Author : The_Omicron
Site : www.the-omicron.co.cc
Genre : Fiction, Drama, Light Novel
Selene | LunaMaria series is under copyright law © 2009 the-omicron.co.cc
________
www.the-omicron.co.cc presents...
_______
Spoiler untuk Chapter 1 :
Chapter 1
The Fall of Angels
Alkisah pada zaman dahulu kala, ada cerita tentang seorang pria buta tersesat di tengah hutan. Ia tersesat setelah terpisah dengan adiknya yang menjadi penuntunnya pada saat mereka tengah dalam perjalanan menuju Kastil Hampshire. Seekor beruang muncul dan menyerang kakak beradik tersebut, membuat mereka berdua ketakutan.
Sang adik berusaha melindungi kakaknya yang buta dari serangan beruang tersebut. Namun sang kakak yang sangat menyayangi adiknya menyuruhnya agar pergi dan meninggalkan kakaknya yang buta dan tak berguna ini. Akan tetapi sang adik tidak mau meninggalkan sang kakak sendirian, mereka beradu mulut di saat yang tidak tepat. Beruntung sang kakak menyadari posisi mereka, demi keselamatan adiknya, pada akhirnya ia rela meninggalkan adiknya dari ancaman beruang itu. Mereka berjanji bahwa nanti mereka akan bertemu di Kastil Hampshire, dengan cara mengikuti bau roti almond khas Desa Hampshire ujar sang kakak.
Sang adik pun percaya kepada kakaknya, walaupun awalnya ragu, pada akhirnya ia melihat sang kakak lari menjauh dari sang beruang dan dirinya. Setelah sang kakak berlari, sang beruang tidak menyerang sang adik, tetapi pergi dan berlari mengejar sang kakak. Menyadari hal itu, Sang adik berteriak kepada kakaknya bahwa beruang itu mengejarnya, iapun menjadi sangat khawatir dan berusaha sekuat tenaga untuk dapat menemukan kakaknya terlebih dahulu daripada sang beruang.
Hutan yang lebat dan gelap membuat sulur-sulur akar dan tebing-tebing kecil menjadi halang rintangan bagi sang adik dalam pencarian kakaknya. Ia jatuh tersandung, kemudian berjalan lagi, jatuh lagi, berjalan lagi hingga seluruh tubuhnya berbalutkan luka dan memar. Setelah entah berapa lama sang adik telah berjalan ia tak kunjung dapat menemukan kakaknya. Sayup-sayup dari kejauhan ia mendengar suara gemericik air. Kehausan karena tak minum semalaman saat mencari kakaknya, sang adik mengikuti arah suara gemericik nan indah itu, mencari-cari mata air seperti apakah yang membuat suara seindah itu.
Cahaya putih yang terang terlihat dari balik pepohonan menembus bayang-bayang hutan nan lebat dan menjadi panduan bagi sang adik, ia berjalan dan berjalan menuju cahaya itu, hingga pada akhirnya ia sampai di sebuah danau besar yang sangat jernih, dengan air sejernih kristal dan air terjun kecil nan indah memantulkan dan membiaskan sinar mentari pagi.
Terpukau oleh keindahannya, sang adik hanya bisa berdiri dan terdiam memandangi danau itu. Akan tetapi setelah mengingat kakaknya kembali, ia tersadar dan meminum air danau tersebut, mencuci luka-lukanya dan membasuh wajahnya. Setelah itu ia duduk termenung memikirkan nasibnya dan nasib kakaknya, memikirkan bagaimana caranya agar ia dapat menemukan sang kakak bahkan ia tak tahu di mana pastinya letak Kastil Hampshire setelah berputar-putar di hutan semalaman.
Dikala ketermenungannya tiba-tiba sebuah suara nan lembut dan halus memanggilnya, saat ia menengok ia melihat sesosok malaikat wanita. Dengan rambut emas yang panjang, wajah yang cantik sempurna, mata berwarna biru langit, dan sayap putih yang bercahaya, malaikat itu memberikan senyumannya pada sang adik yang saat itu tak dapat berkata apapun saking takjubnya.
Malaikat itu berkata bahwa ia penjaga danau ini, dan melihat seseorang termenung di tempat yang indah ini membuatnya bertanya-tanya ada apa gerangan. Sang adik, dengan nada penyesalan yang sangat dan kekhawatiran, menceritakan semua kejadian yang menimpanya dan kakaknya.
Mendengar cerita sang adik, malaikat itu berkata bahwa ia akan membantunya hingga sang adik dapat menemukan sang kakak, pertama-tama dengan mengantarkannya ke Kastil Hampshire. Sang adik sangat setuju dan berterima kasih kepada malaikat, karenanya ia akan dapat bertemu kembali dengan kakaknya. Malaikat itu berubah wujud dengan menghilangkan sayapnya dan menggunakan pakaian manusia, kemudian bagaikan seorang gadis biasa ia memandu sang adik keluar dari hutan itu.
Akan tetapi nasib berkata lain. Meskipun sudah mencari hingga ke sudut-sudut desa, sang adik dan malaikat tetap tak dapat menemukan sang kakak. Sang adik merasa putus asa, dan jika bukan karena dukungan dari malaikat, sang adik sudah tentu akan kehilangan akalnya atau berniat mengakhiri hidupnya.
Dengan berpegang kepada keyakinan bahwa sang kakak selamat dari beruang, sang adik mencari kakaknya di hutan, tentu dengan bantuan malaikat. Seperti janjinya padanya.
Meski bertahun-tahun mereka berdua mencari keberadaan sang kakak, mereka tak dapat menemukannya. Malah mereka menemukan cinta diantara mereka berdua, menikah serta melahirkan seorang anak di rumah kayu mereka di pinggir danau.
Suatu hari, ketika sang adik tengah mencari kayu bakar di hutan, ia melihat suatu bayangan yang bergerak diantara pepohonan. Bayangan hitam itu bergerak dan bergerak seakan memanggil-manggil sang adik. Menyadari keanehan itu, sang adik memanggil istrinya, malaikat, dan bertanya padanya mahluk apakah itu, mengapa mengintipnya seolah memanggilnya ke tengah kegelapan.
Akan tetapi, malaikat juga tidak pernah menemui mahluk yang berperilaku seperti itu di hutan ini. Dengan rasa penasaran mereka berdua mengikuti mahluk itu, yang kemudian mengantarkan mereka hingga menuju sebuah gua yang tak pernah mereka lihat sebelumnya karena tertutup oleh sulur-sulur pohon.
Bau roti almond tercium dari dalam gua. Ingin mengetahui siapakah yang tinggal di gua itu, mereka berdua masuk lebih dalam, hingga mereka melihat cahaya merah dan bayangan yang menari-nari terkena sinar api.
Mereka melihat sesosok mahluk hitam berbentuk manusia, berambut hitam, dan memiliki tanduk di kepala dan sayap hitam seperti kelelawar tengah mengaduk kuali hitam yang besar, dan di sebelahnya terdapat mahluk kecil yang sama seperti dirinya. Iblis. Hanya itu julukan yang pantas bagi mahluk itu.
Dengan pelan-pelan mereka melangkah kembali keluar dari gua itu, sebelum sang penghuni mengetahui kehadiran mereka. Malangnya sang adik secara tak sengaja menendang batu kerikil hingga suaranya terdengar oleh kedua mahluk tersebut.
Terdengar langkah kaki mahluk mengerikan tersebut yang mengejar mereka. Meski mereka berdua telah berlari sekuat tenaga, mahluk mengerikan tersebut berhasil menangkap sang adik dengan cakar besarnya kemudian menghempaskan sang istri yang berusaha menolong suaminya hingga terhempas ke dinding gua. Sang adik menyuruh istrinya untuk lari dan meninggalkannya, salah satu dari mereka haruslah selamat demi anak mereka. Dan meski keberatan, sang istri dengan sangat terpaksa meninggalkan suaminya, dalam genggaman mahluk mengerikan itu. Iblis.
Iblis itu membawa sang adik yang tak berkutik dalam genggamannya. Sambil kembali mengaduk kuali hitam besar yang berisi ramuan aneh ia menggenggam sang adik. Berniat menjadikannya bagian dari ramuan aneh tersebut.
Akan tetapi, dengan suara yang amat familiar, seseorang bertanya “Istriku, apa yang kau buat untuk makan malam hari ini?”. Selangkah demi selangkah, muncullah sosok yang mengeluarkan suara itu, dan ia adalah.. Sang Kakak. Sang adik memanggil kakaknya, dan kakaknya pun mengenali suara sang adik. Sang kakak mencari-cari sang adik dengan kedua tangannya, dan entah mengapa mahluk itu melepaskan sang adik yang kemudian berlari menuju kakaknya.
Kakak beradik itu akhirnya bertemu setelah sekian tahun berpisah. Semua berjalan dengan baik, hingga sang adik bertanya pada kakaknya mengapa ia tinggal di gua ini. Tapi, sang kakak bersikeras mengatakan bahwa tempat ini bukanlah gua, tetapi kastil Hampshire, yang akhirnya ia temukan setelah mengikuti bau roti almond sewaktu dikejar oleh beruang. Ia bercerita bahwa dulu saat suara beruang itu begitu dekat dan akan menerkamnya, seseorang menolong dirinya dari terkaman beruang tersebut dan membunuhnya. Sang kakak amat berterima kasih kepada penolongnya, dan bertanya apakah tempat ini adalah Kastil Hampshire. Sang penolong yang ternyata bersuara wanita menjawab bahwa ia adalah penjaga Kastil Hampshire yang sejak 5 tahun lalu telah ditinggalkan oleh Pangeran dan keluarganya.
Sang kakak bilang bahwa ia telah sangat lama menunggu kedatangan sang adik, hingga ia akhirnya jatuh cinta dengan penolongnya yang telah memberinya tempat berteduh dan mengurus hidupnya. Ia sangat cemas kepada keselamatan sang adik, tetapi yang ia dapat malah sang adik yang menjadi aneh dengan mengatakan tempat tinggalnya adalah sebuah gua, dan ia menikah dengan seekor Iblis.
Pada akhirnya mereka berdua malah beradu mulut setelah sekian lama saling mencari. Hingga tiba pada titik dimana Sang Kakak berkata bahwa sang adik adalah Iblis yang bersuara mirip adiknya dan berusaha membuatnya menjadi gila. Sang kakak mengusir adiknya dari tempat itu, yang ditolak oleh sang adik. Hingga akhirnya, sang kakak meminta kepada istrinya, sang Iblis agar mengusir sang adik.
Sang Iblis secara tiba-tiba mencekik sang adik hingga tak dapat bersuara, kemudian menyeretnya keluar dari gua itu. Dan setelah sampai di luar, sang Iblis melempar tubuh sang adik yang tak berdaya hingga terpental jauh ke dalam hutan. Mengakibatkan benturan yang kuat di tanah dan membunuh sang adik dengan seketika. Tubuhnya terbaring di tanah dan tak bernyawa. Sang adik telah tewas di tangan sang Iblis.
Beberapa hari kemudian, Malaikat yang merupakan istri sang adik tak dapat menahan rasa cemasnya lagi. Ia kemudian nekat kembali ke gua mengerikan itu untuk mencari suaminya, hanya menemukan tubuh suaminya yang tak lagi bernyawa terbaring di tanah.
Dan sejak saat itu, sang malaikat membenci Iblis dan sekutunya. Serta memulai permusuhan antara keluarga Sang Malaikat dan anak-anaknya, Half Angel; dengan Sang Iblis dan anak-anaknya, Half Demon.
Crystal Lake, Utara New Hampshire
1 Tahun setelah bencana besar portal neraka diatas Sybill Tower. “The Black Portal”.
Sebuah rumah besar yang indah dan megah berdiri disamping danau luas yang berair jernih, sejernih kristal. Dengan latar belakang putihnya salju, danau yang membeku itu benar-benar tampak seperti sebuah kristal raksasa.
Rumah itu adalah kediaman keluarga Half-Angel, Keluarga Engelbert, sebuah keluarga pemburu bayaran yang terkenal karena rasa keadilannya. Mereka hanya menjalankan permintaan dari klien yang melibatkan segala hal yang mereka pikir “jahat”. Seperti membasmi monster, menangkap penjahat, atau bahkan membunuh target yang dapat “membahayakan” dunia menurut mereka. Disamping itu, mereka juga memiliki ciri khas keluarga Half-Angel. Rambut berwarna emas, mata biru langit, dan kulit putih yang indah. Dan jika mereka ingin, mereka juga dapat memunculkan sayap putih mereka yang bercahaya.
Dengan pemimpin karismatik yang merangkap kepala keluarga, Lucianus J. Engelbert. Ia memiliki seorang anak perempuan yang nantinya akan menjadi penerusnya, Gwendlyn J. Engelbert. Tetapi pada hari ini, mereka tak mengetahui sebuah bencana besar akan menyapu bersih isi dari rumah itu.
Sekumpulan mahluk berambut, berkulit dan bersayap hitam, dengan mata berwarna kuning dan pupil yang seperti ular, menatap rumah besar yang bercahaya tersebut. Mereka adalah keluarga Half-Demon, Keluarga Blake. Sebuah keluarga pembunuh bayaran yang terkenal karena tingkat kesuksesannya yang mutlak 100% dalam membunuh target mereka
Dengan dipimpin oleh Douglas Blake Sr. , malam ini mereka akan menyapu habis Keluarga Engelbert, keluarga yang telah menjadi musuh abadi mereka, sesuai dengan permintaan klien mereka beberapa hari yang lalu.
Komando diberikan, para Half-Demon menyerang kediaman para Half-Angel. Sebuah serangan mendadak yang melibatkan emosi, balas dendam, dan adat turun temurun berkecamuk di dalam rumah tersebut. Keluarga Engelbert yang tak menduga serangan tersebut dibantai satu demi satu. Kilatan cahaya dari peraduan pedang mereka menghiasi isi rumah yang kini gelap setelah para Half-Demon memutuskan arus listrik. Menguntungkan Half-Demon yang dapat melihat di dalam kegelapan dan merugikan Half-Angel yang berkurang pengelihatannya di dalam kegelapan. Kegelapan adalah teman Iblis, tak dapat dielak membantu menghabisi Keluarga Engelbert lebih cepat.
Hingga berpuncak kepada Douglas Blake Sr. yang berhasil melewati penjagaan dan memasuki ruang tidur utama, dimana Lucianus J. Engelbert dan anak istrinya berada disana.
Cahaya dan Bayangan tak dapat bersatu, Iblis dan Malaikat selamanya akan menjadi musuh. Begitu pula dengan Douglas Blake Sr. dan Lucianus J. Engelbert, keduanya memegang teguh “amanah” nenek moyang mereka untuk saling membenci diatas alasan dendam dan pembelaan diri.
Douglas yang membawa pedang besar berwarna hitam, dengan ukiran tengkorak di ujung gagangnya, terlihat sangat mengerikan. Pedang itu bernama Exodus, yang merupakan pedang kebanggaannya.
Tak mau kalah, Lucianus merobek udara dengan tangannya yang bersinar dan menciptakan sebuah distorsi. Ia kemudian memasukkan tangannya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah pedang besar, berwarna putih dengan huruf-huruf sihir terukir di bilahnya, dan sebuah permata berwarna biru bersinar yang berada di ujung gagangnya. Dengan tegap ia mengangkat Glory, pedang putih yang menjadi simbol Keluarga Engelbert.
Sebuah pertarungan antara 2 kekuatan besar terjadi. Ayunan pedang yang amat cepat dan kuat saling beradu. Kedua pihak tampak seimbang, sementara anak istri Lucianus hanya bisa melihatnya dengan penuh rasa takut.
Dua bawahan Douglas datang dan memasuki ruangan, dan saat itu juga Douglas memberi perintah kepada mereka untuk memenggal kepala istri dan anak Lucianus. Lucianus yang terdesak oleh serangan Douglas yang bertubi-tubi tak mampu sekaligus melindungi anak istrinya. Ia menyuruh mereka melarikan diri dari tempat itu melalui lorong rahasia di balik ranjang.
Istri Lucianus membawa Gwendlyn, melarikan diri melalui lorong rahasia. Akan tetapi kedua Half-Demon bawahan Douglas mengejar mereka. Pada akhirnya mereka terkejar dan tak dapat melarikan diri lagi. Di saat terdesak sang Ibu berubah menjadi True Angel Form, melipat gandakan kekuatannya seiring dengan sinar emas di sekeliling tubuh dan sayap putihnya. Ia menghalangi dua Half-Demon tersebut dan menyuruh Gwendlyn melarikan diri. Gwendlyn pun segera mengikuti perintah ibunya dan berlari penuh ketakutan keluar dari lorong tersebut, berlari tanpa arah di jalanan kota kecil Crystal Lake.
Akan tetapi, secara tiba-tiba salah satu dari Half-Demon tadi mendarat di depan Gwendlyn. Dengan sekujur tubuh yang penuh noda darah Half-Demon itu mengatakan bahwa ibu Gwendlyn telah membunuh rekannya, tetapi kini tidak masalah sebab ia telah membunuh ibu Gwendlyn, dengan memperlihatkan kepala ibunya pada Gwendlyn. Ia mengatakan sekarang ia akan membunuh Gwendlyn pelan-pelan agar dendam rekannya terbalaskan. Gwendlyn lari dalam ketakutan mencari siapapun yang bisa menolongnya. Dengan sang Half-Demon di belakangnya mengejar dengan tawa yang mengerikan. Hingga akhirnya Gwendlyn menabrak seseorang.
Sosok yang familiar, bertubuh pendek, mengenakan long coat dan topi fedora, serta sebuah gas mask menutupi wajahnya, tak diragukan lagi sosok itu adalah.. Oceanus. Gwendlyn bersembunyi di balik tubuh Oceanus, ia memohon agar menolongnya dari Half-Demon yang mengejarnya dan berusaha membunuhnya. Tetapi Oceanus hanya menjawabnya dengan tak bergerak dan tak berbicara. Half-Demon itupun tiba.
Melihat Gwendlyn yang bergetar hebat saat Half-Demon itu datang, Oceanus menengok pada anak kecil yang menggenggam long coatnya di sisi kirinya itu. Kemudian bertanya padanya.
“Apa kau takut?”
Gwendlyn menjawabnya dengan anggukan.
“Apa kau ingin dia mati?”
Kali ini Gwendlyn tidak menjawab apapun. Ia hanya melihat Half-Demon di seberang sana dengan rasa takut memenuhi tubuhnya. Oceanus melihat mata dan pandangan Gwendlyn, kemudian mengoreksi pertanyaannya.
“Apakah.. kau ingin membunuhnya?”
Seketika mata polos tanpa dosa Gwendlyn menjadi membara dengan rasa dendam. Melihat kepala ibunya dibawa oleh Iblis itu ia menjawab Oceanus dengan penuh amarah.
“Ya!”
“Baiklah… kau tunggu disini..”
Ujar Oceanus pada Gwendlyn yang kemudian berjalan menuju Half-Demon tersebut.
“Hei orang pendek, enyahlah jika kau- UAAAAAGH!”
Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Oceanus memotong kedua kaki Half-Demon itu dengan serangan Icicle Cutter miliknya. Half-Demon itu berteriak kesakitan setelah kehilangan kakinya, dan berusaha melarikan diri dengan merangkak. Akan tetapi, tanpa belas kasihan Oceanus sekali lagi menyerangnya dengan Icicle Cutter, kali ini memotong kedua lengannya dari tubuhnya dan membuatnya merasakan neraka dunia.
Oceanus berbalik kemudian berjalan melewati Gwendlyn sambil mengatakan sesuatu saat melewatinya.
“Sekarang silakan kau lakukan apa yang ingin kau lakukan.. ikutilah jalan pembalasan, hanya itu saranku..”
Gwendlyn menuruti amarah dan dendam di dalam dirinya. Sang malaikat telah tenggelam ke dalam lautan dendam. Ia mengambil pedang dari genggaman tangan Half-Demon yang telah terputus, lalu berjalan selangkah demi selangkah menuju Half-Demon tanpa tangan dan kaki yang tengah mengerang kesakitan.
Menyadari Gwendlyn datang dengan sebilah pedang di tangannya, Half-Demon itu ketakutan dan memohon ampun pada Gwendlyn.
“Tidak, tidak, Ampuni aku! Jangan bunuh aku! Maafkan aku!”
Akan tetapi, mata dan telinga Gwendlyn telah tertutup oleh kematian ibunya. Ia menusuk Half-Demon itu tepat di wajahnya.
“Tak ada ampunan untuk Iblis sepertimu!”.
Gwendlyn kini telah mengotori tangannya dengan darah dan hatinya dengan dendam. Sang malaikat telah terjatuh ke dalam lembah kehancuran. Tak ada jalan untuk kembali. Gwendlyn mengikuti jalan sang penolong, Oceanus. Yang akan membimbingnya ke dalam jalan tak berujung bernama “Dendam”.
Spoiler untuk Chapter 2 :
Chapter 2
The Birth of A Dark Angel
“Apa kau ingin kekuatan?”
“Apa kau ingin membalaskan dendam keluargamu?”
“Apakah.. kau ingin membunuh Douglas Blake Sr.?”
Sekejap Gwendlyn tersadar dari mimpinya. Mimpi yang sama yang selalu terulang setiap malam setelah pembantaian keluarganya. Mimpi yang selalu terulang semenjak ia mencari keadilan, semenjak ASASIN tidak menggubris permintaannya untuk menyelesaikan kasus Keluarga Blake yang menyerang dan membantai seluruh anggota keluarganya. Dengan alasan “Mereka berada di dalam kontrak, sulit bagi kami untuk melakukan investigasi” pihak ASASIN menahan kasus Gwendlyn dan tidak mau memberinya “keadilan” sebagaimana yang ia inginkan.
12 tahun berlalu setelah ia selamat dari penghabisan Keluarga Engelbert. 12 tahun ia mencari keadilan seorang diri, hingga ia harus hidup dengan berpindah-pindah dan terus mengganti namanya. Melakukannya agar lolos dari buruan Keluarga Blake, bersembunyi sambil menggerogoti mereka satu demi satu hingga tiba saatnya ia akan membalas perlakuan mereka, terutama Douglas Blake Sr. Sang kepala Keluarga Blake.
Dalam waktu 12 tahun itulah ia menemukan kenyataan demi kenyataan menyakitkan yang membuat hilang semua harapannya. Dari penelitiannya ia yang terus berharap ayahnya masih hidup harus membuang jauh-jauh harapan itu. Seorang informan yang ia bayar memberitahunya bahwa tak ada yang selamat dari kejadian itu, tidak bahkan ayah Gwendlyn. Dan untuk terakhir kalinya menghapus cahaya terakhir dari dalam hatinya. Menjadikannya Malaikat Kegelapan untuk selamanya.
Ironi selalu menempel kepada para “Pencari Keadilan”. Keberadaan mereka selalu dianggap membahayakan dan masyarakat menganggap mereka sebagai “Psikopat *******” yang akan membunuh semua yang ada di hadapan mereka. Sebuah anggapan egoistik yang hanya memandang dari satu sudut pandang. Tanpa melihat latar belakang yang menyebabkan mereka melakukannya.
Sudut pandang itu pula yang menyebabkan ASASIN mengejar Gwendlyn, sebagai pelaku 25 kasus pembunuhan, yang semua korbannya adalah Half-Demon Keluarga Blake. Pencariannya akan keadilan membuat ASASIN dan terutama, partner mereka, Keluarga Blake merasa terancam. Mengerahkan semua personil yang mereka miliki untuk menangkap dan memenjarakan Gwendlyn. Hingga ia menemui ajalnya di tiang gantungan. Hukuman yang pantas untuk pembunuh dengan kekuatan mistis.
Posisi Gwendlyn kini berbalik, ia terdesak oleh dua kekuatan besar. ASASIN, dan Keluarga Blake. Yang ingin menangkapnya hidup-hidup dan mengadilinya, sementara yang lain ingin membunuhnya untuk melengkapi misi mereka yang tak kunjung selesai selama 12 tahun. Sekaligus membuat reputasi 100% mereka menjadi tercoreng.
Dan saat itulah takdir kembali mempertemukan dua orang yang memiliki prinsip yang sama. Sekali lagi Gwendlyn diselamatkan oleh Oceanus saat ia tengah kewalahan menghadapi banyak musuh sekaligus. Ia yang sekarang tidak cukup kuat bahkan untuk melawan sekelompok kecil musuh. Membuat tujuan hidupnya masih terlihat sangat jauh.
Oceanus melihat siapa orang yang ditolongnya. Melihat rambut emas Gwendlyn, dan mata biru langit yang memancarkan cahaya kebencian dan dendam, ia mengingat
“Kau.. bukankah kau gadis yang waktu itu?! Crystal Lake?”
Senyuman mengerikan terukir dari wajah Gwendlyn, sebuah mimik yang seharusnya tak akan pernah terlihat dari seorang keturunan malaikat.
“Ya.. itu benar.. aku adalah gadis itu..”
“Jadi.. kulihat kau mengikuti saranku.. apa benar begitu?”
“Ya… tapi ada sedikit masalah.. kekuatanku tak cukup kuat untuk menghancurkan mereka semua.. aku butuh.. sesuatu.. yang bisa meningkatkan kemampuanku…”
Oceanus mulai tertawa, seakan ia sudah memiliki rencana busuk lainnya.
“Hahaha.. lalu…apa kau mau kubantu?”
“Hmph, aku bicara padamu bukan berarti membutuhkan bantuanmu. Maaf tapi aku harus pergi sekarang..”
Gwendlyn berjalan meninggalkan Oceanus, untuk kembali mencari “Keadilan”. Akan tetapi..
“Tunggu anak muda..”
Gwendlyn menoleh pada Oceanus.
“Ada apa lagi?”
“Apa kau ingin kekuatan?”
Sekejap terlihat siluet seorang Half-Demon dalam pikiran Gwendlyn.
“Apa kau ingin membalaskan dendam keluargamu?”
Terlihat kilatan kilatan wajah Douglas Blake Sr. di dalam kepalanya, di dalam pikirannya.
“Apakah.. kau ingin membunuh Douglas Blake Sr.?”
Hingga pada akhirnya, terlihat pemandangan tragis 12 tahun yang lalu, saat Douglas Blake Sr. membunuh ayahnya.
“K-kau.. bagaimana kau tahu tentang itu?”
“Hahaha, apa kau tak tahu kau begitu terkenal diantara kami?”
“K-kami? Siapa maksudmu?”
“Ya, kami, kau, aku, kita semua, kita semua, orang-orang yang mengejar ‘Keadilan’, orang-orang yang tak mendapatkan keadilan sebagaimana seharusnya.. The Fallen, aku bisa memberimu kekuatan..”
“Aku tak peduli dengan julukan-julukan anehmu itu, asalkan kau bisa membuktikan kata-katamu, sekarang, berikan aku kekuatan itu orang aneh!”
Oceanus malah tertawa mendengar hinaan Gwendlyn
“Kau sangat mirip diriku dulu… baiklah.. temui aku di reruntuhan kediaman Engelbert jam 12 malam ini”.
Oceanus berjalan meninggalkan Gwendlyn menuju gelapnya malam, seakan menghilang bagaikan bayangan. Gwendlyn bertanya-tanya siapa sebenarnya orang aneh berpenampilan aneh itu. Tapi yang jelas ia memang sangatlah kuat. Haus akan kekuatan membuat nalarnya tertutup oleh benih pembalasan.
Setelah terbangun dari tidurnya, Gwendlyn melihat jam dinding. Dimana waktu menunjukkan pukul 11:30 malam, tepat setengah jam sebelum waktu pertemuan dengan Oceanus di reruntuhan kediaman Engelbert. Tempatnya tinggal sebelum ia harus mengemban semua penderitaan ini.
Pukul 12 malam, Reruntuhan Kediaman Engelbert.
Gwendlyn terlihat sedang menunggu Oceanus di aula utama rumah megah itu. Dahulu tempat ini adalah ruangan yang paling ia sukai. Ruangan paling ramai di rumah ini. Ruangan tempatnya dulu bermain.
Dari dalam gelapnya bayangan, Oceanus muncul dengan sinar rembulan yang mendarat di topinya dari sela-sela atap yang telah runtuh. Menyorot topeng gas nya yang tanpa emosi.
“Jadi.. kau benar-benar datang.. kukira kau akan lar-“
“Diamlah, aku tak butuh basa-basi mu, aku datang hanya untuk melihat pembuktianmu”
“Hahaha.. kau gadis yang tidak sabaran.. aku suka sifatmu itu… baiklah, sesuai permintaanmu..”
Oceanus melemparkan suatu benda kecil kepada Gwendlyn, yang ternyata adalah sebuah cincin bertahtakan berlian berwarna hitam.
“Cincin? Apa ini?”
Tanya Gwendlyn bingung.
“Benda itu adalah cincin yang akan membuatmu lebih kuat, tapi aku tidak memberinya secara cuma-cuma..”
“Ya,ya, baiklah..”
Meski ragu mempercayai kata-kata Oceanus, Gwendlyn tetap menyematkan cincin yang memancarkan hawa jahat itu ke jemari tangan kirinya. Tak lama kemudian ia merasakan sesuatu merasuki tubuhnya, sesuatu yang jahat dan sangat kuat. Memberikan imej hitam setiap kali ia menutup matanya, memperlihatkan wujud monster mengerikan yang menariknya ke dalam kegelapan.
“Uakh.. a-apa yang terjadi.. mengapa.. tubuhku..”
“Tenanglah, itu hanyalah efek dari proses Lamia memanifestasi tubuhmu..”
“La-Lamia?! Iblis itu?! Kau brengsek!!”
Gwendlyn yang merasa tertipu menyerang Oceanus, akan tetapi secara tiba-tiba sebuah dinding es muncul ke permukaan dan menahan serangan Gwendlyn.
“Kau.. kau menipuku!!”
“Sejak kapan aku menipumu, aku hanya memberikan sesuatu yang kau minta..”
“DIAM!!”
Tangan kiri Gwendlyn tiba-tiba berubah menjadi cakar hitam yang besar dan mengerikan, dengan kekuatannya cakar itu memecah dan menembus dinding es yang melindungi Oceanus. Cakar itu menembus tubuh Oceanus tepat di jantungnya. Gwendlyn kemudian melempar tubuh Oceanus hingga terbentur tembok dan jatuh tak bergerak.
“Hosh hosh.. matilah kau penipu…”
Gwendlyn memperhatikan tangan kirinya yang berubah menjadi cakar monster, cakar seekor Iblis.
“Kekuatan apa ini.. mengapa tanganku..”
“Ya, itulah kekuatan yang kujanjikan padamu..”
Gwendlyn terkejut melihat Oceanus yang bangkit kembali, tanpa luka sama sekali dan tak tampak merasa sakitpun.
“Tidak perlu memikirkanku, sekarang kau bisa meminta keadilan dari para Half-Demon itu.. pergilah..”
Kilatan bayang-bayang masa lalu yang kelam kembali terbesit di benak Gwendlyn, ia tersenyum kemudian berjalan menuju pembalasan. Membelakangi Oceanus ia berkata
“Tak perlu kau suruh juga aku akan melakukannya..”
Ia terdiam sebentar kemudian..
“Terimakasih..”
Gwendlyn mengeluarkan sayap putihnya yang bersinar, kemudian sang malaikat kegelapan pergi menuntut keadilan. Ia terbang menuju kediaman Keluarga Blake di New Hampshire, sebuah rumah yang dijaga dengan ketat oleh anggota pembunuh bayaran Keluarga Blake.
Sosok sang malaikat kegelapan muncul dari gelapnya malam. Dibawah sinar rembulan sosoknya yang mengerikan berjalan dengan hawa pembunuh menuju gerbang tempat keadilan berada. Mata penuh dendam itu menyorot dengan tajam kepada para penjaga gerbang, yang menyadari bahwa nyawa mereka kini terancam.
“I-itu.. Hei! Itu ‘Lost Angel’ (sebuah kode nama yang diberikan oleh Keluarga Blake pada Gwendlyn) !”
“Heh, akhirnya sang itik malah mendatangi sarang serigala.. kudengar ia tidak terlalu kuat.. mungkin berlima bisa menghabisinya..”
“Mungkin juga kita akan mendapat kenaikan gaji dari bos.. hahaha”
Gwendlyn yang mendengarnya hanya menyeringai. Kelima jiwa menyedihkan itu tak tahu bahwa Sang Malaikat Kegelapan kini akan menuntut balas. Dengan kekuatan yang jauh dari anggapan mereka. Mencincang mereka satu demi satu tanpa kesulitan, memasuki rumah yang berdiri dengan angkuh itu. Menurunkan tangan keadilan kepada para penghuninya, tak terhentikan, tak terhindarkan, pada akhirnya Sang Malaikat Kegelapan tiba di ruang utama. Berhadapan dengan sang pembunuh ayahnya. Sang Iblis yang merenggut semua yang disayanginya. Sang Iblis yang merenggut hidupnya dan menjebloskannya ke dalam genggaman kegelapan, hingga ia tak dapat kembali lagi. Douglas Blake Sr.
Sang Malaikat tidaklah lagi agung dan bercahaya. Ia telah menjadi sesosok mahluk mengerikan dengan sepasang tanduk di kepalanya, sepasang sayap hitam yang berpangkal di punggungnya, sepasang mata bersinar oranye dengan pupil yang tajam, dan sepasang cakar hitam berkuku tajam di ujung lengannya. Membawa sebuah senjata yang tidak seharusnya bisa digunakan oleh mahluk sepertinya. Glory, The Holy Sword of Retribution. Sebuah pedang suci berwarna putih yang turun dari surga dan menjadi simbol bagi keluarga Engelbert.
Douglas Blake Sr. menghadapi Gwendlyn tanpa rasa takut terlihat dari wajahnya. Hanya kesedihanlah yang terpancar dari mimiknya. Kesedihan yang sangat Gwendlyn ketahui. Kesedihan karena kehilangan orang yang disayanginya.
“Aku datang kesini untuk menuntut keadilan darimu, bersiaplah untuk menemui ajalmu”
Ujar Gwendlyn bagaikan utusan surga untuk mencabut nyawa sang Iblis.
“Begitu ya.. baru saja istriku meninggal kini tiba giliranku..”
Douglas menundukkan badannya. Ia berlutut dan memberikan lehernya pada Gwendlyn, agar ia memisahkan kepalanya dari tubuhnya dan membebaskannya dari kesedihan.
“Silakan kau lakukan…”
“Bersiaplah wahai Iblis!”
Ayunan pedang besar itu membelah udara, meluncur tepat menuju tenguk Douglas.
Akan tetapi..
“TRANG!!”
Sebuah bunyi nyaring terdengar bersamaan dengan sebuah kilatan cahaya. Sebuah pedang hitam besar yang memancarkan aura kegelapan, Exodus, The Darkness Sword of Revenge menahan serangan Gwendlyn. Cahaya dan kegelapan beradu, kehancuran tak terhindarkan lagi. Gelombang kejut dari benturan itu menggetarkan seluruh bangunan.
“Tapi tidak untuk hari ini malaikat tengik!”
Seluruh tubuh Douglas berubah menjadi Iblis hitam dan meninggalkan bentuk manusianya. Berada dalam bentuk Half-Demon form yang meningkatkan kekuatannya menjadi beberapa kali lipat. Gwendlyn mundur dan mengambil jarak darinya.
“Kau bilang dirimu malaikat?! Apa kau tak punya cermin? Lihatlah wujudmu, sekarang kau lebih jelek bahkan dariku, Hahahaha!!”
“Aku tak butuh hinaanmu tua bangka.. sekarang bersiaplah menemui istrimu di neraka!”
“Tergantung siapa dari kita yang akan melihatnya lebih dulu!”
Keduanya meluncur dan saling menyerang. Ayunan ayunan dan sabetan demi sabetan saling beradu dan memendarkan kerlap kerlip cahaya dari luar jendela. Memainkan melodi nyaring dari benturan antara cahaya dan kegelapan. Gerakan mereka berdua terlalu cepat untuk bisa diikuti oleh manusia biasa, pertarungan tempo cepat mereka berdua amat menegangkan, yang tak mereka ketahui dilihat oleh Alex, anak laki-laki dari Douglas Blake Sr. dari dalam lemari.
Sesuai cerita klasik, pada akhirnya kegelapan selalu kalah. Kekuatan Sang Malaikat terlampau jauh. Douglas tak mampu menahan serangan Gwendlyn terus menerus yang bahkan tak memberinya kesempatan untuk menyerang balik. Hingga saat Douglas lengah ayunan pedang Gwendlyn menebas tubuh Douglas. Memberinya luka vertikal yang terbuka lebar di dadanya.
“Sekarang saatnya mengakhiri permainan ini”
Gwendlyn mengangkat pedangnya, bersiap memenggal Douglas yang tengah berlutut kesakitan. Tapi..
“Krak”
Pintu lemari tak kuasa menahan beban Alex dan adiknya. Mereka terjatuh keluar dan terlihat oleh Gwendlyn.
“Ow.. ternyata masih ada dua ***** kecil..”
Gwendlyn membatalkan ayunan terakhirnya kepada Douglas, ia melangkah meninggalkannya untuk terlebih dahulu membunuh anak-anaknya yang kini tengah terguncang ketakutan.
“Bo-bodoh! Kenapa kalian tidak lari sewaktu tadi kusuruh!”
“Ka-kami tidak mau meninggalkan ayah sendirian!!”
“Wah wah.. ayah dan anak yang mesra ya.. sayang sekali kalian harus mati lebih dulu.. tapi tenang saja.. nanti kalian akan berkumpul lagi.. di neraka..”
Gwendlyn mengatakannya sambil tersenyum. Seolah membunuh bukanlah dosa. Ia tiba di depan Alex dan adiknya. Mengangkat pedangnya yang akan menurunkan keadilan pada mereka yang tak berdosa.
Exodus meluncur dari langit dan menancap tepat di diantara mereka, menghalangi Gwendlyn dari menebas Alex dan adiknya.
“Larilah Alex! Bawa adikmu dan Exodus keluar dari sini! Pergilah ke tempat yang kukatakan tadi!”
Alex mencabut Exodus kemudian menggandeng adiknya keluar dari ruangan itu, pergi ke tempat yang tak diketahui oleh Gwendlyn.
“Akulah lawanmu malaikat busuk, kau tak akan lolos dariku kali ini!”
“Wah wah.. Iblis hina ini masih bisa bersuara setelah dengan bodohnya membuang pedangnya? Ck, aku jadi ingin memotong lidahmu terlebih dahulu sebelum memenggalmu..”
“Jangan cerewet, lihat dan perhatikan ini! UAAAAAAGH!!”
Douglas tampak merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya, seakan-akan sesuatu yang kuat akan keluar dari tubuhnya. Dan benar saja, tubuhnya berubah menjadi seekor Iblis monster. Lehernya memanjang, badan dan sayapnya membesar, deretan gigi tajam kini memenuhi bagian dalam mulutnya. Kini ia berdiri diatas kedua tangan dan kakinya. Kini ia berada dalam wujud True Demon Form. Sebuah wujud sempurna dari seorang, tidak, seekor Iblis.
“Ukh.. kau sangat jelek.. nafasmu juga bau.. lebih baik kau mati sekarang!”
Sang Malaikat Kegelapan bertarung dengan seekor Iblis Sempurna. Kini skala pertarungan semakin besar hingga menghancurkan ruangan utama. Meruntuhkan sebagian bangunan yang ditembus oleh sinar lembut sang bulan. Pertarungan berakhir dengan kesunyian, tanpa memberikan petunjuk kepada siapa yang memenangkan pertarungan. Hanya memperlihatkan sosok pedang putih yang menancap di reruntuhan bangunan, bermandikan sinar putih rembulan.
“Brak!”
Sebuah tangan lolos dari reruntuhan, seseorang mengangkat dirinya dari tumpukan pecahan dinding dan atap. Mengambil kembali pedang putih nan suci kemudian terbang ke langit dengan sayap putihnya yang bersinar keemasan. Sang Malaikat Kegelapan telah terlahir ke dunia. Mencari sedikit lagi keadilan yang akan ia dapatkan dengan mencabut nyawa keturunan terakhir Half-Demon.
Spoiler untuk Chapter 3 :
Chapter 3
The New Moon
“Aku berangkat Ma!”.
Seorang gadis dengan rambut twintail dengan ikatan pita biru berlari keluar dari rumahnya, bahkan sebelum ibunya menyambut pamitnya. Angin mengibas-ngibaskan rambutnya yang berwarna aneh, aneh karena dari rambutnya yang berwarna coklat beberapa di antaranya berwarna perak, hingga membuatnya terlihat seperti beruban. Warna pupil matanya juga tidak seperti orang-orang, kedua matanya berbeda warna. Mata kiri berwarna biru sementara mata kanan berwarna merah.
“Waduh aku telat nih!” keluhnya pada dirinya sendiri, yang kemudian ditimpali oleh suara yang hanya terdengar olehnya
“Salah sendiri dasar pemalas!”
Yang dilanjutkan oleh balasan kasar darinya
“Diam kau dewi gadungan!”
Tanpa menghentikan langkahnya yang cepat. Beruntung ia tiba di sekolahnya tepat sebelum lonceng berbunyi. Terlihat tulisan di gedung sekolah itu “Everwoods High”.
“Selamat pagi!”
Meski ia menyapa teman-teman di kelasnya dengan ceria, tak ada satupun dari mereka yang balik menyapanya. Hanya memperlihatkan pandangan seperti melihat mahluk aneh padanya. Akan tetapi ada satu orang yang menjawab sapaan gadis itu, ia adalah seorang anak lelaki yang duduk tepat di sebelah bangku yang kosong.
“Hai..”
Jawabnya singkat dan pelan.
Meski begitu, jawaban darinya membuat wajah gadis itu yang tadinya terlihat jengkel menjadi riang kembali, berjalan menuju bangku kosong di sebelah anak itu sambil tersenyum.
“Selamat pagi William!”
“Selamat pagi juga Lu-“
Luna! Lengkapnya adalah Luna Edwarton XV, dan Mamaku, LunaMaria Edwarton XIV adalah mantan juara Olimpiade di bidang fencing! Tapi sekarang ia sudah berhenti dan membuka kursus latihan fencing di dekat rumah kami.. sayang sekali ya.. Sementara, Ayahku, David Rienhart adalah seorang pahlawan terkenal di kota kami! Ya, dia adalah seorang anggota PMK yang sudah sering masuk koran karena menolong banyak orang! Tak hanya hebat, ia juga rendah hati dan sering meminta koran tidak menulis namanya tapi cukup menulis “Pemadam Kebakaran” didepan kata “menolong”, dan aku sangat bangga padanya.
Lalu ada suatu hal yang membuatku menjadi tak memiliki teman seperti sekarang ini.. Semua bermula saat aku lahir..
Dibawah sinar bulan purnama, 6 tahun setelah “The Black Portal”. Seorang bayi perempuan terlahir ke dunia. Seorang bayi yang cantik dengan rambutnya yang coklat dan matanya yang biru, persis dengan ibunya, dengan pandangan seperti ayahnya. Bayi itu lahir dengan selamat dan menjalani hidupnya dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan.. yang membuatnya menjadi manja, nakal dan keras kepala..
Hingga suatu hari kenakalannya membawa petaka. Pada umur 6 tahun, saat darmawisata TK nya, ia lepas dari pengawasan guru-guru, kemudian mengejar kupu-kupu cantik yang membawanya ke tengah hutan. Semua menjadi kacau, Luna menghilang, guru-guru beserta polisi dan masyarakat setempat pun mencari sosok kecil itu di tengah lebatnya hutan.
Pada akhirnya mereka menemukannya, terbaring tak berdaya di tengah pelukan akar pohon yang memeluknya dengan erat, dan segera melarikannya ke rumah sakit. Ia tak sadarkan diri setelah kejadian itu dan terus terbaring di rumah sakit. Hingga akhirnya, pada hari kelima, terkejutlah LunaMaria dan David. Seiring dengan terbukanya matanya, sebagian rambutnya perlahan-lahan menjadi berwarna perak, dan mata kanannya memperlihatkan warna yang berbeda dari mata kirinya. Merah.
Pertanyaan pertamanya saat melihat wajah kedua orangtuanya yang memeluknya adalah:
“Mama, Papa, apakah kalian kenal Selene?”
Terkejutlah keduanya, Selene telah kembali turun ke bumi, dan kini bersemayam di dalam anak mereka. Bertanya kepada Tuhan mengapa hal ini terjadi lagi, akan tetapi, jawaban dari-Nya sungguh mengejutkan.
Luna bilang Selene ingin berbicara dengan mereka, akan tetapi ia tak bisa melakukannya, sementara ia tak dapat menyuruh Luna mengatakannya pada mereka karena hal ini terlalu rumit. Keduanya heran, apakah Luna sedang bercanda atau berhalusinasi? Apakah mungkin seseorang dapat berkomunikasi langsung dengan Selene melalui dirinya? Akan tetapi mereka meresponnya dengan serius dan mengatakan padanya bagaimana cara mereka dapat berkomunikasi langsung dengan Selene.
“Katanya, Dia minta dibawakan selembar kertas dan sebatang pena”
Segera merekapun memberikan apa yang ia minta, selembar kertas dan sebatang pena sudah berada di tangan Luna. Di depan mereka, Luna yang belum pandai menulis kini menuliskan kata demi kata dengan tulisan sambung bergaya klasik yang sangat indah. Mereka berdua pun terheran-heran melihatnya, hingga akhirnya, Luna menyelesaikannya dan memberikannya pada Ibunya.
“
Sebelumnya aku meminta maaf kepada kalian berdua karena dengan seenaknya telah memasuki tubuh seseorang yang ternyata adalah anak kalian. Akan tetapi aku tak menyangka akan bertemu lagi dengan manusia yang telah kukenal, dan kupikir takdir kembali mempertemukan kita semua. Oh ya, jika kalian ingin tahu alasan mengapa aku kembali ke bumi adalah karena… Perjodohan! Ayahku dengan seenaknya menjodohkan aku dengan dewa-dewa aneh, gendut, dan pemalas! Aku merasa sudah cukup dengan semua itu! Lalu tanpa sadar aku sudah lari dan berada di bumi.
Tapi.. jika aku terus berada pada wujud spiritualku, ayahku akan dengan mudah menemukanku dari pancaran energiku, karena itu saat aku tengah duduk di atas pohon sambil berpikir bagaimana bersembunyi darinya, anak ini tiba-tiba terjatuh dari pohon tempatku duduk, kemudian ia pingsan tak sadarkan diri.
Melihatnya tak sadarkan diri, kemudian aku memiliki ide, jika aku masuk ke dalam tubuh manusia, maka kekuatanku akan tersembunyi di balik tubuhnya, membuatku lebih sulit ditemukan oleh ayahku. Tanpa ragupun aku merasuki tubuhnya. Akan tetapi, kekuatan mental Luna terlalu kuat, aku tak dapat masuk ke dalam alam bawah sadarnya, dan kini aku terjebak diantara alam sadarnya, membuatku dapat berkomunikasi dengan Luna di saat ia tersadar, dan dapat tetap tersadar saat ia tertidur atau tak sadarkan diri. Oh ya, jika ia mau, ia bisa menyerahkan kendali tubuhnya padaku lho, jadi ia bisa mempertahankan dirinya tanpa membutuhkan orang lain kecuali dirinya dan aku! Hebat kan?!
Dan sebagai permintaan maaf sekaligus rasa terimakasihku karena telah mengizinkanku tinggal sampai waktu yang belum ditentukan, aku berjanji akan mendidik, menemani, dan melindungi Luna dengan segenap kekuatanku.
Salam hangat, Selene
PS: Kalian sangat serasi lho =D
“
Dan ternyata, hanya karena alasan yang konyol itulah seluruh hidup Luna berubah. Pada awalnya Luna kecil senang karena warna rambut dan matanya yang unik, dan ia bangga akan hal itu. Apalagi kekuatan fisiknya yang bertambah secara mengerikan, membuatnya bagaikan manusia super. Kenakalannya kini tak terhentikan lagi.
Akan tetapi, tidak selamanya Luna menyukai segala keabnormalannya. Seiring berlalunya waktu, ia mulai dijauhi teman-temannya karena perbedaan penampilan fisik diantara mereka. Ditambah lagi ia terkenal sangat kuat, membuat siapapun yang dekat dengannya merasa takut dilukai olehnya jika mereka mengatakan hal yang tidak ia sukai. Ia mulai dikucilkan oleh semua teman-temannya.
Pada saat yang sama, ia mulai menyalahkan Selene karena telah membuat “hidupnya” sengsara. Sebagai seorang remaja yang menganut “Society is Your God” memiliki banyak teman dan menjadi pusat perhatian adalah kehidupan paling membahagiakan yang dapat mereka capai. Tapi kini dengan segala keanehannya ia tak dapat mencapainya dan menyalahkan Selene. Sifat mereka yang sama-sama keras kepala menjadikan mereka sering berkelahi, yang membuat Luna tampak semakin aneh karena berkelahi dengan dirinya sendiri. Membuat orang-orang semakin menjauhi dirinya.
Meski dijauhi, ia tidak menarik diri dari kehidupan dan menjadi seorang yang pendiam dan dingin seperti yang pernah ibunya lakukan. Sifat keras kepala ibunya, ditambah sifat berapi-api ayahnya malah membuatnya semakin ganas dan kesal terhadap orang-orang yang menolaknya. Meski begitu di dalam hatinya ia merasa kesepian dan selalu mencoba berbuat baik dan memperlihatkan sisi baiknya pada semua orang, yang tak selalu berjalan dengan baik, karena Selene yang sering mengganggu dan mengejek atau menggodanya.
Begitulah ceritanya! Ini semua karena Selene! Huh aku kesal padanya!
Oh ya, karena ibuku penganut paham “With Great Powers, Comes Great Responsibility”. Nama belakangku menjadi Edwarton XV, yang menandakan bahwa.. aku adalah seorang Exorcist! Seorang Monster Hunter! Dan kini setiap malam aku selalu berpatroli dan menjaga kalian semua dari para monster! Nantikan kisah kepahlawananku ya! Sampai Jumpa!
Spoiler untuk Chapter 4 :
Chapter 4
Perfect Full Moon
“Heaaaaaaaaaaa!!”
“DUAK!”
Luna meluncurkan tinjunya tepat ke wajah seekor monster berbentuk manusia harimau. Membuat monster itu terpental beberapa meter dan tersungkur di aspal dengan pipi yang membengkak.
“Bagaimana? Sudah kapok main-main ke dunia manusia? Masih mau lagi?”
Monster yang tampak sudah babak belur setelah dipukuli oleh Luna itu tampak ketakutan dan menggelengkan kepalanya kepada Luna. Ia membungkuk di depan kaki Luna, meminta pengampunan darinya agar tidak menerima tinju demi tinju dan tendangan demi tendangan lagi dari seorang manusia setengah dewi.
“Baiklah Selene, biarkan ia pulang..”
“Yup, kita anggap ia sudah kapok..”
Secara tiba-tiba sayap putih terbentang dari punggung Luna, bersamaan dengan mata kirinya yang berubah menjadi merah dan rambutnya yang menjadi berwarna perak sepenuhnya. Ia mengacungkan telunjuknya ke udara, dan seketika terciptalah sebuah lubang hitam persis seperti saat “The Black Portal”, hanya saja kali ini ukurannya sangat kecil.
“Sudah, pulang sana!”
Menuruti perintah Luna, monster itu kemudian melompat memasuki portal yang dibuat oleh Selene. Bersamaan dengan menutupnya portal itu seketika mata kiri Luna kembali menjadi biru dan rambutnya kembali menjadi coklat dengan sepuhan perak.
Begitulah pekerjaanku setiap malam, jika esoknya tidak ada ulangan atau aku tidak sedang malas aku diwajibkan oleh mama agar menjadi seorang exorcist dan bertugas membasmi monster. Ugh.. pekerjaan ini melelahkan dan kuno, dan yang paling parah mama menyuruhku membawa sebuah rapier darinya sebagai senjata. Ikh.. aku paling benci senjata banci berbentuk seperti jarum itu, tidak ada sangar-sangarnya! Kalau mama menyuruhku membawa zweihander atau two-handed sword sih aku mau deh! Jadi.. kadang aku membandel dan tidak membawanya. Lagipula siapa yang butuh senjata jika dengan tangan kosong saja bisa melawan monster-monster ini.
Lalu seperti biasa jika aku pulang dan ketahuan tidak membawa rapier aku pasti dimarahi, lalu nanti kami beradu mulut kemudian berlanjut pada segala kemalasanku kemudian berujung pada nilaiku yang jelek. Kemudian pada akhirnya aku dibanding-bandingkan dengan adikku.
Eh.. adik? Oh aku belum cerita ya? Ya aku memiliki seorang adik, tepatnya adik perempuan. Namanya Maria. Jarak umur kami hanya berbeda satu tahun. Adikku sangat cantik, tubuhnya tinggi, kakinya jenjang, rambut coklatnya sangat indah dan berkilau, pandangan matanya lembut dan hangat, sifatnya juga sangat baik. Ia juga sangat rajin lho! Eh iya, dia juga sangat pintar, bahkan sampai disebut jenius oleh para guru, kemampuan olah raganya juga menawan dan ia paling jago menggunakan rapier. Ia selalu mengikuti turnamen-turnamen atlit muda dan selalu pulang dengan membawa piala atau medali. Lalu… Akh brengsek, melanjutkan segala kelebihannya membuatku seperti meledek diriku sendiri. Sudahlah aku berhenti cerita saja.
Ya, lalu aku yang pendek, beruban, berpandangan mata ketus, galak, dan pemalas serta bodoh ini memulai hari dengan terlambat bangun dan lupa mengerjakan PR.
“Luna! Cepat bangun!!”
Suara LunaMaria terdengar keras, menyuruh anaknya bangun dan segera pergi sekolah.
Akan tetapi seperti biasa, Luna tidak kunjung mau bangun dari balik selimut sampai “Bangun-bangun” yang bertubi-tubi dan tak kunjung berhenti dari Selene membuatnya kesal dan terpaksa bangun. Tentunya diiringi dengan gumaman-gumaman kesal dari Luna.
Luna mengambil tas nya, berlari ke lantai bawah dan saat memakai sepatunya, ia teringat akan sesuatu..
“AAAAAAAAAKH!! AKU LUPA MENGERJAKAN PR!!”
“Bodoh, kan sudah kuingatkan”
Tambah Selene.
“Apanya, kau kan malah tidur duluan”
Balas Luna yang tampak seperti orang bodoh berbicara sendirian.
“Hei hei hei, kalau PR yang kamu maksud ini..”
LunaMaria memperlihatkan sebuah buku tulis di tangannya yang bertuliskan nama Luna dan kata “Matematika” di bawahnya.
“…maka berterimakasihlah pada adikmu karena ia tadi pagi mengerjakannya sebelum berangkat sekolah”
“Ah! Begitu ya! Baiklah ma, aku pergi dulu!”
Dengan tak sopan Luna mengambil buku PR nya dari tangan ibunya tanpa merasa berdosa dan berlari keluar dengan wajah polos. LunaMaria hanya bisa tersenyum kecut melihat kelakuan anak pertamanya yang bertolak belakang dengan adiknya.
“Cih, gara-gara setiap malam selalu patroli sampai larut jadinya begini deh.. selalu terlambat..”
Keluh Luna
“Itu sih karena kamu pemalas saja, memangnya kau masih butuh tidur lebih dari 6 jam! Kau itu..”
“Ya ya, aku tahu aku bukan manusia normal lagi…”
Potong Luna
“…aku cukup tidur 3 jam, begitu kan?”
Lanjutnya.
“Tepat sekali”
“Kau kan selalu mengulangnya setiap kali aku terlambat.., ah sudahlah aku bosan terlambat, kita terbang saja yuk!”
“Kamu gila ya? Ini kan pagi-pagi?!”
“Lalu kenapa? Mumpung tidak ada orang nih!”
“…. Ya sudahlah, aku tak mau tahu kalau ketahuan orang-orang ya..”
“Ok, nanti kita nonton ‘Super Panda’* lagi ya!”
“Ya ya..”
Jawab Selene.
*Super Panda : Film kartun tentang panda lamban dan dungu yang bisa berubah menjadi panda super yang gesit dan kuat di saat ada bahaya. Serial ini sangat disukai oleh Selene maupun Luna.
Setelah memastikan tak ada yang melihat, dari punggung Luna terbentanglah sepasang sayap yang nyaris transparan di bawah sinar matahari, kemudian membawanya terbang ke langit.
“BRAK”
“Selamat pagi!”
Pintu terbuka bersamaan dengan salam dari Luna, akan tetapi seperti biasa, tidak ada yang balik menyapanya kecuali William.
“Tidak biasanya hari ini tidak terlambat?”
Tanya William pada Luna
“Ya.. begitulah, sejak pagi aku merasa memiliki sepasang sayap, mungkin aku datang ke sini dengan terbang?”
“Bodoh! Jangan bicara yang aneh-aneh!”
Panik Selene
“Uh.. tenanglah, dia tidak akan tahu”
William yang tampak bingung bertanya pada Luna
“Tidak tahu apa?”
“Ahahaha, tidak tidak, aku hanya ingin bertanya apa kau tahu hari ini ada PR matematika..”
Sebuah alasan konyol diucapkan oleh Luna.
Olahraga adalah bidang yang sangat dikuasai oleh Luna, dan ia juga sangat menyukainya. Semua orang di sekolah itu tahu bahwa siswi yang paling jago olahraga di sekolah mereka ada 2 orang. Yaitu Luna Edwarton XV, dan Maria Rienhart.
Oh ya, aku tadi belum sempat memberitahu ya, bahwa nama belakang kami berbeda. Kenapa? Mudah saja, karena aku adalah seorang exorcist dan Maria tidak. Kenapa bisa begitu? Karena kata mama dan papa, di keluarga kami seorang exorcist harus mengemban nama Edwarton sebagai penanda bahwa di dalam darahnya mengalir darah Edwartonian dan takdir untuk menjadi exorcist. Dan “takdir” itu jatuh kepadaku.
Huf.. kadang aku merasa iri pada Maria.. ia sangat.. bagaimana ya menjelaskannya… “Sempurna”. Mungkin itu yang dapat menjelaskan Maria. Sempurna sebagai seorang gadis normal.
Lalu pada pelajaran Olahraga kali ini, setiap murid harus berlari sprint 100 meter dan waktunya dicatat.
Satu demi satu dari mereka berlari menuju garis finish. Kini tiba giliran Luna yang sejak tadi telah menggebu-gebu ingin memperlihatkan kemampuan terbaiknya pada satu-satunya mata pelajaran dengan nilai A di rapornya.
“Ugh.. ayo… cepatlah tarik pelatuknya!”
“Tidak usah terlalu bersemangat begitu”
Ujar Luna dalam hatinya yang disahut oleh Selene.
“DOR!”
Suara letusan pistol terdengar, menandakan Luna sudah boleh berlari.
Akselerasi yang fenomenal dari Luna sangat membuat kagum Gurunya, sampai-sampai tanpa sadar gurunya memberi semangat pada Luna.
“Ayo Luna! Kalau waktumu di bawah 11 detik nanti kau akan jadi wakil sekolah ini di olimpiade antar sekolah!”
“A-apa?!”
Mendengar kata-kata gurunya, secara tiba-tiba Luna melambat; tepatnya sengaja melambatkan larinya agar tidak terpilih menjadi wakil sekolah. Kemudian tiba di garis finish dengan waktu 11.37 detik.
“Ahhh.. sayang sekali, padahal kupikir bisa dibawah 11 detik.. ya sudahlah..”
Keluh gurunya kecewa.
“Gila! Nyaris saja aku terpilih untuk kegiatan merepotkan itu!”
“Kasihan sekali sekolah ini punya murid seperti kamu..”
“Ah diam kau dewi gila! Memangnya hidupku cuma untuk olahraga!?”
Percakapannya dengan Selene lagi-lagi membuat Luna yang tanpa sengaja mengeluarkan suaranya saat berbicara dengan Selene menjadi terlihat seperti orang gila; lebih gila lagi di mata teman-temannya.
Luna yang sadar suaranya terlalu kencang merasa malu dan berlari dari lapangan.
“Aaaaaaaaaah sial lagi-lagi kelepasan! Kamu sih!”
“Dan lagi-lagi kamu menyalahkanku”
“Oh, jadi tidak merasa ya?!”
Kemudian Luna bertengkar lagi dengan Selene. Dan saat ia sedang ribut sendiri seseorang memergokinya.
“Loh, kakak?”
“Eh, Maria… oh ya, terimakasih ya atas PR nya, lain kali kerjakan lagi ya!”
Maria hanya bisa pura-pura tertawa mendengar kata-kata kakaknya itu.
“Hahaha… lalu sedang apa kakak disini?”
“Ini gara-gara Selene! Aku jadi makin dianggap gila!”
“Ooo jadi bertengkar lagi ya dengan Kak Selene..”
Dengan senyumnya yang hangat, Maria berkata
“Tidak ada yang menganggap kakak gila kok, mereka hanya belum mengerti dan membuka hatinya pada kakak, lagipula kakak juga harus terus berusaha untuk membuat mereka membuka hatinya pada kakak. Dan kakak juga harus menahan suara jika berbicara dengan Kak Selene..”
“Ya… baiklah…”
Dengan ekspresi seperti anak kecil yang dinasehati ibunya Luna menganggukkan kepalanya.
“Lalu.. aku mohon pada kak Selene agar terus menjaga kakak ya..”
“Baiklah..”
“Kata Selene baiklah..”
Ujar Luna menyampaikan kata-kata Selene.
“Baiklah, aku ke ruang musik dulu ya.. sampai jumpa kak..”
Dengan senyum yang hangat dan suara yang lembut Maria melambaikan tangannya pada Luna dan pergi menuju ruang musik.
Tak ada seorangpun di sekolah itu yang mengetahui bahwa Luna dan Maria adalah saudara sekandung. Disamping nama belakang mereka yang berbeda, sifat mereka berdua juga bertolak belakang, ditambah lagi fisik mereka sangat berbeda. Apalagi mereka berdua sangat jarang datang ke sekolah bersama-sama karena Luna yang selalu terlambat, juga mereka jarang pulang bersama karena Maria adalah anggota klub fencing di Everwoods High. Bulan baru dan bulan purnama memang bertolak belakang, bagaikan cahaya dan bayangan.
Spoiler untuk Chapter 5 :
Chapter 5
Ambassador of Light And Darkness
Beberapa hari ini, di kota ini terjadi banyak kejadian aneh. ****** liar dan kucing liar di daerah ini yang secara tiba-tiba menghilang, lampu jalan yang pecah tiba-tiba secara misterius, dan rusaknya pagar dan tembok rumah tanpa ada yang mendengar kejadiannya. Tapi dari yang paling aneh dari semua itu adalah..
“Luna, sebaiknya kau tidak usah berpatroli hari ini..”
Begitulah yang mama katakan padaku. Meski cukup terkejut, aku tentu saja senang mendengarnya karena dapat kembali ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut dan membaca komik sampai tertidur.. dan kembali terlambat esoknya..
“Selamat pagi!”
Seperti yang selalu terjadi, tidak ada satupun dari mereka yang menjawab salam selamat pagi dari Luna. Bersikap dingin seolah tidak ada seseorang bernama Luna di kelas mereka. Akan tetapi, dari segala kebisuan itu, selalu ada satu orang yang menjawab salam Luna. William.
“Selamat pagi juga..”
Ujar William dengan mata yang memandangi Luna.
“Hmm? Ada apa?”
Tanya Luna menyadari William memperhatikannya.
“Ah.. tidak.. hanya saja hari ini kau tampak lebih bersemangat dari hari sebelumnya.. ada apa?”
“Lho? Bagaimana dia bisa tahu? Apa wajahku tampak lebih cerah setelah banyak istirahat semalam? Selene?”
Tanya Luna dalam hatinya pada Selene
“Entahlah, yang jelas semalam kamu lebih pemalas dari sebelumnya”
“Aaah, diamlah!”
“Ups”
Tanpa sadar lagi-lagi Luna kelepasan, seakan berteriak pada William
“Ya.. baiklah.. yang jelas kau yang sekarang tampak lebih baik”
Tanpa terlihat tersinggung sama sekali William memberikan senyumannya.
Luna jadi merasa bersalah meski William tampak tidak mengambil hati.
“Nah kan, baru saja dinasehati adikmu beberapa hari yang lalu..”
“Apa-apaan!? Itu kan salahmu!”
Balas Luna.
Meski ia ingin menjelaskan bahwa ia bukan berbicara dengan William, tapi ia tak bisa mengatakannya. Karena alasan apa yang akan ia berikan? Selene? William, atau siapapun tak akan percaya itu, sebagaimana yang selalu terjadi di film dan komik.
Pada saat istirahat tiba dan Luna bergegas menuju kantin sebelum penuh sesak, ia mendengar sesuatu yang menarik dari obrolan beberapa orang di lorong.
“Iya, kemarin tetanggaku menghilang di depan rumahku mengerikan deh aku melihatnya”
“Lalu apa yang kau lihat?”
“Aneh, benar-benar mengerikan, entah benar atau tidak aku melihat sekelebatan berwarna putih terbang dengan cepat, kemudian saat aku melihat kepada tetanggaku kembali, dia sudah hilang..”
Luna yang tak sengaja mendengarnya bertanya pada Selene
“Selene.. mungkinkah..”
“Ya, kemungkinan besar monster yang melakukannya sewaktu kita tidak patroli..”
“Hmmm….”
Luna tampak memikirkan sesuatu.
Meski awalnya menikmatinya, lama-lama Luna merasa penasaran. Apalagi rumor-rumor yang selama ini menghantui keingin tahuannya. Mengapa pula mamanya kini selalu melarangnya keluar untuk menjalani “tugas” nya sebagai exorcist yang diam-diam dinikmati oleh Luna.
“Mama, mengapa aku tidak boleh lagi pergi patroli?”
Tanya Luna pada mama dan papanya saat mereka sedang menonton TV.
Keduanya saling berpandangan, hingga LunaMaria, menjawab pertanyaan anaknya.
“Mama pikir kamu senang tidak usah pergi patroli? Habisnya setiap kali kamu selalu mengeluh, juga tidak mau menurut jika mama suruh kamu membawa Vaporum..”
Jawab LunaMaria sinis.
“Ya…. Memang sih.. tapi aku penasaran saja!”
“Jadi kamu ingin pergi?”
Tanya LunaMaria langsung.
Luna terdiam sebentar, kemudian ia mengalihkan pandangannya dan dengan suara pelan menjawab
“Ya.. mau sih…”
Ekspresi LunaMaria tiba-tiba menjadi cerah, ia tampak menahan senyuman dan kegembiraan dari hatinya.
“Baiklah.. tapi kamu harus berjanji sesuatu.. bisa?”
“Apa itu?”
“Pertama.., kamu harus berjanji tidak mengeluh lagi..”
“Ya baiklah.. aku rasa aku bisa..”
“Lalu yang kedua.. kamu harus selalu membawa Vaporum”
“Er.. kalau itu sih…”
Luna menggaruk belakang kepalanya sambil memperlihatkan ekspresi menolak
“Ya sudah tidak usah”
LunaMaria menjawabnya dengan cepat dan tegas, kemudian kembali menonton TV
“Yaaaa yaaaaaa baiklah aku bawa!!”
Luna berlari keluar mengambil Vaporum dari kamarnya, kemudian membawanya ke depan mamanya
“Nih! Aku sudah bawa!”
“Nah.. begitu dong.. ya sudah kamu boleh pergi..”
“Baiklah! Baiklah! Huh! Aku pergi dulu!”
Luna berjalan menuju pintu depan dengan menggerutu karena harus membawa Vaporum.
“Luna!”
Ujar LunaMaria
“Ya?”
“Hati-hati..”
Luna tersenyum mendengarnya, gerutu nya menghilang ditelan kehangatan seorang ibu. Luna pergi dengan senyuman di wajahnya.
“Apa tidak apa-apa? Dengan hawa jahat sekuat ini? Kemungkinan level A berada di sekitar sini..”
Tanya David pada LunaMaria
LunaMaria menggelengkan kepalanya
“Tidak apa-apa.. aku percaya padanya.. lagipula.. Selene ada disana…”
Sementara itu..
“Akhirnya.. patroli lagi.. tapi harus membawa jarum ini.. ugh.. jelek sekali..”
Keluh Luna
“Jangan salah.. Vaporum adalah rapier yang hebat..”
Jawab Selene
“Hah? Tahu darimana? Sok tahu kamu”
“Dulu aku pernah menggunakannya..”
Sebelum Selene sempat menyelesaikan ceritanya, Luna melihat bayangan sesosok manusia di bawah lampu tepat di tengah taman.
“Heh? Siapa itu?”
Luna yang penasaran semakin mendekati sosok itu, yang ternyata adalah seorang gadis kecil berambut pendek yang tampak seperti menunggu seseorang. Luna mendekatinya dan tanpa pikir panjang bertanya padanya..
“Halo, sedang apa kau disini? Menunggu seseorang? Tersesat?”
Gadis itu menengok kepada Luna, dibalik sorot matanya yang polos terlihat hati yang dingin dan kejam, meski hanya sekilas, Selene merasakannya. Tetapi ia tak ingin mengatakannya pada Luna meski ia bersiap-siap jika gadis misterius itu menyerang Luna. Akan tetapi, gadis itu malah memberi Luna senyuman yang ramah.
“Menunggu..”
“Menunggu? Menunggu siapa?”
“…Cahaya.. dan Kegelapan..”
Tiba-tiba lampu yang berada di atas mereka mati dan membuat Luna tak dapat melihat sesaat, kemudian saat lampu kembali menyala, gadis itu telah menghilang.. diiringi oleh wangi bunga mawar yang kemudian menghilang setelah tertiup angin.
“Gadis aneh..”
Ujar Luna yang heran.
Malam itu tak terjadi apapun, ia bahkan tak menemukan satu ekor monster pun. Seakan-akan dibalik kesunyian ini terdapat sesuatu yang besar, akan tetapi ia belum tahu sesuatu apakah itu.
Hari demi hari dan malam demi malam Luna lewati tanpa menemukan monster apapun. Walaupun begitu kasus-kasus misterius tetap berjalan bahkan semakin bertambah, membuat Luna semakin penasaran dan kesal karena pelaku kasus itu beraksi pada jam ia berpatroli, Luna merasa pelaku seakan seperti menantangnya.
Kemudian pada suatu malam, di taman yang sama, Luna bertemu dengannya lagi, si gadis misterius itu.
“Hai.. kau datang lagi?”
Tanya Luna berusaha ramah.
Gadis itu kembali memberikan senyuman yang ramah pada Luna. Tetapi kali ini ia tak menjawab apapun.
“Oh ya, katamu waktu itu sedang menunggu.. cahaya dan kegelapan..? maksudnya apa ya?”
Gadis itu tampak seperti melihat sesuatu, dan menunjuk
“Itu”
Secara tiba-tiba suasana menjadi sunyi seakan waktu terhenti. Gesekan dedaunan dan bunyi serangga tak terdengar sama sekali.
Dan kemudian..
“Luna awas!”
Selene memperingatkan Luna, ia merasakan sesuatu yang sangat cepat meluncur ke arahnya.
“BRUAK!!”
Sesuatu menyerang mereka dengan kecepatan dan kekuatan yang besar. Debu beterbangan dan menghalangi pandangan Luna yang khawatir terhadap gadis misterius itu.
“Uhuk-uhuk.. Heiii apa kau tak apa-apa??”
Tak ada jawaban darinya. Yang ada kemudian dari debu yang perlahan-lahan semakin menghilang adalah sesosok mahluk humanoid setinggi 2 meter dengan armor berwarna putih dan memiliki sepasang sayap seperti sayap serangga berada di depannya. Luna tak dapat menemukan bahkan bayangan gadis itu dimanapun. Mata biru yang bersinar dengan mengerikan dari monster itu kini menatap Luna.
Monster itu memberikan tinjunya pada Luna yang masih dalam posisi duduk setelah terjatuh. Tinju itu begitu kuat hingga membuat gelombang kejut di udara, yang kekuatannya tentu saja akan membunuh manusia dalam sekali pukul.
“!”
Tetapi tidak dengan Luna. Monster itu terkejut melihat Luna yang bertubuh kecil menahan tinjunya dengan sebelah tangan.
“Ck, baru bisa begini saja sudah sombong..”
Ledek Luna.
“Sekarang giliranku ya?”
“HEAA!”
Luna memberikan monster itu tendangan berputar, akan tetapi tendangannya berhasil dihindari monster itu yang bergerak mundur. Luna tidak menyerah begitu saja, ia berlari menuju monster itu dan memberikan serangan beruntun, dengan menggunakan jurus seperti kung-fu cakar harimau ia menyerang monster itu yang hanya bisa bertahan.
“Kau terlalu lamban!”
“BRAK!!”
Tinju Luna mengenai perut monster itu dengan telak hingga mundur beberapa meter.
“Ah.. sial..”
Monster itu tampak tak terluka bahkan merasa sakit. Tetapi ia tak lagi menyerang Luna, malah, ia membentangkan sayapnya dan terbang dengan kecepatan tinggi ke angkasa.
“Selene! Kita kejar dia!”
“Baiklah!”
Sepasang sayap putih muncul dari punggung Luna dan menerbangkannya ke angkasa, mengejar mahluk misterius yang tiba-tiba menyerangnya itu.
Spoiler untuk Chapter 5 Part 2 :
Chapter 5 Part 2
Ambassador of Light And Darkness
Mahluk itu terbang dengan kecepatan yang amat tinggi, hingga hanya terlihat sebagai bayangan putih di mata manusia biasa. Bahkan Luna pun kesulitan untuk mengikuti gerakannya, meski ia menggunakan kekuatan Selene.
“Cih, cepat sekali dia!”
Seru Luna
“Tidak, aku masih bisa mengejarnya!”
Tambah Selene.
Entah kenapa mahluk itu tiba-tiba menukik ke bawah dan langsung mendarat dengan keras hingga menggetarkan lapangan tempat ia mendarat. Anehnya, sewaktu ia mendarat mendadak suasana menjadi sunyi seakan waktu terhenti, bahkan derik serangga pun menghilang.
“Hup!”
Luna mendarat beberapa meter di belakang mahluk itu, kemudian berjalan mendekatinya. Mahluk itu tidak melihat Luna dan tampak seakan mencari sesuatu di tanah.
“Kali ini kau tidak bisa lolos lagi mahluk jelek!”
Ujar Luna
“Walaupun sebenarnya cukup keren juga sih..”
Tambahnya dalam hati
Langkah demi langkah Luna semakin mendekati mahluk berarmor putih itu, hingga sekitar 3 meter lagi..
“DESH!”
Mahluk itu melompat, sangat tinggi, dan meluncur kembali ke bawah sambil mengarahkan tinju kanannya yang berukuran besar ke bawah. Dan ternyata ia melompat untuk menghindari seekor mahluk aneh lagi yang muncul secara tiba-tiba bagaikan bayangan dari dalam tanah, yang mana Luna bahkan tidak menyadarinya.
Mahluk baru itu mengenakan armor hitam yang kusam dan tangan kanannya tertutup oleh gauntlet yang berbentuk seperti mata bor di ujungnya. Mahluk itu melompat dari dalam tanah menuju mahluk berarmor putih yang tengah meluncur ke bawah.
“BHAM!!”
Tinju bor mahluk armor hitam dan tinju besar mahluk armor putih saling beradu, menimbulkan gelombang kejut yang merontokkan dahan-dahan pohon di sekitar mereka. Bahkan kaca rumah ikut pecah terkena gelombang kejut itu. Tapi anehnya keadaan tetap sepi seakan tidak ada yang menyadarinya.
Kedua mahluk itu bertukar pukulan dan tendangan dan bertarung dengan sengitnya hingga memporak-porandakan lapangan tempat mereka bertarung. Mahluk berarmor hitam berhasil membanting dan melemparkan mahluk berarmor putih, tepat ke arah Luna berdiri.
“Sial!!”
Luna melompat ke samping menghindari terjangan punggung mahluk berarmor putih, yang mana menghantam tembok pagar sebuah rumah dan meruntuhkan tembok tersebut.
“B-Brengsek! Sebenarnya apa mereka? Apa yang mereka lakukan?!”
Tanya Luna.
“Ambassador of Light… dan Ambassador of Darkness…”
Secara tiba-tiba gadis misterius yang Luna temui sebelumnya muncul entah dari mana. Mengatakan hal yang tak dapat dimengerti oleh Luna.
“Ambassador of Light?!”
Seru Selene
“?? Apa kau tahu sesuatu Selene?”
Tanya Luna
“Ya.. kurasa.. aku pernah mendengar tentang mereka.. Ambassador of Light.. dan Ambassador of Darkness… dua entitas perwujudan dari cahaya dan kegelapan.. mereka adalah entitas yang berasal dari dimensi lain..”
“Jadi? Dengan kata lain mereka adalah mo-“
“Tidak, mereka bukan monster..”
Potong gadis misterius itu tiba-tiba.
“Mereka adalah entitas yang jauh lebih agung daripada itu, hampir setingkat dengan Dewa.. dengan kata lain.. Demigod..”
“Apakah itu benar Selene? Mereka mahluk setengah Dewa?”
“Ya.. aku rasa.. TAPI”
“Tapi apa?”
Tanya Luna penasaran
“Mereka seharusnya tidak berada di dunia ini, mereka berasal dari dimensi lain, seseorang pasti telah men-summon mereka ke dunia ini, dua entitas yang tak akan berhenti bertarung untuk selamanya.. kalau dibiarkan perlahan-lahan mereka dapat mendistorsi dimensi dan membuat duniamu ditelan ke dalam dimensi mereka! Seperti keberadaan mereka menghentikan waktu dan mendistorsi ruang di sekitar mereka!”
“A-apa?! Kalau begitu aku harus menghentikan mereka!”
Ujar Luna, Ia kemudian bergerak menuju kedua mahluk yang tengah bertarung itu. Sementara gadis misterius itu hanya memperlihatkan sebuah senyuman kecil yang tampak memiliki maksud tersembunyi.
“Jadi?”
Tanya Luna
“Yang mana yang harus kuhabisi lebih dulu?”
“Ambassador of Darkness lebih aktif daripada Ambassador of Light, habisi Ambassador of Darkness dan dengan sendirinya Ambassador of Light akan kembali ke dimensinya!”
Jelas Selene
“Aaaaaagh, penjelasanmu terlalu panjang! Simpel saja, hitam atau putih?!”
“Di saat begini masih saja bodoh… hitam!”
“Baiklah!!!”
Luna menambah kecepatan berlarinya dan memusatkan kekuatan di kakinya, kemudian dengan sebuah lompatan super cepat ia melakukan tendangan berputar yang tepat menuju kepala Ambassador of Darkness.
“Bruak!”
Ambassador of Darkness terpental ke udara setelah menerima tendangan Luna.
“Masih belum!”
Luna terbang menuju mahluk itu kemudian menghujaninya dengan pukulan selama mereka berada di udara.
“Hea hea hea hea heaaa!!”
Setelah Luna memasukkan pukulan terakhir, ia mengangkat kakinya dan menutupnya dengan heel stomp yang kuat ke perut mahluk itu.
“Rasakan!”
Akan tetapi bukannya terbentur tanah, mahluk itu malah menembus masuk ke dalam tanah, seolah-olah sebuah batu menembus air.
“Hah?!”
Luna bingung melihat kejadian itu.
Sementara ia tak tahu Ambassador of Light tengah terbang menuju dirinya dan bersiap menghantamnya dengan sapuan tangan kanan besarnya.
“Awas!!”
Seru Selene.
Terlambat.
“Plak!”
Luna terpental terkena sapuan kuat dari mahluk putih itu hingga jatuh terguling-guling di tanah. Meninggalkan lecet-lecet di kedua lengan Luna.
“Aw… aduh.. brengsek…”
Keluh Luna yang tampak kesakitan dengan lecet di kedua lengannya.
“Kamu tak apa-apa?”
Tanya Selene khawatir.
“Apanya yang tak apa-apa aku lecet-lecet begini..”
Jawab Luna ketus
“Cih.. aku menyesal bertanya..”
Ujar Selene.
Mahluk dalam armor putih itu kini tampak kembali mencari-cari sesuatu di tanah, mencari keberadaan Ambassador of Darkness, musuh abadinya. Hingga pandangannya kini terpaku menuju Luna.
“Ah sial.. ini tidak bagus..”
Mahluk putih itu kembali menyerang Luna, ia meluncur dan menyiapkan tinju besarnya untuk menghantam Luna sekali lagi. Akan tetapi kali ini Luna lebih cepat dan tidak lengah. Luna berguling ke samping dan menghindari pukulan yang seperti misil itu dengan sempurna.
Berkali-kali mahluk itu menyerang tetap saja Luna berhasil menghindarinya dengan sempurna. Meski begitu mahluk itu tetap tidak menyerah, ia terus menyerang Luna secara membabi buta dan tanpa ampun seakan Luna adalah musuh abadinya.
“Ugh, lama-lama merepotkan juga..”
Luna kembali menghindar, tetapi kali ini ia salah melangkah hingga keseimbangannya terganggu. Ambassador of Light tentu tak melewatkan kesempatan itu begitu saja.
“Akh, Sial!!”
Tinju Ambassador of Light sudah berada di depan Luna, ia tak dapat menghindarinya lagi. Kakinya berpijak ke belakang, sementara kedua tangannya menahan laju pukulan itu.
“DUM!!”
Luna berhasil menahan pukulan itu.
“S-s-s-sial…”
Akan tetapi kekuatan masif dari mahluk setengah dewa itu terlalu kuat bagi Luna yang tak berubah. Luna yang marah kemudian mulai dikuasai oleh kekuatan Selene. Rambutnya mulai berubah menjadi putih, dan saat matanya kirinya hendak berubah menjadi merah, tiba-tiba..
“SRAT! JLEB!!!”
Dari bayangan Luna muncul Ambassador of Darkness yang kini telah berhasil menusukkan mata bor nya ke dada Ambassador of Light. Menembus dadanya di saat ia tak dapat mengelak atau menangkis serangan tersebut karena tertahan oleh Luna.
“!!”
Sesaat sebelum Luna sempat berbuat apapun untuk menyerang Ambassador of Darkness, Ia telah kembali ke dalam tanah dan muncul tak jauh dari Luna. Sementara Ambassador of Light ambruk dan tersungkur di tanah, dengan lubang menganga di dadanya.
“Ba-bagaimana ini?! Dia mati bagaimana ini Selene!?”
Panik Luna.
“Jangan panik. Kini hanya satu yang bisa kita lakukan.. yaitu mengalahkannya”
“Kalau begitu tak ada jalan lain.. ini akan menjadi pertarungan yang panjang.. bersiaplah Selene, kita berubah..”
Transformasi Luna yang tadi sempat terhenti berjalan kembali. Mata kirinya kini telah sepenuhnya berwarna merah dan memberikan kengerian bagi siapapun yang menatapnya. Sayap di punggungnya kini telah terbentuk dengan sempurna, tidak transparan lagi. Pancaran tenaga darinya terasa sangat kuat. Luna telah berubah menjadi manusia setengah Dewi.
“Sekarang kita seimbang jelek!”
Luna menyerang Ambassador of Darkness dengan kecepatan yang amat tinggi. Jauh lebih tinggi dari sebelumnya hingga mahluk armor hitam itu tidak sempat menghindari serangan Luna. Jika mata manusia biasa melihatnya mungkin tak akan mampu melihat Luna sama sekali dalam kecepatan seperti itu.
Pukulan demi pukulan dilontarkan oleh Luna, sekali lagi, dan terus menghantam tubuh mahluk itu bagaikan sandbag dihujani peluru oleh gatling gun. Dan diakhiri dengan sebuah pukulan uppercut yang sangat kuat. Membuat Ambassador of Light jatuh terpelanting.
“Bagaimana rasanya mahluk hina!?”
Ejek Luna, tetapi kesombongannya tak bertahan lama
“!?”
Mahluk itu kembali berdiri seperti sedia kala. Seakan ribuan pukulan dari Luna tadi tidak dirasakannya. Seakan..
Armornya!! Ini pasti armornya!! Aku tahu itu. Armornya lah yang meredam.. atau bahkan menahan semua kekuatan dari pukulanku.. tapi.. sekuat apa sih armor itu akan bertahan lama jika aku terus menghantamnya ribuan kali lagi? Kita lihat saja..
Dan ternyata.. armor itu benar-benar nyaris tak dapat ditembus.
“Hosh hosh.. sialan.. brengsek.. kenapa armornya tidak rusak juga?!”
Bingung Luna.
“Luna, sebaiknya kita harus cepat, tubuhmu sudah mencapai batasnya sedikit lagi..”
“Cih, aku masih bisa menangani-“
“LUNA!”
Selene berteriak pada Luna, memotong kekeraskepalaannya.
“Jangan keras kepala, kita harus menyelesaikan pertarungan ini lebih cepat.. jika pukulan dan tendangan tak berarti, itu berarti kita butuh senjata..”
“Tapi apa?”
Tanya Luna
“Kamu tidak waras ya? Lalu yang menempel di pinggangmu itu apa?! Tusuk gigi!?”
“Eh.. ya..”
“Ya ampun.. dasar bodoh.. sudahlah gunakan saja Vaporum, terimalah kenyataan kamu membutuhkannya!”
“Ugh, tidak akan..”
Luna bersikeras tidak mau menggunakan Vaporum
“Dasar keras kepa-“
“BRUAK!!”
Ambassador of Darkness menyerang Luna yang lengah dengan mata bornya, beruntung Luna berhasil menghindari serangannya karena gerakannya lebih cepat.
“Kau nyaris membuat aku terbunuh tahu!”
Ujar Luna marah
“Kamu sendiri yang keras kepala!”
Balas Selene
“Kau.. uhuk-uhuk”
Luna mulai terbatuk-batuk, tubuhnya tak tahan lagi menampung luapan kekuatan Selene.
“Bahaya, kamu sudah pada batasnya!”
“Diam, aku masih bisa uhuk-uhuk..”
Lagi-lagi mereka berdua bertengkar di tengah pertarungan, tapi kali ini Luna tidak seberuntung tadi. Ambassador of Darkness kembali menyerangnya.
Kesadaran yang semakin menipis dan jaraknya dengan Ambassador of Darkness sudah terlalu dekat dan tak mungkin untuk menghindar. Namun juga tak mungkin untuk menahannya dengan tangan karena mata bor itu pasti akan mengoyak tangannya. Satu-satunya cara adalah menggunakan Vaporum yang berada di pinggangnya. Kondisi terdesak ini membuat insting Luna berjalan sendirinya dan mengambil Vaporum tanpa berpikir lagi. Akan tetapi saat Luna meraih Vaporum..
“BRUAK!!”
Sebuah tembok yang terbentuk dari jalinan akar pohon yang tampak kokoh secara tiba-tiba muncul dari dalam tanah di depan Luna. Melindunginya dari serangan Ambassador of Darkness.
“BRUAK! BRUAK BRUAK!!”
Suara-suara itu terus terdengar dari balik tembok kayu. Bersamaan dengan menghilangnya kesadaran Luna, sepenuhnya. Membuatnya jatuh pingsan.
Sebuah senyuman kecil terlihat. Berada di balik tembok kayu itu adalah gadis kecil misterius yang Luna temui. Menggenggam sepasang batu berwarna putih dan hitam yang ia cabut dari dada Ambassador of Darkness dan kepala Ambassador of Light. Dengan latar belakang tubuh Ambassador of Darkness yang tergantung diatas akar-akar yang menembus tubuhnya.
Spoiler untuk Chapter 6 :
Chapter 6
Revelation
Namaku Maria, Maria Rienhart. Aku memiliki seorang kakak, yang kata orang-orang bertolak belakang denganku, dan tak pernah terpikirkan bagi siapapun bahwa kami adalah saudara sekandung. Pemikiran mereka dapat dimaklumi, karena sejak berangkat pagi kami tidak pernah bersama hingga kembali ke rumah. Pada waktu berangkat pagi, kakak selalu terlambat. Pada waktu istirahat, kakak selalu menghilang dan aku tak bisa menemukannya, apalagi tak ada yang tahu dimana ia berada jika kutanyakan. Kemudian saat pulang, juga kami tak bisa pulang bersama. Karena ia tidak pernah mengikuti klub apapun, sedangkan aku harus mengikuti berbagai macam kegiatan klub.
Mungkin semua itu terlihat alami, mengingat jalan pikirannya berbeda dengan jalan pikiranku, sebagai insan manusia, walaupun berasal dari satu ibu. Akan tetapi yang aku sesali adalah.. tiap kali teman-temanku datang ke rumah kami, ia tidak mau menemui mereka, sama sekali, seakan menghindari terlihatnya dirinya dari teman-temanku, seakan ia tidak ingin terlihat berada di satu rumah denganku. Entah ia sengaja atau tidak, aku tak mengerti. Aku tak mengerti apa yang dipikirkannya, dan menyedihkan bagiku mengingat kami adalah saudara, dan saling tak mengerti.
Dan bodohnya lagi.. aku tak berani menanyakan alasan mengapa ia melakukannya. Aku tak pernah berani menanyakan hal itu. Tapi kali ini aku harus memberanikan diri untuk membuatnya dapat bertemu dengan teman-temanku. Aku ingin memberitahukan kepada mereka, bahwa, Luna Edwarton XV, seseorang yang mereka jauhi di sekolah, seseorang yang selalu mereka banding-bandingkan dengan diriku, tak lain adalah kakak kandungku sendiri, dan membuat mereka dapat menerimanya.
“Kakak..”
Maria bertanya kepada kakaknya yang sedang menonton acara kesukaannya di TV.
“Hmm ya ada apa?”
“Karena besok hari libur, Laurie dan Riona ingin belajar bersama di sini..”
“Haah? Siapa lagi itu? Memangnya seluruh orang di sekolah temanmu ya? Ya sudah silakan datang untuk apa bilang padaku”
Mendengar jawabannya, lidahku kelu.. aku tak dapat menyampaikan apa yang ingin kukatakan. Tetapi tidak! Aku harus mengumpulkan seluruh keberanianku!
“… aku ingin memperkenalkan mereka dengan kakak…”
Luna mengalihkan pandangannya dari layar TV kemudian menatap wajah Maria yang penuh permohonan, dengan pandangan heran.
“Hah? Untuk apa aku kenal mereka?”
“Aku.. aku ingin orang-orang-“
“Ahhhhh sudahlah, tidak usah..”
Luna kemudian meninggalkan Maria dan TV yang masih menyala, menuju kamarnya. Wajah Maria tampak kecewa dengan jawaban dari kakaknya.
Di dalam kamar, Luna bersandar pada daun pintu kamarnya yang baru saja ia tutup, terlihat seperti memikirkan sesuatu. Ia menghela nafasnya.
“Haah…”
Selene yang kasihan dengan Maria mengatakan sesuatu
“Luna… apa tidak apa-apa berbuat seperti ini… adikmu baru saja mengerahkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan itu semua.. dan kamu pergi begitu saja darinya setelah menolaknya?”
“Tidak apa-apa..”
“Tapi kupikir.. ia hendak membantumu menuju mimpimu.. di mana semua orang membalas sapaanmu dengan tulus, dimana-“
“Ah diamlah, kau tahu aku melakukan ini untuknya, apa kata orang nanti jika tahu aku yang aneh dan dikucilkan ini adalah kakak dari gadis yang begitu sempurna dan dihargai semua orang itu... lagipula kau juga tahu kan.. aku tak suka dibantu..”
Selene terdiam sebentar menanggapi jawaban Luna.
“Meski tiap PR yang kamu miliki dikerjakan olehnya?”
“…”
Luna terdiam sejenak.
“Oh ya, aku jadi ingat punya PR..”
Luna mengambil buku PR dari dalam tasnya kemudian..
“Mariaaaaaaaaa!!”
Memanggil Maria untuk ‘membantu’nya mengerjakan PR nya.
“Dasar… tak tahu malu..”
Gumam Selene.
Esoknya..
“Ting Tong”
Bel pintu berbunyi, Luna bergegas menuju pintu untuk membukanya, akan tetapi..
“Oh ya, jangan-jangan teman-temannya Maria.. coba kulihat..”
Luna melihat siapa tamu di luar melalui lubang di pintu.
“!!”
“Ah sial.. aku pura-pura tidak tahu saja..”
Setelah melihat siapa tamu yang berada di depan pintu, Luna berjalan kembali menuju sofa di depan TV dan menontonnya, berpura-pura tidak ada siapapun disana.
“Huf… untung mama sedang pergi.. jadi.. AAAAAAGH!!”
Sesosok wajah seseorang yang menempel di jendela dan melihat ke dalam mengagetkan Luna, Orang itupun kemudian dengan seenaknya membuka jendela yang tidak dikunci kemudian masuk ke dalam rumah dengan sepatu yang masih terpasang.
“Yooo Luna!!”
Seorang wanita cantik yang tampak berusia 30 tahunan itu menyalami Luna dengan riangnya sambil merapikan rambut coklatnya yang panjang.
“Kakak ada ap-.. wah! Ada tante Alicia!!”
Maria yang turun dari lantai atas setelah mendengar teriakan kakaknya segera menyalami wanita itu, yang ternyata adalah Alicia, teman baik mama mereka.
“Wah Maria! Apa kabar!!”
Alicia segera memeluk Maria.
“Duh.. tante kenapa datang sekarang sih..”
“Hmm… masih lupa perjanjian kita ya..?”
Tanya Tante Alicia dengan senyuman penuh misteri.
“… sial..”
Keluh Luna.
“Ah ya, maaf, tante mau minum apa?”
“Aaa… kalau bisa sih sirup strawberry dengan es.. kalau bisa lho..”
“Wah.. sepertinya kita tidak punya sirup strawberry… tunggu ya aku belikan dulu!”
Maria pun bergegas pergi..
“Hmm.. Maria masih tetap menjadi anak yang baik ya..”
“Dan kau masih menjadi tante yang merepotkan..”
“Dasar anak bandel ya..”
Ujar Tante Alicia sambil mencubit pipi Luna.
“Aw aw aw sakit tante!!”
**
Setelah mendapat cubitan maut, Luna kembali melanjutkan menonton TV, tapi dibawah kekuasaan Tante Alicia tentunya.. yang menonton drama yang tidak Luna sukai.
“Ugh.. lagi-lagi nonton ‘The Spirit Of A Dreamcatcher”.. apa serunya sih drama seperti itu..”
“Sudahlah, anak-anak tidak akan bisa mengerti”
Ujar Tante Alicia sambil menggoyangkan ujung tangannya.
“Ah ya.. seperti biasa Luna, nanti malam kita akan melakukannya..”
“Hah Apa?! Tapi?! Aku tidak mau!”
“Lho, kupikir kamu tidak bisa menolak?”
Luna terdiam sejenak, memandangi tantenya itu dengan kesal
“Grrr.. baiklah-baiklah.. aku mengerti.. asal jangan kelihatan teman-teman Maria yang mau datang saja..”
Tante Alicia terlihat terkejut mendengarnya, ia mendekati Luna
“Apa?! Benarkah?! Biasanya kamu pergi kalau Maria mengundang temannya?”
Luna terdiam sebentar, memandangi TV tanpa memperhatikan acaranya
“Ya.. ada sesuatu yang membuatku terpaksa melakukannya..”
“Dan sesuatu itu berhubungan dengan perasaanmu sebagai seorang kakak yang terpaksa mengalah kepada adiknya?”
“… kira-kira begitulah.. tapi aku tak ingin Maria mengetahuinya.. aku hanya ingin dia gembira..”
“Ya ampuuuun, ternyata Luna-ku sudah besar!”
Tante Alicia kemudian memeluk Luna dengan erat hingga kesulitan bernafas.
“Ting Tong”
Bel pintu berbunyi, Luna segera bergegas menuju pintu untuk melihat siapa tamu mereka.. dan kemudian..
“…”
“…”
Luna dan 2 orang gadis serta seorang anak laki-laki di depannya hanya saling bertatap-tatapan tanpa berkata sepatah katapun.
“Hei, katamu ini rumah Maria?”
Bisik salah seorang dari mereka
“Iya, dari alamat dan ciri rumahnya sih yang ini, tapi kok…”
Mereka berdua memandangi orang yang tak mereka sangka menyambut mereka. Luna Edwarton XV yang ditakuti di sekolah.
“Ahahaha.. maaf kami kira ini rumah teman kami.., maaf mengganggu”
Mereka bertiga kemudian hendak melangkah pergi, tapi..
“Tunggu”
Mereka berhenti dan menengok
“Kalian tidak salah rumah”
“Ha?”
“Kalian teman Maria bukan? Maria sedang pergi sebentar, tunggu saja di dalam..”
“Ah.. tidak usah kak, maaf merepot-“
“Masuk ya?”
Ujar Luna dengan lembut tetapi mengeluarkan aura memaksa.
Hingga.. terpaksa masuklah mereka bertiga.. masih tidak percaya bahwa ini adalah rumah Maria.
“Hei, bagaimana ini.. kita berada di rumah orang mengerikan?”
“Aduh.. jangan tanya aku dong.. aku tak tahu lagi..”
Bisik para gadis itu, sementara yang laki-laki dari tadi diam saja.
“Nah silakan duduk, nanti juga Maria akan datang..”
Ujar Luna pada mereka di dalam kamar Maria.
“Ah ya, terima kasih kak”
“Brak”
Luna pun menutup pintunya, kemudian turun ke lantai bawah.
“Siapa mereka?”
“Bukan siapa-siapa.. hanya teman Maria..”
“Hooo.. hmmm”
Gumam Tante Alicia sambil memandangi Luna yang tengah membuat minuman di dapur.
“Apa? Ekspresimu menyebalkan”
Ujar Luna.
“Aku pulang”
Terdengar suara Maria dari arah depan, berlanjut dengan langkah kaki yang semakin mendekat ke dapur.
“Lho, kakak sedang apa?”
“Tidak bisa lihat? Tentu saja sedang membuat minu- Aduh!”
Tante Alicia kembali mencubit pipi Luna dan mengambil alih jawaban Luna
“Luna sedang membuat minuman untuk teman-temanmu, mereka sedang menunggumu di kamarmu tuh”
Ekspresi Maria perlahan-lahan berubah dari biasa saja menjadi menganga terkejut
“Baiklah, aku temui mereka dulu ya! Maaf ya Tante, sirupnya nanti aku buatkan!”
Maria pun bergegas berlari menuju kamarnya, ia tampak sangat bersemangat.
“Aduh yepaskan yong tanye”
“Kamu ini ya.. tidak bisa lebih lembut sedikit apa pada adikmu sendiri! Nih hukumannya!!”
“Aduh aduh aduh!”
Tante Alicia malah semakin memperkuat cubitannya pada Luna.
Sementara Maria..
“Cklek”
Pintu kamar Maria perlahan terbuka, teman-teman Maria tampak terkejut saat.. melihat Maria memasuki kamarnya.
“Maaf membuat kalian menunggu, tadi aku belanja dulu..”
Maria kemudian menyadari ada seorang anak laki-laki disana.
“Yo, Maria!”
Ujar anak lelaki itu.
“Ah maaf Maria, tadi kami bertemu Alexey sewaktu hendak menuju kesini, lalu saat kami bilang kami mau ke rumahmu, dia bilang dia mau ikut..”
Jelas salah seorang gadis yang berambut panjang dan berkacamata.
“Iya.. maaf ya kami tidak memberi tahu terlebih dahulu..”
Ujar gadis satunya yang berambut pendek dan mengenakan bando berwarna ungu.
“Tidak apa-apa, Riona, Laurie, semakin ramai semakin seru kok”
Senyum Maria pada mereka.
“Eh iya, ngomong-ngomong kakak yang tadi siapa Maria? Kok sepertinya Riona dan Laurie kelihatan takut begitu?”
Seketika Riona dan Laurie terdiam dan memperhatikan wajah Maria.
“Dia.. kakakku..”
Riona dan Laurie sangat terkejut mendengarnya, mereka tidak percaya pada kata-kata Maria. Menurut mereka mana ada saudara yang sangat berbeda begitu.
“Kakak… maksudmu.. kakak sepupu?”
Tanya Riona
“Atau kakak angkat?”
Timpal Laurie
“Hei Laurie…”
Senggol Riona pada Laurie dengan sikunya
“Er.. maaf..”
“Tidak apa-apa, aku bisa mengerti.. kami mungkin terlihat agak berbeda, begitu pula dengan nama belakang kami.. tapi.. dia adalah kakak kandungku”
Jelas Maria
“Apa? Coba kau ulangi?”
Tanya Laurie
“Kak Luna kakak kandungku”
“Ma- masa sih… Tapi nama belakang kalian kan berbeda?”
Laurie dan Riona masih tampak tidak percaya mendengar omongan Maria, dan kenyataan bahwa Luna dan Maria adalah kakak adik yang sedarah.
“Itu.. ada alasan yang tidak dapat kukatakan.. maaf..”
Jawab Maria
“Ada apa sih? Aku tidak mengerti? Memangnya ada apa dengan kakak tadi?”
Tanya Alexey tidak mengerti percakapan mereka.
“Oh ya, kau kan murid baru.. jadi tidak tahu ya… Kak Luna itu sangat kuat, mengerikan, dan ditakuti..”
“Laurie!!”
Seru Riona menghentikan Laurie
“Brak”
“Aku mengerti kenapa kalian tidak percaya.., tapi.. jangan jauhi Maria karena aku ya..”
Luna datang secara tiba-tiba dan meletakkan nampan dengan 3 gelas minuman di atasnya. Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.
“A-a, maaf, maaf sekali kak!”
Ujar Laurie sambil menundukkan badannya berkali-kali meminta maaf atas kelancangannya.
“Tidak apa-apa.. silakan diminum, maaf hanya ada teh”
“Terima kasih!”
Ujar Laurie dan Riona.
Luna pun pergi dan menutup pintu kamar.
“Baik begitu kalian bilang mengerikan?”
Tanya Alexey dengan telunjuk yang menunjuk ke arah pintu.
“Er.. sebenarnya sih kami hanya mendengar rumornya.. kami tidak pernah berhadapan langsung dengannya.. baru kali ini kami menemuinya secara langsung..”
Riona dan Laurie terlihat malu.
“Ah ya! Maaf ya Maria, tadi aku kelepasan!”
Pinta Laurie pada Maria
“Tidak, tidak apa-apa.. jadi.. kita belajar apa?”
“Kita belajar Kimia saja! Besok ulangan lho!”
Ujar Riona.
Sementara itu..
“Aku tak menyangka, kupikir kamu akan menyerang mereka setelah mendengar pembicaraan mereka?”
Tanya Selene
“Menurutmu apa aku segila itu?”
Tanya Luna balik
“Mungkin..”
“Dasar dewi *******..”
Waktu pun berlalu, hingga tak terasa malam sudah tiba dan bulan sudah muncul. Saat Laurie, Riona, dan Alexey hendak pulang, terdengar suara-suara ribut dari lantai bawah. Dan saat mereka menuruni tangga… mereka melihat Tante Alicia dan Luna yang mengenakan kostum penyihir wanita bersayap putih seperti yang ada di film atau kartun-kartun tengah tarik menarik.
“Ah.. halo..”
Ujar Tante Alicia sambil melambaikan tangannya pada mereka..
“Halo..”
Balas mereka bertiga seolah tak percaya pada apa yang mereka lihat.
“Sial..”
Keluh Luna.
**
Setelah mendengar penjelasan sekaligus promosi website Tante Alicia kepada mereka, Akhirnya mereka mengerti.
“..Jadi begitu..”
Tutup Tante Alicia dari penjelasannya.
“Wah.. jadi Kak Luna itu artis ya?”
Kagum Laurie
“Tak kusangka Kak Luna adalah orang terkenal di internet..”
Kali ini Riona yang kagum.
Tiba-tiba
“Plok”
Alexey menepukkan kepalan tangannya seakan ia mengigat sesuatu
“Ooo, pantas saja rasanya familiar, ternyata Kak Luna benar-benar Luna, bintang yang di website Tante Alicia yang sering aku kunjungi dan internet! Aku tak menyangka! Warna mata dan rambutnya berbeda sih!”
“Heee? Berbeda?”
Tanya Laurie
“Er…”
Luna melirik pada Tante Alicia.
“Ahaha, sudahlah jangan dipikirkan, lalu bagaimana pendapat kalian melihat Luna dengan pakaian seperti ini?”
Tante Alicia meminta pendapat mereka, sementara Luna merasa bimbang, begitupun dengan Maria.
“Imut sekali!! Seperti di film-film!”
Puji Laurie
“Cantik, sangat cantik, lagipula image Kak Luna begitu cocok dengan kostum itu!”
Puji Riona
“Jika yang Laurie dan Riona yang sesama perempuan saja memuji, tentu saja aku tak bisa mengatakan yang sebaliknya, Sangat Menarik! Dan Imut! Hahaha”
Tawa Alexey.
Mendengar pujian mereka, wajah Luna memerah seperti apel, ia juga menjadi salah tingkah. Sementara.. Maria tampak terharu melihat mereka menerima kakaknya dengan baik.
“Bagaimana? Apa kau senang? Tante sudah bersusah payah membuat Luna memakai kostum itu lho!”
Bisik Tante Alicia
“Aku.. sangat gembira.. terima kasih tante..”
Tante Alicia tersenyum lebar mendengarnya, mereka semua terlihat sangat gembira.
“Terima kasih Tuhan.. telah membuat mereka menerima kakakku..”
Ujar Maria dalam hatinya.
**
Kini Laurie, Riona, dan Alexey tengah berjalan pulang bersama. Hingga sampai pada suatu persimpangan Alexey berhenti.
“Nah, rumahku ke arah sana, kalian bisa sendiri kan?”
“Tentu saja”
Jawab Riona
“Eh iya, ngomong-ngomong.. tadi kamu bilang kamu familiar pada Kak Luna dan sering melihatnya di internet.. apaka kamu penggemarnya? He?”
Tanya Laurie
“Yaah.. bisa dibilang begitu.. hahaha.. sudah ya, aku pulang dulu!”
Ujar Alexey yang kemudian melambaikan tangannya dan berjalan.
“Mungkin bisa dibilang begitu.. mungkin aku penggemarnya.. mungkin..”
Ucap Alexey dalam hati dengan senyum yang mengerikan.
PS: Dikarenakan clipping post karena keterbatasan karakter, maka post selanjutnya dipindah ke
SINI
Mohon Maaf Atas Ketidaknyamanan nya