Jakarta di Bawah Fauzi Bowo
Jakarta di Bawah Fauzi Bowo
HARI ini warga Jakarta mempunyai gubernur baru. Sang gubernur baru itu bersama wakilnya, Prijanto, yang merupakan hasil pilkada langsung, hari ini dilantik. Fauzi menggantikan Sutiyoso yang telah memimpin Jakarta selama 1997-2007.
Ada beberapa hal yang menjadi penantian penting publik Jakarta terhadap sang gubernur baru. Sekurang-kurangnya pertama, Fauzi gubernur DKI pertama hasil pemilihan langsung. Kedua, ia orang sipil pertama sejak era Ali Sadikin (1966-1977) memimpin Jakarta, atau kedua setelah Henk Ngantung (1964-1965). Ketiga, Fauzi gubernur Jakarta bergelar doktor. Ia ahli tata kota lulusan Jerman Barat. Dan, jika mau ditambahkan, keempat, Fauzi gubernur pertama yang membawa representasi orang Betawi.
Itu perlu kita kemukakan bukan untuk menjadi beban sang gubernur. Ini justru menjadi 'amunisi ekstra' agar Fauzi mengeluarkan potensi terbaiknya memimpin Jakarta. Agar Jakarta berkembang menjadi kota modern dan warganya punya adab yang elok dalam berinteraksi sosial. Dan, kota, tak hanya dibangun agar memenuhi tuntutan modernitas masa kini, tetapi juga membangkitkan kenangan masa silam.
Sebagai orang lama di pemerintahan Jakarta, Fauzi pastilah telah banyak belajar dari para pendahulunya.
Di era Ali Sadikin, misalnya, warga Jakarta benar-benar merasakan kepemimpinan sosok yang populer disapa Bang Ali itu. Ia memadukan antara ketegasan, keberanian, dan kerakyatan. Bang Ali membangun begitu banyak sarana publik yang semuanya punya manfaat tinggi.
Sebut saja, pusat kesenian Taman Ismail Marzuki, Lembaga Bantuan Hukum untuk mengadvokasi orang-orang kecil yang terpinggirkan oleh proses pembangunan. Bang Ali juga membangun tempat rekreasi Taman Impian Jaya Ancol dan Kebon Binatang Ragunan. Sementara untuk menggeliatkan perdagangan ia bangun Proyek Senen dan Pekan Raya Jakarta. Supaya anak-anak muda tak salah arah, ia bangun gelanggang remaja di setiap wilayah Jakarta. Agar orang Betawi tak hanya tinggal nama, ia jadikan Condet sebagai kawasan pelestarian budaya Betawi.
Setelah Ali Sadikin, Jakarta seperti tumbuh menyimpang dari masterplan tata kota yang seharusnya. Jakarta tumbuh menjadi kota besar yang keletihan dengan aneka problem yang menderanya. Kekuasaan pusat yang nepotis dan korup, telah pula ikut merusak pembangunan Jakarta.
Ada keinginan kuat Sutiyoso menata Jakarta. Ia berupaya menertibkan kawasan Monas yang dulu liar dan kotor. Ia juga maju pantang mundur membangun transportasi umum massal yang nyaman bernama Trans-Jakarta. Ia kampanye Langit Biru untuk membersihkan udara Jakarta yang masuk kategori terkotor ke-3 di dunia.
Tetapi, di era Sutiyoso pula dua kali banjir besar meluluhlantakkan Jakarta, pada 2002 dan 2007. Ia berupaya mengatasinya dengan membangun kanal barat dan timur. Tetapi, hingga usai jabatannya, proyek solusi banjir itu belum sepenuhnya terealisasi.
Karena itu, publik berharap banyak kepada Fauzi, untuk menertibkan Jakarta dari teror kesemrawutan, kemacetan, banjir, pedagang kaki lima, kriminalitas, dan permukiman kumuh yang kian menjamur.
Ini deretan persoalan yang tidak sederhana untuk dibereskan.
Kita ingin Fauzi mengawali pemerintahannya dengan memahami betapa di hadapannya tugas berat membentang. Adakah sumpah jabatan Fauzi, yang ia lafalkan atas nama Tuhan dalam pelantikannya, punya korelasi dengan kepemimpinannya nanti? Sekali lagi publik menunggu.