Tidak hanya Amerika Serikat memutuskan keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran, pemerintahan Donald Trump juga telah menetapkan salah satu angkatan bersenjata negara itu sebagai *******. Garda Revolusi Iran adalah cabang dari angkatan bersenjata Iran yang didirikan setelah revolusi Iran 1979 dan bertugas melindungi dan menjaga sistem Republik Islam Iran dengan menggagalkan kudeta, mencegah campur tangan asing di negara itu, dan memblokir “gerakan menyimpang”. Beberapa peneliti telah membandingkan peran IRGC dalam lanskap politik, sosial, dan ekonomi Iran dengan apa yang disebut “kompleks industri militer” di Amerika Serikat.

Oleh: Kourosh Ziabari (Asia Times)

Pada Minggu malam (19/5), Presiden AS Donald Trump mengancam Iran melalui Twitter: “Jika Iran ingin berperang, itu akan menjadi akhir dari Iran.”

Pernyataan itu muncul dua minggu setelah AS mengirim kapal induk ke wilayah itu, dan lebih dari sebulan setelah pemerintahan Trump mengklaim Garda Revolusi Iran sebagai entitas *******.

Meskipun ketegangan di Teluk Persia mereda dalam beberapa hari terakhir, konflik antara presiden AS terhadap Iran belum berkurang dan pemerintahannya tampaknya bertekad untuk melumpuhkan Iran sepenuhnya.

Pada Mei 2018, Presiden Trump mengecewakan Iran dengan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA), sebuah kesepakatan yang didukung oleh Dewan Keamanan PBB yang telah membentuk konsensus internasional yang damai seputar masa depan program nuklir Iran.

Keputusan kontroversial Trump untuk keluar dari JCPOA hanyalah sebagian kecil dari strategi AS yang lebih besar terhadap Iran. Pada 8 April, Presiden Trump melempar pukulan besar kedua ke Iran dalam kurun waktu dua tahun dengan menunjuk Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi ******* asing.

IRGC adalah cabang dari angkatan bersenjata Iran yang didirikan setelah revolusi Iran 1979 dan bertugas melindungi dan menjaga sistem Republik Islam Iran dengan menggagalkan kudeta, mencegah campur tangan asing di negara itu, dan memblokir “gerakan menyimpang”.

Pasukan elit militer itu diperkirakan memiliki lebih dari 150.000 personel aktif, dan dianggap sebagai penyeimbang pasukan bersenjata konvensional. IRGC juga mengendalikan milisi Basij paramiliter, yang memiliki 90.000 anggota. Cabang operasi khusus asing IRGC disebut Pasukan Quds, dan terlibat di negara-negara seperti Suriah, Irak, dan Libanon untuk mendukung sekutu lokalnya.

Baca Artikel Selengkapnya di sini