Page 5 of 16 FirstFirst 12345678915 ... LastLast
Results 61 to 75 of 229

Thread: 2. suling emas

http://idgs.in/730827
  1. #61

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 61
    Tak perlu aku menyangkal, Moi‐moi. Aku memang jatuh hati kepadamu. Kau
    terlalu cantik jelita, pribadimu mengeluarkan daya tarik seperti besi
    sembrani yang tak dapat kulawan. Kini aku balas bertanya, apakah kau tidak
    mencintaiku?
    Lu Sian kelihatan gembira dan senang sekali. Gadis ini menggerak‐gerakkan
    kepalanya, matanya bersinar‐sinar dan ia tertawa sambil menengadahkan
    muka ke atas. Aku ? Mencintaimu ? Ah, aku tidak tahu, Koko. Aku takkan
    begitu tergesa‐gesa seperti engkau mengambil keputusan tentang cinta.
    Belum cukup lama aku mengenalmu. Kau terlalu lemah lembut, terlalu
    muram. Biarlah aku mempelajarimu lebih dulu. Bukankah ayah telah
    memberi kesempatan kepadamu untuk mengawiniku, mengapa kau menolak
    dan malah berjanji akan menurunkan ilmu kepadaku?
    Aku memang cinta kepadamu, Sian‐moi, akan tetapi tentang kawin ah, terlalu
    banyak aku melihat kekejian‐kekejian di Beng‐kauw, terlalu banyak aku
    melihat keganjilan‐keganjilan yang mengerikan. Dan kau sendiriah, kurasa
    takkan mungkin kau bisa mencinta pria secara lahir batin. Aku cinta
    pribadimu, tapi mungkin aku tidak menyukai watakmu dan keluargamu!
    Kembali Lu Sian tertawa sambil menutupi mulut dengan tangannya. Kwee
    Seng makin heran. Benar‐benar gadis yang aneh. Aneh dan berbahaya sekali.
    Ia tadi sengaja berterus terang untuk membalas agar gadis ini merasa
    terpukul. Akan tetapi kiranya gadis itu malah mentertawakannya !
    Hi‐hik, kau lucu, Kwee‐koko. Aku pun belum percaya akan cintamu kalau kau
    belum buktikan dengan berlutut menyembah‐nyembah kakiku!Setelah
    berkata demikian, gadis itu berseru keras dan menyendal kendali kudanya
    sehingga binatang itu terkejut dan membalap ke depan. Kwee Seng terheranheran,
    lebih heran daripada terhina oleh ucapan aneh itu, akan tetapi ia
    merasa lega bahwa gadis itu mengakhiri percakapan yang menyakiti hatinya,
    maka ia pun lalu membedal kudanya mengejar, memasuki kota Kwei‐siang.
    Hari telah menjelang senja ketika mereka berdua memasuki kota Kwei‐siang.
    Mereka mencari sebuah rumah penginapan yang juga membuka rumah
    makan di bagian depan. Seorang pelayan penginapan tergopoh‐gopoh
    menyambut mereka, merawat kuda dan memberi dua buah kamar yang
    mereka minta. Setelah ke dua orang muda ini membersihkan diri daripada

  2. Hot Ad
  3. #62

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 62
    debu dan keringat, berganti pakaian bersih, mereka lalu mengambil tempat
    duduk di rumah makan dan memesan makanan. Kwee Seng yang masih
    belum lenyap rasa tekanan hatinya, lebih dulu memesan seguci arak yang
    paling baik.
    Wah, kau mau mabok‐mabokan lagi Koko ? Benar‐benar menjengkelkan !
    Aku malam ini ingin sekali bercakap‐cakap denganmu sampai semalam
    suntuk!
    Sambil menuangkan arak pada cawannya, Kwee Seng menjawab, memaksa
    senyum, karena kadang‐kadang, seperti sekarang ini sikap Lu Sian yang
    kekanak‐kanakan mengelus dan menghibur hatinya, melenyapkan rasa sakit
    akibat ucapan‐ucapan yang menusuk dari gadis itu pula.
    Biarpun minum arak bukan kebiasaanku dan baru saja hinggap padaku
    semenjak aku berjumpa denganmu, Moi‐moi, akan tetapi aku tak akan begitu
    mudah mabok. Bercakap‐cakap sambil minum kan dapat juga.
    Ahhh, siapa bilang ? Biar kau tidak mabok, akan tetapi kau lebih
    mencurahkan perhatianmu pada arak, dan.. eh, koko, lihat mereka itu. Tibatiba
    Lu Sian menghentikan kata‐katanya ketika melihat beberapa orang lakilaki
    muncul seorang demi seorang dari pintu depan dengan gerak‐gerik
    mencurigakan sekali. Yang pertama masuk adalah seorang laki‐laki yang
    berwajah muram, mukanya licin tidak berjenggot, pakaiannya kumal, di
    punggungnya terselip sebatang golok telanjang, usianya kurang lebih empat
    puluh tahun. Orang ini berjalan dengan gerakan kaki ringan seperti seekor
    kucing, dan ketika memasuki pintu, matanya mengerling ke arah tempat
    duduk Kwee Seng dan Lu Sian.
    Karena Kwee Seng duduk membelakangi pintu, maka Lu Sian yang
    berhadapan dengannya lebih dulu melihat dan tertarik. Apalagi ketika
    berturut‐turut masuk lima orang laki‐laki lain di belakang Si Pembawa Golok.
    Dua orang berpakaian tosu (pendeta To), seorang laki‐laki setengah tua yang
    tampan dengan rambut digelung ke atas, kemudian seorang pemuda tampan
    yang pakaiannya seperti pelajar akan tetapi di pinggangnya tergantung
    pedang, kemudian yang terakhir adalah seorang hwesio (pendeta Buddha)
    berkepala gundul yang membawa sebatang tongkat besi yang berat. Enam

  4. #63

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 63
    orang ini terang bukanlah orang‐orang sembarangan karena gerak‐gerik
    mereka ringan dan gesit.
    Koko, kau lihat mereka, bisik pula Lu Sian. Moi‐moi, mari kita minum, hal‐hal
    lain tidak perlu dihiraukan.Kata Kwee Seng yang sikapnya tetap tenang
    seakan‐akan tidak ada apa‐apa, kemudian pemuda ini minum araknya dari
    cawan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tahu‐tahu sudah
    mengeluarkan kipas yang diletakkannya di atas meja. Liu Lu Sian tersenyum
    dan kembali memperhatikan makanan yang tersedia diatas meja tanpa
    menghiraukan orang‐orang itu. Ia maklum bahwa tanpa ia peringatkan, Kwee
    Seng juga sudah tahu akan masuknya enam orang itu dan sudah siap sedia. Ia
    kagum akan sikap ini dan mendapat pelajaran bahwa menghadapi segala
    macam ancaman, lebih baik bersikap tenang sehingga dapat menentukan
    sikap dengan tepat.
    Betapapun juga, Lu Sian tak dapat menahan keinginan hatinya untuk melihat
    dengan kerling sudut matanya ke arah orang‐orang itu. Ternyata mereka
    sekarang memperlihatkan sikap yang cukup jelas. Orang pertama sudah
    mencabut golok, Si Hwesio mengangkat tongkatnya sedangkan yang lain juga
    sudah bersiap seperti orang hendak bertempur. Jelas bahwa enam orang itu
    hendak mencari perkara karena pandang mata mereka semua kini terarah
    kepadanya !Dengan gerakan penuh ancaman enam orang itu kini makin
    mendekat dan akhirnya mereka mengurung meja yang dihadapi Kwee Seng
    dan Lu Sian. Namun, Kwee Seng tetap tenang sambil minum araknya, melirik
    pun tidak ke arah mereka. Lu Sian juga bersikap tenang, namun hatinya
    berdebar. Tidak biasanya ia bersikap seperti yang diambil Kwee Seng ini.
    Biasanya, begitu ada orang memusuhinya, ia segera menurunkan tangan besi
    dan baginya, lebih cepat merobohkan lawan lebih baik.
    Para pengurus rumah makan sudah lari ketakutan menyaksikan enam orang
    itu mengeluarkan senjata dan beberapa orang tamu yang tadinya sedang
    menikmati hidangan, juga cepat‐cepat membayar harga makanan dan segara
    pergi. Semua orang sudah melihat gelagat tidak baik, hanya Kwee Seng yang
    seakan‐akan tidak tahu akan kesibukan itu semua dan enak‐enak minum.
    Siluman betina ! Kau harus mengganti nyawa puteraku!tiba‐tiba Si Pemegang
    Golok yang berwajah muram itu membentak sambil menudingkan
    telunjuknya ke arah muka Lu Sian.
    Gadis ini mendongkol bukan main, akan tetapi ia tetap duduk dan tersenyum
    mengejek, kemudian dengan mata berseri‐seri memandang kepada pemuda

  5. #64

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 64
    tampan yang membawa pedang. Pandang mata Lu Sian yang tajam, sekali
    lihat sudah tahu bahwa pemuda tampan itu sejak tadi memandang
    kepadanya penuh rasa kagum, dan hal inilah yang membuat matanya berseri
    dan senyumnya mengejek. Sengaja ia mengedip‐negedipkan mata kirinya
    lebih dulu kepada pemuda tampan itu sebelum menjawab.
    Siapakah puteramu dan siapa engkau ? Mengapa pula aku harus mengganti
    nyawa puteramu?
    ***** betina ! Masih kau hendak berpura‐pura tidak tahu sedangkan tadi
    dengan kejam kau membunuh pula dua orang pembantuku?
    hihhh hihhh jadi kalian ini golongan pencuri‐pencuri kuda ? Sungguh sayang.
    Gadis ini menggeleng‐gelengkan kepalanya sambil memandang kepada
    pemuda tampan yang tiba‐tiba menjadi merah mukanya karena Lu Sian
    seakan‐akan menunjukan kata‐kata sayangitu kepadanya.
    Siluman sombong ! Puteraku dengan baik‐baik memasuki sayembara karena
    dia begitu bodoh tergila‐gila kepada kecantikanmu, dan andaikata di dalam
    pertandingan itu dia kalah, apakah salahnya ? Kenapa dia masih harus
    dibunuh secara penasaran ? Apakah tiap laki‐laki yang gagal mengalahkanmu
    harus mati seperti anakku Lauw Kong itu?
    Teringatlah kini Lu Sian akan tiga orang pemuda yang mengeroyoknya di
    atas panggung. Memang seorang diantara mereka bernama Lauw Kong, yang
    bermuka hitam dan mengaku datang dari kota Kwi‐san yang letaknya tidak
    jauh dari kota Kwei‐siang ini.
    Oh, Si Muka Hitam itukah puteramu ? Memang aku sudah mengalahkannya,
    akan tetapi aku tidak membunuhnya!
    Kau ***** betina ! Siluman cantik ! Banyak pemuda terbunuh karena engkau
    tapi kau masih pura‐pura, dasar perempuan rendahan

  6. #65

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 65
    Cukup, ayah. Dengan maki‐makian urusan takkan beres!Pemuda tampan
    yang membawa pedang itu mencela dan maju ke depan menghadapi Lu Sian.
    Wajahnya yang tampan itu kurang menarik ketika ia bicara, dan setelah
    mendekat Lu Sian melihat bahwa mata pemuda itu agak kuning. Nona, kami
    tahu bahwa kau adalah nona Liu Lu Sian puteri Ketua Beng‐kauw. Aku adalah
    Lauw Sun, dan kakakku Lauw Kong telah mencoba memenangkan sayembara
    beberapa pekan yang lalu. Memang dia kalah oleh nona, Dan bukan nona pula
    yang membunuhnya, akan tetapi ternyata ia terbunuh dengan pukulan
    beracun dan hal ini tentu saja sepengetahuan nona. Karena itu, ayah dan
    kami minta pertanggungan jawabamu!
    Muak rasa perut Lu Sian, dan ia mendongkol sekali melihat Kwee Seng masih
    enak‐enak minum arak saja, seolah‐olah tidak perduli dirinya dimaki‐maki
    orang. Hemm, pikirnya, apakah tanpa kau aku tidak mampu membereskan
    buaya‐buaya ini ? Tiba‐tiba kakinya menghentak lantai dan tubuhnya sudah
    melayang ke belakang, kedua kakinya hinggap di atas sebuah meja yang
    masih penuh sisa hidangan dan arak bekas para tamu tadi, yang tidak sempat
    dibersihkan oleh para pelayan yang sudah lari ketakutan. Dengan gerakan
    indah ringan Lu Sian meloncat ke belakang dan kedua kakinya sama sekali
    tidak menyentuh mangkok cawan, kini ia berdiri di atas kedua ujung kakinya,
    pedangnya sudah berada di tangan kanan melintang di depan dada, matanya
    bersinar‐sinar, mulutnya tersenyum mengejek ketika ia berkata.
    Orang She‐lauw, menghadapi orang‐orang kasar macam kalian ini aku tidak
    sudi banyak bicara. Kalau kalian hendak mengeroyokku, inilah aku Liu Lu
    Sian ! Kalau aku tidak berhasil membikin mampus kalian berenam tanpa
    turun dari meja ini, jangan sebut lagi aku puteri Ketua Beng‐kauw!
    Ucapan ini benar‐benar membayangkan keangkuhan dan kesombongan, akan
    tetapi diam‐diam Kwee Seng maklum bahwa sama sekali ucapan itu bukan
    kesombongan kosong karena ia tahu, kalau enam orang itu nekat
    mengeroyok, takkan sukar bagi Lu Sian untuk membuktikan ancamannya.
    Ia dapat menduga mereka bahwa mereka itu adalah jago‐jago dari kota Kwisan,
    bahkan agaknya orang she Lauw ini dalam usahanya menuntut balas

  7. #66

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 66
    atas kematian puteranya, telah minta bantuan seorang hwesio dan dua orang
    tosu, agaknya tokoh‐tokoh dalam kuil di kota itu.
    Bagus ! Kau harus menebus nyawa anakku dan dua orang temanku!seru Si
    Pemegang Golok dan dengan gerakan cepat ia bersama enam orang
    temannya menyerbu ke arah meja di mana Lu Sian berdiri. Gadis itu
    menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengejek. Tiba‐tiba sekali,
    tanpa kelihatan gadis itu menggerakkan kakinya, cawan arak, mangkok dan
    piring beterbangan ke arah enam orang dibarengi bentakan Lu Sian.
    Nih, makanlah sebagai tebusan senjata rahasia kalian tadi!Hebat sekali
    serangan lu Sian ini. Gadis itu dengan sin‐kangnya yang sudah amat kuat,
    hanya menggunakan ujung kakinya menyentil barang‐barang diatas meja dan
    beterbanganlah mangkok dan cawan berikut isinya, yaitu masakan dan arak,
    ke arah enam orang lawannya. Demikian cepatnya sambaran benda‐benda ini
    sehinngga enam orang itu sama sekali tidak berhasil menghindarkan diri dan
    setidaknya pakaian mereka menjadi kotor tersiram kuah sayur dan arak,
    bahkan muka si Hwesio terkena hantaman mangkok penuh masakan daging !
    Tentu saja hwesio itu gelagapan karena sebagai seorang yang selamanya
    pantang makanan berjiwa, kali ini masakan daging menghantam muka dan
    banyak kuah memasuki mulutnya, membuat ia hampir muntah !
    Sebetulnya, melihat gerakan ini saja, kalau enam orang itu tahu diri, mereka
    sudah akan maklum bahwa gadis itu bukan lawan mereka. Akan tetapi
    agaknya kemarahan meluap‐luap membuat mereka mata gelap dan segera
    menggerakkan senjata masing‐masing mengepung meja itu dan menyerang
    dari semua jurusan, Lu Sian tertawa mengejek, tidak bergerak dari atas meja,
    melainkan pedangnya kadang‐kadang menyambar untuk menangkis senjata
    pengeroyok yang terlalu dekat. Kadang‐kadang ia hanya mengangkat sebelah
    kaki menghindarkan golok yang menyambar atau merendahkan tubuh untuk
    membiarkan tongkat melayang melalui atas kepalanya. Gadis ini hanya
    menanti kesempatan baik untuk membuktikan ancamannya, yaitu
    membunuh mereka tanpa turun dari meja.
    Mendadak saja, enam orang itu berturut‐turut mengeluarkan teriakan kaget
    dan senjata semua runtuh ke atas lantai karena tanpa mereka ketahui
    mengapa, tahu‐tahu tangan mereka yang memegang senjata menjadi kejang
    yang menyebabkan mereka terpaksa melepaskan senjata masing‐masing.
    Tercium oleh mereka bau arak dan tepat pada jalan darah disiku lengan

  8. #67

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 67
    mereka basah. Dengan kaget dan heran mereka saling pandang dan
    terdengarlah suara Kwee Seng yang masih saja duduk minum arak.
    Menyerang orang secara menggelap dengan senjata rahasia untuk
    membunuh sudah termasuk perbuatan pengecut, sekarang mengeroyok
    seorang gadis mengandalkan tenaga enam orang laki‐laki, sungguh amat
    memalukan. Apakah kalian masih belum mau insyaf dan tidak tahu diri,
    menantang maut yang sudah membayang di depan mata ? Lekas pungut
    senjata dan pergi barulah perbuatan orang yang berakal sehat!
    Tahulah enam orang itu sekarang bahwa yang membuat mereka semua
    terpaksa melepaskan senjata adalah pemuda pelajar yang duduk minum arak
    dengan tenangnya, sahabat puteri Ketua Beng‐kauw itu. Tentu saja hal ini
    membuat mereka menjadi gentar. Nona itu sendiri sudah cukup berat untuk
    dikalahkan, apalagi dengan adanya seorang yang demikian saktinya, yang
    tanpa bergerak dari tempat duduknya, tanpa menghentikan keasyikannya
    minum arak, sudah mampu mengalahkan mereka dan melucuti senjata
    mereka !
    Orang she Lauw tadi memungut goloknya, diturut oleh teman‐temannya lalu
    ia menjura ke arah Kwee Seng. Siauw‐enghiong (Pendekar Muda),
    kepandaianmu membuat mata kami yang bodoh, membuat kami terpaksa
    menelan hinaan dan menderita kekalahan. Bolehkah kami mengetahui siapa
    nama dan julukan Siauw‐enghiong yang gagah?
    Kwee seng menarik napas panjang, kemudian ia berdiri dengan cawan penuh
    arak di tangan kanan, diangkatnya tinggi lalu ia bernyanyi dengan lagak
    seorang mabok.
    $BE"(Bngin kipas mengusir lalat dan menyegarkan diri suara suling
    mengusir harimau dan menentramkan hati nama harta kepandaian tiada
    artinya yang penting adalah pelaksaan kebenaran dalam hidupnya!
    Enam orang itu hanya saling pandang, tidak dapat mengenal pemuda ini
    karena mereka pun tidak pernah mendengar nyanyian itu. Lu Sian tertawa
    dan dari atas meja itu ia berkata nyaring.

  9. #68

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 68
    "Sebangsa cacing macam kalian ini mana mengenalnya ? Dia bersama Kwee
    Seng, para locianpwe mengenalnya sebagai kim‐mo‐eng. Hanya dia
    seoranglah yang mampu menandingi aku. Biarpun begitu, masih belum tentu
    ia bisa menjadi jodohku ! Apalagi orang‐orang macam anakmu hendak
    memperisteri aku. Cih Bukankah itu lucu sekali?
    Enam orang itu kelihatan kaget dan tanpa bicara apa‐apa lagi mereka lalu
    meninggalkan tempat itu. Pelayan‐pelayan mulai muncul kembali,
    memandang takut‐takut ke arah Kwee Seng dan Lu Sian. Kwee Sng
    menyatakan kesanggupannya membayar harga barang‐barang yang rusak,
    mereka kelihatan senang dan melayani sepasang orang ini dengan
    kehormatan berlebihan.
    Lu Sian juga kelihatan senang dan gembira sekali. Mulutnya selalu
    tersenyum, matanya bersinar‐sinar, wajahnya berseri dan tiada hentinya ia
    menatap wajah Kwee Seng dengan sikap menggoda. Sebaliknya Kwee Seng
    sama sekali tidak kelihatan gembira. Pemuda ini sudah tidak makan lagi,
    akan tetapi melihat cara ia berkali‐kali memenuhi cawan arak dan
    meminumnya habis sekali tenggak, terang bahwa perasaan hatinya amat
    terganggu. Memang demikianlah. Hati pemuda ini tidak karuan rasanya,
    hampir ia meloncat bangun untuk lari meninggalkan gadis ini. Ia merasa
    betapa gadis ini sengaja menggodanya, sengaja hendak mempermainkannya.
    Ucapan Lu Sian tadi benar‐benar menikam jantungnya. Gadis itu di depan
    orang banyak mengakui bahwa hanya Kwee Seng yang mampu
    menandinginya, namun betapapun juga, pemuda itu belum tentu bisa
    menjadi jodohnya ! Ia merasa makin tak senang ,muak dan benci
    menyaksikan sikap Lu Sian, apalagi mengingat betapa tadi gadis itu sudah
    pasti akan membunuh enam orang lawanny! a ! kalau saja ia tidak cepatcepat
    turun tangan. Ia makin benci, akan tetapi juga makin cinta ! Makin lama
    ia berdekatan dengan gadis ini, makin besar pula daya tariknya menguasai
    hatinya.
    Kwee‐koko, dalam nyanyianmu tadi kau menyebut‐nyebut tentang kipas dan
    suling. Tentang kipasmu, aku sudah melihatnya dan sudah tahu kelihaiannya.
    Akan tetapi tentang suling, adakah kau mempunyai suling, dan pandaikah
    kau meniup suling dan mempergunakannya sebagai senjata?

  10. #69

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 69
    Aku seorang bekas pelajar gagal, biasanya hanya berkipas‐kipas
    mendinginkan kepala panas lalu menghibur diri dengan suara suling.
    Memang tadinya aku memiliki sebuah suling, akan tetapi benda itu hancur
    ketika aku bertemu dengan Ban‐pi Locia (Dewa Locia Berlengan Selaksa) di
    telaga See‐ouw (Telaga Barat).
    Terbelalak sepasang mata yang indah itu, penuh perhatian dan ingin tahu.
    Apa ? Kau betul‐betul bertemu dengan ok‐hengcia (pendeta jahat) itu ? Aku
    pernah mendengar dari ayah bahwa pendeta perkasa itu amat ***** dan keji,
    akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Ayah sendiri pernah
    bentrok dengan Ban‐pi Lo‐cia, bertempur sampai dua hari dua malam tidak
    ada yang kalah atau menang. Hanya karena khawatir kalau pertandingan
    dilanjutkan keduanya akan tewas, maka mereka menghentikan pertandingan.
    Dan kaukau bertemu dengannya ? Bertanding ? Dan sulingmu hancur
    olehnya ? Ah, Kwee‐koko, apakah kau kalah olehnya?
    Kwee Seng mengipas‐ngipas lehernya yang terasa panas oleh pengaruh arak.
    Dia memang hebat, akan tetapi juga jahat bukan main. Secara kebetulan saja
    aku bertemu dengannya ketika aku berpesiar di telaga See‐ouw. Pemuda itu
    lalu menceritakan pengalamannya seperti berikut.
    Beberapa bulan yang lalu, dalam perantauannya yang tidak mempunyai
    tujuan tertentu, tibalah Kwee Seng di telaga See‐ouw, Telaga Barat ini
    amatlah terkenal semenjak dahulu, karena luasnya, karena indahnya, dan
    karena segar nyaman hawanya.
    Air berkeriput biru sehalus beledu tilam pembaringan berkasur bulu bunga
    teratai aneka warna penghias indah dicumbu rayu ikan‐ikan emas berwarna
    cerah berperahu di telaga barat mandi sinar bulan minum arak sesudah itu
    mati pun tak penasaran!
    Nyanyian ini banyak dinyanyikan tukang‐tukang perahu yang menyewakan
    perahu mereka untuk para pelancong. Pelancong yang tergolong miskin
    cukup merasa puas dengan berjalan‐jalan disekitar telaga, yang tergolong
    cukup merasa puas dengan menyewa perahu kecil menghadapi seguci arak.
    Akan tetapi bagi para pelancong kaya raya, acaranya bermacam‐macam. Yang
    sudah pasti mereka itu akan menyewa perahu besar yang mempunyai bilik
    yang terlindung dan tertutup, memesan hidangan arak dan masakan lezat

  11. #70

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 70
    mewah, kemudian memanggil pula *******‐******* untuk melayani mereka
    makan minum sambil mendengarkan beberapa orang perempuan penyanyi
    menabuh yangkim dan bernyanyi. Pesta macam ini hampir diadakan setiap
    malam diwaktu musim tiada hujan, sehingga keadaan telaga barat amat
    meriah.
    Ketika Kwee Seng tanpa disengaja tiba di telaga See‐ouw, keadaan di situ
    sedang meriah sekali karena musim panas telah tiba. Di waktu musim panas
    mengamuk, banyak orang‐orang kaya dan pembesar‐pembesar merasa tidak
    betah tinggal di kota dan banyak yang mengungsi untuk beberapa hari atau
    pekan lamanya ke Telaga See‐ouw di mana mereka dapat menghibur tubuh
    dan pikiran, dan baru ingat pulang kalau uang sudah habis dihamburkan !
    Begitu melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian pelajar yang cukup
    rapi datang seorang diri, segera para tukang perahu merubungnya,
    menawarkan perahu mereka.
    "Mari, Kongcu (Tuan Muda), perahu saya bersih dan kosong ! Saya pesankan
    arak Hang‐ciu yang paling baik ! Kongcu perlu hidangan yang paling lezat ?
    Restoran Can‐lok atau rombongan penyanyi ? Anak buah Bibi Congcantikcantik,
    muda dan suaranya emas atau Kongcu suka ehmm ditemani bidadari
    jelita ? Tinggal pilih menurut selera Kongcu.
    Demikianlah, ribut mereka menawarkan perahu sampai *******. Kwee Seng
    tersenyum dan menggerak‐gerakkan tangan menyuruh mereka jangan bicara
    sambung‐menyambung membikin bising.
    Dengar baik‐baik, jangan ribut sendiri!katanya tertawa. Aku hanya
    membutuhkan sebuah perahu kecil yang dapat dipakai duduk berdua, tanpa
    pendayung. Perahu kecil yang bersih dan tidak bocor, terbuka tanpa bilik.
    Kemudian, boleh sediakan arak dan dua cawannya, beberapa macam
    masakan yang panas‐panas dan kemudian boleh panggil seorang *******
    yang pandai bicara, pandai main yangkim meniup suling, pandai bernyanyi
    dan pandai bermain catur.

  12. #71

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 71
    Wah, mengajak pelesir seorang bidadari, mengapa pakai perahu kecil
    terbuka, Siangkong (Tuan Muda)? Saya mempunyai yang besar, ada biliknya
    yang bersih dan enak, tidak terganggu dari luar
    Kembali Kwee Seng tersenyum dan kedua pipinya agak merah. Pemuda ini
    tidak pantang bersenang‐senang dengan wanita, akan tetapi hanya sampai
    pada batas mengobrol dan bercakap‐cakap gembira, bersenda‐gurau dan
    main catur atau mendengarkan si cantik bernyanyi atau menabuh yangkim
    meniup suling saja.
    Aku ingin menyewa perahu kecil terbuka tanpa pendayung, ada tidak? Ada!
    Ada! Jangan khawatir, Kongcu, perahu saya kecil bersih, dicat biru dan
    tanggung tidak bocor. Lima belas cni saja untuk semalam suntuk!
    Dan perempuan yang kukehendaki itu ada tidak ? Pandai bicara, pandai main
    musik, bernyanyi dan pandai main catur, tidak menolak minum arak!
    Wah, wah yang sepandai itu agaknya, hanyalah Ang‐siauw‐hwa (Bunga Kecil
    Merah) seorang . Seorang bidadari yang tercantik dan termahal disini!
    Bagus ! Kaupanggil Ang‐siauw‐hwa untukku,kata Kwee Seng, senang hatinya.
    Ah, tidak mungkin, Kongcu. Biarlah saya memanggil si Kim‐bwe (Bunga Bwee
    Emas) yang juga pandai segala biarpun tidak secantik Ang‐siauw‐hwa atau si
    Kim‐lian (Teratai Emas) yang pandai meniup suling dan cantik jelita, akan
    tetapi tidak pandai main catur dan tidak suka minum arak
    Hati Kwee Seng sudah kecewa. Tidak, aku menghendaki Ang‐siauw‐hwa itu.
    Mengapa tidak mungkin memanggil dia ? Berapa harganya ? Aku sanggup
    bayar!
    Orang‐orang itu menggeleng kepala dan seorang yang setengah tua berkata,
    suaranya perlahan seperti takut terdengar orang lain, Kongcu, kau tidak tahu.
    Ang‐siauw‐hwa amat terkenal disini dan setiap ada pembesar pesiar, tentu
    dia dipesan. Aneh memang, biarpun Ang‐siauw‐hwa merupakan kembangnya
    semua wanita disini, namun dia bukanlah ******* sembarangan. Dia hanya

  13. #72

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 72
    mau melayani bicara dan bernyanyi, main catur atau minum arak, bahkan
    mengarang syair, akan tetapi belum pernah terdengar Ang‐siauw‐hwa mau
    diajak yang bukan‐bukan.
    Bagus, dialah pilihanku ! Panggil dia!Kwee Seng tertarik sekali. Akan tetapi
    orang‐orang itu menggeleng kepala. Sekarang dia berada di perahu Limwangwe
    (Hartawan Lim) yang perahunya kelihatan di sana itu.Ia menuding
    ke arah tengah telaga di mana tampak sebuah perahu Lim‐wangwe sendiri
    yang mengadakan pesta bersama lima orang pendekar yang menjadi
    tamunya. Sejak pagi tadi Ang‐siauw‐hwa berada di sana, mungkin sampai
    semalam suntuk mereka berpesta. Nah, dengar, itu suara suling tiupan Angsiauw‐
    hwa.
    Kebetulan angin bersilir dari arah telaga dan tertangkaplah oleh telinga Kwee
    Seng tiupan suling yang merdu dan halus.
    Lebih baik jangan panggil dia, kongcu. Yang lain masih banyak, boleh Kongcu
    pilih sendiri. Ang‐siauw‐hwa hanya mendatangkan ribut belaka.
    Ah, kenapa?Kwee Seng terheran. Beberapa orang memberi isyarat akan
    tetapi pembicara itu agaknya sudah terlanjur dan berkata, Pagi tadi timbul
    keributan karena dia, Lo Houw (Macan Tua), Seorang tukang pukul yang
    terkenal di daerah ini, memaksa hendak mengajak Ang‐siauw‐hwa dan
    biarpun perempuan itu sudah lebih dulu dipanggil Lim‐wangwe, Lo houw
    tidak mau peduli dan hendak merampas Ang‐siauw‐hwa, bahkan
    mengeluarkan kata‐kata memaki Lim‐wangwe. Kemudian ia mendatangi
    Lim‐wangwe dengan perahunya dan kami semua sudah merasa kuatir. Kami
    mengenal kekejaman dan kelihaian Lo Houw, dan kami saying kepada Limwangwe
    yang berbudi halus dan suka menolong kami yang miskin. Akan
    tetapi, apa terjadi ? Lo Houw menyerang ke sana dengan perahu, akan tetapi
    ia kembali ke pantai dengan basah kuyup!Orang itu tertawa dan yang lain
    juga tertawa, biarpun ketawanya sambil menoleh ke kanan kiri, kelihatan
    takut kalau‐kalau mereka terlihat orang.
    Ah, apa yang tejadi?Kwee Seng makin tertarik.

  14. #73

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 73
    Kabarnya menurut tukang perahu yang kebetulan berada di dekat sana, Lo
    Houw meloncat ke perahu besar dan memaki‐maki. Akan tetapi tiba‐tiba
    muncul seorang di antara tamu Lim‐wangwe dan dalam beberapa gebrakan
    saja Lo Houw yang terkenal itu terlempar ke dalam air!
    Ha‐ha, dia harus berenang ke tepi!kata seorang lain. Kwee Seng tersenyum.
    Hal semacam itu tidaklah aneh baginya yang sudah biasa bertemu dengan
    peristiwa pertempuran yang lebih hebat lagi. Biarlah, kalau ia sedang
    melayani hartawan itu, aku pun tidak jadi mengajaknya menemaniku. Beri
    saja sebuah perahu kecil yang baik, sediakan satu guci arak da cawannya
    bersama sedikit daging panggang, tiga macam sayur dan sedikit nasi. Nih
    uangnya, lebihnya boleh kau miliki.Kwee Seng mengeluarkan dua potong
    uang perak yang diterima dengan tubuh membongkok‐bongkok oleh tukang
    perahu setengah tua itu yang merasa kejatuhan rejeki.
    He, tukang perahu jembel ! Lekas sediakan perahu terbaik, lima guci arak
    wangi, lima kati daging, lima macam sayur, mi lima kati dan nona‐nona manis
    lima orang yang cantik‐cantik dan muda‐muda ! Eh, kembang ******* yang
    kalian obrolkan tadi, siapa namanya?
    Kwee Seng membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara yang besar dan
    nyaring ini. Ketika melihat orangnya, ia tertegun. Bukan hanya Kwee Seng
    yang terperanjat, juga semua tukang perahu memandang dengan mata
    terbelalak, tak seorangpun menjawab.
    Pembicara ini adalah seorang laki‐laki tinggi besar, sekepala lebih tinggi
    daripada orang yang berukuran tinggi umum. Melihat pakaiannya yang
    sederhana dan longgar, apalagi melihat kepalanya yang gundul, orang tentu
    mengatakan bahwa ia seorang hwesio (pendeta Buddha). Akan tetapi yang
    meragukan, kalau benar ia seorang pendeta, mengapa ia memesan daging,
    arak, bahkan ******* ? Anehnya pula, dia itu seorang diri, mengapa memesan
    demikian banyaknya makanan dan minuman yang serba lima takar, juga
    memesan lima orang perempuan lacur ? Pertanyaan‐pertanyaan inilah
    agaknya yang membanjiri pikiran para tukang perahu sehingga sampai lama
    mereka terheran‐heran tak mampu menjawab.

  15. #74

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 74
    Heh ! Jembel‐jembel busuk, mengapa kalian diam saja ? Apakah kalian tuli
    dan gagu?Laki‐laki tinggi besar gundul yang usianya tentu lima puluh tahun
    itu membentak.
    Seorang tukang perahu yang agak tabah hatinya menjura sambil tertawatawa.
    Maaf eh, Lo‐suhutapitapi yang Lo‐suhu pesan begitu banyak
    Hwesio itu menyeringai dan melirik ke arah Kwee Seng yang berdiri dengan
    tenang, menaksir‐naksir dan mengasah otak untuk mengenal siapa gerangan
    hwesio aneh ini.
    Heh‐heh, seorang pelajar melarat saja mampu menyewa perahu dan
    membayar arak, apakah kau kira aku seorang perantau lain tidak mempunyai
    uang?Ia menggulung kedua lengan bajunya yang lebar sehingga tampaklah
    lengannya kekar kuat penuh bulu. Ia merogoh ke balik jubahnya dan
    keluarlah sebuah pundi‐pundi berisi penuh uang. Dibukanya tali pundi‐pundi
    itu danhwesio itu memperlihatkan potongan‐potongan uang emas dan perak
    ! Para tukang perahu memandang melotot dan menelan ludah. Belum pernah
    selama hidup mereka tampak sekian banyaknya uang.
    maaf, maaf, Lo‐suhu, bukan sekali‐kali saya meragukan Lo‐suhu takkan dapat
    membayar. Hanya, Lo‐suhu seorang diri, Pesanannya begitu banyak, apalagi
    pakai lima orang bidadari
    Heh..heh, ****** ! Apa salahnya ? Malah kembangnya ******* itu harus pula
    melayani aku, berapapun biayanya akan ku bayar.
    Tapi, Lo‐suhu, Ang‐siauw‐hwa telah disewa Lim‐wangwe di perahu mewah
    yang berada di sana tukang perahu itu menunjuk. Hwesio tinggi besar
    memandang dan mulutnya yang berbibir tebal mengejek.
    Biarlah nanti kujemput sendiri dia. Sekarang sediakan pesananku semua.
    Cepat dan nih uangnya, lebihnya boleh kalian bagi‐bagi!Hwesio itu
    mengeluarkan belasan potong uang perak dan melemparnya kepada tukang
    perahu seperti orang melempar sampah saja.

  16. #75

    Join Date
    Nov 2009
    Location
    jakarta
    Posts
    2,744
    Thanks: 34 / 77 / 74

    Default

    PART 75
    Gegerlah para tukang perahu. Benar‐benar hari itu mereka kejatuhan rejeki
    besar. Seperti berlumba mereka lari kesana‐kemari untuk memenuhi
    pesanan hwesio aneh. Akan tetapi Kwee Seng sudah merasa muak perutnya
    dan begitu pesanannya tiba, ia segera naik ke perahu kecil yang sudah terisi
    makanan dan minuman pesanannya, kemudian ia mendayungnya ke tengah
    telaga tanpa mempedulikan lagi hwesio tadi.
    Hemmmm, Menjemukan sekali.Pikirnya. Kalau para pembesar negeri suka
    mencuri uang negara dan makan sogokan seperti ******‐****** kelaparan,
    kalau para pendetanya melanggar pantangan, minum arak, makan daging
    dan main perempuan, akan bagaimanakah jadinya bangsa dan
    negara?Berpikir sampai disini hati Kwee Seng merasa kecewa sekali. Akan
    tetapi pemandangan telaga itu benar‐benar indah sehingga kekecewaannya
    terobati. Hari menjelang senja dan matahari di ujung barat tampak tenggelam
    ke dalam air telaga, kemerah‐merahan dan indah sekali. Kwee Seng mulai
    makan daging dan sayur, dan minum araknya sedikit demi sedikit memang ia
    tidak begitu suka minum arak.
    Makin gelap cuaca tanda malam tiba, makin indah di situ. Bulan muncul
    dengan cahayanya yang gilang gemilang, langit bersih tak tampak sedikitpun
    awan, permukaan air telaga bermandikan cahaya bulan, seakan‐akan
    terbakar menjadi emas, berkilauan. Angin bersilir membuat air emas itu
    berombak sedikit dan bunga‐bunga teratai yang berkelompok disana‐sini
    mulailah menari‐nari menggoyang‐goyangkan pinggang ke kanan kiri.
    Perahu‐perahu yang berkeliaran di permukaan telaga mulai memasang
    lampu yang dihias dengan beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning,
    menambah indahnya pemandangan di telaga itu.
    Tiba‐tiba telinga Kwee Seng tertarik oleh lengking suara suling yang sayup
    sampai, suaranya mengalun tinggi rendah sesuai dengan gerak air. Kwee
    Seng tertarik dan mendayung perahunya ke arah suara. Ternyata suara
    suling itu keluar dari sebuah perahu besar dan mewah, dan kini Kwee Seng
    dapat mendengar suara suling dengan jelas sekali. Akan tetapi ia segera
    menjadi kecewa. Suara itu tadi indah kedengarannya karena dipermainkan
    oleh angin. Setelah mendengar dari dekat, ia mendapat kenyataan bahwa
    biarpun peniupnya menguasai lagu dan irama, namun tiupannya kurang
    tenaga dan amat lemah, tidak membawakan perasaan hati peniupnya. Akan
    tetapi di samping kekecewaannya, timbul dugaan yang mendebarkan
    jantungnya. Perahu besar dan mewah inilah agaknya perahu Lim‐wangwe

Page 5 of 16 FirstFirst 12345678915 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •