Kekerasan jihadis di Burkina Faso pertama kali menjadi berita internasional bulan Januari 2016, ketika orang-orang bersenjata menembak sebuah restoran dan hotel di ibu kota, Ouagadougou, menewaskan sekitar 30 orang. Satu setengah tahun kemudian, bulan Agustus 2017, sebuah restoran Turki di kota itu menjadi sasaran, menghasilkan 18 kematian. Bulan Maret 2018, serangan ketiga di ibu kota yang melibatkan serangan terkoordinasi terhadap sasaran seperti markas tentara dan Kedutaan Besar Prancis menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk orang-orang bersenjata. Sekutu-sekutu al-Qaeda telah mengklaim bertanggung jawab atas semua kekerasan di Ouagadougou.

Oleh: Robbie Corey-Boulet (World Politics Review)

Militan Islam datang mengendarai sepeda motor, tiba sebelum fajar di dua desa di Burkina Faso timur. Di desa pertama, Diabiga, mereka menyerang sebuah masjid, membunuh seorang pemimpin Muslim setempat dan empat jamaah lainnya, sementara orang keenam kemudian meninggal karena luka-luka yang dideritanya. Di desa kedua, Kompienbiga, mereka membunuh tiga orang dari satu keluarga.

Serangan ganda yang terjadi tanggal 15 September 2018 tersebut tidaklah mengejutkan. Dalam beberapa pekan sebelumnya, serangkaian insiden serupa di timur merenggut sekitar 20 nyawa. Para analis mencurigai kekerasan itu dilakukan oleh Islamic State in the Greater Sahara (ISGS), yang beroperasi terutama di Mali dan negara tetangga Niger serta bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan empat tentara Amerika Serikat di Niger bulan Oktober 2017.

Namun pembunuhan sembilan warga sipil dalam satu hari di Burkina Faso timur menggarisbawahi sejauh mana militan Islam telah mengancam bagian dari negara itu, yang hingga baru-baru ini mereka abaikan. Dengan pembukaan front baru ini, berbagai kelompok jihadis yang beroperasi di Burkina Faso semakin memiliki kemampuan dan tampaknya kian bersemangat untuk menyerang wilayah mana saja di negara itu. Realitas baru ini mewakili perubahan besar dari hanya beberapa tahun yang lalu, ketika sejumlah faktor, salah satunya kesediaan mantan Presiden Burkina Faso Blaise Compaoré untuk membuat kesepakatan dengan militan, yang telah membantu menyelamatkan Burkina Faso dari kekerasan yang menimpa negara-negara tetangganya.

Ketika pemerintahan penggantinya, Presiden Burkina Faso Roch Marc Christian Kaboré merumuskan sebuah tanggapan, itu secara tidak mengejutkan ialah memimpin dengan militer. Bahkan sebelum serangan di Diabiga dan Kompienbiga, Kabore telah berjanji untuk mengambil langkah-langkah untuk “memberantas aliran terorisme” di Burkina Faso timur. Tetapi seperti yang diperlihatkan evolusi kekerasan jihadis di tempat lain di Burkina Faso, ada masalah-masalah sosial yang mendasar yang tidak siap untuk ditangani para prajurit, banyak dari mereka berakar pada kurangnya investasi, peluang ekonomi terbatas, dan meluasnya kemiskinan. Selain itu, di tengah perasaan frustrasi mereka dengan rasa tidak aman yang terus-menerus, tentara diketahui berperilaku dengan cara yang kian memperburuk situasi.

Baca Artikel Selengkapnya di sini