Hari Tanpa Televisi, Bermanfaatkah?
Minggu, 20 Juli 2008 | 15:23 WIB
Tanggal 20 Juli 2008 yang jatuh pada hari Minggu, ditetapkan sebagai hari tanpa televisi. Menurut Clara Kriswanto, Psi, konsultan dari Jagadnita Consulting, hari tanpa teve bisa sangat bermanfaat, terutama bagi anak-anak yang tinggal di kota, yang pilihan rekreasinya pada hari libur hanya menonton teve. Dengan demikian, menurut Clara, anak-anak bisa menyadari bahwa ada kegiatan lain selain menonton teve.
"Sebetulnya, menonton teve tidak jelek, asal selektif memilih acara dan harus tahu waktu yang tepat. Berdasarkan penelitian, anak-anak memang banyak menghabiskan waktu di depan teve. Kalau menonton teve jadi satu-satunya kegiatan anak, kehidupannya akan menjadi tidak kaya, dan dia lama-kelamaan merasa nyaman dengan dunianya sendiri, tidak peduli orang atau hal lain," ujar Clara saat dihubungi, Minggu (20/7).
Namun, imbuh psikolog ini, sukses atau tidaknya gerakan mengurangi jam menonton teve bagi anak ini harus melibatkan campur tangan orangtua. Artinya, orangtua bukan hanya boleh melarang anak menonton teve, apa pun alasannya, melainkan juga memberikan solusi. Yaitu dengan memberikan kegiatan lain, bukan mengganti tontonan dengan bermain game seperti Playstation atau komputer.
"Banyak yang bisa dilakukan, misalnya kegiatan di luar ruang yang melibatkan aktivitas fisik dan mengasah kemampuan motoriknya. Antara lain berolahraga, sehingga mengajari anak memiliki daya juang dan kompetisi. Bisa juga mengajak mereka ke toko buku, minta mereka memilih buku yang akan mereka baca, lalu minta mereka menceritakannya di depan anggota keluarga yang lain. Sehingga, keakraban keluarga makin terjalin," tuturnya sambil menambahkan, kegiatan ini juga melatih keberanian dan kemampuan verbal.
Bermain permainan monopoli pun bisa dilakukan, karena membuat anak melatih ketrampilan finansialnya. Lalu, saat anak-anak menonton teve, Clara menyarankan agar orangtua mendampingi mereka. Makin dini usia anak, makin perlu didampingi. Sehingga, ketika ada adegan yang tidak seharusnya ia lihat, orangtua bisa segera membahasnya bersama, agar anak tidak salah menangkap pesan.
"Kalau tidak, anak bisa beranggapan bahwa memukul itu boleh, misalnya. Sebaiknya, menonton teve bagi anak hanya dijadikan selingan, bukan kegiatan utama. Apalagi, ada program-program teve yang tidak sepantasnya ditonton anak. Saat pendampingan merupakan waktu yang tepat untuk memasukkan pesan moral dan nilai yang positif pada anak," papar Clara sambil menegaskan, itu sebabnya tidak disarankan memiliki teve di dalam kamar.
Membatasi anak menonton teve juga perlu dilakukan, misalnya 1-2 jam dalam sehari. Minta anak menonton acara favoritnya saja, yang tentu saja sesuai untuknya. Dengan demikian, anak belajar untuk mengatur waktu (time management) dan menghargai orang lain. Sebab, ia perlu mengatur kapan saatnya belajar, menonton teve, dan memberi kesempatan pada anggota keluarga lain untuk menonton tayangan favorit mereka.
http://www.kompas.com/read/xml/2008/....bermanfaatkah.
yah,bagus juga sih ide nya.....!biar bisa bermasyarakat sekali-sekali
Artikel Terkait dengan Berita di atas
Maraknya program televisi untuk anak yang justru tak layak ditonton anak-anak tentunya mengundang keprihatinan. Komisi Penyiaran Indonesia dan sejumlah penelitian menunjukkan, tak sedikit acara televisi khusus anak yang mengandung unsur kekerasan dan seksual sehingga tak pantas dikonsumsi anak.
Pada media Kidia edisi Juni-Juli yang dikeluarkan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), disebutkan daftar acara yang masuk dalam kategori Aman, Hati-hati, dan Bahaya untuk anak. Ingin tahu?
Tayangan televisi yang Aman bagi anak bukan hanya tayangan yang menghibur, melainkan juga memberikan manfaat lebih. Manfaat tersebut, misalnya pendidikan, memberikan motivasi, mengembangkan sikap percaya diri anak, dan penanaman nilai-nilai positif dalam kehidupan. Sekalipun aman, orangtua diimbau mendampingi anak-anak menonton TV.
Sementara itu, tayangan yang masuk dalam kategori Hati-hati adalah tayangan anak yang dinilai relatif seimbang antara muatan positif dan negatif. Sering kali tayangan yang masuk kategori ini memberikan nilai hiburan serta pendidikan dan nilai positif, namun juga dinilai mengandung muatan negatif seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar yang tidak mencolok.
Nah, tayangan yang masuk dalam kategori Bahaya merupakan tayangan yang mengandung lebih banyak muatan negatif, seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar. Kekerasan dan mistis dalam tayangan yang masuk dalam kategori ini dinilai cukup intens sehingga bukan lagi menjadi bentuk pengembangan cerita, tapi sudah menjadi inti cerita. Tayangan dalam kategori ini disarankan untuk tidak disaksikan anak.
Berikut ini adalah daftar acara yang masuk dalam kategori Aman, Hati-hati, dan Bahaya:
AMAN: Varia Anak (TVRI), Bocah Petualang, Laptop Si Unyil, Jalan Sesama, Cita-citaku, Si Bolang ke Kota, Buku Harian si Unyil (TRANS7), Surat Sahabat, Cerita Anak, Main Yuk! (TRANS TV), Dora The Explorer, Go! Diego Go!, Chalkzone, Backyardians (TV G), dan Masa Kalah Sama Anak-anak (TV One)
HATI-HATI: Idola Cilik Seleb, Rapor Idola Cilik Seleb, Doraemon, Pentas Idola Cilik, Rapor Pentas Idola Cilik (RCTI), Casper, Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle Brawlers, Konser Eliminasi 6 AFI Junior (IVM), New Scooby Doo Movie (TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar: The Legend of Aang, Carita De Angel (TVG)
BAHAYA: Tom & Jerry, Crayon Sinchan (RCTI), Si Entong, Tom & Jerry, Si Entong 2 (TPI), Popeye Original, Oggy & The Cockroaches (AN TV), Detective Conan, Dragon Ball, Naruto 4 (INDOSIAR), Tom & Jerry (TRANS7), One Piece, Naruto