JAKARTA (Pos Kota) – Tingginya penggunaan kendaraan pribadi menjadi ‘aktor utama’ penyebab kemacetan Jakarta. Penyediaan angkutan massal menjadi harga mati untuk mengubah pola bertannsportasi dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
Efektifitas moda transportasi darat ini terlihat dari terus meningkatnya jumlah penumpang busway di 10 koridor yang telah beroperasi. Misalnya di dua koridor yang baru diresmikan pada Jumat (31/12) lalu yakni koridor IX (Pinang Ranti – Pluit) dan koridor X (Cililitan-Tanjung Priok).
Baru beroperasi sekitar satu bulan, setiap hari rata-rata penumpang mencapai 26.567 orangg pada koridor IX dan 10.085 penumpang pada koridor X. Menurut pakar transportasi, Darmaningtyas, fakta tersebut membuktikan bahwasanya warga tersebut akan lebih memilih menggunakan angkutan umum.
Asalnya sarana yang tersedia mampu memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penumpang. “Moda angkutan massal adalah jawaban dari masalah kemacetan Jakarta. Apapun kebijakannya tidak akan optimal tanpa didukung hal ini,” tandas Darmaningtyas, Senin (7/2).
STERILISASI & PENGUMPAN
Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI, Udar Pristono, segala pembenahan digelar, termasuk penghapusan trayek yang bersinggungan dengan bisway koridor IX-X serta sterilisasi jalur busway dari angkutan lainnya.
Dia mengemukakan dengan total sekitar 520 armada diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. “Sesuai program, tahun ini, Pemprov DKI tengah menyiapkan koridor XI (Pulogebang-Kp. Melayu),” ucap Pristono.
Sedangkan terkait akses jaringan melalui bus pengumpan (feeder), Pristono mengemukakan tahun ini, lelang pengadaan proyek tersebut akan diselenggarakan untuk tiga lokasi.
“Yaitu, Tanah Abang, Jakarta Pusat; kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) – Senopati, Jakarta Pusat; dan sentra primer Barat, tepatnya di Jalan Kembangan atau sekitar kantor wali kota Jakarta Barat,” jelasnya.
TERINTEGRASI
Sementara itu, Gubernur DKI Fauzi Bowo setelah menggeber melalui busway, Pemprov DKI akan fokus pada pembangunan Mass Rapid Transit (MRT), yang ditargetkan beroperasi pada 2016.
Kereta bawah tanah (subway) tersebut diprediksi mampu mengangkut 300 ribu orang setiap hari. Saat ini, proyek berbiaya Rp16 triliun, dari Lebak Bulus – Bunderan HI, telah masuk tahap koreksi basic enginering design (BED). Setelah rampung, diharapkan bulan ini bisa pembuatan tender dokumen.
Di koridor yang dilengkapi 13 stasiun itu, subway berada di jalan layang dari Lebak Bulus sampai Sisingamangaraja, lalu dari sana berada di dalam tanah sampai HI. Waktu tempuh hanya 30 menit dengan jarak antar kereta (headway) 5 menit.
Secara terpisah, Dirjen Perkeretaapian Tundjung Inderawan mengutarakan kementerian perhubungan mendukung penuh pembangunan subway. “Kami terlibat aktif dalam perencanaannya, termasuk pendanaan subway tahap 2, Bunderan HI – Kampung Bandan, dengan biaya Rp5,2 triliun, dan diharapkan beroperasi mulai tahun 2020,” jelasnya.
Untuk koridor Bunderan HI – Kampung Bandan, bawah tanah seluruhnya. Dengan delapan stasiun, waktu tempuh 25 menit dengan headway juga lima menit.
MONOREL TERBENGKALAI
Sebaliknya dengan monorel. Meski telah dicanangkan sebagai salah satu komponen moda angkutan massal Jakarta, namun kenyataannya hingga kini belaum ada kabar terkait kelanjutan proyek tersebut.
Meski Pemprov DKI berkomitmen mengambil alih proyek senilai Rp5,4 triliun dari PT Monorel Jakarta (PMJ), tetapi sampai saat ini belum ada kejelasan kelanjutan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI, Sarwo Handayani, sempat menyatakan pihaknya tengah berkoordinasi dengan Badan Perencanaan Pembanguan Nasional (Bappenas) terkait kelanjutan proyek tersebut. (guruh/john/ak/aw)
semoga ini bukan omong kosong belaka...
dengan adanya monorel mungkin bisa mengurangi jumlah kendaraan pribadi yg membludak d jalan2 protokol.. karena lebih efisien menggunakan kereta monorel d banding kendaraan umum pribadi maupun kendaraan umum yg lainnya
sumber : http://abdulrofiq.wordpress.com/2011...akan-dibangun/
Share This Thread