Hindari Seks Bebas, 5 Pasang Manula Dinikahkan
Jum'at, 16 Mei 2008 - 07:06 wib
MOJOKERTO - Meski sudah berusia renta, namun sejumlah kakek dan nenek di Panti Werdha Kab Mojokerto tak kehilangan hasrat untuk tetap memiliki pasaNgan hidup di akhir hayatnya.
Siang Kamis kemarin (15/5), sepertinya menjadi hari bersejarah bagi lima pasangan jompo di panti wredha di Desa Brangkal Kecamatan Sooko Mojokerto. Betapa tidak, mereka kini memiliki pendamping hidup baru, setelah sekian lama menjanda dan menduda di tempat penantian akhirnya itu.
Bunyi gamelan mengiringi lima pasangan itu menuju pelaminan. Riuh suara penonton nikah massal seakan menjadi saksi betapa lima pasangan ini menjadi raja sehari, layaknya pengantin yang sama sekali belum pernah menikah. Duduk di kursi pelaminan yang disediakan, wajah mereka tampak berseri-seri. Tak lepas, mereka menebar senyum kepada semua penonton, juga kepada masing-masing pasangan hidupnya itu.
Meski telah berusia senja, namun lima pasangan ini juga ingin diakui pernikahannya di mata hukum. Mereka tetap mengantongi surat nikah sebagaimana pengantin lainnya. Kendati tak lagi bisa membaca dan menulis, namun mereka tetap percaya, jika dalam buku nikah itu, nama pasangan ini ditorehkan.
Tapi, tak semua pengantin ini mengenal dekat pasangannya. Seperti pasangan Siroj dan Tunah ini. Kakek yang sudah berumur 75 tahun itu tak mengenal baik bidadari barunya itu. Bahkan untuk hanya sekedar nama, ia sudah lupa. ''Nggak tahu namanya siapa tadi. Yang penting sehabis ini saya punya istri,'' kata Siroj sesaat setelah dinikahkan dengan Tunah.
Dia mengaku, ingin tetap memiliki istri meski telah berusia renta. Ia menginginkan diakhir hayatnya, ada seorang perempuan yang dengan rela melayaninya, termasuk hasrat kelelakiannya. ''Iya, biasanya saya setiap hari "begituan','' akunya dengan malu-malu sembari menceritakan jika setahun yang lalu, istrinya meninggal dunia di panti jompo itu juga.
Empat pasangan lainnya yakni Sukari - Rupiani, Kustari - Solikah, Suparman - Sri Hastutik dan Kholik - Sri Handayani, keempatnya telah melalui proses pengenalan sebelumnya. Bahkan, salah satu dari pasangan ini adalah teman lama saat masih kecil, dan bertemu di panti jompo ini.
Kepala Kantor Kesejahteraan Sosial (Kankessos) Kabupaten Mojokerto, Yudha Eko Setyohadi mengaku, pihaknya memang sengaja menikahkan lima pasangan ini secara massal. Menurutnya, langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir kejahatan seks di panti jompo.
Menurutnya, dari laporan beberapa pengasuh panti, diketahui telah beberapa kali para kakek-kakek itu memasuki bilik nenek-nenek. Ia khawatir jika hal ini dibiarkan, justru akan menumbuh suburkan seks bebas. Daripada mereka melakukan hubungan seks diluar nikah, kita nikahkan saja sekalian,'' kata Yudha.
Tentunya, pernikahan itu didasari oleh suka-sama suka. Sebelumnya, pihaknya menanykan perihal niat para kakek-kakek itu untuk kembali menikahkan. ''Kami tawari, mereka mau saja. Mereka sering terlihat mesra satu sama lain. Dari pada dosa, mereka minta dinikahkan,'' tukasnya.
Sumber : http://news.okezone.com/index.php/Re...ula-dinikahkan
Umur tua tapi semangat anak muda nie . . .
Share This Thread