buset sampe baca ulang
gara2 da lupa smua
hu hu hu
Printable View
buset sampe baca ulang
gara2 da lupa smua
hu hu hu
wakakkaka iya sori, karena kesibukan jadi ketunda lama bangetQuote:
iya sori gan, jadi ketunda lama banget >_<
btw chapter 16 uda up
Cie update 16, ditunggu perang dimulai :philarious:
wedeh, update nya bagus sih bagus, tp lama nya itu kagak nahan coyy :llaugh:
Spoiler untuk Chapter 17 :
Chapter 17
The Summoner
Taman, malam yang dijanjikan.
Terlihat Alex sedang berdiri bersandar pada tiang lampu taman bersama dengan pedang besar berwarna marun yang berada di sebelahnya. Ia sedang menunggu Luna untuk membicarakan sesuatu dengannya.
Setengah jam telah berlalu. Meski Luna tidak menjanjikan waktunya, Alex tetap merasa resah dan terus menerus melihat jam di tangannya, beruntung pada akhirnya terdengar suara langkah kaki dan suara geretan benda metal yang kadang muncul dan kadang menghilang.
Luna telah tiba, wajahnya terlihat lelah seolah-olah ia terburu-buru datang menemui Alex.
"Tidak apa-apa, kau tidak telat kok"
Celetuk Alex.
"Hah?"
Tanya Luna bingung.
"Hah? apanya yang 'Hah?' tidak usah saking terburu-burunya sampai kelelahan begitu, terlambat sebentar itu biasa.."
Alex menengok ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.
".. ngomong-ngomong.. bocah itu.."
"Dia tidak ikut"
potong Luna.
"Sejak tadi sore Rosie, adikku, dan dua temannya belajar bersama di rumahku. Saat kubilang aku ingin pergi ke sini Rosie ingin ikut denganku, beruntung adikku berhasil memaksanya tetap belajar."
"Hoo... hebat juga adikmu itu.."
"Dan satu lagi"
Sekali lagi Luna memotong.
"Hal itulah yang membuatku lelah"
Ujar Luna tegas.
"Alah, terserahlah"
Jawab Alex tampak malu setelah mengetahuinya.
"Jadi, 'hal penting' apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
Tanya Luna. Mimik wajah Alex sekejap kembali serius.
"Baiklah, begini, pertama-tama kukatakan padamu bahwa semua yang akan kukatakan selanjutnya adalah hal yang jujur dan benar, dan kuharap kau percaya padaku."
"Hmmm... tergantung apa yang akan kau katakan nanti"
"... Luna, aku tidak sedang main-main"
Luna dan Alex terdiam dan saling menatap.
"Baik, kurasa aku bisa mencoba.."
Jawab Luna menyetujui.
"Pertama, kau dalam bahaya besar, seseorang yang sangat kuat tengah mengincarmu"
"Kedua, kami mendapat info bahwa ia telah mengirimkan utusannya, namun saat info itu tiba, tidak ada seorangpun yang mencurigakan. Namun kau tetap harus waspada"
"Ketiga, bocah itu datang dan malah membuka kedoknya sendiri dengan sengaja dia adalah ancaman utama saat ini dan kau harus menjaga jarak dengannya serta jangan terperangkap olehnya."
Alex kembali terdiam.
"Itu saja?"
Tanya Luna.
"Ya"
Jawab Alex tegas.
Tak lama kemudian, Luna mulai berbicara dengan senyum mencibir.
"Begini.. aku punya beberapa pertanyaan tentang hal ini.."
Luna berjalan beberapa langkah melewati Alex, kemudian berbalik badan.
"Pertama, siapa orang yang mengincarku? Apa yang dia inginkan dariku?"
Tanya Luna sambil mengacungkan telunjuknya.
"Kedua, kenapa kau bersikeras bahwa Rosie berbahaya walau kau sendiri sudah membuktikan kemampuannya?"
Tambah Luna sambil mengacungkan kedua jarinya.
"Dan ketiga, siapa yang kau maksud dengan 'kami' ?"
Tutup Luna sambil mengacungkan ketiga jarinya.
Pada awalnya Alex tampak ragu saat hendak menjawab pertanyaan Luna, namun setelah berpikir sejenak, keyakinan mulai timbul dari wajahnya.
"Baiklah.. aku akan mencoba menjawabnya.."
"Hmm hmm"
Sahut Luna mengangguk.
"Pertama, orang yang mengincarmu adalah buronan berbahaya yang telah kami cari sejak lama, nama yang bisa kuberikan padamu adalah 'Oceanus'."
"Lalu apa yang ia inginkan dariku?"
"Entahlah.. kami belum mengetahuinya.. namun yang kami tahu adalah apa yang Oceanus inginkan, pastilah akan berbuah kehancuran, dan kami harus mencegahnya."
"Oke.. lalu?"
"Kedua, Rosie, atau lebih tepatnya, Rosalie Evangeline Lucia Sanchez, adalah.. bisa kau tebak, pembunuh bayaran terbaik saat ini, bahkan melewati 'Venom Shadow' yang sejak hampir 2 tahun lalu menghilang. Dan kini, Rosie, atau 'The Black Rose' mengincarmu, kemungkinan besar Oceanus mengirimnya.. dan sekali diincar olehnya.. maka.."
"Tunggu"
Sela Luna yang tampak terkejut
"Apakah aku pernah bilang nama panjang Rosie? Bagaimana kau tahu?"
"Luna.. mencari nama orang mudah sekali, kita punya internet, lagi pula bocah itu satu sekolah denganku.. walau aku orang biasa tetap saja mudah mencari namanya.."
"Ah.. benar juga.. maaf.."
"Tapi bukan itu alasanku mengetahui siapa dia.. karena.. aku ingat aku pernah bertemu dengannya.. setelah melihatnya menggunakan kekuatan sejenis kontrol tumbuhan itu.. aku pernah bertemu dengannya 11 tahun lalu.. ibunya juga seorang pembunuh bayaran seperti dia.. tapi kemudian menghilang sejak 3 tahun yang lalu dan digantikan olehnya.."
"Aku.. aku tak percaya.. kau lihat sendiri kan ia bahkan tak mampu melawan monster kelas C sekalipun?"
"Luna, kau begitu naif. Ia hanya berakting. Lysiosquilla adalah monster kelas B terkuat yang kumiliki, dan handicap berupa Dark Mist yang kuberikan seharusnya membuat orang biasa buta total, kau sendiri sempat beberapa saat berada di dalam kabut itu bukan?!"
"A-apa?! Monster kelas B?! Rosie bahkan tidak mendapat luka yang berarti setelah menerima serangan telak dari monster itu!"
Seru Luna yang sulit mempercayai kenyataan yang diberikan oleh Alex.
"Aku mengerti sulit mempercayai semua ini.. namun.. kami akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungimu.. bahkan akupun rela mengorbankan nyawaku demi tugas ini"
Ujar Alex sambil tersenyum. Luna hanya bisa menengok dan menatap Alex.
"Oh ya, ketiga, kami adalah.."
Alex menggenggam erat gagang pedangnya, lalu..
"CRAK!! SRAK!!"
Mendadak Alex berputar dan menebas seekor Scarab yang hendak menyerangnya dari belakang hingga terbelah menjadi dua.
"Brengsek, darimana dia datang?!"
"Alex.. monster kumbang itu tidak sendiri.."
Ujar Luna sambil menunjuk kearah segerombolan besar Scarab yang terbang mendatangi mereka.
"Brengsek!! Ayo Luna!"
Ajak Alex sambil berlari menyeret pedangnya.
Alex mulai menerjang dan menyerang segerombolan besar Scarab itu bersama Luna dengan "Kelly" pedang besar miliknya. Mereka bertempur bagai lampu dikelilingi ngengat, jumlah Scarab-Scarab itu begitu banyak hingga Alex dan Luna tidak terlihat lagi diantara kepungan mereka.
Namun..
"DUAR!!"
Terlihat gumpalan api berputar dan membakar hangus Scarab-Scarab itu.
"Brengsek, tak kusangka kecoak macam mereka membuatku terpaksa menggunakan spellcard 'Inferno Swirl'!"
"Alex, mereka datang lagi!"
Tunjuk Luna kepada segerombolan besar lagi Scarab yang berada di kejauhan.
"Oh, ya ampun.. kita harus segera mencari siapa yang memanggil mereka, ayo!"
Alex dan Luna berlari ke arah datangnya Scarab-Scarab itu, sambil menghindari beberapa ekor yang berusaha menyerang mereka.
"Tidak mungkin?!"
"Itu.. adalah.."
Luna dan Alex terkejut
".. sebuah Dark Portal.."
"Alex, kumbang-kumbang ini berasal dari lubang hitam itu!"
"Aku tahu, kita harus segera menyegel lubang itu!"
Mereka berdua terus berlari mendekati sumber malapetaka itu. Scarab-scarab itu berasal dari sebuah Dark Portal yang dibuka oleh seorang Summoner yang tentunya memiliki kemampuan tinggi hingga mampu membuka portal sebesar sebuah mobil itu.
"Aku melihat seseorang!"
Seru Luna sambil menunjuk kepada sosok seseorang diatas sebuah gedung yang berada tepat dibawah portal.
"I-itu... DIA!!"
Tiba-tiba kulit Alex berubah menjadi berwarna hitam, sebuah tanduk muncul dari kepalanya, jemari tangannya kini memiliki kuku tajam yang mengerikan, matanya menyala merah darah dan dari punggungnya muncul sayap seperti kelelawar yang merobek jaketnya.
"BAJINGAAAAAAN!!"
Alex langsung melompat dan terbang menggunakan sayapnya menuju sosok Summoner itu, yang tak lain adalah..
"The Dark Angel"
Dengan sayap agung yang bersinar putih
Mata yang menyala oranye dan berpupil tajam
Sepasang cakar hitam berkuku tajam di ujung lengannya
Kulit obsidian berhiaskan mahkota tanduk di kepalanya
Ia adalah Gwendlyn, The Dark Angel.
Melihat Alex yang berubah mendadak dan tampak sangat marah membuat Luna sangat terkejut. Belum pernah ia melihat Alex semarah itu hingga berubah wujud menjadi seekor half-demon.
"Aura bocah iblis itu.. dia dipenuhi rasa dendam!"
Seru Selene.
"Selene, aku harus meminjam kekuatanmu kau tahu itu?"
Tanya Luna sambil memperhatikan sekelilingnya. Terlihat ratusan bahkan mungkin ribuan Scarab mengepung Luna. Scarab-Scarab itu menyerang Luna secara bersamaan. Tampak Luna tersenyum dan kedua bola matanya telah berubah menjadi merah bersama rambutnya yang kini berwarna perak.
Sementara itu Alex tengah meluncur dengan kecepatan tinggi untuk menyerang Gwendlyn. Namun Gwendlyn menyadarinya. Ia membuka telapak tangannya kearah Alex dan meluncurkan sihir bola api besar kepadanya dimana Alex dengan sigap menyabetnya dengan pedangnya. Namun ternyata setelah pandangannya terhalang sekejap oleh ledakan bola api yang ia tebas, Gwendlyn kini tengah mengacungkan pedang putihnya, Glory kepada Alex seolah menantangnya.
"WOAAAAAAGH!!"
Dengan sekuat tenaga Alex menyabetkan pedangnya pada Gwendlyn, namun berhasil ditangkis.
"TRANG!!"
Percikan api biru muncul dari peraduan pedang mereka.
"TRANG TRANG TRANG CTANG!"
Alex terus menyerang secara bertubi-tubi sementara Gwendlyn hanya menangkisnya dengan elegan sambil melangkah mundur.
"KUBUNUH KAU!!"
Teriak Alex dengan penuh dendam.
"CTING!"
Namun cukup satu sabetan balasan yang kuat dari Gwendlyn membuat Alex terdorong mundur beberapa meter, bersamaan dengan itu Gwendlyn memberikan tendangan yang menyapu kaki Alex hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Sementara Luna telah berhasil menyapu habis Scarab-Scarab yang menyerangnya meski ia agak kelelahan.
"Hosh hosh, akhirnya habis juga, bagaimana Alex?"
Luna tengah melihat Alex yang tengah terdesak.
"Sial! Selene!!"
"Aku mengerti!"
Selene segera mengeluarkan sayapnya yang semi-transparan dan terbang membawa Luna dengan kecepatan yang tinggi kearah Gwendlyn.
Gwendlyn semakin mendekati Alex yang tengah berusaha berdiri kembali, ia mulai mengangkat pedangnya.. tapi..
"HEAAAAAAAA"
"DUAR!!"
Dengan kecepatan tinggi Luna menebaskan "Kelly" alias Exodus, pedang yang merupakan musuh abadi dari Glory hingga menghasilkan efek kejut yang mirip ledakan sonic boom diiringi oleh kilatan api berwarna biru.
Gwendlyn berhasil menahan serangan Luna, ia bahkan tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Matanya menatap Luna dengan mengerikan.
"A-apa?!!"
"Tidak mungkin!!"
Ia mengayunkan Glory dan melemparkan Luna kembali ke udara. Namun saat melihat kembali ke arah Alex sebelumnya, ia sudah tidak berada disana. Gwendlyn melihat keatas, dan benar, Alex sedang melompat dan mengayunkan pedangnya tepat kearahnya.
Sayangnya Gwendlyn menghindar ke samping hingga ayunan pedang Alex malah menembus lantai gedung hingga ke lantai dibawahnya. Namun belum sempat Gwendlyn menyelesaikan langkahnya ternyata Luna tengah mengayunkan pedangnya kearah dirinya.
"TRANG!!"
Meski begitu, Gwendlyn ternyata terlalu cepat untuk Luna. Sekali lagi serangan Luna gagal dan berhasil ditangkis olehnya, meski kali ini Gwendlyn terpental mundur.
"Hosh hosh.. hebat juga kau jelek!"
Ledek Luna sambil terengah-engah.
"Aku tak percaya dia sekuat ini!"
Seru Selene.
"Bagus bukan?"
Ujar Luna mantap dengan senyuman di wajahnya.
"Bocah gila.."
Keluh Selene.
"Terimalah seranganku!"
"HEA HEA HEA HEA HEA"
Luna menyerang bertubi-tubi sementara Gwendlyn masih berada dalam posisi defensif.
"HEA HEA AYO! KENAPA TIDAK MENYERANG BALIK!?"
Gwendlyn tetap bertahan meski Luna terus menyerang sambil memprovokasinya.
Tanpa diduga Alex sudah berada di belakang Gwendlyn dan bersiap menyerang. Kali ini dapat dipastikan Gwendlyn takkan lagi bisa bertahan dari serangan dua arah Alex dan Luna.
Nyatanya..
"TRANG!!"
Tak diduga Gwendlyn merunduk tepat saat Alex menyerangnya, sehingga pedang mereka bertiga beradu. Ia kemudian menendang Alex tepat di perutnya hingga Alex terpental ke tembok gedung, sementara ia kembali mengayunkan Glory yang masih menempel dengan Exodus membuat Luna terdorong mundur.
"Hahaha.. ini baru seru.."
Tawa Luna sambil tersenyum gembira.
"Uhuk uhuk"
"Luna, kurasa kamu sudah pada batasmu"
Ujar Selene memberitahu.
"Berisik, ini pertarungan yang akan kumenangkan!"
Seru Luna tanpa memikirkan akibat yang pernah ia alami.
Alex bangkit kembali dan mulai menyerang Gwendlyn, sementara mengikuti Alex, Luna menyerang dari sisi yang berlawanan.
"HEA HEA HEA HEA"
"HUAAAAAAAAAGH"
"TRANG TRANG TRANG TRANG TRANG"
Alex dan Luna menyerang The Dark Angel bertubi-tubi.
Meski mereka berdua menggabungkan kekuatannya, Gwendlyn masih tetap dapat bertahan tanpa terluka sedikitpun. Walaupun begitu, ia tampak mulai kelelahan menghadapi mereka berdua. Terlihat dari nafasnya yang mulai terengah-engah meski sulit terdengar.
"HEAAAAAAAAAA!!"
"HUAAAAAAAAAAAAGH!!!"
Kedua kalinya Alex dan Luna menyerang secara bersamaan. Namun kali ini Gwendlyn tampak tidak ingin menahan diri lagi, ia mengayunkan pedangnya dengan sangat kuat kearah Alex hingga meninggalkan bayangan biru. Hebatnya, dari satu ayunan itu Alex merasakan 5 serangan menghantam pedangnya, hingga dentuman terakhir membuat pedangnya tak kuasa lagi menahan kekuatan dari Glory.
"CRAK!!"
Pedang Alex remuk dan hancur setelah menerima serangan aneh Gwendlyn. Ia terpental jauh hingga menghancurkan tembok pengaman atap gedung itu. Alex terkulai lemah dan kembali ke wujud manusia.
"Kau lengah!!"
Luna menusukkan pedangnya kepada Gwendlyn, namun Gwendlyn menghindarinya dengan berputar sambil mengayunkan pedangnya yang meninggalkan bayangan biru.
"SIAL!!"
Beruntung Luna berhasil menangkis serangannya dengan mengangkat pedangnya dan menahannya dengan pangkal pedang.
Namun kembali terasa 5 serangan menghantam Luna yang ia tahan dengan Exodus. Dentuman terakhir membuat Luna terpental beberapa meter. Gwendlyn berjalan mendekatinya.
"Uhuk-uhuk, brengsek!"
Tiba-tiba, sebuah rune sihir muncul dan membuat semacam barrier di sekitar Luna dan Alex. Lalu muncul beberapa buah rune di udara dan menyala hijau.
"DUAR DUAR DUAR"
Rune-rune yang menyala itu kemudian menembakkan sejenis energi sihir kepada Gwendlyn yang terpaksa melompat menghindarinya. Disaat itulah muncul sebuah sosok berbalutkan jubah panjang berwarna ungu gelap yang juga bertudung. Sosok itu mengenakan sebuah topeng berbentuk rubah berwarna putih dengan aksen hitam. Sosok itu muncul di depan Luna, diantara dirinya dengan Gwendlyn.
"Ku-Kumiho.."
Ujar Alex lemah.
"Inkompeten"
Ujar sosok itu sambil memunculkan ratusan rune di udara.
Sebelum rune-rune itu sempat menyala dan menembakkan energi sihir, Gwendlyn terbang dan pergi dari tempat itu.
"Si-siapa kau?"
Tanya Luna curiga.
Namun ia tidak menjawabnya dan malah menggunakan sihir mengangkat Alex yang tengah berada di dalam barrier yang ia buat.
"Hei! Siapa kau!? Apa yang akan kau lakukan pada Alex?!"
Mendengar Luna, sosok itu hanya menengok dan berkata :
"Pulanglah"
Sosok itu pun pergi entah kemana sambil membawa Alex. Luna sudah terlalu lelah untuk mengejarnya, rambutnya kembali berwarna coklat keperakan, matanya kembali berwarna biru dan merah. Luna hanya bisa beristirahat sejenak disana hingga kekuatannya pulih kembali untuk pulang. Meski begitu, ia melihat suatu lambang yang familiar di kancing jubah sosok tersebut, sebuah lambang yang dapat mengantarkannya menuju sosok tersebut.
Spoiler untuk Chapter 18 :
Chapter 18
Another Question
Sudah beberapa hari sejak pertarungan Luna dan Alex dengan The Dark Angel. Pertanyaan demi pertanyaan semakin bertambah di benak Luna, apa yang Oceanus inginkan darinya? Siapakah 'kami' yang dimaksud Alex? Apakah Rosie benar-benar seorang pembunuh bayaran legendaris? Sekarang ditambah dengan apa sebenarnya hubungan Alex dengan The Dark Angel? Mengapa ia begitu dendam kepadanya? Siapa sebenarnya The Dark Angel? Lalu.. siapa sebenarnya sosok bertopeng rubah yang membawa Alex dan kemana dia membawanya?
Alex belum juga tampak masuk sekolah sejak kejadian itu. Para guru bilang ia bilang ia sedang sakit, namun mereka tidak tahu ia dirawat dimana. Meski begitu Luna berhasil mendapatkan alamat rumahnya, walaupun begitu saat ia mengunjunginya yang ada hanyalah rumah yang kosong.
Hari ini sudah hari kelima ia belum mendapatkan kabar Alex. Luna ingin mencari tahu dimana dia sebenarnya dan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitarnya.
Bel istirahat siang berbunyi bersamaan dengan keluarnya Bu Elisa yang dari tadi tampak sangat bahagia tanpa sebab yang murid-murid ketahui. Ia bahkan tidak memberi pekerjaan rumah.
Luna tampak terburu-buru keluar dari kelas tanpa menunggu Liana. Ia terus berlari menuju ruang kelas Alex, berharap ia bisa bertemu dengannya jika ia telah masuk sekolah. Sesampainya disana, ia melihat menyusuri seisi kelas, namun nihil. Ia tidak dapat menemukan Alex disana. Seorang kakak kelas melihatnya dirinya yang tengah mengintip di depan kelas dengan hanya sebelah wajahnya yang terlihat.
"Halo, mencari siapa ya?"
Tanya kakak kelas itu.
"A-ah, apakah Al.. Kak Alex ada?"
"Alex tidak masuk hari ini, katanya sih sakit, memangnya ada.."
"Terima kasih!"
Sela Luna menyudahi pembicaraan mereka dan segera menarik wajahnya dari balik pintu kelas.
"Fuh..."
Ia menghela nafasnya.
"Sedang apa disini?"
Luna terkejut, tiba-tiba Liana telah berada di belakang dirinya.
"Ti-tidak ada apa-apa.. er.. yuk kita ke kantin!"
Ajak Luna berusaha mengalihkan perhatian Liana sambil berjalan kearah kantin.
"Hmm..."
Liana tersenyum.
"Sedang mencari Alex ya?"
Luna menghentikan langkahnya. Ia terkejut mendengar pertanyaan Liana yang tepat sasaran.
"Ba-bagaimana kau tahu?!"
"Hmmm.. tadi kan aku dengar kau bertanya pada kakak kelas di dalam?"
Ujar Liana sambil menahan dagu dengan jari telunjuknya.
"Memangnya kau kenal Alex? Kau bahkan tidak memanggilnya dengan sebutan 'kakak' ?"
"Hahaha, tentu saja.. aku kan sepupunya!"
Jelas Liana sambil tersenyum polos, tentu saja hal ini semakin membuat Luna terkejut.
"Ja-jadi kau sepupunya?!? Lalu apa kau tahu dimana dia sekarang??"
"Tentu saja, kau mau menjenguknya?"
"A-aku boleh menjenguknya?"
"Lho, tentu saja, memangnya kenapa?"
Tanya Liana polos.
"Tidak apa-apa.. baiklah.. bisa hari ini kita kesana?"
Tanya Luna balik.
"Boleh.. kalau begitu sepulang sekolah kita langsung kesana ya!"
Seru Liana terlihat gembira.
Tidak disangka, bagaikan mukjizat tiba-tiba Luna langsung dapat menemukan informasi tentang keberadaan Alex yang bahkan tak diketahui oleh Guru-guru maupun teman-temannya. Dan lebih mengejutkannya lagi Luna mendapat informasi ini dari Liana, seorang murid baru yang mengaku sebagai sepupu Alex. Luna pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk mencari tahu segalanya.
Waktu pulang sekolah telah tiba. Di kelas, Luna dan Liana tengah bersiap-siap merapikan tasnya.
"Baiklah, ayo kita pergi!"
Ajak Luna yang telah selesai memasukkan buku-buku kedalam tasnya.
"Memangnya kalian mau kemana?"
Tanya William yang tampaknya mendengar Luna.
"Tidak kemana-mana, baiklah ayo kita pergi Luna!"
Ujar Liana yang secara sengaja mendorong Luna agar bergegas dari sana tanpa Luna sempat menjawab pertanyaan William.
Didepan sekolah.
"Aduh Liana, kenapa harus buru-buru begini?"
Tanya Luna yang merasa terganggu dengan dorongan Liana.
"Karena busnya akan pergi sebentar lagi, dan baru ada lagi jam 7 malam!"
"Oh ya?! Ayo kita harus buru-buru!"
Kini giliran Luna yang menarik Liana berlari.
Akhirnya mereka tiba di perhentian bus, namun tampaknya mereka terlambat 3 menit dari jadwal.
"Ah, sial! Bagaimana ini!?"
Keluh Luna kesal.
"Hosh hosh.. tenang saja.. bila terlewat bus kita bisa naik.."
'Taxi'
"Hei hei, kau yakin kita harus naik taxi?"
Tanya Luna terlihat khawatir.
"Ya? Memangnya kenapa?"
Liana bertanya balik dengan polos.
"Er.. begini.. uang jajanku.. sedikit kurang.. jadi.."
"Masalah itu tenang saja, biar aku yang bayar!"
"Tapi.. aku jadi merasa tidak enak.."
"Sudahlah, tenang saja.. kita kan teman!"
Seru Liana sambil tersenyum lembut pada Luna. Melihatnya, Luna hanya bisa setuju.
"Baiklah..."
Dan memberinya senyuman balik.
Taxi pun berhenti di depan sebuah Rumah Sakit, tepatnya Western Eckhart Hills General Hospital yang berada di wilayah Western Eckhart Hills, sebuah daerah dipinggir kota New Hampshire.
"Kita sudah sampai Nona-Nona!"
Ujar sang Supir.
Mendengarnya, Liana segera mengeluarkan dompetnya. Luna dapat melihat betapa tebal isi dompet Liana, bahkan isinya melebihi uang jajan Luna selama 3 bulan penuh. Namun Luna tidak berani bertanya, ia hanya bisa berasumsi bahwa Liana adalah orang kaya.
Merekapun segera turun dari taxi dan berdiri di depan pintu gerbang RS.
"Jadi.. Alex dirawat disini.."
Ucap Luna.
"Betul, sudah hari keempat sejak ia dirawat, tapi baru hari ini aku menjenguknya"
Jawab Liana
"Yuk, kita segera masuk!"
Tambah Liana.
Mereka pun segera berjalan memasuki rumah sakit yang cukup besar itu. Melalui taman yang sangat indah dan luas, kemudian memasuki lobby yang cukup mewah dengan lantai marmer. Tanpa bertanya pada perawat di resepsi, Liana berjalan begitu saja seolah ia sudah mengetahui dimana Alex berada. Lorong demi lorong mereka lewati, hingga sampai di depan pintu bertuliskan "Dilarang Masuk Kecuali Petugas". Meski begitu, Liana masuk begitu saja tanpa memperdulikan peringatan itu. Luna hanya bisa mengikutinya tanpa bisa bertanya.
"Luna.. tempat ini aneh?"
Tanya Selene mendadak.
"Ada apa??"
"Aura tempat ini sangat aneh.. seperti bukan berada di bumi.."
Tambah Selene.
"Hah? Jangan aneh-aneh, aku tidak merasakan ada yang aneh kok!"
Ujar Luna.
"Jelas saja.. kau kan tidak bisa merasakan aura.."
Gerutu Selene.
Beberapa langkah kemudian, terlihat seorang perawat yang berjaga di resepsi depan. Aneh, ia hanya melontarkan senyuman kepada Liana.
"Hai, apa kabar?"
Sapa Liana pada perawat itu.
"Halo.. sudah saya tidak melihatmu.. oh, siapa itu?"
Tanya perawat itu.
"Oh.. tidak apa-apa.. ia teman baruku!"
Jawab Liana enteng.
"Begitu... baiklah.. kau tahu dia dimana kan?"
"Aku tahu, aku tahu.."
Jawab Liana lagi.
Luna semakin heran dan bingung, kini ia tidak dapat menahan diri lagi untuk bertanya.
"Er.. kau kenal perawat itu?"
"Begitulah"
Jawab Liana
"Sepertinya kau hafal rumah sakit ini? Apa kau pernah dirawat disini??"
Tanya Luna lagi.
"Begitulah"
Jawab Liana untuk yang kedua kalinya.
"Bagaimana kau tahu Alex ada di ruangan yang mana?"
Kali ini Liana menengok dan tersenyum kepada Luna
"Begitulah!"
Ujarnya sekali lagi.
Sebelum Luna sempat bertanya lagi, Liana menghentikan langkahnya dan membuka pintu salah satu ruangan.
"Nah, disini dia dirawat"
Jelasnya kemudian memasuki ruangan.
"Hai Alex!"
Serunya pada Alex yang terlihat sedang berbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Untuk apa kau datang kesini?"
Tanya Alex ketus.
"Jangan galak begitu.., aku membawa seseorang lho! Tebak siapa??"
Luna ikut memasuki ruangan, Alex tampak sangat terkejut melihatnya berada disana bersama dengan Liana.
"Luna?!?"
Ujar Alex terkejut dengan kehadiran Luna.
"Alex!"
Seru Luna yang juga terkejut pada akhirnya ia dapat menemukan Alex.
"Bagaimana kau-"
"Kupikir kau mati!!"
Sela Luna berseru.
"Mati?? Aku??"
Tanya Alex bingung.
"Tentu saja! Sudah berapa hari kau tanpa kabar! Bahkan saat aku mengunjungi rumahmu malah rumah kosong yang kutemukan! Kukira kau mati atau hilang!"
"Hahaha! Kalau aku mati, pasti telah kukirimkan undangannya!"
"Bodoh, jangan bercanda yang aneh-aneh!"
Gerutu Luna jengkel.
"Lalu kenapa rumahmu kosong?!?"
Tanya Luna
"Er.. ya.. tentu saja, karena aku baru pindah rumah! Ya, baru saja pindah!"
"Pindah? Kau kan di rumah sakit?"
"Maksudku sejak seminggu yang lalu"
"Tanpa memberitahukan ke pihak sekolah?"
Tanya Luna tampak mendesak Alex.
"Ya.. aku belum sempat memberitahu, habisnya aku masih harus memindahkan perabotan sih!"
"Hmmm... begitu..."
"Ya!"
Seru Alex mengiyakan.
"Lalu.. bagaimana ceritanya kau bisa kesini bersama Liana?"
Kini giliran Alex bertanya.
"Er.. saat aku mencarimu di kelasmu, aku bertemu dengan sepupumu ini dan dia bilang dia tahu dimana kau dirawat.. kenapa kau tidak bilang kalau punya sepupu yang sekolah di Everwoods High juga?"
"Sepupu.."
Alex melirik kepada Liana yang hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ya.. sepupu bodohku ini bagaikan sebuah aib, jadi tidak perlu kuceritakan lagi!"
Jelas Alex seperti sengaja meledek Liana sambil tersenyum puas melirik Liana.
"Jahat sekali, gadis sebaik Liana kau bilang aib!!"
Luna kesal mendengar Liana diolok-olok Alex.
"Huh, kau belum tahu saja aslinya dia seperti apa.."
Ujar Alex sambil bersandar kembali dan menggunakan kedua tangannya sebagai sandaran kepala.
"Jangan dengarkan dia Luna"
Celetuk Liana mempertahankan diri tanpa menghentikan senyumnya.
"Tenang saja, aku percaya padamu!"
Jawab Luna yakin. Alex hanya bisa tertawa kecil.
Luna sebenarnya ingin bertanya berbagai macam hal tentang kejadian demi kejadian yang telah ia lewati kepada Alex, namun keberadaan Liana disana membuatnya menahan keinginannya. Saat tak sengaja Luna melihat jam dinding yang tergantung di dinding di depan ranjang, terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Sebenarnya aku masih ingin berbicara denganmu, namun.. kupikir sudah waktunya aku pulang.."
"Oke, hati-hati dijalan.."
Ujar Alex pada Luna.
"Kapan kau keluar dari sini?"
Tanya Luna.
"Hmmm.. kira-kira 3 hari lagi.."
"Ok.. kalau begitu aku pulang dulu.."
"Baiklah.. kurasa aku.."
Liana menahan kalimatnya melihat Alex melirik dengan kesal padanya.
".. harus tinggal sebentar lagi, jadi.. akan kuantar sampai lobby saja ya?"
"Baik.. tidak apa-apa.."
Jawab Luna.
Mereka pun keluar dari ruangan Alex dan berjalan kembali melalui lorong.
"Sudah selesai menjenguknya?"
Tanya perawat tadi yang berada di resepi depan.
"Ya.. begitulah.. bisa langsung ke lobby?"
Liana mengajukan pertanyaan kepada perawat itu tanpa bisa dimengerti maksudnya oleh Luna.
"Tentu, silakan saja.. hati-hati ya dijalan!"
Ujar perawat itu ramah.
Saat mereka membuka pintu dengan papan peringatan tadi, Luna terheran-heran. Mereka langsung berada di lobby depan, tidak berada di tempat mereka masuk tadi yang melalui lorong-lorong rumit.
"Nah, sampai disini saja ya?"
Tanya Liana.
"Er.. ya.. baiklah"
Masih terheran-heran Luna menjawab.
"Oh ya, di depan ada perhentian bus, kalau kau ingin kembali ke Everwoods tinggal naik bus yang datang saja, sampai perhentian ketiga turunlah.. tapi.. meski tak kuberi tahu aku yakin kau bisa pulang sendiri dengan cepat.."
Kata-kata terakhir Liana begitu misterius hingga Luna tak mengerti apa yang dia maksudkan, namun Selene tampak mengerti apa yang ia maksud.
"Ok, aku mengerti.. Sampai jumpa besok ya"
"Ya, sampai jumpa.. daag!"
Jawab Liana tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Luna yang berjalan keluar dari gedung RS.
Setelah Luna tak terlihat lagi, Liana berjalan kembali masuk ke dalam pintu itu. Perawat tadi sepertinya heran kepadanya.
"Lho, kau kembali lagi?"
Tanyanya pada Liana.
"Yaaa.. begitulah.. kau tahu bagaimana Bael pada peraturan.. kurasa ada yang ingin ia sampaikan padaku.. hahaha"
Jawab Liana enteng.
"Hahaha.. betul juga.. kupikir jarang sekali aku melihat orang luar kesini.."
"Baiklah, aku kesana dulu!"
Ujar Liana berjalan menuju ruangan Alex.
Pintu terbuka, Liana tampak memasuki ruangan dengan Alex sudah menunggunya dengan memasang wajah kesal.
"Bagaimana, kau senang dia datang menjengukmu?"
Tanya Liana sambil tersenyum, namun nadanya terdengar meledek.
"Kau gila! Apa yang kau pikirkan membawa orang luar kemari tanpa persetujuan apapun! Kau tahu itu melanggar peraturan kan?!"
Hardik Alex.
"Peraturan lagi, peraturan lagi.. kau terlalu kaku Bael.."
Ujar Liana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sekarang bagaimana keadaanmu sudah sehat?"
"Jangan meledek ya, kalau sudah sehat tentu saja aku tidak akan ada disini!"
Jawab Alex jengkel.
"Jangan marah begitu, aku kan hanya bertanya.., oh ya, kenapa tadi kau berbohong padanya??"
"Aku terpaksa.. ia pasti mengetahui alamat itu dari guru-guru yang tentu saja memberi tahu dia bahwa aku tinggal bersama keluargaku disana.."
"Hahaha.. begitu naif dirimu.. kurasa ia tahu kau berbohong padanya. Apa kau tidak bisa berbohong lebih baik lagi?"
"Sudahlah jangan banyak bicara, sekarang sana, gantian kau yang menjaga dia"
Ujar Alex sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Oooh, tenang saja.. aku rasa sekarang didepan dia sudah bertemu seseorang yang akan menggantikan tugasku sampai besok.."
"Apa maksudmu? Kupikir hanya kita berdua yang ditugaskan?"
Tanya Alex bingung.
"Hehehe.. ra-ha-sia"
Jawab Liana meledek.
Sementara itu di depan RS, Luna sedang berdiri menunggu bus yang datang. Ia tak habis pikir, setelah satu pertanyaan terjawab, pertanyaan lain muncul menggantikannya. Ia bingung kenapa Alex berbohong kepadanya. Saat mengunjungi rumah Alex, ia melihat semua perabotan di dalam rumah itu masih tertata dengan rapi. Bahkan tidak tampak berdebu sedikitpun. Ia memang masih heran mengapa rumah itu kosong walau Ia tahu Alex memiliki seorang adik, yaitu Alexey, yang setelah sebelumnya Luna ikuti ia pulang kerumah yang berbeda dengan Alex dengan seorang bibi yang tengah menyapu di depan rumah menyambutnya dengan ramah seakan ia adalah ibu darinya. Menurut seorang Guru yang memberinya alamat Alex dan Alexey, ia bilang alasan mengapa alamat Alex dan Alexey berbeda adalah karena orang tua mereka sudah bercerai. Namun hal itu bertentangan dengan kata-kata Alexey saat Luna pertama kali bertemu dengannya.
"“Kamulah yang membunuh Ayahku dan membantai seluruh klan-ku!!”.
Hal ini tetap menjadi misteri bagi Luna, lalu mengapa Alex harus berbohong padanya? Apakah Ia menyembunyikan sesuatu darinya? Disaat Luna tengah berpikir keras terdengar suara yang familiar menyapanya.
"Luna?"
Saat Luna menengok, ternyata.. suara itu berasal dari William.
"Wi-William? Sedang apa kau disini?"
Tanya Luna heran.
"Lho, justru itu yang ingin kutanyakan padamu, bisa-bisanya kita bertemu disini.. apa kau dari RS itu?"
"Ya.. begitulah.. aku baru saja menjenguk seorang teman.."
"Hoo.. lalu dimana Liana? Sudah pulang?"
"Oh, kurasa Liana masih menjenguknya disana.."
"Begitu.. jadi benar selama ini ada disini.."
Gumam William berbisik.
"Maaf?"
"Oh tidak, tidak apa-apa"
"Oh ya, lalu sedang apa kau disini?"
Tanya Luna.
"Oh.. kalau aku sih..baru saja melawat makam seseorang.."
"Oh ya? Makam siapa?"
"Ah.. tidak.. hanya seseorang yang pernah kuanggap sebagai ibuku sendiri.. sejak kedua orang tuaku meninggal, ia yang merawatku, hingga ia meninggal 3 tahun lalu.."
Tatapan William tampak sedih saat ia menceritakannya, namun ia sadar Luna tengah memperhatikannya
"Ah, kenapa aku jadi curhat begini? Maaf ya kau harus mendengarnya.."
Ujarnya.
"Tidak, tidak apa-apa, aku tidak keberatan"
Jawab Luna.
Hanya tersenyum William mendengarnya.
"Terima kasih ya"
Ujarnya.
Tampak sebuah bus datang dari kejauhan, bus itulah yang tengah ditunggu Luna.
"Ah, busnya sudah datang, kau ikut?"
"Yep, tentu saja"
"Ok, ayo kita pulang".
William dan Luna pun pulang bersama dengan bus itu. Bahkan William mengantar Luna hingga kedepan rumahnya. Mungkinkah William adalah orang ketiga yang dimaksud oleh Liana?
Spoiler untuk Chapter 19 :
Chapter 19
Rain Of Truth
Minggu, 2 hari setelah Luna pergi menjenguk Alex bersama Liana.
Siang itu terasa begitu panas berkat teriknya matahari sejak tadi pagi. Langit biru tanpa awan pun menghiasi langit kota New Hampshire.
“Ting tong!”
Suara bel rumah Luna berbunyi.
“Ting tong!”
Sekali lagi bel berbunyi, namun belum ada seorangpun dari penghuni rumah yang membukakan pintu.
“Ting tong!”
“Lunaaaaa! Tolong lihat siapa itu!!”
Terdengar suara teriakan LunaMaria menyuruh anaknya yang tengah bermalas-malasan di depan TV.
“Memangnya Maria tidak ada?!”
Balas Luna bertanya juga dengan suara yang lantang.
“Maria kan sedang ada kegiatan klub! Dari pagi dia sudah pergi!”
Jawab LunaMaria.
“Kenapa tidak Mama saja?!”
“Mama sedang bersiap-siap ke tempat kursus! Bukakan sana!!”
Balas membalas dengan teriakan dari jarak jauh antara Maria dan Ibunya selalu terjadi jika membahas siapa yang harus membukakan pintu depan, tidak terkecuali hari ini.
“Aaaakh, ya ya, aku bukakan deh!”
Keluh Luna sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan.
“Ting tong!”
Sekali lagi bel berbunyi.
“Ya ya, aku tidak tuli! Siapa sih?!”
“Brak!”
Gerutu Luna kesal sambil membuka pintu dengan keras.
“??”
Ternyata, tamu mereka hari itu adalah, seorang anak kecil kira-kira berumur 12-13 tahun, dengan rambut keemasan yang bergelombang, bermata biru jernih, dan mengenakan gaun putih berenda bersama dengan topi anyaman yang cukup besar berpita putih menutupi kepalanya.
--
Beberapa hari sebelumnya, atap gedung setelah pertarungan dengan The Dark Angel..
Luna yang tengah beristirahat mulai terlelap.
Selene yang sejak tadi mendengar percakapan Luna dan Alex yang menyebut-nyebut nama sesosok manusia yang berbahaya, Oceanus, merasa Ia harus melakukan sesuatu.
“Seharusnya aku tidak boleh melakukan ini, tapi apa boleh buat..”
Segera setelah Luna terlelap penuh Ia segera menggantikannya.
Warna rambut Luna kembali berubah keperakan bersama dengan matanya yang keduanya kembali berwarna merah, tak lupa sayap putih semi-transparan muncul dari punggungnya.
Selene membawa Luna terbang dengan tubuhnya sendiri, hingga mereka tiba pada tempat tujuan. Kembali ke rumah.
Namun sesampainya di rumah dengan mendarat di beranda kamar Luna, bukannya menuju kasur Selene malah berjalan menuju pintu kamar. Ia keluar dari kamar, berjalan menyusuri lorong, kemudian berdiri di depan pintu sebuah kamar dan memasukinya.
“LunaMaria..”
Panggilnya.
“LunaMaria!”
LunaMaria yang tengah tertidur menjadi terkejut dan terbangun mendengar suara Selene yang sudah berdiri di depannya.
“L-Lun-Selene?”
Ujarnya terbata-bata sambil mengoreksi pertanyaannya setelah melihat penampilan Luna.
“Ada apa LunaMaria?”
Tanya David yang juga terbangun.
“Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan kalian.. dan ini sangat penting.. Aku harus cepat sebelum Luna menyadari aku telah lancang mengambil alih tubuhnya”
“Baik.. mari kita bicarakan di ruang keluarga..”
Mereka bertiga pun segera menuju ruang keluarga dan duduk diatas sofa di depan TV.
“Lalu.. ada apa Selene?”
Tanya David.
“Ya, tidak biasanya kau melakukan ini? Ada apa?”
Tambah LunaMaria penuh selidik.
“Begini.. Luna kini.. sedang dalam bahaya besar..”
“Bahaya?”
Tanya David lagi.
“Ya.. Oceanus.. dia kembali.. dan dia kini mengincar Luna..”
“!!!”
Baik LunaMaria maupun David terkejut mendengar nama itu kembali muncul dalam hidup mereka. Mereka mengira takkan pernah lagi harus mendengar nama mahluk terkutuk itu.
“Tapi-tapi.. mengapa dia mengincar Luna?”
Tanya LunaMaria khawatir.
“Aku tidak tahu, tapi kita tahu apa yang Oceanus inginkan pasti tak akan berakibat baik..”
“Darimana kau tahu dia mengincar-“
Tanya David, namun belum sempat ia menyelesaikan pertanyaannya Selene menyelanya.
“Sial Luna mulai terbangun, aku harus menyudahi percakapan ini, pokoknya kalian harus menghubungi ASASIN”
Ujar Selene sambil berlari menuju kamar Luna dan langsung melemparkan dirinya ke ranjang. Beruntung Luna terbangun tepat setelah ia berada diatas ranjangnya.
“Ini.. dirumah?”
Ujar Luna kebingungan.
Sementara di ruang keluarga..
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Tanya LunaMaria.
“Tentu saja.. kita harus menghubungi ASASIN..”
Jawab David.
--
Anak itu tampak memperhatikan Luna, yang juga tampak memperhatikan dirinya.
“LunaMaria..”
Ujar anak itu dengan suara pelan seakan ia tak sengaja mengatakannya.
“?? Mencari Ibuku?”
Tanya Luna ketus.
“!!!”
Selene sepertinya terkejut, namun ia tidak mengatakan apa-apa pada Luna.
“Sebentar ya..”
Luna mundur beberapa langkah dan menengok kebelakang, lalu berteriak
“Maaaaaaa!! Ada anak aneh dengan topi anyaman mencari Mama!! Mama kenal?!”
“Apa?! Yang benar?! Rambutnya warna emas?”
Mendengarnya Luna menengok kembali, melihat anak itu dan memiringkan kepalanya berusaha melihat warna rambut anak itu. Ia kemudian menengok kembali.
“Iya! Bergelombang dan berwarna emas!”
“HAH?! Sebentar Mama kesana!”
Terdengar suara langkah kaki yang cepat dari dalam rumah, LunaMaria terlihat terburu-buru menuju pintu depan.
“AH!! BENAR!!”
LunaMaria tampak terkejut dengan wajah yang terlihat gembira melihat kedatangan tamunya itu.
“Kukira anda akan datang besok?!”
“Ya.. kebetulan aku ada urusan di dekat sini..”
Ia tampak memperhatikan LunaMaria..
“Kau tampak tidak banyak berubah LunaMaria..”
Ujar anak itu tenang dengan ujung bibir yang menunjukkan senyuman yang ditahan.
“Hahaha.. bisa saja.. ayo silakan masuk! Diluar panas kan?”
LunaMaria mempersilakan masuk anak itu dengan sopannya, sementara Luna hanya bisa terheran-heran melihat perlakuan Ibunya pada tamu mereka yang hanya seorang anak kecil itu.
Anak itu pun segera masuk ke dalam rumah mengikuti LunaMaria yang mempersilakannya masuk dan duduk di sofa di ruang keluarga.
“Luna! Sana kamu buatkan minum!”
“B-baik Ma!”
Luna yang tampak bingung menuruti kata-kata Ibunya tanpa banyak bertanya, ia segera menuju dapur dan membuatkan minuman dingin untuk tamu mereka tersebut.
“Aneh.. anak siapa sih itu kok Mama sampai sehormat itu??”
Tanya Luna pada dirinya sendiri.
“Lalu kenapa aku jadi mau-maunya membuatkan minuman untuknya?!!?”
Keluhnya menyadari bahwa ia melakukannya tanpa sadar dan menaruh kembali botol sirup yang berada di tangannya.
“...”
Luna tampak berpikir sejenak
“Selene, kau kenal dia?”
“... begitulah..”
Jawab Selene tak pasti.
“Kau kenal ya?!?! Beritahu aku dong siapa dia!”
“Tidak mau..”
Jawab Selene ketus.
“Aaaaah, ayo dong! Siapa dia?!”
Tanya Luna lagi.
“....”
Namun Selene hanya diam saja.
“Siapa dia siapa dia siapa dia siapa dia siapa dia siapa dia siapa dia si-“
Tanya Luna berulang-ulang tanpa henti memaksa Selene memberitahunya.
“Oke! Oke! Tapi hentikan perbuatanmu! Menjengkelkan tahu!”
“Horeee! Lalu, siapa dia?”
“Dia adalah Head General Mnemosyne, dia adalah bos Ibumu sewaktu masih bekerja dengannya”
“Haaa? Anak kecil itu? Kalau mau bohong yang masuk akal ya?!”
Ujar Luna sinis
“Aku serius, meski terlihat seperti anak kecil tapi sebenarnya umurnya ratusan tahun!”
“Ya ya ya, aku percaya..”
Luna tampak tetap tidak percaya sambil melanjutkan membuat minuman.
“Yasudah kalau tidak percaya..”
Gerutu Selene kesal.
“Miiiinumaaan dataaang”
Ujar Luna sambil terlihat membawakan minuman dengan malas-malasan. Sementara LunaMaria hanya bisa merengut melihat ketidak-sopanan anaknya itu. Namun anak itu hanya tersenyum kecil melihatnya.
“Dia mirip suamimu ya..”
Katanya dengan nada meledek.
“Hahaha.. menurut anda begitu ya..”
Luna terlihat berdiri bersandar pada dinding di dekat pintu sambil memperhatikan tamu mereka itu, ia tampak ingin mencari tahu sendiri siapa sebenarnya anak itu. Meski sambil memasang wajah tidak mengenakkan.
“Oh ya, apa harus kupanggilkan David?”
LunaMaria tampak mengeluarkan ponselnya dan akan menelepon David.
“Tidak, tidak perlu, dia sedang bekerja bukan?”
Tanya anak itu menahan LunaMaria.
“Ya..”
“Biarlah dia bekerja dengan tenang, lagipula Ia memiliki pekerjaan dengan tanggung jawab besar kan?”
“Baiklah kalau begitu..”
LunaMaria menaruh ponselnya keatas meja.
“Tentu saja.. Ayahku kan pemadam kebakaran..”
Gumam Luna namun dengan suara yang seperti sengaja dikeraskan.
“Er.. apa perlu kusuruh Luna keluar dulu sebelum kita memulai pembicaraan ini?”
Tanya LunaMaria pada anak itu.
“Tidak, tidak perlu, kurasa sudah saatnya ia mengetahui apa yang tengah terjadi..”
“!?”
Luna mulai tampak tertarik dengan apa yang akan Ibunya bicarakan.
Anak itu menengok kepada Luna
“Kalau kamu ingin ikut mendengar, silakan ikut duduk saja”
Ujarnya sambil tersenyum.
“Oke..”
Jawab Luna pelan kemudian berjalan menuju sofa yang berada di hadapan mereka dan duduk disana.
“Baiklah.. seperti yang kau katakan padaku LunaMaria, kau benar, Oceanus memang mengincar Luna, kami rasa karena Selene yang berada di dalam dirinya dan keunikannya dalam mengontrol kekuatannya-“
“Sebentar!”
Luna tampak terkejut anak itu mengetahui Selene berada di dalam dirinya dan bagaimana cara ia berbicara tentang ‘kami’ mirip sekali dengan Alex.
“Ya, ada apa?”
Tanya anak itu.
“Siapa sebenarnya ‘kami’ itu? Dan siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau tahu Selene ada di dalam diriku?!”
Tanya Luna curiga.
Anak itu hanya tersenyum dan menengok kepada LunaMaria.
“Anakmu banyak bertanya ya?”
“Kurasa dia memang mirip Ayahnya”
Jawab LunaMaria
“Betulkah? Kurasa sekarang ia mirip denganmu”
Ledek anak itu. Ia kemudian menengok kembali pada Luna.
“Begini, akan kujawab satu persatu. Pertama, ‘kami’ adalah ASASIN, Active Special Assignment Supranatural Investigation, sebuah badan investigasi khusus kegiatan supranatural, dan aku adalah Head General Mnemosyne, kepala dan penanggung jawab dari badan investigasi ini.. jadi wajar bila aku tahu segala kegiatan supranatural yang berjalan di negara ini, termasuk Selene”
“?!?! Jadi.. yang Selene katakan benar..”
Ujar Luna terkejut setengah tak percaya.
“Sudah cukup jelas untukmu?”
“Y-y-ya.. sudah..”
Jawab Luna terbata-bata.
“Baiklah, kulanjutkan.. sepertinya Oceanus tertarik pada bagaimana Luna dapat mengendalikan Selene, dan dia ingin melakukan kembali apa yang telah ia lakukan 23 tahun yang lalu.. membuka Black Portal. Kami telah mengetahui hal ini sejak 1 tahun yang lalu.”
“Lalu, mengapa ASASIN tidak mengambil langkah untuk melindungi Luna? Walaupun ASASIN sudah mengetahui rencana Oceanus?!”
Tanya LunaMaria.
“Hmph.. ‘tidak mengambil langkah’?”
Ujar Head General mengutip kata-kata LunaMaria
“Kami telah menempatkan sebuah utility unit sejak satu tahun yang lalu untuk menjaga kalian, Special Utility Unit Pluto”
“Sebuah Special Utility Unit?!”
Ujar LunaMaria terkejut.
“Apa itu Special Utility Unit?”
Tanya Luna.
“Betul LunaMaria, Special Utility Unit baru ini kubentuk 3 tahun lalu dan langsung menjadi salah satu Top Special Utility Unit.. kau bisa jelaskan pada Luna apa itu Special Utility Unit..”
Ujar Head General menjelaskan.
“... Special Utility Unit adalah sebuah unit gerak yang beranggotakan orang-orang terbaik dari ASASIN, Mama pernah menjadi salah satunya..”
“..Aku tak pernah tahu itu..”
Luna merasa kecewa ia tidak tahu apa-apa dan tak ada yang pernah memberitahunya.
“Lalu.. siapa saja anggota Special Utility Unit Pluto yang melindungiku?”
Tanya Luna.
“Special Utility Unit Pluto hanya beranggotakan 3 orang, Bael, Kumiho dan Persephone”
Jelas Head General.
“Bael? Kumiho? Persephone? Siapa mereka?”
Kembali Luna bertanya. Sementara Head General hanya tersenyum mendengarnya.
“Maaf, aku tak bisa memberitahukannya karena alasan peraturan, tapi.. kurasa kamu sudah bertemu dengan mereka semua..”
Jawabnya.
“Oh, kebetulan aku membawa benda yang seharusnya kubawa besok..”
Kata Head General sambil mencari sesuatu dari tas kecilnya.
Ia mengeluarkan sebuah kalung dengan mata sebuah batu berwarna merah.
“Benda ini untukmu Luna..”
Ujarnya sambil memberikannya pada Luna.
Luna menerimanya tanpa mengetahui apa yang dapat benda itu lakukan.
“Untuk apa kalung ini?”
“Kalung itu dapat memberitahuku jika ada sesuatu yang terjadi padamu, tapi.. aku harap tidak akan terjadi apa-apa..”
“Baiklah.. kalau begitu aku kembali dulu..”
Tambah Head General sambil bangkit dari sofa setelah meminum sedikit sirup yang disediakan untuknya.
“Ah, tapi.. apa anda yakin Luna akan baik-baik saja?”
LunaMaria terlihat sedikit cemas.
“Tenang saja, Special Utility Unit Pluto, terutama Bael akan menjaganya sebaik mungkin”
Jawabnya sambil memberikan senyuman yang menenangkan LunaMaria.
Luna dan LunaMaria pun mengantarkan Head General hingga pintu depan, sejak tadi terlihat ada sesuatu yang mengganjal di hati Luna. Ia bertanya pada Head General sebelum ia melangkah pergi.
“Head General.. maaf jika aku lancang bertanya.. tetapi.. bisakah aku tahu lebih banyak tentang Bael.. maksudku.. Alex..”
“Hmph.. ternyata Bael sudah membuka identitasnya padamu ya.. kukira Ia orang yang kaku pada aturan..”
“Baiklah.. karena kamu sudah tahu siapa dia.. akan kuberitahu.. Bael adalah salah seorang dari 2 keturunan terakhir dari Keluarga Blake yang dihabisi oleh The Dark Angel 10 tahun yang lalu, dan yang tersisa dari Keluarganya hanyalah adiknya dan pedang ayahnya, Exodus. Aku tak dapat membayangkan bagaimana bila ia kehilangan hal-hal terakhir yang sangat ia jaga..”
Jelasnya.
Luna tampak terdiam menyesal berpikir apa yang telah Ia lakukan pada Alex dengan membawa Exodus bersamanya.
“Baiklah.. aku pergi dulu LunaMaria, Luna..”
Ujar Head General sambil melangkah meninggalkan mereka.
Seiring dengan perginya Head General, hujan turun dan menggantikan teriknya matahari, awan kelabu menggantikan birunya langit seolah menandakan sesuatu yang besar akan terjadi setelah ini.
Luna menggenggam erat-erat kalung yang diberikan Head General padanya.
Wawik! Berantem2!!
Gila gw uda pada lupa sama tokoh2 yang awal :hammer: Kacau.
dammit, Gwendlyn itu sapa? amnesia gw kumat :llaugh:
intinya tob markotob !!
lanjotkan !!
trs chapt 19 n 20 nya mana :pmad:
lho?? baru baca dari sequel ato udah baca S|L nya blom nih?
kalo baru baca dari trit ini kurang lengkap rasanya kalo blom baca seri sebelumnya :llaugh:
DISINI
maksud gw 19 diatas :llaugh:
Spoiler untuk reply :
sbnrnya belum..
tapi kayaknya semua orang udah pada ngerti dan memahami cerita..
hahahaha..
maaf..
OKE.. brb baca dolo ahh.. (aneh bacanya rewind)
sebagian besar commenter disini udah pada pernah baca seri sebelomnya soalnya :llaugh:Quote:
Chapter 19 udah up
Ceritanya keren bgt, semua nya serba misteri..
I LIKE IT..
*waiting chapt 20*