Page 1 of 4 1234 LastLast
Results 1 to 15 of 47

Thread: 2011\813

http://idgs.in/130751
  1. #1
    the_omicron's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Location
    di Cinere say........... Ongoing Novel: S|L|M
    Posts
    3,908
    Points
    13,246.30
    Thanks: 6 / 116 / 69

    Default 2011\813


    Author : The_Omicron
    Site : www.the-omicron.co.cc
    Genre : Action, Survival, Thriller

    2011\813 is under copyright law © 2008 the-omicron.co.cc



    Warning, This Work Contain Some Explicit Words


    Chapter List
    Story 1
    Chapter 1
    Chapter 2
    Chapter 3

    Story 2
    Chapter 1

    Story 3
    Chapter 1
    Chapter 2
    Chapter 3

    Extra Page
    Extra 1





    The_Omicron Presents, a light novel with extraordinary theme for an amateur writer..










    Zombie.., bila mendengar kata itu.. pasti akan terbayang mayat hidup yang memakan daging manusia dan menyebarkan infeksi.. ya.. hal itu memang benar..
    Dunia ini memang misterius, kita bahkan tak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi satu detik kemudian. Segala hal memiliki kemungkinan untuk terjadi, sekecil apapun itu, selama masih memiliki kemungkinan, hal itu mungkin akan terjadi, satu detik lagi, satu menit lagi, satu jam lagi, satu hari lagi, ataupun satu minggu,bulan,tahun bahkan 1000 tahun lagi.. ya.. kita tak tahu.
    Mencegah lebih baik dari mengobati, tampaknya pepatah itu sangatlah tepat untuk kejadian yang akan terjadi pada cerita ini, bagaimana 3 orang yang berbeda akan menghadapi fakta mengerikan yang akan terjadi, bagaimana cara mereka menghadapinya, bagaimana cara mereka untuk bertahan hidup.



    3 Stories

    3 Different Person

    3 Different Place

    3 Different Personality

    3 Different Act to Survive

    1 Birthday

    1 City

    1 Horror

    Thousands Zombies...




    Target
    New Hampshire
    Date : 13-08-2011
    Population : 16,205,043
    Area : 805.23 km²
    Density : 20,124.65/km²
    Map:







    Progress...



    .


    .


    .



    Story 1
    Reina Steingarten








    Chapter 1 : R for Revenge




    Namaku Reina, Reina Steingarten. Tepat hari ini umurku bertambah menjadi 17 tahun. Tetapi, hari tetap berjalan seperti biasa, ya, tak ada yang spesial, tak ada perayaan, tak ada salam, tak ada ucapan “Selamat Ulang Tahun” untukku, tak ada apapun.
    Sejak kecil, aku selalu sendirian ketika terbangun dari tidurku. Ibu dan Ayahku sudah bercerai sejak 7 tahun yang lalu, dan aku diambil oleh Ayah, yang selalu berada di kantor, sebagai seorang presiden direktur sebuah perusahaan besar. Maka itulah, karena jarang bertemu, dapat ditebak hubungan kami seperti apa, ya, buruk, itulah yang terjadi, perasaan kami sebagai ayah dan anak telah hilang, kami bagaikan 2 orang yang terpisah jauh, walaupun sebenarnya sangat dekat.
    Tetapi, entah mengapa banyak teman-temanku iri kepadaku, yang perempuan bilang bahwa aku “Kaya” , “Cantik” dan “Cerdas”, hingga mereka membenciku dan menganggapku sebagai musuhnya, sungguh aneh, bila kalian dilahirkan tidak seperti aku, salahkan lah orang tua kalian dan diri kalian sendiri, mengapa terlahir sebagai orang yang miskin, jelek dan bodoh. Tapi, apalah artinya kekayaan, kecantikan dan kecerdasan dengan keluarga yang berantakan seperti ini, dalam hati, aku iri dengan mereka dan hubungan mereka dengan keluarga mereka, seperti mereka iri terhadapku. Manusia memang tak pernah puas akan dirinya.
    Sementara, teman-teman laki-laki menjauhiku, kata mereka, meski aku Kaya, Cantik, dan Cerdas, aku adalah orang yang aneh dan “Freak”. Tapi aku tak heran, karena hobiku, sebagai seorang perempuan memang sangat berbeda dengan teman-teman ku yang lain. Sementara mereka berminat pada hal-hal semacam parfum, mode, dan hal romantis, aku malah terpikat pada hal-hal yang berhubungan dengan militer dan senjata, dapat dilihat mulai dari jepit rambutku yang bercorak camo militer dengan hiasan berbentuk tank, kalungku yang berupa dog-tag militer berukir nama dan tanggal lahirku, hingga koleksi ku yang berupa senjata jarak dekat semacam pisau machette, katana, dan semacamnya, hingga berbagai macam pistol. Bukan, pistol yang kubicarakan bukan berupa pistol replika, tetapi pistol sesungguhnya dengan peluru tajam, yang kubeli dengan diam-diam menggunakan identitas Ayahku.
    Aku juga mempunyai suatu paranoia yang kurang wajar, ya aku paranoid akan serangan zombie, bahkan aku sudah membuat planning akan serangan zombie bila hal itu terjadi. Hingga teman-teman sekolahku memberiku julukan “Zombie Girl”. Tapi hal itu tak menggangguku, karena mereka akan merasakan akibatnya bila hal itu terjadi, Zombie Outbreak.

    Saat Reina tengah berjalan memasuki pintu gedung sekolah, seorang murid laki-laki dengan sengaja menyandung kaki Reina hingga ia terjatuh.

    Felix
    “Ups mengapa kau terjatuh Nona Zombie? Apa kau kehilangan keseimbangan setelah terinfeksi Virus zombie?? Hahahaha!!”

    Felix dan teman-temannya tertawa, tetapi Reina tak memperdulikannya, dia bangkit dan kembali berjalan menuju kelasnya. Reina sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu, hinaan-hinaan, perlakuan kasar, dan intimidasi terus didapatkan Reina, semua hanya karena rasa dengki dan perbedaan hobby, sungguh ironis.
    Reina memasuki kelasnya, tapi tak seorangpun menyapanya, kemudian ia berjalan menuju bangkunya di pojok paling belakang dekat dengan jendela, terkucil dari teman-temannya yang lain. Hari ulang tahun Reina , dimana seharusnya menjadi hari bahagia tetap tak berubah. Tetap menjadi hari-hari suram seperti biasanya.
    Saat waktu pelajaran, saat Reina melirik ke langit dibalik jendela, ia melihat sebuah benda, berwarna hitam dan berbentuk bola tengah terjatuh dari balik awan, kemudian benda itu terlihat terjatuh di antara rumah-rumah yang terlihat dari balik jendela kelas, diiringi dengan bunyi ledakan kecil.
    Seisi kelas kaget dan berkumpul ke dekat jendela, penasaran melihat apa yang baru saja terjadi.

    Guru
    “Sudah, sudah, mungkin itu hanya ledakan dari kompor, mari kita lanjutkan pelajarannya..”

    Murid-murid pun kembali duduk ke bangkunya masing-masing pikiran “Itu hanya ledakan kompor” tertanam di otak mereka bersama dengan duduknya mereka. Hanya Reina melihat dan tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tak ambil pusing, toh bila ia berkata sebenarnya tak akan ada yang percaya padanya. Lebih baik diam dan selamat sendiri daripada angkat bicara dan celaka bersama.

    Reina – dalam hati
    “Menurut analisisku.. kekuatan ledakannya setara seperti 200gram TNT, dan benda itu terjatuh dalam kecepatan 180Km/jam, tak mungkin sebuah meteor, kemungkinan yang paling besar adalah serpihan pesawat ataupun drop bomb..”

    Tak lama kemudian, terdengar lagi suara ledakan lagi, tetapi kali ini letaknya jauh, dan tak hanya satu, ada beberapa suara ledakan.
    Seisi kelas menjadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Sang Guru tak mengambil pusing, yang ada dalam otaknya hanya membuat muridnya belajar, belajar, dan belajar, tak ada yang lain.
    Beberapa jam kemudian, terdengar suara sirine mobil polisi dan pemadam kebakaran, serta ambulance dimana-mana, tampaknya sesuatu yang heboh tengah terjadi diluar sana.
    Reina melihat beberapa orang tengah berjalan memasuki gerbang sekolah, dengan darah yang menetes seiring berjalannya mereka dengan sempoyongan, Reina sadar apa yang tengah terjadi, bersamaan dengan masuknya guru lain yang berbisik kepada guru yang tengah mengajar. Senyuman mengerikan terlihat di bibir Reina.

    Guru
    “Baiklah anak-anak, tampaknya pelajaran harus kita akhiri sampai disini karena sesuatu hal, Sekarang, silakan kalian pulang ke rumah masing-masing..”

    Seisi kelas segera merapikan bawaan mereka dan dengan gembira, tanpa mengetahui apa yang telah terjadi membawa tas mereka dan keluar dari kelas dengan riang gembira. Tetapi Reina hanya duduk di kelas, tidak bergerak selangkah pun dari bangkunya.
    Reina sekali lagi melihat ke luar jendela, orang-orang tadi sudah menghilang, meninggalkan jejak darah yang dengan mudah dapat disimpulkan mereka telah memasuki gedung sekolah.
    Reina mengeluarkan sesuatu dari tasnya..

    Reina
    “Akhirnya ada gunanya juga aku selalu membawa benda ini.. tak percuma aku selalu membawanya..”

    Lalu terdengar teriakan dan jeritan yang keras dari lantai bawah, bersamaan dengan larinya murid-murid dari gedung sekolah, beberapa terlihat terluka..

    Reina
    “Tampaknya benda ini harus kugunakan..”
    Sambil mengeluarkan benda itu, Pisau Machette besar yang tajam dan mengkilap.

    Reina bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas dengan tenang, saat berada di depan, ia melihat segerombolan murid bergegas berlarian kearahnya, beberapa terlihat terluka.

    Murid 1
    “Ayo, kita sembunyi di kelas ini!!”

    Reina menyembunyikan Machettenya..

    Teman-teman Murid itu segera berlarian memasuki kelas.

    Murid 1
    “Hei, kau juga, kita harus bersembunyi!! Sekarang!!”

    Reina – pura-pura tak tahu
    “Apa yang sebenarnya terjadi?”

    Murid 1
    “Kau tak akan percaya hal ini, tetapi ini benar-benar gila! Beberapa orang memasuki sekolah dengan tubuh yang penuh luka dan berdarah dimana-mana! Kemudian saat kami berniat menolong mereka, mereka malah menyerang kami dan menggigit kami! Keadaan menjadi kacau dan akhirnya tanpa sadar kami berlari kesini!”

    Reina
    “Begitukah... hmm baiklah... biar kupikirikan sesuatu..”

    Reina
    “Hei, siapa namamu?”

    Marco - heran
    “M-Marco..”

    Reina
    “Marco? Kau teman Felix?”

    Marco - heran
    “Ah.. Ya.. begitulah..”

    Reina - tersenyum
    “Baiklah Marco, sekarang masuklah dan bersembunyi dengan teman-teman mu di kelas ini, aku akan mencari bantuan untuk kalian..”

    Marco
    “Te-terima kasih, tak kusangka kau begitu baik, aku jadi menyesal telah ikut mengerjaimu!!”
    Kemudian Marco memasuki kelas.

    Reina menutup pintu kelas itu, kemudian ia berjalan menuju kelas lain, mengambil sebuah bangku, kemudian membawanya ke depan pintu kelasnya yang tertutup. Ia kemudian menaruh bangku itu sedemikian rupa hingga gagang pintu tertahan tak dapat bergerak oleh bangku itu. Senyum terlihat di wajah Reina.

    Reina –dalam hati
    “Sekarang, membusuklah kalian di neraka bersama para mayat itu..”

    Reina – dalam hati
    “Tampaknya aku harus kembali ke rumah untuk mengambil beberapa koleksiku..”

    Reina pun berjalan dengan tenang di koridor kelas, menuju lantai bawah, meninggalkan kelasnya yang sekarang penuh dengan teriakan dan getaran-getaran di pintu kelas yang tak bisa terbuka lagi, darah memercik mengotori jendela pintu kelas, tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sana.

    Saat berada di tangga lantai 2 dan hendak untuk turun, terlihat Felix, tanpa luka-luka terlihat di tubuhnya tengah berlari menaiki tangga dengan wajah yang panik, ia melihat Reina yang menggenggam machete di tangannya.

    Felix
    “Re-Reina, tolong, tolong aku, mereka mengejarku, mereka akan membunuhku!!”

    Reina – dalam hati
    “Hmph.. setelah yang kau lakukan, tanpa rasa malu kau meminta tolong kepadaku? Dasar mahluk ******* tak tahu malu!”

    Felix – menaiki tangga dengan nafas terengah-engah
    “Reina tolong a- AAAAAAAAAGH!!”

    *Gubrak*

    Felix terjatuh dari tangga.

    Reina menendang Felix yang tengah berlari menaiki tangga, hingga ia jatuh terguling ke tengah tangga. Bersamaan dengan itu, beberapa murid dan guru yang luka-luka menyerang Felix yang tengah tersungkur.

    Felix
    “AAAAAAGH TIDAAAAAK!! TOLONG AKU!!!! AAAAAAGH!!!”

    Mereka menggigiti dan mencabik-cabik tubuh Felix, darah berceceran di lantai tangga, Reina melihatnya dari atas tangga.

    Reina
    “Matilah kau ********, semoga arwahmu diterima di neraka!”

    Reina
    “Tampaknya aku harus mencari jalan turun lainnya.. zombie zombie itu mungkin tak lama lagi akan menyadari keberadaanku.. aku harus bergegas..”
    Kemudian Reina berjalan kembali di koridor kelas menuju tangga selanjutnya.

    Tetapi, saat sedikit lagi mencapai tangga selanjutnya, gerombolan zombie muncul dari tangga yang akan Reina tuju, Saat Reina membalikkan badannya hendak kembali ke tangga sebelumnya, ternyata koridor itu sudah dipenuhi gerombolan zombie yang tadi tengah mencabik-cabik Felix.

    Reina
    “Sial, aku terkepung..”

    Reina melihat terdapat pintu sebuah kelas di dekatnya, tanpa pikir panjang ia kemudian membukanya dan memasuki kelas itu, kemudian menutupnya untuk menahan para zombie itu sementara ia berpikir cara untuk kabur.

    Reina
    “Ini akan memberiku sedikit wakt.. Hmmm tampaknya aku terlalu cepat lega..”

    Ternyata di kelas itu sudah berada beberapa zombie, sementara di balik pintu terdapat lebih banyak lagi zombie, tak ada pilihan bagi Reina, ia harus melawan mereka..

    Reina
    “Baiklah.. mari kita bermain mayat-mayatku..”

    Seekor (Sebuah? Seorang? Whatever, seekor aja deh) Zombie menyerang Reina, Reina menghunuskan machetenya menuju kepala yang menyerangnya, hingga menembus kepalanya melalui mulutnya dan membunuh zombie itu, lalu zombie lainnya ikut menyerang Reina, Reina mencabut machetenya yang menancap di kepala zombie sebelumnya kemudian menebaskannya ke leher zombie lainnya hingga kepalanya terputus dari badannya, lalu Reina berputar dan menendang kaki zombie yang berada di belakangnya hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh, kemudian Reina melompat dan menghunuskan machetenya ke dahi zombie yang terjatuh itu. Menembus kepalanya hingga darah berceceran di lantai.

    Reina
    “Sudah lama aku ingin melakukan ini.. akhirnya keinginanku terkabul..”

    Pintu yang sejak tadi digedor oleh para zombie yang berada di luar akhirnya tak dapat bertahan, pintu itu terlepas dan terjatuh karena daya dorong yang kuat dari zombie-zombie itu, Reina kehabisan waktu berpikir.

    Reina
    “Tak ada jalan lain..”

    Reina membuka jendela kelas dan tanpa ragu melompat ke lapangan. Reina sudah memperhitungkan hal ini, ia terjatuh di semak yang berada di pinggir lapangan, sehingga ia tak mendapat cedera apapun. Reina kemudian berlari melintasi lapangan.

    Reina - sambil berlari
    “Hmph.. haha haha, HAHAHAHA!!”
    Reina tertawa

    Reina
    “Hahaha!! Tadi sangat menegangkan dan menyenangkan, ditambah lagi semua yang pernah menggangguku telah mati, Felix dan temannya telah mati! Hahahaha!! Ini adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah aku dapatkan, HAHAHA!!”

    Reina tertawa girang ambil berlari melewati lapangan dan keluar dari sekolah menuju rumahnya, yang berada tak jauh dari sana.





    __________________________
    To Be Continue to Chapter 2







    Last edited by the_omicron; 20-11-08 at 00:21.


    Click To Read Sweet~.

    Mari Menulis Disini

    Quote Originally Posted by dono View Post
    Dilihat dari system server kami, dikarenakan sudah lebih dari 2000 pages kami mengambil keputusan untuk menutup thread in, karena menyebabkan ada nya keberatan dari server forum sendiri. Mohon maap dan terimakasih.

  2. Hot Ad
  3. #2
    Ilyasviel's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    100
    Points
    114.40
    Thanks: 0 / 0 / 0

    Default

    Wuih, dida buat cerita! Asik!! Temanya pun beda sama yang biasanya ada di sini

    Oke, gw dah balik... Ceritanya mangstabs!

    “Matilah kau ********, semoga arwahmu diterima di neraka!”
    This is the winning phrase!! Very rude girl so sweet...

    Zombienya jalannya pelan? Apa bisa lari? Kalo bisa... FTW!!

    Koleksi di rumahnya... Last resort of Eastern Eggswood...

    Banyak pertanyaan, misalnya kek, itu *** isinya T-Virus dari mana? Apa alasan *** itu dijatuhkan? Dan betapa cepat virus spreadingnya...

    Anyway, this is a great story, I love it. I love actions! Well at the moment, though =D

    Nice, sampe ada petanya juga... Ada logo pula... Sasuga Dida-san

    Nice, ditunggu chapter 2nya!!

    Btw...

    Spoiler untuk Jangan Dibuka :
    Last edited by Ilyasviel; 06-11-08 at 23:20.

  4. #3
    RiXtopia's Avatar
    Join Date
    Dec 2007
    Location
    Western Jakarta Former ID: ∙ ∙ ∙ RiX777
    Posts
    1,736
    Points
    7,206.21
    Thanks: 219 / 769 / 291

    Default

    Seru nih! Gw agak takut sie ama zombie... moga2 zombienya gak muncul di kampus gw dengan cara seperti itu...

    brb nyari reina
    TIDAK MENERIMA BARCEN

  5. #4
    the_omicron's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Location
    di Cinere say........... Ongoing Novel: S|L|M
    Posts
    3,908
    Points
    13,246.30
    Thanks: 6 / 116 / 69

    Default

    kebetulan sedang sange nulis, hari ini jadi ngetik 2 chapter sekalian

    Reina will even more cruel in the next chapter of her story, just wait till she goes insane

    pertanyaan-pertanyaan @ilya akan terjawab nanti, tunggu saja! dan sampai saat ini zombienya masih zombie lambretta

    @RiX

    ga usa takut ama zombie, yg penting palanya! hantam dengan apapun yang ada di dekat anda erica-san!
    and hey, Reina is a cruel, rude, yet beautiful and athletic girl! She is da best!



    eniwei next chapter
    __________________________________




    Story 2
    Edward Charleston







    Chapter 1 : To Hell Or Heaven





    Namaku Edward, Edward Charleston. Tepat hari ini umurku bertambah menjadi 27 tahun. Tapi hal itu tak mengubah hidupku.
    Aku menikah 4 tahun yang lalu. Kehidupanku berjalan dengan sempurna, aku memiliki pekerjaan, istri yang cantik dan baik, dan kemudian kami dianugrahi seorang anak perempuan yang manis.
    Tetapi semua itu berakhir hingga setengah tahun yang lalu. Aku ditangkap. Aku ditangkap karena dituduh telah membunuh istriku. Pada awalnya, aku tak mengerti, pagi itu aku pergi ke kantor seperti biasa , mencium kening anakku kemudian berpamitan dengan istriku, lalu aku pergi. Kemudian pada saat bekerja aku ditangkap begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi, aku tak mengerti.
    Di kantor polisi, aku menyangkal telah membunuh istriku, aku tak mau dihukum atas hal yang tak kulakukan, aku menuntut meminta bukti atas perbuatanku. Kemudian, setelah aku berkata begitu, mereka menggeledahku dan barang bawaanku. Saat mereka membuka tasku.. aku sendiri tak percaya pada apa yang kulihat.. sebuah pisau, dengan libatan kain putih penuh darah diangkat dari dalam tasku. Kemudian mereka memberikan pisau itu kepada tim forensik, aku tak dapat menyangkal lagi, mereka memasukanku ke penjara sebelum sidang untukku dimulai dan pengacaraku datang. Aku masih tak percaya benda itu berada di dalam tasku, tas yang selalu kupegang hingga mereka menggeledahnya. Ini pasti konspirasi, aku yakin itu.
    Setelah itu sidang untuk kasusku digelar, aku yakin aku akan menang, karena memang aku tak bersalah. Tapi anehnya.. semua bukti yang mereka ajukan sangat nyata dan konkrit.. aku sendiri tak mempercayai mata dan pendengaranku sendiri.. bahkan mereka mempunyai saksi! Tak mungkin, ini tak mungkin terjadi, ini semua konspirasi! Aku menuntut banding pada pengadilan, hingga sidang akan kasusku menjadi melar berbulan-bulan.., tetapi tetap saja, hasilnya nihil, aku tetap dinyatakan bersalah, aku tak dapat terhindar lagi dari penjara, Alexandra yang kini berusia 3 tahun diasuh oleh neneknya, Alexandra kini memiliki ayah yang berada di penjara.. aku kasihan padanya dan pada diriku sendiri. Karena sebuah konspirasi, hidupku hancur.
    Hari ini, aku dipindahkan ke sebuah penjara federal, sebuah tempat yang berisi sampah masyarakat. Kini aku menjadi salah satu dari mereka, menjadi salah satu dari orang-orang yang dulu kubenci. Sungguh ironis.
    Pagar yang tinggi, penjagaan yang ketat, orang-orang yang sangar dan menyeramkan, kekerasan, semua hal itu akan terpikir bila kita menyebut kata “Penjara”. Ya, itulah yang kutemui saat dibawa ke tempat itu, untung saja rekan satu sel ku adalah orang yang terlihat tidak begitu jahat, jadi aku bisa sedikit lebih tenang. Dia dipanggil “Otto” tapi aku tak tahu nama sebenarnya. Saat kutanyakan kepada Otto mengapa ia bisa berada disini, ia menjawab tak tahu apa-apa. Saat ia tengah bekerja di kantornya 5 tahun yang lalu, ia tiba-tiba disergap oleh para polisi, kemudian ditangkap atas tuduhan membunuh istrinya.
    Otto tak mengerti mengapa ia dituduh telah membunuh istrinya, karena istrinya telah meninggal 1 tahun sebelumnya karena kanker otak, lalu mengapa ia bisa mendapatkan tuduhan seperti itu dia tak mengerti.
    Saat Otto menyatakan bahwa istrinya telah meninggal 1 tahun sebelumnya, polisi memberikan bukti bahwa dia telah menikah lagi dengan seorang pelayan bar. Otto bingung, dia tak pernah menikah, bahkan menjalankan hubungan dengan seorang wanita pun, tetapi apa daya sangkalannya terpatahkan saat polisi menunjukkan surat pernikahan dan data catatan sipil yang menunjukkan bahwa ia benar telah menikah lagi. Bahkan mereka memberikan saksi di persidangannya! Sungguh tak masuk akal.

    “Ini semua adalah konspirasi!”

    Ujar Otto padaku sembari menceritakan bahwa ia meninggalkan anaknya yang berumur 7 tahun, pada saat ia dipenjara, sekarang anaknya dititipkan pada saudaranya dan kini anaknya telah berumur 12 tahun.

    Kukatakan pada Otto bahwa aku mengalami hal yang sama, aku ditangkap karena dituduh telah membunuh istriku. Otto simpati padaku karena aku juga mengalami hal yang sama dengannya, bahkan meninggalkan seorang anak seperti yang telah ia alami.

    Beberapa jam kemudian..

    Saat aku bosan dan tengah melihat pemandangan dibalik jendela berjeruji untuk membuat rencana pelarian dari penjara itu, aku melihat sebuah benda hitam yang aneh meluncur dari balik awan, meluncur tepat menuju ke lapangan penjara tempat para napi beraktivitas.
    Benda itu jatuh tepat di lapangan basket, menghasilkan ledakan yang cukup besar untuk menghempaskan orang-orang dengan radius 10 meter di sekitarnya. Dari yang terlihat, sepertinya beberapa orang tewas dan terluka akibat ledakan itu.
    Para napi, dan sipir berkumpul untuk melihat benda apakah itu, bersama beberapa tim medis yang menolong orang-orang yang terluka, ataupun tewas.
    Hal yang mengejutkan terjadi, benda itu bergerak-gerak kemudian mengeluarkan semacam asap berwarna merah, yang kemudian terhirup oleh orang-orang yang tak waspada yang berdiri di sekitar benda itu jatuh.
    Mereka yang menghirup asap itu terbatuk-batuk kemudian jatuh tersungkur. Tim medis segera bergerak untuk membawa mereka menuju klinik penjara atau rumah sakit bila diperlukan. Tetapi itu adalah pilihan yang buruk, tak lama lagi mereka akan menyesalinya.

    Benar saja, satu jam kemudian mulai terdengar teriakan kepanikan. Para sipir dan napi yang berada di koridor sel terlihat berlarian, seakan dikejar oleh sesuatu yang mengerikan.
    Benar saja, beberapa detik kemudian hal yang tak pernah seumur hidupku percaya adanya, berjalan melewati selku. Mayat penuh luka dari orang yang tadi tewas terkena ledakan benda tersebut berjalan kembali dan tampaknya menyerang manusia, dia tak sendiri, tapi diikuti oleh beberapa orang yang terluka, bahkan ada yang tangan dan lengannya terputus, tapi ia terus berjalan dengan sempoyongan seakan tak merasakan lagi rasa sakit.

    Otto – terlihat ketakutan
    “Z-Z-Zombie...!!”

    Edward - heran
    “Zombie??”

    Otto
    “Zombie.. mereka akhirnya turun ke dunia!!”

    Edward
    “Apa maksudmu??”

    Otto
    “Apa kau tak tahu? Saat neraka sudah tak lagi menerima yang mati, yang mati akan berjalan diatas bumi dan membuat kerusakan”

    Edward
    “Bukankah itu kutipan dari sebuah buku?”

    Otto
    “Sudahlah! Yang jelas mereka sekarang benar-benar nyata!”

    Saat kami tengah berbicara, seekor zombie tersadar akan keberadaan kami dan mulai menggedor jeruji besi sel kami. Entah bagaimana caranya kemudian zombie yang lain ikut berkumpul di depan sel kami dan mendorong-dorong, berusaha memasuki sel kami.

    Otto
    “Sial.. mereka sadar akan keberadaan kita, kita harus lari!”

    Edward
    “Lari? Tapi bagaimana caranya? Kita berada di dalam sel!”

    Otto
    “Tenang, bantu aku mengangkat ranjang ini dan memindahkannya!”

    Edward – heran
    “Ba-baiklah..”

    Otto
    “Pindahkan untuk menahan jeruji sel!”

    Edward
    “Baik!”

    Kamipun mengangkat ranjang kami dan memindahkannya (sebenarnya sih melemparkannya) ke jeruji sel agar dapat menjadi barikade bagi zombie-zombie itu. Kemudian Otto merunduk dan terlihat mencari sesuatu di lantai dengan cara mengetuk-ngetuk keramik di lantai.

    Otto
    “Aha! Ini dia!”

    Otto terlihat mengetahui sesuatu dan meluncurkan tinjunya menuju keramik tersebut. Keramik tersebut pecah dan terlihat sebuah lubang di bawahnya.

    Edward – terkejut
    “I-itu!?”

    Otto
    “Tak ada waktu lagi, jeruji itu hanya dapat menahan mereka selama setengah jam, ayo cepat!”

    Edward
    “Ba-baik!”

    Otto memasuki lorong itu, akupun mengikutinya. Lorong itu sangat sempit, jalanpun harus menunduk dan kadang-kadang bahuku berbenturanan dengan dinding lorong itu.

    Edward
    “Sejak kapan lorong ini dibuat?”

    Otto
    “Entahlah..”

    Edward
    “Entahlah?”

    Otto
    “Ya, entahlah, bukan aku yang membuatnya. Lorong ini sudah berada disini sejak aku datang.. setidaknya itu yang dikatakan Ivan, rekan satu selku sebelum kau...”

    Edward
    “Lalu kemana si Ivan ini sekarang?”

    Otto
    “Dihukum mati.”

    Edward
    “...”

    Akhirnya kami sampai di ujung lorong tersebut, Otto mendorong pintu keluarnya tetapi tak bergeming sedikitpun. Sementara suara-suara mengerikan di belakang kami terdengar semakin mendekat.

    Edward – panik
    “Hei Cepatlah!!”

    Otto – berusaha membuka pintu keluarnya
    “Tunggu sebentar, ada sesuatu yang menahan pintu keluarnya.. ugh..”

    Suara langkah kaki yang berjumlah banyak semakin mendekati kami, sepertinya para zombie itu berhasil menjebol jeruji sel dan masuk ke dalam lorong ini.

    Edward – panik
    “Wuagh! Mereka semakin mendekat!”

    Otto
    “Berhasil, ayo cepat cepat keluar dari tempat ini!”
    Otto kemudian keluar dari lorong itu

    Edward
    “Cepat, mereka sudah terlihat!”
    Edward berhasil keluar dengan selamat.

    Otto
    “Cepat tutup lubangnya!!”
    Sambil membawa batu besar.

    Edward – menutupnya dengan pintu yang tadi
    “Sudah tertutup!”
    Kemudian Otto menaruh batu besar tadi diatas pintu keluar lorong itu.

    Otto
    “Fuh.. akhirnya kita berhasil keluar dari tempat itu dengan selamat..”

    Edward
    “Ya.. untung saja akhirnya pintu itu bisa terbuka...”

    Otto – kesal
    “Cih, gara-gara mayat sipir ini berada diatas pintu keluar kita nyaris saja mati..!”
    Menendang mayat sipir itu.

    Edward
    “Hei, daripada kau tendang, lebih baik kita ambil pistolnya, kita akan memerlukannya nanti..”

    Otto
    “Hmm.. kau benar... lebih baik kuambil..”
    Mendekati mayat itu, kemudian berusaha mengambil pistol yang berada di pinggang mayat itu.

    Tiba-tiba mayat itu bergerak dan memegang tangan Otto yang hendak mengambil pistol itu.

    Otto – panik
    “Si-sial! Lepaskan aku ********!!”
    Sambil meronta berusaha melepaskan genggaman zombie itu.

    Edward mencari-cari benda yang bisa digunakan untuk menghantam kepala zombie itu.

    Otto – panik
    “Cepat! Dia hampir menggigitku! Hantam kepalanya!”

    Edward – celingukan mencari benda yang bisa digunakan
    “T-tunggu!”

    Akhirnya Edward tersadar bahwa di pinggang zombie itu tidak hanya terdapat pistol, tapi juga sebuah baton. Edward mengambil baton yang berada di pinggang zombie itu dan memukulkannya ke kepala zombie itu dan menimbulkan bunyi retaknya tulang tengkorak zombie itu diiringi oleh percikan darah dari lukanya. Zombie itu berhasil dibunuh.

    Otto
    “Sial! Nyaris saja dia menggigitku!”
    Kemudian mengambil pistol yang ada di pinggang zombie tadi.

    Edward
    “Baiklah, sekarang aku harus segera menjemput anakku, aku punya perasaan buruk akan hal ini..”
    Kemudian berjalan.

    Otto menepuk bahu Edward dari belakang.

    Otto
    “Tunggu.. kau tak mungkin berjalan sendirian melewati zombie zombie itu, aku ikut.”

    Edward terlihat terkejut oleh kata-kata Otto.

    Edward
    “Baiklah.. tapi jangan menjadi pemberat bagiku..”

    Otto
    “Kurang ajar! Seharusnya aku yang berkata begitu, aku menyesal telah menolongmu keluar dari tempat itu!”

    Edward
    “...”

    Mereka berdua saling menatap dengan tatapan penuh kebencian dan amarah, tetapi kemudian..

    Edward
    “Haha.. HAHA HAHAHAHA!”

    Otto
    “Hahaha HAHAHAHAH!”

    Edward tertawa.. Otto pun ikut tertawa..

    Otto
    “Kau lucu bung, aku suka itu!”

    Edward
    “Hahaha, kau juga!”

    Edward
    “Baiklah.. ayo kita menuju kota!”

    Otto
    “Ya, ayo kita tolong anakmu dulu, lalu anakku!”

    Mereka berdua pun berjalan memasuki hutan, menuju New Hampshire, dengan tujuan masing-masing dan beribu-ribu zombie yang akan menghadang perjalanan mereka menuju tempat tujuan.






    _________________________________________
    To Be Continue To Chapter 2







    Last edited by the_omicron; 06-11-08 at 23:46.


    Click To Read Sweet~.

    Mari Menulis Disini

    Quote Originally Posted by dono View Post
    Dilihat dari system server kami, dikarenakan sudah lebih dari 2000 pages kami mengambil keputusan untuk menutup thread in, karena menyebabkan ada nya keberatan dari server forum sendiri. Mohon maap dan terimakasih.

  6. #5
    Ilyasviel's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    100
    Points
    114.40
    Thanks: 0 / 0 / 0

    Default

    “Ini semua adalah konspirasi!”
    All hail conspiracy!!

    Gw masih penasaran kenapa itu T-Virus bisa dibuang2 ga jelas gitu = = a

    mending membuat orang2 yang jadi zombie tambah kuat ato apa gitu... Lah ini? ergh...

    Masih penasaran...

    Btw cepet banget gan

  7. #6
    shaorune's Avatar
    Join Date
    Jul 2008
    Location
    SoMeWheRe~
    Posts
    318
    Points
    441.70
    Thanks: 0 / 0 / 0

    Default

    sumpah keren abiez.. huhu~
    brb, download2 di website nya..
    wkkwkw..

    keren pak.. lanjut plz~

  8. #7
    Embe_Cupu's Avatar
    Join Date
    Jul 2007
    Location
    I live in where where
    Posts
    936
    Points
    1,122.70
    Thanks: 0 / 2 / 2

    Default

    lanjudd bossss

    gila td gw ngantug bgd tyus lage buka" tyus liad ne

    wow


    jd kagak ngantuugg bozz


    nicceeeee~

  9. #8
    MiriMoN's Avatar
    Join Date
    Aug 2007
    Location
    SoLo KOta MeGApoLIz
    Posts
    915
    Points
    740.10
    Thanks: 38 / 16 / 15

    Default

    tumben dida ga bikin cerita berbau ****

    keren..

    salut gwa..
    <a href=http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/user.php?u=iucifer target=_blank rel=nofollow><a href=http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/sig.php?u=iucifer target=_blank rel=nofollow>http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/sig.php?u=iucifer</a></a>

  10. #9
    the_omicron's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Location
    di Cinere say........... Ongoing Novel: S|L|M
    Posts
    3,908
    Points
    13,246.30
    Thanks: 6 / 116 / 69

    Default

    @ilya
    nanti akan terungkap gan, santai aja ,

    @shaorune

    tenqyu gan telah membacanya, bole2 silakan kunjungi web saya


    @embe_cupu

    dimari gan, semoga zombie tidak memakan otak anda!

    @mirimon


    sejak kapan gw bikin cerita **** zzzzzz

    btw tengkyu telah membacanya smile:

    _____________________________________





    Story 3
    Ellinor Maiken









    Chapter 1 : Like In The Game





    Namaku Ellinor Maiken. Aku biasa dipanggil “Ellie” oleh orang-orang disekitarku.
    Hari ini.. umurku tepat 12 tahun, kelas 6 SD. Pagi ini nenek memberiku hadiah sebuah PSD yang sudah kuinginkan sejak dulu, nenek baik sekali. Mungkin nenek satu-satunya orang yang mengerti aku, dan ya, aku sudah tak memiliki orang tua. Setidaknya itu yang nenek katakan padaku.
    Meskipun perempuan, aku tidak suka bermain boneka dan semacamnya, hal-hal seperti itu menurutku sudah kuno dan pantas ditempatkan di museum saja. Aku jauh lebih menyukai *atau bisa dibilang hanya menyukai* video game. Aku sangat menyukai video game, aku biasa menghabiskan waktu sekitar 9 jam sehari di hari sekolah (atau hingga nenek menyuruhku untuk berhenti dan tidur) dan sekitar 16 jam sehari (atau hingga nenek menyuruhku untuk berhenti dan tidur) di hari libur.
    Meski begitu, aku selalu menyelesaikan PR ku, karena aku mengerjakannya tepat setelah PR diberikan oleh guruku. Nilai-nilai ku juga tak bermasalah, hingga teman-temanku heran mengapa aku bisa mendapat ranking 5 besar tiap semester, padahal mereka bilang mereka tak pernah melihatku belajar, hanya bermain, bermain, dan bermain. Tentunya bukan dengan mereka aku bermain, dengan Entendo DS ku. Tapi mulai hari ini aku akan merubahnya, aku akan mulai memainkan PSD yang baru saja diberikan nenek hari ini.
    Tapi.. aku benci Bu Guru.., dia selalu marah padaku. Bila aku sedang memainkan DS ku, dia selalu datang menuju tempatku duduk dan marah-marah padaku, dia bilang:

    “Kamu ini perhatikan Bu Guru dong! Jangan main gameeeee terus!!”

    Enak saja, siapa yang mau membuang waktu untuk mendengarkan hal membosankan seperti itu, seperti cuci otak saja (menurut game “The Intelligents” seperti itulah cara cuci otak). Kalau bosan manusia butuh hiburan bukan? Bagiku hiburan adalah memainkan DS ku, dan aku memainkan DS ku untuk menghilangkan rasa bosan. Lalu apa yang salah? Manusiawi bukan? Lagipula nilai-nilaiku tidak ada yang bermasalah, apa bedanya aku memperhatikan atau tidak?? Maka itu aku bilang saja:

    “Tak ada bedanya aku memperhatikan atau tidak. Takkan merubah hidupku”

    Tapi kalian tahu apa yang Bu Guru lakukan? Bu Guru berteriak-teriak, marah-marah tak jelas kemudian mengambil paksa DS yang masih kupegang dengan kedua tanganku, kemudian ia ‘menyita’ nya. Sungguh pelanggaran Hak Asazi Manusia yang termasuk dalam pelanggaran Hak manusia untuk senang (menurut game “Law and Death”). Bahkan Bu Guru bilang Nenek yang kupikir tidak terlibat urusanku dengan Bu Guru pun diancam akan dipanggil, aku tidak mengerti mengapa mereka melibatkan orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini, bahkan aku rasa mereka sendiri juga tidak mengerti kenapa.
    Aku juga benci teman-teman, mereka kejam, kasar, membosankan, dan egois. Kejam, mereka selalu menghinaku atau siapapun yang tak mau bermain dengan mereka. Kasar, mereka selalu berusaha menyelesaikan masalah (masalah disini adalah penentangan akan ego mereka khususnya dariku, menurut game “After Ego”) dengan otot, contohnya, saat mereka mengajakku bermain dan aku menolak karena selain 4 hal tadi, aku sedang sibuk melawan boss di game “Fierce Fantasy V”, mereka memukuliku dan melempariku dengan kerikil. Membosankan, karena mereka hanya mengulang permainan yang sama yang sama sekali tak bertujuan, menendang bola kesana kemari, bermain boneka, apa menariknya? Lebih baik bermain sendirian dengan DS ku.
    Hari ini juga hari yang sama membosankannya dengan hari-hari kemarin, sungguh membosankan, untung saja ada PSD baruku, rasa bosanku sedikit terobati.




    Sekitar Jam 10, atau 2 jam kemudian..

    Aku mendengar suara ledakan yang persis seperti suara ledakan di Intro game “Dark Eagle Down”, semua orang penasaran akan sumber ledakan yang jaraknya hanya beberapa meter dari kelasku itu, hingga kaca jendela kelasku retak-retak.
    Kutolehkan pandanganku dari DS yang telah ku-pause sementara, menuju sumber ledakan itu.
    Tampaknya ledakan itu berasal dari suatu benda berwarna hitam mengkilap yang jatuh dari langit, ukuran benda itu tidak terlalu besar, mungkin hanya sebesar kursi yang kududuki.
    Para guru dan petugas sekolah berkumpul mendekati benda itu untuk memenuhi hasrat rasa ingin tahu mereka, tapi mereka tak tahu, hal itu akan mereka sesali, selamanya.
    Dalam beberapa detik, benda itu mengeluarkan suara-suara aneh yang diikuti oleh terbukanya benda itu, mengeluarkan asap berwarna merah darah yang aneh dan mengerikan. Para guru dan petugas sekolah yang berkumpul di dekat benda itu tak dapat terhindar dari menghirup asap berwarna merah darah itu, mereka terbatuk-batuk, kemudian dalam beberapa detik jatuh tersungkur.
    Seisi kelasku menjadi panik, Bu Guru menelepon Ambulance melalui handphone-nya dengan paniknya, teman-temanku histeris dan menangis, sedangkan aku? Tentu saja menoleh kembali menuju layar DS ku dan memainkannya kembali. Untuk apa panik? Toh manusia pasti akan mengalami yang namanya kematian.
    Saat aku tengah melawan boss monster, dan dia mengeluarkan jurus bernama “zombified”, aku teringat sesuatu, aku teringat game yang pernah kumainkan, yaitu serial “Resident Demon” yang sangat kusukai. Aku ingat suatu perusahaan di dalam game itu mengadakan uji coba rekayasa genetika dengan menyebarkan virus yang mereka buat di suatu kota, aku berpikir itu adalah hal yang kini terjadi pada kami, suatu perusahaan.. ah tidak, pemerintah pasti sedang mengadakan uji coba mengerikan ini pada rakyatnya sendiri, aku yakin itu.
    Dengan keyakinan seperti itu di dalam hatiku, aku segera men-save permainanku (tentu aku tak dapat meninggalkan begitu saja permainan yang telah kujalani dengan susah payah selama 20 jam), kemudian memasukkan barang-barangku kedalam tasku.
    Tanpa berpikir apa-apa lagi, aku segera berlari menuju pintu kelas untuk keluar, tetapi, Bu Guru melihatku berlari menuju pintu dan dengan bodohnya dia menggenggam tanganku, menahanku agar tak keluar dari kelas.

    Bu Guru
    “Apa yang kau lakukan Ellie!!?”

    Ellie
    “Tentu saja keluar dari sini.”

    Bu Guru
    “Tidak, di luar berbahaya! Kalau sesuatu terjadi padamu aku yang harus bertanggung jawab! Kau tahu itu?!”

    Tentu saja aku tahu sebagai orang dewasa kau lah yang harus bertanggung jawab atas keselamatan kami, tapi aku tak akan mengikuti orang dewasa yang tak tahu apa-apa seperti kau, aku masih anak-anak, aku belum mau mati, aku masih ingin bermain.

    Ellie
    “Lepaskan aku.”

    Bu Guru
    “Tidak! Ayo kembali ke tempat dudukmu!”

    Aku seharusnya tak melontarkan permintaan bodohku padanya, tentu saja si keras kepala ini tak akan melepaskanku, aku harus memikirkan sesuatu untuk kabur dari sini secepatnya.
    Teman-teman kembali berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah jendela, perhatian Bu Guru teralihkan, ini adalah kesempatanku.
    Kugigit tangan Bu Guru, kemudian secara refleks ia melepaskan genggamannnya padaku, aku langsung berlari dan membuka pintu kelas, tak sengaja aku melihat apa yang mereka tunjuk-tunjuk.

    Para Guru dan petugas sekolah yang tadi terkapar tak berdaya setelah menghirup asap aneh itu kembali berdiri!

    Menurut “Resident Demon” mereka telah berubah menjadi zombie! Aku harus segera berlari secepatnya keluar dari tempat ini.
    Akupun berlari sekuat tenaga melalui koridor sekolah, kemudian sampai di pintu utama, keluar dari gedung sekolah dan berlari menyebrangi lapangan hingga mencapai jalan raya, berusaha kembali ke rumahku.
    Terlihat banyak asap dari kota yang terlihat dari sekolahku yang berada di atas bukit ini, tampaknya ledakan itu tidak hanya terjadi disini, tampaknya kejadian ini adalah kejadian besar yang mengerikan, kupikir mungkin aku akan menjalani apa yang seperti tokoh “Vill” jalani dalam game “Resident Demon”.
    Kemudian aku berlari menuju rumahku, beruntung belum terlihat tanda-tanda zombie, aku segera membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Aku terduduk di depan pintu setelah menguncinya, berharap zombie tak akan bisa memasuki rumah ini.
    Nenek kemudian turun dari tangga dan bertanya padaku:

    “Kamu sudah pulang Ellie? Ada apa?”

    Aku tak mungkin menceritakan masalah zombie dan semacamnya, Nenek tak akan percaya, tak seorangpun akan percaya, aku hanya akan berakhir terkunci di rumah sakit jiwa bila aku mengatakannya.

    Ellie
    “Bu Guru hari ini sakit nek, jadi kami disuruh pulang..”

    Hari itu adalah kebohongan besarku yang pertama terhadap Nenek. Maaf Nek, tapi aku terpaksa melakukannya. Ini demi... diriku? Ya , mungkin aku juga seorang egois seperti semua orang..

    Setelah aku yakin pintu terkunci, aku bergegas menuju kamarku, menaruh tasku, kemudian naik ke beranda dan melihat keadaan sekeliling, tampaknya semua aman, tidak terlihat tanda-tanda zombie, aku sedikit lega.
    Lega bukan berarti ceroboh, aku tetap waspada dengan menyiapkan stik baseball lama milik ayahku, kebetulan itu adalah stik iron, cukup kuat untuk mempertahankan diri dari serangan zombie.

    Beberapa jam telah berlalu, tak terlihat tanda-tanda zombie satupun, tetapi ini benar-benar aneh, memang tak ada zombie, tapi juga tak ada satu orang pun manusia yang melintas, Benar-benar aneh.

    Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari lantai bawah.

    Ellie
    “Nenek!”

    Aku segera berlari menuju lantai bawah, tak lupa membawa stik baseball ku, aku berlari kemudian kudapati Nenek sedang berada di dapur.
    Pintu belakang terbuka, Nenek diserang oleh seekor zombie, kini Nenek sedang berusaha bertahan darinya. Aku tak boleh panik, aku harus berpikir. Kemudian aku teringat sesuatu, zombie akan mati kalau kepalanya ditembak, aku akan melakukan hal yang sama, hanya saja dengan stik baseball.
    Ternyata memukul kepala zombie tak semudah yang kukira, dengan Nenek yang meronta-ronta, memukul kepala zombie yang terus bergerak amatlah sulit, bisa-bisa pukulanku malah menghantam Nenek.

    Ellie
    “Nenek! Diamlah sebentar!”

    Spontan kata-kata itu keluar dari mulutku, dan secara refleks, Nenek berhenti bergerak, kesempatan itu tak kulewatkan sedetik pun, aku mengayunkan stik baseball yang kupegang menuju kepala zombie yang akhirnya tak bergerak itu.

    *Ctung*

    Bunyi yang terdengar saat kepala zombie itu beradu dengan stik baseball yang kuayunkan, bersamaan dengan cipratan darah yang keluar dari kepala zombie itu, noda darah menempel di stik baseball-ku, aku berhasil menyelamatkan Nenek dan membunuh seekor zombie. Maaf Tuan Zombie, tapi Nenek bukan makanan.
    Kutarik lengan Nenek yang masih gemetar setelah diserang zombie itu

    Ellie
    “Ayo Nek cepat berdiri! Kita harus segera pergi dari tempat ini!”

    Kemudian Nenek bangkit dan kami keluar dari rumah kami, di depan rumah, saat aku menengok, para zombie sudah terlihat berdatangan, kami harus cepat, atau kami akan menjadi makanan kecil bagi para zombie yang terlihat lapar itu.
    Saat aku berlari dengan Nenek, tanpa tahu arah tujuan kami, aku teringat sesuatu bahwa seseorang yang terluka karena zombie, dalam waktu tertentu akan ikut menjadi zombie.
    Tanpa sadar aku melepaskan genggamanku dari Nenek, kemudian aku berhenti melangkah di pinggir perempatan jalan dan menatapi Nenek yang terlihat kelelahan setelah kuajak berlari beratus-ratus meter.

    Nenek Ellie – Dengan nafas terengah-engah
    “Hosh hosh, ada apa Ellie? Kenapa kita berhenti?”

    Ellie
    “Apakah Nenek tergigit atau tercakar zombie itu?”

    Nenek Ellie – Heran
    “Aku rasa tidak, dia tak berhasil melukaiku.., sebenarnya apa yang terjadi Ellie?!”

    Aku merasa lega setelah mendengarnya, Nenek tak akan menjadi zombie, aku telah berhasil menyelamatkan Nenek.

    Ellie
    “Syukurlah.. sebenarnya..”

    Tanpa sempat menyelesaikan kata-kataku, sebuah Bus tiba-tiba muncul dan menabrak Nenek, darah Nenek terciprat ke wajahku, kemudian Bus itu membawa tubuh Nenek dan kemudian menabrak tembok.
    Tubuh Nenek tak terlihat lagi diantara rongsokan bus dan tembok itu, hanya terlihat tangannya yang terjulur keluar dari pinggir bus, aku tak tahu dan tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada tubuhnya. Tapi yang jelas, aku tahu bahwa Nenek telah tewas saat itu juga.
    Seperti di film-film dan game, saat orang yang telah melewatkan waktu bersamamu meninggal, kenangan-kenangan akan melayang dalam pikiranmu dalam sekejap, Nenek telah tiada, aku menitikkan air mata.
    Tiba-tiba dari rongsokan bus itu bermunculan para zombie, zombie penumpang bus itu, mereka belum mati, dan berniat memakan otakku.
    Saat tiu aku tersadar bukan saatnya bersedih, aku harus selamat, aku harus terus hidup, demi Nenek. Tak dapat melawan zombie yang berjumlah begitu banyak aku memutuskan untuk lari, ya, kemudian aku berlari, tanpa tahu tujuanku, tanpa rencana apapun, aku hanya mengandalkan instingku untuk tetap bertahan hidup.





    ___________________________
    To Be Continue To Chapter 2





    Click To Read Sweet~.

    Mari Menulis Disini

    Quote Originally Posted by dono View Post
    Dilihat dari system server kami, dikarenakan sudah lebih dari 2000 pages kami mengambil keputusan untuk menutup thread in, karena menyebabkan ada nya keberatan dari server forum sendiri. Mohon maap dan terimakasih.

  11. #10
    Sby-iNv-Z-'s Avatar
    Join Date
    Mar 2008
    Location
    Surabaya
    Posts
    2,911
    Points
    38.00
    Thanks: 35 / 40 / 31

    Default

    wow.....NICE thread...keren banget^^

  12. #11
    K41X's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    Wright & Co. Occupation:Defense Attorney Objective:OBJECTION!!
    Posts
    152
    Points
    170.20
    Thanks: 0 / 0 / 0

    Default

    Tanpa sempat menyelesaikan kata-kataku, sebuah Bus tiba-tiba muncul dan menabrak Nenek, darah Nenek terciprat ke wajahku, kemudian Bus itu membawa tubuh Nenek dan kemudian menabrak tembok.
    Siung~ *JROT*

    BLARRRRRRR!

    ngakak harusnya itu jadi adegan tragis, tapi ngebayanginnya malah buat gw ngakak

    nice, ditunggu lanjutannya! makin hot ne

  13. #12
    MiriMoN's Avatar
    Join Date
    Aug 2007
    Location
    SoLo KOta MeGApoLIz
    Posts
    915
    Points
    740.10
    Thanks: 38 / 16 / 15

    Default

    nenek nya

    kasian amat
    <a href=http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/user.php?u=iucifer target=_blank rel=nofollow><a href=http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/sig.php?u=iucifer target=_blank rel=nofollow>http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/sig.php?u=iucifer</a></a>

  14. #13
    the_omicron's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Location
    di Cinere say........... Ongoing Novel: S|L|M
    Posts
    3,908
    Points
    13,246.30
    Thanks: 6 / 116 / 69

    Default

    @victhorz

    ok d, ikuti terus ya ^^

    @K4IX

    kasian yah neneknya ta2 ketabrak bus,>_< padahal doi ga ada potensi jadi zombie.. eh malah mati.. kasian juga Ellie jadi sendirian

    @mirimon

    nenek






    ________________________________________________






    Story 1
    Reina Steingarten










    Chapter 2 : The B-Day Party (Part 1)






    Setelah melangkah keluar dari sekolah yang kini telah menjadi sarang zombie, Reina melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya, Ia berniat mengambil ‘koleksi’ yang Ia miliki untuk Ia gunakan pada zombie-zombie.

    Aku melangkah keluar dari sekolah, tidak, tempat membosankan itu, dengan kegembiraan di hatiku. Aneh memang, seharusnya aku ketakutan atau khawatir seperti layaknya gadis-gadis seumuranku, atau bahkan seorang manusia bila bertemu sesuatu atau keadaan yang bisa membuatnya terbunuh kapan saja. Tapi aku senang! Ya aku senang dan berterima kasih pada siapapun yang membuat orang-orang menjadi zombie dan membuat hariku menjadi menyenangkan, ini adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah aku dapatkan.
    Melihat keadaan jalanan yang sangat sepi seperti ini, kemungkinan besar telah terjadi eksodus, ataupun genosida besar-besaran di wilayah ini, semua karena benda aneh yang jatuh dari langit itu.

    3 ekor zombie terlihat tengah berjalan tanpa arah sekitar 50 meter di depan Reina yang tengah berlari, tampaknya mereka menyadari kehadiran Reina dan kini berpaling padanya.

    Aha, 3 ekor zombie-zombie yang mungil, mungkinkah aku harus memisahkan kepala mereka dari tubuhnya? Ataukah cukup kubelah kepalanya hingga otaknya mengalir keluar? Hmmmm, aku sudah tak sabar menunggu apa yang akan kulakukan dengan 3 mainan baru ini.

    Reina, dengan bersenjatakan machette sepanjang 40cm nya berlari dan merentangkan tangannya, bersiap menyerang zombie-zombie di depannya.

    Reina
    “Rasakan ini mahluk-mahluk ********!”

    Reina kemudian mengayunkan machette nya dengan sekuat tenaga menuju leher zombie yang pertama, memutuskan kepalanya. Darah bercucuran bagai air mancur dari leher zombie itu, yang beberapa jam lalu adalah masih manusia biasa.

    Reina
    “Hahaha, ini zombie ke-4 yang telah kubunuh!”

    Lalu Reina melakukan sliding-tackle menuju zombie kedua, menyandung kaki zombie itu yang kemudian kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Reina kemudian bangkit dan menyabet kedua kaki zombie yang tengah tersungkur itu hingga terputus, kemudian berlari menuju zombie ketiga dan menusukkan machette-nya ke kepala zombie ketiga, hingga cairan otak zombie itu mengalir keluar dari luka yang dibuat oleh serangan machette Reina.
    Reina mencabut machettenya secara menyamping hingga memotong ¼ kepala zombie ketiga yang kemudian terkulai dengan otak yang keluar dari lubang yang dibuat oleh Reina. Lalu Reina kembali kepada zombie kedua dan berdiri di depannya.

    Reina – tertawa seperti maniak
    “Hahahahaha!! Penampilanmu sangat lucu tanpa kaki nona zombie, sekarang mari kita lihat apa yang dapat kulakukan denganmu..”

    Zombie itu berusaha menyerang Reina dengan tubuh yang hanya setengah itu, berjalan menggunakan kedua tangannya.

    Reina
    “Ups, tampaknya kau masih bisa bergerak ya..”

    Reina kemudian menebas kedua tangan zombie itu, hingga yang tersisa hanyalah badan dan kepalanya. Zombie itu hanya bisa menggeliat-geliat seperti cacing terkena garam, menyedihkan, mengingat dulunya dia adalah wanita biasa.

    Reina – tertawa terbahak-bahak seakan itu sangat lucu
    “Hahahahaha!! Ini sangat menghibur!!”

    Hmmm, zombie ini tampaknya lucu juga, mari kita lihat apa yang bisa kulakukan padanya... hmmm. Aha!

    Reina mengambil potongan tangan zombie itu sendiri dan menjulurkannya ke mulut zombie itu, zombie itu menggigiti potongan tangannya sendiri dengan ganas.

    Aneh, kalian benar-benar mahluk yang lucu. Bila kalian bisa memakan bagian tubuh kalian sendiri, kenapa harus memakan mahluk lain? Benar-benar mahluk yang lucu, ingin rasanya kujadikan peliharaan.

    Beberapa puluh meter dari Reina, terlihat gerombolan zombie yang lebih banyak, Reina menyadarinya.

    Tampaknya waktu bermain-main denganmu sudah habis, selamat tinggal nona zombie, sampai bertemu...

    *Jleb*

    Suara machette menembus kepala zombie itu yang secara instan membunuhnya.

    Reina
    “Di neraka...”

    Kemudian Reina melanjutkan langkahnya menuju rumahnya.

    Akhirnya Reina sampai di rumahnya, yang tentu saja tanpa penghuni. Rumah Reina mempunya pagar yang tinggi dan kokoh, Rumahnya bagaikan benteng dari zombie, satu-satunya tempat yang steril di wilayah itu. Tetapi ada suatu masalah.

    Ah, aku lupa.. kunci pagar dan pintu ada di tas di sekolah.. sial.. aku terlalu bersemangat hingga lupa membawanya.. Baiklah.. Plan B.. sampai jumpa Max*, kau sudah terlalu tumpul.

    *Max adalah nama yang ia berikan pada Machette yang sekarang ia gunakan.

    Reina tak dapat membuka pagar rumahnya karena ia lupa membawa kuncinya, tetapi ia melakukan apa yang ia sebut “Plan B”.
    Reina menaruh “Max” dengan menancapkannya di pohon di depan rumahnya, ia kemudian mulai memanjat pagar rumahnya sendiri yang setinggi 3 meter, ya, Reina cukup terlatih untuk itu, karena ia pernah mengikuti kursus militer satu tahun lalu. Setelah berhasil melompat ke halaman, Reina segera menuju kolam ikan di halaman rumahnya dan kemudian mengambil sebuah batu berukuran kira-kira satu jengkal orang dewasa.

    Reina
    “Yak, aku rasa batu ini cukup..”

    Ia kemudian berjalan menuju salah satu jendela rumahnya, dan melemparkan batu itu hingga memecahkan kacanya. Yang ia lakukan kemudian adalah melompat memasuki rumahnya sendiri dari jendela yang kacanya yang ia pecahkan, dan tanpa basa basi ia segera menuju kamarnya.

    Segera setelah di dalam kamarnya...

    Ini adalah kamarku, surga bagiku, dengan dikelilingi oleh senjata-senjata ini membuatku merasa aman dari apapun, keindahan sebuah senjata bahkan melebihi lukisan atau pahatan terbaik sekalipun, dan bila digunakan, keindahannya akan bertambah hingga berkali-kali lipat.
    Aku segera menuju koleksi spesialku, senjata-senjata pilihan yang telah aku seleksi agar dapat menemaniku pada saat kritis, misalnya seperti sekarang. Mencegah selalu lebih baik dari mengobati, itu terbukti sekarang juga.
    Kutaruh koleksi spesialku di dalam sebuah brankas anti api, brankas itu menggunakan fingerprint scan untuk mengaktifkan tombol untuk memasukkan password, dan harus dibuka menggunakan kunci khusus yang selalu kubawa dalam bentuk jepit rambut yang setiap hari kupakai. Telah kupasang *** yang kubuat dari guano untuk berjaga-jaga bila ada yang membuka brankasku tanpa seizinku, memang tak sekuat TNT, tapi cukup untuk membunuh seorang pencuri yang tidak hati-hati.
    Setelah ku-scan- sidik jariku dan memasukkan passwordnya, kumasukkan kunci ke tempatnya dan kubuka pelan-pelan pintu brankas itu, tentu aku tak ingin mati konyol oleh *** yang kupasang sendiri. Setelah pintu brankas terbuka penuh dan kuyakin aman, aku keluarkan koper yang terbuat dari kevlar itu dari tempatnya, kemudian memasukkan kode mekanis untuk membuka kunci koper itu, dan terbukalah koleksiku.

    1 Buah Katana sepanjang 80cm yang terbuat dari titanium.

    1 Buah Machette sepanjang 50cm yang terbuat dari titanium juga.

    2 Buah Granat Fragment F1 “Pineapple”

    2 Buah Granat Incendiary (Api) AN-M14 TH3

    1 Buah Pistol Berretta 92FS Elite dengan 2 buah magazine dan 90 peluru 9mm

    1 Buah belt dan gunpouch beserta sarung pedang dan machette

    Berikut adalah daftar koleksi spesialku yang kuberi nama : “Zombie Buster Kit”.

    Akhirnya, setelah sekian lama dan menghabiskan banyak uang untuk membeli koleksi ini, mereka akan kugunakan, dan ini akan menambah keindahannya, “Senjata Dibuat Untuk Digunakan” begitulah prinsipku.
    Tanpa bertele-tele, segera kukenakan belt itu, dan kuletakkan senjata-senjata itu pada sarungnya, aku telah siap untuk membantai zombie.
    Sebelum aku keluar rumah, aku tak lupa membawa peta, yang aku yakin akan berguna dalam perjalananku. Perjalanan yang kumaksud adalah menuju Dermaga Hampshire, menaiki sebuah kapal kemudian pergi dari tempat penuh zombie ini. Ini adalah perjalanan yang bertahun-tahun aku impikan, pasti perjalanan ini akan sangat menyenangkan.
    Aku segera bergegas keluar dari rumah, berjalan menuju pagar dan bersiap memanjat pagar itu kembali agar aku tiba diluar rumah.
    Bagaimana dengan ayahku? Hah, ayahku sudah dewasa, tak perlu kukhawatirkan, ia bisa mengurus dirinya sendiri, lagipula mengapa aku harus perduli padanya? Toh dia juga tak perduli padaku. Tak ada gunanya.
    Dengan semangat yang mendidih aku memanjat melompati pagar, kukira aku akan langsung mendapat sambutan, ternyata para zombie lebih pemalu dari yang kukira, tak seekor zombie pun terlihat. Kulanjutkan langkahku mengarah ke sebuah supermarket, perutku lapar, aku belum makan apapun dari pagi.
    Supermarket itu terlihat sepi, tak terlihat bayangan manusia atau seekor zombie pun, hanya saja dalam perjalanan tadi aku melihat banyak rongsokan mobil yang menabrak karena menghindari zombie-zombie, perbuatan yang bodoh, menjadi barikade penghalang di jalanan.
    Supermarket itu terlihat amat gelap, padahal ini masih siang dan cuaca cerah, hari yang indah bagiku. Saat kubuka pintu utama dan melangkah masuk ke dalam, secara tiba-tiba lampu menyala.
    Ooo, ternyata aku disambut oleh segerombolan orang yang mengarahkan senapan mereka ke wajahku, menarik, ternyata masih ada yang selamat dari para zombie, coba kuhitung jumlah mereka, satu, dua, tiga,..., tujuh. Ada tujuh orang yang selamat, 4 diantaranya laki-laki dan bersenjata, sementara sisanya adalah 2 orang wanita dan satu orang anak perempuan yang terlihat ketakutan. Menarik, ini sungguh menarik...

    Reina
    “Masih berfikir bahwa aku zombie atau bukan?? Jika sudah, turunkan senapan kalian... bisakah?”

    Jarred – Berjas dan berdasi, berumur sekitar 30an
    “Uh.. maaf...., teman-teman, turunkan senjata kalian...”

    Wayne – Berseragam sekuriti supermarket, berumur sekitar 30an
    “Mengagetkan saja.., ternyata hanya gadis yang tersesat..”

    Delroy – Berseragam sekuriti supermarket, berumur sekitar 20an
    “Uh.. Wayne.. tampaknya ia tidak tersesat.. melihat apa yang ia bawa...”

    Wayne
    “Diam kau Delroy!”

    Vince – Berseragam suatu SMA, berumur sekitar 15-17
    “.....”

    Jarred
    “Perkenalkan, namaku Jarred, dan... er...”

    Reina
    “Reina”

    Jarred
    “Reina.. apa yang kau lakukan disini?”

    Reina
    “Bukankah itu pertanyaanku?”

    Jarred
    “... Aku rasa.....”

    Jarred
    “Kamilah yang tersisa disini setelah zombie memasuki tempat ini.. sekarang kami mempertahankan tempat ini dari serbuan zombie..”

    Reina
    “Tinggal kalian ber 7? Dimana semua orang?”

    Jarred menggerakkan kepalanya, menengok ke kanan menunjukkan tumpukan mayat zombie yang berjumlah sekitar 20an.

    Reina –tersenyum gembira, dalam hati
    “Hm, bagus juga pekerjaan kalian para amatir..”

    Jarred
    “Semua telah menjadi zombie dan kami telah membasminya.. demi keselamatan kami semua...”

    Reina
    “Begitu....”

    Wayne
    “Lalu apa yang kau lakukan disini gadis kecil? Bila kau berniat menetap disini, itu adalah pikiran yang salah, stok makanan akan lebih cepat habis bersama denganmu disi..”

    Reina
    “Tenanglah, aku tidak berniat menetap disini, aku hanya ingin mengambil beberapa benda dan makanan..”

    Jarred
    “Baiklah.. silahkan ambil yang kau perlukan..”

    Reina
    “Terimakasih..”
    Kemudian Reina berjalan melewati barikade depan itu.

    Jarred
    “Vince, temani dia.”

    Vince - menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti Reina

    Reina berjalan-jalan di lorong antara rak-rak supermarket, mencari makanan yang ia inginkan dan benda lain yang ia rasa akan perlukan.

    Reina – sambil berjalan
    “Hei..”

    Vince – terus mengikuti tanpa bicara
    “....”

    Reina – berhenti di depan seuatu rak
    “Siapa namamu tadi?”

    Vince
    “... Vince..”

    Reina – mengambil sebatang coklat
    “Berapa umurmu?”

    Vince
    “... 16..”

    Reina – berjalan menuju rak lain
    “Hmm.. kurasa kelas 2 SMA di..?”

    Vince
    “.. Highsbury Public Highschool.. “

    Reina – menundukkan badannya, mencari-cari sesuatu di rak
    “Highsbury.. kudengar itu sekolah berkualitas rendah yang penuh anak nakal..”

    Vince
    “Tapi kami tidak seburuk gadis berseragam sekolah bersenjata yang sombong. ..”

    Reina – menengok kepada Vince
    “Hoo...., kau marah?”

    Vince
    “Tidak aku tidak marah, aku hanya bicara fakta..”

    Reina – berdiri tegak, mendekati Vince
    “Wajah marahmu manis juga, kau punya pacar?”

    Vince
    “Kukatakan sekali lagi aku tidak marah dan aku pernah punya pacar.”

    Reina
    “Pernah... lalu kemana dia? Kau yang mencampakannya, atau dia yang mencampakkanmu?”

    Vince
    “Aku tak berniat menjawab pertanyaan absurd.”

    Reina – semakin mendekati Vince, hingga Vince terdorong
    “Apa kau pernah menciumnya?”

    Vince – terdesak ke tiang
    “....”

    Reina – wajahnya mendekati wajah Vince
    “Mengapa kau tidak menjawab?”

    Vince – wajahnya memerah
    “....”

    Reina – wajahnya lebih dekat lagi, mungkin hanya 2 cm jarak antar hidung
    “Apa kau mau merasakannya?”

    Vince – matanya menatap mata Reina
    “...”

    Reina – matanya juga menatap mata Vince
    “...”

    Reina – Berbisik di telinga Vince
    “Kau tahu? Aku tidak menyukai Wayne, kau mau membunuhnya untukku?”

    Vince
    “....”

    Reina
    “Maukah? Kau?”

    Vince
    “A-aku....”

    Reina – mundur dan menjauhi Vince, kemudian tersenyum
    “Aku hanya bercanda”
    Kemudian menepuk pipi Vince 2 kali dan berjalan kembali.

    Sempurna, anak itu mudah kuperalat, Jarred tidak masalah,dan Delroy terlihat bodoh, tampaknya mudah kuperalat, hanya Wayne dan.. 3 orang ini yang tak berguna..

    Sambil menatap 3 orang itu, salah seorang dari mereka, Ibu-ibu muda berumur sekitar 30an awal melihat Reina menatap mereka.

    Reina – berjalan menuju mereka, kemudian menunduk sambil tersenyum dan mengelus kepala anak kecil yang terlihat gemetar..
    “Siapa namamu dik?”

    Neta
    “Ne.. Neta...”

    Reina – terus tersenyum, menghadap kepada ibunya; sepertinya terlihat begitu
    “Berapa umur Neta, Nyonya...”

    Theresa - tersenyum
    “Theresa, Theresa Octaviano, umur Neta 5 tahun.”

    Reina
    “Ooo Neta sudah besar ya! Jangan takut ya, Kakak ada disini..”

    Neta
    “Ne-Neta tidak takut!!”

    Reina – tersenyum
    “Anak pintar..”
    Kemudian mengelus kepala Neta dan kembali berjalan

    Theresa
    “Terimakasih ya Reina..”

    Reina – tersenyum dan melambaikan tangannya

    Baiklah, aku melihat ada pintu lain yang terbuat dari kaca.., tidak ada barikade apapun.. tak ada pintu lain di sekitarnya.. dan posisinya dekat dengan 3 orang itu.. sempurna..

    Tiba-tiba Jarred menepuk bahu Reina yang sedang berpikir itu.

    Jarred
    “Hei, awas jangan berdiri disitu, nanti zombie akan melihatmu dan menyadari ada pintu disitu..”

    Reina
    “Hmm? Baiklah..”
    Kemudian melangkah mundur..

    Jarred – menghela nafasnya
    “Huff.. seharusnya kuberi barikade saja pintu ini..”

    Reina
    “Tidak, tidak perlu, selama zombie tidak mengetahuinya tidak perlu diusik, jangan buang tenaga untuk hal yang tak perlu..”

    Jarred
    “Kau benar...”

    Jarred
    “Lalu? Sudah dapat barang yang kau perlukan?”

    Reina
    “Ah ya, tinggal satu lagi..”

    Reina kemudian berjalan lagi menuju bagian alat olahraga, disana, ia mengambil tali, 4 buah palu panjat tebing dan paku-paku serta klip. Kemudian kembali ke depan supermarket dengan membawa barang-barang itu.

    Reina
    “Baiklah, aku sudah selesai.. terimakasih Jarred”

    Jarred
    “Sama-sama, hati-hati, hari sudah sore..”

    Wayne
    “Bagus, pergilah, jangan membebani kami..”

    Reina hanya tersenyum, kemudian berbalik badan dan melemparkan kiss-bye kepada Vince, lalu berjalan keluar Supermarket

    Jarred
    “Hahaha Vince, tampaknya gadis itu menyukaimu..”

    Vince – wajahnya memerah

    Wayne
    “Pribadi, aku tidak suka pada gadis itu, perilakunya mengerikan... dia bahkan tidak terlihat gemetar..”

    Theresa
    “Dia gadis yang baik, benarkan Neta?”

    Neta – menganggukkan kepalanya

    Wayne - jengkel
    “Terserah lah..”

    Sementara itu diluar
    Baiklah, aku tinggal menunggu hingga malam tiba untuk menjalankan rencanaku.... lalu kalian yang tak kubutuhkan akan mati.. Hahahaha...









    ___________________________
    To Be Continue To Chapter 3









    Click To Read Sweet~.

    Mari Menulis Disini

    Quote Originally Posted by dono View Post
    Dilihat dari system server kami, dikarenakan sudah lebih dari 2000 pages kami mengambil keputusan untuk menutup thread in, karena menyebabkan ada nya keberatan dari server forum sendiri. Mohon maap dan terimakasih.

  15. #14
    K41X's Avatar
    Join Date
    Sep 2008
    Location
    Wright & Co. Occupation:Defense Attorney Objective:OBJECTION!!
    Posts
    152
    Points
    170.20
    Thanks: 0 / 0 / 0

    Default

    Ugh, Reina... Aneh, ketemu orang langsung digituin... Padahal baru... err, 17 tahun?

    Mengerikan. Mengerikan...

    Kesan pertama mesti bener2 bagus untuk Reina..

    Waghh..

    Menakutkan. Ditunggu gan, lanjutannya. Err, kenapa maw pergi dari zombie malah malem2? Bukannya biasanya orang2 siang2 ya?


    Quote Originally Posted by Liliana Lun Lun Guenther
    If only people would trip and kiss other people more often, you people wouldn't have your birthrate problem!

  16. #15
    MiriMoN's Avatar
    Join Date
    Aug 2007
    Location
    SoLo KOta MeGApoLIz
    Posts
    915
    Points
    740.10
    Thanks: 38 / 16 / 15

    Default

    did, nanti zomboz nya bisa loncat² kaga kek di CS ?? ?
    <a href=http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/user.php?u=iucifer target=_blank rel=nofollow><a href=http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/sig.php?u=iucifer target=_blank rel=nofollow>http://dnec.dota.web.id:8000/dnec/sig.php?u=iucifer</a></a>

Page 1 of 4 1234 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •