Page 1 of 7 12345 ... LastLast
Results 1 to 15 of 100
http://idgs.in/35561
  1. #1
    MimiHitam's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Posts
    9,242
    Points
    16,524.95
    Thanks: 14 / 58 / 42

    Exclamation Demokratisasi di Myanmar

    Demokratisasi di Myanmar

    SEBUAH pergolakan tengah berlangsung di Myanmar. Lebih dari 100 ribu warga negeri itu turun ke jalan memprotes penguasa junta militer.

    Protes yang dipicu kenaikan harga bahan bakar minyak hingga 500% itu memasuki babak baru dalam sejarah penentangan rakyat Myanmar terhadap junta militer yang telah membuat hancurnya demokrasi dan menjadikan negeri itu totaliter.

    Aksi telah berlangsung lebih dari tiga pekan dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Dunia pun terus memantau perkembangan di negeri itu dengan penuh harapan sekaligus kecemasan.

    Harapan agar aksi protes tersebut menjadi momentum bagi Myanmar untuk menjadi negara yang jauh lebih terbuka. Kecemasan karena junta militer telah mengancam akan mengambil tindakan terhadap para aktivis unjuk rasa itu.

    Dunia khawatir junta militer yang berkuasa menangani aksi damai itu dengan tindakan represif sehingga menimbulkan korban jiwa. Masyarakat internasional tentu tidak ingin tragedi yang pernah terjadi pada 1988, saat aksi serupa berlangsung, terulang kembali. Terlebih, aksi damai kali ini didukung ribuan biksu, kalangan spiritualis Myanmar yang disegani tidak saja oleh rakyat, tetapi juga oleh kalangan penguasa.

    Sejatinya, keterlibatan kalangan spiritualis itu merupakan petunjuk betapa ketidakpuasan terhadap junta militer telah mencapai titik paling tinggi dalam dua dekade terakhir. Selama ini, rakyat Myanmar hidup dalam tekanan dan paksaan. Selama ini, mereka hanya diam. Dan pembangkangan para biksu merupakan simbol betapa kearifan tidak lagi hidup dalam keseharian junta militer yang memerintah negeri itu.

    Myanmar adalah sebuah negeri penuh ironi dan paradoks. Ketika seisi peradaban bumi bergerak menuju globalisasi dan keterbukaan, Myanmar sebaliknya menjauhi kaidah-kaidah itu dan menerapkan isolasi total. Ketika warga dunia berlomba-lomba meraih kemakmuran, junta militer membiarkan rakyat Myanmar terus berkubang dalam kemiskinan.

    Secara historis, peletak dasar isolasionisme negeri itu beranggapan bahwa tanpa dukungan dunia luar, Myanmar mampu membangun sendiri dan memenuhi kebutuhan rakyat. Bahwa dengan represi dan kekuasaan militeristik semuanya akan terkendali. Terbukti, tesis itu telah gagal. Buktinya peradaban negara mundur total, kondisi ekonomi-politik kacau balau, dan rakyat hidup semakin sengsara.

    Ironisnya, saat komunitas internasional menyeru kepada penguasa negeri itu agar mengambil langkah semestinya untuk mengatasi keadaan, junta militer mengabaikan seruan itu. Gerakan perlawanan dibasmi, masa depan kehidupan demokrasi pun menjadi kian suram. Puncaknya, Pemilu 1990 yang dimenangi Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dengan perolehan 60% suara tidak diakui. Bahkan pemimpin NLD Aung San Suu Kyi dijebloskan dalam tahanan rumah hingga kini.

    Pembangkangan para biksu seharusnya menjadi tapal batas bagi junta untuk mengakhiri sistem pemerintahan otoriter dan tertutup.

    Rekonsiliasi dengan kalangan prodemokrasi harus ditempuh, Aung San Suu Kyi harus dibebaskan, dan transisi ke arah sistem pemerintahan terbuka harus dijalankan.

    Inilah saatnya bagi Myanmar meninggalkan sistem totaliter dan memulai langkah menuju demokratisasi.

  2. Hot Ad
  3. #2
    MimiHitam's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Posts
    9,242
    Points
    16,524.95
    Thanks: 14 / 58 / 42

    Default

    YANGON--MEDIA: Militer Myanmar mulai menjalankan aksi kekerasan terhadap para biksu yang melakukan unjuk rasa. Rabu (26/9) tentara memukuli para pemrotes dengan tongkat dan melakukan penjagaan ketat di ibukota Yangon.

    Aksi pemukulan tersebut terjadi saat para biksu dan pengunjuk rasa anti pemerintah berkumpul di depan salah satu tempat paling suci di negera itu, Pagoda Shwedagon. Pemerintah Myanmar kemudian mengumumkan jam malam di ibukota.

    "Kami segera memutuskan untuk menyelamatkan hidup kami untuk rakyat, meskipun ada kemungkinan terjadi huru-hara," ucap asalah seorang biksu senior.

    Mobil-mobil yang dipenuhi oleh polisi dan tentara berpatroli di seluruh kota. Namun banyak juga dari mereka yang hanya bersembunyi dibaik tembok tinggi gedung pemerintah ataupun pemukiman menyebabkan penduduk lokal semkain tegang.

    Sementara itu, penjagaan tempat tokoh pro demokrasi Aung San Suu kyi dijaga oleh sedikitnya 30 orang polisi anti huru. (Hru/OL-06)

  4. #3
    Trademaks's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Location
    Indonesia
    Posts
    1,946
    Points
    3,106.70
    Thanks: 3 / 3 / 3

    Lightbulb Junta Myanmar Brutal,3 Biksu Tewas



    ANTIJUNTA, Para biksu dan massa berlarian melewati sepeda motor yang terbakar di Yangon kemarin. Sedikitnya tiga biksu tewas setelah junta militer Myanmar me ngerahkan ratusan pasukan untuk membubarkan paksa demonstrasi antipemerintah.

    YANGON (SINDO) – Junta militer Myanmar kemarin mengerahkan ratusan pasukan untuk membubarkan paksa demonstrasi damai antijunta yang dipimpin para biksu Buddha.

    Akibatnya, demo yang didukung ratusan ribu massa berubah menjadi bentrokan berdarah. Sedikitnya empat orang tewas, tiga di antaranya biksu dalam tindakan brutal yang dilakukan pasukan Myanmar. Biksu dan warga sipil yang berjumlah lebih dari 100.000 itu tidak menghiraukan peringatan junta yang menembakkan senjata ke udara, melontarkan gas air mata, serta menggunakan tongkat pemukul.

    Selain itu, dilaporkan juga sekitar 200 orang ditangkap dalam bentrokan tersebut, separuhnya adalah biksu Buddha. Sedikitnya 100 orang terluka dan separuhnya juga para biksu. Pihak rumah sakit umum di Yangon dan biara membenarkan sudah jatuh korban jiwa dua biksu dan seorang warga sipil dalam aksi protes terbesar dalam 20 tahun belakangan menentang junta.

    ”Mereka berbaris di sepanjang jalan, para biksu berada di tengah jalan, sedangkan masyarakat biasa berada di sisi jalan.Masyarakat melindungi para biksu dengan membentuk rantai manusia,” kata seorang saksi mata. Bentrokan diawali ketika polisi antihuru-hara mencoba menghalau para demonstran dengan menembakkan gas air mata ke arah barisan para biksu yang mencoba melewati barikade.

    Militer menggelar barikade menghalangi para biksu menuju Pagoda Shwedagon, pagoda yang dianggap paling suci dan menjadi titik awal aksi berbaris para biksu. Pejabat Myanmar mengatakan, salah seorang biksu tewas ditembak ketika dia bergelut dengan seorang tentara yang memegang senapan.

    Sementara biksu lain tewas akibat dipukuli secara brutal dan seorang warga sipil tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit umum di Yangon dengan luka tembak di kepala. Berdasarkan laporan dari kantor berita Mizzima News di India, operasi militer junta di Shwedagon dilancarkan atas perintah dari beberapa pejabat junta, termasuk Brigadir Jenderal Kyaw San, Menteri Informasi Kolonel Tint San, serta Komandan regional Mayor Ye Zaw Zaw.

    Junta yang tetap berada di ibu kota baru mereka,di sebelah utara Yangon, Naypyidaw, terus mengirim dan menambah beberapa truk penuh tentara dan polisi untuk menghalau aksi ini. Sementara itu, di Kota Sittwee yang terletak 385 km di sebelah barat laut Myanmar juga berlangsung aksi menentang junta.Aksi di sana melibatkan sedikitnya 10.000 orang, aksi terbesar di luar Kota Yangon.

    Begitu petang datang, massa membubarkan diri,sementara militer junta memberlakukan jam malam dari petang hingga subuh. Jalan-jalan terlihat lengang.Di kota besar kedua, Mandalay, dilaporkan juga terjadi aksi protes yang terdiri dari 10.000 orang, tetapi tanpa penjagaan dari pihak berwenang.

    ”Ini merupakan ujian kekuatan antara dua institusi di negara ini yang memiliki kemampuan memobilisasi massa, dan salah satu di antara dua institusi itu akan hancur. Jika junta memilih cara kekerasan, mereka berisiko memicu perlawanan seluruh rakyat,” tandas Bradley Babson, mantan pejabat Bank Dunia yang bekerja di Myanmar.

    Sejumlah polisi antihuru-hara ditempatkan di luar kediaman Aung San Suu Kyi, 62, untuk memastikan tidak ada upaya membebaskan pemimpin prodemokrasi dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu. Uni Eropa (EU) dan Amerika Serikat (AS), kemarin, mendesak junta Myanmar untuk menghentikan penggunaan kekerasan dalam menghadapi aksi damai di Yangon.

    ”EU dan AS menyampaikan rasa solidaritas kepada rakyat Myanmar. Kami sangat kecewa mendengar laporan yang menyebut bahwa pasukan keamanan menembaki dan menangkap para biksu dan warga yang melangsungkan aksi protes damai,” bunyi pernyataan bersama EU dan AS.

    Sementara China,sekutu terdekat junta, dilaporkan tengah berupaya melobi pemimpin junta mengenai kekhawatiran dunia internasional atas perkembangan terbaru di Myanmar. Menurut seorang perwakilan aktivis prodemokrasi di Myanmar, China secara diam-diam selama beberapa bulan belakangan terus berhubungan dagang dengan Myanmar.


    referensi : http://www.seputar-indonesia.com/

  5. #4
    MimiHitam's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Posts
    9,242
    Points
    16,524.95
    Thanks: 14 / 58 / 42

    Default

    semoga kediktatoran myanmar akan hilang.. tp ini kalo diliat lebih panjang diktatorannya adripada suharto

  6. #5
    MimiHitam's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Posts
    9,242
    Points
    16,524.95
    Thanks: 14 / 58 / 42

    Default

    Irrawaddy: Burmese troops fire on Rangoon protestors; unconfirmed reports say five monks, one woman dead - Saw Yan Naing

    Burmese security forces fired directly on protesting monks and other demonstrators in Rangoon on Wednesday, reportedly killing five monks and one woman in separate Rangoon clashes, according to unconfirmed reports.

    Monks praying in front of armed troops in Rangoon, September 26, 2007 [Photo: Reuters]

    On-the-scene reports to The Irrawaddy said the monks died when troops and security forces opened fire on at least two separate demonstrations. Troops reportedly fired over the heads of protesters on some occasions and fired directly at protestors on other occasions.

    The reports of deaths and injuries were impossible to confirm on Wednesday.

    The deaths reportedly occurred as different columns of monks walked through the city on Wednesday.

    Nyan Win, a National League for Democracy spokesperson, said he heard reports that three monks and one woman had been killed by gunfire.

    AFP, the French news agency, reported Wednesday night that at least two Burmese officials said three monks were dead. The AFP report said one monk died as he tried to take a weapon away from a soldier, and two others were beaten to death.

    In the military-ruled government of Burma, information is severely restricted and accurate reports of the number of dead and injured are difficult to verify.

  7. #6

    Join Date
    Jul 2007
    Location
    Juppon~gatana xD~
    Posts
    1,291
    Points
    1,528.70
    Thanks: 2 / 3

    Default

    buset...kalo sampe biksu yg demo....
    brarti diktatornya parah tuh

  8. #7
    Trademaks's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Location
    Indonesia
    Posts
    1,946
    Points
    3,106.70
    Thanks: 3 / 3 / 3

    Lightbulb Darah Akhirnya Tumpah di Pagoda



    Tiga Tewas, 200 Ditangkap
    BANGKOK - Kekhawatiran aksi damai para biksu dan rakyat Myanmar dihadapi dengan kekerasan oleh rezim militer akhirnya menjadi kenyataan. Karena imbauan jam malam dan larangan berkumpul diabaikan, ratusan polisi dibantu tentara Myanmar secara represif menghalau aksi damai sekitar 10 ribu biksu dan rakyat yang tetap berlangsung kemarin.

    Dilaporkan seorang biksu tewas tertembak dan empat lainnya luka-luka, termasuk di antaranya seorang biksuni. Selain itu, ratusan demonstran lainnya ditangkap aparat dalam upaya represif itu. Sumber Reuters malah menyebutkan tiga biksu tewas dan puluhan terluka.

    Jatuhnya korban setelah aksi demo perlawanan memasuki hari kesembilan itu diungkapkan seorang anggota kelompok perlawanan bawah tanah Myanmar. "Mereka (aparat) menembak dan menghantam kami di kompleks Pagoda Sule dekat Balai Kota Yangon," lanjut informan pria yang menolak disebutkan namanya. "Ini menandakan kalau rezim militer sama sekali tak menghiraukan tuntutan kami dan menunjukkan watak aslinya," imbuhnya.

    Duta Besar Inggris di Myanmar Mark Canning mengatakan kepada koresponden BBC, seorang biksu yang rambutnya seperti baru dicukur habis tewas tergeletak di kompleks Pagoda Shwedagon dengan kepala berlumur darah.

    Kekerasan dan jatuhnya korban kemarin memang sudah dikhawatirkan banyak pihak akan terjadi setelah junta militer mengumumkan sejumlah larangan terhadap warga dan biksu. Rabu (26/9) dini hari, junta militer memberlakukan jam malam mulai petang sampai subuh dan larangan berkumpul lebih dari lima orang. Larangan itu berlaku 60 hari sejak kemarin.

    Seperti diduga, larangan itu sama sekali tak digubris para penggerak unjuk rasa damai. Kemarin pagi warga sipil tetap berkumpul di dekat Pagoda Sule. Mereka menunggu datangnya satu prosesi sekitar 10.000 biksu dan warga sipil. Menghadapi aksi nekat itu, pasukan keamanan bersenjata senapan, pentungan, dan perisai digelar di tempat-tempat penting untuk menghadang barisan unjuk rasa.

    Unjuk kekuatan tentara Myanmar itu tak juga membuat semangat biksu dan warga menciut. Bahkan, jumlah peserta aksi terus bertambah ketika prosesi mendekati candi Buddha di pusat kota. Di tempat itu pertumpahan darah terburuk ketika pasukan melepaskan tembakan terhadap para pemrotes pada 1988 terjadi. Pemberontakan besar terakhir di negara yang dulu bernama Burma itu menewaskan sekitar 3.000 orang.

    Karena imbauan dan penghadangan tidak berhasil, polisi dan tentara Myanmar mulai bertindak keras terhadap peserta aksi. Beberapa tentara terlihat melepaskan tembakan peringatan dan menghujani para biksu dengan gas air mata.

    Melihat pasukan keamanan mulai kalap, para demonstran segera lari mencari tempat berlindung. Para saksi mata dan biksu mengatakan, sejumlah ulama Buddha dipukuli dan dibawa dari Pagoda Shwedagon, tempat awal unjuk rasa yang dipimpin para biksu pekan lalu menentang pemerintah militer yang berkuasa 45 tahun.

    Para saksi mata mengatakan, pasukan keamanan membakar pipa-pipa plastik untuk mengisi lokasi itu dengan asap. "Banyak biksu memakai masker dalam usaha menghadapi dampak gas air mata," kata seorang saksi mata. Usai aksi kekerasan, sekitar 200 biksu dan warga ditahan. Di antara yang ditahan adalah dua tokoh perlawanan, U Win Naing dan pelawak populer Zaganar.

    Sumber di Rumah Sakit Yangon membenarkan seorang biksu tewas dan dua lainnya terluka serius akibat tindakan represif militer. Korban luka adalah seorang biksuni dan sopir taksi setempat.

    Sikap keras kepala junta militer itu kembali mengundang kemarahan pemimpin dunia. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengimbau Dewan Keamanan PBB segera mengadakan pertemuan darurat. "PBB harus segera mengirim utusan ke Myanmar, situasi sudah gawat. Tindakan ini untuk menunjukkan bahwa tidak ada pelanggar HAM yang kebal dari hukum," tegas Brown kemarin.

    Tumpahnya darah di Yangon juga mengundang kemarahan pemerintah AS. Juru Bicara Gedung Putih Gordon Johndroe mengatakan, jika berita kekerasan dan korban tewas di Myanmar benar, AS dan negara lain dunia tak boleh tinggal diam. "Kita tak boleh membiarkan rakyat Myanmar menderita oleh kesewenang-wenangan," tegasnya.

    Meskipun mendapat sorotan dunia internasional, junta militer tetap menganggap tindakan tegas yang dilakukannya terhadap pengunjuk rasa sudah benar. Bahkan dalam pernyataan yang disampaikan Menteri Agama Brigjend Thura Myint Maung kemarin, aksi protes yang terus membesar dalam sembilan hari terakhir disebutkan diorganisasi oleh elemen merusak dari dalam dan luar negeri.

    Dalam pidato di radio pemerintah, Thura Myint Maung menyatakan, sekelompok orang dari dalam dan luar negeri terus menerus melakukan aktivitas yang bertujuan memecah belah rakyat Myanmar. "Mereka melakukan itu untuk menciptakan citra bahwa semua upaya pemerintah untuk mengendalikan situasi selalu berakhir dengan kerusakan ". tegasnya.

    Selanjutnya Myint Maung menyebut beberapa media seperti BBC, VOA, RFA (Radio Free Asia), dan DVB (Democratic Voice of Burma) sebagai pelaku yang mendukung aksi mendeskreditkan pemerintah Myanmar.

    Thura Myint Maung yang selalu menjadi juru bicara dalam krisis aksi biksu itu menegaskan pemerintah sama sekali tak risau dengan demo yang berlangsung selama sembilan hari itu. "Jumlah biksu yang demo hanya terlihat besar, karena mereka berkumpul di satu tempat. Namun, sesungguhnya jumlah mereka hanya 2 persen dari keseluruhan jumlah biksu di Myanmar " ujarnya.

    Sebagian besar biksu yang lain, klaim Myint Maung, sibuk dengan aktivitas kerohanian. Para biksu yang turun ke jalan hanya para biksu muda yang mudah terhasut.

    Dari New York, AS, wartawan Jawa Pos Rohman Budijanto melaporkan, Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda mengaku selalu mengikuti dengan prihatin perkembangan demo yang meluas di Myanmar. "Kami mengharapkan demo damai itu tak dihadapi dengan kekerasan," kata Hassan usai mendampingi presiden melakukan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Konjen RI di New York, Rabu malam (Kamis dini hari WIB).

    Bagaimana dengan peran Indonesia yang merupakan anggota Dewan Keamanan PBB? Dia menyebut, pada Januari lalu, ada inisiatif dari AS sebagai anggota tetap DK terhadap Myanmar. Tapi, langkah itu diveto oleh Rusia dan China.

    Menlu menyayangkan mereka terlalu cepat menggunakan senjata pemungkas berupa veto itu. Apakah ASEAN tidak bisa memberikan sanksi lewat status keanggotaan? Kata Menlu, ASEAN pernah melompati Myanmar saat akan menjadi tuan rumah KTT ASEAN dan langsung ke giliran berikutnya, Filipina. "Ini sebenarnya tindakan (sanksi) nyata, bukan sekadar simbolis," katanya.

    Namun, itu memang tak mengubah keadaan di negeri yang namanya diubah oleh junta militer dari Burma ke Myanmar (singkatan dari Myanma Naingngandaw atau Myanmar Serikat) pada 1989 itu.



    Junta Militer Batasi Akses Info





    Begitu aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi, junta militer Myanmar langsung berusaha membatasi akses informasi ke dunia luar. Izin untuk wartawan yang berniat masuk negeri itu dipersulit. Komunikasi untuk ke luar pun menghadapi masalah yang sama. Bahkan, saluran telepon ke luar negeri pun konon diawasi.

    Lewat situsnya, BBC mengundang warga Myanmar melaporkan apa yang mereka lihat lewat e-mail. Berikut beberapa e-mail yang masuk ke media massa ternama Inggris itu.

    Pagi ini (26/9), polisi memukuli biksu dan biksuni di Pagoda Shwedagon. Kemudian, mereka membawanya ke atas truk. Ada dua mobil tahanan dan dua mobil pemadam kebakaran. Terlihat lebih banyak polisi dan tentara di Taman Kandawgyi dekat Pagoda Shwedagon. Di beberapa tempat penting di Yangoon juga terlihat tentara dan polisi berpakaian preman.

    Di Pagoda Sule terlihat enam truk militer. Polisi berpakaian preman menunjukkan foto beberapa biksu yang dicurigai sebagai pemimpin aksi. Kabarnya, ada 50 biksu dan mahasiswa ditahan.
    Cherry, Yangoon

    Junta militer membatasi hubungan internet. Kami perlu waktu lama untuk membuka situs. Ternyata, begitu muncul, tampilannya kosong. Pasukan keamanan memblokade jalur pengunjuk rasa.

    Kemarin (25/9), pemerintah mengumumkan jam malam mulai pukul 21.00-05.00. Sepertinya, pemerintah juga akan memutus saluran komunikasi, seperti internet dan telepon.
    David, Yangoon

    Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada dunia apa yang sebenarnya terjadi di Myanmar. Saya tidak pernah melihat demo sebesar ini sebelumnya. Kerabat saya di pusat kota mengatakan, ada pejabat PBB, mahasiswa, beberapa orang asing, warga muslim, Tiongkok, dan India terlibat dalam aksi tersebut. Polisi terus berkeliling untuk menyerukan agar warga tidak ikut-ikutan berunjuk rasa. Namun, mereka merasa begitu termotivasi dan mengabaikan seruan tersebut. Itu seperti benar-benar kekuatan rakyat. Junta militer sudah membuat kami tertekan selama dua dekade. Kini saatnya rakyat Myanmar bersatu.

    Yi, Yangoon

    Kami tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Kami hanya bisa menunggu perkembangan situasi. Junta mengumumkan akan bertindak keras kepada mereka -tidak peduli warga sipil atau biksu- yang melanggar. Selama ini kamu tertekan. Kami tidak berani mengungkapkan apa yang kami rasakan. Kami berharap, Aung San Su Kyi dibebaskan (dari tahanan rumah).
    Kyi, Rangoon

    Seorang biksu yang ikut unjuk rasa mendatangi kami dan mengungkapkan perasaannya. "Kami tidak takut. Sebab, kami tidak melakukan kejahatan. Kami hanya berdoa dan berunjuk rasa. Kami tidak mau menerima uang dari siapa pun. Kami hanya menerima air. Orang-orang bertepuk tangan, tersenyum, dan mengelu-elukan kami," katanya. Biksu itu terlihat sangat bahagia, bersemangat, dan bangga. Tapi, kami khawatir. Mereka begitu perhatian pada kami. Kami hanya bisa berdoa agar mereka tidak dilukai.
    Mya, Yangoon.


    referensi : http://www.jawapos.com/
    Last edited by Trademaks; 27-09-07 at 23:50.

  9. #8
    ekspresi's Avatar
    Join Date
    Nov 2006
    Location
    Jakarta - Lampung - Jogja - Kediri
    Posts
    2,178
    Points
    3,169.30
    Thanks: 5 / 3

    Default Tentara Myanmar Lepaskan Tembakan

    Yangon,
    Serangkaian tembakan peringatan ditembakkan oleh tentara Myanmar di atas kepala para demonstran di pusat kota Yangon Kamis (27/9), ketika kira-kira 70.000 pengunjuk rasa anti pemerintah dengan berani meremehkan aksi penumpasan yang dilakukan pihak berwajib.

    Situasi yang kini terjadi di Yangon itu telah mengundang imbauan dari dunia internasional agar penguasa junta Myanmar dapat menahan diri.

    Saksi mata mengatakan sekurang-kurangnya satu orang ditembak, meski senjata yang ditembakkan nampaknya tidak ditujukan langsung ke arah kerumunan massa yang berkumpul di Pagoda Sule.

    Para pemrotes berteriak ke arah tentara, mereka marah atas serangan pagi dinihari oleh pasukan keamanan ke kuil-kuil Buddha. Tentara berulangkali memukuli dan menangkap lebih dari 100 biarawan, yang menjadi ujung tombak penentang junta militer.

    Pasukan keamanan di Myanmar menembak sekurang-kurangnya tiga orang dan memukul serta menarikkan puluhan biarawan Buddha Rabu, yang merupakan aksi penindakan paling keras atas para pemrotes anti-pemerintah sejak mereka memulai aksinya bulan lalu, kata saksimata. Kira-kira 300 biarawan dan aktivis ditangkap, kata sejumlah tokoh pembangkang.

    Beberapa laporan yang belum memperoleh penegasan menyebutkan angka kematian lebih tinggi dari konfrontasi antara para pemrotes dan pasukan pemerintah. Para wartawan dan aktivis Myanmar di pengasingan di Thailand mengatakan sebanyak lima orang ditembak mati di kota terbesar Myanmar, Yangon.

    Saksimata di Yangon yang tahu pada AP mengatakan mereka melihat dua wanita dan seorang lelaki muda mengalami luka tembak.

    Namun, Zin Linn, menteri penerangan untuk Pemerintah Koalisi Nasional dari Persatuan Burma — yang merupakan pemerintahan pengasingan Myanmar — mengatakan sekurang-kurangnya lima biarawan terbunuh Rabu, sementara satu organisasi aktivis politik di pengasingan yang bermarkas di Thailand, Liga Nasional untuk Demokrasi — Daerah yang Dibebaskan mengatakan tiga biarawan dibenarkan tewas dan 17 lainnya cedera.

    Pasukan keamanan melepaskan tembakan peringatan dan melemparkan gas airmata ke arah kerumunan demonstran saat mereka menggiring para biarawan Buddha yang pembangkang ke be berapa truk yang menunggu. Penangkapan Rabu itu merupakan yang paling besar sejak aksi protes dikobarkan guna memprotes kediktatoran militer mulai bulan lalu.

    Kira-kira 300 biarawan dan aktivis ditangkap di seluruh Yangon setelah pemerintah memerintahkan warga agar tetap di rumah, demikian menurut satu kelompok pembangkang di pengasingan dan para wartawan melihat sejumlah biarawan yang mengenakan jubah oranye itu ditarik ke dalam truk militer.

    Penguasa junta telah melarang semua warga berkumpul-kumpul lebih dari lima orang dan menerapkan jam malam menyusul aksi unjuk rasa anti-pemerintah yang dipimpin para biarawan di seluruh negeri itu dalam aksi protes paling besar dalam waktu hampir 20 tahun.

    PM Inggris Gordon Brown Rabu menyerukan satu sidang khusus Dewan Keamanan PBB mengenai Myanmar, yang juga dikenal sebagai Burma, dan mendesak rezim militer di sana agar menahan diri dalam memberi reaksinya pada aksi protes itu.

    "Seluruh dunia kini menyaksikan," kata Brown kepada para wartawan pada konferensi tahunan Partai Buruh. "Saya berharap Dewan Keamanan segera bersidang, bertemu hari ini dan membahas masalah ini dan melihat kemungkinan yang dapat dilakukan."

    Para pemerintah asing dan para pemimpin keagamaan mendesak junta militer agar menangani situasi itu dengan damai. Mereka termasuk Dalai Lama dan Uskup Agung Afrika Selatan Desmond Tutu, keduanya adalah pemenang Hadiah Nobel Perdamaian seperti pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi.

    Presiden AS George W. Bush mengumumkan sanksi baru AS terhadap Myanmar, dan menuduh kediktatoran militer itu menerapkan rasa takut masyarakat selama 19 tahun terakhir

    Sumber : http://www.waspada.co.id/Berita/Luar...emonstran.html

  10. #9
    ekspresi's Avatar
    Join Date
    Nov 2006
    Location
    Jakarta - Lampung - Jogja - Kediri
    Posts
    2,178
    Points
    3,169.30
    Thanks: 5 / 3

    Default

    Tiga Tewas, 200 Ditangkap
    BANGKOK - Kekhawatiran aksi damai para biksu dan rakyat Myanmar dihadapi dengan kekerasan oleh rezim militer akhirnya menjadi kenyataan. Karena imbauan jam malam dan larangan berkumpul diabaikan, ratusan polisi dibantu tentara Myanmar secara represif menghalau aksi damai sekitar 10 ribu biksu dan rakyat yang tetap berlangsung kemarin.

    Dilaporkan seorang biksu tewas tertembak dan empat lainnya luka-luka, termasuk di antaranya seorang biksuni. Selain itu, ratusan demonstran lainnya ditangkap aparat dalam upaya represif itu. Sumber Reuters malah menyebutkan tiga biksu tewas dan puluhan terluka.

    Jatuhnya korban setelah aksi demo perlawanan memasuki hari kesembilan itu diungkapkan seorang anggota kelompok perlawanan bawah tanah Myanmar. "Mereka (aparat) menembak dan menghantam kami di kompleks Pagoda Sule dekat Balai Kota Yangon," lanjut informan pria yang menolak disebutkan namanya. "Ini menandakan kalau rezim militer sama sekali tak menghiraukan tuntutan kami dan menunjukkan watak aslinya," imbuhnya.

    Duta Besar Inggris di Myanmar Mark Canning mengatakan kepada koresponden BBC, seorang biksu yang rambutnya seperti baru dicukur habis tewas tergeletak di kompleks Pagoda Shwedagon dengan kepala berlumur darah.

    Kekerasan dan jatuhnya korban kemarin memang sudah dikhawatirkan banyak pihak akan terjadi setelah junta militer mengumumkan sejumlah larangan terhadap warga dan biksu. Rabu (26/9) dini hari, junta militer memberlakukan jam malam mulai petang sampai subuh dan larangan berkumpul lebih dari lima orang. Larangan itu berlaku 60 hari sejak kemarin.

    Seperti diduga, larangan itu sama sekali tak digubris para penggerak unjuk rasa damai. Kemarin pagi warga sipil tetap berkumpul di dekat Pagoda Sule. Mereka menunggu datangnya satu prosesi sekitar 10.000 biksu dan warga sipil. Menghadapi aksi nekat itu, pasukan keamanan bersenjata senapan, pentungan, dan perisai digelar di tempat-tempat penting untuk menghadang barisan unjuk rasa.

    Unjuk kekuatan tentara Myanmar itu tak juga membuat semangat biksu dan warga menciut. Bahkan, jumlah peserta aksi terus bertambah ketika prosesi mendekati candi Buddha di pusat kota. Di tempat itu pertumpahan darah terburuk ketika pasukan melepaskan tembakan terhadap para pemrotes pada 1988 terjadi. Pemberontakan besar terakhir di negara yang dulu bernama Burma itu menewaskan sekitar 3.000 orang.

    Karena imbauan dan penghadangan tidak berhasil, polisi dan tentara Myanmar mulai bertindak keras terhadap peserta aksi. Beberapa tentara terlihat melepaskan tembakan peringatan dan menghujani para biksu dengan gas air mata.

    Melihat pasukan keamanan mulai kalap, para demonstran segera lari mencari tempat berlindung. Para saksi mata dan biksu mengatakan, sejumlah ulama Buddha dipukuli dan dibawa dari Pagoda Shwedagon, tempat awal unjuk rasa yang dipimpin para biksu pekan lalu menentang pemerintah militer yang berkuasa 45 tahun.

    Para saksi mata mengatakan, pasukan keamanan membakar pipa-pipa plastik untuk mengisi lokasi itu dengan asap. "Banyak biksu memakai masker dalam usaha menghadapi dampak gas air mata," kata seorang saksi mata. Usai aksi kekerasan, sekitar 200 biksu dan warga ditahan. Di antara yang ditahan adalah dua tokoh perlawanan, U Win Naing dan pelawak populer Zaganar.

    Sumber di Rumah Sakit Yangon membenarkan seorang biksu tewas dan dua lainnya terluka serius akibat tindakan represif militer. Korban luka adalah seorang biksuni dan sopir taksi setempat.

    Sikap keras kepala junta militer itu kembali mengundang kemarahan pemimpin dunia. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengimbau Dewan Keamanan PBB segera mengadakan pertemuan darurat. "PBB harus segera mengirim utusan ke Myanmar, situasi sudah gawat. Tindakan ini untuk menunjukkan bahwa tidak ada pelanggar HAM yang kebal dari hukum," tegas Brown kemarin.

    Tumpahnya darah di Yangon juga mengundang kemarahan pemerintah AS. Juru Bicara Gedung Putih Gordon Johndroe mengatakan, jika berita kekerasan dan korban tewas di Myanmar benar, AS dan negara lain dunia tak boleh tinggal diam. "Kita tak boleh membiarkan rakyat Myanmar menderita oleh kesewenang-wenangan," tegasnya.

    Meskipun mendapat sorotan dunia internasional, junta militer tetap menganggap tindakan tegas yang dilakukannya terhadap pengunjuk rasa sudah benar. Bahkan dalam pernyataan yang disampaikan Menteri Agama Brigjend Thura Myint Maung kemarin, aksi protes yang terus membesar dalam sembilan hari terakhir disebutkan diorganisasi oleh elemen merusak dari dalam dan luar negeri.

    Dalam pidato di radio pemerintah, Thura Myint Maung menyatakan, sekelompok orang dari dalam dan luar negeri terus menerus melakukan aktivitas yang bertujuan memecah belah rakyat Myanmar. "Mereka melakukan itu untuk menciptakan citra bahwa semua upaya pemerintah untuk mengendalikan situasi selalu berakhir dengan kerusakan ". tegasnya.

    Selanjutnya Myint Maung menyebut beberapa media seperti BBC, VOA, RFA (Radio Free Asia), dan DVB (Democratic Voice of Burma) sebagai pelaku yang mendukung aksi mendeskreditkan pemerintah Myanmar.

    Thura Myint Maung yang selalu menjadi juru bicara dalam krisis aksi biksu itu menegaskan pemerintah sama sekali tak risau dengan demo yang berlangsung selama sembilan hari itu. "Jumlah biksu yang demo hanya terlihat besar, karena mereka berkumpul di satu tempat. Namun, sesungguhnya jumlah mereka hanya 2 persen dari keseluruhan jumlah biksu di Myanmar " ujarnya.

    Sebagian besar biksu yang lain, klaim Myint Maung, sibuk dengan aktivitas kerohanian. Para biksu yang turun ke jalan hanya para biksu muda yang mudah terhasut.

    Dari New York, AS, wartawan Jawa Pos Rohman Budijanto melaporkan, Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda mengaku selalu mengikuti dengan prihatin perkembangan demo yang meluas di Myanmar. "Kami mengharapkan demo damai itu tak dihadapi dengan kekerasan," kata Hassan usai mendampingi presiden melakukan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Konjen RI di New York, Rabu malam (Kamis dini hari WIB).

    Bagaimana dengan peran Indonesia yang merupakan anggota Dewan Keamanan PBB? Dia menyebut, pada Januari lalu, ada inisiatif dari AS sebagai anggota tetap DK terhadap Myanmar. Tapi, langkah itu diveto oleh Rusia dan China.

    Menlu menyayangkan mereka terlalu cepat menggunakan senjata pemungkas berupa veto itu. Apakah ASEAN tidak bisa memberikan sanksi lewat status keanggotaan? Kata Menlu, ASEAN pernah melompati Myanmar saat akan menjadi tuan rumah KTT ASEAN dan langsung ke giliran berikutnya, Filipina. "Ini sebenarnya tindakan (sanksi) nyata, bukan sekadar simbolis," katanya.

    Namun, itu memang tak mengubah keadaan di negeri yang namanya diubah oleh junta militer dari Burma ke Myanmar (singkatan dari Myanma Naingngandaw atau Myanmar Serikat) pada 1989 itu

  11. #10
    ekspresi's Avatar
    Join Date
    Nov 2006
    Location
    Jakarta - Lampung - Jogja - Kediri
    Posts
    2,178
    Points
    3,169.30
    Thanks: 5 / 3

    Default

    Begitu aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi, junta militer Myanmar langsung berusaha membatasi akses informasi ke dunia luar. Izin untuk wartawan yang berniat masuk negeri itu dipersulit. Komunikasi untuk ke luar pun menghadapi masalah yang sama. Bahkan, saluran telepon ke luar negeri pun konon diawasi.

    Lewat situsnya, BBC mengundang warga Myanmar melaporkan apa yang mereka lihat lewat e-mail. Berikut beberapa e-mail yang masuk ke media massa ternama Inggris itu.



    Pagi ini (26/9), polisi memukuli biksu dan biksuni di Pagoda Shwedagon. Kemudian, mereka membawanya ke atas truk. Ada dua mobil tahanan dan dua mobil pemadam kebakaran. Terlihat lebih banyak polisi dan tentara di Taman Kandawgyi dekat Pagoda Shwedagon. Di beberapa tempat penting di Yangoon juga terlihat tentara dan polisi berpakaian preman.

    Di Pagoda Sule terlihat enam truk militer. Polisi berpakaian preman menunjukkan foto beberapa biksu yang dicurigai sebagai pemimpin aksi. Kabarnya, ada 50 biksu dan mahasiswa ditahan.
    Cherry, Yangoon


    Junta militer membatasi hubungan internet. Kami perlu waktu lama untuk membuka situs. Ternyata, begitu muncul, tampilannya kosong. Pasukan keamanan memblokade jalur pengunjuk rasa.

    Kemarin (25/9), pemerintah mengumumkan jam malam mulai pukul 21.00-05.00. Sepertinya, pemerintah juga akan memutus saluran komunikasi, seperti internet dan telepon.
    David, Yangoon


    Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada dunia apa yang sebenarnya terjadi di Myanmar. Saya tidak pernah melihat demo sebesar ini sebelumnya. Kerabat saya di pusat kota mengatakan, ada pejabat PBB, mahasiswa, beberapa orang asing, warga muslim, Tiongkok, dan India terlibat dalam aksi tersebut. Polisi terus berkeliling untuk menyerukan agar warga tidak ikut-ikutan berunjuk rasa. Namun, mereka merasa begitu termotivasi dan mengabaikan seruan tersebut. Itu seperti benar-benar kekuatan rakyat. Junta militer sudah membuat kami tertekan selama dua dekade. Kini saatnya rakyat Myanmar bersatu.
    Yi, Yangoon



    Kami tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Kami hanya bisa menunggu perkembangan situasi. Junta mengumumkan akan bertindak keras kepada mereka -tidak peduli warga sipil atau biksu- yang melanggar. Selama ini kamu tertekan. Kami tidak berani mengungkapkan apa yang kami rasakan. Kami berharap, Aung San Su Kyi dibebaskan (dari tahanan rumah).
    Kyi, Rangoon


    Seorang biksu yang ikut unjuk rasa mendatangi kami dan mengungkapkan perasaannya. "Kami tidak takut. Sebab, kami tidak melakukan kejahatan. Kami hanya berdoa dan berunjuk rasa. Kami tidak mau menerima uang dari siapa pun. Kami hanya menerima air. Orang-orang bertepuk tangan, tersenyum, dan mengelu-elukan kami," katanya. Biksu itu terlihat sangat bahagia, bersemangat, dan bangga. Tapi, kami khawatir. Mereka begitu perhatian pada kami. Kami hanya bisa berdoa agar mereka tidak dilukai.
    Mya, Yangoon

  12. #11
    ekspresi's Avatar
    Join Date
    Nov 2006
    Location
    Jakarta - Lampung - Jogja - Kediri
    Posts
    2,178
    Points
    3,169.30
    Thanks: 5 / 3

    Default

    Para biksu Myanmar tampaknya memang sudah merencanakan aksi besar-besaran. BBC memaparkan situasi di kalangan para biksu itu beberapa hari menjelang 19 September yang mengawali aksi tersebut.

    Pada sebuah asrama biksu di luar Kota Yangoon, seorang biksu berusia belasan tahun memamerkan otot-otot lengannya. "Saya siap berjuang. Kami semua siap," katanya seraya menyeringai.

    Saat itu sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Biksu muda tersebut dan beberapa rekannya baru saja kembali dari tugas mencari sedekah. "Kami sudah mengaturnya," bisik biksu muda lainnya dengan mulut masih berisi nasi.

    Kepada temannya, dia mengatakan bahwa rencana protes akan dilanjutkan. "Rakyat sudah kesal dengan yang terjadi di negeri ini. Para penjahat (petugas keamanan, Red) pun sepertinya akan menyerang kami," tambahnya.

    Ketika aksi para biksu itu terjadi dan terus berkembang setiap hari, rakyat negeri tersebut seperti mendapat angin segar. Sebelumnya, pemerintah dengan tindakan tegas, sering kali keras, langsung meredam aksi unjuk rasa.

    Namun, ketika yang beraksi adalah para biksu, pemerintah dihadapkan pada sebuah dilema. Mereka tidak bisa bertindak keras terhadap para agamawan tersebut.

    Tindakan keras terhadap para biksu itu akan memancing kemarahan rakyat. "Jika pemerintah tidak mengisyaratkan kompromi, sangat mungkin akan terjadi kerusuhan di sini," kata perwakilan PBB di Myanmar.

    Menurut perwakilan yang menolak disebut jati dirinya tersebut, sejauh ini pemerintah tidak berbuat apa-apa untuk menghadapi berbagai permasalahan di negeri itu. "Mereka hanya menekan kelompok yang protes atas situasi ini, bukan mencari solusi," tambahnya.

    Koran pemerintah The New Light of Myanmar melaporkan, situasi saat ini benar-benar sensitif bagi pemerintah. Di halaman depan, koran tersebut menampilkan foto Letjen Myint Swe berlutut di depan seorang biksu senior.

    Koran itu juga mengingatkan betapa dekatnya pemerintah dengan para biksu selama ini. Pemerintah pun sering memberikan bantuan dalam jumlah besar untuk pembangunan atau renovasi kuil Buddha.

    Pemerintah yakin bahwa aksi para biksu tersebut masih bersifat sporadis. Mereka menyebut, biksu yang terlibat tidak lebih dari dua persen di antara total biksu di Myanmar. Yang terlibat itu datang dari kalangan biksu muda. Pemerintah masih yakin bisa merangkul biksu senior.

    Bisa jadi dugaan pemerintah tersebut benar. Seorang biksu senior pesimistis akan keberhasilan aksi para junior itu.

    Ketika ditanya soal kata "berjuang" yang diungkap biksu muda sebelumnya, biksu senior tersebut menggelengkan kepala. "Ini di Myanmar. Tempat ketika kita dilahirkan dalam keadaan takut," kilahnya

  13. #12
    ekspresi's Avatar
    Join Date
    Nov 2006
    Location
    Jakarta - Lampung - Jogja - Kediri
    Posts
    2,178
    Points
    3,169.30
    Thanks: 5 / 3

    Default

    Aksi para biksu itu dipicu keputusan pemerintah menaikkan harga BBM dua kali lipat. Diawali dari aksi 400 pendukung prodemokrasi 19 Agustus. Aksi yang berawal dari ibu kota Yangoon itu berkembang ke kota-kota lain.

    Petugas keamanan bertindak melebihi batas dengan menyerang para pengunjuk rasa damai di kota Pakokku 5 September. Setidaknya, tiga biksu -yang terlibat dalam aksi tersebut- terluka.

    Esok harinya, biksu di kota itu menyandera para petugas keamanan. Mereka menuntut permintaan maaf dari pemerintah atas tindakan kasar tersebut.

    Namun, sampai batas waktu yang diberikan terlewati, pemerintah tidak juga menyampaikan permintaan maaf. Para biksu pun turun ke jalan dengan jumlah yang setiap hari bertambah banyak. Para biksu itu juga menolak pemberian sedekah dari kalangan militer dan keluarganya.

    Semula junta militer membiarkan saja aksi para biksu tersebut. Namun awal pekan ini, mereka mengultimatum dengan mengumumkan akan melakukan tindakan keras. Itu diwujudkan dengan pengiriman pasukan serdadu dan polisi antihuru-hara ke Yangoon, keesokan harinya.

    Tindakan represif pun dilakukan polisi. Ironisnya, itu terjadi di Pagoda Shwedagon yang menjadi tempat paling suci bagi para biksu tersebut. Polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan para biksu.

    Situasi itu membuat tuntutan para biksu tadi berkembang. Dari sekadar permintaan maaf menjadi masalah-masalah lain yang selama ini terpendam.

    Kelompok yang menamakan diri Aliansi Biksu Buddha se-Myanmar menggerakkan aksi yang lebih besar pada 21 September. Isu yang mereka usung adalah "Pemerintah Militer sebagai Musuh Rakyat".

    Mereka mengancam akan terus berunjuk rasa sampai berhasil menghapus diktator militer dari bumi Myanmar. Dan mereka mengajak rakyat Myanmar bergabung.

    Awalnya, rakyat takut menolak ajakan tersebut. Mereka hanya memberikan dukungan dari pinggir jalan. Namun seiring dengan perkembangan situasi, sedikit demi sedikit mereka pun bergabung dalam aksi para biksu tersebut.

    Itu dibuktikan dengan berlangsungnya aksi besar-besaran yang melibatkan ribuan rakyat sipil pada 24 September. Bahkan, tokoh-tokoh kunci Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) ikut bergabung. NLD adalah partai tokoh prodemokrasi Aung San Suu Kyi yang kini menjalani status tahanan rumah

  14. #13
    MimiHitam's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Posts
    9,242
    Points
    16,524.95
    Thanks: 14 / 58 / 42

    Default

    Quote Originally Posted by Trademaks View Post


    Tiga Tewas, 200 Ditangkap
    BANGKOK - Kekhawatiran aksi damai para biksu dan rakyat Myanmar dihadapi dengan kekerasan oleh rezim militer akhirnya menjadi kenyataan. Karena imbauan jam malam dan larangan berkumpul diabaikan, ratusan polisi dibantu tentara Myanmar secara represif menghalau aksi damai sekitar 10 ribu biksu dan rakyat yang tetap berlangsung kemarin.

    Dilaporkan seorang biksu tewas tertembak dan empat lainnya luka-luka, termasuk di antaranya seorang biksuni. Selain itu, ratusan demonstran lainnya ditangkap aparat dalam upaya represif itu. Sumber Reuters malah menyebutkan tiga biksu tewas dan puluhan terluka.

    Jatuhnya korban setelah aksi demo perlawanan memasuki hari kesembilan itu diungkapkan seorang anggota kelompok perlawanan bawah tanah Myanmar. "Mereka (aparat) menembak dan menghantam kami di kompleks Pagoda Sule dekat Balai Kota Yangon," lanjut informan pria yang menolak disebutkan namanya. "Ini menandakan kalau rezim militer sama sekali tak menghiraukan tuntutan kami dan menunjukkan watak aslinya," imbuhnya.

    Duta Besar Inggris di Myanmar Mark Canning mengatakan kepada koresponden BBC, seorang biksu yang rambutnya seperti baru dicukur habis tewas tergeletak di kompleks Pagoda Shwedagon dengan kepala berlumur darah.

    Kekerasan dan jatuhnya korban kemarin memang sudah dikhawatirkan banyak pihak akan terjadi setelah junta militer mengumumkan sejumlah larangan terhadap warga dan biksu. Rabu (26/9) dini hari, junta militer memberlakukan jam malam mulai petang sampai subuh dan larangan berkumpul lebih dari lima orang. Larangan itu berlaku 60 hari sejak kemarin.

    Seperti diduga, larangan itu sama sekali tak digubris para penggerak unjuk rasa damai. Kemarin pagi warga sipil tetap berkumpul di dekat Pagoda Sule. Mereka menunggu datangnya satu prosesi sekitar 10.000 biksu dan warga sipil. Menghadapi aksi nekat itu, pasukan keamanan bersenjata senapan, pentungan, dan perisai digelar di tempat-tempat penting untuk menghadang barisan unjuk rasa.

    Unjuk kekuatan tentara Myanmar itu tak juga membuat semangat biksu dan warga menciut. Bahkan, jumlah peserta aksi terus bertambah ketika prosesi mendekati candi Buddha di pusat kota. Di tempat itu pertumpahan darah terburuk ketika pasukan melepaskan tembakan terhadap para pemrotes pada 1988 terjadi. Pemberontakan besar terakhir di negara yang dulu bernama Burma itu menewaskan sekitar 3.000 orang.

    Karena imbauan dan penghadangan tidak berhasil, polisi dan tentara Myanmar mulai bertindak keras terhadap peserta aksi. Beberapa tentara terlihat melepaskan tembakan peringatan dan menghujani para biksu dengan gas air mata.

    Melihat pasukan keamanan mulai kalap, para demonstran segera lari mencari tempat berlindung. Para saksi mata dan biksu mengatakan, sejumlah ulama Buddha dipukuli dan dibawa dari Pagoda Shwedagon, tempat awal unjuk rasa yang dipimpin para biksu pekan lalu menentang pemerintah militer yang berkuasa 45 tahun.

    Para saksi mata mengatakan, pasukan keamanan membakar pipa-pipa plastik untuk mengisi lokasi itu dengan asap. "Banyak biksu memakai masker dalam usaha menghadapi dampak gas air mata," kata seorang saksi mata. Usai aksi kekerasan, sekitar 200 biksu dan warga ditahan. Di antara yang ditahan adalah dua tokoh perlawanan, U Win Naing dan pelawak populer Zaganar.

    Sumber di Rumah Sakit Yangon membenarkan seorang biksu tewas dan dua lainnya terluka serius akibat tindakan represif militer. Korban luka adalah seorang biksuni dan sopir taksi setempat.

    Sikap keras kepala junta militer itu kembali mengundang kemarahan pemimpin dunia. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengimbau Dewan Keamanan PBB segera mengadakan pertemuan darurat. "PBB harus segera mengirim utusan ke Myanmar, situasi sudah gawat. Tindakan ini untuk menunjukkan bahwa tidak ada pelanggar HAM yang kebal dari hukum," tegas Brown kemarin.

    Tumpahnya darah di Yangon juga mengundang kemarahan pemerintah AS. Juru Bicara Gedung Putih Gordon Johndroe mengatakan, jika berita kekerasan dan korban tewas di Myanmar benar, AS dan negara lain dunia tak boleh tinggal diam. "Kita tak boleh membiarkan rakyat Myanmar menderita oleh kesewenang-wenangan," tegasnya.

    Meskipun mendapat sorotan dunia internasional, junta militer tetap menganggap tindakan tegas yang dilakukannya terhadap pengunjuk rasa sudah benar. Bahkan dalam pernyataan yang disampaikan Menteri Agama Brigjend Thura Myint Maung kemarin, aksi protes yang terus membesar dalam sembilan hari terakhir disebutkan diorganisasi oleh elemen merusak dari dalam dan luar negeri.

    Dalam pidato di radio pemerintah, Thura Myint Maung menyatakan, sekelompok orang dari dalam dan luar negeri terus menerus melakukan aktivitas yang bertujuan memecah belah rakyat Myanmar. "Mereka melakukan itu untuk menciptakan citra bahwa semua upaya pemerintah untuk mengendalikan situasi selalu berakhir dengan kerusakan ". tegasnya.

    Selanjutnya Myint Maung menyebut beberapa media seperti BBC, VOA, RFA (Radio Free Asia), dan DVB (Democratic Voice of Burma) sebagai pelaku yang mendukung aksi mendeskreditkan pemerintah Myanmar.

    Thura Myint Maung yang selalu menjadi juru bicara dalam krisis aksi biksu itu menegaskan pemerintah sama sekali tak risau dengan demo yang berlangsung selama sembilan hari itu. "Jumlah biksu yang demo hanya terlihat besar, karena mereka berkumpul di satu tempat. Namun, sesungguhnya jumlah mereka hanya 2 persen dari keseluruhan jumlah biksu di Myanmar " ujarnya.

    Sebagian besar biksu yang lain, klaim Myint Maung, sibuk dengan aktivitas kerohanian. Para biksu yang turun ke jalan hanya para biksu muda yang mudah terhasut.

    Dari New York, AS, wartawan Jawa Pos Rohman Budijanto melaporkan, Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda mengaku selalu mengikuti dengan prihatin perkembangan demo yang meluas di Myanmar. "Kami mengharapkan demo damai itu tak dihadapi dengan kekerasan," kata Hassan usai mendampingi presiden melakukan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Konjen RI di New York, Rabu malam (Kamis dini hari WIB).

    Bagaimana dengan peran Indonesia yang merupakan anggota Dewan Keamanan PBB? Dia menyebut, pada Januari lalu, ada inisiatif dari AS sebagai anggota tetap DK terhadap Myanmar. Tapi, langkah itu diveto oleh Rusia dan China.

    Menlu menyayangkan mereka terlalu cepat menggunakan senjata pemungkas berupa veto itu. Apakah ASEAN tidak bisa memberikan sanksi lewat status keanggotaan? Kata Menlu, ASEAN pernah melompati Myanmar saat akan menjadi tuan rumah KTT ASEAN dan langsung ke giliran berikutnya, Filipina. "Ini sebenarnya tindakan (sanksi) nyata, bukan sekadar simbolis," katanya.

    Namun, itu memang tak mengubah keadaan di negeri yang namanya diubah oleh junta militer dari Burma ke Myanmar (singkatan dari Myanma Naingngandaw atau Myanmar Serikat) pada 1989 itu.



    Junta Militer Batasi Akses Info





    Begitu aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi, junta militer Myanmar langsung berusaha membatasi akses informasi ke dunia luar. Izin untuk wartawan yang berniat masuk negeri itu dipersulit. Komunikasi untuk ke luar pun menghadapi masalah yang sama. Bahkan, saluran telepon ke luar negeri pun konon diawasi.

    Lewat situsnya, BBC mengundang warga Myanmar melaporkan apa yang mereka lihat lewat e-mail. Berikut beberapa e-mail yang masuk ke media massa ternama Inggris itu.

    Pagi ini (26/9), polisi memukuli biksu dan biksuni di Pagoda Shwedagon. Kemudian, mereka membawanya ke atas truk. Ada dua mobil tahanan dan dua mobil pemadam kebakaran. Terlihat lebih banyak polisi dan tentara di Taman Kandawgyi dekat Pagoda Shwedagon. Di beberapa tempat penting di Yangoon juga terlihat tentara dan polisi berpakaian preman.

    Di Pagoda Sule terlihat enam truk militer. Polisi berpakaian preman menunjukkan foto beberapa biksu yang dicurigai sebagai pemimpin aksi. Kabarnya, ada 50 biksu dan mahasiswa ditahan.
    Cherry, Yangoon

    Junta militer membatasi hubungan internet. Kami perlu waktu lama untuk membuka situs. Ternyata, begitu muncul, tampilannya kosong. Pasukan keamanan memblokade jalur pengunjuk rasa.

    Kemarin (25/9), pemerintah mengumumkan jam malam mulai pukul 21.00-05.00. Sepertinya, pemerintah juga akan memutus saluran komunikasi, seperti internet dan telepon.
    David, Yangoon

    Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada dunia apa yang sebenarnya terjadi di Myanmar. Saya tidak pernah melihat demo sebesar ini sebelumnya. Kerabat saya di pusat kota mengatakan, ada pejabat PBB, mahasiswa, beberapa orang asing, warga muslim, Tiongkok, dan India terlibat dalam aksi tersebut. Polisi terus berkeliling untuk menyerukan agar warga tidak ikut-ikutan berunjuk rasa. Namun, mereka merasa begitu termotivasi dan mengabaikan seruan tersebut. Itu seperti benar-benar kekuatan rakyat. Junta militer sudah membuat kami tertekan selama dua dekade. Kini saatnya rakyat Myanmar bersatu.

    Yi, Yangoon

    Kami tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Kami hanya bisa menunggu perkembangan situasi. Junta mengumumkan akan bertindak keras kepada mereka -tidak peduli warga sipil atau biksu- yang melanggar. Selama ini kamu tertekan. Kami tidak berani mengungkapkan apa yang kami rasakan. Kami berharap, Aung San Su Kyi dibebaskan (dari tahanan rumah).
    Kyi, Rangoon

    Seorang biksu yang ikut unjuk rasa mendatangi kami dan mengungkapkan perasaannya. "Kami tidak takut. Sebab, kami tidak melakukan kejahatan. Kami hanya berdoa dan berunjuk rasa. Kami tidak mau menerima uang dari siapa pun. Kami hanya menerima air. Orang-orang bertepuk tangan, tersenyum, dan mengelu-elukan kami," katanya. Biksu itu terlihat sangat bahagia, bersemangat, dan bangga. Tapi, kami khawatir. Mereka begitu perhatian pada kami. Kami hanya bisa berdoa agar mereka tidak dilukai.
    Mya, Yangoon.


    referensi : http://www.jawapos.com/
    persis suharto dan diktator2 lainnya.............

  15. #14
    MimiHitam's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Posts
    9,242
    Points
    16,524.95
    Thanks: 14 / 58 / 42

    Default

    thraed ini lebih baik dimerge dengan demokratisasi di myanmar

  16. #15
    MimiHitam's Avatar
    Join Date
    Oct 2006
    Posts
    9,242
    Points
    16,524.95
    Thanks: 14 / 58 / 42

    Default

    Yangon,
    Serangkaian tembakan peringatan ditembakkan oleh tentara Myanmar di atas kepala para demonstran di pusat kota Yangon Kamis (27/9), ketika kira-kira 70.000 pengunjuk rasa anti pemerintah dengan berani meremehkan aksi penumpasan yang dilakukan pihak berwajib.

    Situasi yang kini terjadi di Yangon itu telah mengundang imbauan dari dunia internasional agar penguasa junta Myanmar dapat menahan diri.

    Saksi mata mengatakan sekurang-kurangnya satu orang ditembak, meski senjata yang ditembakkan nampaknya tidak ditujukan langsung ke arah kerumunan massa yang berkumpul di Pagoda Sule.

    Para pemrotes berteriak ke arah tentara, mereka marah atas serangan pagi dinihari oleh pasukan keamanan ke kuil-kuil Buddha. Tentara berulangkali memukuli dan menangkap lebih dari 100 biarawan, yang menjadi ujung tombak penentang junta militer.

    Pasukan keamanan di Myanmar menembak sekurang-kurangnya tiga orang dan memukul serta menarikkan puluhan biarawan Buddha Rabu, yang merupakan aksi penindakan paling keras atas para pemrotes anti-pemerintah sejak mereka memulai aksinya bulan lalu, kata saksimata. Kira-kira 300 biarawan dan aktivis ditangkap, kata sejumlah tokoh pembangkang.

    Beberapa laporan yang belum memperoleh penegasan menyebutkan angka kematian lebih tinggi dari konfrontasi antara para pemrotes dan pasukan pemerintah. Para wartawan dan aktivis Myanmar di pengasingan di Thailand mengatakan sebanyak lima orang ditembak mati di kota terbesar Myanmar, Yangon.

    Saksimata di Yangon yang tahu pada AP mengatakan mereka melihat dua wanita dan seorang lelaki muda mengalami luka tembak.

    Namun, Zin Linn, menteri penerangan untuk Pemerintah Koalisi Nasional dari Persatuan Burma — yang merupakan pemerintahan pengasingan Myanmar — mengatakan sekurang-kurangnya lima biarawan terbunuh Rabu, sementara satu organisasi aktivis politik di pengasingan yang bermarkas di Thailand, Liga Nasional untuk Demokrasi — Daerah yang Dibebaskan mengatakan tiga biarawan dibenarkan tewas dan 17 lainnya cedera.

    Pasukan keamanan melepaskan tembakan peringatan dan melemparkan gas airmata ke arah kerumunan demonstran saat mereka menggiring para biarawan Buddha yang pembangkang ke be berapa truk yang menunggu. Penangkapan Rabu itu merupakan yang paling besar sejak aksi protes dikobarkan guna memprotes kediktatoran militer mulai bulan lalu.

    Kira-kira 300 biarawan dan aktivis ditangkap di seluruh Yangon setelah pemerintah memerintahkan warga agar tetap di rumah, demikian menurut satu kelompok pembangkang di pengasingan dan para wartawan melihat sejumlah biarawan yang mengenakan jubah oranye itu ditarik ke dalam truk militer.

    Penguasa junta telah melarang semua warga berkumpul-kumpul lebih dari lima orang dan menerapkan jam malam menyusul aksi unjuk rasa anti-pemerintah yang dipimpin para biarawan di seluruh negeri itu dalam aksi protes paling besar dalam waktu hampir 20 tahun.

    PM Inggris Gordon Brown Rabu menyerukan satu sidang khusus Dewan Keamanan PBB mengenai Myanmar, yang juga dikenal sebagai Burma, dan mendesak rezim militer di sana agar menahan diri dalam memberi reaksinya pada aksi protes itu.

    "Seluruh dunia kini menyaksikan," kata Brown kepada para wartawan pada konferensi tahunan Partai Buruh. "Saya berharap Dewan Keamanan segera bersidang, bertemu hari ini dan membahas masalah ini dan melihat kemungkinan yang dapat dilakukan."

    Para pemerintah asing dan para pemimpin keagamaan mendesak junta militer agar menangani situasi itu dengan damai. Mereka termasuk Dalai Lama dan Uskup Agung Afrika Selatan Desmond Tutu, keduanya adalah pemenang Hadiah Nobel Perdamaian seperti pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi.

    Presiden AS George W. Bush mengumumkan sanksi baru AS terhadap Myanmar, dan menuduh kediktatoran militer itu menerapkan rasa takut masyarakat selama 19 tahun terakhir

    Sumber : http://www.waspada.co.id/Berita/Luar...emonstran.html

Page 1 of 7 12345 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •