Page 28 of 28 FirstFirst ... 182425262728
Results 406 to 417 of 417
http://idgs.in/730445
  1. #406

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 405
    oleh suara berisik lagi di antara para tamu, bahkan banyak kepala
    dianggukan tanda setuju dan di sana sini terdengar teriakan, "Suruh mereka
    keluar!" Pek Sim Tojin mengerutkan alisnya dan mengelus jenggotnya yang
    putih. "Pinto tidak menyangkal bahwa di antara anak murid Hoa‐san‐pai
    terdapat dua orang yang bernama Liem Toan Ki dan isterinya bernama Bu
    Swi Nio. Akan tetapi, selama ini mereka adalah murid‐murid Hoa‐san‐pai
    yang tekun dan baik, bahkan tidak pernah turun dari Hoa‐san, tidak pernah
    melakukan keonaran di luar, apalagi membuat permusuhan dengan golongan
    manapun. Kini Cu‐wi sekalian berbondong datang, agaknya bersatu tujuan
    untuk menemui mereka! Pinto sebagai ketua Hoa‐san‐pai yang bertanggung
    jawab atas semua sepak terjang murid‐murid Hoa‐san‐pai, berhak
    mengetahui apa yang terjadi antara Cu‐wi dengan mereka!" hening sejenak
    dan agaknya semua tamu kembali merasa sungkan dan ragu‐ragu untuk
    menjawab. Sementara itu, hati Swat Hong terasa tegang begitu mendengar
    nama Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio disebut‐sebut. Dia menunjukan pandang
    matanya ke atas ruangan depan, namun di antara para anggauta Hoa‐san‐pai,
    dia tidak meliahat adanya kedua orang itu. "Suheng...., agaknya mereka benar
    berada di sini seperti yang Suheng duga...." bisik Swat Hong dengan hati
    tegang, akan tetapi suhengnya memberi isyarat agar dia tenang saja. "Sumoi,
    aku berpesan, kalau nanti terjadi apa‐apa, kau serahkan saja kepadaku dan
    jangan kau ikut turun tangan, ya!" Dengan penuh kepercayaan akan
    kemampuan suhengnya, Swat Hong mengangguk akan tetapi hatinya
    berdebar penuh ketegangan. Tidak salah lagi, pikirnya yang menduga‐duga,
    tentu orang‐orang kang‐ouw ini mencari Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio
    berhubung dengan Pusaka‐pusaka Pulau Es itu! Kalau tidak demikian
    apalagi? Melihat bahwa tidak ada orang yang menjawab pertanyaan Ketua
    Hoa‐san‐pai itu, Thian‐he Tee‐it Ciang Ham yang datang bersama lima orang
    muridnya, mengacungkan tombak di tangan kanannya, ke atas dan berteriak.
    "Totiang, sebagai Ketua Hoa‐san‐pai tentu saja kau berhak mengetahui sepak
    terjang muridmu, akan tetapi kalau urusan ini tidak menyangkut Hoa‐sanpai,
    bagaiman kami dapat bicara denganmu? Ini adalah urusan pribadi,
    urusan Liem Toan Ki sendiri, maka suruh dia keluar agar kami dapat bicara
    dengan dia! Kalau Totiang bersikeras, berarti Hoa‐san‐pai akan mencampuri
    urusan pribadi!" Berkerut alis Ketua Hoa‐san‐pai itu. Ucapan tadi, biarpun
    tidak secara langsung, sudah merupakan tantangan dan hanya terserah
    kepada Hoa‐san‐pai untuk melayani tantangan itu ataukah tidak. Maka dia
    tidak mau bertindak sembrono dan ingin melihat dulu bagaimana duduk
    perkaranya. Ketua Hoa‐san‐pai ini memang belum sempat diberi tahu oleh
    Liem Toan Ki dan isterinya tentang pusaka Pulau Es itu. "Supek, biarlah teecu
    berdua yang menghadapi mereka!" Tiba‐tiba terdengar suara orang dan
    muncullah Liem Toan Ki dan isterinya dari dalam, mereka sudah kelihatan
    mempersiapkan diri dengan senjata pedang di pinggang dan pakaian ringkas.
    Wajah mereka agak pucat, namun sikap mereka gagah dan tidak jerih. Liem
    Toan Ki meloncat ke depan, Di atas ruangan depan itu berdampingan dengan
    istrinya, menghadapi orang‐orang kang‐ouw itu sambil berkata, "Sayalah

  2. Hot Ad
  3. #407

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 406
    Liem Toan Ki dan isteri saya Bu Swi Nio. Tidak tahu urusan apakah yang
    membawa Cu‐wi sekalian datang mencari kami di Hoa‐san?" Hiruk pikuklah
    para tamu itu setelah mereka melihat sepasang suami isteri muda muncul
    dari dalam. Pertama‐tama yang berteriak adalah Thian‐tok Bhong Sek Bin,
    "Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio, kalian telah berani melukai muridku! Aku
    baru bisa mengampuni kalian kalau kalian menyerahkan pusaka‐pusaka yang
    kaubawa itu!" Liem Toan Ki tersenyum. "hemm, kami terpaksa melukai
    muridmu karena dia menyerang kami, Locianpwe. Pusaka apa yang
    Locianpwe maksudkan?" "Pura‐pura lagi, *******! Pusaka Pulau Es!" teriak
    Thian‐tok marah. "Serahkan Pusaka Pulau Es kepada kami!" "Kepada kami!"
    "Bagi‐bagi rata!" "Dijadikan sayembara!" Macam‐macam teriakan para tokoh
    kang‐ouw dan Liem Toan Ki mengangkat kedua lengannya ke atas. "Cu‐wi
    sekalian, apa buktinya bahwa kami berdua menyimpan Pusaka Pulau Es?"
    "Orang she Liem, kau masih berpura‐pura lagi bertanya? Aku dan banyak
    orang melihat betapa gadis Pulau Es itu menyerahkan pusaka itu kepadamu!"
    Tiba‐tiba terdengar suara orang yang bukan lain adalah Thio Sek Bi, murid
    Thiantok yang pernah berusaha merampok pusaka itu. Mendengar ucapan ini
    dan melihat munculnya murid Thian‐tok dan beberapa orang bekas
    pengawal yang dulu ikut bertempur di istana The Kwat Lin, tahulah Toan Ki
    dan Swi Nio bahwa menyangkal tidak akan ada gunanya lagi. "Kita harus
    mempertahankan mati‐matian," bisik Swi Nio kepada suaminya yang
    mengangguk dan berkata dengan suara lantang, "Cu‐wi sekalian! Kami
    berdua tidak menyangkal lagi bahwa memang kami telah dititipi pusaka oleh
    Nona Han Swat Hong, dua tahun yang lalu. Akan tetapi, kami tidak akan
    menyerahkan pusaka itu kepada siapapun juga kecuali kepada yang berhak,
    yaitu Nona Han Swat Hong!" Teriakan‐teriakan hiruk pikuk menyambut
    ucapan lantang ini. "Kalau begitu, kalian akan menjadi tawananku!" Thiantok
    membentak marah sambil melangkah ke depan, akan tetapi gerakannya
    ini segera diikuti oleh banyak orang dan jelas bahwa mereka hendak
    memperebutkan Liem Toan Ki dan istrinya agar menjadi orang tawanan
    mereka, tentu untuk dipaksa menyerahkan pusaka! "Siancai..... harap Cu‐wi
    bersabar dulu.....!" Tiba‐tiba dengan suara yang halus namun berpengaruh,
    Ketua Hoa‐san‐pai berkata sambil mengangkat kedua tangan ke atas,
    "Biarkan pinto bicara dulu!" "Totiang, kau hendak bicara apa lagi?" Thian‐tok
    membentak marah, alisnya berdiri dan matanya melotot. "Pinto mengaku
    bahwa urusan pusaka Pulau Es itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya
    dengan Hoa‐sanpai dan Hoa‐san‐pai pun tidak mengetahuinya. Maka sebagai
    Ketua Hoa‐san‐pai, pinto hendak bertanya dulu kepada murid Liem Toan Ki.
    Ini adalah urusan dalam dari Hoa‐san‐pai, kiranya Cu‐wi tidak akan
    mencampurinya!" Terdengar teriakan‐teriakan, "Silahkan! Silahkan, tapi
    cepat dan serahkan mereka kepada kami!" Pek Sim Tojin lalu menghadapi
    Liem Toan Ki dan bertanya, "Toan Ki, apa artinya ini semua? Benarkah kalian
    menyembunyikan Pusaka Pulau Es di Hoa‐san‐pai?" Liem Toan Ki dan Bu Swi
    Nio segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ketua Hoa‐san‐pai itu.
    Liem Toan Ki segera berkata, "Harap Supek mengampunkan teecu berdua.

  4. #408

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 407
    Adalah mendiang Twa‐supek yang mengijinkan teecu berdua dan Beliau yang
    melarang teecu berdua menceritakan kepada siapapun juga, bahkan Beliau
    yang membantu teecu berdua dalam hal ini. Karena sekarang mereka telah
    mengetahuinya dan hendak menggunakan paksaan, biarlah teecu berdua
    menghadapinya sendiri tanpa membawa‐bawa Hoa‐san‐pai." Setelah berkata
    demikian, Toan Ki dan Bu Swi Nio meloncat bangun, mencabut pedang dan
    berkatalah Toan Ki dengan suara lantang, "Haiiii, kaum kang‐ouw dengarlah!
    Urusan ini adalah urusan kami berdua suami isteri, bukan sebagai murid
    Hoa‐san‐pai, maka kalau kalian begitu tidak tahu malu hendak merampas
    Pusaka Pulau Es, biar kami menghadapi kalian sampai titik darah
    penghabisan!" "*******, aku tidak membiarkan kau mapus sebelum kalian
    menyerahkan pusaka itu." Thian‐tok membentak. "Tahan!" Tiba‐tiba Pek Sim
    Tojin membentak dan sikapnya angker sekalil. "Cu‐wi sekalian sungguh
    terlalu, memperebutkan pusaka milik orang lain dan sama sekali tidak
    memandang mata kepada Hoa‐sanpai, hendak membikin ribut di sini. Siapa
    saja tidak akan pinto ijinkan untuk menggunakan kekerasan di Hoa‐san‐pai!"
    "Tepat sekali! Aku Tee‐tok Siangkoan Houw pun bukan seorang yang tak
    tahu malu! Aku tidak akan membolehkan siapa pun menjamah Pusaka Pulau
    Es yang menjadi milik Nona Han Swat Hong!" Tiba‐tiba tokoh ***‐han‐san
    yang tinggi besar itu sudah melompat ke atas ruangan luar dan mendampingi
    Toan Ki dan Swi Nio dengan sikap gagah! "ha‐ha‐ha, itu baru namanya lakilaki
    sejati! Tee‐tok, kau membikin aku merasa malu saja! Aku pun tua bangka
    yang tidak berguna mana ingin memperebutkan pusaka orang lain? Aku pun
    tidak membiarkan siapa pun memperebutkan pusaka itu!" Lam‐hai Seng‐jin,
    guru Kwee Lun, tosu yang bersikap halus dengan tangan kiri memegang
    kipas dan tangan kanan memegang hudtim (kebutan pertapa), telah
    melangkah ke ruangan depan mendampingi Tee‐tok. "Masih ada aku yang
    menentang orang‐orang kang‐ouw tak tahu malu hendak merampas pusaka
    lain orang!" Tampak bayangan berkelebat disertai suara halus melengking
    dan diruang depan itu nampak Ginsiauw Siucai Si Sastrawan yang bersenjata
    suling perak dan mauwpit! Melihat ini Thian‐tok tertawa bergelak dengan
    hati penuh kemarahan, apalagi melihat bekas sutenya, Tee Tok, memelopori
    lebih dulu membela Hoa‐san‐pai dan murid Hoa‐san‐pai yang membawa
    Pusaka Pulau Es yang amat dikehendakinya. "Ha‐ha‐ha! Kalian pura‐pura
    menjadi pendekar budiman? Hendak kulihat sampai di mana kepandaian
    kalian!" Thian‐tok sudah lari ke depan, diikuti oleh banyak tokoh kang‐ouw
    lagi dan dapat dibayangkan betapa tentu sebentar akan terjadi perang kecil
    yang amat hebat antara para anggauta Hoa‐san‐pai dibantu oleh tiga tokoh
    kang‐ouw itu melawan para orang kang‐ouw yang memperebutkan pusaka.
    "Tahan....!" Seruan ini halus dan ramah, tidak mengandung kekerasan sesuatu
    pun, akan tetapi anehnya, semua orang merasa ada getaran yang membuat
    mereka menghentikan gerakan mereka mencabut senjata dan kini semua
    mata memandang ke arah ruangan depan itu karena tadi ada berkelebat dua
    sosok bayangan orang ke arah situ. Ternyata Sin Liong dan Swat Hong telah
    berdiri di ruangan depan markas Hoa‐san‐pai. Dengan sikap tenang sekali Sin

  5. #409

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 408
    Liong menghadapi semua orang, terutama sekali memandang tokoh‐tokoh
    besar dunia persilatan yang hadir, dan yang semua memandang kepadanya
    dengan mata terbelalak, kemudian terdengar pemuda ini berkata, "Cu‐wi
    Locian‐pwe mengapa sejak dahulu sampai sekarang gemar sekali
    memperebutkan sesuatu?" Thiantok Bhong Sek Bin yang berwatak kasar
    memandang dengan terbelalak, demikian pula Thian‐he Tee‐it Ciang Ham,
    Lam‐hai Seng‐jin, Gin‐siauw Siucai dan para tokoh lain yang belasan tahun
    lalu pernah hendak memperebutkan bocah ajaib, Sin‐tong yang bukan lain
    adalah Sin Liong sendiri. Mereka merasa kenal dengan pemuda ini, akan
    tetapi lupa lagi. "Ka...... kau siapakah.....?" akhirnya Thian‐tok bertanya. "Haha‐
    ha, kalian lupa lagi siapa dia ini?" Tiba‐tiba Tee Tok Siangkoan Houw
    berseru keras, hatinya girang dan lega bukan main bahwa dia tadi tidak raguragu
    melindungi Pusaka Pulau Es. Melihat munculnya pemuda yang dia tahu
    memiliki kelihaian yang luar biasa itu, dia girang sekali. "Coba lihat dengan
    baik‐baik, belasan tahun yang lalu di lereng Pegunungan jeng‐hoa‐san kalian
    juga memperebutkan sesuatu. Siapa dia?" "Sin‐tong....!" "Bocah ajaib......!!"
    Teringatlah mereka semua dan kini memandang Sin Liong dengan mata
    terbelalak. "Mau apa kau datang ke sini?" thian‐tok bertanya dengan suara
    agak berkurang galaknya. Sin Liong sudah menjura kepada Ketua Hoa‐sanpai,
    kepada Tee tok dan lain tokoh yang tadi membela Hoa‐san‐pai, diikuti
    oleh Swat Hong kemudian Swat Hong berkata kepada Toan Ki dan Swi Nio,
    "Terima kasih kami haturkan kepada Ji‐wi (Kalian Berdua) yang ternyata
    adalah orang‐orang gagah yang pantas dipuji dan dikagumi kesetiaan dan
    kegagahannya. Sekarang saya harap Ji‐wi suka mengembalikan pusakapusaka
    itu kepadaku." Toan Ki dan Swi Nio menjura dan Toan Ki menjawab,
    "Harap Lihiap suka menanti sebentar." kemudian pergilah dia bersama Swi
    Nio ke sebelah dalam, diikuti pandang mata Ketua Hoa‐sanpai yang menjadi
    terheran‐heran. "Mau apa kalian dua orang muda datang ke sini?" kembali
    Thian‐tok bertanya. "Harap Locianpwe ketahui bahwa kami berdua adalah
    penghuni Pulau Es yang datang untuk mengambil kembali Pusaka Pulau Es.
    Pusaka itu adalah milik Pulau Es dan harus dikembalikan ke sana." "Penghuni
    Pulau Es....??" Suara ini bukan hanya keluar dari mulut para tamu, tetapi juga
    dari pihak Hoasan‐ pai dan mereka yang membelanya, kecuali Tee Tok
    Siangkoan Houw yang sudah tahu akan keadaan pemuda dan pemudi itu. Tak
    lama kemudian muncullah Toan Ki dan Swi Nio. Toan Ki membawa
    bungkusan yang dulu dia terima dari Swat Hong, lalu menyerahkan
    bungkusan itu kepada Swat Hong sambil menjura dan berkata, "Dengan ini
    kami mengembalikan pusaka yang Lihiap titipkan kepada kami dengan hati
    lega!" Memang hatinya lega dan girang sekali dapat terlepas dari tanggung
    jawab yang amat berat itu. Swat Hong membuka dan meneliti pusaka‐pusaka
    itu. Melihat bahwa pusaka itu masih lengkap, dia makin kagum. "Suheng
    tidak pantas kalau kita tidak membalas budi mereka ini." Sin Liong
    tersenyum, mengangguk, kemudian dia berkata kepada Thian‐tok dan lain
    tamu yang masih memandang dengan bengong dan kini dari mata mereka itu
    terpancar ketegangan dan keinginan besar. Setelah Pusaka Pulau Es yang

  6. #410

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 409
    terkenal itu tampak di depan mata, mana mungkin mereka mundur begitu
    saja tanpa usaha untuk mendapatkannya? "Cu‐wi Locianpwe jauh‐jauh
    datang ke sini, harap suka memaklumi bahwa pusaka‐pusaka ini telah
    kembali ke pemiliknya dan akan dikembalikan ke Pulau Es. Maka kami
    berdua mengharap sudilah Su‐wi tidak mengganggu lagi Hoa‐san‐pai dan
    suka meninggalkan tempat ini." "Kami harus mendapatkan pusaka itu!"
    "Kami juga!" "Kami minta bagian!" Teriakan‐teriakan itu terdengar riuh
    rendah dan Sin Liong lalu berkata lagi dengan halus, "Kami berdua akan
    berada di sini selama tiga hari, kemudia kami akan meninggalkan Hoa‐sanpai.
    Kalau kita tidak berada di sini, masih belum terlambat bagi kita untuk
    bicara lagi tentang pusaka. Amatlah tidak baik bagi nama Cu‐wi Locianpwe
    kalau mengganggu Hoa‐san‐pai yang sama sekali tidak tahu‐menahu tentang
    hal ini. Nanti kalau kami sudah meninggalkan Hoa‐san‐pai, boleh kita bicara
    lagi." Melihat sikap orang‐orang Hoa‐san‐pai, dan sekarang sudah jelas
    bahwa pusaka itu berada di tangan Sintong dan dara muda itu, Thian‐tok lalu
    mendengus dan berkata, "Baik, kami menanti di bawah bukit. Kalian berdua
    tidak akan dapat terbang lalu." Pergilah mereka itu meninggalkan Hoa‐sanpai,
    akan tetapi semua orang tahu belaka bahwa mereka tentu akan
    mengurung tempat itu dan tidak akan membiarkan Sin Liong dan Swat Hong
    lolos dari situ membawa pergi pusaka‐pusaka Pulau Es yang amat mereka
    inginkan itu. Sin Liong lalu menjura kepada Ketua Hoasan‐ pai, para tokoh
    Hoa‐san‐pai, Toan Ki dan Swi Nio, juga kepada Tee Tok dan mereka yang tadi
    membela Hoa‐san‐pai, kemudian berkata, "Terutama kepada Saudara Liem
    Toan Ki dan Nyonya, sudah sepantasnya kalau kami meninggalkan sedikit
    ilmu untuk Jiwi pelajari. Dan kepada para Locianpwe, kiranya akan ada
    manfaatnya kalau saya melayani para Locianpwe main‐main sedikit untuk
    memperluas pengetahuan ilmu silat." Semua orang menjadi ragu‐ragu karena
    tidak tahu akan maksud hati pemuda yang aneh itu, akan tetapi Tee‐tok
    Siangkoan Houw sudah tertawa bergelak lalu meloncat ke halaman depan.
    "Marilah, ingin aku tua bangka ini memperdalam sedikit kepandaianku!" Sin
    Liong tersenyum lalu melangkah perlahan ke pekarangan. "Silahkan
    Siangkoan Locianpwe menggunakan Pek‐liu‐kun (Ilmu Silat Tangan
    Geledek)!" katanya tenang. "Harap Locianpwe jangan sungkan dan
    keluarkanlah jurus‐jurus simpanan dari Pek‐liu‐kun!" Tee Tok sudah maklum
    akan kehebatan pemuda ini, dan setelah dua tahun tidak jumpa, kini sikap
    pemuda ini luar biasa sekali, bahkan dengan kata‐kata biasa saja pemuda itu
    sudah mengundurkan semua orang yang tadi sudah bersitegang hendak
    menggunakan kekerasan. Dia dapat menduga bahwa bukanlah percuma
    pemuda ini mengajak dia berlatih silat, tentu ada niat‐niat tertentu. Karena
    dia merasa bahwa dia tidak mempunyai maksud jahat dan tadi membela
    Pusaka Pulau Es dengan sungguh hati, dia kini pun tanpa raguragu lagi lalu
    mengeluarkan gerengan keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Dengan
    sepenuh tenaga dan perhatiannya, dia menyerang pemuda itu dengan jurusjurus
    simpanan dari Ilmu Silat Pek‐lui‐kun yang dahsyat. "Haiiittt.....
    eihhh.....?" Bukan main heran dan kagetnya ketika melihat pemuda itu

  7. #411

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 410
    menghadapi dengan gerakan‐gerakan yang sama! Tiap jurus yang
    dimainkannya, dihadapi oleh Sin Liong dengan jurus yang sama pula dan
    dipakai sebagai serangan balasan namun dengan cara yang sedemikian
    hebatnya sehingga jurus yang dimainkannya itu tidak ada artinya lagi! Jurus
    yang dimainkan oleh pemuda itu untuk menghadapinya jauh lebih ampuh,
    dan sekaligus menutup semua kelemahan yang ada, menambah daya serang
    yang amat hebat sehingga dalam jurus pertama saja, kalau pemuda itu
    menghendaki, tentu dia sudah dirobohkan sungguhpun dia sudah hafal benar
    akan jurusnya sendiri itu! Bukan main girang hati kakek itu. Dia terus
    menyerang lagi dengan jurus lain, dan sama sekali dia menggunakan delapan
    belas jurus terampuh dari Pek‐lui‐kun dan yang kesemuanya selain dapat
    dihindarkan dengan baik oleh Sin Liong, juga telah dengan sekaligus
    "diperbaiki" dengan sempurna. Semua gerakan ini dicatat oleh Tee Tok dan
    setelah dia selesai mainkan delapan belas jurus pilihan itu, dia melangkah
    mundur dan menjura sangat dalam ke arah Sin Liong. "Astaga.... kepandaian
    Taihiap seperti dewa saja......., saya...... saya menghaturkan banyak terima
    kasih atas petunjuk Taihiap....." katanya agak tergagap. "Ah, Locianpwe
    terlalu merendah," jawab Sin Liong. Tee Tok lalu menjura ke arah Ketua Hoasan‐
    pai dan yang lain‐lain, seketika pamit dan pergi dengan langkah lebar
    dan wajah termenung karena dia masih terpesona dan mengingat‐ingat
    gerakan‐gerakan baru yang menyempurnakan delapan belas jurus pilihannya
    tadi! Lam Hai Seng‐jin bukan seorang bodoh. Dia adalah seorang tokoh
    kawakan yang berilmu tinggi. Melihat peristiwa tadi, tahulah dia bahwa
    pemuda ini memang bukan orang sembarangan dan agaknya telah mewarisi
    ilmu mujijat yang kabarnya dimiliki oleh penghuni Pulau Es. Maka dia tidak
    mau menyianyiakan kesempatan itu dan dai sudah meloncat maju dengan
    senjata hudtim dan kipasnya. "Orang muda yang hebat, kauberilah petunjuk
    kepadaku!" "Totiang, muridmu Kwee Lun Toako adalah sahabat baik kami,
    harap Totiang sudi mengajarnya baik‐baik," jawab Sin Liong dan dia pun
    segera menghadapi serangan kipas dan hudtim dengan kedua tangannya.
    Biarpun dia tidak menggunakan kedua senjata itu, namun kedua tangannya
    digerakan seperti kedua senjata itu, dan dia pun mainkan jurus‐jurus yang
    sama, namun gerakannya jauh lebih hebat, bahkan sempurna. Seperti juga
    tadi, kakek ini memperhatikan dan dia telah menghafal dua puluh jurus
    campuran ilmu hudtim dan kipas. "Terima kasih, terima kasih..... Siancai,
    pengalaman ini takkan kulupakan selamanya." Dia menjura kepada yang lain
    lalu berlari pergi. "Totiang, sampaikan salamku kepada Kwee‐toako!" seru
    Swat Hong, akan tetapi kakek itu hanya mengangguk tanpa menoleh karena
    dia pun sedang mengingat‐ingat semua jurus tadi agar tidak sampai lupa.
    Berturut‐turut Gin‐siauw Siucai juga menerima petunjuk ilmu silat suling
    perak dan mauwpitnya, kemudian Ketua Hoa‐san‐pai juga menerima
    petunjuk ilmu pedang Hoasan‐kiamsut. Para tokoh kang‐ouw yang
    mengurung tempat itu di lereng puncak, terheran‐heran melihat tiga orang
    tokoh itu meninggalkan puncak seperti orang yang termenung. Akan tetapi
    diam‐diam mereka menjadi girang karena tiga orang lihai itu tidak

  8. #412

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 411
    membantu atau mengawal muda‐mudi Pulau Es yang mereka hadang. Tiga
    hari lamanya Sin Liong dan Swat Hong tinggal di Hoa‐san, setiap hari
    menurunkan ilmu‐ilmu tingi kepada Toan Ki dan Swi Nio sehingga kedua
    orang suami isteri ini kelak akan menjadi tokoh‐tokoh kenamaan dan
    mengangkat nama Hoa‐san‐pai sebagai partai persilatan yang besar dan lihai.
    Pada hari ke empatnya, pagi‐pagi mereka meninggalkan markas Hoa‐san‐pai,
    diantar sampai ke pintu gerbang oleh Ketua Hoa‐san‐pai, Toan Ki, Swi Nio
    dan para pimpinan Hoa‐san‐pai. "Taihiap, Lihiap, pinto khawatir Jiwi akan
    mengalami gangguan di jalan. Menurut laporan para anak murid pinto,
    orang‐orang kang‐ouw itu masih menanti di lereng gunung." Pek Sim Tojin
    berkata dengan alis berkerut. "Bagaimana kalau kami mengantar Ji‐wi
    sampai melewati mereka dengan selamat?" Sin Liong tersenyum. "Terima
    kasih, Locianpwe. Akan tetapi, menghindari mereka berarti membuat mereka
    terus merasa penasaran. Sebaliknya malah kalau kami berdua menemui
    mereka dan membereskan persoalan seketika juga." Toan Ki dan Swi Nio
    yang selama tiga hari menerima petunjuk dari Sin Liong, telah menaruh
    kepercayaan penuh akan kesaktian pemuda Pulau Es ini, maka mereka tidak
    merasa khawatir. Mereka maklum bahwa pemuda dan gadis dari Pulau Es itu
    bukanlah manusia sembarangan, apalagi pemuda itu memiliki wibawa yang
    tidak lumrah manusia, gerak‐geriknya demikian penuh kelembutan, penuh
    belas kasih sehingga tidaklah mungkin dapat terjadi sesuatu yang buruk
    menimpa seorang manusia seperti ini! Memang benar seperti yang
    dilaporkan oleh anak buah Hoa‐san‐pai bahwa para tokoh kang‐ouw itu,
    dipelopori oleh Thian‐tok, masih menghadang di lereng puncak. Thian‐tok
    yang tadinya mengandalkan kepandaiannya sendiri, setelah menyaksikan
    betapa pemuda dan dara Pulau Es itu telah mendapatkan kembali pusakapusakanya,
    diam‐diam telah mengajak semua tokoh lain bersekutu dengan
    janji bahwa kalau pusaka dapat dirampas, dia akan memberi bagian kepada
    mereka semua. Terutama yang menjadi pembantunya sebagai orang ke dua
    adalah Thian‐he Tee‐it Ciang Ham yang tingkat kepandaiannya hanya
    berselisih atau kalah sedikit saja dibandingkan dengan kepandaian Racun
    Langit itu. Maka ketika Sin Liong yang membawa pusaka di punggungnya
    bersama Swat Hong berjalan berlahan dan tenang melalui tempat itu, segera
    para tokoh kang‐ouw itu muncul dan telah mengurung dua orang muda itu
    dengan ketat, mempersiapkan senjata masing‐masing dengan sikap
    mengancam. Sin Liong menggelenggelengkan kepala. "Hal itu tidak bisa
    dilakukan, Cu‐wi Locianpwe. Pusaka‐pusaka ini adalah milik Pulau Es turuntemurun,
    mana mungkin sekarang diserahkan kepada orang lain? Setelah
    kami berdua berhasil menemukannya kembali, kami harus
    mengembalikannya kepada Pulau Es, tempatnya semula. Maka harap Cu‐wi
    suka memaklumi hal ini dan tidak memaksa kepada kami." "Orang muda
    yang keras kepala! Kalau kami memaksa, bagaimana?" "Terserah kepada Cuwi
    sekalian. Sumoi, harap Sumoi suka pergi dulu ke pinggir, jangan
    menghalangi para Locianpwe ini." Swat Hong mengangguk dan tersenyum,
    kemudian tubuhnya berkelebat dan terkejutlah semua orang kang‐ouw itu

  9. #413

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 412
    ketika melihat gadis itu meloncat seperti terbang saja, melayang melalui
    kepala mereka dan kini telah berdiri di luar kepungan! Sungguh merupakan
    bukti kepandaian ginkang (Ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat! Sin
    Liong sengaja menyuruh sumoinya pergi keluar dari kepungan karena tidak
    menghendaki sumoinya itu naik darah dan turun tangan menggunakan
    kekerasan terhadap orang‐orang kang‐ouw ini. Setelah kini melihat
    sumoinya keluar dari kepungan, dia lalu menyilangkan kedua lengannya di
    depan dada, berkata, "Silahkan kepada Cu‐wi apa yang hendak Cu‐wi lakukan
    setelah jelas kukatakan bahwa Pusaka Pulau Es tidak akan kuberikan kepada
    Cu‐wi." Melihat sikap tenang dan penuh tantangan ini, para tokoh kang‐ouw
    menjadi marah juga. Pemuda itu tidak memegang senjata, berdiri dalam
    kepungan dan pusaka itu berada di dalam buntalan yang berada di
    punggungnya. Maka serentak orang‐orang kang‐ouw yang sudah mengilar
    dan ingin sekali merampas pusaka itu menerjang maju dan berebut hendak
    menyerang Sin Liong dan mengulur tangan hendak merampas buntalan.
    Pemuda itu hanya berdiri tersenyum, berdiri tegak dan menyilangkan kedua
    lengannya sambil memandang tanpa berkedip mata. "Ahhh....!" "Hayaaa.....!"
    "Aihhhh.....!" Semua orang terhuyung‐huyung mundur karena belum juga
    tangan mereka menyentuh pemuda itu, hati mereka sudah lemas dan luluh
    menghadapi wajah yang tersenyum itu, tangan mereka seperti lumpuh dan
    tenaga mereka seperti lenyap seketika membuat mereka terhuyung dan
    hampir jatuh saling timpa! Thian‐tok dan Thian‐he Tee‐it menjadi kaget dan
    marah sekali melihat keadaan teman‐teman mereka itu. Kedua orang itu
    berilmu tinggi ini memang membiarkan teman‐teman mereka turun tangan
    lebih dulu untuk menguji kepandaian pemuda yang keadaannya amat
    mencurigakan karena terlampau tenang itu. Kini melihat betapa temantemannya
    mundur tanpa pemuda itu menggerakan sebuah jari tangan pun,
    kedua orang itu terkejut marah dan penasaran. Thian‐tok menerjang ke
    depan dengan senjata Kim‐kauw‐pang di tangannya, sedangkan Ciang Ham
    juga sudah meloncat dekat dengan senjata tombak di tangan. "Orang muda,
    serahkan pusaka itu!" Thian‐tok membentak. "Sin‐tong, jangan sampai
    terpaksa aku menggunakan tombak pusakaku!" Ciang ham juga menghardik.
    Akan tetapi Sin Liong tetap tidak bergerak hanya berkata, "Terserah kepada
    Ji‐wi Locianpwe, Ji‐wi yang melakukan dan Ji‐wi pula yang menanggung
    akibatnya." "Keras kepala!" Thian‐tok membentak dan tongkatnya yang
    panjang sudah menyambar ke arah kepala pemuda itu. Sin Liong sama sekali
    tidak mengelak, bahkan berkedip pun tidak ketika melihat tongkat itu
    menyambar ke arah kepalanya, disusul tombak di tangan Thian‐he Tee‐it
    Ciang Ham yang menusuk ke arah lambungnya. "Desss! Takkkk!!"
    "Aihhh.......!" "Heiiii....." Thian‐tok Bhong Sek Bin dan Thian‐he Tee‐it Ciang
    ham berteriak kaget dan meloncat ke belakang.Tongkat itu tepat mengenai
    kepala dan tombak itu pun tepat menusuk lambung, namun kedua senjata itu
    terpental kembali seperti mengenai benda yang amat kuat, bahkan telapak
    tangan mereka terasa panas! Tentu saja mereka merasa penasaran, biarpun
    ada rasa ngeri di dalam hati mereka. Pada saat itu, orang‐orang kang‐ouw

  10. #414

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 413
    lainnya yang melihat betapa dua orang lihai itu sudah menyerang dengan
    senjata, juga menyerbu ke depan. Sin Liong tetap diam saja ketika belasan
    batang senjata yang bermacam‐macam itu datang bagaikan hujan menimpa
    tubuhnya. Semua senjata tepat mengenai sasaran, akan tetapi tidak ada
    sedikit kulit tubuh pemuda itu yang lecet, kecuali pakaiannya yang robekrobek
    dan orang‐orang itu terpelanting ke sana‐sini, bahkan ada yang
    terpukul oleh senjata mereka sendiri yang membalik. Makin keras orang
    menyerang, makin keras pula senjata mereka membalik. Bahkan Thian‐tok
    sudah mengelus kepalanya yang benjol terkena kemplangan tongkatnya
    sendiri, sedangkan paha Ciang ham berdarah karena tombaknya pun
    membalik tanpa dapat ditahannya lagi ketika mengenai tubuh Sin Liong
    untuk yang kedua kalinya. Ketika mereka memandang dengan mata
    terbelalak kepada Sin Liong, mereka melihat pemuda itu masih tersenyumsenyum,
    masih berdiri tegak dengan kedua lengan bersilang di depan dada,
    hanya bedanya, kini pakaiannya robek‐robek dan penuh lobang. Thian‐tok
    dan Thian‐he Tee‐it adalah orang‐orang yang terkenal di dunia persilatan
    sebagai tokoh‐tokoh besar yang sudah banyak mengalami pertempuran.
    Mereka tahu pula bahwa orang yang memiliki sinkang amat kuat dapat
    menjadi kebal, akan tetapi selama hidup mereka belum pernah menyaksikan
    kekebalan seperti yang dihadapi mereka sekarang ini. Kekebalan yang
    agaknya tanpa disertai pengerahan tenaga. Apalagi melihat cahaya aneh
    seperti melindungi tubuh pemuda itu, mereka maklum bahwa pemuda ini
    bukan orang sembarangan. Tanpa melawan saja pemuda ini telah membuat
    mereka tidak berdaya, betapa hebatnya kalau pemuda ini mengangkat tangan
    membalas! "Maafkan kami......!" Thian‐tok berseru lalu melompat dan berlari
    pergi. "Sin‐tong, maafkan......!" Ciang Ham juga berkata lalu menyeret
    tombaknya, terpincang‐pincang pergi dari situ. Tentu saja para tokoh lain
    yang memang sudah merasa ngeri dan jerih, melihat kedua orang yang
    diandalkan itu lari, cepat membalikkan tubuh dan berserabutan lari dari situ
    meninggalkan Sin Liong yang masih berdiri tegak di tempat itu. Swat Hong
    lari menghampiri suhengnya, lalu memeluk suhengnya itu. "Suheng......., kau
    tidak apa‐apa......?" tanyanya. Sin Liong menggeleng kepala dan tersenyum.
    "Pakaianmu hancur......" "Pakaian rusak mudah diganti, akhlak yang rusak
    lebih menyedihkan lagi karena mendatangkan malapetaka." "Suheng, kau......"
    "Ada apakah, Sumoi......?" Swat Hong menggelengkan kepala dan dia
    melepaskan rangkulannya, melangkah mundur dua tindak dan memandang
    suhengnya dengan pandang mata penuh takjub dan juga jerih. "Suheng,
    kau...... kau berbeda dari dulu......." "Aih, Sumoi, aku tetap Sin Liong suhengmu
    yang dahulu." "Tidak, tidak.....! kau berbeda sekali. Ilmu apakah yang kau
    pergunakan tadi? Mendiang Ayahku sekalipun tidak pernah memperlihatkan
    ilmu mujijat seperti itu........" "Apakah keanehannya, Sumoi? Ilmu yang
    berdasarkan kekerasan tentu hanya mengakibatkan pertentangan dan
    kerusakan belaka, dan setiap bentuk kekerasan hanya akan mecelakakan diri
    sendiri." "Suheng, ajarilah aku ilmu tadi....." "Tidak ada yang bisa mengajar,
    kelak kau akan mengerti sendiri, Sumoi. marilah kita lanjutkan perjalanan

  11. #415

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 414
    kita." Setelah berkata demikian, Sin Liong memegang tangan sumoinya dan
    terdengar jerit tertahan dara itu ketika dia merasa bahwa dia dibawa lari
    oleh suhengnya dengan kecepatan seperti terbang saja! Dia sendiri adalah
    seorang ahli ginkang yang memiliki ilmu berlari cepat cukup luar biasa, akan
    tetapi apa yang dialaminya sekarang ini benar‐benar seperti terbang, atau
    seperti terbawa oleh angin saja! Makin yakinlah hatinya bahwa suhengnya
    telah menjadi seorang yang amat luar biasa kesaktiannya, menjadi seorang
    manusia dewa!
    Gerakan pembalasan yang dilakukan oleh Kaisar Kerajaan Tang yang baru,
    yaitu kaisar Su Tiong, yang dilakukan dari Secuan, amat hebat. Gerakan
    pembalasan untuk merampas kembali ibu kota Tiang‐an dari tangan
    pemberontak ini dibantu oleh pasukan yang dapat dikumpulkan di Tiongkok
    bagian barat, dibantu pula oleh pasukan Turki, bahkan pasukan Arab. Dengan
    bala tentara yang besar dan kuat, Kaisar Su Tiong melakukan serangan
    balasan terhadap pemerintah pemberontak yang tidak lagi dipimpin oleh An
    Lu Shan karena jenderal pemberontak itu telah tewas. Perang hebat terjadi
    selama sepuluh tahun, dan di dalam perang ini, para pemberontak dapat
    dihancurkan dan kota demi kota dapat dirampas kembali sampai akhirnya
    ibu kota dapat direbut kembali oleh Kaisar Su Tiong. Di dalam perang ini, Han
    Bu Ong putera The Kwat Lin yang bersama orang‐orang kerdil membantu
    pemerintah pemberontak, tewas pula dalam pertempuran hebat sampai
    tidak ada orang pun orang kerdil tinggal hidup.
    Dalam tahun 766 berakhirlah perang yang mengorbankan banyak harta dan
    nyawa itu, namun kerajaan Tang telah menderita hebat sekali akibat perang
    yang mula‐mula ditimbulkan oleh pemberontak An Lu Shan itu. Kematian
    yang diderita rakyat, pembunuhan‐pembunuhan biadab yang terjadi di
    dalam perang selama pemberontakan ini adalah yang terbesar menurut
    catatan sejarah. Menurut catatan kuno, tidak kurang dari tiga puluh lima juta
    manusia tewas selama perang yang biadab itu! Bukan hanya kerugian harta
    dan nyawa saja, akan tetapi juga setelah perang berakhir, Kerajaan Tang
    kehilangan banyak kekuasaan atau kedaulatannya! Bantuan‐bantuan yang
    diterima oleh Kaisar di waktu merebut kembali kerajaan, membuat Kaisar
    terpaksa membagi‐bagi daerah kepada para pembantu yang diangkat
    menjadi gubernur‐gubernur yang lambat laun makin besar kekuasaannya
    dan seolah‐olah menjadi raja‐raja kecil yang berdaulat sediri. Di samping itu,
    pemberontak An Lu Shan membentuk pasukan‐pasukan yang ketika
    pemberontak dihancurkan, melarikan diri ke perbatasan dan menjadi
    pasukan‐pasukan liar yang selalu merupakan gangguan terhadap kekuasaan
    pemerintah. Demikianlah, dengan dalih apapun juga, pemberontakan lahiriah
    hanya mendatangkan kerusakan dan malapetaka, karena tidaklah mungkin

  12. #416

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 415
    perdamaian diciptakan oleh perang! Menurut sejarah di seluruh dunia, tidak
    pernah ada revolusi jasmani mendatangkan perdamaian dan kesejahteraan.
    Kiranya hanyalah revolusi batin, revolusi yang terjadi di dalam diri setiap
    orang manusia, yang akan dapat mengubah keadaan yang menyedihkan dari
    kehidupan manusia di seluruh dunia ini. Dengan tewasnya Han Bu Hong di
    dalam perang itu, maka habislah semua tokoh yang keluar dari Pulau Es dan
    Pulau Neraka. Yang tinggal hanyalah Sin Liong dan Swat Hong berdua saja,
    akan tetapi kedua orang ini pun sudah kembali ke Pulau Es dan semenjak
    peristiwa di Hoa‐san‐pai itu, tidak ada lagi yang tahu bagaimana keadaan
    kedua orang itu dan, di mana adanya mereka! Yang jelas, Pulau Es masih ada
    dan kedua orang suheng dan sumoi yang saling mencinta itu pun masih
    hidup. Buktinya, beberapa tahun kemudian kadang‐kadang mereka itu
    muncul sebagai manusia‐manusia sakti menyelamatkan belasan orang
    nelayan yang perahunya diserang badai. Di dalam kegelapan selagi badai
    mengamuk dahsyat itu, ketika perahu‐perahu mereka dipermainkan badai
    dan nyaris terguling, tiba‐tiba muncul sebuah perahu kecil yang didayung
    oleh seorang pria berpakaian putih dan seorang wanita cantik, dan kedua
    orang ini dengan kesaktian luar biasa menggunakan tali untuk menjerat
    perahu‐perahu itu kemudian menariknya keluar dari daerah yang diamuk
    badai! Apakah mereka itu Sin Liong dan Swat Hong, tidak ada orang yang
    mengetahuinya karena setiap kali muncul menolong para nelayan dan para
    penghuni pulau‐pulau yang berada di utara, kedua orang itu tidak pernah
    memperkenalkan nama mereka. Kalau benar mereka itu adalah Sin Liong dan
    Swat Hong, bagaimanakah jadinya dengan mereka? Apakah suheng dan
    sumoi yang saling mencinta dan yang telah kembali ke Pulau Es itu langsung
    menjadi suami isteri? Hal ini pun tidak ada yang tahu, karena agaknya bagi
    mereka berdua, menjadi suami isteri atau bukan adalah hal yang tidak
    penting lagi. Diri mereka telah dipenuhi oleh cinta kasih, bukan cinta kasih
    yang biasa melekat di bibir manusia pada umumnya, karena cinta kasih
    seperti itu telah diselewengkan artinya, cinta kasih kita manusia hanya akan
    mendatangkan kesenagan dan kesusahan belaka dan justeru karena cinta
    kasih kita itu mendatangkan kesenangan maka dia mendatangkan pula
    kesusahan karena kesenangan dan kesusahan adalah saudara kembar yang
    tak mungkin dapat dipisah. Menerima yang satu harus menerima pula yang
    ke dua, yang mau menikmati kesenangan harus pula mau menderita
    kesusahan. Tidak, cinta kasih mereka bukan seperti cinta kasih palsu yang
    kita punyai! Pernah ada seorang anak nelayan yang diwaktu malam hari,
    ketika perahunya diayun‐ayun gelombang kecil dan dia sedang
    menggantikan ayahnya yang tertidur untuk menjaga kail, mendengar
    nyanyian halus yang dinyanyikan oleh seorang wanita cantik di atas perahu
    dan yang kelihatan remang‐remang di bawah sinar bulan purnama di malam
    itu. Anak yang cerdas ini masih teringat akan bunyi nyanyian itu seperti
    berikut: "Langit, Bulan dan Lautan kalian mempunyai Cinta kasih namun tak
    pernah bicara tentang Cinta kasih! Kasihanilah manusia yang miskin dan
    haus akan Cinta Kasih, bertanya‐tanya apakah Cinta Kasih itu? Bilamana

  13. #417

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 416
    tidak ada ikatan tidak ada pamerih dan rasa takut tidak memiliki atau
    dimiliki tidak menuntut dan tidak merasa memberi. Tidak menguasai atau
    dikuasai tidak ada cemburu, iri hati tidak ada dendam dan amarah tidak ada
    benci dan ambisi. Bilamana tidak ada iba diri tidak mementingkan diri
    pribadi, bilamana tidak ada "Aku" barulah ada Cinta Kasih........" Puluhan
    tahun, bahkan seratus tahun kemudian di dunia kang‐ouw timbul semacam
    cerita setengah dongeng tentang seorang manusia dewa yang mereka sebut
    Bu Kek Siansu, seorang laki‐laki tua yang sederhana namun yang pribadinya
    penuh cinta kasih, cinta kasih terhadap siapa pun dan apa pun. Bu Kek Siansu
    yang dikenal sebagai tokoh Pulau Es dan menurut cerita tradisi dari
    keturunan tokoh‐tokoh seperti Tee Tok Siangkoan Houw, Lam Hai Sengjin
    dan muridnya, Kwee Lun, Gin‐siauw Siucai, tokoh‐tokoh Hoa‐san‐pai,
    katanya bahwa Bu Kek Siansu itu adalah anak yang dahulu disebut Sin‐tong
    (Anak Ajaib), yaitu pemuda Kwa Sin Liong yang menghilang bersama
    sumoinya, Han Swat Hong, dan yang kabarnya menetap di Pulau Es, tidak
    pernah lagi terjun ke dunia ramai. Dan memang seorang manusia seperti Bu
    Kek Siansu tidak pernah mau menonjolkan diri, selalu bergerak tanpa
    pamrih, hanya digerakan oleh cinta kasih. Maka kita pun tidak mungkin
    dapat mengikuti seorang manusia seperti Bu Kek Siansu, dan hanya kadangkadang
    saja dapat melihat muncul di antara orang banyak, dan di dalam
    dunia persilatan, Bu Kek Siansu akan muncul di dalam ceritera "Suling Emas".
    Demikinlah, terpaksa pengarang menutup cerita "Bu Kek Siansu" ini yang
    hanya dapat menceritakan pengalaman pemuda Kwa Sin Liong sewaktu dia
    belum menjadi seorang Bu Kek Siansu, sewaktu dia belum memiliki cinta
    kasih sehingga masih diombang‐ambingkan oleh suka dan duka dalam
    kehidupannya. Dengan mengenangkan isi nyanyian yang dinyanyikan oleh
    anak nelayan itu, penulis mengajak para Pembaca Budiman untuk sama‐sama
    mempelajari dan mudah‐mudahan kita pun akan memiliki Cinta Kasih
    melalui pengenalan diri pribadi. Teriring salam bahagia dari pengarang dan
    sampai jumpa kembali di lain cerita..


    TAMAT

Page 28 of 28 FirstFirst ... 182425262728

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •