Wind who Lifts the Wings (A story about a dragon and a girl)
-------------------------------
Prolog..
-------------------------------
Aenasan, 5000 AZC. Angin musim dingin berhembus menggigit di sekitar gunung Zivilyn. Badai salju akan datang sebentar lagi dan penduduk yakin itu ulah para snow lion. Andai bila mereka berkunjung ke barat, ke Nation of Honor Fredian, mereka tentu akan melihat kegunaan snow lion sebagai transportasi yang jauh lebih efektif daripada kuda di salju, melupakan mitos itu, dan berhenti memburu monster-monster malang itu. Kalau mereka tidak bersikukuh dengan kekakuan tradisi mereka.
Desa Zivilyn terletak agak jauh di selatan gunung, memisahkan gunung tersebut dengan ibukota kecil yang religius. Sebuah kastil berada di pinggiran ibukota dan lima desa yang terletak agak berjauhan. Itulah seluruh kerajaan kecil Habbak yang berada di bawah pengawasan kerajaan tirani Avandon.
Dalam lingkup kerajaan Habbak ada pula sebuah rumah kecil di bawah gunung, yang biasa saja seperti rumah-rumah lainnya yang menyebar di tanah-tanah pertanian. Di rumah kecil itu tinggal sendiri seorang gadis bernama Cezia Majere, yang selalu sendirian sejak kematian ibunya dan kepergian ayahnya.
Cezia memiliki rambut coklat keoranyean dan mata hijau yang jauh berbeda dengan penduduk daerah itu yang rambut dan matanya serba hitam, warisan dari ibunya yang berasal dari negara lain. Pemikirannya juga jauh berbeda, kokoh, luas, dan fleksibel. Tapi itu semua tidak membuatnya benar-benar dijauhi. Bisikan tersebar di antara penduduk desa sejak hari kematian ibunya, bahwa ia penyihir yang membunuh ibunya sendiri. Cezia tidak mengomentari bisikan-bisikan itu dan menerima kesendiriannya.
Tidak jelas apakah hal itu benar tapi ia tidak menggunakan sihir untuk menghangatkan badannya karena ia sedang mengumpulkan kayu bakar. Wajahnya penuh kebosanan dan kekosongan karena hidup sendirian. Satu hari lagi yang harus dilalui, hari yang dimulai dengan sikap dingin dan bisik-bisik para pedagang yang tak pernah henti ketika ia jual beli di pasar lalu kesedihan sepanjang sisa hari. Tapi Cezia kuat, ia bersikukuh untuk tidak merenungi nasib dan melakukan tugas sehari-harinya.
Tidak jauh dari sana, seorang pria berjubah dan berkerudung hitam berjalan tertatih-tatih menyusuri salju. Jejak darah tertinggal di belakang setiap langkahnya. Hanya ego yang menolak mayatnya ditemukan lawan yang memaksanya terus berjalan ke arah yang tidak dikenalnya.
Ia sudah kehilangan banyak darah dan keputusasaanya menguras seluruh tenaga yang tersisa. Ia jatuh terkulai ke atas salju yang dingin dan tidak mampu bangkit lagi, baginya semua sudah berakhir. Ia tidak bisa meminta ataupun mengharapkan pertolongan. Matanya yang putus asa menatap jari-jarinya yang berkuku tajam, tebal, dan melengkung. Ia bukan manusia, diperjelas dengan gigi-gigi yang terlalu tajam di balik bibir yang membiru kedinginan dan telinganya yang runcing.
Ia menyesali satu hal, keabsenannya akan membawa malapetaka bagi rasnya… Ia memejamkan matanya, merasakan sensasi panas yang aneh dari perutnya yang terluka sementara salju di sekitarnya menyerang dengan dingin yang menggigit dan membekukan. Panas itu menenangkannya di tengah keputusasaan, ia menyerah pada ketenangan itu dan kehilangan kesadarannya.
Cezia merasakan perubahan udara yang bertambah dingin dan berangin, badai akan mengamuk tidak lama lagi. Cezia melangkah pergi dari tempat itu dan berharap bisa sampai di rumah sebelum badai mengoyak angkasa. Saat itulah ia menemukan pria yang terkulai tak sadarkan diri di atas salju. Cezia mendekat sambil mendekap seonggok kayu.
Wajah pria itu tampan, hal pertama yang melintas di benaknya. Wajah yang kokoh dan tegar itu terpaksa menyerah dalam ketenangan yang menuntut nyawa. Lalu ia melihat kuku-kuku yang melengkung tajam dan telinga runcing yang tidak manusiawi. Vampir? Pikir Cezia. Sebuah kata yang seharusnya membuat Cezia lari tunggang langgang ke rumahnya dan mengunci pintu. Tapi ia tertegun pada wajah yang membiru tak berdaya itu dan memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Cezia membuang semua kayu dari tangannya dan menarik pria yang berat itu dengan susah payah.