Langsung saja yaaaa...
Siang itu hujan turun dengan lebat. Kami duduk berdua berhadapan menunggu pesanan kami datang. Dia menyodorkan sebuah map cokelat kepadaku.
"Apa ini?"
"Sesuatu yang sudah seharusnya jadi milikmu"
"Apa maksudmu?" Dia merogoh sakujaketnya, lalu memberi sebuah foto. Foto keluargaku dulu
"Apa kau masih ingat? Saat itu kau masih kecil dan aku belum setua ini. Sekarang rambutku hampir semuanya berwana putih. Sedangkan kau...kau tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik Hani."
Aku melihat senyum diwajahnya yang keriput. Lelaki itu adalah ayahku. Dia susdah lama hilang meninggalkanku, Ibu, dan Adikku (Putri). Demi harta wanita lain dia mencampakkan kami. Bahkan, dia membuat kami hidup sengsara dengan hutang-hutang yang ditinggalkannya. Belum puas dengan semua itu, dia juga sering memukuli ibuku untuk mengambil uang hasil penjualan kue Ibu.
"Kau tak perlu memujiku, aku tak butuh itu. Aku mau menemuimu sebenarnya hanya untuk mengembalikan uangmu yang kau kirimkan padaku seminggu yang lalu. "Aku memberikan sebuah amplos berisi uang sebesar Rp 15.000.000.00 padanya.
"Itu milikmu. Aku tahu kau sangat butuh uang itu setelah ibumu meninggal sebulan yang lalu. Kau masih harus membiayai adikmu. Pasti gaji kerja part time-mu tak akan cukup."
"Kau tahu ibu sudah meninggal? Kenapa kau tak datang di pemakamannya? ohh... aku tahu kenapa, kau kan tidak peduli pada kami, memang selalu begitu dari dulu."Aku menghela nafas sejenak , lalu melanjutkan perkataanku.
"Asal kau tahu. Hidup kami lebih bahagia sejak kau menikah dengan wanita Indo-Jerman itu. "Aku tidak mau dia tahu kalau Ibu sangat sedih karena kehilangannya. Bahkan sampai saat terakhirnya ibu masih mencintainya.
"Tiolong maafkan aku. Aku menyesal sejak kudengar ibumu meninggal. Aku baru sadar aku tak bisa hidup tanpa kalian. Saat ibumu dimakamkan aku tak berani bertemu dengan kalian. Maafkanlah aku...Tapi , izinkan aku melakukan sesuatu untukmu dan putri untuk menebus kesalahanku."
"Susah terlambat bagiku. Itu sudah sangat lama."
"Maafkanlah aku, Nak. Maafkan ayahmu yang bodoh ini."
"Setelah yang kau lakukan selama ini, kau masih memanggilku Nak? lelucon apa ini? Aku saja tidak sudi memanggilmu Ayah. Kau masih menganggapku anakmu?"
Entah kenapa aku tak percaya pria itu benar-benar menyesal. Mungkin karena istrinya yang Indo-Jerman itu pergi meninggalkannya dan dia terancam bangkrut di usia tuanya. Dari wanita Indo-Jerman itu dia tidak memiliki keturunan.
"Bukalah map cokelat itu."
Aku heran dengan isi map itu. Isinya adalah sertifikat tanah seluas 2 hektar, sertifikat rumah dan cek bertuliskan Rp 80.000.000,00
"Kenapa kau berikan semua ini padaku?"
"Itu permohonan maafku untukmu dan adikmu. Walaupun mungkin itu masih belum cukup. tapi hanya itu yang aku punya."
"Coba katakan itu pada Ibu! Kaulah yang menyebabkannya meninggal. Lagi pula bagaimana aku tahu kau sedang tidak terlilit hutang?" nada suaraku terdengar sedikit membentaknya
"Hani...percayalah ! Aku sangat menyesal. "Untuk bebesapa saat kami terdiam
"Pesanan Anda , Tuan." Pelayan restoran itu meletakkan sejumlah piring berisi makanan lezat di meja kami. Tapi, makanan itu tak berhasil menggugah nafsu makanku yang hilang karena rasa benciku pada pria itu (ayahku)
Saat makan tak satupun kata yang terucap dari kami berdua. Aku terus berfikir. Akan kuapakan pemberiannya itu, dan apakah aku harus memaafkan dan menerimanya kembali atau tidak. Setelah beberapa menit berfikir aku berani mengambil keputusan.
"Baiklah, Aku akan mencoba memaafkanmu. Kau kuizinkan bertemu dengan Putri dan pemberianmu akan kuterima."
"Terimakasih, Nak. Kau mau memaafkan ayah." Pria tua itu berfikir sejenak lalu melanjutkan perkataannya.
Hari yang ditunggu itu pun tiba. Lelaki itu mengajak kami pergi hari ini. Putri terlihat sangat gembira akanbertemu dengan ayahnya. Dia memang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang yang seharusnya kupanggil ayah itu. Saat itu dia masih bayi dan ketika dia sudah cukup besar. Ibu dan aku tidak pernah menceritakannya. Ibu hanya mengatakan kalau ayah kami hilang dalam kecelakaan pesawat. Jadi Putri tidak membenci pria itu seperti aku. Mereka bahkan terlihat sangat akrab. Putri seperti sudah terbiasa memanggil ayahnya/
Bisa dibilang, kami bertiga cukup menikmati waktu bersama. Putri sempat pergi berkeliling meninggalkan kami berdua untuk mengambil gambar
"Apa putri suka fotografi?"
"Iya." Jawabku pendek.
"Pasti akan sangat menyenangkan melihatnya jadi orang yang sukses. Bagaimana denganmu? Apa cita-citamu, Nak?"
"Emmmm...aku rasa aku berbakat di banding musik dan membuat kue."
"Ternyata bakat ibumu menurun kepadamu. Terus kembangkan bakatmu itu , Nak. Jangan sampai kau menyesal. Gunakan setiap kesempatan yang ada dan jadilah dirimu sendiri. Tapi ingat! Jadilah wanita yang baik. Bertemanlah dengan anak baik-baik dan pilihlah pasangan hidup yang dapat menjagamu, membuatmu bahagia, aman dan tidak menjerumuskanmu ke hal yang negatif. Hidup bukan hanya untuk bersenang-senang. Dan ingatlah Hani! Ayah menyayangimu." Sungguh kata-kata itu membuatku cukup terharu. Rasa benciku pun mulai luntur. Yang aku rasakan saat itu hanya kasih sayang seoarang ayah yang sudah lama tak kursakan.
"Iya..Aku pasti akan menuruti nasihatmu itu."
"Hani..bolehkan ayah meminta sesuatu darimu?"
"Apa itu?"
"Tolong panggil aku ayah, Nak." Aku berfikir sejenak
Dengan ragu aku menjawab."Maafkan aku, aku belum bisa." Lalu pria tua itu memelukku. Mungkin, aku mau memanggilnya Ayah kalau aku tahu saat itu akan menjadi yang terakhir kalinya dia memelukku.
Keesokan harinya aku mendapat kabar kalau Ayah mengalami kecelakaan seusai mengantarkan aku dan Putri pulang. Ia tewas seketika. Aku dan Putri bergegas menuju ke pemakamannya. Aku menangis saat menaburkan bunga di atas timbunan tanah, tempat ayah terbaring untuk selamanya. Saat semua orang pergi, kecuali Putri aku berbisik di dekat nisan Ayah
"Aku akan selalu memanggilmu ayah. Maafkan aku karena telah membencimu dulu. Sejahat-jahatnya dirimu, kau tetaplah ayahku. Ayah...Aku menyayangimu."
Share This Thread