gw mau sharing chapter 1 gw yang blom kelar deh ni...
sori kalo jelek..
enjoy
Chapter 1: Galesiege
Sinar lembut menggerogoti kegelapan, memudarkan bayangan-bayangan yang sedari malam tunggang langgang menghindari cahaya lampu. Rasa enggan begitu besar, lagi-lagi godaan untuk melanjutkan mimpi terus menghantui. “Aku harus pergi” yang ada di benak Chris, memaksa dirinya untuk berdiri, memandang sekeliling kamarnya yang biasa, sekedar untuk menghilangkan hipnotis alam mimpi. Yang terlihat hanya tata kamar-nya sangat biasa, api unggun kecil, kursi kayu reyot, lemari kayu yang sudah lapuk, sebuah gelas kayu tergantung terbalik disandang oleh paku di tembok, cahaya lembut mentari menyeruak dari langit-langit yang terbuat dari jerami.
Ilusi kasur mulai memudar, suara-suara mendesis yang sedari tadi didengarnya tiba-tiba menyerupai gelora prajurit yang berperang. Menguap sedikit, ia jejakan kaki di lantai. Penasaran, ia mendekati ambang jendela. Lautan manusia bersorak-sorai, bertepuk tangan, semakin lama makin menggila. Lautan itu menyisakan spasi kosong di tengah jalan, kira-kira berjarak 6 meter. Di spasi kosong itu, sebuah kereta Kuda megah dengan ukiran simbol kerajaan ditarik dengan kudah putih bersih, berjalan perlahan.
Chris menarik napas panjang. “Hal yang sia-sia,” desahnya.
Ia menjauhi jendela, membuka lemari usang, menatap sebuah baju zirah mengkilap ke-emasan, tulisan kecil terpapang di bagian dada kiri baju itu, “Chrisvalion Galesiege, kapten divisi 4”. Gemerincing lembut bergema di ruangan, menghiraukan gemuruh manusia di luar sana, mata Chris memancarkan keyakinan. Pintu kayu reyot terbuka sedikit..
Cahaya menyilaukan menerpa wajah Chris. Sambutan selamat pagi mentari lembut menyegarkan dirinya, membuatnya bersemangat. Langkah kakinya semakin cepat, menelusuri jalan panjang menuju gerbang istana.
Chris berjalan menelurusi toko-toko di sepanjang jalan, mengamati orang-orang yang sedari tadi melompat-lompat, menepukan tangan berkali-kali, berteriak memanggil-manggil nama sesorang yang duduk tenang di dalam kereta kuda. Chris mengerling kereta kuda besar melintas, membuat orang-orang yang dilewatinya semakin menggila. Mengepalkan tangan sedikit, Chris berlari menyusuri jalan besar, menuju istana.
Semakin jauh ia berjalan, semakin padat lautan manusia yang menggila. Mereka mengerumuni gerbang istana yang tingginya 7 kali manusia dewasa, sebagian dari mereka melempar kelopak bunga mawar merah, membuat Chris kesulitan melihat apa yang ada di depan sana. Setelah berusaha menyeruak kesana-kemari, akhirnya Chris tiba di pintu gerbang yang tertutup, dijaga oleh 10 penjaga berbaju zirah. Yang anehnya, langsung menyambut kedatangan Chris.
Ia mengucap salam pada kedua penjaga yang berjaga di depan gerbang, lalu berlari ke ruang pertemuan. Tak berapa lama, terlihat sebuah pintu kayu dengan ukiran besi, menjaga ruangan pertemuan. Diketuk pintu itu, dibukanya perlahan. Sebuah ruangan besar, hampir terlihat kosong, dengan perabotan megah yang hanya beberapa. Dinding batu putih kokoh, diselimuti beberapa gorden merah besar adalah satu hal yang paling terlihat di ruangan itu, selain lampu Kristal yang tergantung di atap-atap di tengah ruangan. Dibawahnya, terlihat 4 Ksatria duduk tenang di sekeliling meja bundar besar yang terbuat dari kayu yang kokoh, ditutupi oleh taplak meja dengan jahitan simbol garuda emas besar.
“Kau terlambat,” Seseorang dengan baju zirah ke-emasan berkata dengan suara berat dan tajam
“Terlambat? Ia datang tepat waktu, Vane,” Ksatria yang lain menyela, dengan suara kecil yang lembut, terdengar seperti wanita.
4 Ksatria yang berkumpul di meja bundar besar itu melepas helm-nya perlahan, menampilkan wajah-wajah yang asing bagi Chris.
“Jadi, apa maksudnya ini?” Seorang kesatria dengan rambut pirang gelap acak-acakan, dengan dagu yang agak lancip, kulitnya kehitaman, bola mata hitam pekat, hidungnya agak pesek. Mungkin saat gelap ia tak akan terlihat, kecuali memakai baju putih. Ia berkata pelan.
“Apa maksudmu, Vane?” Wanita berambut perak ke-emasan berkata pelan. Chris menatapnya kagum, tak disangka wanita secantik ini bisa menjadi seorang kesatria. Matanya biru langit, kulitnya putih bersih, bibirnya tipis, hidungnya tak terlalu mancung dan tak juga pesek, bulu mata yang lentik, membuat Chris terpaku.
“Mengumpulkan 4 Jendral dan 1 kapten untuk pengintaian? Ini sama sekali tidak masuk akal, Lena,” Vane Menyela dengan cepat, membuyarkan keterpakuan Chris.
“Pengintaian ini bukan sembarangan…“
“Sebesar apa ‘bukan sembarangan’ mu ini hingga memanggil kami ber 4?”
“Sekecil atau sebesar apapun masalah, apabila kita dipanggil oleh raja, sudah kewajiban kita untuk mematuhinya!” Kesatria Lena berkata dengan nada lantang, keguasaran tampak di wajahnya.
“Lagi-lagi? Kata-kata itu membuatku bosan”
“Apa maksudmu!?”
“Maaf,” Chris berkata pelan, seraya mengangkat tangan kanannya, mengalihkan seluruh perhatian ke-4 kesatria.
“Bukankah sebaiknya kita bicarakan…”
“Apa yang membuatmu berpikir dapat menyela kami seenaknya, kapten?” Vane membalas, mendelik tajam.
“Vane, Tenanglah” Seorang kesatria berambut hitam, dengan hidung yang agak mancung, mata yang tak terlalu besar, namun agak sipit, terlihat seperti turunan campuran oriental, ia mengenakan baju zirah perak murni, berkata pelan pada Vane. “Sebelum berkata apa-apa, ada baiknya kita dengar dulu apa masalahnya,” ia melanjutkan. “Lanjutkan, Lena”
Vane menoleh ke arah kesatria tadi, menetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya, berdecak berkali-kali. Selang beberapa waktu, akhirnya ia mengenyakan diri di kursinya, memasang pose seolah-olah-mendengarkan;
“Terima kasih, Alex” Lena akhirnya bicara setelah penantian yang tak berarti. “Kita mendapat berita yang mengejutkan dari Raja”
“Apa itu?” Alex bertanya.
“Para pengintai kerajaan kita telah menemukan sebuah kerajaan asing. “
“Setelah lama kerajaan ini terbentuk? Bagaimana mungkin para pengintai membutuhkan waktu begitu lama untuk menemukan kerajaan asing?” Alex bertanya.
“Memang tidak aneh, karena kerajaan kita mengisolirkan diri dari perdangan dengan kerajaan lain yang ada di pulau ini.” Chris menjawab dengan tenang.
“Memang masuk akal, apalagi…” Seorang kesatria yang dari awal bungkam akhirnya bicara.
“Kerajaan asing ini telah lama ditemukan!” Lena menyela cepat, mendelik kearah Chris dan kesatria yang dari awal bungkam itu.
“Mengapa kita para jendral tidak diberitahu sejak lama?” Vane bertanya dengan nada tajam, menatap tajam Lena, dengan pandangan mencela.
“Keputusan ini adalah keputusan raja, hanya ia yang tau…”
“Oh? Budak setia-nya saja tidak tahu? Mungkin hal ini benar-benar rahasia? Disusul dengan deham tawa Vane. Lena mengepalkan tangannya, kernyitan mulai terlihat di dahinya.
Lena memukul meja di depannya, membuat Chris melompat kecil menjauhi meja. “Bicaramu sudah keterlaluan Vane!” Lena berkata, setengah berteriak.
“Keterlaluan? Bukankah kenyataan?”
Sekali lagi, Lena mendelik, menghela napas pendek.
“Apa yang dikehendaki Raja? Apakah ia sedang menyelidiki kerajaan ini?”, Chris berkata, mengabaikan Vane yang terkikik pelan.
“Kelihatannya begitu,” Lena menjawab
“Lalu apa yang telah ia ketahui?”
“Nihil,”Lena berkata lirih
“Nihil?”
“Ya, karena itu baginda Raja memerintahkan kita untuk mengintai daerah kerajaan itu”
“Oh? Terdengar seperti penjahahan di telingaku--” sekali lagi, Vane berkata sinis.
Suara hantaman keras pukulan Lena memotong kata-kata Vane. Pukulan Lena membekas di Meja Mahogani di hadapannya, meninggalkan bekas retak yang dalam.
Lena terpaku sesaat, memandang bekas pukulannya ke meja barusan. Keterpakuannya membangkitkan kesunyian yang ganjil. Sesaat berikutnya, ia mengenyakan diri di kursinya, menopang dahinya dengan kepalan tangannya. Gersakan yang ditimbulkan Lena hanya satu-satunya suara yang terdengar. Detik berikutnya, ia mengusap-usap telapak tangannya.
Lena terus menerus mengusap usap telapak tangannya dengan telapak tangannya yang lain, napas terengah-engah, mata terpejam, dahi mengernyit, merapatkan gigi sangat rapat, seperti menggigit suatu benda keras yang tak terlihat. Kegelisahan menyelimuti raut wajah Lena, seperti menahan sesuatu yang mengerikan keluar dari dalam dirinya. “Tugas kita sebagai jendral, adalah untuk mematuhi perintah raja, bukan untuk mempertanyakan keputusannya!” Lena berkata dengan suara yang sangat berbeda dengan suaranya sebelumnya, terdengar seperti suara serigala yang berbicara dengan bahasa manusia.
Dengusan keras membalas kata-kata Lena, senyuman lebar mewarnai wajah Vane. Ia mengerling ke arah Lena, dan berkata sinis. “Mudah bagimu mengatakan hal itu, ****** Kerajaan..” disusul dengan tawa keras yang menjengkelkan hati.
Tiba-tiba saja, 4 pedang saling mengunci satu sama lain, tepat dihadapan Vane. Lena terus mendorong pedangnya yang terkunci, berusaha untuk menyayat wajah Vane. Meski terkunci oleh 3 pedang para kesatria, namun kekuatan Lena yang luar biasa, mendorong ke 4 pedang yang terkunci sedikit demi sedikit mendekati wajah Vane yang tak merubah ekspresinya, menyeringai.
“Lena, Kuasailah dirimu.” Alex berkata tenang.
Hanya napas terengah Lena yang terdengar di ruangan itu, napasnya berat dan tak terkendali. Setelah berselang beberapa waktu, terlihat ada yang aneh dengan mata kiri Lena, perlahan warna merah darah menjalar di matanya, merubah warna matanya dari biru laut menjadi merah darah.
Seringai kecil menghiasi wajah Vane.
“Lena!” Alex berteriak.
Dengan sigap, kesatria yang dari tadi bungkam itu berlari ke belakang Lena, lalu menahan kedua lengan Lena dengan kedua lengannya. Lena memberontak liar, menggapai sesuatu yang tak terlihat dihadapannya. Wajah cantik Lena berubah dengan kecepatan yang luar biasa, kedua mata Lena berubah menjadi merah darah, warna hitam merambat di sekujur tubuhnya, membuat kulitnya yang semula putih bersih menjadi hitam pekat. Dalam waktu beberapa detik saja, sosok Lena sudah berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Chris lihat sebelumnya. Saat melihatnya, rasa takut menjalar di tubuh Chris, membuyarkan segala kekuatan yang ia himpun sebelumnya.
Makhluk itu menggumamkan sesuatu, suaranya kecil, namun anehnya kedengaran melengking yang menusuk telinga. Hentakan keras di dada membuat Chris jatuh terduduk, menahan sakit yang luar biasa. Jantungnya serasa diremas tangan tak terlihat, menghambat peredaran darahnya. Bayangan hitam menggerogoti pandangannya, bahkan cahaya yang masuk dari jendela tak dapat menghilangkannya.
Chris meronta liar, berusaha mengilangkan rasa sakit yang begitu mencekan. Chris berteriak keras, namun anehnya, suara melengking yang menusuk tetap terdengar, seakan-akan tak terpengaruh oleh suara apapun.
“Kiel! Jangan lepaskan dia!” Alex berkata kepada kesatria tadi. Ia menggenggam erat pedangnya, mengarahkannya ke jantung Chris. Chris menutup matanya…
----
Aneh, tak terdengar bunyi tusukan, tak terlihat percikan darah. Chris memandang dadanya yang seharusnya tertusuk itu. Pedang Alex terbenam dalam di dada Chris, namun anehnya tak menembus badannya. Tak ada luka, namun sebagai gantinya, seberkas cahaya keperakan menyelimuti daerah yang seharusnya terdapat luka tusukan Alex.
Alex mendekatkan wajahnya ke telinga Chris. “Kendalikan rasa takutmu” Ia berkata pelan, seraya mencabut pedangnya perlahan. “Semakin kau takut, akan semakin tersiksa dirimu.”
Kelegaan yang begitu besar menyelimuti tubuh Chris, setelah Alex mencabut seluruh bagian pedangnya. Chris bangkit perlahan, menghimpun tenaga yang hilang dari tubuhnya beberapa saat lalu, mengambil pedangnya, lalu berdiri tegak. Alex mengerling sedikit ke arah Chris, setelah melihat Chris berdiri tegak, ia mengangguk sedikit kepada Kiel.
Alex meluruskan pedangnya kedepan, mengarahkannya tepat ke jantung Lena. Jeritan Lena bergaung keras, menggetarkan kaca-kaca di sekitar ruangan. Alex tak bergeming, menggumamkan sesuatu, lalu berlari menerjang Lena.
Hal yang sama terjadi pada Lena, pedang Alex terbenam dalam, namun seberkas cahaya-nya lebih lebar dari Chris. Wajah Lena mendongak ke atas, berusaha menggumamkan sesuatu, namun tak ada suara yang keluar.
Alex membenamkan pedangnya lebih dalam lagi. Lena menggelepar hebat, gumam-an tanpa suaranya menjadi lebih cepat, tangannya berusaha mencengkram wajah Alex.
Detik berikutnya, serpihan-serpihan hitam lepas dari tubuh Lena, terkikis sedikit demi sedikit. Serpihan-serpihan yang jatuh hilang begitu saja sebelum menyentuh tanah, seperti hujan yang tertahan payung. Tubuh Lena terangkat sedikit, seperti ada tangan tak terlihat menarik tubuhnya keatas. Kiel melepaskan cengkramannya, seraya menggumamkan sesuatu.
Sedikit demi sedikit, serpihan hitam berjatuhan, dari kakinya, tangannya, hingga wajahnya, menampilkan kembali wajah cantik yang membuat Chris terpaku, namun kali ini Chris tak terpaku, tetap waspada. Setelah serpihan terakhir terlepas dari tubuh Lena, Ia jatuh tersungkur, bernapas berat, sesekali terbatuk. Ia mendongak perlahan, “Aku... a...aku.. ma.... maaf..” Lena berkata, terbatuk berkali-kali.
“Jangan dipikirkan, “ Alex berkata dingin. “Vane, kita harus bicara, SEKARANG. Kiel, kau juga. Chris, bawa Lena ke ruang pengobatan.”
Kiel mengangguk kecil, menyarungkan pedangnya, lalu berjalan keluar ruangan. Vane tertawa tertahan, bangkit dari kursinya, lalu berjalan keluar ruangan di-ikuti Alex. Chris mendekati Lena yang masih tersungkur, napasnya masih terengah-engah, matanya terpejam rapat. Chris mengangkat tubuhnya, mengalungkan lengan Lena di pundak Chris, lalu membopongnya keluar ruangan.
Lena terperanjat, disusul dengan rintihan tertahan, matanya semakin terpejam, kernyitan terlihat di dahinya. “Kau tak apa-apa?” Chris bertanya pelan. Lena mengangguk kecil, tak mampu bersuara.
Keheningan menyertai mereka menyusuri koridor-koridor kastil, tanpa ada orang lain selain mereka. Keheningan tetap menyertai sampai mereka sampai di ruang pengobatan, ruangan berdinding marmer putih, dengan kelambu perak dimana-mana, menutupi kasur empuk yang tertata rapih. Chris membaringkan Lena yang masih merintih pelan, terengah-engah.
Sesaat setelah Chris membaringkannya, datang seseorang dengan jubah putih panjang hingga menyentuh tanah, menutupi seluruh tubuh dan kakinya, dengan simbol garuda emas terpapang di jubahnya, ia memakai penutup wajah yang menutup separo wajahnya. Tulisan kecil terpapang di jubah bagian dada kirinya, dengan tulisan, Acolyte.
Ia terperanjat melihat Lena terbaring di kasur. ia keluar ruangan sambil memanggil-manggil nama seseorang. Sesaat kemudian, ia kembali dengan 3 sampai 4 orang mengikutinya ke kasur tempat Lena terbaring. Chris keluar ruangan, meninggalkan Lena yang terbaring lemah.
Perlahan, Chris berjalan menjauhi pintu, suara gema mengikuti tiap langkahnya. Tampaknya warga kastil ini sibuk bertaut di halaman depan, menghujani jalan dengan kelopak. Gema yang terus saja mengikuti membuatnya jengkel, “Mengapa mereka masih saja melakukan hal yang tak berguna?” Chris berkata di dalam hati. “Apa mereka tak tahu kalau---“.
Pikirannya buyar seketika, alunan ganjil dentuman jantungnya membangkitkan rasa sakit yang tak lazim. Gema tak lagi membuntuti, digantikan oleh bisikan-bisikan tajam, berlomba-lomba menyayat gendang telinga Chris, membuatnya kehilangan keseimbangan…
Lengan Chris bergetar hebat, berusaha menyangga tubuhnya yang hampir jatuh terjembab. Lelehan hangat menetes melewati dagunya, membawa serta sisa-sisa tenaga. Rasanya hal ini pernah terjadi sebelumnya…
“Ke..kenapa?” pikirnya, berkutat melawan rasa sakit yang mencekam, “bukankah ia telah melepaskannya?.
Chris melemparkan diri ke samping, menabrak tembok di sebelahnya. Ia mencakar-cakar tembok, berharap sensasi yang memilukan ini pergi…
Sesosok pria berdiri menatap mata Chris, memperhatikannya mencakar-cakar tembok, meronta-ronta, mengerang tertahan. Sosok itu berjalan mendekatinya, menjulurkan tangannya kedepan, mengarahkannya tepat ke depan wajah Chris…
updated... again! +1 halaman doang sih ^^ enjoy
kritik dan saran is welcome..!![]()
Share This Thread