Page 4 of 16 FirstFirst 1234567814 ... LastLast
Results 46 to 60 of 229

Thread: 2. suling emas

http://idgs.in/730827
  1. #46

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 46
    "Nona, tidak apa‐apa, aku senang melakukan perjalanan ini. Ah arak ini
    wangi sekali!"
    Lu Sian cemberut dan tidak menjalankan kudanya. "Uh, wangi arak yang
    menjemukan ! Masa kau tidak bosan‐bosan minum setalah tiga hari tiga
    malam terus minum bersama ayah ? Kwee‐koko, aku" aku pernah disebut
    ayah bunga kecil harum dan orang‐orang di sana semua mengatakan bahwa
    ada ganda harum sari seribu bunga keluar dari tubuhku. Apakah kau tidak
    mencium ganda harum itu?"
    Kwee Seng tersentak kaget. Alangkah beraninya gadis ini ! Alangkah
    bebasnya dan genitnya ! Mengajukan pernyataan dan pertanyaan macam itu
    kepada seorang pemuda. Dia sendiri yang mendengarnya menjadi merah
    wajahnya, akan tetapi secara jujur ia berkata, "Memang ada aku mencium
    bau harum itu, nona, semenjak kita bertanding ganda harum itu tidak eh,
    tidak pernah terlupa olehku. Eh, bagaimana ini!" Ia tergagap dan untuk
    menutupi malunya kembali ia menenggak araknya. Lu Sian menahan
    tawanya dan hatinya makin gembira. Kiranya laki‐laki ini tiada bedanya
    dengan yang lain, mahluk lemah dan bodoh, canggung dan kaku kalau
    berhadapan dengan gadis ayu ! Alangkah akan senang hatinya dapat
    mempermainkan laki‐laki ini, mempermainkan pendekar yang memiliki
    kepandaian tinggi, yang kesaktiannya menurut ayahnya ketika membisikkan
    pesan tadi, tidak berada di sebelah bawah tingkat ayahnya !
    "Kwee Seng, berhenti!!" Tiba‐tiba terdengar bentakan dari belakang pada
    saat Kwee Seng sedang minum araknya di awasi oleh Lu Sian. Gadis itu
    terkejut karena mengenal suara bentakan. Cepat ia membalikkan tubuh
    diatas punggung kudanya.
    "Ma‐susiok (Paman Guru Ma)! Ada keperluan apakah Susiok menyusul
    kami?" Biarpun masih duduk di atas kudanya membelakangi mereka yang
    baru datang, Kwee Seng tahu bahwa yang datang adalah dua orang.
    Kemudian ia merasa heran juga ketika mendengar suara Ma Thai Kun
    berubah sama sekali dalam jawaban pertanyaan Lu Sian.
    "Lu Sian, kau menjauhlah dulu. Urusan ini adalah urusan antara Kwee Seng
    dengan aku dan percayalah, tindakanku ini sesungguhnya demi kebaikan
    dirimu."

  2. Hot Ad
  3. #47

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 47
    Kwee Seng adalah seorang pemuda yang amat halus perasaanya. Ia maklum
    orang macam bagaimana adanya sute ke dua dari Pat‐jiu Sin‐ong ini, seorang
    kasar dan pemarah, sombong dan tinggi hati. Mengapa tiba‐tiba terkandung
    getaran halus yang amat berlawanan dengan wataknya itu ketika bicara
    terhadap Lu Sian ?
    Tiba‐tiba ia teringat akan semua peristiwa di Nan‐cao dan keningnya
    berkerut. Tahulah ia sekarang sebabnya dan sekaligus terbongkar sudah
    olehnya semua rahasia pembunuhan di Beng‐kauw. Hal ini mendatangkan
    marah di hatinya dan ia berkata.
    Nona, lebih baik kau menuruti permintaan susiokmu. Kau minggirlah, dan
    biar aku bicara dengannya.Liu Lu Sian tersenyum dan menjauhkan kudanya
    dengan wajah berseri. Hal inilah yang tidak dimengerti oleh Kwee Seng.
    Mengapa gadis itu malah tersenyum seperti orang bergembira padahal jelas
    bahwa paman gurunya mempunyai niat tidak baik terhadap dirinya ? Ia tidak
    peduli, lalu meloncat turun dari atas kudanya dengan guci arak masih di
    tangan kiri, sambil membalik sehingga ketika kedua kakinya menginjak
    tanah, ia berhadapan dengan Ma Thai Kun dan seorang laki‐laki muda yang
    sikapnya tenang sungguh‐sungguh, berpakaian sederhana memakai caping
    dan punggungnya terhias sebatang cambuk. Ma Thai Kun merah mukanya,
    alisnya berkerut dan sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan.
    Ma Thai Kun, katakanlah kehendak hatimu sekarang. Kwee Seng, kau seorang
    yang telah menghina Beng‐kauw ! Kau tidak memandang mata kepada tokohtokoh
    Beng‐kauw, mengandalkan kepandaian mengalahkan seorang wanita
    muda, mengandalkan mulut manis mengelabuhi seorang tua. Twa‐suheng
    boleh saja kau kelabuhi, akan tetapi aku Ma Thai Kun takkan membiarkan
    kau pergi menggondol keponakanku begitu saja untuk melaksanakan niatmu
    yang kotor!
    Wah‐wah ! Hatimu dan pikiranmu sendiri berlepotan noda, kau masih bicara
    tentang niat kotor orang lain. Bagus sekali mengenal tangan mautmu yang
    telah kau pergunakan untuk membunuh tujuh orang pemuda di rumah
    penginapan dan tiga orang pemuda yang sudah kalah oleh Nona Liu Lu Sian!

  4. #48

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 48
    Ma‐susiok ! Betulkah itu?Tiba‐tiba Lu Sian yang mendengar kata‐kata ini
    bertanya dengan suara terdengar gembira. Benar‐benar Kwee Seng tidak
    mengerti dan sekali lagi ia terheran‐heran atas sikap Lu Sian ini.
    Merah wajah Ma Thai Kun. Memang betul aku membunuh mereka. Cacingcacing
    tanah itu tak tahu malu dan berani mengharapkan yang bukan‐bujan,
    orang‐orang macam mereka mana patut memikirkan Lu Sian ? Aku
    membunuh mereka apa sangkut‐pautnya dengan kau, Kwee Seng?
    Suheng Kenapa kau lakukan kekejaman itu ? Bukankah Ji‐suheng sudah
    melarang kitaOrang muda bertopi runcing itu bertanya, suaranya penuh
    kekuatiran.
    Sute, tak usah kauturut campur ! Kau anak kecil tahu apa!
    Kwee Seng tertawa bergelak. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa orang
    muda yang menjadi adik seperguruan Ma Thai Kun ini seorang yang jauh
    bedanya dengan saudara‐saudara seperguruannya, jauh lebih bersih
    batinnya.
    Ma Thai Kun, memang urusan dengan pemuda itu tiada sangkut‐pautnya
    dengan aku, akan tetapi pembunuhan keji itu tak boleh kudiamkan saja tanpa
    menegurmu. Apalagi, kau masih menitipkan sebuah benda kepadaku, apakah
    kau tidak ingin memintanya kembali?Sambil berkata demikian, Kwee Seng
    mengeluarkan sebatang jarum merah dari saku bajunya. Kau mengenal ini ?
    Kau menghadiahkan ini kepadaku selagi aku tidur, dan untuk kebaikan hati
    itu aku belum membalasnya.Kwee Seng menyindir.
    Berubah wajah Ma Thai Kun. Kau kaukah jahanam itu ?bentaknya dan tanpa
    memberi peringatan lagi ia sudah menerjang ke depan, menggerakkan kedua
    tangannya mengirim serangan maut dengan pukulan‐pukulan yang
    mengandung tenaga sin‐kang sepenuhnya.
    iii . aiih. inikah tangan maut yang mengandung racun merah itu ?Kwee Seng
    mengelak sambil mengejek dan tiba‐tiba dari dalam guci arak itu meleset

  5. #49

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 49
    keluar bayangan merah dari arah yang mencrat dan menyerang muka Ma
    Thai Kun. Biarpun hanya benda cair, karena arak itu digerakkan oleh tenaga
    lwee‐kang, terasa seperti tusukan jarum. Ma Thai Kun cepat mengibaskan
    tangannya dan hawa pukulannya membuat arak itu pecah bertebaran. Akan
    tetapi mendadak sebuah guci arak yang sudah kosong melayang ke arah
    kepalanya. Ma Thai Kun menangkis dengan tangan kirinya.Brakkk !guci itu
    pecah pula berkeping‐keping. Namun Kwee Seng sudah merasa puas.
    Serangannya yang mendadak dapat memecahkan rahasia gerakan Ma Thai
    Kun, maka ia sudah dapat menyelami dasarnya. Maka ketika Ma Thai Kun
    menerjangnya lagi, ia menyambut dengan gerakan kedua tangan yang sama
    kuatnya. Kwee Seng tidak mengeluarkan senjata melihat lawannya juga
    bertangan kosong.
    Memang di antara para saudara seperguruannya, Ma Thai Kun terkenal
    seorang ahli silat tangan kosong yang tak pernah menggunakan senjata.
    Namun, kedua tangannya merupakan sepasang senjata yang mengandung
    racun, menggila dahsyat dan ampuhnya ! Jarang ia menemui tandingan,
    apalagi kalau lawannya juga bertangan kosong. Baru beradu lengan
    dengannya saja sudah merupakan bahaya bagi lawan.
    Namun kali ini Ma Thai Kun kecelik. Lawannya biarpun masih muda, namun
    telah memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi sekali. Biarpun ia tidak
    mengisi kedua lengannya itu telah kebal terhadap hawa‐hawa beracun yang
    betapa ampuhnya pun juga, karena ketika ia merantau dan berguru
    kepadanya pertapa‐pertapa di Pegunungan Himalaya, ia telah melatih dan
    menggembleng kedua lengannya dengan obat‐obat mujijat, juga di dalam
    pertempuran berat ia selalu Mengisi kedua lengannyadengan hawa sakti dari
    dalam tubuhnya.
    Pertandingan itu hebat bukan main. Setiap gerakan tubuh, baik tangan
    maupun kaki, membawa angin dan menimbulkan getaran, bahkan tanah yang
    mereka jadikan landasan serasa tergetar oleh tenaga‐tenaga dalam yang
    tinggi tingkatnya. Beberapa kali Ma Thai Kun menggereng dalam
    pengerahkan tenaga racun merah, disalurkan sepenuhnya ke dalam lengan
    yang beradu dengan lengan lawan. Namun akibatnya, dia sendiri yang
    terpental dan merasa betapa hawa panas di lengannya membalik. Makin
    merahlah ia dan terjangannya makin nekat.
    Ma Thai Kun, manusia macam kau ini semestinya patut dibasmi. Akan tetapi
    mengingat akan persahabatan dengan Pat‐jiu Sin‐ong, melihat pula muka

  6. #50

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 50
    nona Liu Lu Sian yang masih terhitung murid keponakan dan melihat muka
    adik seperguruanmuyang bersih hatinya, aku masih suka mengampunkan
    engkau. Pergilah!
    Sambil berkata demikian, tiba‐tiba Kwee Seng merendahkan tubuhnya,
    setengah berjongkok dan kedua lengannya mendorong ke depan. Inilah
    sebuah serangan dengan tenaga sakti yang hebat. Tidak ada angin bersiut,
    akan tetapi Ma Thai Kun merasa betapa tubuhnya terdorong tenaga yang
    hebat dan dahsyat. Ia pun merendahkan diri, mendorongkan kedua
    lengannya untuk bertahan, namun akibatnya, terdengar bunya berkerotokan
    pada kedua lengannya dan tubuhnya terlempar seperti layang‐layang putus
    talinya, lalu ia roboh terguling dan kedua lengannya menjadi bengkakbengkak.
    Orang she Kwee, kau melukai suhengku, terpaksa aku membelanya!kata
    orang muda bertopi runcing sambil melepaskan cambuknya dari punggung.
    Saudara yang baik, siapakah namamu?Kwee Seng bertanya, suaranya
    halus."Aku bernama Kauw Bian, saudara termuda dari Twa‐suheng Liu
    Gan.Hemm, kaulihat kau seorang yang jujur dan baik. Mengapa engkau
    henndak membela orang yang meyeleweng daripada kebenaran?
    Tindakan Sam‐suheng memang tidak kusetujui, akan tetapi sebagai sutenya,
    melihat seorang suhengnya terluka lawan, bagaimana aku dapat diam ?
    Kewajibankulah untuk membelanya ! Orang she Kwee, hayo keluarkan
    senjatamu dan lawanlah cambukku ini!Setelah berkata demikian, Kauw Bian
    menggerakkan cambuknya keatas dan terdengar bunyi Tar‐tar‐tar!nyaring
    sekali. Diam‐diam Kwee seng kagum sekali. Cambuk itu biarpun kelihatan
    seperti cambuk biasa, namun ditangan orang ini dapat menjadi senjata yang
    ampuh sekali. Dan ia kagum akan isi jawaban yang membayangkan kejujuran
    budi dan kesetiaan yang patut dipuji. Maka Kwee Seng segera menjura dan
    berjata.
    Kauw‐enghiong, sikapmu membuat aku lemas dan aku mengaku kalah
    terhadapmu. Maafkanlah, aku tidak mungkin mengangkat senjata melawan
    seorang yang benar, dan aku pun percaya kau tidak seperti Suhengmu untuk
    menyerang seorang yang tidak mau melawan.Setelah berkata demikian,

  7. #51

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 51
    Kwee Seng melompat keatas kudanya, menoleh kepada Lu Sian sambil
    berkata.
    Nona, terserah kepadamu ingin melanjutkan perjalanan bersamaku atau
    tidak.Lalu ia melarikan kudanya pergi dari situ. Liu Lu Sian tercengang
    sejenak lalu tersenyum dan membedal kudanya pula, mengejar. Tinggal
    Kauw Bian yang masih memegang pecut, tidak tahu harus berbuat apa dan
    hanya dapat memandang dua buah bayangan yang makin lama makin kecil
    dan akhirnya lenyap itu.
    Kauw Bian‐sute ! Adik macam apa kau ini ? Kenapa tidak serang dia?Kauw
    Bian terkejut dan cepat menoleh. Kiranya Ma Thai Kun sudah berdiri di
    belakangnya, meringis kesakitan dan ke dua lengannya masih bengkakbengkak.
    Tidak mungkin, Suheng. Dia tidak mau melawanku, bagaimana aku bisa
    menyerang orang yang tidak mau melawan?
    Ahhh, dasar kau lemah. Mendadak Ma Thai Kun menghentikan omelannya
    karena mendadak bertiup angin dan sesosok tubuh tinggi besar melayang
    turun.
    Kiranya Pat‐jiu Sin‐ong Liu Gan yang datang. Jelas bahwa tokoh ini marah,
    sepasang matanya melotot memandang Ma Thai Kun dan begitu kakinya
    menginjak tanah, ia lalu membentak.
    Ma Thai Kun ! Bagus sekali perbuatanmu, ya ? Kau layak dipukul seperti
    ******!Tangan kiri Liu Gan bergerak dan Plakkk, plakkk!telapak dan
    punggung tangan sudah menampar cepat sekali mengenai sepasang pipi Ma
    Thai Kun yang terhuyung‐huyung ke belakang. Pucat muka Ma Thai Kun dan
    matanya menyipit berbahaya ketika berdongak memandang.
    Twa‐suheng, apa kesalahanku? Masih bertanya tentang kesalahannya lagi ?
    ****** hina kau ! Kau, tua bangka, kau berani menaruh hati cinta kepada

  8. #52

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 52
    puteriku, keponakanmu ? Penghinaan besar sekali ini, tidak dapat
    diampunkan!
    Suheng, apa buktinya? ***** alas ! Kaukira aku tidak tahu akan segala
    perbuatanmu ? Sebelum kau membunuhi pemuda‐pemuda itu, pada malam
    hari itu kau membujuk‐bujuk Lu Sian dengan kata‐kata merayu, kau
    menyatakan cintamu dan minta kepada Lu Sian agar jangan mau diadakan
    pemilihan jodoh. Huh, tak malu ! Dan kau begitu cemburu dan membunuhi
    para pemuda yang tergila‐gila kepada Lu Sian, malah engkau membunuh tiga
    orang pemuda yang sudah kalah oleh Lu Sian. Kemudian sekarang kau berani
    mampus menghadang Kwee Seng sehingga dikalahkan dan karenanya
    menampar mukaku. *******!!
    Mendengar ini semua, Kauw Bian mukanya sebentar merah sebentar pucat
    saking heran, terkejut, dan bingung mendengar kelakuan Sam‐suheng (Kakak
    Seperguruan ke Tiga). Namun Ma Thai Kun malah tersenyum.
    Twa‐suheng, semua itu memang benar ! Akan tetapi, apa salahnya kalau aku
    mencinta Lu Sian ! Dia wanita dan aku laki‐laki ! Agama kita tidak melarang
    akan hal ini, tidak melarang perjodohan antar keluarga, apalagi antara kita
    hanya ada hubungan keluarga seperguruan. Twa‐suheng, memang aku
    mencinta Lu Sian dengan sepenuh jiwaku. Lu Sian sendiri tidak marah
    mendengar pengakuanku, mengapa Suheng marah‐marah?
    Gemertak bunyi gigi dalam mulut Pat‐jiu Sin‐ong Liu Gan. Jahanam hina ! Apa
    kau kira menjadi tanda bahwa dia membalas cintamu ? Huh, ****** dan hina
    ! Lu Sian selalu akan gembira mendengar orang laki‐laki jatuh cinta
    kepadanya, karena ia ingin menikmati kelucuan badut‐badut itu ! Kau sama
    sekali tidak memandang mukaku, maka kau harus binasa sekarang juga!Liu
    Gan sudah bergerak maju, akan tetapi ia menarik kembali tangannya ketika
    melihat Kauw Bian melompat ke tengah menghalanginya.
    Kauw Bian Sute, mau apa?? Maaf, Twa Suheng. Terus terang saja siauwte
    seendiri tidak setuju perbuatan Ma‐suheng itu. Akan tetapi, Twa‐suheng,
    betapapun besar kesalahannya, kiranya tidaklah baik kalau Twa‐suheng
    menjatuhkan hukuman mati kepada Ma‐suheng. Pertama, mengingat akan
    saudara seperguruan, ke dua hal itu akan menjadi buah tertawaan dunia
    kang‐ouw dan merendahkan nama besar Twa‐suheng, malah menyeret pula

  9. #53

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 53
    nama Beng‐kauw yang kita cintai. Betapa dunia kang‐ouw akan gempar kalau
    mendengar bahwa Ketua Beng‐kauw membunuh adik seperguruannya
    sendiri.
    Liu Gan mengerutkan kening, menarik napas panjang dan memeluk sutenya
    yang paling muda dan memang paling ia saying itu. Ah, Siauw‐sute ! Kau
    masih begini muda namun pandanganmu luas, pikiranmu sedalam lautan.
    Untung ada engkau yang dapat menahan kemarahan ku. Eh, Ma Thai Kun,
    minggatlah kau ! Mulai detik ini, aku tidak sudi lagi melihat mukamu dan
    kalau kau berani muncul di depanku, hemmm, aku tidak peduli lagi, pasti aku
    akan membunuhmu !
    Ma Thai Kun menjura dalam‐dalam lalu membalikkan tubuh dan lenyap di
    antara pohon‐pohon. Kauw Bian menarik napas panjang dan mengusap dua
    titik air matanya dari pipi.
    Kau menangis, Sute ?Liu Gan bertanya heran. Dengan suara serak Kauw Bian
    menjawab, masih membalikkan tubuh memandang ke arah perginya Ma Thai
    Kun. Perbuatan manusia selalu mendatangkan kebaikan dan keburukan,
    Twa‐suheng. Kalau kita mengingat yang buruk‐buruk saja memang dapat
    menimbulkan benci. Akan tetapi saya teringat akan kebaikan‐kebaikan Masuheng
    selama menjadi kakak seperguruan, dan bagaimana hati saya takkan
    sedih melihat dia pergi untuk selamanya ? Betapapun juga, beginilah agaknya
    yang paling baik. Dengan penuh duka adikmu ini melihat betapapun juga Masuheng
    pergi membawa serta dendam dan kebencian yang hebat, yang tentu
    akan membuatnya nekat dan melakukan hal‐hal yang berbahaya. Akan tetapi
    karena Twa‐suheng mengusirnya, berarti bahwa semua perbuatannya tiada
    sangkut‐pautnya dengan Beng‐kauw.
    Mendengar kata‐kata ini, berkerut kening Pat‐jiu Sin‐ong Liu Gan. Hemmm,
    agaknya benar lagi pendapatmu tentang baik buruk yang lekat pada
    perbuatan manusia. Kwee Seng kelihatan seorang yang pilihan, akan tetapi
    siapa tahu sewaktu‐waktu sifat buruknya akan menonjol pula. Kauw Bian
    Sute, kau kembalilah dan bantulah Suhengmu Liu Mo menjaga Beng‐kauw
    dan beri laporan kepada Sri Baginda bahwa aku akan merantau selama dua
    tiga bulan.

  10. #54

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 54
    Twa‐suheng hendak membayangi perjalanan Kwee Seng dan Lu Sian ? Itu
    baik sekali, Twa‐suheng, karena perjalanan bersama antara seorang pri dan
    wanita, sungguh merupakan bahaya besar yang bahayanya lebih banyak
    mengancam si wanita daripada si pria.
    Sute, kau benar‐benar berpemandangan tajam. Nah, aku pergi !Pat‐jiu Sinong
    Liu Gan berkelebat, angin menyambar dan ia sudah lenyap dari depan
    Kauw Bian. Pemuda yang berpakaian sederhana seperti pengembala ini
    menarik napas panjang saking kagumnya, kemudian ia pun melangkah pergi
    dari hutan itu.
    Musim dingin telah tiba dan melakukan perjalanan pada musim dingin
    bukanlah hal yang menyenangkan atau mudah. Apalagi kalau hanya
    menunggang kuda tanpa ada tempat untuk berlindung dari serangan hawa
    dingin yang menusuk tulang, tidak mengenakan baju bulu yang tebal, tentu
    perjalanan itu akan mendatangkan sengsara dan juga bahaya mati
    kedinginan.
    Namun, tidak demikian agaknya bagi Kwee Seng dan Liu Lu Sian. Dua orang
    muda ini bukanlah orang‐orang biasa, melainkan pendekar‐pendekar yang
    sudah gemblengan yang dengan ilmunya telah dapat menyelamatkan diri
    daripada serangan hawa dingin tanpa bantuan benda luar seperti baju tebal
    dan selimut. Mereka melakukan perjalanan seenaknya dan hanya mengaso
    kalau kuda yang mereka tumpangi sudah lelah dan kedinginan.
    Pada siang hari itu, mereka mengaso di pinggir Sungai Wu‐kiang yang
    mengalirkan airnya perlahan‐lahan ke jurusan timur. Airnya tampak tenang
    dan sedikit pun tidak bergelombang, membayangkan bahwa sungai itu amat
    dalam. Lu Sian menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh dua
    ekor kuda mereka, juga dengan bantuan api, mereka merasa nikmat dan
    hangat.
    Kwee‐koko, sudah dua pekan kita melakukan perjalanan, akan tetapi belum
    juga kau penuhi dua permintaanku.Lu Sian berkata sambil mengorek‐orek
    kayu membesarkan nyala api.

  11. #55

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 55
    Nona ? Nah, yang dua belum dipenuhi, yang satu dilanggar pula. Berapa kali
    sudah kukatakan supaya kau jangan menyebut Nona kepadaku ? Wah, pelajar
    apakah kau ini, Begitu pikun dan kurang perhatian ? Mana bisa maju
    mempelajari sastra begitu sulitnya!
    Kwee Seng menarik napas panjang. Gadis ini memang hebat. Tidak saja
    benar‐benar mempunyai kecantikan yang asli dan gilang‐gemilang, yang
    cukup meruntuhkan hatinya, namun juga memiliki watak yang kadangkadang
    membuat ia bertekuk lutut karena ia jatuh hatinya. Watak yang
    berandalan, namun seakan‐akan dapat menambah terangnya sinar matahari,
    menambah merdu kicau burung, menambah meriah suasana dan menjadikan
    segala apa yang tampak berseri‐seri. Akan tetapi, juga makin yakin hatinya
    bahwa di balik segala keindahan, segala hal‐hal yang menjatuhkan hatinya
    ini, tersimpan sifat‐sifat lain yang amat bertentangan dengan hatinya. Sifat
    kejam dan ganas, tidak mempedulilkan orang lain, terlalu cinta kepada diri
    sendiri, dan tidak mau kalah, ingin selalu menang dan berkuasa saja.
    Memang aku seorang pelajar yang gagal, tidak lulus ujian.Ia menjawab
    kemudian menambahkan. au minta aku menceritakan riwayatku, apakah
    gunanya ? Aku tidak ada riwayat yang pantas menjadi cerita, aku seorang
    sebatang kara, yatim piatu, miskin dan gagal. Apalagi ? Tentang
    permintaanmu ke dua mempelajari ilmu silat yang sedikit‐sedikit aku bisa,
    nantilah, belum tiba saatnya.
    Wah, kau jual mahal, Koko!Lu Sian mengejek dan mengisar duduknya
    mendekati pemuda itu. Memang demikianlah selalu sikap Lu Sian, terhadap
    siapapun juga. Jinak‐jinak merpati, tampaknya jinak tapi tak mudah didekati !
    Hawa begini dingin, kalau ditambah sikapmu, bukankah kita akan menjadi
    beku ? Eh, Kwee‐koko, kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah seorang ahli
    silat yang lihai, kau ini pelajar gagal dan murung mengingatkan aku akan
    seorang penyair yang sama segalanya dan sama murungnya dengan engkauhi
    hikGadis ini menutup mulutnya dengan tangan, akan tetapi matanya jelas
    mentertawakan Kwee Seng.
    Penyair mana yang kau maksudkan?Biarpun tahu gadis itu hanya
    menggodanya, namun bicara tentang syair dan menyair menimbulkan
    kegembiraan selalu bagi Kwee Seng.

  12. #56

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 56
    Siapa lagi kalau bukan Tu Fu ! Pernah aku mendengar ayah bicara tentang
    syair‐syairnya, mengerikan!
    Mengapa mengerikan kalu dia selalu mencurahkan isi hatinya berdasarkan
    kenyataan dan terdorong oleh rasa kasihan kepada sesamanya?
    Bukan rasa kasihan kepada sesamanya, Koko, Melainkan rasa kasihan kepada
    diri sendiri ! Karena keadaannya miskin terlantar, dia pandai bicara tentang
    kemiskinan. Coba dia itu kaya raya, atau andaikata tidak kaya harta benda,
    sedikitnya kaya akan cinta kasih kepada alam seperti penyair yang seorang
    lagieh, siapa itu yang suka memuji‐muji alam, yang sukamabok‐mabokan, gila
    arak seperti kau pula
    Kau maksudkan penyair Li Po? Na, dia itulah. Kalau Seperti Li Po yang
    memandang dunia dari segi keindahan, tentu dalam kemiskinannya Tu Fu
    takkan begitu pahit dan pedas sajak‐sajaknya. Wah, aku seperti mengajar itik
    berenang ! Kau tentu lebih tahu dan pandai. Aku paling ngeri mendengar
    syair Tu Fu tentang anggur, daging dan tulang. Bagaimana bunyinya, Kweekoko?
    Kwee Seng meramkan mata, menengadahkan mukanya yang tampan ke atas
    lalu mengucapkan syair ciptaan Tu Fu dengan suara bersemangat,
    terpengaruh oleh isi sajak yang memaki‐maki keadaan pada waktu itu.
    Di sebelah dalam pintu gerbang merah hangat indah serba mewah anggur
    dan daging bertumpuk‐tumpuk sampai masam rusak membusuk ! Di sebelah
    luar pintu gerbang merah dinding kotor serba miskin berserakan tulangtulang
    rangka mereka yang mati kedinginan dan kelaparan!
    Iiiihhh ! Itu bukan sajak namanya!Lu Sian mencela, kelihatan jijik dan ngeri,
    Tidak enak benar mendengarkan sajak seperti itu.
    Memang sajak itu keras dan tegas, agak berlebihan, namun mengandung
    kegagahan yang tiada bandingnya, Noneh, Moi‐moi.

  13. #57

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 57
    Sepasang bibir indah merah terbelah memperlihatkan kilatan gigi seperti
    mutiara ketika Lu Sian mendengar sebutan moi‐moi (dinda) itu. Diam‐diam
    ia mentertawakan Kwee Seng di dalam hatinya. Katakanlah kau menang
    dalam ilmu silat, boleh kau mengira dirimu gagah perkasa dan tampan,
    namun alangkah mudahnya kalau aku mau menjatuhkanmu, membuatmu
    bertekuk lutut di depan kakiku ! Demikianlah nona ini berkata dalam hatinya.
    Ah, apakah dia itu pun pandai ilmu silat seperti kau, Kwee‐koko?Biarpun aku
    juga hanya seorang bodoh, akan tetapi sedikit banyak mengerti ilmu silat,
    sedangkan mendiang Tu Fu benar‐benar seorang sastrawan yang tak tahu
    bagaimana caranya memegang gagang pedang, tahunya hanya memegang
    gagang pensil.
    Kalau begitu dia orang lemah. Bagaimana gagah tiada bandingnya?$BE.(Boimoi,
    kau tidak tahu. Biarpun orang yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali
    pada waktu itu, tak mungkin ia berani melontarkan kata‐kata yang seperti
    bunyi sajak itu, karena dapat dicap sebagai pemberontak dan di hukum mati!
    Tapi aku lebih kagum kepada penyair Li Po. Masih teringat aku akan sajaknya
    yang benar‐benar membayangkan kegagahan, kalau tidak salah begini :
    Alangkah inginku dapat terbangdengan pedang sakti di tanganmenyebrangi
    samudera untuk membunuh ikan paus pengganggu nelayan!
    Ketika mengucapkan sajak ini, Lu Sian bangkit berdiri, kedua kakinya
    terpentang, tubuhnya tegak dada membusung penuh semangat dan kelihatan
    gagah dan cantik jelita. Suaranya
    bersemangat, merdu dan penuh perasaan sehingga Kwee Seng melihat dan
    mendengar dengan mata terbelalak dan mulut ternganga ! Ia berada dalam
    keadaan seperti itu dan baru tersipu‐sipu membuang muka ketika Lu sian
    memandangnya dan bertanya.Kau kenapa, Koko?
    Tidak apa‐apa, tidak apa‐apakau pandai membaca sajak, Moi‐moi kata Kwee
    Seng gagap. Akan tetapi terdengar gadis itu terkekeh tertawa, suara ketawa

  14. #58

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 58
    yang mengandung banyak arti dan gadis itu masih tersenyum‐senyum dan
    sinar matanya mengerling tajam penuh ejekan ketika mereka bangkit berdiri
    dan berhadapan, Lu Sian menggerakkan kakinya perlahan mendekati, sampai
    dekat benar, sampai terasa benar oleh hidung Kwee Seng keharuman yang
    luar biasa keluar dari tubuh gadis itu.
    Wajah jelita itu dekat sekali dengan wajahnya, wajah yang berseri dengan
    mata bersinar‐sinar dan bibir terbuka menantang dikulum senyum. Serasa
    terhenti detik jantung Kwee Seng, bobol pertahanannya dan dengan nafsu
    yang memabokkan pikirannya didekapnya pundak Lu Sian dalam rangkulan
    dan ditundukkannya mukanya untuk mencium.
    Akan tetapi tiba‐tiba Lu Sian menundukkan mukanya sehingga yang tercium
    oleh Kwee Seng hanyalah rambutnya, rambut yang harum menyengat
    hidung, dan tiba‐tiba terdengar gadis itu bertanya, suaranya dingin aneh,
    penuh cemooh. Hai, Kwee Seng pendekar muda yang sakti, pertapa belia
    tahan tapa dan si teguh hati, apakah yang akan kau perbuat ini?
    Seakan disiram air salju mukanya, Kwee Seng gelagapan, mukanya menjadi
    pucat lalu berubah merah, dilepaskannya dekapan tangannya dan ia
    membuang muka lalu menundukannya. Maaf ah, maafkan aku. Seperti sudah
    gila aku tadi ah, Nona Liu, maafkan aku. Kenapa kau begitubegitu jelita dan..
    dan.. keji
    Liu Lu Sian tertawa, suara tawanya merdu sekali, akan tetapi juga penuh
    dengan ejekan.
    Kwee‐koko, kau ingatlah. Agaknya kemuraman penyair Tu Fu menularimu.
    Mari kita lanjutkanTiba‐tiba Kwee Seng mendorong gadis itu yang segera
    meloncat, bermodal tenaga dorongan Kwee Seng yang juga sudah meloncat
    ke belakang dengan gerakan cepat. Sambil mengeluarkan bunyi berciutan
    menyambarlah lima batang senjata piauw (pisau terbang) dan menancap ke
    dalam batang pohon. Tidak hanya berhenti disitu saja penyerangan gelap ini
    karena dari tiga penjuru menyambarlah bermacam‐macam senjata rahasia
    menghujani tubuh Kwee Seng dan Lu Sian. Akan tetapi, kini dua orang muda
    yang berilmu tinggi itu kini sudah siap sedia dan waspada, dengan mudah
    mereka menyelamatkan diri. Lu Sian sudah mencabut pedangnya dan dengan
    putaran pedangnya secara indah dan cepat, semua piauw jarum dan senjata

  15. #59

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 59
    rahasia paku beracun dapat ia pukul runtuh. Adapun Kwee Seng sendiri
    hanya dengan menggerak‐gerakkan kedua lengannya saja, ujung lengan
    bajunya mengeluarkan angin pukulan, cukup membuat semua senjata!
    rahasia menyeleweng dan tidak mengenai dirinya.
    Tiba‐tiba terdengar derap kaki kuda dan ternyata dua ekor kuda mereka
    yang dilarikan orang. ******* hina dina!Lu Sian melompat, pedangnya
    berkelebat dan dua orang yang menunggang kuda mereka terjungkal, tak
    bernyawa lagi !
    Ah, Moi‐moi, kenapa begitu ganas?Kwee Seng menegur penuh sesal sambil
    memegangi kendali kudanya yang terkejut dan akan memberontak.
    Penjahat rendah yang telah menyerang secara pengecut, lalu hendak mencuri
    kuda, sudah sepatutnya dibunuh.Kata Lu Sian dengan suara dingin sambil
    menyarungkan kembali pedangnya.
    Kwee Seng membungkuk sambil memeriksa dua orang itu. Pakaian mereka
    tidak menunjukkan orang‐orang miskin, juga rapi tidak seperti malingmaling
    kuda biasa. Akan tetapi, bekas tusukan pedang Lu Sian hebat sekali,
    mereka itu sudah mati dan tak dapat ditanya lagi.
    Justeru karena mereka mengandalkan banyak orang dan secara menggelap
    menyerang kita, perlu kita ketahui apa latar belakangnya. Dua ekor kuda kita,
    biarpun merupakan kuda pilihan, kiranya belum patut menggerakkan hati
    orang‐orang kang‐ouw untuk merampasnya. Tentu saja ada apa‐apa di
    belakang semua ini, namun sayang, mereka sudah mati tak dapat ditanya lagi.
    Mari kita lanjutkan perjalanan, dua mayat ini tentu akan diurus oleh temantemannya
    yang kurasa tidak kurang dari lima orang banyaknya melihat
    datangnya senjata‐senjata rahasia tadi. Kau hati‐hatilah, Moi‐moi, kurasa
    orang‐orang yang memusuhi kita takkan berhenti sampai disini saja.
    Lu Sian mengangkat kedua pundak, memandang rendah sekali kepada
    ancaman musuh, lalu melompat ke atas punggung kudanya. Dua orang muda
    itu segera menjalankan kuda ke timur di sepanjang lembah sungai Wu‐kiang.
    Melihat Kwee Seng naik kuda dengan wajah muram dan alis berkerut, diam

  16. #60

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 60
    tak mengeluarkan kata‐kata dan sama sekali tak pernah menoleh kepadanya,
    Lu Sian bertanya.
    Koko, apakah kau masih marah kepadaku?Tanpa menoleh Kwee Seng
    berkata lirih, Kenapa marah ? Tidak!
    Diam pula sampai lama. Hanya suara derap kaki kuda mereka yang berjalan
    congklang. Dari jauh tampak tembok sebuah kota. Itulah kota Kwei‐siang
    yang terletak di tepi sungai.
    Kwe‐koko, hemm, ada apakah kau lihat aku. Tidak enak bicara dengan orang
    yang tunduk saja. Apa kau tidak sudi memandang mukaku lagi?
    Mau tidak mau Kwee Seng menoleh dan wajahnya seketika menjadi merah
    ketika ia melihat wajah gadis itu berseri‐seri, sepasang matanya
    mengeluarkan cahaya yang bersinar tajam menembusi jantungnya, yang
    seakan‐akan mengandung penuh pengertian, yang menjenguk isi hatinya
    sehingga Kwee Seng merasa seperti ditelanjangi, seperti telah terungkapkan
    semua rahasia perasaan dan hatinya.
    Sian‐moi, (adik Sian), kau mau bicara apakah?Kwee Seng mengeraskan
    hatinya, menekan perasaan.
    Kwee‐koko, kau telah jatuh hati kepadaku, bukan ? Kau mencintaiku sepenuh
    hatimu!
    Sejenak Kwee Seng menjadi pucat wajahnya. Bukan main, pikirnya. Gadis ini
    benar‐benar berwatak siluman ! Pertanyaan macam benar‐benar tak
    mungkin diajukan oleh gadis manapun juga. Ia tahu bahwa pertanyaan ini
    disengaja oleh Lu Sian, dan ia maklum pula bahwa gadis ini, sepeti seekor
    kucing, hendak mempermainkannya seperti seekor tikus. Ia merasa betapa
    jantungnya tertusuk, akan tetapi Kwee Seng adalah pemuda gemblengan.
    Cepat ia dapat memulihkan ketenangannya dan mukanya berubah merah
    kembali.

Page 4 of 16 FirstFirst 1234567814 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •