TEHERAN - Kali pertama sejak dijatuhkannya sanksi ekonomi atas Iran oleh Amerika Serikat (AS) pekan lalu, Presiden Mahmoud Ahmadinejad angkat suara. Kemarin (1/11), pemimpin 51 tahun itu memperingatkan negara-negara Eropa sekutu AS untuk tidak mengikuti langkah sepihak tersebut. Bahkan, dia mengancam bakal melancarkan aksi balasan terhadap negara-negara sekutu AS yang ikut-ikutan memberi sanksi.
"Jika mereka (negara-negara Eropa, Red) berencana bekerja sama dengan musuh Iran, kami tidak akan menerjemahkannya sebagai tindakan bersahabat. Kami akan membalasnya," tandas Ahmadinejad seusai meresmikan kompleks petrokimia di sebelah selatan Pelabuhan Asalouyeh, sekitar 1.500 km dari Kota Teheran. Selain itu, dia menentang ancaman sanksi ketiga PBB yang terkait dengan program nuklir Iran. Menurut mantan komandan Garda Revolusi tersebut, era resolusi dan sanksi PBB sudah berlalu.
Melalui sanksi ekonomi yang diumumkan Menteri Luar Negeri Condoleezza "Condi" Rice itu, AS secara resmi melarang perusahaan bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran. Sebab, selain menjadi unit militer terkuat, Garda Revolusi merupakan salah satu pilar utama penyokong ekonomi Iran. Hingga saat ini, pasukan elite tersebut mengelola beberapa bisnis penting di Iran. Termasuk, minyak bumi dan konstruksi. Di bawah sanksi ekonomi AS, sejumlah bank dan firma internasional juga dilarang terlibat dalam bisnis yang berbau Garda Revolusi Iran.
Langkah sepihak AS itu jelas membuat pemerintahan Ahmadinejad geram. Hubungan Iran-AS yang sudah rusak sejak 1979 kini menjadi semakin parah. Iran pun tidak menginginkan sanksi ekonomi yang sama sekali tidak bisa diterima tersebut diikuti oleh negara-negara Eropa sekutu AS. Lebih-lebih, saat ini, hubungan ekonomi Iran dan beberapa negara Eropa sedang baik. "Kalian, bangsa-bangsa Eropa, tahu persis apa yang akan terjadi dalam bidang ekonomi jika Iran melancarkan balas dendam," seru Ahmadinejad.
Menurut Kantor Berita Pemerintah Iran IRNA, Ahmadinejad mengatakan bahwa sanksi AS itu berpotensi merusak hubungan ekonomi negerinya dengan Eropa. Namun, ditambahkan mantan wali kota Teheran tersebut, Eropa-lah yang akan menanggung kerugian terbesar. "Kalian, negara-negara Eropa, lebih membutuhkan kami," ujarnya. Sebab, sebagai negara penghasil minyak kedua OPEC, Iran telah berhasil menggaet sebagian besar perusahaan Eropa sebagai mitra.
Bersamaan dengan itu, mantan Presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani mengimbau masyarakat untuk mewaspadai aksi "tiba-tiba" AS. Imbauan tersebut muncul dari kekhawatiran dia terhadap aksi militer AS. Sebab, hingga saat ini, Negeri Paman Sam itu tidak bersedia mencabut opsi militer dari agenda sanksi. "Sejak revolusi (Islam 1979, Red), musuh telah menggagas serangkaian skenario serangan. Tapi, saat ini, situasinya sama sekali tidak bisa diprediksi. Seluruh masyarakat harus waspada."
referensi :
http://www.indopos.co.id/
Ketegangan pada kedua pihak dan akhir - akhir ini ketegangan itu makin memanas, seiring dengan dibawanya isu ini ke Dewan Keamanan (DK) PBB.
Bahkan Iran mengancam akan melanjutkan pengayaan uranium berskala penuh jika pengawas nuklir PBB memaksakan sanksi atas program nuklirnya.
Sementara pemerintah AS mengancam kemungkinan adanya konsekuensi menyakitkan bagi Iran.
Masih adakah jalur alternatif untuk menyelesaikan masalah ini ?
Perang itukah jalan terakhir ?
Share This Thread