Page 5 of 28 FirstFirst 12345678915 ... LastLast
Results 61 to 75 of 417
http://idgs.in/730445
  1. #61

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 60
    ketua Bu‐tong‐pai, Kui Bhok Sianjin. Akan tetapi, gurunya sudah tua sekali,
    dan belum tentu gurunya mau mencampuri urusan dunia, biarpun muridmuridnya
    terbunuh. Mengandalkan para saudara seperguruan, agaknya akan
    sukar mengalahkan Pat‐jiu Kai‐ong, dan terrutama sekali yang memperberat
    hatinya, kalau dia pergi ke Bu‐tong‐pai, tentu semua orang akan tahu tentang
    malapetaka yang menimpa dirinya, bahwa dia telah diperkosa oleh Pat‐jiu
    Kai‐ong. ke mana dia akan menaruh mukanya kalau semua orang
    mengetahuinya akan hal itu? Sebaliknya, kalau dia berada di Pulau Es, selain
    tak seorang pun akan tahu tentang hal yang memalukan itu, juga dia akan
    mempunyai kesempatan besar untuk melakukan balas dendam itu! Akan
    tetapi, benarkah pria di depannya ini akan mampu mengajarnya sehingga
    dalam waktu setahun dia akan lebih pandai dari Pat‐jiu Kai‐ong? Dia tidak
    akan puas kalau tidak dapat membunuh jembel iblis itu dengan tangannya
    sediri. Biarpun dia sudah banyak mendengar nama besar Pangeran dari
    Pulau Es yang kini menjadi raja itu, namun bagaimana dia dapat
    membuktikan kesaktianya? Apakah orang ini lebih lihai dari gurunya dan
    terutama sekali, lebih lihai dari Pat‐jiu Kai‐ong? Perlahan‐lahan Kwat Lin
    bangkit berdiri dan sejenak memandang kepada Han Ti Ong yang juga sedang
    memandangnya. Keduanya berpandangan dan akhirnya Kwat Lin berkata,
    "Saya ingin sekali dapat membalas dendam dengan tangan saya sendiri. Akan
    tetapi, bagaimanakah saya dapat yakin bahwa dalam setahun saya dapat
    belajar di sini dan menangkan iblis itu?" Han Ti Ong tersenyum dan
    mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya. "Inilah pedang yang
    kutemukan ketika aku dan muridku menolongmu." Kwat Lin menerima
    pedang itu dan air matanya turun bertitik akan tetapi segera dihapusnya.
    Itulah Angbwe‐ kiam pedang dari twa‐suhengnya! "Engkau meragu, baiklah.
    Kaupergunakan pedangmu dan kauserang aku untuk menguji apakah aku
    dapat melatihmu selama setahun sehingga kau lebih lihai daripada Pat‐jiu
    Kai‐ong." Kwat Lin menimang‐nimang pedang Ang‐bwe‐kiam di tangannya.
    Pat‐jiu Kai‐ong telah dikeroyok oleh dia dan dua belas orang suhengnya.
    Mereka telah mainkan Ngo‐heng‐kiam, bahkan telah membentuk barisan Sinkiam‐
    tin ketika mengeroyok kakek iblis itu namun akhirnya mereka semua
    kalah, sungguhpun sejenak kakek itu terdesak. kini, kalau hanya dia seorang
    diri menyerang raja ini, mana bisa dipakai ukuran apakah dia lebih lihai dari
    Pat‐jiu Kai‐ong? "Nona, jangan ragu‐ragu. Percayalah, kalau engkau benar
    rajin belajar, dalam waktu setahun engkau pasti akan dapat mengalahkan dia.
    Hiat‐ciang Hoat‐sut dan Pat‐mo‐tung‐hoat dari kakek itu sebetulnya kosong
    saja," kata raja itu, seolah‐olah dapat membaca isi hati Kwat‐lin. Dara itu
    terkejut, kemudian mengambil keputusan untuk menguji orang ini sebelum
    dia menyerahkan dirinya yang sudah ternoda itu menjadi istrinya sebagai
    penebus latihan ilmu untuk membalas dendam. "Baiklah, saya akan menguji
    kepandaian Paduka, harap Paduka bersiap dan mengeluarkan senjata." "Haha‐
    ha, Pat‐jiu Kai‐ong membutuhkan tongkatnya dan pukulan beracunya
    untuk mengalahkan Cap‐sha Sin‐hiap, akan tetapi aku cukup menggunakan
    ini." Dia meraih kebawah dan tanganya sudah membentuk batu karang

  2. Hot Ad
  3. #62

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 61
    sedemikian rupa sehingga batu karang itu berbentuk panjang seperti pedang!
    "Harap Paduka siap!" Kwan Lin berseru dan tiba‐tiba pedangnya menyambar
    dengan cepat, melakukan tusukan ke arah leher sedang tangan kirinya sudah
    memukul ke arah dada. Serangan berganda dengan pedang dan pukulan
    tangan kiri ini merupakan jurus hampuh dari Ngo‐heng‐kiam‐sut. Tiba‐tiba
    tubuh raja itu bergerak, serangan Kwat Lin telah dapat dielakkan dan pada
    detik berikutnya, leher dara itu tersentuh ujung batu karang dan dadanya
    juga tersentuh kepalan tangan kiri Han Ti Ong. Kwat Lin menjerit lirih karena
    maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan tadi dilanjutkan oleh Han Ti
    Ong tentu dia telah roboh dan tewas seketika. Akan tetapi yang lebih
    mengejutkan hatinya adalah gerakan raja itu. "Paduka... Paduka mengunakan
    jurus Hui‐po‐liu‐hong (Air Tumpah Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngoheng‐
    kiam‐sut Bu‐tong‐pai!" Han Ti Ong tersenyum, "Persis sekali dengan
    seranganmu tadi, akan tetapi jauh lebih lihai karena sekali serang berhasil,
    bukan? Nah, kalau engkau memiliki kesempurnaan dalam jurus ini tadi,
    bukankah mudah kau mengalahkan musuhmu? Kwat Lin tertegun, akan
    tetapi dia masih belum puas. "Saya ingin mencoba lagi!" "Boleh, boleh.
    kauseranglah aku sepuluh jurus yang paling lihai dan aku tanggung bahwa
    engkau akan kukalahkan dengan jurusmu yang sama." Dengan pengerahan
    tenaga dan memilih jurus‐jurus terampuh, Kwat Lin menyerang lagi, akan
    tetapi setiap kali menyerang satu jurus, dia menjerit lirih karena benar saja,
    dia selalu dikalahkan oleh jurusnya sendiri. Jurus itu digerakan oleh Han Ti
    Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian cepat dan mengandung
    tenaga mujijat sehingga biarpun dia mengenal jurusnya sendiri, dia tidak
    sempat lagi mengelak atau menangis! Setelah sepuluh kali dia terkena
    sentuhan ujung batu atau usapan tangan kiri lawan yang lihai ini dia menjadi
    yakin, lalu menjatuhkan diri berlutut. "Saya menerima penawaran Paduka!"
    Ha Ti Ong memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya bangun berdiri.
    Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan wajah raja itu berseri
    melihat betapa wajah Kwat Lin menjadi merah sekali dan ada kedukaan
    hebat tersembunyi dibalik kemerahan wajah karena malu itu. dengan mesra
    Han Ti Ong mengusap pipi halus kemerahan itu dan berkata lirih, "Aku tahu,
    Kwat Lin. Peristiwa terkutuk menimpa dirimu membuat kau jijik terhadap
    pria dan muak terhadap hubungan antara pria dan wanita. Akan tetapi, aku
    bukanlah pria yang mengutamakan hubungan badani saja, Kwat Lin. Aku
    akan menghapus kejijikan dan kemuakan itu. Percayalah, aku cinta dan iba
    kepadamu. Keputusan yang kauambil ini tepat sekali dan tidak akan
    mendatangkan sesal di kemudian hari. Mari,mari kita mengumumkan
    pernikahan kita. Semoga engkau berbahagia." Han Ti Ong mencium dan
    mengecup mesra dan halus pinggir mata Kwat Lin, kemudian menggandeng
    tangannya dan mengajaknya berjalan memasuki istana dari pintu belakang
    yang menembus ke "Taman" itu. Tentu saja tidak ada kehebohan terjadi
    ketika Han Ti Ong mengumumkan keputusanya mengambil The Kwat Lin,
    sebagai istri ke dua, sunguhpun hal ini mendatangkan bermacam‐macam
    tanggapan dalam hati para penghuni Pulau Es. Pesta diadakan, pesta yang

  4. #63

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 62
    sederhana saja tetapi cukup meriah. Sebagian besar penghuni Pulau Es
    bersuka cita dan mengharapkan bahwa dari pernikahan ini, raja akan
    dikurniai seorang putera. Juga terjadi bermacam tanggapan di kalangan
    keluarga raja. Ada kekecewaan akan tetapi ada pula harapan. Kecewa karena
    sekali lagi Raja Han Ti Ong mengambil "orang luar" sebagai selir, akan tetapi
    timbul harapan karena mungkin melalui istri ke dua ini mereka dapat
    "memukul" Liu Bwee yang mereka benci. Ternyata kemudian oleh Kwat Lin
    Bahwa semua ucapan yang dikeluarkan oleh Raja Pulau Es itu ketika
    meminangnya bukan hanya bujukan kosong belaka. Raja itu benar‐benar
    jatuh cinta kepadanya dan hal ini terasa olehnya setelah dia menyerahkan
    dirinya menjadi selir Raja Han Ti Ong. Dengan sepenuh jiwa raganya, Han Ti
    Ong mencurahkan kasih sayang kepadanya sedemikian besarnya sehingga
    lambat laun dia pun jatuh cinta kepada suaminya ini. Dan dia yang tadinya
    hendak belajar ilmu silat sebagai dorongan terutama dengan mengorbankan
    dan menyerahkan diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta
    kasih yang amat mesra dan mendalam, mulailah berbalik pikir. Apalagi
    setelah sembilan bulan kemudian semenjak dia menjadi selir, dia melahirkan
    seorang anak laki‐laki. Kwat Lin merasa betapa hidupnya berubah sama
    sekali, kalau dulu dia hanya seorang pendekar wanita yang seringkali
    menghadapi banyak kesengsaraan hidup, kini menjadi seorang yang mulia
    dan terhormat, bahkan dia mendapat kenyataan bahwa suaminya benarbenar
    memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya! Timbullah
    keinginan hatinya untuk mengangkat diri menjadi permaisuri, dan dia
    merasa berhak karena bukankah dia yang mempunyai keturunan laki‐laki,
    dan selain menjadi permaisuri, juga menjadi pewaris semua ilmu kesaktian
    dari Pulau Es. Kalau sudah demikian, baru dia akan mencari dan membunuh
    Pat‐jiu Kai‐ong. Kebenciannya terhadap kakek iblis jembel itu kini menjadi
    tipis sekali. Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga malam kakek
    itu mempermainkanya, merengut kehormatan dengan memperkosa secara
    amat menghina akan tetapi ada segi lain yang membuat dia diam‐diam
    berterima kasih kepada kakek itu. Kalau tidak ada peristiwa hebat itu,
    agaknya selama hidupnya dia tidak akan dapat bertemu dengan Han Ti Ong,
    apalagi menjadi istrinya dan sekaligus pewaris ilmu‐ilmunya! Sin Liong
    belajar ilmu silat dengan tekun bersama suhengnya, Swat Hong yang lincah
    jenaka.Dan mulai tampaklah bakatnya yang luar biasa. Tidak mengherankan
    kalau para tokoh kang‐ouw ingin memiliki bocah ini dan menjadikan Sin
    Liong sebagai bahan perebutan, karena dia pantas disebut Sin‐tong. Han Ti
    Ong sendiri yang merupakan manusia luar biasa dan memiliki kecerdasan
    yang disebut Kwee‐bak‐put‐bong (sekali melihat tidak bisa lupa lagi), diamdaim
    menjadi kagum sekali karena dia harus akui bahwa dalam hal
    kecerdasan dan kekuatan pikiran, dia masih kalah oleh muridnya ini! Yang
    amat mengagumkan hatinya adalah betapa di balik semua bakat yang luar
    biasa ini terpendam watak yang amat luar biasa, watak yang penuh
    kehalusan, kelembutan dan kasih sayang dan iba terhadap orang lain yang
    amat mendalam, di samping watak yang wajar seadanya. Benar‐benar

  5. #64

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 63
    seorang bocah yang ajaib! Diam‐diam Sin Liong mengerti bahwa diangkatnya
    Kwat Lin menjadi istri Han Ti Ong, biarpun hal ini merupakan hal yang
    lumrah bagi seorang raja, namun akan mendatangkan banyak ketidak baikan,
    terutama di pihak ibu sumoinya. Apalagi ketika dia melihat sikap dan
    perubahan pada diri bekas pendekar wanita Bu‐tong‐pai itu Akan tetapi
    karena dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa‐apa dan yang
    sama sekali tidak berhak mencampuri "Urusan dalam" suhunya, maka tentu
    saja dia hanya berdiam diri, hanya mengikuti perkembangan keadaan dengan
    hati tidak enak. Yang dikhawatirkan oleh anak yang belum tahu apa‐apa
    memang sungguh terjadi. Semenjak mengambil Kwat Lin sebagai isteri
    kedua, Liu Bwee menderita tekanan batin yang amat hebat. Mula‐mula tidak
    terasa olehnya ketika suaminya makin jarang bermalam di dalam kamarnya
    karena hal ini dianggapnya limrah setelah suaminya memiliki isteri lain yang
    baru. Akan tetapi perasaan kewanitaannya yang halus segera dapat
    menangkap kehambaran cinta kasih yang dicurahkan suaminya kepadanya.
    Dan terutama sekali setelah The Kwat Lin mengandung, suaminya tidak
    pernah datang lagi menginap dikamarnya, dan kalau sekali‐sekali datang,
    tidak ada cumbu rayu dan kemesraan sama sekali, hanya untuk menanyakan
    kesehatan dan agaknya suaminya datang hanya demi kesopanan belaka! Hati
    seorang wanita amatlah halusnya, mudah tersinggung, mudah gembira,
    mudah marah, mudah berduka, mudah jatuh cinta dan mudah pula
    membenci! Setelah Kwat Lin melahirkan seorang anak lakilaki, mulailah hati
    Liu Bwee digerogoti iri dan hal ini mendatangkan kebencian hebat. Dia mulai
    merasa tersiksa batinya, merasa kesepian, rasa rindu yang makin
    menghimpit terhadap belaian kasih sayang suaminya membuat Liu Bwee
    makin tersiksa, menambah kebenciannya terhadap Kwan Lin yang makin
    dipuja suaminya itu. Liu Bwee bukan seorang wanita yang gila akan
    kedudukan. Dia tidak mengejar kedudukan dan dia sama sekali tidak
    khawatir akan menurunya derajatnya apabila madunya itu diangkat menjadi
    permaisuri karena mempunyai seorang putera. Akan tetapi Liu Bwee adalah
    seorang wanita yang haus akan kasih sayang, maka dapat dibayangkan
    betapa hebat penderitaan batinnya setelah cintanya disiasiakan oleh
    suaminya yang telah jatuh di bawah telapak kaki Kwat Lin. Melihat
    penderitaan batin yang dialami oleh Liu Bwee ini, diam‐diam bersoraklah
    para keluarga raja. Bagi mereka, biarpun putera raja bukan keturunan dari
    seorang ibu yang masih berdarah "agung" seperti mereka, namun masih lebih
    baik dari pada kalau dilahirkan oleh seorang iu seperti Liu Bwee, hanya anak
    seorang nelayan Pulau Es rendah! Pula kebencian mereka yang terdorong
    oleh iri hati terhadap Liu Bwee membuat mereka condong kepada Kwan Lin
    sehingga kelahiran Han Bu Ong, nama putera itu, disambut dengan penuh
    kegembiraan oleh keluarga raja dan juga oleh semua penghuni Pulau Es
    sebagai penyambutan terhadap lahirnya seorang putera raja yang akan
    menjadi pangeran mahkota! Tujuh tahun telah lewat semenjak Sin Liong
    berada di Pulau Es. Dipandang begitu saja, agaknya keadaan Pulau Es dan
    kerajaan kecilnya selam tujuh tahun itu tidak terjadi perubahan sesuatu, para

  6. #65

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 64
    penghuninya masih hidup dengan tenang dan tentram penuh kedamaian
    seperti puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Raja Han Ti Ong tidak kalah
    bijaksana dalam mengendalikan pemerintahan kecilnya sehingga para
    penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan pelanggaran‐pelanggaran yang
    terjadi hanya sedikit sekali. Namun sesungguhnya terjadi perubahan yang
    amat besar dan banyak! The Kwat Lin yang kini menjadi permaisuri, diangkat
    secara resmi oleh Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee tergeser
    menjadi istri selir, bukan hanya menjadi wanita pertama yang paling tinggi
    tingkat kedudukanya, namun juga telah menjadi seorang wanita yang
    memiliki kesaktian hebat, hanya kalah oleh suaminya dan beberapa tokoh
    lain di Pulau Es. Namun, hasratnya untuk membalas dendam terhadap Pat‐jiu
    Kai‐ong agaknya telah lenyap sama sekali! Dia kelihatan hidup bahagia
    tenggelam dalam belaian penuh kasih sayang dari suaminya dan melihat
    puteranya yang kini telah berusia enam tahun dan menjadi seorang anak
    laki‐laki yang tampan dan sehat biarpun tubuhnya agak kecil, sebagai
    pangeran, tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sejak kanakkanak.
    Sin Liong telah memperoleh kemajuan yang mentakjubkan dan
    mengagumkan Han Ti Ong sendiri. Semua ilmuyang diajarkan oleh raja itu,
    sekali dilatih dapat dilakukan dengan hampir sempurna! Tentu saja dalam
    waktu beberapa tahun dia telah jauh melampaui tingkat kepandaian
    sumoinya, dan setelah dia berusia empat belas tahun, Sin Liong telah jauh
    meninggalkan tingkat sumoinya. Bukan hanya dalam hal ilmu silat, akan
    tetapi juga dalam ilmu sinkang dia maju pesat karena tanpa diperintah oleh
    suhunya, dengan tekun Sin Liong berlatih seorang diri di bawah hujan salju
    yang amat dingin sehingga dia dapat menampung inti sari tenaga im‐kang
    yang amat hebat. Selain tekun mempelajari ilmu silat yang diturunkan oleh
    suhunya tanpa ada yang disembunyikan itu, Sin Liong juga rajin sekali
    membaca kitab‐kitab yang banyak terdapat didalam kamar perpustakaan
    istana. Dia dikenal oleh semua ahli sastra di Pulau Es dan mereka ini amat
    kagum dan suka kepada Sin Liong melihat ketekunan bocah ajaib ini. Tidak
    ada bosannya Sin Liong membaca kitab‐kitab kuno dan setiap bertemu hurup
    baru yang tidak dikenalnya, dia mencatatnya untuk kemudian ditanyakan
    kepada para ahli itu. Dengan cara demikian, biarpun tidak dibimbing
    langsung, namun Sin Liong telah dapat memperkaya perbendaharaan katakata
    sehingga dia mampu membaca kitab‐kitab yang paling kuno di dalam
    perpustakaan itu. Kitab kuno tidaklah seperti kitab biasa, karena selain
    huruf‐hurufnya kuno, juga huruf‐huruf itu mengandung arti yang amat
    mendalam. Karena inilah, maka kitab‐kitab yang amat kuno di pulau itu
    jarang atau hampir tidak pernah dibaca orang. Han Ti Ong sendiri segan
    membaca kitab‐kitab itu, karena selain sukar, juga isinya hanyalah sajaksajak
    kuno yang dianggapnya tidak ada gunanya dan melelahkan otaknya.
    Namun semua kitab itu "dilalap" semua oleh Sin Liong! Bukan ini saja, namun
    anak ajaib ini dapat menemukan sesuatu yang tersembunyi didalam sajaksajak
    itu! Dia menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan
    "rangka" terselubung di dalam huruf‐huruf kuno yang sukar dimengerti itu,

  7. #66

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 65
    bahkan menemukan pula ilmu yang masih dirahasiakan oleh Han Ti Ong,
    ilmu yang selama ratusan tahun mengangkat nama Pulau Es, yaitu ilmu inti
    sari dasar gerakan semua ilmu silat. Dengan ilmu ini yang sudah dikuasainya,
    maka Han Ti Ong dapat mengalahkan tujuh orang tokoh sakti dengan jurusjurus,
    jurus ilmu silat mereka sendiri ketika Han Ti Ong menolong Sin Long di
    jeng‐hoa‐sian. Kini, secara tidak disengaja, bahkan di luar kesadaran Sin
    Liong sendiri, bocah ajaib ini telah menemukan ilmu itu "terselip" dan
    terselubung di antara sajak‐sajak kuno yang kelihatanya tidak ada gunanya
    itu. Selain memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silat, juga selama berada
    di Pulau Es, Sin Liong memperoleh kesempatan memperdalam ilmunya
    mengenal daun dan tumbuhan obat dengan jalan menyelidikinya di pulaupulau
    kosong di sekitar Pulau Es. Dia memang mendapat tugas untuk
    mencari bahan‐bahan obat di pulau‐pulau itu untuk kepentingan para
    penghuni Pulau Es, Dan dalam kesempatan melaksanakan tugasnya ini, Sin
    Liong tidak menyia‐nyiakan waktu untuk menyelidiki lebih banyak lagi
    tetumbuhan dan khasiatnya untuk kesehatan tubuh manusia. Dengan adanya
    Sin Liong di Pulau Es, banyaklah sudah penghuni yang terhidar dari bahaya
    penyakit, dan untuk ini, Han Ti Ong merasa berterima kasih sekali sehingga
    dia tidak segan‐segan menurunkan ilmu pengobatan tusuk jarum kepada
    muridnya itu. Selain Sin Liong, tentu saja Swat Hong sebagai puteri raja, juga
    memperoleh kemajuan pesat dan dalam usia tiga belas tahun itu dia telah
    memilik ilmu kepandaian yang sukar dicari tandinganya. Dengan demikian,
    hampir semua orang di Pulau Es memperoleh kemajuan masing‐masing. Raja
    Han Ti Ong memperoleh kebahagiaan cinta kasih dalam diri Kwat Lin yang
    telah menjadi permaisurinya. The Kwat Lin sendiri yang tadinya mengalami
    malapetaka yang dianggapnya lebih hebat daripada kematian sendiri, telah
    memperoleh banyak keuntungan, memperoleh cinta kasih yang mesra,
    kedudukan tinggi sekali, dan ilmu kepandaian yang amat hebat pula. Hanya
    seorang saja yang sama sekali tidak memperoleh kemajuan lahir maupun
    batin yaitu Liu Bwee! Dia menderita makin hebat, terutama batinnya karena
    semenjak beberapa tahun ini, suaminya sama sekali tidak pernah lagi
    mendekatinya! Lenyaplah wataknya yang periang dan kini Liu Bwee lebih
    banyak mengurung dirinya di dalam kamar, menyulam atau membaca kitab.
    Dia seolah‐olah menjadi seorang pertapa dan biarpun wajahnya tidak
    membayangkan sesuatu, masih tetap cantik manis dan pakaiannya selalu
    bersih, namun sesungguhnya hatinya terluka dan selalu meneteskan darah,
    batinnya terhimpit dan terbakar oleh rindu yang tak kunjung henti, kehausan
    akan belaian kasih sayang seorang pria yang tak pernah terpuaskan. Keadaan
    di dalam istana dengan adanya penderitaan Liu Bwee, dengan adanya para
    anggauta keluarga istana yang masih menaruh benci kepadanya dan tidak
    melihat kesempatan untuk menjatuhkan wanita ini karena Liu Bwee selalu
    bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu, merupakan api dalam
    sekam yang setiap saat tentu akan berkobar atau meledak. Hal ini tidak saja
    dirasakan oleh semua angauta keluarga raja, bahkan dirasakan pula oleh Sin
    Liong dan Swat Hong. Sering kali Sin Liong kehilangan kejenakaan Swan

  8. #67

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 66
    Hong yang merupakan ciri khas dara ini. Kalau dia melihat dara itu
    termenung seorang diri, dia menarik nafas panjang dan sekali waktu dia
    menegus, "Eh, Sumoi. Kenapa kau termenung dan wajahmu suram? lihat, hari
    tidak sesuram wajahmu, sinar matahari mencairkan salju dengan cahaya
    yang keemasan!" Swat Hong memandang pemuda itu dan menarik nafas
    panjang. "Betapa aku tidak tidak akan muram menyaksikan keadaan yang
    begini dingin di dalam istana, Su‐heng? Ayah memang masih biasa dan baik
    kepadaku, juga ibu baik kepadaku. Akan tetapi antara Ayah dan Ibu seolaholah
    terdapat jurang pemisah yang amat dalam. Tidak pernah lagi aku
    menyaksikan keduanya beramah tamah dan bersendau gurau seperti dahulu
    lagi. Apakah karena Ibu Permaisuri...?" "Ssst, Sumoi. Kita tidak mempunayi
    hak untuk bicara mengenai orang‐orang tua itu. Hal itu adalah urusan
    mereka sendiri." "Aku mengerti, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan
    hebat bersembunyi di balik senyum Ibu kepadaku. Aku tahu betapa dia rindu
    kepada Ayah, rindu yang membuatnya seperti gila...." "Hushh...." "Aku tidak
    membohong, Suheng. Seringkali aku mendengar Ibuku mengigau memanggil
    nama Ayah dan menangis dalam tidur. Ibu selalu gelisah kalau tidur dan
    biarpun dia hendak menyembunyikannya dariku, namun aku tahu betapa Ibu
    menderita sengsara batin yang hebat, menderita rindu yang menghancurkan
    batinnya...." Dara itu kelihatan berduka sekali, kemudian berkata lagi,
    "Suheng, apa sih perlunya orang saling mencinta kalau akibatnya hanya
    mendatangkan rindu dan kecewa?" "Itu bukan cinta, Sumoi, Ahh, kau takan
    mengerti dan semua orang takan mengerti karena sudah lajim menganggap
    hawa nafsu sama dengan cinta. Hawa nafsu menuntut pemuasan, menuntuk
    kesenangan dan ingin memilikinya untuk diri sendiri. Dan semua inilah yang
    menimbulkan kecewa dan duka, Sumoi." Sumoinya terbelalak. "Aihh, kau
    bicara seperti kakek‐kakek saja! Dari mana memperoleh filsafat macam itu,
    Suheng?" Karena tertarik, dara yang mudah ini sudah melupakan
    kedukaanya dan menjadi riang gembira lagi, matanya memandang
    suhengnya dengan berseri penuh godaan. "Dari... hemm, kukira dari
    kesadaran, Sumoi. Bukan filsafat. Aku sudah kenyang membaca filsafat, dan
    apa artinya filsafat kalau hanya untuk diafal? Tidak ada bedanya dengan
    benda mati yang hanya diulang‐ulang, dipakai perhiasan, dijadikan alat untuk
    terbang melayang diawang‐awang yang kosong. Terlalu banyak kitab kubaca
    sudah, dan mungkin juga karena memperhatikan keadaan mendatangkan
    kesadaran." Dia menarik napas panjang. "Suheng, kau tadi mencela aku yang
    kaukatakan murung. Akan tetapi aku juga seringkali melihat engkau seperti
    orang berduka. Apakah kau tidak senang tinggal di Pulau Es?" "Aku suka
    sekali tinggal di sini, Sumoi. Kurasa jarang terdapat tempat seindah ini,
    masyarakat setenteram ini. Akan tetapi, kalau aku melihat hukumanhukuman
    yang dibuang ke Pulau Neraka..." "Aih, hal itu bukan urusan kita,
    Suheng. Bukankah kau tadi juga mengatakan bahwa urusan antara Ayah dan
    Ibu bukan urusanku? Maka urusan hukuman itu pun sama sekali bukan
    urusan kita." Kau keliru, Sumoi. Urusan Ayah Bundamu memang merupakan
    urusan pribadi mereka. Akan tetapi urusan orangorang terhukum adalah

  9. #68

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 67
    urusan umum, urusan kita juga. Aku merasa tidak senang sekali dengan
    adanya peraturan itu. Aku akan berusaha untuk mengingatkan Suhu...." "Tapi
    Ayah seorang Raja, Suheng!" "Raja pun manusia juga." "Tapi Raja hanyalah
    menjalankan hukum yang berlaku, Suheng." "Hukum pun buatan manusia.
    Benda Mati!" Tiba‐tiba terdengar suara tambur dipukul. Sejenak dua orang
    muda‐mudi itu memperhatikan dan wajah Sin Liong menjadi muram. "Nah,
    ada lagi sidang pengadilan yang akan menjatuhkan hukuman. Entah siapa
    lagi sekarang yang melakukan pelanggaran. Mari kita lihat, Suheng!" Sin
    Liong digandeng tangannya oleh Swat Hong yang menariknya ke arah
    bangunan di samping istana, bangunan yang dijadikan ruang sidang
    pengadilan di mana dijatuhkan hukuman terhadap mereka yang melakukan
    pelanggaran‐pelanggaran. Ketika mereka tiba di situ, banyak sudah penghuni
    Pulau Es yang menonton diluar ruangan, dan tentu saja dua orang mudamudi
    itu mudah untuk memasuki ruang sidang dan duduk di atas kursi yang
    berderet di pinggiran. Ruangan itu luas sekali, lantainya halus dan bersih. Isi
    ruang hanyalah sebuah meja panjang dan di belakang meja panjang ini
    terdapat lima buah kursi dan di kanan kiri, di pinggir juga terdapat kursikursi,
    sedangkan di depan meja, di bagian tengah tetap kosong. Pada saat Sin
    Liong dan Swat Hong tiba di ruangan itu, di belakang meja telah duduk
    hakim, yaitu seorang kakek tua keluarga kerajaan yang biasa bertugas
    sebagai hakim, sedangkan di sebelah kanannya, di kursi kebesaran, tampak
    duduk Han Ti Ong sendiri bersama permaisurinya. Hal ini merupakan
    keanehan karena biasanya raja hanya datang tanpa permaisurinya dan
    duduk bersama dengan para pangeran lain. Agaknya permaisuri Raja Han Ti
    Ong sekarang ini ingin pula melihat pengadilan dilakukan di Pulau Es. Para
    pesakitan yang sudah berlutut di depan meja, di atas lantai, hanya tiga orang.
    Seorang lakilaki tinggi besar penuh brewok yang matanya lebar dan gerakgeriknya
    kasar, seorang laki‐laki muda yang tampan dan seorang wanita
    yang usianya empat puluhan, namun masih cantik dan wanita ini berlutut di
    samping laki‐laki muda yang kelihatan ketakutan, tidak seperti laki‐laki
    tinggi besar dan Si Wanita yang kelihatan tenang‐tenang saja. Dengan suara
    lantang jaksa penuntut membacakan tuntutan kepada laki‐laki tinggi besar
    yang sudah berlutut ke depan setelah namanya dipanggil, yaitu Bouw Tang
    Kui. Bouw Tang Kui telah berkali‐kali diperingatkan karena sikapnya yang
    kasar, suka menggunakan kepandaian menghina yang lemah dan suka
    mencuri. Terakhir ditangkap karena melakukan pencurian,mengambil batu
    hijau mustika penyedot racun ular milik orang lain. Karena kejahatanya
    membahayakan Pulau Es, dapat menimbulkan kekacauan dan permusuhan,
    maka hukuman yang paling berat patut dijatuhkan atas dirinya, selain untuk
    memberantas kejahatan dari permukaan pulau juga sebagai contoh kepada
    semua penghuni pulau." Hening sejenak, kemudian terdengar suara hakim
    tua yang lemah dan agak gemetar, "Bouw Tang Kui, kau sudah mendengar
    tuduhan atas dirimu. Kau diperkenankan membela diri." Bouw Tang Kui yang
    berlutut itu memberi hormat kepada raja, kemudian dengan suaranya yang
    kasar dan nyaring berkata,"Hamba mengaku telah melakukan perbuatan itu

  10. #69

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 68
    karena hamba ingin memiliki mustika batu hijau. Hamba telah menerima
    banyak budi dari Sri baginda, kalau sekarang dianggap berdosa, hamba siap
    menerima segala macam hukuman yang dijatuhkan kepada hamba." Hakim
    berfikir sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata, "Pengadilan
    memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Bouw Tang Kui."
    Suasana menjadi hening. Keputusan hukuman ini merupakan yang lebih
    hebat dari pada penggal kepala. Banyak di antara mereka yang
    mendengarkan, menahan nafas dengan muka pucat, ada yang menaruh hati
    kasihan kepada Bouw Tang Kui. Akan tetapi pesakitan itu sendiri setelah
    memandang kepada raja, lalu berkata, suaranya penuh pahit getir, "Hukuman
    apa pun bagi hamba tidak terasa berat, yang terasa berat adalah bahwa
    hamba dipaksa untuk memusuhi Pulau Es yang hamba cintai!" "Jadi engkau
    menerima keputusan hukuman?" hakim bertanya. "Hamba mene...." "Nanti
    dulu!!" tiba‐tiba terdengar suara nyaring dan Han Ti Ong sendiri mengangkat
    muka memandang tajam ketika melihat Sin Liong telah berdiri dari kursinya
    dan mengeluarkan seruan itu. "Harap Suhu dan para Cu‐wi sekalian maafkan
    saya. Akan tetapi pesakitan berhak untuk dibela dan saya hendak
    membelanya. Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap berdosa dan memang dia
    telah melakukan pelanggaran. Akan tetapi patutkah kalau kesalahannya itu
    lalu dijadikan tanda bahwa dia seorang jahat yang tidak bisa diampuni lagi?
    Saya hendak bertanya, siapakah di antara Cu‐wi sekalian yang tidak pernah
    melakukan kesalahan?" "Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan
    dan karena kita semua manusia, maka kita pun tentu pernah melakukan
    kesalahan. Siapakah yang mau kalau kesalahan yang dilakukannya itu lalu
    dijadikan tanda bahwa selamanya dia akan bersalah atau berdosa, dan patut
    dihukum tanpa ampun lagi? Kesalahan yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui
    adalah sebuah penyelewengan biasa yang dilakukan oleh manusia yang
    berbatin lemah. Manusia yang berbatin lemah dan melakukan
    penyelewengan sama saja dengan seorang yang sedang menderita semacam
    penyakit, hanya bedanya, yang sakit bukan tubuhnya melainkan hatinya.
    Akan tetapi, setiap orang sakit bisa sembuh! Maka, menghukumnya dengan
    hukuman keji itu sama dengan membunuhnya!" Hening sekali keadaan di
    situ setelah pemuda tanggung ini mengeluarkan pembelaanya. "Akan tetapi
    di sini sudah diadakan hukum sejak ratusan tahun dan kita semua harus
    tunduk kepada hukum!" kata Han Ti Ong ketika melihat betapa hakim raguragu
    untuk menjawab. Dia maklum bahwa Sin Liong disuka banyak orang di
    situ, dan selain ini, agaknya para pejabat itu juga sungkan mendebat karena
    pemuda itu adalah murid raja. Karena inilah maka Han Ti Ong sendiri yang
    mengeluarkan suara membantah. "Harap Suhu memaafkan teecu kalau teecu
    terpaksa mendebat. Saudara Bouw melanggar hukum yang dianggap
    berdosa, lalu menurut hukum harus dibuang ke Pulau Neraka. Dari manakah
    timbulnya pelanggaran yang disebut dosa? Kalau tidak ada hukum, mana
    mungkin ada dosa? Kalau tidak ada larangan, mana mungkin ada
    pelanggaran? Hukumlah yang menciptakan dosa dan pelanggaran, hukum
    adalah keji karena hukuman yang dijatuhkan sebetulnya lebih kotor daripada

  11. #70

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 69
    dosa itu sendiri! Kalau dia dianggap bersalah lalu dibuang ke Pulau Neraka,
    bukankah hal itu membuat dia menjadi makin jahat dan mendendam?
    Andaikata seorang penderita sakit, penyakitnya menjadi makin parah!
    Apakah hukuman pembuangan ke Pulau Neraka itu akan menginsafkannya?
    Suhu, sudah berkali‐kali teecu menyatakan bahwa hukuman seperti ini tidak
    patutu dilakuakan di Lebih baik menuntut mereka yang tersesat agar kembali
    ke jalan benar dari pada menghukum mereka dengan kekerasan yang akan
    membuat meraka menjadi lebih jahat lagi." Kwat Sin Liong, kau tak berhak
    untuk mencela hukum yang sudah menjadi tradisi kami! Hakim, lanjutkan
    persidangan dan pembelaan yang dilakukan atas diri Bouw Tang Kui tidak
    dapat diterima!" bentak Han Ti Ong yang merasa tersinggung juga
    mendengar betapa peraturan yang dijunjung tinggi selam ratusan tahun oleh
    nenek moyangnya itu kini disangkal dan dicela oleh seorang bocah yang
    menjadi muridnya! Sin Liong menghela nafas dan terpaksa dia duduk
    kembali. "Ssttt, kau terlampau berani...." Swat Hong berbisik. "Hemmm... tiada
    gunanya...." Sin Liong balas berbisik. Suara jaksa yang lantang sudah
    memanggil nama dua orang pesakitan yang lain, laki‐laki tampan dan wanita
    cantik itu. Mereka maju dan berlutut di depan pengadilan. "Sia Gin Hwa dan
    Lu Kiat telah ditangkap karena melakukan perjinaan. Karena Sin Gin Hwa
    telah menjadi istri syah dari Ji Hoat, maka perbuatan itu merupakan
    perbuatan hina yang hamat berdosa, melanggar larangan keras yang telah
    disyahkan hukum. Karena itu, tidak ada pengampunan baginya dan mohon
    pengadilan menjatuhkan hukuman terberat kepadanya. Adapun Lu Kiat,
    biarpun masih muda dan belum beristri, namun dia telah berjinah dengan
    istri orang, maka dia pun harus dijatuhi hukuman yang layak. Kemudian
    terserah kepada hakim." Wanita itu menundukan mukanya yang menjadi
    merah sekali ketika mendengar suara mengejek dari mereka yang menonton
    di luar ruangan sidang, akan tetapi sikapnya masih tenang‐tenang saja.
    Adapun Lu Kiat, pemuda itu menjadi pucat wajahnya, akan tetapi dia juga
    menundukan mukanya, kelihatan gelisah sekali. "Pengadilan memutuskan
    hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Sia Gin Hwa dan hukuman rangket
    seratus kali kepada Lu Kiat!" "Hamba tidak menerima!" Tiba‐tiba Sia Gin Hwa
    berteriak. "Yang melakukan perjinaan adalah hamba berdua, maka kalau
    dibuang pun harus hamba berdua!" "Tidak, hamba menerima hukuman
    rangket seratus kali!" teriak pula Lu kiat. "Laki‐laki apa kau ini? Ketika
    merayuku, kau berjanji akan bersama‐sama menderita andaikata dibuang ke
    Pulau Neraka!" Sia Gin Hwa memaki dan terjadilah ribut mulut antara
    mereka. "Diam!!" Teriakan menggetarkan dari Han Ti Ong membuat mereka
    berdiri menjatuhkan diri mohon pengampunan. "Karena kalian melakukan
    perbuatan yang memalukan sekali, menodakan nama baik Pulau Es, maka
    sepatutnya kalian berdua sama‐sama dibuang ke Pulau Neraka!" kata Raja itu
    dengan suara tenang namun penuh wibawa. Sia Gin Hwa memegang tangan
    kekasihnya dan menangis sambil menciumi tangan itu, akan tetapi wajah Lu
    Kiat menjadi makin pucat. Kembali Sin Liong bangkit berdiri. "Maaf, Suhu.
    Teecu terpaksa membantah lagi! Mereka memang telah melakukan

  12. #71

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 70
    perbuatan yang melanggar hukum yang ada, akan tetapi apakah perbuatan
    mereka itu sudah demikian jahatnya maka sampai mereka dihukum buang?
    Teecu kira di balik perbuatan mereka itu tentu ada sebab dan alasannya.
    Mereka menjadi korban nafsu, akan tetapi kalau seoarang istri sampai
    melakukan penyelewengan, tentu pihak suami juga ada kesalahannya. Tidak
    perlukah diselidiki mengapa wanita ini yang telah bersuami sampai berjina
    dengan pria lain? Mengapa dia sampai tidak dapat menahan dorongan nafsu
    berahi? Tentu ada sebab‐sebabnya." " Sin Liong, engkau seorang bocah belum
    dewasa, tahu apa tentang nafsu berahi?" bentak gurunya, agak tertegun juga
    karena dia mendapatkan kebenaran tersembunyi di balik bantahan muridnya
    itu. Terdengar suara ketawa ditahan di sana‐sini, bahkan permaisuri sendiri
    menahan senyumnya. "Teecu...teecu...mengerti dari kitab...." "Pembelaan
    seorang anak yang belum dewasa terhadap perjinaan yang dilakukan orang
    dewasa tidak dapat diterima. Laksanakan hukumannya dan buang mereka
    bertiga sekarang juga ke Pulau Neraka!" kata Han Ti Ong. Persidangan
    dibubarkan dan tiga orang pesakitan itu lalu digiring keluar untuk
    dilaksanakan hukuman atas diri mereka, yaitu dibuang ke Pulau Neraka,
    hukuman yang paling mengerikan dan paling di takuti oleh semua penghuni
    Pulau Es karena mereka semua tahu bahwa di buang ke Pulau Neraka berarti
    hidup tersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kematian! Peristiwa seperti
    inilah yang membuat hati Sin Liong memberontak. Dia amat cinta dan kagum
    kepada suhunya, akan tetapi peraturan hukum di Pulau Es ini dianggapnya
    terlalu kejam. Sebaliknya, Han Ti Ong yang maklum akan kekecewaan hati
    muridnya yang dia kagumi dan cinta, berusaha menyenangkan hati muridnya
    itu dengan menurunkan ilmu‐ilmu simpanannya sehingga dalam waktu
    setahun lagi saja ilmu kepandaian pemuda yang berusia lima belas tahun itu
    menjadi makin hebat. Boleh dibilang dialah orang satu‐satunya yang menjadi
    pewaris ilmu‐ilmu Pulau Es. Biarpun Permaisuri juga mewarisi banyak ilmu
    dahsyat namun dibandingkan dengan Sin Liong dia kalah bakat sehingga
    kalah sempurna gerakannya, apa lagi dalam hal tenaga sinkang dia kalah
    jauh. Hal ini adalah karena Sin Liong adalah seorang yang pada dasarnya
    memiliki batin kuat dan tidak pernah terseret oleh nafsu, sebaliknya The
    Kwat Lin adalah seorang wanita yang dibangkitkan nafsunya semenjak dia
    diperkosa oleh Pat‐jiu Kai‐ong. JILID 5 Dan pada suatu hari terjadilah suatu
    hal yang sudah lama diduga‐duga akan terjadi hal yang menjadi akibat
    daripada keadaan yang ditekan‐tekan di dalam istana yang dimulai dengan
    masuknya The Kwat Lin yang kini telah menjadi permaisuri itu ke Pulau Es.
    Pagi hari itu, Sin Liong tengah duduk seorang diri di tempat yang menjadi
    tempat kesukaannya bersama Swat Hong, yaitu di tepi pantai yang paling
    sunyi, pantai yang tak pernah tertutup salju karena pasir berwana putih yang
    terjadi dari pecahan batu karang dan segala macam kulit kerang dan
    kepompong itu seolah‐olah selalu mengeluarkan hawa hangat. Selagi dia
    duduk termenung itu terdengarlah olehnya suara tabur dipukul gencar,
    tanda bahwa pagi hari itu diadakan persidangan pengadilan yang amat
    penting, sidang yang diadakan kurang lebih tiga bulan semenjak tiga orang

  13. #72

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 71
    pesakitan terakhir itu di buang ke Pulau Neraka. Suara tambur itu seolaholah
    menghantami isi dada Sin Liong, karena suara itu suara yang paling
    tidak disukainya, suara yang menandakan bahwa akan ada orang lagi yang
    dihukum! Maka dia tidak bergerak, mengambil keputusan tidak akan
    menonton karena menonton berarti hanya akan menghadapi hal yang
    menyakitkan hatinya. Akan tetapi dia meloncat bangun ketika mendengar
    suara panggilan Swat Hong, suara panggilan yang lain dari biasanya karena
    suara dara itu mengandung isak tangis yang mengejutkan. "Kwa‐suheng...!!"
    Sin liong terkejut melihat dara itu berlari‐lari kepadanya sambil menangis
    dan dengan wajah yang pucat sekali. "Ada apakah, Sumoi?" tegurnya sebelum
    dara itu tiba di depannya. "Suheng..., celaka... Ibuku..."Biarpun hatinya
    berdebar penuh kaget dan kejut, Sin Liong bersikap tenang ketika di
    memegang kedua pundak Sumoinya dan bertanya, "Ada apakah dengan
    Ibumu? Tenanglah, Sumoi." "Swat Hong menahan isaknya. "Mereka... mereka
    menangkap Ibuku dan membawanya ke sidang pengadilan..." Sin Liong
    mengerutkan alisnya. Sudah keterlaluan ini, pikirnya. Rasa penasaran
    membuat dia berlaku agak kasar. Digandengnya tangan Sumoinya, ditariknya
    dara itu dan dia berkata , "Mari kita lihat!" Ketika dua orang itu tiba di
    ruangan pengadilan, mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan berlainan
    sekali dengan sidang pengadilan yang sudah‐sudah karena suasana amat
    sunyi. Tidak ada seorang pun diperbolehkan mendekati ruangan pengadilan,
    bahkan ketika Sin liong dan Swat Hong tiba disitu, mereka dihadang oleh
    beberapa orang penjaga, "Maaf, atas perintah Sribaginda, tidak ada yang
    boleh memasuki ruang sidang pengadilan hari ini." Kata mereka. Dengan
    kedua tangan di kepal, Swat Hong melompat maju, matanya melotot dan
    mukanya merah sekali, "Apa kalian bilang? Kalian berani melarang aku
    memasuki ruangan? Apakah kalian sudah bosan hidup?" Sin Liong cepat
    memegang lengan sumoinya karena dia maklum bahwa kalau sumoinya ini
    sudah marah, tentu akan hebat akibatnya. Juga para penjaga itu mundur
    ketakutan karena mereka mengerti betapa lihainya Sang Puteri ini. "Harap
    Saudara sekalian melaporkan kepada atasan Saudara bahwa kami akan
    memasuki ruang sidang," kata Sin Liong dengan tenang kepada para penjaga.
    "Akan tetapi kami hanya mentaati perintah. Bagaimana kami berani
    melanggar?" jawab kepala penjaga dengan muka bingung. "Aku tahu. Ibuku
    yang diadili, Bukan? Nah, dengar kalian! Apa pun yang akan terjadi dengan
    ibuku, aku harus hadir, kalau perlu aku akan bunuh kalian semua agar dapat
    masuk!" Kembali Swat Hong membentak. "Saudara sekalian harap mundur
    dan biarkan kami masuk. Akibatnya biarkan kami berdua yang
    menanggungnya,"kembali Sin Liong berkata dan keduanya memaksa masuk.
    Para penjaga tidak ada yang berani melarang akan tetapi mereka cepat‐cepat
    lari untuk melapor kedalam. Han Ti Ong mengerutkan alisnya ketika melihat
    Sin Liong dan Swat Hong memasuki ruang sidang, akan tetapi dia hanya
    mengangguk kepada para penjaga yang kebingungan. Hal ini melegakan hati
    para penjaga dan mereka cepat‐cepat meninggalkan ruangan itu untuk
    menjaga di luar, karena mereka pun tidak boleh mendengarkan sidang yang

  14. #73

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 72
    sedang mengadili isteri raja! Dapat dibayangkan betapa hancur hati Swat
    Hong melihat ibunya dengan tenang berlutut di depan meja pengadilan
    bersama seorang laki‐laki muda yang berpakaian sebagai pelayan dalam
    istana. Hatinya menduga dan dia merasa ngeri karena melihat ibunya dan
    pemuda itu berlutut di situ, dia seolah‐olah melihat Sia Gin Hwa dan Lu Kiat,
    dua orang pesakitan yang saling berjinah itu! Akan tetapi dia tidak percaya!
    Tak mungkin ibunya...! Akan tetapi dia menjadi lemas dan menurut saja
    ketika Sin Liong menariknya dan mengajaknya duduk dideretan kursi
    pinggiran yang sekali ini sama sekali kosong. Di belakang meja panjang hanya
    duduk jaksa, hakim, Raja Han Ti Ong , permaisurinya, dan Han Bu Ong, bocah
    berusia delapan tahun yang mengenakan pakaian indah dan duduk dengan
    agungnya di dekat ibunya, matanya memandang kearah Sin Liong dan Swat
    Hong dengan angkuh. Kemudian terdengarlah suara nyaring Sang Jaksa,
    suara yang bagi telinga Swat Hong terdengar seperti sambaran pedang yang
    menusuk‐nusuk hatinya dan bagi Sin Liong seperti guntur di tengah hari!
    "Liu Bwee, sebagai bekas istri Sribaginda, dari seorang anak nelayan biasa
    menjadi seorang mulia terhormat, ternyata membalas budi Sribaginda
    dengan aib dan noda yang hina, telah ditangkap karena melakukan
    perjinahan dengan seorang pelayan muda. Dosa ini amat besar karena selain
    menimbulkan aib dan malu kepada Sribaginda, juga kalau diketahui dunia
    luar akan mencemarkan nama Kerajaan Pulau Es. Oleh karena itu, sepatutnya
    dia dijatuhi hukuman yang seberat mungkin." "Bohong...! Ibu tidak
    mungkin...." Swat Hong menjerit dan hendak melompat maju menyerang
    jaksa yang berani mengeluarkan ucapan menuduh ibunya seperti itu akan
    tetapi Sin Liong menangkap lengannya untuk mencegah sumionya bergerak.
    "Swat Hong! Berani engkau kurang ajar di depan Ayah?" Terdengar Han Ti
    Ong membentak dengan penuh wibawa. "Ayah, tuduhan itu fitnah belaka!
    Tidak mungkin ibu melakukan hal yang kotor itu. Mana buktinya? Siapa
    saksinya?" kembali Swat Hong menjerit‐jerit. "Hong‐ji, jangan begitu. Ibumu
    tidak berdosa, akan tetapi kita harus. tunduk kepada peraturan dan hukum,
    anakku.Tenanglah." Ucapan ini keluar dari mulut Liu Bwee yang menoleh
    kearah Swat Hong, suaranya lirih dan jelas, namun mengandung kedukaan
    yang merobek hati. "Liu Bwee, engkau telah mendengar tuduhan atas dirimu.
    Apakah pembelaanmu?" terdengar suara hakim tua itu dengan halus dan lirih
    seperti biasanya, namun penuh wibawa karena dalam sidang ini, dialah orang
    yang paling kuasa. "Saya tidakakan membela diri, hanya seperti dikatakan
    anakku tadi, agar tidak mendatangkan penasaran, harap suka disebutkan
    siapa saksinya dan apa buktinya yang memperkuat tuduhan terhadap
    diriku," kata Liu Bwee dengan tenang dan suara halus. Jaksa yang termasuk
    orang di antara anggauta keluarga raja yang tidak senang kepada Liu Bwee
    karena dia dahulupun mengharapkan agar Han Ti Ong memilih anak
    perempuannya, segera berkata lantang, "Buktinya? Engkau ditangkap ketika
    berada di dalam kamar dengan A Kiu, padahal dia bukanlah pelayanmu.
    Apalagi yang kalian kerjakan kalau bukan berjinah? Seorang wanita dan
    seorang laki‐laki yang tidak ada hubungan apa‐apa berada di dalam kamar

  15. #74

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    Part 73
    berdua saja! selain itu, perjinahan kalian juga telah ada yang menyaksikan."
    Wajah Swat Hong sebentar pucat dan sebentar merah. Tak dapat dia
    menahan kemarahanya. Ibunya dituduh berjinah dengan seorang pelayan!
    "Bohong! itu bukan bukti!! Kalau memang ada yang menyaksikan, hayo siapa
    yang menyaksikan?" teriaknya, tidak memperdulikan cegahan Sin Liong yang
    masih memegang lengannya karena khawatir kalau‐kalau dara ini
    mengamuk. "Akulah saksinya!" tiba‐tiba terdengar suara kecil merdu dan
    Han Bu Hong telah bangkit berdiri dengan sikap menantang. Mulut anak ini
    tersenyum mengejek dan matanya bersinar‐sinar. "Enci Hong, akulah yang
    telah melihat ibumu dan pelayan itu di atas ranjang...." "Ssssttt, diam...!"
    Permaesuri menarik puteranya. Akan tetapi hakim telah berkata lagi, "Sudah
    terbukti kesalahan besar yang dilakukan Liu Bwee. Kesalahan paling besar
    yang dapat dilakukan oleh seorang wanita..." "Nanti dulu!" Dengan muka
    pucat sekali Swat Hong memotong kata‐kata hakim. "Tidak adil kalau begini!
    kita belum mendengar keterangan A Kiu. Hai, A Kiu, aku percaya bahwa
    engkau seorang manusia yang menjujur kegagahan, tidak mungkin seorang
    pria penghuni Pulau Es Seperti engkau menjatuhkan fitnah sebagai seorang
    pengecut hina dina. Hayo ceritakan sesungguhnya apa yang terjadi!" Suara
    Swat Hong ini nyaring sekali dan muka A Kiu menjadi pucat, kepalanya
    makin menunduk. Suasana menjadi hening dan akhirnya terpecah oleh suara
    Raja, "A Kiu, kau diperkenankan untuk bicara!" Tubuh itu menggigil, muka
    yang tampan itu pucat sekali ketika diangkat memandang Raja, kemudian
    melirik ke arah Liu Bwee yang masih bersikap tenang dan agung berlutut di
    sebelahnya. Ketika dia melirik ke arah Swat Hong yang berdiri dengan sikap
    angkuh memandang kepadanya, A Kiu mengeluh lirih, kemudian
    menelungkup dan berkata dengan suara mengandung isak, "Hamba tidak
    berdaya... hamba memang berada di kamar itu... tapi... tidak seperti kesaksian
    Pangeran kecil... hamba terpaksa karena..." "Berani kau mengatakan puteraku
    bohong?" Jeritan ini keluar dari mulut permaisuri dan hawa pukulan yang
    dahsyat sekali menyambar ketika permaisuri menggerakan tangan kirinya ke
    arah A Kiu. "Dess...! Aungghh...!" Tubuh A Kiu terlempar bergulingan dan
    rebah tak bernyawa lagi, dari mulut, hidung dan telinganya mengalir darah.
    Hebat sekali pukulan jarak jauh yang di lakukan permaesuri itu, mengenai
    kepala A Kiu yang tentu saja tidak kuat menahannya. Hakim dan jaksa saling
    pandang, sedangkan Raja menegur Permaesurinya, "Kau terlalu lancang...."
    "Apakah aku harus diam saja kalau seorang rendah macam dia menghina
    putera kita?" Permaesuri membantah dengan suara agak ketus. Raja diam
    saja dan menarik nafas panjang. Dia merasa bingung dan berduka sekali
    harus menghadapi perkara ini, lalu memberi isyarat kepada hakim sambil
    berkata, "Lanjutkan." Hakim menelan ludah beberapa kali, kemudian berkata
    lantang, " Saksi utama yang mejadi pelaku perjinahan telah terbunuh karena
    berani menghina Pangeran. Akan tetapi dia mengaku telah berada di kamar
    itu, maka sudah jelas dosa yang dilakukan oleh Liu Bwee. Karena itu sudah
    adil kalau dia harus dijatuhi hukuman berat. Liu Bwee, pengadilan
    memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepadamu!" "Ibuuuu..!!" Swat

  16. #75

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 74
    Hong meronta dan melepaskan diri dari Sin Liong, meloncat dan menubruk
    ibunya. "Sssst, tenanglah, Hong‐ji...." ibunya terbisik dengan sikap masih
    tenang saja, sungguhpun wajahnya kelihatan makin berduka. "Tenang?
    Tidak! ibu tidak boleh dihina sampai begini!" Swat Hong lalu bangkit berdiri,
    menghadapi ayahnya dan berkata lantang, "ibuku telah dijatuhi hukuman
    tanpa bukti dan saksi yang jelas. Akan tetapi keputusan telah dijatuhkan dan
    saya tidak rela melihat ibu dibuang ke Pulau Neraka. Saya sebagai anak
    tunggalnya, yang takkan mampu membalas budinya dengan nyawa, saya
    yang akan mewakilinya, memikul hukuman itu. Saya yang akan mejadi
    penggantinya ke Pulau Neraka, maka harap Sribaginda bersikap bijaksana,
    membiarkan ibu yang sudah mulai tua ini menghabiskan usianya di Pulau Es.
    Ibu, selamat tinggal!" "Hong‐ji...!" ibunya memekik, akan tetapi Swat Hong
    sudah meloncat dan lari keluar dari tempat itu dengan cepat. Sin Liong
    memandang dengan alis berkerut. Tak disangkanya hal yang sudak
    dikhawatirkannya akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan, suatu
    yang akan meledak, ternyata sehebat ini. "Hong‐ji... ah, Hong‐ji, Anakku...!"
    Liu Bwee tak dapat menahan lagi tanggisnya. Dia maklum bahwa untuk
    mengejar anaknya dia tidak mungkin dapat karena kepandaian puterinya itu
    sudah tinggi sekali, juga dia sebagai seorang pesakitan, tentu saja tidak
    berani melanggar hukum dan lari dari tempat itu. "Aduh, anakku... Swat
    Hong... Swat Hong... apa yang mereka lakukan atas dirimu...?" ibu yang hancur
    hati ini meratap. Hakim menjadi bingung dan beberapa kali menoleh kearah
    Raja seolah‐olah hedak minta keputusan Han Ti Ong. Raja ini menggigit bibir,
    jengkel dan marah karena tak disangkanya bahwa urusan akan berlarut‐larut
    seperti ini. Ketika dia menerima laporan tentang istri pertamanya, Liu Bwee,
    yang berjinah dengan seorang pelayan muda, hatinya panas dan marah
    sekali. Akan tetapi dia masih hendak membawa perkara ini kepengadilan
    agar diambil keputusan yang seadil‐adilnya. Siapa mengira terjadi hal‐hal
    yang tidak menyenangkan hatinya. Permaisurinya membunuh pelayan muda,
    kemudian kini Swat Hong membela ibunya, bahkan menggantikan ibunya
    "membuang diri" ke Pulau Neraka. maka kini,melihat betapa hakim menjadi
    bingung dan minta keputusannya, dia memukulkan kepalan kanan ke telapak
    kiri sambil berkata, " Sudahlah, sudahlah! Biar kupenuhi permintaan Swat
    Hong. Anak yang keras kepala itu sudah menggantikan ibunya ke Pulau
    Neraka. Sudah saja! Aku perkenankan Liu Bwe tinggal terus disini!" Setelah
    berkata demikian, dia menggandeng tanggan Bu Ong dan permaisurinya,
    bangkit berdiri dan hendak meninggalkan tempat yang tidak menyenangkan
    itu. Akan tetapi Liu Bwee juga bangkit berdiri dan wanita ini berkata lantang,
    sambil menatap wajah suaminya dengan mata tajam. "Biarpun anakku telah
    menebus dosa yang tidak kulakukan, dan aku telah diperbolehkan tinggal di
    sini, akan tetapi apa artinya hidup disini bagiku setelah anakku pergi ke
    Pulau Neraka? Tidak, aku tidak akan sudi tinggal di sini lagi. Aku mulai saat
    ini tidak menganggap diriku sebagai penghuni Pulau Es. Aku juga mau pergi
    dari sini!" Setelah berkata demikian, Liu Bwee lalu meloncat dan pergi.
    Setelah dia bukan pesakitan lagi, setalah dia bukan terhukum, dia berani

Page 5 of 28 FirstFirst 12345678915 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •