JAKARTA - Laporan kinerja perekonomian AS paro tahun 2007 yang kurang memuaskan menciptakan sentimen negatif di kalangan investor dunia. Hampir semua bursa saham utama sepanjang Jumat (27/7) mencatat kinerja negatif yang ditunjukkan oleh melorotnya indeks saham.
Meski pertumbuhan ekonomi AS mencatat angka mengesankan, yakni 3,5 persen pada kuartal kedua 2007, pertumbuhan terbaik sejak kuartal I 2006, pelaku pasar lebih mencermati angka-angka yang mengecewakan dalam laporan kinerja sektor riil.
Investor pesimistis terhadap masa depan negara dengan tingkat perekonomian terbesar di dunia itu setelah mendapat laporan bahwa kredit bermasalah di sektor perumahan meningkat, penjualan rumah turun, serta buruknya penyaluran kredit perbankan kepada korporasi. Harga minyak dunia yang menyentuh level USD 77 per barel juga semakin mendorong kepanikan di kalangan investor.
Menurut Avery Shenfeld, ekonom senior dari badan konsultan investasi CIBC World Markets, angka pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal kedua tidak realistis. "Jika angka pertumbuhan 3,4 persen itu digabung angka pertumbuhan kuartal pertama, total pertumbuhan ekonomi AS pada paro 2007 hanya dua persen," ungkapnya.
Dengan semakin mahalnya bahan bakar dan terpuruknya sektor riil AS, angka pertumbuhan ekonomi lebih kecil sangat berpeluang terjadi pada semester kedua. Apalagi, konsumsi domestik yang berkontribusi hampir dua per tiga pertumbuhan ekonomi AS hanya mencatat pertumbuhan 1,3 persen, terendah sejak akhir 2005.
"Ekonomi AS pada kuartal kedua hanya ditopang perdagangan global dengan kenaikan ekspor 6,4 persen, sedangkan impor malah turun 2,6 persen," jelas Drew Matus, ekonom dari Lehman Brothers.
Profil tersebut kurang disukai investor karena kenaikan ekspor AS hanya dipicu oleh lemahnya kurs dolar. Turunnya impor juga menunjukkan semakin dijauhinya pasar AS oleh produsen.
Di lantai bursa, respons negatif pengamat dan lembaga investasi dunia terhadap kinerja ekonomi AS sangat berpengaruh terhadap perdagangan saham. Saat lonceng yang menandai berakhirnya transaksi di New York Stock Exchange (NYSE) dibunyikan, indeks Dow Jones yang mencatat kinerja emiten industri terpelanting sampai 206,55 poin (1,53 persen) menjadi 13.267,02. Indeks teknologi Nasdaq juga tenggelam sampai 37,28 poin (1,43 persen) menjadi 2.562,06.
Guncangan di Wall Street itu juga membuat pasar saham dunia langsung terkoreksi. Di London, indeks FTSE 100 turun tipis 0,58 persen setelah sehari sebelumnya Kamis (26/7) anjlok 3,15 persen. Indeks DAX di Frankfurt juga turun 0,76 persen. Begitu pula dengan indeks CAC 40 di Paris, Prancis, yang melemah 0,55 persen.
Pengamat bursa Douglas Porter dari BMO Capital Markets mengungkapkan, investor di luar AS cenderung skeptis mengamati perekonomian AS yang tidak stabil. "Kemarin adalah pekan yang buruk. Sebagian investor menganggap seperti horor. Sebab, nilai aset saham mereka tiba-tiba merosot," ujarnya.
Bagaimana dampaknya terhadap ekonomi Indonesia? Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada Jumat (27/7) juga ikut terseret tren melemahnya indeks saham global. Pada akhir perdagangan, IHSG ditutup anjlok 2,83 persen, kembali di bawah level 2.300, akibat berlanjutnya aksi ambil untung.
IHSG ditutup merosot 66,849 poin menjadi 2.298,414. Indeks LQ45 yang merupakan kumpulan 45 saham likuid merosot 14,874 poin atau 3,04 persen menjadi 473,908.
Analis PT Bapindo Bumi Sekuritas Harry Kurniawan menjelaskan, melemahnya sebagian besar bursa regional telah menekan indeks BEJ, sehingga jatuh cukup dalam. "Itu hanya pengaruh bursa regional karena turunnya dalam. Seolah-olah terjadi panic selling," katanya.
Pengaruh turunnya nilai tukar rupiah juga ikut mendorong indeks turun. Pada perdagangan Jumat (27/7) , rupiah ditutup pada level 9.188 per USD, turun dibandingkan sebelumnya di level 9.133 per USD. Pada awal perdagangan, rupiah sempat merosot ke level 9.220/9.230 per USD.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda S. Goeltom mengungkapkan, melemahnya mata uang rupiah dibandingkan USD tidak berarti kepercayaan kepada Indonesia menurun. Melemahnya rupiah selama dua hari terakhir juga dialami hampir seluruh jenis mata uang.
Dia menegaskan, pelemahan itu tidak perlu dibesar-besarkan. Miranda yakin volatilitas yang dialami rupiah belum terlalu tinggi. "Kalau kita lihat pada indikator lain yang masih baik, kita harap ini adalah suatu hal yang temporer," ujarnya.
Sementara Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin menambahkan pelemahan indeks dan kurs rupiah hanya bersifat sementara. "Saya pikir ruang rupiah untuk menguat masih besar, sebab pelemahan kemarin hanya dipicu oleh faktor eksternal," ujarnya.
Aslim mengatakan bahwa fundamental perekonomian Indonesia masih kuat. Seperti inflasi yang masih di bawah enam persen maupun cadangan devisa yang saat ini mencapai USD 51,1 miliar. Sehingga saat penurunan perekonomian global terus berlanjut, maka Indonesia masih bisa bertahan. " Stabilitas nasional yang masih terjaga juga mempengaruhi perekonomian."
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Pengamat Pasar Modal M. Alfatih. Menurutnya, penurunan indeks dipicu oleh kondisi global. " Laporan keuangan emiten semester II yang telah keluar dan sesuai ekspetasi membuat para investor memprediksi bahwa saham emiten tersebut sudah capai harga tertingginya. Apalagi dengan anjloknya indeks global, maka mereka melakukan aksi jual."
Merosotnya indesk sudah dimulai sejak beberapa hari lalu. Pada penutupan perdagangan (25/7), IHSG sudah ada dilevel 2.394,56. Dan sehari kemudian indeks merosot 29,30 poin ke level 2.365,26.
Menurutnya, indeks akan rebound di pekan depan jika angka inflasi Juli yang akan dirilis pada awal Agsutus membaik. Apalagi jika laporan keuangan semester II emiten lainnya yang akan segera dikeluarkan sesuai dengan harapan investor maupun perusahaan itu sendiri.
Share This Thread