Page 16 of 16 FirstFirst ... 61213141516
Results 226 to 229 of 229

Thread: 2. suling emas

http://idgs.in/730827
  1. #226

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 221
    "Bagus ! Nah, kauperhatikan baik‐baik ilmu ini untuk bekal!" Kakek itu lalu
    menggerak‐gerakkan kedua tangannya sambil tiada hentinya memberi
    petunjuk bagaimana kedudukan dan perubahan kaki harus dilakukan.
    Agaknya kedua orang bekas pemikul itu sudah pernah menerima pelajaran
    ini dan sekarang mereka mendapatkan petunjuk tentang rahasia‐rahasianya,
    maka dalam waktu setengah malam, mereka sudah berhasil menyelesaikan
    pelajaran ilmu silat yang luar biasa itu. Liu Lu Sian demikian tertariknya
    sehingga ia bertahan untuk mengintai terus sampai semalam suntuk. Ia
    mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang diwariskan kakek lumpuh itu
    kepada dua orang bekas pemikulnya, merupakan ilmu pilihan yang termasuk
    tingkat tinggi. Ia percaya bahwa biarpun baginya sendiri ilmu itu masih tidak
    usah mendatangkan kuatir, namun menghadapi orang lain, dua orang bekas
    pemikul ini tentu merupakan dua orang perampok yang amat tangguh dan
    berbahaya. Ilmu silat tadi gerakan‐gerakannya seperti ilmu silat Sin‐coa‐kun,
    agaknya ciptaan Si Kakek Lumpuh mengambil contoh ular pula. Teringat ini,
    ia membayangkan betapa hebatnya kepandaian Si Kakek Lumpuh, dan kalau
    dibanding dengan ayahnya, agaknya mereka itu seimbang. Dia sendiri terang
    tidak akan dapat menangkan Kong Lo Sengjin, akan tetapi kalau di situ ada
    Kwee Seng, tentu ia akan berani keluar mencoba‐coba. Hanya ayahnya, atau
    Kwee Seng, yang agaknya akan dapat menandingi kakek ini dalam
    pertandingan yang luar biasa tegang dan ramainya.
    Menjelang pagi, pada saat ayam ramai berkokok menyambut munculnya
    matahari yang sudah mengirim lebih dulu cahaya merahnya, dua orang bekas
    pemikul itu berpamit, kemudian berlari cepat sekali meninggalkan tempat
    itu. Kong Lo Sengjin lalu merenggut lepas dua batang bambu bekas pikulan,
    kemudian ia... berjalan dengan langkah‐langkah lebar, dengan kedua kaki
    masih bersila, tergantung di antara dua batang bambu yang menggantikan
    sepasang kakinya. Biarpun kedua kakinya terganti bambu yang terpegang
    kedua tangannya, namun dibandingkan dengan orang yang tidak lumpuh,
    jalannya jauh lebih sigap dan cepat. Bahkan dibandingkan dengan ahli‐ahli
    ilmu lari cepat, kakek lumpuh ini masih menang jauh ! Sebentar saja
    bayangannya lenyap ke arah timur dari mana malam tadi muncul.
    Liu Lu Sian menarik napas panjang. Sayang tidak ada Kwee Seng di situ.
    Kalau ada, agaknya pemuda sakti itu tidak akan mau melepaskan kakek
    lumpuh itu begitu saja. Berbeda sekali dengan dia. Andaikata dia selihai Kwee
    Seng, ia akan mengajak kakek itu bertempur, bukan sekali‐kali untuk
    membalaskan kematian sekian banyaknya pengungsi yang menjadi korban,
    melainkan untuk diukur kepandaiannya, karena ia memang mempunyai
    watak tidak mau kalah oleh siapapun juga. Kalau Kwee Seng tentu lain, tentu

  2. Hot Ad
  3. #227

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 222
    Teringat akan Kwee Seng, wajah Lu Sian menjadi muram dan agaknya ia
    kecewa. Betapapun juga, Kwee Seng adalah seorang pemuda tampan dan
    menyenangkan, apalagi amat mencintainya, merupakan seorang teman
    seperjalanan yang lumayan, daripada sekarang ini berjalan tanpa teman !
    Akan tetapi setelah wajah Kam Si Ek terbayang lenyaplah segala kekecewaan
    dan pemikiran tentang Kwee Seng, dan tiba‐tiba ia teringat akan keadaan
    Kam Si Ek yang berbahaya, timbul kekhawatirannya dan segera ia
    meninggalkan tempat itu untuk cepat‐cepat pergi ke kota raja dari Kerajaan
    Liang, yaitu kota raja Lok‐yang yang terletak di Propinsi Honan.
    Karena ia sama sekali kehilangan jejak Kam Si Ek dan di sepanjang jalan tak
    seorang pun pernah melihat jenderal muda ini, Lu Sian menduga bahwa
    andaikata benar pemujaan hatinya itu diculik oleh kaki tangan Kerajaan
    Liang, agaknya mereka itu membawa Kam Si Ek ke kota raja melalui jalan
    sungai. Maka ia pun segera mencari tukang perahu dan menyewa perahu itu
    ke timur. Kota raja Lok‐yang letaknya masih di Lembah Sungai Kuning,
    namun agak jauh dari sungai, di sebelah selatan.
    Pada saat itu, Sungai Kunimg airnya penuh, bahkan di beberapa bagian
    membanjir, meluap sampai jauh dari sungai, menyelimuti ratusan hektar
    sawah ladang. Dusun‐dusun yang berada di lembah, yang terlalu dekat
    sungai, sudah banyak yang dilanda banjir. Namun karena airnya mengalir
    tenang, Si Tukang Perahu berani melayarkan perahunya menurut aliran air.
    Keadaan di kanan kiri sungai amat menyedihkan dan perjalanan dengan
    perahu kali ini bagi Lu Sian benar‐benar tidak menyenangkan sama sekali.
    Lenyap pemandangan alam yang biasanya amat indah, terganti keadaan yang
    mengenaskan, sungguhpun Lu Sian tidak ambil peduli terhadap bencana
    alam ini. Hatinya sendiri sedang penuh dengan rasa gelisah kalau ia
    memikirkan nasib Kam Si Ek.
    "Tahan perahumu, minggir ke sana...!" tiba‐tiba Lu Sian memerintah tukang
    perahu ketika ia melihat sebuah perahu besar berlabuh di sebelah kanan. Ia
    merasa curiga. Perahu itu besar dan mewah, sama sekali bukan perahu
    nelayan miskin, patutnya perahu bangsawan atau hartawan yang sedang
    pesiar. Saat seperti itu sama sekali bukan saat yang patut untuk berpesiar,
    maka adanya perahu di tempat sunyi itu sungguh mencurigakan hatinya.
    Apalagi ketika ia melihat bahwa dusun di tempat itu juga sudah tenggelam
    oleh air bah, hanya satu‐satunya rumah gedung yang berada di dusun, yang
    kebetulan letaknya di tempat agak tinggi masih belum kemasukan air. Tak
    seorang pun manusia tampak di dusun yang kebanjiran itu, agaknya semua

  4. #228

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 223
    penghuninya telah pergi mengungsi. Kalau demikian halnya, mengapa perahu
    besar berada di situ dan perahu itu pun kosong tidak ada orangnya ?
    Setelah perahu kecil itu minggir dan Lu Sian mendapat kenyataan bahwa
    perahu besar itu benar‐benar kosong ia berkata, "Kautunggu di sini, aku
    hendak menyelidiki kemana perginya orang‐orang dari perahu ini!" Tanpa
    menanti jawaban, Lu Sian menggerakkan tubuhnya meloncat ke atas
    wuwungan rumah ke rumah yang terendam air, kemudian dengan
    kelincahan yang mengagumkan ia berloncatan dai rumah, kadang‐kadang
    melalui pohon yang juga terendam air, menuju ke rumah gedung yang masih
    belum terendam air. Tukang perahu itu melongo, lalu bergidik ia sudah
    mengira bahwa penumpangnya adalah seorang wanita kang‐ouw yang
    pandai ilmu silat, kalu tidak demikian tak mungkin gadis muda dan cantik
    jelita ini berani melakukan perjalanan seorang diri, apalagi gadis ini
    membawa pedang ! Akan tetapi ia hanya mengira Lu Sian seorang gadis yang
    pandai main pedang seperti biasa dipertunjukan para penjual obat, siapa kira
    gadis ini dapat berloncatan seperti itu. Jangan‐jangan dia bukan manusia,
    pikir Si Tukang Perahu. Di waktu sungai banjir meluap‐luap seperti itu,
    menurut cerita rakyat, siluman‐siluman pada bermunculan, juga para dewidewi
    yang sengaja turun dari khayangan untuk menggempur para siluman
    yang hendak merusak manusia dengan air banjir. Biarpun rakyat tak pernah
    melihatnya, akan tetapi selalu terjadi pertarungan hebat antara para dewadewi
    melawan siluman‐siluman, dan betapapun juga dewa‐dewi yang
    menang dan air yang digerakkan siluman mengamuk ke dusun‐dusun itu
    kembali ke sungai pula seperti biasa ! Kini melihat gadis penyewa perahunya
    pandai "terbang" melayang‐layang dari rumah ke rumah, Si Tukang Perahu
    bergidik.
    "Tidak tahu dia itu dewi atau siluman, akan tetapi sinar matanya tajam
    mengerikan. Lebih baik aku pegi sebelum ia kembali!" Melihat Lu Sian
    berloncatan makin jauh, diam‐diam tukang perahu segera mendayung
    perahunya ke tengah lagi dan melarikan diri dengan perahunya dari tempat
    itu ! Ia tidak peduli bahwa uang sewa perahu belum dibayar, ia sudah merasa
    lega dan puas dapat meninggalkan gadis itu, karena siapa tahu, bukan dia
    menerima pembayaran, malah dia harus membayar nyawa.
    Liu Lu Sian tidak tahu bahwa perahunya telah pergi meninggalkannya,
    karena ia sedang berloncatan mendekati gedung dengan hati berdebar penuh
    harapan akan dapat melihat Kam Si Ek. Ia meloncat ke atas genteng gedung
    itu dan dari atas genteng ia mengintai ke dalam. Ternyata di dalamnya
    terdapat enam orang anak perahu. Mereka duduk menghangatkan tubuh du

  5. #229

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 224
    dekat tempat perapian sambil makan roti kering dan dendeng. Terdengar
    mereka bersungut‐sungut. "Kita ditinggalkan di sini, untuk apa ? Kalau banjir
    makin besar, ke mana kita harus bawa perahu ? Ah, lebih enak menjadi
    pegawai di darat kalau begini. Banyak teman dan aman. Masa untuk
    mengawal seorang tawanan saja harus menggunakan pasukan lima puluh
    orang lebih ? Dan keadaan tawanan itu lebih enak daripada kita!"
    "Sam‐lote, jangan kaubilang begitu." Cela temannya. "Tawanan itu memang
    seorang penting, siapa tidak mengenal Jenderal Kam Si Ek ? Malah aku
    mendengar dari anggota pasukan, bahwa komandan mereka menerima
    perintah khusus dari kota raja untuk menghormati Kam‐goanswe sebagai
    tamu agung. Kita hanya petugas‐petugas biasa, mau apa lagi?"
    Mendengar percakapan mereka ini. Lu Sian girang sekali. Dengan
    kepandaiannya yang tinggi, ia meninggalkan tempat itu tanpa ada yang
    mengetahui. Gedung itu letaknya di tempat tinggi maka tidak terlanda banjir,
    di bagian belakang gedung merupakan kaki sebuah bukit kecil dan ke sinilah
    Lu Sian mengambil jalan ke selatan, ke kota raja Lok‐yang. Tak lama
    kemudian ia sampai di jalan besar dan segera mempercepat larinya. Sayang
    kudanya ia tinggalkan ketika ia mempergunakan jalan sungai, akan tetapi
    karena ilmu lari cepatnya juga sudah mencapai tingkat tinggi, Lu Sian segera
    mempergunakan Ilmu Lari Cepat Liok‐te‐hui‐teng sehingga tubuhnya
    berkelebat seperti terbang cepatnya, tidak kalah cepatnya, oleh larinya
    seekor kuda biasa !
    Perjalanan selanjutnya melalui pegunungan yang biarpun jalannya lebar,
    namun banyak naik turun dan amat sunyi. Ini pegunungan Fu‐niu yang
    puncaknya menjulang tinggi. Dari atas puncak ini tampaklah gunung‐gunung
    yang memang banyak mengepung daerah itu. Di utara tampak puncakpuncak
    Pegunungan Luliang‐san dan ***‐hang‐san, di sebelah barat tampak
    Pegunungan Cin‐ling‐san, di selatan samar‐samar tampak dibalik mega
    puncak Pegunungan Tapa‐san. Biasanya Lu Sian amat suka menikmati
    tamasya alam di pegunungan, akan tetapi kali ini ia tidak mempunyai
    perhatian terhadap semua keindahan itu karena hati dan pikirannya penuh
    oleh bayangan Kam Si Ek yang hendak ditolongnya.
    Ketika ia membelok di sebuah lereng, tiba‐tiba ia melihat banyak tubuh orang
    menggeletak di pinggir jalan. Golok dan pedang malang melintang, darah
    berceceran dan dua belas orang itu sudah menjadi mayat. Mereka ini
    kelihatan sebagai orang‐orang kang‐ouw yang gagah, dan melihat betapa

Page 16 of 16 FirstFirst ... 61213141516

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •