Wow...Indonesia memang punya banyak keunikan...seharusnya kita bangga sama alam kita...hehehehehe...
Segitga di Indonesia ini daya tariknya sama kuat dengan yang di Amerika ga???ato semua segitiga mempunyai daya tarik yang sama kuat???
Wow...Indonesia memang punya banyak keunikan...seharusnya kita bangga sama alam kita...hehehehehe...
Segitga di Indonesia ini daya tariknya sama kuat dengan yang di Amerika ga???ato semua segitiga mempunyai daya tarik yang sama kuat???
Quote of the week:
"Indonesia is on the move, get on board." — Forbes Asia
"The optimist proclaims that we live in the best of all possible worlds; and the pessimist fears this is true." James Branch Cabell
Vote for Komodo National Park:
http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/
Setahun BPLS : Dongengannya Pak Hardi Prasetyo seputar Segitiga Masalembo
10 April 2008 at 9:17 am | In Bencana Alam, Dongeng Geologi, RuPa-RupI |
Dalam menyambut setahun BPLS (8 April 2008), Pak Hardi Prasetyo dari BPLS kembali menuliskan makalah sains. Walaupun kali ini Pak Hardi Prasetyo berbicara soal Tampomas di Segitiga Masalembo - Segitiga Masalembo - The Indonesian “Bermuda Triangle”, namun semangat bahwa didalam setiap kebencanaan akan muncul pemikir-pemikir baru yang akan bermanfaat.
Beliau sebagai anggota BPLS mengajak pembaca untuk tidak berhenti berpikir pada apa penyebab Semburan Lumpur Sidoarjo saja tetapi juga meneliti fenomena alam ini sebagai wacana ilmiah
“Wah Pakdhe, Sepertinya penelitian ilmiah dengan tragedi Lusi ini memang diteruskan ya Pakdhe ?”
“Betul Thole, Pak Menteri Teknologi Kusmayanto yang secara politis menyatakan Lusi sebagai bencana alam tidak boleh brenti disini saja. Beliau justru menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk meneruskan dan mendukung penelitian ilmiah soal Lusi ini, Thole”
Kali ini Pak Hardi melakukan flash back atau klias balik bagaimana beliau juga pernah dihadapkan pada sebuah tragedi nasional ketika sedang berpikir ilmiah.
KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’ DALAM UPAYA MENCARI ‘MIGAS’ SEBAGAI SUMBER DAYA ALAM TAK TERBARUKAN DI KAWASAN FRONTIER
Sekilas saya membaca satu kata kunci ’TAMPOMAS’ pada dongeng di atas yang juga dapat dikaitkan judul besar ‘Segitiga Masalembo’ Respon atas Komentar oleh EG Giwangkara S — 17 Januari 2007 #
Sumber Tempointeraktif Judul tersebut mengingatkan kenangan masalau yaitu dengan kejadian ’TRAGEDI TAMPOMAS’ Musibah Terbakar dan Tenggelamnya Kapal Penumpang Tampomas II di segitiga Masalembo.
Pada Tragedi Kemanusiaan Tampomas II tersebut saya bersama sahabat lama saya Dr. Herry Haryono (sekarang Deputi di LIPI) sebagai saksi sejarah (historical fact). Saat itu kami sedang melakukan survei marine geosciences (seismic refraction, reflection, graviy, megnetic) di Selat Makasar dengan Kapal Riset Sonne (Jerman), selanjutnya kita mendapatkan sinyal SOS..SOS. Ringkasnya dari rekaman dari even itu selanjutnya adalah:
1) Bagaimana kapten kapal riset Sonne untuk memutuskan pilihan Ekspedisi seismik refleksi harus segera dihentikan (termination), di sisi lain para geoscientist dari Jerman saat itu masih memikirkan apakan SAR bisa ditunda sampai selesainya satu lintasan survei?
2) Bagaimana Kapten Kapal segera membuat keputusan segera rubah haluan kapal menuju tempat ’tragedi TAMPOMAS’ di Segitiga Masalembo, persiapan2 yang dilakukan (crew, scientists, dokter, peserta Indonesia, pembagian tugas,
3) Melakukan SAR di lokasi, bagaimana standar operation prosedure diterapkan,
4) Mendapatkan dari laut 25 korban, dimana satu diantaranya masih hidup, dan bagaimana treatment dilakukan dibawah koordinasi tim medis, termasuk melakukan kami melakukan wawancara untuk lebih menelusiri apa yang terjadi sebelum, saat kebakaran, saat ia memutuskan untuk terjun dan tidak melakukan upaya apaun selain ’keep floating’ sambil membacakan ’Allahu Akbar’!,
5) Bagaimana dokter mengidentifikasi korban ’telah menjadi mayat’ dengan cermat, penuh rasa kemanusiaan, dan menyusun data base,
6) Bagaimana momen penting ketika saya dan Herry Haryono akhirnya dapat mengidentifikasi bahwa salah satu dari 25 korban tersebut adalah Almarhumah Kapten Tampomas II , Abdul Rivai, yang akhirnya jenasah yang sudah dimakamkan dibongkar kembali untuk akhirnya disemayakan di Makam Pahlawan.
Segitiga Masa Lembo sangat berarti bagi saya pribadi sebagai salah satu insan ilmuwan kebumian saat itu, ketika akhirnya tahun 1995 saya mendapatkan kehormatan yang sangat bernilai dari Pemerintah khususnya melalui Dewan Riset Nasional (DRN) dan Menristek, dimana saya telah dikukuhkan sebagai Peneliti Terbaik Indonesia , dalam bidang Ilmu Kebumian, dalam Kerangka Riset Unggulan Terpadu (RUT). Dengan orasi ilmiah berjudul PERKEMBANGAN GEOLOGI; TEKTONIK “DOANG BORDERLAND” DAN CEKUNGAN SPERMONDE, LEPAS PANTAI SULAWESI SELATAN, KAWASAN TIMUR INDONESIA (KTI): Implikasi Terhadap Prospek Hidrokarbon.
Demikian pula sebelumnya saya patut bangga karena salah satu karya pemikiran telah diterima oleh Indonesian Petroleum Association tahun 1992 untuk dipresentasikan dimana wilayah cakupan termasuk Selat Makassar, Segitiga Masalembo, dengan judul THE BALI FLORES BASIN: GEOLOGICAL TRANSITION FROM EXTENSIONAL TO SUBSEQUENT COMPRESSIONAL DEFORMATION. Sebagai catatan pada makalah ini saya sudah menampilkan penemuan fenomena ’mud diapirsm and mud volcanism, dan memperkenalkan ’Bali Fold” sebagai wujud struktur ekstrusi pada rezim tektonik kompresif terhadap sedimen ’overpressure’. Mud diapir dan Mud Volcano juga diketemukan di Flores Thrust Zone sebagaimana dideteksi pada Citra Mozaik SEAMARC II dan rekaman seismik refleksi berfrekuensi tinggi (water gun).LAMPIRAN 2.
Saya juga telah mengembangkan pemikiran pada tataran global (new global tectonics) ketika dalam satu bulan pelayaran di Zona Kerjasama Celah Timor (Timor Gap Zone of Cooperation) menggunakan Kapal Rig Seismic milik AGSO (Australian Geological Survey Organisation), saat itu saya menjadi wakil Pemerintah Indonesia dalam Joint Research ‘deep seismic profiles’ untuk mendalami arsitektur struktur dalam (deep structural architecture) Celah Timor untuk mendukung eksplorasi Migas, saya mendapat inspirasi untuk menyusun tulisan ilmah yang intinya membuat perbandingan perkembangan tektonik antara Doang Borderland di Segitiga Masalembo yang merupakan bagian dari ‘Eastern Sunda Shield Margin‘ dengan Cekungan Bonaparte merupakan ‘Southwest Australian continental margin’. Paper ini COMPARISON OF THE BONAPARTE BASIN, TIMOR SEA AND SOUTHWEST SULAWESI MARGIN, EASTERN INDONESIA saya tulis bersama rekan dari Australia Chris Pigram, kita presentasikan pada pertemuan CCOP di Bali? LAMPIRAN 3.
Nah, ternyata dari Misteri Masalembo (Barmudanya Indonesia) dan khuusnya ‘TRAGEDI KEMANUSIAAN TAMPOMAS’ telah melahirkan beberapa pemikiran inovasi dan kreatif di bidang Ilmu Kebumian, bahkan saya mendapatkan gelar ‘Peneliti Terbaik Indonesia bidang Kebumian versi DRN’.
Sari makalah atau makalah lengkap bila mungkin akan saya tempatkan pada situs, yang segera akan saya diluncurkan dikaitkan dengan umur satu tahun Badan Pelaksana, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BAPEL BPLS), dimana saya saat ini terlibat, dan berupaya berkontribusi.
Bagi yang berminat untuk mendapatkan makalah silahkan hubungi saya pada [email protected].
Salam Hormat
Hardi Prasetyo
‘DIRGAHAYU BAPEL BPLS 8 APRIL 2007-2008’ BERORIENTASI KE DEPN MENUJU SOLUSI YANG KOMPREHENSIF, INTEGRAL DAN HOLISTIK
Detail abstract tulisan-tulisan diatas dapat diperoleh disini : http://geoblogi.wordpress.com/2008/0...ardi-prasetyo/
http://rovicky.wordpress.com/2008/04...iga-masalembo/
Segitiga Bermuda Hingga Masalembo
Kantong udara adalah sebuah ruangan yang berisi udara yang mengalir dengan kecepatan tinggi.
Segitiga Bermuda identik dengan fenomena misterius atas hilangnya pesawat atau kapal yang melintas di kawasan tersebut. Benda seberat ratusan bahkan ribuan ton bisa tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi jika melintas di kawasan Miami-Bermuda-Puerto Rico tersebut.
Fenomena Segitiga Bermuda terjadi karena adanya fenomena alam yang disebut air pocket (kantong udara) atau air hole. Air pocket ini pula yang kini disebut-sebut menjadi jawaban atas simpang siurnya penyebab kecelakaan yang membuat pesawat Adam Air yang jatuh di kawasan Sulawesi Senin (1/1).
Banyak pihak menyatakan berbagai alasan yang berbeda-beda terhadap nasib pesawat yang hingga kini belum ditemukan keberadaannya ini. Mulai dari gangguan cuaca, kelalaian pilot, sabotase, hingga fenomena alam berupa kantong udara atau air pocket.
Adalah pakar hukum penerbangan, Kamis Martono yang menyampaikan kemungkinan ini. Kepada wartawan di Jakarta, Selasa lalu (2/1), Martono menyatakan ada kemungkinan pesawat Adam Air jatuh akibat masuk ke dalam wilayah kantong udara. Pasalnya, lokasi menghilangnya pesawat berada dalam wilayah titik kantong udara.
Martono menjelaskan bahwa kantong udara adalah sebuah ruangan yang berisi udara yang mengalir dengan kecepatan tinggi. ''Biasanya titik air pocket ini berada di sekitar kawasan pegunungan,'' jelasnya. Jika di atas wilayah air pocket ini melintas pesawat udara dengan ketinggian yang rendah, jelasnya, pesawat ini bisa saja tiba-tiba tersedot ke bawah menghantam bumi atau justru terlontar ke atas.
Di perairan sekitar Masalembo, Sulawesi Selatan bisa dikatakan sebagai kawasan Bermuda ala Indonesia lantaran adanya perairan dalam yang berputar. ''Putaran ini ke mana larinya, kita tidak tahu,'' kata dia.
Fenomena inilah yang menurut Martono bisa menjelaskan mengapa pesawat yang dikemudikan kapten pilot Revri Agustian Widodo ini tiba-tiba turun drastis dari ketinggian 35 ribu kaki menjadi 8 ribu kaki. Menurut Martono, fenomena air pocket sendiri tidak bisa dijelaskan asal muasalnya. ''Layaknya gejala alam yang lain, air pocket juga merupakan fenomena alam yang sulit dijelaskan,'' ungkapnya.
Martono menjelaskan sebenarnya fenomena alam ini jarang menimbulkan korban jatuhnya pesawat. Namun, lanjutnya, kecelakaan bisa saja terjadi jika daya tarik akibat air pocket ini luar biasa besar. ''Jika daya tarik besar ditambah ketinggian pesawat yang rendah, maka kecelakaan bisa saja terjadi,'' jelasnya.
Namun sejauh ini Martono tidak bersedia menyatakan bahwa hilangnya pesawat Adam Air di Sulawesi diakibatkan oleh air pocket. ''Tidak seperti itu, apa yang saya sampaikan hanyalah sebuah kemungkinan bahwa bisa saja pesawat Adam Air itu jatuh karena fenomena air pocket,'' ungkapnya. Karena itu, ia pun enggan memprediksi seberapa besar kemungkinan jatuhnya pesawat berbadan oranye ini akibat fenomena alam ini.
Tak ada penjelasan ilmiah
Selain karena fenomena air pocket, Martono menjelaskan Indonesia memiliki beberapa titik yang berbahaya bagi penerbangan. Salah satunya adalah perairan Masalembo di Sulawesi Selatan, dan Teluk Bayur di Sumatera Barat. Namun Martono menegaskan fenomena alam di dua lokasi ini berbeda dengan fenomena alam yang menjadi kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat Adam Air yaitu air pocket.
Khusus di perairan Masalembo, ungkapnya, lokasi ini pernah menelan tiga buah pesawat yang menghilang secara msiterius. Hingga kini nasib ketiga pesawat yang hilang secara berurutan di tahun 1961 ini belum bisa diketemukan keberadaannya. Karena itu, Martono menyebut kawasan ini sebagai Segitiga Bermuda-nya Indonesia akibat peristiwa misterius hilangnya pesawat di tempat ini.
''Disebut seperti itu, karena seperti Segitiga Bermuda, fenomena hilangnya pesawat di perairan ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, namun terjadi,'' katanya. Seperti di Segitiga Bermuda, fenomena hilangnya tiga pesawat di perairan Masalembo juga tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Apalagi, hingga kini pesawat naas itu hilang begitu saja seakan ditelan bumi.
Risiko Kecelakaan Ia menambahkan, semestinya pada Januari hingga Februari tidak diadakan pelayaran maupun penerbangan di lokasi tertentu yang berkemungkinan terdapat air pocket. Pasalnya dalam bulan-bulan ini kondisi cuaca memperburuk kondisi alam saat berlayar maupun terbang. ''Tapi, sayang di sini sudah dianggap biasa karena menjadi hal yang rutin,'' ujarnya.
Menurut data penerbangan titik aman kecelakaan justru berada saat pesawat berada di udara. ''Walaupun pernah terjadi, tapi persentasenya bisa diabaikan,'' kata Kamis. Malahan kemungkinan kecelakaan tertinggi berada di bandara. Ketika itu kemungkinan terjadi kecelakaan 100 persen. Sementara saat take off kemungkinannya jauh berkurang, hanya 13 persen sampai 19 persen.
Pesawat berada dalam titik tenang saat berada di udara. Lalu kemungkinan kecelakaan kembali meningkat saat akan menurun, yaitu 81 persen sampai 87 persen. Saat telah mendarat pun masih terdapat kemungkinan kecelakaan sebesar 1 persen. ''Ini pernah terjadi di Pulau Kenari ketika pesawat yang sudah mendarat malah tabrakan dengan pesawat lainnya di ujung landasan dan menewaskan lebih dari 500 penumpang,'' tutur Martono.
(uli/ria =republika.co.id)
Penafsiran adanya The Indonesian "Bermuda Triangle", menguatkan konsep saya, bahwa Laut Banda adalah salah satu "planetary cyclone". Cyclone ini adakah suatu plume, pusaran arus yang terjadi dari pusat bumi,menembus semua 7 lapisan bumi, hingga angkasanya, yang pada lapisan tektoniknya, di sebut "cylcone tectonic".
Bagi yang belum pernah dengar planetary cyclone, bisa meneruskan baca
berikut.
Tujuh (7) planetray cyclone di Bumi :
1. AAN (Anticline of Arabian Nubian), pusat Pangea, sebagai daratan,
berpasangan dengan 2. Tahiti (pusat laut, Panthalasa), sebagai laut,lalu
3. Benua Antartik (berupa daratan), berpasangan dengan 4. Laut
Artik (berupa laut), lalu 5. Laut Karibia (sekitar katulistiwa, batas
Panthalassa-Pangea Barat), berpasangan dengan 6. Laut Banda (sekitar
Katulistiwa, batas Panthalassa-Pangea Timur), lalu ke 7. Pusat Bumi.
Nadanya bersifat saling berpasangan. Ini seperti berpasangannya
kemagnitan : kutub magnet utara-dan kutub magnet selatan. Arah gaya
magnetik di equator ya ke kutub utara, lalu di kutub Utara terdapat
planetary cyclone berupa laut, laut Artik. Magnetiknya kuat mendorong
lapisan hingga jadi laut ? Lalu gaya magnetik masuk ke bumi, lalu keluar
ke permukaan di Kutub Selatan, di mana di situ ada Benua Antartik. Gaya
magnetik mendorong lapisan, menjadikan adanya daratan, Benua Antartik
(catatan: ketiga titik pusat siklun saling berdekatan, tak satu titik
antara kutub Utara bumi, kutub utara magnetik bumi, kutub utara
Planetary cyclone). Terus bagaimana pasangan pusat Pangea-pusat
Panthalassa ? Pasangan Laut Karibia-Laut Banda ?
Laut Karibia, banyak mempunyai siklun angin, dengan banyaknya tornado di Gulf of Mexico, banyak menerjang AS sepanjang tahun, terbanyak di
banding di permukaan bumi lain. Di sana juga ada segitiga Bermuda itu.
Di sini selain siklun angin, juga siklun arus laut, yang mungkin
menjadikan banyak (puluhan-ratusan) kapal hilang.
Kemingkunin masuk dalam dasar laut yang dalam, lebih dalam dari cahaya matahari akan bisa tembus, gelap banget, sehingga di rasakan sebagai tak di temukan. Kemagnitan bisa saja merubah arah kompas menjadi berarah selain utara-selatan, namun tentunya perubahan arah tak akan banyak bisa membuat kapal hilang, di bading kekuatan siklun angin-air laut yang bisa menarik kapal/pesawat. Siklun tektonik pun amat kelihatan di situ, arah sesar dan vulkanisme yang membentuk pusaran.
Nah Laut Banda pun ada banyak miripnya dengan laut Karibia tadi.
Pengunungan deretan Medeteran, memusar di Laut Banda itu.
AAN punya gunung magnetik, gunung yang sangat kuat magnetiknya di utara
Madinah, sehingga mobil yang tanpa tenaga mesinnya, bisa terdorong, dari
diam menjadi bergerak dengan kecepatan 110 km/jam sepanjang 5 km itu.
Ada yang lebih kuat ? Siklun tadi, karena sangat kuat, bisa membawa
lapisan yang lebih dalam dari muka bumi, yang lebih bersifat kemagnitan,
untuk berada di permukaan bumi.
Planet, sering yang lebih kelihatan adalah bentuk atmosfernya. Planet
yang besar, termasuk Jupiter, mempunyai siklun berupa mata sapi "bull
eye" di katulistiwanya, juga planet besar lain. Ini yang saya duga
sebagai pusat "planetary cyclone" masing planet-planet itu. Satu
kritikan telah masuk soal ini. Tapi memang sedikit sekali pengetahuan di
angkasa ini.
Masalembo masih masuk daerah Siklun Pangea Timur.
Segitiga Bermuda, masuk daerah Siklun Pangea Barat, berpusat di Laut
Karibia. Daerah siklun ini meliputi : Panama, Bolivia, Haiti, Bermuda,
Gulf Of Mexico, suatu luasan 4.000 km x 2.000 km. Dengan menghilangkan daerah luasan laut dalam (~4 km kedalaman), semua tempat tadi bisa menjadi satu, menggandeng-gandeng pantainya. Ya, itu PermianTriasik lalu, 277 - 207 Ma lalu , atau yang umur tengahnya 242 Ma lalu, semua tempat itu menjadi satu. Malah gandeng dengan ujung barat Afrika.
Seumur itu, kini, Siklun pangea Timur, pusat Laut Banda, termasuk
Masalembo, dengan luasan 2.000 km x 2.000 km, membentang dari: Bali,
subduction selatan Nusa Tenggara, Kepala Burung, Pilipina, Selat
Makasar.
PSDM "PreStack Depth Migration", yang intinya tomografi, di gunakan
untuk mengetahui kecepatan-kecepatan (seimik) batuannya, lalu tahu
bentuk lempengan "lihosfer", melihat arah-arah subduction, sudah sangat
berhasil memperlihatkan siklun-siklun Pangea Timur itu, malah seluruh
Indonesia, saya melihatnya.
Data seismiknya, ya data gempa-gempa. Sulit menimbulkan energi seismik
sebesar itu, setara energi ribuan truk penuh dinamit, kalau tanpa gempa.
Jadi gempapun adanya gunanya ya ?
Salam, Maryanto.
NB : Maryanto adalah seorang geologis, tinggal di Indonesia
MENGUAK TABIR KECELAKAAN TRANSPORTASI DI MASALEMBO
15 Agustus 2008 di 12:16 Diposkan oleh SURIYADI
Technorati Profile
Belakangan beredar rekaman percakapan detik-detik terakhir atau cockpit voice recordr (CVR) berdurasi 5 menit 38 detik antara tiga orang yang diduga adalah pilot, co-pilot dan crew pilot.
Rekaman ini mengingatkan kita kembali tentang musibah yang menimpa penerbangan pesawat Adam Air bernomor KI 54 di awal Januari tahun lalu.
Pesawat yang sejatinya menempuh rute Surabaya – Manado ini kehilangan kontak dengan menara pengawas disekotar perairan Masalembo, Sulawesi Tenggara pada pukul 14.07 wita.
Bayank asumsi yang mengatakan bahwa kawasan tersebut memang sangat berbahaya Sebelumnya sejara penah mencatat ditahun 1961 Pesawat Garuda pernah hilang diatas perairan Masalembo, lalu pesawat encari yang terdiri dari Pesawat Dakota dan Helikopter TNI pun ikut hilag tanpa bekas.
Dua puluh tujuh tahun yang lalu tepatnya pada bulan Januari 1981, KM Tampomas II terbakar kemudian tenggelam juga dikawasan Masalembo. Kemudian belakangan Kapal Motor Senopati Nusantara juga mengalami kecelakangan yang sama diperairan tersebut.
Yang menjadi pertanyaan sekarang benarkah semua itu adalah murni karena kesalahan teknis ataukah ada penjelasana ilmiah dibalik hal tersebut.
Apabila kita mencoba menelaah mengenai posisi geografis kawasan Masalembo yang berada didaerah ‘pertigaan’ laut yaitu laut jawa yang berada di Barat Timur dan Selat Makasar yang memotong berarah Utara-Selatan dan oleh karenanya dikenal dengan sebutan Segitiga Masalembo.
Pola kedalaman lau disegitiga Masalembo ini sangat jelas membentuk segitiga yang nyaris sempurna berupa segita sama sisi. Mungkin hal ini mengingatkan kita pada Segitiga Bermuda di Amerika Tengah yang terkenal angker itu.
Hal ini yang membuat kawasan perairan Masalembo menjadi tempat bertemunya arus laut Indonesia, yaitu arus laut yang mengalir dari Barat memanjang di Laut Jawa, berupa monsonal stream atau arus musiman yang sangat diengaruhi oleh cuaca dan musim.
Sedangkan dari Selat Makasar ada arus laut dari Utara yang merupakan thermoklin atau aliran air laut akibat perbedaab suhu lautan. Kedua arus inilah yang kemudian bertemu disekitar Segitiga Masalembo.
Arus laut dikawasan Masalmbo juga dipengaruhi oleh suhu air laut akibat pemanasan matahari, yait ketika lintasan matahari bergerak ke Utara – Selatan dengan siklus tahunan. Itulah sebabnya pada bulan Januari merupakan saat perubahan arus musiman (monsoon).
Arus ini membawa air laut dingin dari Samudera pasifik ke Samudera Indonesia yang diperkirakan dengan debit hingga 15 juta meter kubik perdetik dan hampir semua arus tersebut melewati Selat Makasar. Aliran air sebesar itu bukan sekedar aliran air saja, tapi juga membawa serta aliran ikan laut, aliran sidemen laut, juga aliran temperatur air.
Perbedaan tekanan udara panas disekitar perairan Masalembo tersebut juga akan berpengaruh pada arus angin. Perubahan angin darat dan angin laut karena suhu ini berubah dalam siklus harian, juga siklus tahunan atau disebut siklus monsoon. Siklus air dan angin itu kemudian bertemu di segitiga Masalembo ini.
Sebagian pnelitian menjelskan adanya intensitas magnetik lokal akibat dari pertemuan arus tersebut yang dapat mengakibatkan terganggunya arah penunjuk kompas bila melewati kawsan ini.
Fenomena alam menyangkut segitiga Masalembo ini juga disebabkan adanya negative buoyancy yaitu akibat adanya gelembung – gelembung gas yang mempunyai densitas endah yang terdapat dikawasan ini, sehingga kapal tida bisa mengembang sempurna diatas air yang banyak gelembung – gelembung gas tadi.
Gas tersebut diduga berasal dari hidrat metana (fasa pada seperti dry ice) yang mengurai menj adi gas dan air. Satu satuan volume hidrat metana ini mengurai menjadi 164 satuan vol gas metan dan 0.8 air.
Yang paling dominan mempengaruhi kondisi di kawasan Masalembo ini adalah faktor meteorologis, termasuk didalamnya faktur cuaca, angin, hujan, awan, kelembaban air dan suhu udara yang memang merupakan manifestasi dari konfigurasi batan serta kondisi geologi, oceanografi serta geografi kawasan perairan Masalembo yang sangat unik.
Terlepas dari benar atau tidaknya kajian ilmiah ini, namun fenomena Segitiga Masalembo tersebut membuat kita kebali merenung, mengingat akan kebesaran Sang Pencipta yang Maha Mengatur segala urusan baik dilangit maupun dibumi dngan sempurna. Dan menyadarkan bertapa kecilnya manusia dihadapan-Nya. Bahkan ketika satu helai daun yang gugur ketanah pun.
http://suriyadi.com/2008/08/menguak-...=1218980820000
Menyetarakan serangkaian kecelakaan sekitar kawasan Masalembo dengan
peristiwa Bermuda adalah salah satu jenis tahayul. juga Ini namanya
"tahayul ilmiah" atau lazim disebut fiksi-ilmiah. Tapi jangan khawatir
dikatakan tahayul selagi pembedahan masalahnya tidak menggunakan pendekatan
tahayul.
Secara pribadi saya tidak sependapat kawasan Masalembo digelari sebagai
Segitga Bermudanya Indonesia. Kalau acuannya adalah tiga kecelakaan besar
seperti Terbakarnya Kapal Tampomas, tenggelamnya Kapal Senopati dan
lenyapnya Adam Air, maka fakta itu kurang menggigit untuk bisa disejajarkan
dengan peristiwa misterius di kawasan Bermuda Triangle.
Kenapa Bermuda Triangle dianggap aneh? Faktor keanehannya justeru karena
kebanyakan kecelakaan besar yang terjadi di kawasan Bermuda itu terjadi
dalam keadaan cuaca udara dan kondisi gelombang laut yang masih dalam
kategori tenang/stabil dan nyaman untuk sebuah perjalanan laut/ udara, tidak
menunjukkan tanda-tanda berbahaya untuk transportasi..Keanehan kedua karena
sebagian besar peristiwa kecelakaan itu tidak diketahui persis lokasinya dan
tidak meninggalkan bekas-bekas atau jejak yang bisa diperoleh sedikitpun
dalam kejadian itu.
Bandingkan dengan peristiwa segitiga Masalembo. Tampomas jelas ketahuan
kenapa dan di koordinat mana kecelakaannya. Hanya kita lambat menurunkan
bantuan sehingga korban berjatuhan terlalu banyak. Senopati jelas karam
karena diterjang ombak besar cuaca sangat buruk dan sejumlah orang sempat
bisa menyelamatkan diri. Kapal Adam Air jelas terkena bencana angin buruk
sehingga harus terbang melenceng diluar jalur biasa. Meskipun bangkai
pesawat dan seluruh penumpangnya masih belum ditemujan, tapi beberapa
serpihan bagian badan pesawat dan isinya ada yang bisa diketemukan.
Jadi tiga kejadian besar ini semuanya menyisakan barang bukti buat kita
untuk bisa melakukan pelacakan dan kajian. Kondisi Cuaca ketika terjadi
kecelakaanpun pun memuangkinkan untuk bisa terjadinya sebuah musibah walau
belum bisa direkonstruksi bagaimana prosesnya. Mungkin persoalannya jadi
menggoda kita untuk berandai-andai karena tempat kecelakaan ketiga peristiwa
tersebut kebetulan dikawasan yang tidak terlalu berjauhan.
SH
http://www.opensubscriber.com/messag...m/5859084.html
Menurut Opini saya...
Sebenarnya segitiga masalembo adalah nama yang diberikan orang karena
banyaknya kecelakaan yang terjadi di sana...
Padahal pasti ada penjelasan logis tentang kecelakaan yang terjadi di
segitiga masalembo.. Misalnya : Faktor Human Error, atau Keadaan cuaca
dan arus yang tidak memungkinkan untuk melakukan pelayaran, tetapi para
kapal tersebut masih nekat berlayar dan akhirnya tenggelam..
Mengenai kecelakaan pesawat, itu pasti kebetulan saja... Hanya saja kita
belum menemukan bangkai dari pesawat Adam air yang jatuh..
Jadi kesimpulan Opini saya :
Segitiga Masalembo hanyalah sebuah nama, tidak ada unsur misterinya,
karena setiap kecelakaan yang terjadi di sana pasti ada penjelasan logisnya..
Hanya saja kita belum bisa mengungkap fakta logis tentang seringnya
kecelakaan di tempat itu.. Sehingga orang2 mulai mengaitkan tempat
tersebut dengan hal2 berbau mistis... Dan mereka memberi nama Segitiga Masalembo~
Adakah Segitiga Bermuda di Perairan Sulawesi?
SAAT menunggu digelarnya acara jumpa pers oleh Koordinator Tim SAR Pencarian Pesawat AdamAir, Marsma TNI Eddy Suyanto di kantor Danlanud Hasanuddin Makassar baru-baru ini, sejumlah wartawan terlibat obrolan soal Segitiga Bermuda.
Konon, menurut masyarakat setempat, perairan di sekitar tempat ditemukannya serpihan pertama pesawat AdamAir, yakni di Majene dan Pare-Pare tergolong sebagai daerah angker. Sejumlah tokoh masyarakat yang ikut membantu tim SAR menuturkan, beberapa puluh tahun silam pernah terjadi pesawat terbang jatuh di perairan itu dan lenyap hingga kini.
Cerita senada dikemukakan pula oleh beberapa penerbang dan personel tim SAR yang enggan disebutkan namanya. Mereka menyatakan, setidaknya pernah terjadi dua kali peristiwa hilangnya pesawat terbang di atas perairan Majene dan Pare-Pare. Yang namanya cerita, tentu bisa benar dan juga tidak benar.
Terlepas dari soal itu, sebutan "Segitiga Bermuda" menjadi wacana baru di tengah mas yarakat. Pasalnya, beberapa paranormal, pengamat, dan pers menyebut pula soal hilangnya AdamAir dengan mengaitkan pada peristiwa yang mirip dengan di Segitiga Bermuda.
Mereka menambahkannya dengan nama "Sulawesi". Alhasil, "Segitiga Bermuda ala Sulawesi" pun sering diperbincangkan oleh masyarakat. Di antara personel tim SAR ada pula yang tergerak untuk mencari tahu apa sebenarnya yang dimaksud Segitiga Bermuda ala Sulawesi itu.
* *
SEGITIGA Bermuda adalah sebuah kawasan yang cukup terkenal, yang berkaitan erat dengan hilangnya pesawat terbang dan kapal laut. Lokasinya terdapat di antara pantai Florida, Haiti, Kuba, Jamaika, dan Puerto Riko.
Menurut Muhammad Isa Dawud --pengarang buku Dialog dengan Jin Muslim, Pengalaman Spiritual--, istilah Bermuda, asal mulanya berasal dari nama untuk bulan ketujuh, penanggalan Mesir yakni Naisan. Pada masa itu, petani menanam tebu d an memanen kurma. Istilah ini dipergunakan untuk menunjuk suatu segitiga imajinatif yang terletak di Samudra Atlantik.
Segitiga Bermuda punya luas sekira 770.000 km persegi, dan terdiri dari gugusan pulau sekira 350 pulau yang terletak dalam susunan mirip untaian manik-manik. Beberapa teluk kecil yang merupakan ujungnya, terletak seluruhnya di Samudra Atlantik, 930 km dari daratan Amerika.
Kepulauan itu dijajah Inggris sejak 1684, yang kemudian diubah statusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari (protektorat) Kerajaan Inggris Raya. Bermuda memperoleh pemerintahan otonomi untuk urusan dalam negeri sejak 1968, dengan jumlah pulau kecilnya yang mencapai sekira 60 pulau.
* *
MENURUT jin Muslim, sahabatnya Muhammad Isa Dawud, di Segitiga Bermuda terdapat singgasana iblis dan pengikutnya. Mereka inilah yang "menyembunyikan" sejumlah pesawat terbang dan kapal laut.
Vince nt Cadys, seorang spesialis berbagai peristiwa misterius kelautan dan merupakan orang pertama yang menggunakan istilah Segitiga Bermuda mengatakan, daerah Segitiga Bermuda adalah daerah yang sangat berbahaya bagi pelayaran dan penerbangan. Daerah itu diduga sudah menelan korban sekira 100 pesawat dan kapal laut, serta lebih dari 1.000 orang. Sebagian besar peristiwa terjadi pada tahun 1945.
Sementara itu, Lembaga Meteorologi dan Geofisika AS pernah mengorbitkan rembulan buatan (satelit), untuk menyingkap misteri Segitiga Bermuda dan memantau tempat-tempat tertentu di permukaan bumi. Saat di kawasan Segitiga Bermuda, satelit menangkap sinyal aneh lalu terputus. Di layar monitor hanya terlihat medan luas yang kosong dan sunyi.
Selain di Segitiga Bermuda, juga ada Sumur ***** di Selat Formosa atau di wialayah Taiwan. Di sebelah tenggara pulau Formosa yang luasnya sekira 35.961 km persegi itu, terdapat segitiga "S umur *****" yang menelan banyak korban kapal laut dan pesawat terbang hilang. Tak mustahil, menurut sejumlah pengamat, di bagian samudra lautan lainnya ada kawasan mirip Segitiga Bermuda.
* *
DI Segitiga Bermuda pernah terjadi peristiwa hilangnya pesawat Star Tiger dengan 31 penumpang (pada 30 Januari 1948), pesawat Star Areal (17 Januari 1949), pesawat Skylob --pesawat terbesar dalam jajaran armada AS-- pada Maret 1917, serta pesawat DC-3 dan 35 penumpangnya yang terbang dari Puerto Riko (28 Desember 1948).
Selain itu, pada 27 Februari 1935 penghuni hotel di Pantai Daytona dan warga setempat melihat ada pesawat yang terbang rendah lalu menukik masuk ke laut. Tim SAR pun langsung mencarinya di dalam lautan kawasan Segitiga Bermuda, ternyata tidak ada.
Sedangkan pada musim gugur 1967, kapal Queen Elizabeth I melihat ada pesawat yang mendek at ke kapal, lalu jatuh ke laut di Segitiga Bermuda. Ketika dicari oleh Queen Elizabeth I, ternyata tidak ada. Tak hanya itu, kapal barang Anita milik AS dengan muatan 20.000 ton, pada 23 Maret 1973 dinyatakan hilang di Segitiga Bermuda.
Kasus lainnya, Januari 1945, ekspedisi lima pesawat tempur jenis TTB 30 Finger Skuadron ke 19 Amerika bertolak dari pangkalannya di Port Louderdile di wilayah Florida AS. Saat pukul 15.15 petang, misi yang dipimpin Letnan Udara Charles Tylor selesai dan bermaksud kembali ke pangkalannya.
Kelima pesawat ini raib setelah sebelumnya sempat mengirim teks kawat ke menara pengawas. Tim SAR yang berada di bawah komando Wersink diberangkatkan untuk mencari kelima pesawat, ternyata hilang juga di Segitiga Bermuda.
Cerita misterius di Segitiga Bermuda sempat dibukukan, misalnya, oleh Dr. Aiman Abulrus berjudul Mutsallats Bermuda Mutsallats Ar Ra'b wa Al Kawarits", Dar Ibn Sina. Juga, ditulis oleh Charles Berlins, dengan bukunya Bermuda Triangle.
Muhammad Isa Dawud menceritakan pula soal Segitiga Bermuda --berdasarkan keterangan jin Muslim-- yang dibukukan dalam Hiwaar Shahafiy ma'a Jiniy Muslim, terbitan Daar Al Funuun li Ath Thiba'at wa An Nasyr wa At Taghliif, Jedah, 1992. (Dialog dengan Jin Muslim: Pengalaman Spiritual, penerjemah Dr. H. Afif Muhammad, M.A., dan Drs. H. Abdul Adhiem, Pustaka Hidayah, Bandung, 1996).
Adakah Segitiga Bermuda di perairan Sulawesi? Jawabannya, tentu bergantung waktu dan fakta historis yang cepat atau lambat akan terungkapkan. Yang jelas, AdamAir hingga kini masih raib dan diduga kuat terbenam di dalam laut. (Achmad Setiyaji/"PR")***
Source: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/...07/01/0406.htm
Quote of the week:
"Indonesia is on the move, get on board." — Forbes Asia
"The optimist proclaims that we live in the best of all possible worlds; and the pessimist fears this is true." James Branch Cabell
Vote for Komodo National Park:
http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/
Pulau Masalembo sebenarnya sebuah pulau kecil yang berada di ujung Paparan Sunda, Pulau-pulau kecil ini berada di daerah “pertigaan” laut yaitu laut jawa yang berarah barat timur dan selat Makassar yang memotong berarah utara-selatan.
pernah terjadi kecelakaan yg aneh di pulau masalembo pada awal tahun ini Yang pertama kecelakaan lalulintas laut yang menimpa kapal laut Senopati Nusantara, yang kedua kecelakaan Pesawat Adam Air. Keduanya diduga terjadi pada waktu yang berdekatan di kawasan yang sama berdekatan juga di laut Utara Jawa, dan yang satu di seputar Masalembo.
pola kedalaman laut di Segitiga Masalembo ini sangat jelas menunjukkan bentuk segitiga yang nyaris sempurna berupa segitiga sama sisi. Lihat gambar dibawah.
Pada peta kedalaman laut atau peta bathymetri diatas dapat dilihat adanya bentuk kepulauan yang berbentuk segitiga. Tinggian yang terdiri beberapa pulau-pulau ini saya sebut sebagai “SEGITIGA MASALEMBO” atau “THE MASALEMBO TRIANGLE“.
ada apa saja di daerah seputaran Segitiga Masalembo ini. Coba kita buka-buka dikit-dikit ya. Tapi jangan mengharap banyak dari sisi mistisnya, akan lebih banyak saya urai sisi kebumian dan kelautannya saja
Pertemuan ARLINDO (Arus Laut Indonesia)
Di atas ini digambarkan arus laut di Indonesia, terutama Indonesia Timur. Coba perhatikan arus yang melewati Segitiga Masalembo ini. Pada bagian atas (garis hijau) menunjukkan air laut mengalir dari barat memanjang di Laut Jawa, berupa monsoonal stream atau arus musiman. Arus ini sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sedangkan dari Selat Makassar ada arus lain dari utara yang merupakan thermoklin, atau aliran air laut akibat perbedaan suhu lautan. Kedua arus ini bertemu di sekitar Segitiga Masalembo.
menurut saya Segitiga Masalembo itu adalah suatu karya alam. dimana didalam nya terdapat rahasia alam yg blum diketahui detailnya kenapa kejadian alam itu terjadi. Banyak yang mengira klo Segitiga Masalembo adalah perbuatan hantu / sebagainya. Nah ini sangat bertentangan dengan analisa para ahli yg memang ada aliran air yang membuat hal seperti ini terjadi.
Sebenernya Fenomena segitiga bermuda (konon) tapi menurut saya ini emank bener2 karna hal ini,, disebabkan oleh adanya negative buoyancy /akibat adanya gelembung2 gas yang mempunyai densitas rendah,sehinga kapal tidak bisa lagi bisa mengambang dalam air yang banyak gelembung2nya gas tadi, nyungseplah dia. Sekian Opini dari saya. Thank'z
Aku belajar bahwa tidak semua yang aku rencanakan/harapkan akan menjadi kenyataan.
Aku tahu Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik bagi ku.
Aku jadi belajar menahan diri & bersyukur serta bersuka cita.
ˆ⌣ˆ
secara garis besar setuju dengan atas Almighty
memang misteri dunia terlalu banyak dan manusia tetap memperdebatkannya.
Tampa manusia misteri bukan misteri~
karena cman manusia yang memperdebatkan misteri
coba g ada manusia mana ada istilah segitiga masalembo ,alam tetap berjalan seperti biasa
Share This Thread