu, terlalu lama. Sebaiknya kita bertujuh
    mengeluarkan ilmu dan saling serang tanpa memandang bulu. Dengan
    demikian, satu‐satunya orang yang kelaur sebagai pemenang, Jelas dia telah
    lihai daripada yang lain." Akhirnya Pat‐jiu kai‐ong kalah suara dan ketujuh
    orang itu telah mengelurkan senjata masingmasing, membentuk lingaran
    besar dan bergerak perlahan‐lahan saling lirik , siap untuk menghantam
    siapa yang dekat dan menangkis serangan dari manapun juga! Benar‐benar
    merupakan pertandingan hebat yang kacau balau dan aneh! Sin Liong yang
    masih duduk bersila, memandang dengan mata terbelalak dan dia menjadi
    silau ketika tujuh orang itu sudah mulai menggerakkan senjata masingmasing
    untuk menyerang dan menangkis. Gerakan mereka demikian
    cepatnya sehingga bagi Sin Liong, yang kelihatan hanyalah gulungan

  7. #36

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 35
    gulungan sinar senjata dan bayangan orang berkelebatan tanpa dapat dilihat
    jelas bayangan siapa. Memang hebat pertandingan ini karena dipandang
    sepintas lalu, seolah‐olah setiap orang melawan enam orang musuh dan
    kadang‐kadang terjadi hal yang lucu. Ketika Tee‐tok menyerang Pat‐jiu Kaiong
    dengan siang‐kiamnya, sepasang pedangnya ini membabat dari kiri
    kanan. Pat‐jiu Kai‐ong terkejut karena pada saat itu dia sedang menyerang
    Lam‐hai Seng‐jin yang di lain pihak juga sedang menyerang Gin‐siauw Siucai!
    Akan tetapi terdengar suara keras ketika sepasang pedang Tee‐tok itu
    bertemu dengan tombak di tangan Thian‐he Te‐it dan tongkat Thian‐tok,
    sehingga seolah‐olah dua orang ini melindungi Pat‐jiu Kaiong. Pertandingan
    kacau balau dan hanya Kiam‐mo Cai‐li yang benar‐benar amat cerdiknya. Dia
    tidak melayani seorang tertentu, melainkan berlarian berputar‐putar, selalu
    menghindarkan serangan lawan yang manapun juga dan dia pun itdak
    menyerang siapa‐siapa, hanya menggerakkan pedang payungnya dan
    rambutnya untuk membuat kacau dan kadang‐kadang juga menekan lawan
    apabila melihat ada seorang diantara mereka yang terdesak. Siasatnya adalah
    untuk merobohkan seorang demi seorang dengan jalan "mengeroyok" tanpa
    membantu siapa‐siapa agar jumlah lawannya berkurang. Namun, mereka itu
    rata‐rata adalah orang‐orang yang memiliki kepandaian tinggi, maka tidaklah
    mudah dibokong oleh Kiam‐mo Cai‐li, bahkan lama‐lama akalnya ini
    ketahuan dan mulailah mereka menujukan senjata kepada wanita ini
    sehingga mau tidak mau wanita itu terseret ke dalam pertandingan kacaubalau
    itu! Terpaksa dia mempertahankan diri dengan pedang payungnya, dan
    membalas serangan lawan yang paling dekat dengan kemarahan meluapluap.
    Sin Liong menjadi bengong. Entah kapan datangnya, tahu‐tahu dia
    melihat seorang laki‐laki duduk ongkang‐ongkang di atas cabang pohon
    besar yang tumbuh dekat medan pertandingan itu. Laki‐laki itu memandang
    ke arah pertempuran dengan mata terbelalak penuh perhatian, tangan kiri
    memegang sehelai kain putih lebar, dan tangan kanan yang memegang
    sebatang alat tulis tiada hentinya mencoratcoret di atas kain putih itu,
    seolah‐olah dia tidak sedang menonton pertandingan, melainkan sedang
    menonton pemandangan indah dan dilukisnya pemandangan itu! Sin Liong
    yang terheran‐heran itu memperhatikan. Orang laki‐laki itu kurang lebih
    empat puluh tahun usianya, pakaiannya seperti seorang pelajar akan tetapi di
    bagian dada bajunya yang kuning muda itu ada lukisan seekor Naga Emas
    dan seekor Burung Hong Merah. Indah sekali lukisan baju itu. Wajahnya
    tampan dan gagah, dengan kumis dan jenggot terpelihara baik‐baik,
    pakaiannya juga bersih dan terbuat dari sutera halus, sepatu yang dipakai
    kedua kakinya masih baru atau setidaknya amat terpelihara sehingga
    mengkilap. Rambutnya memakai kopyah sasterawan dan sepasang matanya
    bersinar‐sinar penuh kegembiraan ketika dia mencorat‐coret melukis
    pertandingan antara tujuh orang sakti itu. Sin Liong makin bingung. Betapa
    mungkin melukis tujuh orang yang sedang berkelebatan hampir tak tampak
    itu? Sin Liong tidak lagi memperhatikan pertandingan, hanya memandang ke
    arah orang itu. Dia mendengar bentakan‐bentakan nyaring dan tidak tahu

  8. #37

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 36
    bahwa tujuh orang itu telah ada yang terluka. Thian‐he Te‐it telah terkena
    hantaman tongkat Thian‐tok di pahanya sehingga terasa nyeri sekali. Pat‐jiu
    Kai‐ong juga kena serempet pundaknya sehingga berdarah oleh sebatang di
    antara Siang‐kiam di tangan Tee‐tok, sedangkan Lam‐hai Seng‐jin dan Ginsiauw
    Siucai juga telah mengadu tenaga dan keduanya tergetar samapi
    muntahkan darah namun berkat sinkang mereka, kedua orang ini tidak
    sampai mengalami luka dalam yang parah. Sin Liong melihat betapa laki‐laki
    di atas pohon itu tersenyum, menghentikan coretannya, menyimpan pensil
    dan menyambar jubah luar yang tadi tergantung di ranting pohon,
    memakainya, kemudian mengantongi gambar yang telah digulungnya dan
    tubuhnya melayang turun. "Tontonan tidak bagus!" Terdengar dia berseru.
    "Tujuh orang tua bangka gila memperlihatkan tontonan di depan seorang
    anak kecil benar‐benar tak tahu malu sama sekali!" Tujuh orang itu terkejut
    ketika mendengar suara yang langsung menggetarkan jantung mereka itu.
    Mengertilah mereka bahwa yang datang ini memiliki khikang dan singkang
    yang amat kuat, sehingga dapat mengatur suaranya, langsung dipergunakan
    untuk menyerang mereka dan sama sekali tidak mempengaruhi Sin‐tong
    yang masih duduk bersila. Dengan hati tegang mereka lalu meloncat mundur
    dan masing‐masing melintangkan senjata di depan dada, memandang ke arah
    laki‐laki gagah yang baru muncul itu. Namun, tidak ada seorangpun diantara
    mereka yang mengenalnya, maka ketujuh orang itu menjadi marah sekali.
    JILID 3 ******* kecil, engkau siapakah berani mencampuri urusan kami dan
    memaki kami?" bentak Patjiu Kai‐ong sambil mengusap pundaknya yang
    berdarah. Apa kau memiliki kepandaian maka berani mencela kami, tikus
    kecil?" bentak pula Thian‐he Te‐it yang masih ngilu rasa pahanya, dan untung
    bahwa pahanya itu tidak patah tulangnya. Laki‐laki itu melangkah maju
    menghampiri mereka dengan langkah tegap dan sikap sama sekali tidak
    takut, bahkan wajahnya itu berseri‐seri memandang mereka seorang demi
    seorang. kemudian, setelah berada di tengah‐tengah sehingga terkurung, dia
    berkata, " Tadinya aku hanya mendengar bahwa ada seorang anak baik
    terancam oleh perebutan orang‐orang pandai di dunia kang‐ouw. Ketika tiba
    disini dan melihat lagak kalian, mau tidak mau aku masuk dan hatiku
    memang penasaran menyaksikan gerakan kalian yang sungguh‐sungguh
    masih mentah. Ilmu tongkat dia itu tentu Pat‐mo‐tung‐hoat yang
    berdasarkan Ilmu Pedang Pat‐mo‐kiam‐hoat," katanya sambil menuding ke
    arah Pat‐jiu Kai‐ong. Raja pengemis itu terkejut sekali melihat orang
    mengenal ilmu tongkatnya, padahal tadi mereka bertujuh bertanding dengan
    kecepatan luar biasa, bagaimana orang ini dapat mengenal ilmu tongkatnya?
    "Dan ilmu otngkat dia itu lebih lucu dan kacau lagi. Meniru gerakan Kauw Cee
    Thian Si Raja ******, akan tetapi kaku dan mentah, tidak pantas menjadi
    gerakan Raja ******, pantasnya menjadi gerakan Raja Tikus! Dia menuding
    arah Thian‐tok. "Brakkk!!" Batu besar yang berada di samping Thian‐tok
    hancur berantakan karena dipukul oleh tongkatnya. Dia marah sekali
    mendengar ucapan yang dianggapnya menghina itu. "Manusia lancang,
    berani kau menghina Thian‐tok?" bentaknya dan tongkatnya sudah diputar

  9. #38

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 37
    hendak menyerang. Akan tetapi orang itu membentak, "Berhenti!" Dan aneh,
    suaranya demikian berwibawa sehingga Thian‐tok sendiri sampai tergetar
    dan menghentikan gerakan tongkatnya. "Aku melihat kalian masing‐masing
    memiliki kepandaian khusus namun masih mentah semua. Aku tidak
    membohong dan kalau tidak percaya, marilah kalian maju seorang demi
    seorang, akan kuperlihatkan kementahan ilmu silat kalian yang kalian
    pergunakna dalam pertandingna kacau balau tadi. Hayo siapa yang maju
    lebih dulu, akan kulayani dengan ilmu silat kalian sendiri!" Ucapan ini lebih
    mendatangkan rasa heran dan tidak percaya daripada kemarahan, maka Patjiu
    Kai‐ong melupakan pundaknya yang terluka, cepat dia sudah meloncat ke
    depan, melintangkan tongkatnya di depan dada sambil berseru, "Nah, coba
    kaubuktikan kementahan ilmu tongkatku!" Setelah berkata demikian, Raja
    Pengemis ini menyerang, menggunakan tongkatnya untuk menusuk,
    kemudian gerakan ini dilanjutkan dengan memutar tongkat ke atas
    menghantam kepala. Memang gerakan tongkatnya adalah gerakan pedang,
    dia ambil dari Ilmu Pedang Pa‐mo‐kiam‐hoat. Hal ini adalah rahasianya,
    maka dia heran sekali mendengar orang tampan gagah itu mengenal ilmu
    tongkatnya dan sekaligus membuka rahasianya. Enam orang tokoh yang lain
    adalah orang‐orang yang telah terkenal, maka mereka menahan kemarahan
    dan menonton untuk melihat apakah orang yang tidak terkenal ini benarbenar
    memiliki kepandaian aneh dan apakah benar‐benar selihai mulutnya
    yang amat sombong itu. Serangan Pat‐jiu Kiam‐ong itu tidak ditangkis, akan
    tetapi tubuh orang itu tiba‐tiba saja lenyap! Semua orang kaget dan bengong
    melihat betapa tubuh orang itu tahu‐tahu telah melayang turun dari atas
    pohon, di tangannya terdapat sebatang cabang pohon, yang daunnya telah
    dibersihkan. Demikian cepatnya dia tadi meloncat sehingga tidak tampak,
    dan entah bagaimana cepatnya tahu‐tahu dia telah membikin sebatang
    tongkat yang ukurannya sama dengan tongkat yang dipegang Pat‐jiu Kai‐ong.
    Begitu dia turun, Pat‐jiu Kaiong telah menyerangnya dengan kemarahan
    meluap. "Nah, lihatlah. Bukankah ini Pat‐mo‐kiam‐hoat (Ilmu Pedang
    Delapan Iblis) yang kau rubah menjadi Patmo‐ tung‐hoat?" Dan orang itu pun
    kini mengimbangi permainan ilmu tongkat Pat‐jiu Kai‐ong dengan gerakan
    yang sama! Jurus demi jurus dimainkan orang itu untuk menangkis dan balas
    menyerang, namun bedanya, serangannya jauh lebih cepat dan lebih kuat
    tenaga sinkang yang menggerakkan tongkat itu! Tokoh‐tokoh lain hanya
    menduga‐duga, mengira orang baru itu meniru gerakan Pat‐jiu Kai‐ong, akan
    tetapi Raja Pengemis ini sendiri mengenal gerakan orang itu yang bukan lain
    adalah ilmu tongkatnya sendiri yang digubahnya sendiri! Dia menjadi
    bingung dan heran, apalagi serangan orang itu cepatnya melebihi kilat dan
    dalam belasan jurus saja, tiba‐tiba terdengar suara keras, tongkat di tangan
    Pat‐jiu Kaiong patah dan si Raja Pengemis ini sendiri terpelanting dan
    mukanya pucat sekali karena tadi ujung tongkat lawannya telah menyambar
    dahinya tepat diantara mata dan kalau dikehendakinya, tentu dia telah tewas,
    akan tetapi orang aneh itu hanya mengguratnya saja sehingga kulit di bagian
    itu robek dan berdarah. Tahulah dia bahwa sia telah berhadapan dengan

  10. #39

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 38
    seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampuinya, tahu pula
    bahwa nyawanya diampuni maka tanpa banyak cakap dia lalu mundur dan
    berdiri dengan muka pucat dan mulut berbisik, "Aku mengaku kalah!" Tentu
    saja hal ini mengejutkan enam orang tokoh yang lain! Mereka tadi, dalam
    pertandingan kacau balau, telah beradu senjata dengan Si Raja Pengemis, dan
    mereka maklum bahwa selain ilmu tongkatnya amat lihai, juga tongkat itu
    sendiri merupakan senjata pusaka yang kuat menangkis senjata tajam, di
    samping tenaga sinkang si Kakek Jembel yang amat kuat. Namun, dalam
    belasan jurus saja kakek jembel itu mengaku kalah, tongkatnya patah dan
    diantara alisnya terluka, sedangkan tadinya mereka mengira bahwa orang
    yang baru datang itu hanya meniru‐niru ilmu silat Pat‐jiu Kai‐ong! "Si Jembel
    tua bangka memang *****!" Tiba‐tiba Thian‐he Te‐it Ciang Ham meloncat ke
    depan, tombaknya melintang di tangannya, sedangkan tangan kirinya
    dikepal, tangan kiri yang mengandung tenaga mukjijat dan terkenal dengan
    sebutan Kang‐jiu(Lengan Baja) yang kuat menangkis senjata tajam! Orang itu
    tersenyum sabar. Hemm, jadi tadi adalah Pat‐jiu Kai‐ong, ketua Pat‐jiu Kaipang
    yang terkenal? Heran ilmunya masih serendah itu sudah berani malang
    melintang di Heng‐san. Dan kau ini siapakah? Ginkangmu cukup lumayan
    akan tetapi permainan tombakmu belum patut disebut Sin‐jio(Tombak
    Sakti), dan pukulan itu, tentu yang dinamakan Lengan Baja, sayangnya tidak
    cocok dengan sebutannya karena terlalu lemah, hemm, terlalu lemah...!"
    Muka Ciang Ham menjadi merah sekali saking marahnya. Sudah menjadi
    kebiasaannya kalau dia lagi marah, matanya mendelik dan kumisnya yang
    jarang itu bergoyang‐goyang menurutkan bibir atasnya yang tergetar! "Si
    ******* sombong! Tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku
    adalah Thianhe Te‐it (Nomor Satu Sedunia) ketua dari Kang‐jiu‐pang di
    Secuan! Bersiaplah untuk mampus di tanganku!" Kembali orang itu meloncat
    ke atas, kini semua orang yang sudah memperhatikan seluruh gerak‐geriknya
    melihat bahwa orang itu benar‐benar memiliki ginkang yang sukar
    dipercaya. Hanya dengan mengenjot ujung kaki, tubuhnya melesat dengan
    kecepatan yang luar biasa sekali, lenyap ke dalam pohon besar dan tak lama
    kemudian sudah melayang turun membawa sebatang cabang yang
    panjangnya sama dengan tombak di tangan Ciang Ham, bahkan ujungnya
    juga sudah diruncingkan, entah bagaimana caranya! "Nah, coba mainkan ilmu
    tombakmu dan pukulan Lengan Bajumu yang masih mentah itu." Thian‐he
    Te‐it Ciang Ham bukan main marahnya. Sambil mengeluarkan gerengan
    keras dia menerjang, tombaknya bergerak dahsyat sehingga mata tombak
    berubah menjadai belasan banyaknya, semua mata tombak itu seolah‐olah
    menyerang bagian‐bagian tertentu dari lawannya! Namun orang itu pun
    menggerakkan tombak cabang pohon dengan gerakan yang sama, bahakan
    mata "tombaknya" berubah menjadi dua puluh lebih, membentuk bayangan
    tombak yang menyilaukan mata dan terjadilah pertandingan tombak yang
    amat aneh karena gerakan mereka sama. Dapat dibayangkan betapa
    kagetnya hati Thian‐he Te‐it Ciang Ham. Ilmu tombak itu adalah ciptaannya
    sendiri dan selama ini belum pernah diajarkan kepada siapapun juga,

  11. #40

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 39
    merupakan kepandaian khasnya yang ampuh. Akan tetapi sekarang dia
    melihat orang ini mainkan ilmu tombaknya dengan gerakan yang lebih cepat
    dan lebih kuat! Marahlah dia. "***** kau!" dia memaki dan kini tombaknya
    membuat lingkaran besar, menyambarnyambar diatas kepala sedangkan
    lengan kirinya melakukan pukulan maut karena lengan itu seolah‐olah
    merupakan sebuah senjata baja yang kuat sekali. "Bagus," orang itu berseru,
    tombaknya bergerak pula menyambut tombak lawan dan terdengar suara
    "krekkk" ketika ujung tombak Thian‐he Te‐it patah disusul bertemunya dua
    buah lengan. "Desss...!" Thian‐he Te‐it Ciang Ham mengaduh, melemparkan
    tombaknya yang patah, menggunakan tangan kanan mengurut‐urut lengan
    kirinya. Lengan kiri yang terkenal dengan sebutan Lengan Baja itu, yang
    berani menangkis senjata tajam lawan, begitu bertemu dengan lengan lawan,
    berubah menjadi seperti bambu bertemu besi. Tulangnya retak dan sakitnya
    bukan main! Dia pun bukan anak kecil, seketika tahulah dia bahwa dia
    berhadapan dengan seorang yang tingkat kepadaiannya jauh lebih tinggi,
    membuat dia seolah‐olah berhadapan dengan gurunya, maka dia meloncat ke
    belakang, meringis dan berkata nyaring, "Aku kalah!" Hening sejenak. Lima
    orang tokoh lain terheran‐heran, hampir tidak dapat percaya akan peristiwa
    yang telah terjadi. Biarpun mereka mulai merasa heran dan gentar, namun
    rasa penasaran membuat mereka lupa akan kenyataan bahwa orang itu
    benar‐benar lihai. Mereka hendak membuktikan sendiri apakah benar orang
    aneh ini dapat memainkan ilmu istimewa mereka yang selama ini
    mengangkat nama mereka di tempat tinggi di dunia kang‐ouw. "Hayo, siapa
    lagi yang ingin memamerkan ilmunya yang masih mentah?" Orang itu sengaja
    menantang sambil melemparkan tombak cabang pohon yang telah berhasil
    mematahkan ujung tombak pusaka di tangan Ciang Ham tadi. "Aku ingin
    mencoba!" Thian‐tok sudah melompat ke depan dengan gerakan seperti
    seekor kera dan tangan kirinya menggaruk‐garuk pantat, tangan kanan
    memegang tongkat Kim‐kauw‐pang itu memutar‐mutar tongkatnya. "Nanti
    dulu," kata orang itu. "Yang bertombak tadi, bukankah dia yang terkenal
    sekali sebagai ketua Kangjiu‐ pang di Secuan? harap Pangcu (Ketua) menjaga
    agar anak buahmu tidak merendahkan nama Kang‐jiupang dengan
    melakukan perbuatan melanggar hukum dan memperbaiki ilmu silatnya."
    Ciang Ham tidak menjawab, hanya kumisnya bergoyang‐goyang karena
    marahnya. "Dan Anda ini, apakah mempunyai kudis di pantat, ataukah
    memang hendak meniru lagak seekor ******? Kalau begitu, tentulah Anda
    yang berjuluk Thian‐tok, yang kabarnya menjadi pemuja Kauw Cee Thian,
    terkenal dengan Ilmu Tongkat Kim‐kauw‐pang dan Ilmu Silat Sin‐kauw‐kun."
    "Dugaanmu benar, akulah Thian‐tok! Siapakah namamu, manusia sombong?"
    Thian‐tok Bhong Sek Bin membentak marah. "ataukah kau tidak berani
    mengakui namamu dan bersikap sebagai seorang pengecut tukang mencuri
    ilmu orang lain?" Biarpun diserang dengan kata‐kata yang menghina itu,
    orang ini tersenyum saja dan menjawab, "Namaku tidak ada perlunya
    kauketahui. Kalau aku tidak mampu mengalahkan engkau dengan ilmumu
    sendiri, barulah aku akan memperkenalkan diri dan boleh kau perbuat

  12. #41

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 40
    sesukamu terhadap diriku." Thian‐tok lalu mengeluarkan suara memekik
    nyaring seperti seekor kera marah, akan tetapi sebelum dia menyerang lakilaki
    aneh itu telah menyambar tombak cabang pohon yang tadi dilemparnya
    ke atas tanah. Tombak itu panjang dan sekali dia menggerakkan jari
    tangannya, ujung tombak cabang yang runcing itu telah patah dan
    berubahlah tombak itu menjadi sebatang tongkat yang panjangnya sama
    dengan Kim‐kauwpang di tangan Thian‐tok! Thian‐tok sudah menerjang
    dengan gerakan lincah sekali. Kim‐kauw‐pang ditangannya diputar‐putar
    sedemikian rupa, mulutnya menggeluarkan pekik‐pekik dahsyat dan
    tubuhnya sampai lenyap terbungkus gulungan sinar tongkat sendiri. Namun
    dengan enaknya orang itu pun memutar tongkatnya, serupa benar dengan
    gerakan Thian‐tok bahkan mulutnya juga mengeluarkan pekik seperti
    ****** itu dan terjadilah pertandingan yang aneh dan lucu, seolah‐olah
    bukan sedang bertanding, melainkan Thian‐tok sedang berlatih silat dengan
    gurunya. Gerakan mereka sama, akan tetapi gerakan orang itu lebih cepat
    dan lebih mantap. Kembali belum sampai dua puluh jurus terdengar suara
    keras, Kim‐kauw‐pang di tangan Thian‐tok patah‐patah menjadi tiga potong
    dan Si Racun Langit itu terhuyung mundur dengan muka pucat karena tulang
    pundaknya hampir patah terpukul tongkat lawan! Melihat betapa bekas
    suhengnya kalah, Tee‐tok marah sekali. Siang‐kiam di punggungnya telah
    dicabutnya dan tanpa banyak cakap lagi dia telah meloncat maju. "Keluarkan
    senjatamu, manusia licik! Akulah Tee‐tok, hayo lawan siang‐kiam‐ku ini kalau
    kau memang gagah!" Orang itu menjura, "Aha, kiranya Tee‐tok Siangkoan
    Houw yang terkenal. Kulhat tadi ilmu pedangmu adalah pecahan dari Huiliong‐
    kiamsut, dan kau pandai pula menggunakan Ilmu Silat Pek‐lui‐kun.
    Akan tetapi seperti yang lain, gerakanmu masih mentah." "Tak usah banyak
    cakap! Lawanlah ilmuku!" Bentak Tee‐tok dengan marah dan dia sudah
    menerjang maju. Laki‐laki iut mematahkan tongkatnya menjadi dua potong
    tongkat yang sama dengan pedang‐pedang di kedua tangan Tee‐tok, dan
    begitu dia menggerakkan kedua tangannya, tampaklah sinar‐sinar bergulung
    dengan gerakan yang persis seperti gerakan Tee‐tok yang memutar sepasang
    pedangnya. Kembali terjadi pertandingan yang hebat, seru dan aneh. Berkalikali
    terdengar suara nyaring bertemunya pedang dengan tongkat, namun
    anehnya, tongkat dari cabang pohon itu sama sekali tidak dapat terbabat
    putus, bahkan kedua tangan Tee‐tok selalu terasa panas dan perih setiap kali
    pedangnya bertemu tongkat! Dengan teliti Tee‐tok memperhatikan gerakan
    orang dan dia terkejut. Memang benar bahwa orang itu mainkan jurus‐jurus
    ilmu pedangnya! Dan bukan hanya mainkan jurus ilmu pedangnya, bahkan
    telah mendesaknya dengan tekanan yang hebat karena orang itu jauh lebih
    lincah dan lebih kuat daripada dia. Lewat lima belas jurus, Tee‐tok berseru,
    "Aku mengaku kalah!" Dia meloncat mundur, menyimpan pedangnya dan
    mengangkat tangan menjura ke arah orang itu sambil berkata, "Harap kau
    menerima penghormatanku dengan Pek‐lui‐kun!" Kelihatannya saja dia
    memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada, namun
    dari kedua telapak tangannya itu menyambar hawa pukulan maut yang

  13. #42

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 41
    mendatangkan hawa panas dan yang dapat membunuh lawan dari jarak tiga
    empat meter tanpa tangannya menyentuh tubuh lawan! Itulah pukulan Peklui‐
    kun(Kepalan Kilat) yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat! Orang
    itu sudah melempar sepasang tongkat pendeknya, sambil tersenyum dia pun
    mejura dengan gerakan yang sama. Terjadilah adu tenaga yang tidak tampak
    oleh mata. Di tengah udara, diantara kedua orang itu terjadi benturan tenaga
    dahsyat dan akibatnya membuat Tee‐tok terpental ke belakang, terhuyung
    dan dari mulutnya muntah darah segar! Dia tidak terluka hebat karena
    tenaganya Pek‐lui‐kun membalik, hanya tergetar hebat dan mukanya makin
    pucat. "Engkau hebat! Aku bukan tandinganmu!" kata Tee‐tok dengan jujur,
    dan memandang dengan mata terbelalak penuh kagum dan juga penasaran.
    "Engkau luar biasa sekali dan aku amat kagum kepadamu, sahabat!" Ginsiauw
    Siucai berkata sambil melangkah maju. "Aku tahu bahwa agaknya aku
    pun bukan tandinganmu, akan tetapi hatiku penasaran sebelum melihat
    engkau mainkan ilmu‐ilmuku yang tentu kauanggap masih mentah pula. Aku
    adalah Gin‐siauw Siucai dari Beng‐san, senjataku adalah suling dan pensil
    bulu entah kau bisa mainkannya atau tidak." "Gin‐siauw Siucai, sudah lama
    aku mendengar namamu yang terkenal. Jangan khawatir, aku tentu saja
    dapat mainkan ilmumu. Dengan ranting pendek ini aku meniru sulingmu, dan
    aku pun memiliki sebatang pensil bulu." Orang itu memungut sebatang
    ranting yang panjangnya sama dengan suling perak di tangan Gin‐siauw
    Siucai, juga dia mencabut keluar pensil bulu yang tadi dia pergunakan untuk
    mencoretcoret ketika tujuh orang tokoh sakti itu sedang saling bertempur.
    Akan tetapi kalau pensil bulu di tangan Gin‐siauw Siucai adalah pensil yang
    dibuat khas, bukan hanya untuk menulis akan tetapi juga dipergunakan
    sebagai senjata sehingga gagangnya terbuat dari baja tulen, adalah pensil di
    tangan orang itu hanyalah sebatang pensil biasa saja. Berkerut alis Gin‐siauw
    Siucai. Orang itu dianggapnya terlalu memandang rendah kepadanya. Akan
    tetapi karena orang itu tersenyum‐senyum dan meniru menggerak‐gerakkan
    pensil dan "suling" di tangannya, dia lalu berkata, "Apa boleh buat, engkau
    sudah memperoleh kemenangan. Kalau kau kalah, orang akan menyalahkan
    aku yang menggunakan senjata lebih kuat. Kalau aku yang kalah, engkau
    akan menjadi makin terkenal, sungguhpun kami belum tahu siapa kau. Nah,
    mulailah!" Siucai ini cerdik dan dia sengaja menantang agar lawannya
    bergerak lebih dulu. Akan tetapi orang itu tersenyum dan sambil
    menggerakkan kedua senjata istimewa itu berkata, "Lihat baik‐baik, Siucai.
    Bukankah ini jurus terampuh dari suling dan pensilmu?" Kedua tangan orang
    itu bergerak dan Gin‐siauw Siucai terkejut mengenal jurus‐jurus maut dari
    kedua senjatanya dimainkan oleh orang itu untuk menyerangnya! Tentu saja
    dia dapat memecahkan jurus ilmunya sendiri dan berhasil menangkis kedua
    senjata lawan, akan tetapi seperti juga yang lain tadi, dia merasa betapa
    kedua lengannya tergetar hebat, tanda bahwa dalam hal sinkang, dia masih
    kalah jauh. Namun, Siucai ini merasa penasaran sekali. Puluhan tahun dia
    bertapa di Beng‐san menciptakan ilmu‐ilmu silat tinggi yang dirahasiakan
    dan belum pernah diajarkan kepada siapapun juga. Bagaimana sekarang

  14. #43

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 42
    telah dicuri oleh orang ini tanpa dia mengetahuinya? Dia melawan matimatian,
    mengeluarkan jurus‐jurus paling ampuh dari kedua senjatanya,
    namun karena kalah tenaga, setiap kali tertangkis dia terhuyung. Seperti juga
    yang lain dia tidak mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus. Terdengar
    suara keras dan kedua senjatanya itu, suling dan pensil patah‐patah bertemu
    dengan senjata lawan yang sederhana itu. Dia meloncat ke belakang, menjura
    dan berkata, "Kepandaian Taihiap(Pendekar Besar) memang amat hebat, aku
    yang bodoh mengaku kalah." Orang itu tersenyum dan memuji "Tidak
    percuma julukan Gin‐siauw Siucai karena memang hebat kepandaianmu."
    Ucapan itu dengan jelas menunjukkan kekaguman, bukan ejekan, maka Ginsiauw
    Siucai menjadi makin kagum dan terheran‐heran. "Sekarang tiba
    giliran pinto untuk kau kalahkan, sahabat yang gagah. Akan tetapi karena
    sepasang senjata pinto adalah hudtim dan kipas, yang tentu saja tidak dapat
    kautiru, bagaimana kalau kita bertanding dengan tangan kosong? Hendak
    kulihat apakah kau mampu mengalahkan pinto dengan ilmu silat tangan
    kosong pinto sendiri?" Orang itu masih tersenyum, akan tetapi diam‐diam ia
    terkejut. Tak disangkanya tosu ini amat cerdik. Dia belum pernah melihat
    tosu ni mainkan ilmu silat tangan kosong, bagaimana dia akan dapat
    menirunya? Akan tetapi dengan tenang dia menjawab, "Tentu saja saya akan
    melayani kehendak Totiang, akan tetapi sebelum bertanding, saya harap
    Totiang tidak keberatan untuk memperkenalkan nama." "Siancai...! Anda
    licik, sobat. Semua orang hendak dikenal namanya, akan tetapi engkau
    sendiri menyembunyikan nama. Baiklah, pinto adalah Lam‐hai Seng‐jin yang
    berkepandaian rendah..." "Aihh, kiranya Tocu (Majikan Pulau) dari pulau
    kura‐kura? Telah lama mendengar nama Totiang, girang hati saya dapat
    bertemu dan bermain‐main sebentar dengan Totiang." "Nah, siaplah!" Lamhai
    Seng‐jin sudah memasang kuda‐kuda sambil memandang tajam ke arah
    lawan karena dia ingin sekali tahu apakah benar lawan ini akan dapat
    menjatuhkan dia dengan ilmu silatnya sendiri! Diam‐diam orang itu
    memperhatikan dan tersenyum, lalu dia pun memasang kuda‐kuda yang
    sama, kuda‐kuda dari Ilmu Silat Tangan Kosong Bian‐sin‐kun (Tangan Kipas
    Sakti), semacam ilmu silat yang berdasarkan sinkang tinggi sekali tingkatnya
    sehingga telapak tangan menjadi halus seperti kapas, namun mengandung
    daya pukulan maut yang dahsyat sekali. "Hiiaaatttttt....!!" Tosu itu sudah
    menerjang dengan pukulan mautnya. Tampak olehnya lawannya mengelak
    cepat dengan gerakan aneh, sama sekali bukan gerakan ilmu silatnya, akan
    tetapi betapa kagetnya melihat bahwa begitu mengelak lawan itu dalam detik
    berikutnya sudah menerjangnya dengan jurus yang sama, jurus yang baru
    saja dia pergunakan! Maklum akan hebatnya jurus ini, dia pun cepat
    mengelak untuk memecahkan ilmunya sendiri, namun harus diakui bahwa
    elakan orang tadi dengan gerakan aneh jauh lebih cepat dan bahkan sambil
    mengelak orang itu dapat balas menyerang! Kembali Lam‐hai Seng‐jin
    menyerang dengan jurus lain yang lebih dahsyat, dan seperti juga tadi
    lawannya meloncat dan tahu‐tahu telah membalasnya dengan serangan dari
    jurus yang sama! Tentu saja dia dapat pula menghindarkan diri dan makin

  15. #44

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 43
    lama dia menjadi makin penasaran. Dikeluarkan semua ilmu simpanan,
    jurus‐jurus maut dari Bian‐sin‐kun sampai delapan jurus banyaknya. Semua
    jurus dapat dihindarkan orang itu dan tiba‐tiba orang itu berseru, "Totiang,
    jagalah serangan Ilmu Silat Bian‐sin‐kun!" Dan dengan gencar kini orang itu
    menyerangnya dengan jurus‐jurus yang tadi sudah dikeluarkannya, delapan
    jurus paling ampuh dari Bian‐sin‐kun. Karena gerakan orang itu cepat bukan
    main, Lam‐hai Sengjin sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk
    balas menyerang sehingga dia terancam dan terdesak hebat oleh ilmu
    silatnya sendiri. Biarpun dia tahu bagaimana utnuk memecahkan jurus‐jurus
    serangan dari Bian‐sin‐kun, namun karena kalah tenaga dan kalah cepat,
    akhirnya punggungnya kena ditampar dan dia terpelanting, mukanya pucat
    dan dia harus cepat‐cepat mengatur pernafasannya agar isi dadanya tidak
    terluka. "Siancai...engkau benar‐benar seorang manusia ajaib..." akhirnya dia
    berkata sambil bangkit perlahanlahan. "Lepaskan aku...!" tiba‐tiba terdengar
    seruan halus dan semua orang menengok ke arah Sin‐tong dan melihat
    betapa anak ajaib itu telah dipondong oleh lengan kiri Kiam‐mo Cai‐li. "Hei,
    lepaskan dia!" Enam orang kakek sakti maju berbareng. "Mundur!" Kiam‐mo
    Cai‐li membentak dan menempelkan ujung payung pedang di tangan kanan
    itu ke leher Sin Liong. "Mundur kalian, kalau tidak dia akan mati!" Melihat
    ancaman ini, enam orang itu terpaksa melangkah mundur semua. Laki‐laki
    aneh itu memandang dengan sinar mata berkilat, kemudian dia melangkah
    maju dan suaranya halus namun penuh wibawa ketika dia berkata, "Kiam‐mo
    Cai‐li, lepaskan bocah yang tidak berdosa itu!" "Hi‐hik, enak saja kau. Mundur
    atau dia akan mampus di ujung payungku!" Dia menempelkan ujung payung
    yang runcing itu ke leher Sin Liong yang tak mampu bergerak dalam pelukan
    lengan kiri yang kuat itu. Akan tetapi, tidak seperti enam orang kakek yang
    lain, laki‐laki itu masih tersenyum dan masih melangkah maju, membuat
    Kiam‐mo Cai‐li mundur‐mundur dan dia berkata, "Bocah itu tidak ada
    hubungan apa‐apa dengan aku. Kalau kau bunuh dia, bunuhlah. Akan tetapi
    demi Tuhan, aku akan menangkapmu dan akan memberikan tubuhmu
    kepada Beruang Es untuk menjadi makanannya!" Berkata demikian, laki‐laki
    itu menanggalkan jubah luarnya. "Kau...kau..Pangeran Han Ti Ong...."
    "Pangeran Han Ti Ong...!" Para tokoh kang‐ouw itu berteriak. "Pangeran
    Pulau Es....!" Kiam‐mo Cai‐li yang tadinya sudah merasa bahwa bocah ajaib
    itu tentu dapat dibawanya, menjadi marah sekali. Dia menjerit dengan
    lengking panjang rambutnya menyambar ke depan, ke arah leher Pangeran
    Han Ti Ong, dan pedang payungnya juga meluncur dengan serangan yang
    dahsyat. Laki‐laki itu, yang disebut Pangeran Han Ti Ong, tenang‐tenang saja,
    tidak mengelak ketika ujung rambut yang tebal itu seperti seekor ular
    membelit lehernya, akan tetapi ketika pedang payung berkelebat menusuk,
    dia menangkap payung itu dan sekali menggeakkan tangan pedang payung
    itu dan sekali menggerakkan tangan pedang payung itu membabat putus
    rambut yang melibat lehernya. Tangannya tidak berhenti sampai di situ saja.
    Selagi Kiam‐mo Cai‐li menjerit melihat rambut yang dibanggakan dan
    andalkan itu putus setengahnya, kedua tangan Pangeran Han Ti Ong

  16. #45

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 44
    bergerak, dan tahu‐tahu tubuh Sin Liong dapat dirampasnya setelah lebih
    dulu dia menampar punggung wanita iblis itu sehingga tubuh Kiam‐mo Cai‐li
    menjadi lemas dan seperti lumpuh! Dengan Sin Liong dalam pondongan
    lengan kirinya, kini Pangeran Han Ti Ong membalik dan menghadapi tujuh
    orang itu, tidak mempedulikan Kiam‐mo Cai‐li yang mangeluh dan
    merangkak bangun. "Apakah masih ada diantara kalian yang hendak
    mengganggu anak ini? Sekali ini aku tentu tidak akan bersikap halus lagi!"
    "Siancai....!" Lam‐hai Sian‐jin menjura, "Harap Ong‐ya maafkan pinto yang
    tidak mengenal Ong‐ya sehingga bersikap kurang ajar." "Maafkan aku,
    Pangeran." "Maafkan saya..." Enam orang kakek itu menggumam maaf, hanya
    Kiam‐mo Cai‐li saja yang tidak minta maaf, bahkan wanita ini berkata,
    "Pangeran Han Ti Ong, kau tunggu saja, Kiam‐mo Cai‐li tidak biasa
    membiarkan orang menghina tanpa membalas dendam!" "Hemmm, terserah
    kepadamu. Aku selalu berada di Pulau Es. Nah, pergilah kalian, orang‐orang
    tua yang tak tahu diri, tega mengganggu seorang bocah." Dengan kepala
    menunduk, tujuh orang tokoh kang‐ouw yang namanya terkenal itu
    meninggalkan Hutan Seribu Bunga. Karena mereka mempergunakan
    kepandaiannya, maka hanya nampak bayangan‐bayangan mereka berkelebat
    dan sebentar saja sudah lenyap dari tempat itu. "Hemmm...berbahaya..." Han
    Ti Ong melepaskan Sin Liong dan menghela napas panjang sambil
    memandang bocah itu yang sudah berlutut di depannya. "Locianpwe selain
    sakti dan budiman juga cerdik sekali..." Sin Liong berkata memuji sambil
    memandang wajah Pangeran itu dengan kagum. Han Ti Ong mengerutkan
    alisnya. "Hemmm, mengapa kau mengatakan demikian, terutama apa artinya
    kau mengatakan aku cerdik?" "Locianpwe mengalahkan mereka, berarti
    Locianpwe sakti sekali, Locianpwe mengampuni dan membiarkan mereka
    lolos, berarti Locianpwe budiman, dan Locianpwe tadi mencatat gerakangerakan
    mereka dan kemudian mengalahkan mereka dengan ilmu mereka
    sendiri yang sudah Locianpwe catat berarti Locianpwe cerdik sekali." Wajah
    yang gagah itu berubah, mata yang tajam itu memandang heran dan kagum,
    kemudian dia berkata, "Wah, dalam kecerdikan, belum tentu kelak aku dapat
    melawanmu! Akal dan kecerdikan memang amat perlu untuk
    mempertahankan hidup di dunia yang penuh bahaya ini. Tahukah engkau
    bahwa tanpa menggunakan akal budi, memanaskan hati mereka dengan
    mengalahkan mereka dengan ilmu mereka sendiri, kalau mereka maju
    bersama mengeroyokku, belum tentu aku dapat menang! Sekarang kau
    sudah bebas dari bahaya, nah, aku pergi...!" Melihat orang itu membalikkan
    tubuh dan melangkah pergi dari situ, Sin Liong memandang ke arah mayat
    sebelas orang dusun yang masih menggeletak di situ maka dia berseru,
    "Locianpwe....". Pangeran Han Ti Ong berhenti melangkah dan menoleh. Dia
    merasa heran sendiri. Tidak biasa baginya untuk mentaati perintah orang
    kecuali suara ayahnya, raja ketiga dari Pulau Es. Akan tetapi, ada sesuatu
    dalam suara bocah itu yang membuat dia mau tidak mau menghentikan
    langkahnya, lalu menoleh dan bertanya, "Ada apa lagi?" Dengan masih
    berlutut Sin lIong berkata, "Locianpwe, sudilah kiranya Locianpwe menerima

Page 3 of 28 FirstFirst 123456713 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •