Aenasan, 5000 AZC. Angin musim dingin berhembus menggigit di sekitar gunung Zivilyn. Badai salju akan datang sebentar lagi dan penduduk yakin itu ulah para snow lion. Andai bila mereka berkunjung ke barat, ke Nation of Honor Fredian, mereka tentu akan melihat kegunaan snow lion sebagai transportasi yang jauh lebih efektif daripada kuda di salju, melupakan mitos itu, dan berhenti memburu monster-monster malang itu. Kalau mereka tidak bersikukuh dengan kekakuan tradisi mereka.
Desa Zivilyn terletak agak jauh di selatan gunung, memisahkan gunung tersebut dengan ibukota kecil yang religius. Sebuah kastil berada di pinggiran ibukota dan lima desa yang terletak agak berjauhan. Itulah seluruh kerajaan kecil Habbak yang berada di bawah pengawasan kerajaan tirani Avandon.
Dalam lingkup kerajaan Habbak ada pula sebuah rumah kecil di bawah gunung, yang biasa saja seperti rumah-rumah lainnya yang menyebar di tanah-tanah pertanian. Di rumah kecil itu tinggal sendiri seorang gadis bernama Cezia Majere, yang selalu sendirian sejak kematian ibunya dan kepergian ayahnya.
Cezia memiliki rambut coklat keoranyean dan mata hijau yang jauh berbeda dengan penduduk daerah itu yang rambut dan matanya serba hitam, warisan dari ibunya yang berasal dari negara lain. Pemikirannya juga jauh berbeda, kokoh, luas, dan fleksibel. Tapi itu semua tidak membuatnya benar-benar dijauhi. Bisikan tersebar di antara penduduk desa sejak hari kematian ibunya, bahwa ia penyihir yang membunuh ibunya sendiri. Cezia tidak mengomentari bisikan-bisikan itu dan menerima kesendiriannya.
Tidak jelas apakah hal itu benar tapi ia tidak menggunakan sihir untuk menghangatkan badannya karena ia sedang mengumpulkan kayu bakar. Wajahnya penuh kebosanan dan kekosongan karena hidup sendirian. Satu hari lagi yang harus dilalui, hari yang dimulai dengan sikap dingin dan bisik-bisik para pedagang yang tak pernah henti ketika ia jual beli di pasar lalu kesedihan sepanjang sisa hari. Tapi Cezia kuat, ia bersikukuh untuk tidak merenungi nasib dan melakukan tugas sehari-harinya.
Tidak jauh dari sana, seorang pria berjubah dan berkerudung hitam berjalan tertatih-tatih menyusuri salju. Jejak darah tertinggal di belakang setiap langkahnya. Hanya ego yang menolak mayatnya ditemukan lawan yang memaksanya terus berjalan ke arah yang tidak dikenalnya.
Ia sudah kehilangan banyak darah dan keputusasaanya menguras seluruh tenaga yang tersisa. Ia jatuh terkulai ke atas salju yang dingin dan tidak mampu bangkit lagi, baginya semua sudah berakhir. Ia tidak bisa meminta ataupun mengharapkan pertolongan. Matanya yang putus asa menatap jari-jarinya yang berkuku tajam, tebal, dan melengkung. Ia bukan manusia, diperjelas dengan gigi-gigi yang terlalu tajam di balik bibir yang membiru kedinginan dan telinganya yang runcing.
Ia menyesali satu hal, keabsenannya akan membawa malapetaka bagi rasnya… Ia memejamkan matanya, merasakan sensasi panas yang aneh dari perutnya yang terluka sementara salju di sekitarnya menyerang dengan dingin yang menggigit dan membekukan. Panas itu menenangkannya di tengah keputusasaan, ia menyerah pada ketenangan itu dan kehilangan kesadarannya.
Cezia merasakan perubahan udara yang bertambah dingin dan berangin, badai akan mengamuk tidak lama lagi. Cezia melangkah pergi dari tempat itu dan berharap bisa sampai di rumah sebelum badai mengoyak angkasa. Saat itulah ia menemukan pria yang terkulai tak sadarkan diri di atas salju. Cezia mendekat sambil mendekap seonggok kayu.
Wajah pria itu tampan, hal pertama yang melintas di benaknya. Wajah yang kokoh dan tegar itu terpaksa menyerah dalam ketenangan yang menuntut nyawa. Lalu ia melihat kuku-kuku yang melengkung tajam dan telinga runcing yang tidak manusiawi. Vampir? Pikir Cezia. Sebuah kata yang seharusnya membuat Cezia lari tunggang langgang ke rumahnya dan mengunci pintu. Tapi ia tertegun pada wajah yang membiru tak berdaya itu dan memutuskan untuk mengikuti kata hatinya. Cezia membuang semua kayu dari tangannya dan menarik pria yang berat itu dengan susah payah.
Pria aneh berjubah itu terbangun dan langsung duduk di ranjang. Ia menekan segala keheranannya dan melihat sekeliling dengan waspada. Ia berada di sebuah rumah kecil tak berbahaya milik seorang gadis manusia. Sirrion merasa lega walau tidak melepas kewaspadaannya.
"Hai! Kau beruntung a..." kata Cezia yang dipotong oleh tatapan ganas pria itu.
"Aku tidak berhutang apapun darimu," ancam pria itu dan meraih semangkuk sup dari tangan Cezia dengan kasar.
Cezia menyesal sudah menyelamatkan pria itu, tatapan garang kedua mata merah itu seperti tatapan hewan buas, ia berbahaya. Cezia melihat garpu rumput dibelakangnya, mengira-ngira apakah pria itu masih cukup lemah untuk dilawan. Cezia menahan amarah dan niatnya untuk menyerang atau kabur, ia hanya memiliki rumah ini dan nyawanya sendiri, dan ia tidak mau mengambil resiko kehilangan salah satunya. Cezia mundur sejauh mungkin dari ranjang dan beralih ke tungku, menyibukkan diri untuk berusaha mengabaikan tamu mengerikannya.
Pria itu menghabiskan supnya, meletakkan mangkuknya di meja kecil di sebelah ranjang dengan kasar lalu kembali berbaring.
"Lumayan... Aku akan pergi setelah sembuh total. Sebelum saat itu tiba, tutup mulut dan jaga kelakuanmu atau aku akan memastikan kamu mendapat kematian yang menyakitkan," kata pria itu dengan serak dan mengancam.
Cezia tidak bergeming tapi hatinya panas. Pria itu membuatnya sangat marah dan jengkel, ia ingin monster berwajah tampan itu ditangkap dan menghilang dari hadapannya selama-lamanya. Namun perasaannya juga lega karena makhluk itu masih membiarkannya hidup.. sebagai budak?
***
Sirrion melirik ke arah gadis berambut coklat yang tidur di kursi agak jauh darinya. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, menjadi bantal bagi kepalanya. Rambut panjangnya terurai menutupi seluruh wajahnya. Sirrion ingat mimik dan mata hijau gadis itu ketika ia mengancamnya, gadis itu berusaha menyembunyikan rasa takut dan kesalnya tapi tidak cukup baik untuk menyembunyikannya dari Sirrion. Ia pun tidak merasa kasihan pada penyelamatnya, ia tidak bisa mengasihani manusia, manusia-manusia yang mengkhianatinya, manusia-manusia yang akan menghancurkan negaranya, serta memunahkan rasnya.
Terutama manusia-manusia yang memisahkannya dari adik perempuannya... Ia membayangkan kematian adiknya, darahnya menjadi menggelegak panas. Sesaat Sirrion hendak mencekik dan menyiksa penyelamatnya sampai mati namun memutuskan gadis itu masih bermanfaat baginya.
Siapa namanya? pikir Sirrion penasaran. Ia terkejut dengan pikirannya sendiri, ia tidak butuh sedikitpun untuk mengetahui nama manusia itu. Mengapa gadis itu menolongku? pikir Sirrion lagi. Ia terusik dengan pikiran-pikirannya sendiri, pikiran-pikiran yang tidak penting dan tidak bijaksana. Bagaimanapun perempuan itu tetaplah manusia dan akan mengkhianatinya sewaktu-waktu. Sirrion mendesah lalu kembali tidur tanpa terganggu suara badai yang mencabik-cabik lingkungan di luar rumah itu.
***
Matahari sudah bersinar terang, sinarnya masuk dan menghangatkan rumah Cezia. Cezia sudah menyelesaikan sarapannya dan menaruh bagian si monster tampan di atas meja kecil. Cezia tanpa bersuara dan sewajarnya bersiap pergi ke pasar. Nanti, bila ia sampai di pasar tanpa diikuti, ia akan mencari prajurit kerajaan dan melaporkan keberadaan monster itu.
"Pagi yang cerah," suara Sirrion mengagetkan Cezia.
"Sudah siang. Aku bisa saja kabur dan melaporkanmu dari tadi," tatap Cezia, berusaha untuk menantang si monster.
"Kau masih belum melakukannya," senyum Sirrion menantang balik. Ia turun dari ranjang dengan satu gerakan dan mendekati Cezia setenang macan kumbang yang yakin mangsanya sudah menyerah. Ia berhenti hanya seinci dari Cezia.
"Hebat, kau tidak gemetar," Sirrion menatap dalam mata bulat hijau itu dan mencari-cari ketakutan di dalamnya. Ketakutan itulah senjatanya untuk memastikan Cezia tetap tunduk dibawah kendalinya.
"Huh, buat apa?" kata Cezia berusaha mengingkari ketakutannya dengan kesombongan dan dingin yang pura-pura.
"Karena aku mengerikan," Sirrion menyentuh dagu Cezia dengan ujung kukunya lalu menunjukan taring-taringnya yang tajam. Cezia terintimidasi oleh mata merah berpupil melengkung hitam Sirrion, ketakutan terlepas dari kendalinya, sesaat ia ingin berteriak, dan lari pergi sejauh-jauhnya.
"Hendak kemana?" kata Sirrion tenang dan melenyapkan ancamannya. Sesaat Cezia terheran dengan kesopanan khas bangsawan yang tiba-tiba. Ia cepat-cepat menjawab sebelum Sirrion sempat mempertanyakan keheranannya.
"Ke pasar. Kalau tidak kita akan kelaparan," jawab Cezia sambil berpaling.
"Heh... kita? Aku bisa memakanmu," tawa Sirrion serak. "Ayo, aku ikut."
"Kamu tidak makan buburnya dulu?" tanya Cezia sambil tetap memalingkan muka. Ia bisa merasakan nafas hangat monster itu di pipinya.
"Aku ingin makan daging," jawabnya sambil menggigit pelan leher Cezia. Sirrion terkejut mengapa ia melakukan tindakan sensual tersebut serta menikmatinya, kendali dirinya hilang entah bagaimana, untungnya Cezia tidak mengerti arti sebenarnya tindakan itu. Sirrion segera berpaling dan melangkah ke pintu.
"Ayo!" perintahnya kasar dan dingin.
Cezia terdiam sesaat, tubuhnya meresapi kehangatan lidah Sirrion yang menjilatnya seakan mencicip makanan. Agak gemetar, Cezia mengikuti Sirrion keluar dan menunjuk kemana mereka harus pergi. Sirrion menutupi telinga lancipnya dengan kerudung jubahnya. Ia mamsukkan kedua tangannya ke saku celananya. Satu-satunya pakaian Sirrion yang dilepas dan dibuang hanya kemeja lengan panjangnya, yang digantikan kaos yang agak ketat dan menonjolkan otot-otot Sirrion serta tato naganya.
"Belikan aku sarung tangan," kata Sirrion datar lalu berpikir sejenak. "Warna hitam."
Badai kemarin menyisakan salju setinggi lutut. Cezia kesulitan melangkah sementara Sirrion dengan mudah melangkah di depannya. Cuaca dan pemandangan hari ini sangat indah, dengan beberapa ekor burung asyik bernyanyi di dahan-dahan tak berdaun. Salju berkilauan dan mencair perlahan terkena sinar matahari yang hangat. Langit terlihat cerah dengan awan-awan yang lebih indah dari lukisan manapun. Tapi Cezia tidak bisa menikmati keindahan alam tersebut dengan keberadaan monster di depannya.
Setelah perjalanan yang terlalu cepat dan melelahkan Cezia di ataas salju yang tebal, akhirnya mereka tiba di gerbang utara desa Zivilyn, dimana didalam sana terletak sebuah pasar sederhana. Sejenak Sirrion memandang kaki ramping Cezia yang memutih kedinginan. Sirrion malu dengan pikirannya sendiri lalu memalingkan muka ke arah pasar.
Cezia berbelanja sementara Sirrion mengikutinya agak jauh. Cezia dengan susah payah menawar daging dan sedikit sayu mayur serta sarung tangan. Para pedagang desa tidak berbelas kasihan padanya dan bersikap dingin. Sirrion merasa sedikit bersalah menyusahkan gadis yang jelas-jelas dikucilkan desa ini. Sirrion menepis perasaan bersalahnya yang konyol dan terus mengawasi Cezia. Beberapa gadis cantik desa itu mengagumi ketampanan Sirrion tapi Sirrion tidak menggubris mereka. Ia mengfokuskan diri pada Cezia, yang terus menerus menumbuhkan simpati dalam dirinya terutama karena pakaiannya yang kurang tebal untuk musim sedingin itu.
Seorang anak kecil dari tikungan berlari dan menubruk Cezia. Belanjaannya jatuh berantakan tapi Cezia berhasil menahan anak itu sebelum jatuh lalu tersenyum ramah padanya. Anak lelaki itu melepaskan diri dengan kasar dan memandang jijik sebelum lari menginjak sawi putih Cezia lalu menghampiri ibunya dan seorang ibu-ibu lainnya yang menatap Cezia tidak senang.
Cezia mengalihkan pandangannya yang sedih pasrah ke arah belanjaannya dan bergegas mengumpulkan semuanya. Sebuah tangan berkuku hitam meraih sepotong wortel di depan Cezia lalu memasukkannya ke dalam kantung belanjaan. Sirrion ikut membantu membereskan belanjaan Cezia yang sedikit itu lalu mengambil alih kantung belanjaan itu dan berjalan tanpa bicara ke arah gerbang tak berpintu desa.
Para gadis menunjukan mimik terkejut dan tidak percaya. Mereka berpaling dan berpura-pura sibuk ketika Sirrion sambil lalu menatap mereka dalam. Ia menyunggingkan senyum tipis, mengagumi wujud manusianya yang tampan, warisan turun menurun keluarganya.
"Mereka pikir aku kekasihmu," katanya menahan tawa. Cezia terdiam tidak menjawab dan terus melangkah mengikuti Sirrion. Sirrion berhenti dan berpikir sejenak.
"Siapa namamu?" tanya Sirrion.
"Cezia. Cezia majere," jawab Cezia tak bersemangat.
Sirrion kembali melangkah dan berpikir sejenak. Majere berarti bunga mawar dalam bahasa kuno, nama yang terlalu kuat untuk seorang gadis desa biasa.
"Aku suka mengoleksi nama korban-korbanku. Namaku Sirrion."
Cezia tetap terdiam dan berjalan kaku, semua kejadian di hari-hari terakhir ini membuat moodnya jelek. Sirrion melirik Cezia yang menunduk dari sudut matanya. Ia hanya gadis yatim piatu biasa, pikirnya. Tapi mengapa penduduk desa tidak menyukainya? Bagaimana ia bisa mendapatkan nama berkekuatan? Sirrion menyimpan pertanyaan itu dan memarahi dirinya sendiri karena mempedulikan seorang manusia yang akan secepat mungkin ditinggalkannya.
Sesampainya di rumah Cezia segera mulai memasak sementara Sirrion mencoba sarung tangannya yang pas walau tidak serasi dengan jubah dan celana panjangnya yang berbahan bagus. Sirrion lalu mencari-cari baju lamanya yang ternyata tidak dibuang Cezia dan terletak diatas sebuah keranjang.
Ia membolak-balik kemeja itu, lubang besar di bagian dada membuat baju itu tidak layak dipakai. Sirrion mencabuti kancing-kancing emas dari ujung lengan kemeja itu. Enam kancing emas asli yang diukir berbentuk naga serupa dengan sepasang kancing emas besar di jubahnya.
Ia mengantongi kancing-kancing itu dan kembali duduk di depan meja makan, satu-satunya meja di rumah itu. Setelah agak lama Cezia menyuguhkan daging yang direbus bersama bumbu serta sedikit sayuran pada Sirrion sementara Cezia makan dengan sedikit sayuran dan kuah. Tampaknya keinginan Sirrion untuk makan daging benar-benar menguras uang Cezia, belum lagi sarung tangannya. Sejenak Sirrion berpikir untuk membagi dagingnya engan Cezia namun memperingatkan dirinya yang melemah dan bodoh. Sirrion kembali beristirahat setelah selesai makan sementara Cezia mulai menjahit beberapa syal untuk dijual besok.
Malam itu Sirrion bermimpi buruk. Ia bermimpi adiknya Eternit menangis di dalam sel yang gelap dan lembab, dirantai dan terluka. Dan seorang penjaga menghunuskan pedangnya, bersiap masuk ke dalam sel...
Cezia terbangun mendengar Sirrion meneriakkan nama Eternite. Monster tampan itu masih tidur namun tampaknya sedang bermimpi buruk. Cezia mengambil kain, membasahinya, lalu menaruh kain dingin itu diatas dahi Sirrion yang sangat panas. Sirrion agak tenang walau nafasnya masih tidak teratur dan keringat membanjir.
Sebenarnya aku bisa menusuk jantungnya sewaktu ia tidur, pikir Cezia. Ia tidak mengerti mengapa ia tidak bisa melakukannya, seakan ia terikat pada janji Sirrion untuk pergi setelah sembuh total.
-------------------------------
Chapter 2 : The Promise
-------------------------------
Paginya Sirrion tidak mengeluh ketika hanya ada sepotong kecil daging dan sayuran berkuah di mangkuknya. Cezia makan lebih buruk daripadanya, ia hanya minum kuah. Perasaan bersalah yang menghantui Sirrion makin menyerang.
Sirrion bersikeras agar Cezia tinggal di rumah ketika Cezia bersiap-siap pergi ke pasar dengan syal-syal di genggamannya.
"Tapi hari ini lain dari kemarin. Aku harus menjual syal-syal ini dan membeli obat untuk lukamu!" tegasnya. "Aku juga tidak mau kekurangan uang..." lanjutnya pelan dan menunduk.
Sirrion menatapnya tajam dan menusuk. Cezia terdiam di tempat, jantungnya seakan berhenti berdetak, dan ia ketakutan melihat Sirrion yang begitu serius.
"Beritahu saja kemana aku harus menjual syal-syalnya," katanya datar da nserak.
Cezia menyerah dan memberikan instruksi-instruksi yang diperlukan Sirrion, wajahnya tegang ketakutan. Sirrion ingin menenangkan manusia itu dengan menyentuhkan hidungnya ke dahi Cezia, seperti cara ibu Sirrion menenangkannya ketika masih kecil dulu. Ia menahan diri untuk tidak melakukan hal itu dan berbalik.
"Jangan kemana-mana," ancamnya dingin sebelum pergi dengan langkah-langkah yang lebar dan tegap. Cezia terduduk dan menenangkan dirinya yang ketakutan setengah mati.
Tanpa Cezia yang bersusah payah mengikutinya, Sirrion dengan cepat sampai di desa. Ia segera menjual syal-syal buatan Cezia ke pedagang kain yang ramah. Sirrion lalu berkeliling mencari pedagang emas dari kota, pedagang itu sedang menjajakan cincin-cincin permata di depan kemahnya, dekat pusat desa.
Setelah tawar-menawar, Sirrion kembali berkeliling dengan uang yang lebih banyak dari yang mungkin Cezia dapat dalam setahun. Ia tidak bertanya pada siapapun untuk menemukan setiap pedagang yang ia cari, baginya itu hanya tindakan manusia yang bodoh dan malas.
Ia membeli dua kemeja dan satu celana panjang baginya sendiri lalu sepasang pakaian hangat dan sepatu bot tinggi untuk Cezia. Ia lalu mencari tukang daging seperti yang diinstruksikan Cezia.
"Hai!" sapa seorang gadis dengan rok terusan yang menampilkan sebagian dadanya yang besar dan paha yang mulus dibawah rok yang pendek itu. "Sibukkah?"
Sirrion mendengus dan hendak beranjak pergi tapi gadis itu menahannya.
"Apakah kau kekasih Cezia? Kau tahu, dia itu penyihir yang membunuh ibunya sendiri! Dan mungkin ada banyak pria setampan engkau yang diubahnya menjadi kodok," celetuknya sambil terus menarik Sirrion yang jengkel dan pasrah ke sebuah lorong.
"Tinggalkan aku sendiri!" hardik Sirrion kasar dan dingin. Perempuang itu tersenyum centil dan terus menyeretnya ke dalam lorong.
"Rumahku di dalam sini, mampirlah sebentar, keluarga sedang kelu..." kata-katanya terpotong ketika dengan kasar Sirrion mendekap mulutnya dan menyeretnya ke bagian terdalam lorong itu.
Beberapa lama kemudian Sirrion keluar dari lorong itu, ia berbelanja bahan makanan sebanyak yang bisa dibawanya dan salep obat untuk lukanya. Ia berjalan kembali ke arah rumah Cezia dan memikirkan apa yang telah dikatakan gadis itu. Cezia... penyihir? Kalau itu benar, tentu ia sudah mempraktekkan sihirnya ke Sirrion. Mungkin ia tidak bisa mengendalikan sihirnya.
Sirrion sampai di rumah pada saat matahari terbenam, mengejutkan Cezia dengan banyaknya barang yang ia bawa. Sirrion bersikeras untuk tidak memberitahukan darimana ia mendapatkan uang.
Jadi selama hari-hari itu Sirrion menetap di rumah Cezia. Persediaan makanan mencukupi, mereka tidak perlu ke desa lagi. Cezia tetap menjahit syal-syal untuk minggu-minggu berikutnya sedangkan Sirrion memotong kayu sehingga Cezia tidak perlu mengumpulkan kayu dari hutan. Ia mengintip Sirrion yang sedang memotong kayu dari jendela, Cezia mengakui monster itu memang tampan dan menarik. Peluh menjadikan otot-ototnya yang besar mengkilap. Sirrion melirik ke arah Cezia lalu meniupkan sebuah ciuman meledek. Cezia segera bersembunyi ke balik dinding, jantungnya berdetak lebih kencang sementara ia menegaskan pada dirinya bahwa makhluk tampan itu monster yang jahat.
Di luar Sirrion berpikir keras, ia menyadari adanya ketertarikan diantara mereka dan hal itu sangat terlarang. Ia berbalik dan masuk ke rumah, menemukan Cezia sedang mengatur nafasnya. Dengan sigap dan langkah-langkah yang besar Sirrion mendorong dan menahan Cezia di dinding serta menghimpitnya dengan kasar dan hampir melecehkan.
"A... Apa yang hendak kau lakukan?!" pekik Cezia panik dan terputus-putus. Badan Sirrion yang kencang dan hangat menimbulkan gejolak dalam tubuh Cezia.
"Kau... menginginkanku?" tanya Sirrion dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Pergi kau monster!" dorong Cezia, yang ternyata mudah.
"Ha, ha, ha! Tidak perlu setegang itu, siapa memangnya yang mau denganmu?" tawa Sirrion penuh kelicikan. Dalam hati ia berharap Cezia akan membencinya sehingga ia pun bisa pergi tanpa beban perasaan. Ia duduk di kursi dan mengambil piring, segera makan.
Cezia lebih merasa sedih daripada marah. Apa yang dikatakan Sirrion benar, ia akan sendirian seumur hidup. Cezia menguatkan hatinya dan bertanya.
"Kamu sudah sembuh total, bukankah kau berjanji akan pergi?"
"Aku akan pergi setelah mengambil kebahagiaanmu," jawabnya, lalu menyesali kata-katanya yang kelewat kejam.
***
Sirrion tidak bisa tidur malam itu. Tidak lama lagi ia akan kembali berkelana, sendirian, dan penuh bahaya. Ia merindukan kedamaian, kedamaian bagi seluruh bangsanya... kedamaian dari serangan-serangan manusia... Diganggu serangkaian dugaan buruk tentang keadaan rakyat dan adiknya, Sirrion bangun lalu beranjak keluar. Ia mengambil alat-alat dan memutuskan untuk memperbaiki atap.
Cezia terbangun oleh suara berisik di atas atapnya. Ia mengerjap-ngerjap dan menguap sebelum melangkah keluar dengan kaki telanjang ke salju yang dingin. Ia menemukan Sirrion sedang membetulkan atap di latar belakangi purnama yang memberikan kesan cahaya mistis pada tubuh Sirrion.
"Tutup matamu dan berusahalah tidur," kata Sirrion tanpa menoleh dan terus bekerja.
Cezia segera masuk ke dalam rumah. Kebencian dan ketakutan merambat ke benaknya, jelas Sirrion tidak akan lekas meninggalkan rumah pikirnya. Dengan segala perasaan yang berkecamuk ia berbaring di atas tempat tidur, menutupi dirinya dengan selimut dan berusaha tidur.
Keesokan paginya Cezia bangun kesiangan dan Sirrion sudah pergi entah kemana. Cezia menemukan sehelai kertas di meja yang memberitahukan Sirrion pergi ke ibukota dan baru akan kembali nanti sore, lalu menambahkan dengan cemooh 'kalau kau bisa baca'.
Cezia kesal namun menyadari inilah saatnya untuk melaporkan Sirrion. Dengan berpura-pura mau menjual syal, Cezia pergi tanpa makan terlebih dahulu, ironisnya memakai pakaian yang dibelikan Sirrion. Ia dengan semangat dan kemarahan yang mampu mencairkan salju berjalan dengan terburu-buru sambil tetap waspada ke arah desa.
Sesampainya di desa, sebuah tomat busuk melayang dan mengenai wajah Cezia. Sebenci-bencinya warga desa padanya, tidak pernah mereka menunjukan permusuhan langsung. Beberapa warga bahkan mencengkram garpu rumput.
"kekasihmu memperkosa Selvy, Cezia!" teriak marah ibu Selvy. Selvy sendiri bersembunyi dan menangis di balik ibunya. Orang-orang mulai melemparinya dengan tomat dan telur busuk serta memaki-makinya sebagai pengikut *****.
"Dia... bukan... kekasihku!" kata Cezia susah payah. Ia tambah jengkel, marah, dan takut dengan Sirrion, yang telah menambah kebencian warga padanya, kini ia tidak ragu lagi untuk melaporkan monster itu. Beberapa prajurit datang, menghentikan lemparan-lemparan itu sebelum Cezia terbenam dalam tomat dan telur busuk.
"Kau tidak apa-apa?" tanya seorang ksatria berkuda yang menghampirinya. Itu Eihab, ksatria berambut pirang yang sopan, tampan, dan dikagumi banyak orang di desa, termasuk dirinya. Juga teman masa kecil Cezia.
"Ayo, kutemani kembali ke rumah," tawar Eihab tanpa menawarkan Cezia naik ke atas kudanya. Cezia pun tidak ingin mengotori baju dan kuda putih Eihab. Diikuti prajurit-prajurit bawahan Eihab, mereka menuju rumah Cezia tanpa berkata-kata.
"Siapakah orang yang disebut-sebut warga tadi?" tanya Eihab memecah kesunyian.
"Namanya Sirrion, ia monster yang memaksa tinggal di rumahku," sahut Cezia.
"Ah! Apakaha ia berambut hitam dengan ujung-ujung kemerahan? Mata merah? Telinga runcing? Dan memiliki kuku-kuku tajam melengkung?"
"Ya. Mengapa?" tanya Cezia heran.
"Kami diperintahkan kerajaan untuk menangkapnya," jelas Eihab. "Bisakah kau mengantarkan kami padanya?"
Kemarahan Cezia masi meluap-luap, inilah kesempatan untuk melenyapkan Sirrion dr hidupnya.
"Kurasa bisa. Ia sedang pergi tapi akan kembali sore ini," jawab Cezia.
"Tentu, asalkan tidak menimbulkan kecurigaannya..."
Mereka berjalan agak memutar dan menyembunyikan kuda-kuda di sesemakan yang agak jauh. Cezia berjalan di samping Eihab, menunjukkan lokasi rumahnya. Sudah dari kecil Cezia mengagumi Eihab, seperti gadis-gadis desa lainnya, dan sekarang ia memiliki kesempatan untuk mendekatinya, kesempatan yang tidak dimiliki gadis-gadis desa lainnya.
Cezia tidak merasa tenang, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya walau ia sudah membersihkan segala bau tomat dan telur busuk dari tubuhnya. Ia menepiskan segala perasaan aneh itu dan menyibukkan diri untuk membuat kopi sementara Eihab dan prajurit-prajuritnya siaga dan tersembunyi di dalam rumahnya. Para prajurit menerima kopi dengan seulas senyum terima kasih berbingkai wajah yang serius.
Setelah menit demi menit yang terasa seperti berjam-jam, akhirnya Sirrion terliihat mendekat, para prajurit segera bersiaga penuh dan menarik keluar busur-busur panah mereka tanpa suara. Cezia mengintip keluar sewajar mungkin dan mulai menyesali tindakannya.
Sirrion kembali dengan seekor kuda dan sapi juga banyak barang dalam tas yang dijinjingnya. Cezia memperhatikan ada dua tas perbekalan yang penuh di kuda itu. Sirrion berjalan tanpa curiga, wajahnya agak ceria. Cezia menyadari Sirrion akan segera pergi dengan kuda itu dan menyerahkan sapi itu untuk Cezia seperti barang-barang sebelumnya yang telah diserahkan tanpa pamrih. Dia juga ingat Sirrion sudah membetulkan atapnya. Cezia mearasa ia telah mematahkan sebuah janji yang mengikatnnya dan Sirrion, janji yang sebelumnya menahan dia sehingga tetap bungkam.
Eihab membisik cepat pada Cezia untuk keluar dari rumah dan membawa Sirrion masuk sementara ia tetap di luar untuk keamanannya sendiri. Cezia yang agak gugup dan berkeringat dingin membuka pintu dan menghampiri Sirrion.
"Aku akan pergi sore ini juga," kata Sirrion tenang. "Oh ya, kurasa aku membuat sedikit keributan di desa tapi... dengan sapi dan uang ini semestinya kamu bisa menghindari desa sampai mereka melupakanku," Sirrion menyerahkan tali yang mengikat sapi itu dan sekantung uang emas. Cezia menundukan kepalanya dan gugup. Ia sejenak melirik ke arah jendela, Eihab mengisyaratkan agar Cezia membawa Sirrion masuk.
Benak Sirrion sudah meneriakkan kecurigaan tapi perasaan Sirrion menyamarkannya. Sirrion mengerutkan dahi melihat kelakuan aneh Cezia.
"Apapun perasaanmu padaku, lupakanlah seiring waktu," katanya dingin dan agak kasar. "Aku takkan membatalkan janjiku ataupun membawamu serta.Aku bukan orang baik-baik dengan kehidupan yang damai. Aku monster, kamu tahu itu.." katanya sambil meraih dagu Cezia, mempertemukan mata mereka, sepasang mata yang serius dengan sepasang mata yang bimbang dan ketakutan. Cezia segera mengangguk dan berpaling dari Sirrion, hanya mendapati Eihab yang tidak sabar.
"maukah kau... istirahat dulu.." tanya Cezia dengan gontai dan menunduk mengikuti Sirrion dari belakang. Sirrion dengan cekatan mengikat kudanya lalu meraih tali sapi dari tangan Cezia dan mengikatnya di palang dengan lebih erat.
Sirrion dengan tenang membuka pintu, mukanya berubah pucat melihat para prajurit yang membidikkan panah-panah tajam kearahnya. Sirrion berbalik ke Cezia, dengan wajah penuh kekecewaan dan keheranan. Mereka berdua membeku di tempat ketika para prajurit serentak menarik picu. Anak-anak panah menghujam dan menembus tubuh Sirrion, darah merah kehitaman berhambur mengenai Cezia. Sirrion segera kehilangan kesadarannya, lebih karena terkejut dan kecewa daripada kehilangan darah, lalu terjatuh ke pelukan Cezia.
"Kalian janji hanya akan menangkapnya!" teriak Cezia, air mata mulai membasahi pipinya.
"Kami tidak janji hidup-hidup," kata Eihab tenang sambil melangkah ke arah Cezia dan Sirrion.
Cezia yakin Sirrion masih hidup. Dengan tanpa perhitungan ia segera melepas tali kekang kuda dan mengendarainya bersama Sirrion yang pingsan, mengikuti seluruh kata hatinya. Ia sadar ia mungkin akan menyesali hal ini nanti dan diburu seumur hidup tapi... ia merasa sangat bersalah pada kepercayaan dan ketulusan yang diberikan Sirrion...
Para prajurit berlarian keluar dan kembali menembakkan beberapa anak panah. Sebuah anak panah menyerempet, mengenai Cezia, racun yang ternyata dikandungnya membuat Cezia mulai tidak sadar. Cezia segera memicu kudanya lebih cepat, tidak peduli kantung-kantung perbekalan tersangkut semak-semak dan jatuh satu-persatu.
Para prajurit hendak memanah lagi tapi Eihab menahannya.
"Sudah gelap. Mereka akan mati keracunan atau diserang hewan-hewan buas. Besok kita cari mayatnya." Dalam hati Eihab bingung dan menyayangi tindakan Cezia yang membabi buta.
gw maunya seh nie cerita di terbitin, tapi berhubung masi byk yg kurang.. jd skrg gw mo cari2 artikel ttg nulis fantasi dan nyari2 ide2 dunia baru dulu. Moga-moga ga ampe 1 taon dah bisa terbit ya.... kalo yg gw tunjukin ke publik, cuma 6 chapter pertama ^_^. Nie gw bagi 2 lagi.
Anyway.. di naskah aslinya dah ada beberapa perubahan soal detail.. chapter 4nya jg lbh panjang dr yg gw bakal post.. tapi secara overall ceritanya masi sama.
-------------------------------
Chapter 3 : My Wings Broken in Your Hands
-------------------------------
Cezia terbangun malam itu di tengah hutan, Sirrion duduk di sampingnya dengan wajah dingin penuh amarah. Lapangan kecil itu diterangi api unggun tapi kegelapan hutan menelan cahayanya.
"Kau mengkhianatiku, tapi membiarkan aku hidup. Kau akan menyesalinya!" geram Sirrion serak, matanya berkilat murka.
Sirrion berdiri, api unggun menerangi tubuhnya yang mulai berubah. Kulitnya menjadi gelap lalu berubah menjadi sisik-sisik hitam. Sepasang tanduk muncul di kepalanya sementara wajahnya tertarik ke depan. Tulang-tulangnya bergemeretak dan ototnya membesar tidak manusiawi. Ekor yang kuat dan panjang melesat muncul sementara lehernya memanjang. Terakhir rambut Sirrion tertarik hilang di balik kepala kadalnya lalu digantikan oleh duri-duri semerah darah yang tumbuh dari kepala hingga ekor. Cezia menutup mata dan menggigit bibirnya untuk menahan tangis. Sirrion telah berubah ke wujud aslinya yaitu naga hitam setinggi sepuluh kaki.
Sirrion mencengkram Cezia dengan sebelah tangannya dan meraung kencang. Cezia terpaksa membuka matanya demi usaha membebaskan diri, tapi ia benar-benar lemah dibandingkan teror berduri merah yang mencengkramnya. Sirrion menatap Cezia dengan mata merahnya yang berpupil hitam melengkung seperti ular lalu mengangkat tangannya yang satu lagi...
Tangan itu menampar seekor serigala. Cezia perlahan melihat sekeliling mereka, sekawanan serigala dire yang lebih besar dan lebih ganas dari serigala normal mengepung mereka.
<Serigala-serigala keras kepala! Aku takkan membaginya sedikitpun dengan kalian!> sebuah suara menggelegar di kepala Cezia dan juga makhluk-makhluk lain di dekat mereka. Cezia merasa yakin suara itu berasal dari monster bernama Sirrion ini.
Pertarungan berlangsung cepat dan penuh cipratan darah. Sirrion jauh lebih cepat, lebih kuat, sisik-sisiknya yang lebih kuat dari baju baja melindunginya dari serangan para serigala, dan cakar-cakarnya yang melengkung tajam dengan mudah mengoyak daging mereka. Setelah sisa-sisa serigala mendengking kabur, Sirrion merebahkan diri di tanah, tetap menggenggam Cezia erat. Ia mematikan api unggun dengan tangannya, menimbulkan kegelapan pekat hampir di seluruh tempat itu, hanya bulan dan mata ganas Sirrion yang terlihat bercahaya.
"Kalau kau hendak menyiksanya, jangan tunda lagi," kata Cezia serak dengan keberanian palsu.
<Cukup pintar tapi itu tidak cukup,> sahut Sirrion disertai geraman tawa jahat. Sirrion sendiri kebingungan akan keputusan apa yang akan diambilnya. Untuk pertama kalinya sejak beratus tahun kehidupannya, Sirrion merasa kehilangan akal dan semua pendiriannya. Sirrion mengalihkan perhatiannya, mendapati dirinya diserang ketakutan akan apa yang mungkin sedang terjadi pada bangsanya.
<Kalian, semua manusia sama busuknya. ******-****** tak berwibawa yang sangat egois,> kata Sirrion menggelegar marah lalu dengan kasar menekan Cezia ke tubuh bersisiknya. Racun masih mempengaruhi Cezia, ia tidak bisa mempertahankan kesadarannya lalu tertidur tak berdaya, sejenak merasakan kehangatan tubuh besar itu, dan tak mengerti mengapa ia bisa merasa nyaman dengan monster mengerikan itu.
Sirrion kesal karena menyadari Cezia pingsan lagi. Ia merenggangkan sedikit cengkeramannya dan mendesah. Ia tadi tanpa sadar memeluk Cezia ke tubuhnya. Ia tidak mengerti mengapa ia terus menerus berbuat bodoh seperti itu walau ia sedikit tenang karena Cezia sebagai manusia tidak mengerti tentang gerakan penuh perhatian itu.
Sirrion membaringkan kepalanya ke tanah, menarik Cezia ke sampingnya dan menyelimuti gadis itu dengan sayapnya. Ia lalu menangis tanpa air mata, menangisi bangsanya terlebih adik kesayangannya.
***
Cezia terbangun oleh dingin yang menggigit. Lengan Cezia yang terserempet panah beracun telah dibalut dengan dedaunan obat-obatan yang menetralisir racun tersebut. Sirrion tidak ada disana tapi kudanya ditinggal. Cezia ingat teror monster hitam kemarin, dengan otomatis pikirannya mengkoordinir tubuhnya untuk segera menunggangi kuda dan berderap pergi tanpa tujuan.
Tidak lama kemudian sebuah anak panah meluncur dan menghujam paha kanan kuda Cezia, menyebabkan kuda itu jatuh tersungkur dengan keras. Tiga prajurit keluar dari persembunyian mereka dan terkekeh. Mereka pasukan patroli perbatasan kerajaan Habbak.
“Mana pria itu?” tanya salah satunya.
“Aku tidak tauh!” teriak Cezia agak panik. “Cari saja kesana!” tunjuknya ke arah jejak kuda.
“Bukan dia yang kami incar,” kekeh salah satu prajurit itu.
Cezia membelalak ketakutan dan berusaha bangkit dari ataas salju. Prajurit terdekat segera menerkamnya dan menindihnya, teman-temannya tertawa dengan penuh nafsu. Cezia memberontak dengan percuma dan teriakannya bergema di hutan yang sunyi. Cezia menutup matanya dan menangis memohon-mohon. Dengan kasar prajurit itu merobek dan melepas pakaian Cezia, Cezia berpikir inilah akhirnya.
Teriakan-teriakan memekakkan telinga menghentikan prajurit itu. Ia menengok ke belakang dan menemukan kedua temannya sudah ditebas Sirrion dengan pedang mereka sendiri, yang satu kehilangan kakinya dan teriak-teriak histeris sementara satunya lagi terkulai tanpa kepala. Sirrion dengan tangkas menerjang prajurit tersisa dan menikam jantungnya sebelum ia sempat berreaksi. Ia lalu menghabisi si kaki buntung tanpa pengampunan, mukanya tidak menunjukan emosi sedikitpun.
Sirrion memandang Cezia dengan segan dan sedikit jengkel. Cezia teringat perkataan-perkataan warga desa dan mulai berteriak histeris sambil mundur menjauh.
“Apa-apaan kau!” maki Sirrion jengkel dan melangkah ke arah Cezia.
“Jangan! Tinggalkan aku!” pekik Cezia lebih keras lagi.
Sirrion mengabaikan teriakan-teriakan Cezia. Ia menangkap Cezia, menyentakkan gadis itu sehingga berada dalam pelukannya dan membungkam mulutnya sambil menahan kedua tangannya yang mencakar-cakar.
“Kau akan kulepas jika berhenti berteriak-teriak!” desis Sirrion menutupi sensasi yang ditimbulkan tubuh dingin Cezia.
Cezia dengan cepat mengangguk. Sirrion melepaskan Cezia yang terengah-engah dan membelalak ketakutan. Sirrion memunggungi Cezia dan melepaskan jubahnya. Ia menimang-nimang jubah itu sejenak sebelum berpaling dan memberikannya pada Cezia.
“Jaga baik-baik,” katanya serak dan sedih.
Sirrion berbalik dan berjalan dengan kaku. Cezia, berbalut jubah mahal berjalan mengikuti.
“Kami cukup bijaksana untuk tidak lepas kendali. Dan seperti sebagian besar naga lain, aku tidak tertarik pada tubuh manusia,” kata Sirrion memecah kesunyian.
“Tapi penduduk desa mengatakan kau memperkosa Selvy!” teriak Cezia melengking dan setengah berbisik. Sirrion berbalik menatap Cezia dan terheran-heran sejenak sebelum akhirnya tertawa. Ia berpaling dan kembali berjalan sambil tertawa. Cezia merengut dan merasa hal itu tidak lucu.
“Perempuan murahan itu, kulucuti pakaiannya dan mengikatnya dengan pakaian itu, tidak jauh dari rumahnya kurasa. Ia pasti berjalan seperti cacing sampai ke rumahnya,” tawanya. Cezia ikut tertawa dan memecah dinding es diantara mereka. “
“Makhluk apa sebenarnya engkau?” tanya Cezia memberanikan diri.
“Kamu sudah melihatnya kemarin,” jawab Sirrion sambil mulai berjalan lagi.
“Aku hanya pernah dengar, seekor naga?”
“Ya. Bagaimana menurutmu?” senyum Sirrion liar dan bangga.
“Hitam dan mengerikan,” jawab Cezia, berharap Sirrion tidak tersinggung.
“Pengetahuanmu sempit. Warna dan bentuk kami beragam, adikku anggun dan bersisik putih.”
Sirrion tiba-tiba terdiam dan berlutut di salju.
“Eternite...” lolongnya pelan dan sedih. “Kakak tidak bisa melindungimu,” bisiknya hampir tak terdengar.
Cezia segera menghampiri Sirrion lalu menaruh sebelah tangannya di punggung Sirrion yang telah secara mengejutkan menjadi rapuh dan menangis. Cezia tidak sangka sosok yg ia anggap mengerikan itu bisa menjadi sedemikian rupa. Menyadari sentuhan Cezia, Sirrion menegang dikit dan kembali dingin seperti biasanya. Sirrion berjalan ke arah timur, kaku dan terdiam seribu bahasa, setengah melamun pedih sementara setengahnya lagi berusaha mempertahankan egonya di hadapan Cezia.
“Kamu hendak kemana?” tanya Cezia.
“Kerajaan kami, jauh di timur. Aku bisa terbang kesana, lalu bagaimana dengan kau?” Sirrion mendesah, segala kebenciannya pada manusia hilang sementara karena kepolosan gadis ini.
“Aku tidak tahu, aku sudah tidak memiliki tempat untuk pulang.”
“Sisikku akan melukaimu,” kata Sirrion. Dan mereka tidak bisa mengambil resiko kembali mengambil pelana kuda itu pikirnya sejenak. “Aku akan melepaskan pakaianku untuk alas duduk sebelum berubah wujud.”
Muka Cezia berubah merah. Sirrion lekas menambahkan.
“Aku akan melepaskannya di balik semak-semak.”
Sirrion terheran pada betapa terikatnya manusia dengan pakaian mereka dan bagaimana ia jadi ikut-ikutan malu dan terpukau.
Cezia segera mengumpulkan baju dan celana panjang yang Sirrion lemparkan lalu pergi agak jauh dan menutup mata dari perubahan wujud yang tidak enak dilihat itu.
Sirrion merentangkan sayapnya sejenak sebelum merunduk serendah mungkin dan memanggil Cezia yang memunggunginya dengan sebuah dengkuran geli.
<Jubahnya jangan dijadikan alas,> ingatnya.
“Kenapa kau tidak usulkan aku mengambil pakaian salah satu mayt prajurit itu saja?” tanya Cezia dengan bosan.
<Sudikah?> tatap Sirrion tajam.
Cezia tertegun bingung lalu berpikir agak lama sebelum menyadari bahwa pakaian-pakaian tersebut aka nmengingatkannya pada kejadian mengerikan itu.
“Iya yah...” Cezia bergumam menyetujui pemikiran Sirrion lalu memanjat naik ke punggung naga itu.
<Buat dirimu senyaman mungkin. berpeganglah erat pada tanduk atau leherku. Siap?>
“Kurasa ya...”
Sirrion meringkuk lebih rendah lagi lalu dengan tiba-tiba meloncat tinggi, mematahkan dahan-dahan pohon di atasnya lalu dengan susah payah mengepakkan sayap sebelum hampir kembali jatuh ke pepohonan. Ia terbang mulus setelah berhasil menangkap angin. Cezia terpukau akan bagaimana angin bisa mengangkat naga besar yang berat itu.
Perjalanan itu cukup panjang dan menggores kedua kaki Cezia. Ia tidak mengeluh dan tetap merunduk, tangannya memeluk leher Sirrion sedangkan tangan lainnya memegangi jubah dan tanduk Sirrion.
Sirrion heran pada perubahan dalam dirinya, bagaimana ia bisa menjadi begitu peduli pada manusia yang duduk di punggungnya. Manusia yang, seperti manusia-manusia yang lainnya-- pernah mengkhianati dirinya. Fakta itu membuat Sirrion kembali menarik dirinya walau ia tidak mau menelantarkan Cezia begitu saja atau ide-ide yang lebih kejam... Sirrion menyetujui sebuah ide pada akhirnya dan terbang dengan tenang.
Malamnya Sirrion melayang turun dan mendarat di dekat sebuah sungai. Cezia menjatuhkan diri ke rumput, terbang diatas naga tanpa pelana sangatlah tidak nyaman walau Sirrion sebisa mungkin mengendalikan gerakan dan kecepatannya. Sirrion meringkuk dekat sungai dan mulai minum menggunakan lidah bercabangnya.
<Kumpulkan kayu, aku akan menangkap ikan.>
"tapi kita tidak punya batu api," kata Cezia sambil berusaha berdiri.
<Jangan khawatir.>
Cezia mengangguk dan segera mengumpulkan ranting sesemakan tidak jauh dari sungai. Sirrion mengawasi sungai dengan teliti sebelum kepalanya memagut ke dalam air, menyentakkan seekor ikan besar lalu melemparnya ke darat. Sirrion mengulangi tindakannya hingga terkumpul tiga ekor ikan.
Cezia dengan tangkas mengatur kayu dan ikan-ikan itu lalu Sirrion mendekatkan kepalanya dan menyemburkan sepercik api. Cezia ingat kisah para petualang bahwa naga memiliki nafas api yang sangat panas melebihi panas api biasa, ia mengangguk-ngangguk sendiri.
<Tidak semua naga bisa menyemburkan api,> jelas Sirrion seakan mengetahui pikiran Cezia. Cezia kembali mengangguk.
"Bukankah ini tidak cukup untuk berdua?"
<Itu untukmu,> aku akan berburu daging segar, pikirnya. Sirrion mulai melangkah menjauh sebelum menambahkan, <Aku tidak akan jauh-jauh, teriaklah bila ada apa-apa,> katanya dengan nada menegaskan 'jangan manja'.
Cezia mengangguk lalu mengalihkan perhatiannya ke ikan bakar. Sirrion bergerak tanpa banyak suara lalu melompat dari atas tanah dan membumbung dengan sedikit kesulitan tak berarti sebelum melayang ke arah pepohonan.
Mata Sirrion yang lebih tajam dari hewan siang atau malam apapun menangkap kelebat seekor rusa diantara pepohonan cedar. Ia segera melipat kedua sayapnya dan menukik kencang. Rusa itu terbelalak melihat teror besar yang tiba-tiba menerkamnya dengan taring-taring yang tajam dan menariknya dari tanah yang aman ke langit kelam. Sirrion merenggut kepala bersamaan dengan nyawa rusa itu sebelum melahapnya cepat. Perburuan memiliki kenikmatan sendiri, demikian pula dengan menyantap daging mentah yang liat. Sirrion kembali berputar-putar diatas hutan sebelum menemukan seekor beruang grizzly besar.
Lain dengan sang rusa, beruang ini tidak membelalak ketakutan melihat keberadaan Sirrion. Walau beruang itu tidak bisa menghindar, ia menghadapi maut dengan harga diri dan perjuangan, terus berusaha mencabik-cabik Sirrion walau kukunya kesulitan menembus sisik tebal Sirrion. Perlawanannya hanya menimbulkan luka-luka ringan di gusi dan telapak tangan Sirrion yang tidak bersisik sebelum akhirnya Sirrion melepas beruang itu di udara, berputar ke bawah sang beruang, lalu memagut lehernya, mengambil nyawa si beruang sebelum membiarkan beruang itu jatuh ke tanah. Sirrion tidak jengkel sediitpun dengan luka-luka kecil itu, sebagai makhluk yang dilahirkan sebagai pemangsa, adrenalinnya tertantang untuk santapan tangguh, bahkan jika itu berarti menantang maut. Beruang itu tidak bisa memuaskan keinginan Sirrion untuk bergulat dengan mangsanya. Biasanya di daerah kerajaannya Sirrion berburu manticore, singa besar yang memilik ekor kalajengking dengan racun yang melumpuhkan dan sepasang sayap kelelawar. Ia rindu kembali berburu disana, jika kerajaannya masih bertahan... pikirnya sedih.
Selesai perburuan, Sirrion mengitari tepian hutan hingga menemukan petak-petak tanah pertanian dan gubuk-gubuknya. Dengan enggan Sirrion melayang turun ke belakang sebuah rumah yang masih menyala lilinnya. Ia turun tanpa suara dan tiada seorangpun yang melihat keberadaannya yang seakan melebur dengan kegelapan malam. Sirrion segera berubah wujud ke bentuk manusianya yang tanpa busana. Muka Sirrion memerah ketika mengingat rasa malu Cezia. Ia segera menghalau rasa malu yang seharusnya tidak menghinggapi seekor naga jantan sejati yang bangga akan sisik dan tubuhnya sepertinya.
Sirrion dengan hati-hati mendekati jendela rumah itu lalu mengetuknya. Ia bersiap menghadapi segala macam serangan yang mungkin dilancarkan. Seorang pria muda membuka jendela, terkejut dan ragu-ragu menatap Sirrion sementara seorang wanita muda menggenggam garpu rumput agak jauh di belakangnya.
"Mau apa kau!?" tanya pria itu sambil menyembunyikan gemetarnya.
"Saya butuh pakaian," kata Sirrion cepat dan tegas sambil mengulurkan tiga keping uang emas. Pria muda itu dengan cepat menyambar koin-koin itu sambil tetap memelototi Sirrion dengan waspada. Seperti tikus kecil yang terperangkap menatap kucing yang tak berminat.
"Ann, berikan pria ini pakaian."
Wanita muda itu tetap diam selama beberapa detik sebelum menyadari perkataan suaminya dan berlari ke ruangan lain dan kembali setelah beberapa saat, membawa dua pasang pakaian lengkap. Ia menyerahkan pakaian-pakaian itu ke suaminya sebelum kembali mundur dan menggengam garpu rumput dengan erat.
"I... ini! Ini yang terbaik yang kami punya. Dan pergilah!" halau pria itu dengan gugup.
Sirrion bergegas menyelinap pergi tanpa terima kasih. Pria muda yang penakut itu bisa saja tiba-tiba teriak hanya karena keberadaan Sirrion yang lebih lama beberapa detik. Lagipula... sejak kapan Sirrion mengucapkan terima kasih? Nihil.
Inilah saatnya, desah Sirrion. Ia segera mengenakan pakaian barunya, menjejalkan sisanya ke ransel kecil yang untungnya tidak ia tinggalkan bersama kuda malang yang sekarang mungkin sudah menjadi santapan para serigala. Sirrion kembali beralih ke wujud aslinya, membawa ransel kecil itu dengan moncongnya, lalu mulai membumbung. Jika keluarga petani muda itu memutuskan untuk melirik keluar... dimana mungkin mereka tidak berani, mereka takkan bisa tidur nyenyak lagi, pikir Sirrion sedikit senang. Sirrion terbang menyusuri pohon-pohon cedar, terbang kembali ke arah sungai. Sisiknya yang hitam mengkilap-kilap diterpa sinar rembulan, seakan tiap-tiap potongan permata hitam yang diukir halus.
Sirrion membumbung di atas sungai dan berputar sejenak, Cezia tidur terlelap tidak jauh di bawahnya beralaskan pakaian Sirrion dan berselimutkan jubahnya. Sirrion perlahan berputar turun tanpa suara dan mendarat pelan-pelan. Ia mengamati gadis itu sejenak dengan mata ularnya sebelum menaruh sekantung uang terakhirnya di samping Cezia. Ia beranjak pergi dengan sedikit enggan. Ia yakin mereka cukup jauh dari para pengejarnya, ini sudah di luar kerajaan Habbak. Sirrion berharap kabar tentang Cezia yang menyelamatkan Sirrion belum tersebar ke seluruh kesatuan kerajaan Avandon. Ia tidak bisa sudi pergi membawa Cezia, tidak boleh menbiarkan perasaan konyolnya mengambil alih segala kebijaksanaan ratusan tahun kehidupannya. Ia tidak tahu mengapa ia berkali-kali kehilangan semua perhitungan dan kewaspadaannya ketik bersama gadis itu, tapi ia tahu perasaan itu terlarang.
Agak ragu-ragu ia berjongkok dan membentangkan sayap-sayapnya selama beberapa detik sebelum memutuskan untuk melompat ke udara sambil mengepakkan sayapnya dengan kuat. Tekanan udara dan gravitasi tidak berhasil menekan Sirrion dan dalam tiga kepakan sayap yang berat ia telah membumbung di udara.
Sirrion terbang ke arah timur, mengikuti dorongan angin malam yang dingin di belakangnya. Ia bergerak mengalir seperti laju usngai dan ekornya yang kuat menjaga keseimbangan dan arahnya. Inilah cara terbang yang nyaman bagi naga tanpa beban ataupun penumpang.
Mendekati bukit-bukit batu, Sirrion membiarkan angin mendorong sayapnya hingga ia mencengkram bebatuan. Dengan cekatan ia menyelinap ke balik bebatuan, segera melipat sayapnya, dan meringkuk di tengah batu-batu raksasa. Sirrion mendesah dengan parau, melepaskan semua kelelahan dan ketegangan. Ia lalu mengambil posisi melingkar dan menutup matanya, tidak lama kemudian nafasnya bergerak berirama.
***
Langit malam yang bersih beserta bulan purnamanya memperkuat para monster malam dan membangunkan beberapa monster lainnya. Tapi Eihab dan para prajuritnya tetap berderap maju menyusuri jalan setapak hutan cedar. Tidak ada seekor monsterpun di dalam hutan itu, tapi Eihab tetao memaksa semua bergerak sampai menemukan kota terdekat walau ia sendiri kelelahan.
***
Terbitnya matahari dan kicauan para burung beberapa jam setelah kepergian Sirrion membangunkan Cezia. Ia mencari-cari Sirrion sebelum menemukan sekantung uang logam emas tidak jauh dari tempatnya duduk. Cezia kembali memeriksa sekitar sebelum mengenakan pakaian Sirrion dibalik jubah yang ia jaga baik-baik. kantung uang yang berat ia ikatkan erat di pinggang dan dengan tertunduk ia berjalan pergi tanpa tujuan.
Cezia bisa menerima keputusan Sirrion untuk meninggalkannya, naga-naga lain mungkin tidak akan menerima keberadaan seorang manusia, seorang musuh. Belum lagi bahaya yang mungkin menunggu di tempat tujuan, dan juga kehadiran Cezia akan memperlambat perjalanan Sirrion.
Cezia tidak memilik tujuan dan ia kembali sendirian. Ia ingin lepas keluar dari kehidupan gadis desa yang dikucilkan, menyedihkan, dan monoton tapi bukan dengan cara seperti ini. Cezia mencuci mukanya dengan air sungai yang jernih dan dingin lalu duduk terdiam disana dan mendesah.
Ia mengamati kedua kancing emas berukiran naga di jubahnya, kancing itu jelas emas asli yang diukir oleh seorang atau seekor ahli dan harganya pasti mahal. Cezia teringat kalau jubah itu sangat berharga bagi Sirrion, mungkin pemberian adiknya. Cezia berpikir untuk mengikatkan jubah itu di sebuah pohon tapi lalu berpikir Sirrion mungkin enggan untuk kembali dan orang lain bisa saja mengambilnya. Dengan tujuan baru, Cezia berjalan ke arah timur, menuju kerajaan para naga.
Cezia menyusuri satu-satunya jalan setapak yang diapit hutan cedar dan sungai yang membesar di selatan. Berjalan lama membuat kaki Cezia pegal dan kaku-kaku sementara perutnya berbunyi menuntut. Cezia bertekad untuk menemui desa atau kota terdekat sebelum beristirahat. Ketika matahari mencapai tahta puncaknya, Cezia menemukan peradaban di depan.
***
Sirrion mulai kembali terbang siang itu, ia menemukan manusia di hutan cedar tapi ia tidak akan membiarkan mereka menemukannya. Sirrion berbelok ke timur laut, menyusuri kaki pegunungan yang tinggi. Di depannya terhampar reruntuhan kuburan yang sepertinya sudah lama ditinggalkan.
Sirrion melayang turun dan mulai melangkah menyusuri perkuburan dengan hati-hati. Ada yang salah dengan pekuburan itu dan instingnya berteriak untuk pergi menghindari tempat itu. Sirrion tidak memiliki pilihan, ia tidak bisa terbang terlalu tinggi dan dipergoki manusia menurutnya lebih berbahaya. Batu-batuan pekuburan itu sudah sangat tua, pos-posnya sudah rubuh, dan patung-patungnya ditumbuhi tanaman rambat.
Ia tercenggang ketika sampai di tengah pekuburan luas itu, lehernya melengkung seperti ular yang siap mematuk dan seluruh ototnya menegang. Di depannya berdiri sebuah kubah kecil yang ia tahu bukan buatan manusia ataupun sejenisnya. Kubah itu dipenuhi dengan lorong menuju bawah tanah dan di puncaknya terletak patung besar gargoyle yang menyeringai mengerikan. Sirrion melihat ke sekitarnya dan menemukan patung-patung gargoyle yang lebih kecil tersebar di pekuburan itu, ada yang duduk di atas nisan, ada pula yang dengan aneh melekat di patung-patung malaikat. Sirrion kembali menatap patung gargoyle di puncak kubah lalu menggeram dan memarken taring-taringnya.
"Akhirnya seekor budak yang kuat," kata patung itu dengan suara non-duniawi yang seperti campuran suara hewan buas dan neraka yang terpendam beribu-ribu tahun lalu. Patung itu mulai pecah dan menampakkan seekor gargoyle sungguhan. Iblis bermuka mirip kelelawar bermata kuning itu menyeringai dengan gigi-gigi kuningnya yang panjang-panjang dan menggerakan telinga kelelawarnya yang bolong-bolong. Ia menggeliatkan tubuh kurusnya yang mirip bentuk tubuh seorang bocah manusia, dan merenggangkan sayap kelelawarnya yang lusuh. Tangan dan kakinya bercakar hitam, tubuhnya berwarna coklat, dan ia memiliki ekor kecil berujung lancip, jelas sama sekali tidak mirip dengan bocah manusia manapun. Gargoyle-gargoyle lainnya juga berubah dari bentuk batu mereka dan mengepung Sirrion.
<Sayangnya kamu tidak mampu membeli budak yang satu ini,> cemooh Sirrion lalu menerjang gargoyle terdekat, menghancurkannya dengan sekali remuk. <Upss.. budak tidak mungkin bekerja pada majikan yang lemah bukan?>
Para gargoyle mundur selangkah tapi pemimpinnya hanya terkekeh lalu mendesiskan perintah dalam bahasa primitif mereka. Para gargoyle menerjang Sirrion dan tanpa ampun diremuk habis oleh sang naga. Tapi gargoyle-gargoyle lain terus bergabung dari sisi-sisi pekuburan terutama dari dalam kubah sementara sang pemimpin duduk terkekeh.
<Hey, kalau mau main yah sama-sama dunk,> Sirrion menubruk kubah, menjatuhkan sang gargoyle besar yang tidak waspada. Gargoyle itu memaki dalam bahasa primitifnya lalu kabur menghindari Sirrion ke jarak aman.
Sirrion tidak mengejar pemimpin Gargoyle, ia berusaha merobohkan kubah itu dengan memukuli pilar-pilarnya sementara para gargoyle terus berusaha mencabik-cabik seluruh tubuhnya. Mengetahui apa yang Sirrion berusaha lakukan, pemimpin gargoyle menjerit mengerikan dan mulai menyumpah-nyumpah, ia ikut menerjang Sirrion tapi kubah itu mulai rubuh. Sirrion merelakan dirinya terus dicabik-cabik untuk menghancurkan pilar terakhir dan merubuhkan kubah itu. Kubah itu runtuh dan menutup semua pintu jalan bawah tanah.
<Ups.. longsor.>
Sirrion mencabik-cabik gargoyle yang tersisa sementara ia mulai mundur menjauhi kuburan itu, tekanan udara jahat di tempat itu membuatnya tidak nyaman. Pemimpin gargoyle sudah kembali mengambil jarak aman lalu mulai menyerang Sirrion dengan bola-bola sihir. Pada akhirnya Sirrion tidak berhasil keluar dari pekuburan itu dan membunuh seluruh gargoyle kecil.
<Tampaknya pasukanmu hancur seperti serangga, pernah dengar istilah kalah level? Giliranmu sekarang, mau break dulu?>
Pemimpin gargoyle meraung marah diikuti Sirrion yang juga meraung lebih keras dan menerjang sang pemimpin.
Share This Thread