[ Sabtu, 15 November 2008 ]
Gebrakan Pertama Kapolri Perangi Semua Preman
JAKARTA - Program pertama Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri ialah memerangi preman. Komitmen itu langsung dia buktikan. Hanya dalam 10 hari, 5.012 preman berhasil diringkus.
Itu hanya tangkapan yang dilakukan lima polda yang memang menjadi pilot project. Yakni, Polda Metro Jaya, Polda Jateng, Polda DI Jogjakarta, Polda Jatim, dan Polda Sumut. Polda lain di Indonesia juga ikut bergerak meski belum masuk program. Bila tangkapan dari polda lain itu digabung, jumlahnya mendekati angka sepuluh ribu.
Sementara ini Kapolri memang fokus kepada preman jalanan. Misalnya, pencopet, penjambret, pemeras, pencurian dengan kekerasan, dan penebar paku di jalan. Setelah itu, tindakan premanisme lain juga akan disikat.
Mengapa memilih operasi preman sebagai gebrakan pertama? ''Kami ingin pelayanan ke masyarakat itu benar-benar realistis. Itu kan (kejahatan) yang kasatmata dan terlihat. Itu menyangkut masalah keamanan yang langsung dirasakan masyarakat di bawah,'' jawab Kapolri di Mabes Polri kemarin (14/11).
Jika masyarakat aman, kata dia, roda ekonomi juga akan lebih berputar. Misalnya, orang tidak segan ke pasar pada malam hari dan pedagang juga tidak takut bakal diperas preman. ''Jika masyarakat belum merasakan langsung bahwa polisi telah berubah, bagaimana kami akan mengatakan bahwa pelayanan polisi memang telah berubah?'' tambahnya.
Sejak menjabat Kapolri, gebrakan Bambang Hendarso yang langsung dirasakan masyarakat kecil adalah memburu para preman. Hasil dari gebrakan itu cukup jitu. Selama 10 hari saja, 5.012 preman berhasil diciduk. Jumlah itu hanya di wilayah hukum lima polda.
Di antara lima polda tersebut, Polda Metro Jaya yang paling banyak panen. Sebanyak 3.756 preman ditangkap selama 10 hari, mulai tanggal 2 hingga 12 November. Tempat kedua adalah Polda Jateng yang menangkap 885 preman (sebagian besar di Semarang). Tempat ketiga Jatim (Surabaya) 730 preman dan Sumut (Medan) 717 preman.
Sebagian besar preman itu ditangkap di pelabuhan, terminal, tempat hiburan, dan kawasan pusat perbelanjaan. Tempat-tempat tersebut memang menjadi lokasi mangkal favorit bagi mereka.
Memang, tidak semua preman yang ditangkap itu kemudian ditahan. Sebagian besar dilepaskan atau dibina. Dari total 5. 012 preman yang ditangkap lima polda, hanya 570 yang ditahan. Selebihnya dibina.
Kabreskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji menambahkan, polisi tidak ngawur dalam menangkap preman. ''Jika tidak terbukti dalam 1 x 24 jam -karena kami memang berhak menahan orang dalam kurun waktu itu sesuai KUHAP-, (mereka) akan kami keluarkan,'' katanya kepada Jawa Pos.
Menurut Susno, polisi bertekad memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat. Polisi tak ingin lagi melihat pengamen yang naik ke bus kota, kemudian memperlihatkan tato sambil mengancam penumpang agar memberikan uang. Atau, orang yang menggores cat mobil dengan paku karena minta uang tak dikasih. ''Pelanggaran hukum begini ini tidak bisa dibiarkan,'' ujarnya.
Kalau sekarang fokus preman, bagaimana pelaku kejahatan lain? Kapolri menjanjikan, tindak kejahatan lain segera menyusul untuk ditindak. Misalnya, judi dan illegal logging.
Kapolri juga sudah menyusun rencana operasi pencitraan lalu lintas. Menurut dia, penyuapan yang kerap dilakukan pelanggar -atau dikenal dengan istilah 86- juga akan diberantas. ''Ini juga termasuk program akselerasi kami,'' sambungnya.
Hal itu, lanjut dia, sesuai dengan grand strategy Polri bahwa trust building (kepercayaan masyarakat) harus sudah terbangun pada 2010 nanti. ''Sedangkan gebrakan ke dalam, 1 Desember nanti diumumkan Irwasum Polri (Komjen Pol Yusuf Manggabarani, Red) berapa banyak anggota yang kami tindak,'' tambahnya. (naz/nw)
http://jawapos.co.id/halaman/index.p...showpage&kat=3
Perhatian Preman di Pantura Jawa
PALEMBANG - Perang terhadap preman terus berlanjut ke kota-kota besar lain di Indonesia. Palembang (Sumsel), Palu (Sulteng), dan Jambi tak mau ketinggalan untuk memberantas ulah orang-orang yang meresahkan masyarakat tersebut. Kepolisian setempat tampaknya tak mau ketinggalan dengan rekannya di wilayah lain. Mereka berlomba-lomba memberi rasa aman kepada masyarakat dengan cara memerangi preman.
Seperti diketahui, Mabes Polri mencanangkan perang terhadap preman. Untuk tahap awal, lima polda menjadi pilot project. Yakni, Polda Metro Jaya, Polda Jateng, DI Jogjakarta, Jatim, dan Sumut. Meski demikian, polda-polda lain seperti Bangka Belitung, Sulsel, dan Jabar tak mau ketinggalan kereta. Mereka juga giat membersihkan wilayahnya dari preman.
Sehari kemarin di Kota Palembang saja terjaring 6o preman. Kapoltabes Palembang Kombespol Luki Hermawan menegaskan, para preman yang terjaring itu, sebagian merupakan residivis. Mereka yang ditangkap itu kebanyakan mangkal di terminal, pasar, dan dekat plaza.
Bukan hanya di kota besar, di Jateng dan Jatim, operasi preman sudah menyentuh tingkat kabupaten. Di Batang dan Tegal, Jateng, operasi banyak menindak preman yang menjual jasa pengawal kendaraan umum, terutama truk. Sebab, para pelintas jalur pantura yang padat itu memang menjadi santapan empuk para preman.
Preman pasar juga menjadi sasaran polisi Tegal. "Operasi Nusa Candi 2008 ini memang bertujuan memberantas tindak kejahatan, terutama premanisme yang kerap terjadi di masyarakat. Dengan razia dan langsung memberikan tindakan tegas, diharapkan pelaku premanisme yang sering memalak masyarakat kecil ini tidak terjadi lagi," terang Kapolres Tegal AKBP A. Hardiyanto melalui Kabag Ops Kompol Wiyoto.
Meski operasi preman terorganisasi terus dilakukan, belum ada satu pun anggota organisasi preman transportasi yang diamankan Polda Jateng. Yang dilakukan aparat kepolisian hanya menghapus identitas kelompok preman yang tertempel di truk-truk.
Namun, langkah itu ternyata membuat resah sebagian sopir. Para sopir yang stikernya disita justru takut. Mereka khawatir mendapat gangguan di jalan raya.
Ketika hal itu dikonfirmasikan, polda mengaku sengaja karena pihaknya perlu koordinasi dengan sejumlah pihak. ''Memang, belum ada yang ditangkap karena kami masih perlu pembuktian. Itu bisa kami dapatkan dari keterangan saksi dan korban,'' ujar Direskrim Polda Jateng Kombespol Dewa Parsana melalui Kanit Jatanras Kompol Ketut Sumardika Jumat (14/11).
Didesak mengapa butuh waktu lama, Ketut beralasan, pihaknya perlu berhati-hati. Sebab, kelompok preman diduga melibatkan oknum polisi, TNI, dan dishub. Karena itu, Polda Jateng perlu berkoordinasi dengan instansi mereka berasal.
Menurut Ketut, organisasi seperti Gajah Oling, Sinar Garuda, Putra Cakra,�Trans Komando, dan Andalas punya manajemen rapi. Mereka mempunyai perwakilan di tiap daerah untuk memantau aktivitas truk anggota dan memungut bayaran. ''Ada pos-pos seperti rumah kecil-kecil dengan beberapa orang yang jaga. Kita akan cek ke sana,'' katanya.
Selain itu, bentuk organisasi yang menggunakan istilah koperasi juga diduga hanya kamuflase. Untuk memeriksa apakah bentuk koperasi itu benar atau hanya selubung, penyidik akan memeriksa undang-undang koperasi dan keterangan ahli.(jpnn/nw)
http://www.jawapos.co.id/halaman/ind...tail&nid=35829
Gebrakan dari Kapolri baru, maju terus.
Share This Thread